[VIGNETTE] Alteration

 

alteration

A L T E R A T I O N

 

By Tanomi Kei

With

Park Jiyeon – Kim Myungsoo – Choi Minho

|AU, Friendship, Romance, Life, PG-15, Vignette (±2800w)|

“Perubahan sikap selalu datang dengan sejumlah alasan yang tidak masuk akal kuantitasnya.”

.

.

.

Kau tahu namaku. Tapi, tidak dengan ceritaku.

 

Ya, aku Park Jiyeon.

 

Seorang gadis biasa layaknya mereka—namun sedikit perbedaan mungkin akan terlihat—jika kau mengenalku lebih jauh. Mereka bilang wajahku terukir sangat indah namun orang-orang melihatku dari sudut pandang yang salah. Mereka menyebut udara musim semi di pagi hari sama dinginnya dengan lekuk yang tergambar jelas di wajahku.

 

Tapi, ada benarnya juga.

 

Aku seorang introvert stadium empat.

 

“Jiy, ayo kita ke kantin.”

 

Sapaan itulah yang berhasil terdengar di gendang telingaku yang samar-samar dengan sendirinya seolah mematikan fungsinya sebagai indera pendengaran. Setidaknya, beruntunglah diriku bahwa kata-kata yang keluar dari mulut lelaki tadi hanya berupa frasa-frasa yang pantas untuk kuterima—bukan ocehan—bukan cemoohan yang biasanya kudapati saat kakiku melangkah di gerbang asrama sekolah tua ini.

Oh ya, Mendengar kata ‘introvert’ tidak lepas dari asumsi bahwa aku memang tidak suka mengenal banyak orang atau bahkan yang lebih buruk lagi, bahwa aku akan merasa sangat risih bila kerumunan orang banyak menghampiriku. Namun fakta bahwa aku memiliki satu teman baik dan satu teman yang konyol adalah benar adanya.

 

Aku belum selesai bercerita.

 

Lebih baik kuperkenalkan yang baik terlebih dahulu. Lee Jieun—teman sekelasku adalah yang paling mengerti akan kehadiran momen tersedih dan terbahagia yang pernah kurasakan. Dan ceritaku terhadapnya yang alurnya tercetak abstrak telah menjadi novel tebal didalam ingatannya. Setiap inci yang kulalui—senang—maupun duka—dia yang terlebih dahulu tahu. Enam tahun telah membuktikan bahwa kami berdua telah berteman baik sampai kini kami mencapai tingkat tertinggi dalam menempuh pendidikan sekolah.

Yang lainnya adalah Kim Myungsoo, lelaki yang sama sekali tidak kuinginkan kehadirannya untuk sekedar menjadi pengisi hariku. Myungsoo itu terlalu bodoh, sebuah fakta pun dapat membuktikannya, salah satunya adalah ekpresinya yang begitu idiot ketika ia tertidur pulas saat pelajaran biologi dimulai dan Mr. John siap memarahinya dengan serbuan meriam kata-katanya. Ditambah kejahilannya yang selalu membuatku muak. Pulpenku yang hilang atau coretan tulisan tangannya yang abstrak di halaman terakhir buku catatanku adalah ulah si bodoh itu. Namun,yang kurasakan bahwa takdir telah mempertemukan kami lewat canda, tawa, atau bahkan kejahilan mendarah daging di dalam dirinya yang selalu berimbas kepada diriku. Aku menganggapnya sebagai teman ataupun terkadang sebagai kakak kandungku sendiri.

 

“Ayolah, Myungsoo. Jika aku ikut bersamamu ke kantin, maka semua mata gadis-gadis disana akan tertuju kepadaku.”

“Pegang tanganku, lalu abaikan mereka.”

“Tidak semudah itu, Myungsoo. Mereka menyukaimu.”

Myungsoo terdiam. Lalu aku sendirilah yang harus melanjutkan. “Kau bisa pilih salah satu dari mereka untuk kau jadikan kekasih. Mudah bukan?”

 

 

“Gadis yang kusukai bukan salah satu dari mereka ataupun yang lain.”

 

 

Akupun tertawa. Kata-kata yang ia lontarkan begitu konyol sampai aku tidak bisa menahan gelak tawaku. “Apa kau masih mencintai dia, huh?”

 

“Siapa?”

 

Your girlfriend in the past?”

 

“Siapa?”

 

“Apa perlu kusebut namanya disini?”

 

“Siapa?”

 

“Yoona eonni!”

 

Aku berteriak menyebut nama yang sepertinya masih mengisi lubuk hati seorang idiot Kim Myungsoo. Lalu kau pasti sudah menebaknya dengan benar. Myungsoo mengejarku dan kami berlarian layaknya seorang kucing dan tikus yang tergambar di film animasi terkenal Tom and Jerry.

 

Omong-omong mengenai gadis itu sangat menyakitkan sebenarnya. Im Yoona memang dilahirkan dengan paras yang cantik dan begitu anggun. Tubuhnya menjulang tinggi bagaikan seorang model. Sangat cocok dengan tipe ideal Myungsoo.

Namun titik klimaksnya bukan sampai disitu saja. Di salah satu pagi dimana bel sekolah mulai berbunyi, dan Myungsoo yang duduk di bangku paling kanan kelas membekukan dirinya seketika. Ia tidak seperti biasanya.

 

Ceria dan tawanya hilang begitu saja.

 

Aku tahu alasannya. Aku dapat dengan mudah menebaknya.

 

Karena tepat jam dua belas malam yang lalu—Im Yoona—kakak senior kami memilih mengakhiri hubungannya dengan Myungsoo.

 

Aku melihatnya samar-samar dari kejauhan. Begitu perih dan menyakitkan. Aku berusaha menampiknya. Menyangkal bahwa hatiku terasa begitu sakit dan seharusnya perasaan ini tidak muncul dan tidak tumbuh lebih jauh lagi.

Myungsoo bilang wanita itu bukan hanya cantik lewat parasnya namun perilakunya yang dewasa membuat setiap inci didalam dirinya begitu indah dan hampir dikatakan sempurna. Sebenarnya perutku terasa mual ketika kata-kata bualan itu baru saja terlontar dari mulutnya. Karena sosok Myungsoo yang mereka lihat sebagai lelaki yang cool dan sangat tampan, kenyataannya harus berbalik sebanyak seratus delapan puluh derajat. Bahwa ia hanyalah seorang lelaki yang jahil—bodoh—dan juga idiot.

Aku yang terlahir sebagai gadis yang cuek dan sama sekali tidak mengerti dengan eksistensi sebuah cinta hanya mendapati diriku terdiam sambil memandangi wajah Myungsoo yang aku akui sangat tampan dan menghanyutkan. Deskripsi akan wajahnya tidak bisa kurinci dengan baik. Karena hidungnya yang terukir tinggi, matanya yang kecil, serta bibir yang sama merahnya dengan bunga mawar yang tumbuh di kebun sekolah begitu memikat kaum hawa terutama mereka yang buta akan perjalanan cinta. Membuatku benar-benar ingin memilikinya.

Tapi satu yang kutahu, bahwa aku tidak mungkin bisa mengalahkan seorang Im Yoona yang telah lama menduduki posisi di hati Myungsoo. Karena aku hanya seorang gadis yang lebih memilih celana jeans panjang ketimbang rok yang berjuntai terkena angin melambai-lambai dan dipasangkan dengan kaos seadanya. Seleraku begitu aneh dan terdengar freak. Dan tambahannya adalah, aku hanyalah seorang anak kecil dengan tingkat kemanjaan diatas rata-rata namun perilaku dingin bak es di kutub utara.

 

“Kau itu bocah manja namun berlagak sombong.”

 

Semua itu Myungsoo sendiri yang bilang.

 

Namun, aku tidak putus harapan begitu saja.

 

Aku hampir lupa bercerita tentang sahabat Myungsoo yang tidak kalah tampannya. Namanya begitu indah sama indahnya seperti pemiliknya, Choi Minho. Kami seangkatan namun kelas kami berbeda. Aku sering melihat-lihat parasnya yang begitu tenang kala Myungsoo mengajaknya bermain game di ponsel keluaran terbaru milik mereka saat waktu istirahat dimulai. Baik Minho maupun Myungsoo sama-sama saling mengandalkan. Mereka begitu dekat sampai rasa kecemburuanku pada Minho sering muncul karena Myungsoo lebih memilih menghabiskan waktunya dengan temannya yang lain dan bukan aku.

Tapi, aku mengambil sisi positifnya saja. Bahwa dalam satu momen yang tidak pernah kubayangkan, bahwa gadis nerd seperti diriku ini bisa memandangi dua lelaki yang kurasa mempunyai genetika ketampanan yang tinggi.

“Aku memang beruntung.”

Bukannya aku egois atau aku tidak tahu malu. Kadang aku hanya memanfaatkan situasi jika Myungsoo tidak ada, maka aku akan bermain bersama Minho dan begitupun sebaliknya jika Minho sedang sibuk mengerjakan tugasnya. Aku menyukai mereka berdua. Namun hanya sebatas suka saja. Maksudku adalah, aku tidak mempunyai niat untuk menjalin hubungan yang lebih atau semacamnya. Sungguh, aku bukan tipikal gadis yang seperti itu.

Menurutku, fakta bahwa aku seorang gadis yang kuper membawa keuntungan tersendiri. Bahwa banyak lelaki yang lebih sering mendekatiku ketimbang gadis-gadis lain yang hobinya adalah memotret diri sendiri seakan mereka makhluk tercantik di dunia. Toh, sebenarnya bermain bersama anak lelaki itu lebih seru.

 

Detik demi detik berlalu. Hari demi hari terlewat begitu saja. Dan bulan demi bulan menghabiskan waktu mereka. Semuanya berjalan seperti biasa. Aku masih menjadi seorang introvert namun semakin parah, karena tingkatnya naik menjadi stadium lima. Begitu lucu dan mengerikan.

Bukan tanpa alasan tingkatan introvert ku menaik drastis. Kalender pendidikan yang menunjukkan bahwa kurang dari tiga bulan aku akan menempuh ujian akhir pun tidak bisa berbohong. Dan aku yang notabene juara kelas harus mempertahankan benteng posisiku. Aku juga tidak bermaksud sombong, hanya supaya terdengar lebih dramatis saja.

Kau benar, aku masih saja dengan kacamata berwarna hitam—perak—membaca buku-buku tebal di pojok perpustakaan—sendirian. Sialnya Jieun sedang tidak masuk hari ini dan aku benar-benar merasa kesepian. Jieun bilang suhu tubuhnya tiba-tiba naik menjadi 38,5 ° tadi malam akibat titik-titik air hujan yang mengguyurnya sepulang sekolah kemarin.

Masih di area yang sama, aku melihat sekumpulan gadis-gadis yang mulai melancarkan aksinya. Mereka menggoda para kaum lelaki dengan kibasan rambut panjang mereka dan nailart yang begitu meriah di ujung jari sambil berpose cheese di ponsel. Perutku langsung berkontraksi menimbulkan efek mual yang hebat. Sepertinya aku harus menjadi dokter di masa depan dan mendiagnosis penyakitku sendiri bahwa aku mengidap alergi akut ketika dekat atau bahkan hanya melihat orang-orang seperti mereka.

 

“Untung saja kau punya rambut pendek dan tidak menarik, Jiy.”

 

Pandanganku langsung beralih kearah jendela yang sedikit terbuka membiarkan udara segar masuk perlahan ke dalam ruangan yang tidak cukup besar ini. Manik milikku langsung terfokus ke lapangan yang telah diisi oleh sekelompok siswa penggemar permainan bola basket. Minho dan Myungsoo juga ada disana.

Aku baru saja membual. Mataku sebenarnya terfokus kepadanya. Lelaki yang memegang bola basket di tangannya dan keringat yang membasahi dahinya yang indah. Rambut tipis di area kepalanya terlihat basah dan menimbulkan kesan seksi. Dia memang terlihat begitu tangguh.

 

“Kau terlalu tampan, Myungsoo.”

 

Yang kusesali adalah fakta bahwa hari-hariku belakangan ini berubah menjadi kelabu kelam. Aku tidak dapat memungkiri bahwa kini Myungsoo sepertinya menjauhiku—tanpa alasan yang jelas.

Dia enggan melihatku bahkan menatapku dalam waktu yang lama. Sebagai teman yang dapat kusebut sangat dekat, pelukan bahwa ciuman yang mendarat di pipiku olehnya hanyalah sebuah kejadian yang biasa. Maksudku, ketika tangannya memegang wajahku dan menangkupnya dengan kehati-hatian hanyalah sebuah ungkapan dari pengekspresian kasih sayang terhadap teman. Atau bahkan ketika tangannya menggenggam erat tanganku diiringi dengan ocehan ceritanya yang sangat panjang adalah sebuah rutinitas. Dan yang paling kuingat, saat kedua tangannya menggosok-gosokkan punggung telapak tanganku yang mulai terasa dingin akibat salju yang turun di awal musim dingin adalah sebagai bentuk kasih sayangnya terhadapku…

 

sebagai teman.

 

Ketika ia menidurkan kepalaku di atas kakinya sambil bercerita mengenai masalah hidupnya sambil menatapku lekat-lekat, aku masih berpersepsi bahwa ia hanya menganggapku seorang teman. Walaupun rasanya hatiku terasa begitu sakit dan aku terlihat seperti membohongi diriku sendiri. Tapi aku bertekad bahwa aku baik-baik saja.

Kuputuskan untuk mengakhiri kegiatan yang membuatku melamunkan hal-hal yang seharusnya tidak begitu kuperdulikan dibanding kertas-kertas latihan ujian yang kugenggam saat ini. Aku keluar dari perpustakaan kemudian bergegas menuju kelas. Aku berjalan pelan sambil terus menatap kosong langit-langit atap sekolah. Kemudian tanpa kusadari seseorang menarik lenganku.

 

“Jiy.”

 

“Minho?”

 

Keheningan mengisi suasana yang melingkupi kami berdua. Baik aku maupun Minho sama-sama memilih membungkam mulut masing-masing. Dipihakku sendiri, aku tidak bermaksud begitu. Hanya saja tatapan serius Minho terhadapku seakan telah menghipnotis seluruh tubuhku menjadi kaku tak berdaya. Aku memilih diam menunggunya memulai pembicaraan sambil menatapnya heran karena pikiranku berasumsi yang tidak-tidak mengenai dirinya. Baju basketnya yang basah karena keringat dan tatapannya yang seksi membuatku jatuh kedalam perangkapnya. Simpulanku benar, pesona Myungsoo dan Minho telah menjadi candu dan merasuki diriku begitu saja.

 

“Aku mau mengajakmu makan, Jiy.”

 

Kata-kata yang ia lontarkan terasa begitu singkat dan jelas pengartiannya. Aku sebagai salah satu gadis yang mempunyai penilaian cukup baik—tidak begitu yakin—setengah sadar—bahwa seorang lelaki berahang tegas dan suka bertingkah sok cool tersebut dapat melakukan hal-hal seperti ini. Namun aku tak mengambil pusing karena senyumku merekah begitu saja dan rasanya tubuhku melayang ke tingkat langit paling atas dan terbang bersama peri-peri disana. Lalu aku mengiyakan dengan pasti.

 

“Oh ya, Jiy…”

 

“Iya?”

 

Pernyataan terakhir Minho membuatku tak karuan. Aku tahu situasi ini. Aku tahu betul.

 

I want to tell you something.”

 

Aku menutup mataku perlahan.

 

“Jiy, aku menyukaimu.”

 

Dan ia berhasil membuatku jatuh ke dalam pesonanya.

 

Aku menghela nafasku dalam. Situasi ini begitu menggiurkan namun juga menghanyutkan disaat yang sama. Rasanya hatiku tidak bisa menolak bahwa seluruh raga bahkan jiwaku turut menyukai Minho. Tapi, lagi-lagi Myungsoo membuatku berpersepsi lain. Di satu sisi aku menyukai Myungsoo namun di sisi yang lain hatiku berpihak pada Minho. Lalu kebimbangan yang selama ini kutakutkan terjadi di hari Myungsoo menjauhiku.

 

Lalu aku memutuskan untuk menatap manik kecoklatan milik Minho walaupun ketakutan menghantuiku dan aku tidak yakin dapat mengatakannya. Fakta bahwa aku adalah tipikal gadis pemilih membuat persentase pernyataan penolakan yang kuajukan kepada lelaki yang menyatakan bahwa mereka menyukaiku adalah sangat besar. Namun, jika hatimu terpecah ke dalam dua bagian yang sama-sama mencandukan, tentu kau akan bingung sendiri.

 

“Ayo kita ke kantin, Minho! A—ku lapar sekali, tahu?” Lenganku menarik pergelangan tangannya cepat. Tak peduli jika Minho menganggapku gadis aneh atau gadis yang hanya berusaha mengalihkan perhatian. Bagiku, rasa ketakutanku untuk memulai sesuatu harus kutangani terlebih dahulu.

 

“Jiy, Aku serius.” Lengannya menahan pergelangan tanganku yang gemetar. Dan wajahnya menunjukkan ekspresi yang tidak bisa kujelaskan dengan tepat. Ia terlihat seperti orang yang sedang melampiaskan kemarahan namun dengan pengekspresian yang lebih lembut.

 

“Kita bicarakan nanti saja, ya.”

 

Kemudian, kami berdua berjalan pelan ke arah kantin dengan seonggok rasa canggung yang luar biasa. Namun, kami berdua sudah memutuskan untuk tidak membahas masalah ini dan terus melangkahkan kaki kami dengan pasti.

Sampai mataku berpendar ke arah lain. Hatiku teriris. Bibirku kelu. Dan rasanya seperti ingin mati. Tembok sekolah sudah cukup untuk menjadi saksi hari ini. Hari selasa yang membuatku gila. Ide yang cukup menarik jika aku segera menghampiri Myungsoo dan menamparnya atau bahkan memukulnya dengan sekuat tenaga.

Agaknya ia tidak mengetahui keberadaanku beserta Minho. Lelaki itu bahkan tengah asik mencumbui dua siswi yang sama sekali tidak kukenal. Sementara Minho hanya menatapku iba sambil berusaha merangkul bahuku dan seakan ingin menutupi semua yang telah kulihat. Tapi aku tidak peduli lagi.

 

“Myungsoo, kau keterlaluan.”

 

Air mataku mengalir sama derasnya dengan air hujan yang turun kemarin dan berlawanan dengan sinar mentari yang muncul hari ini. Ketika waktu telah bercerita tentang kisah diriku dengan Myungsoo membuatku semakin terpuruk. Fakta bahwa kami bukanlah sejoli yang berteman baik lebih membuatku jatuh ke dalam jurang yang tidak kuketahui kedalamannya. Namun yang kutahu, rasa sakit telah membutakanku. Dan kurasa kini aku dapat menyimpulkannya dengan tepat dan akurat. Bahwa hatiku memang mencintai Myungsoo dan bukan yang lain.

Aku mendorongnya hingga jatuh dan memberi bekas kemerahan di pipi kanannya. Lalu, Myungsoo menatapku nanar dan kedua gadis sialan tadi berlari entah kemana. Aku masih saja berdiri di posisiku. Bibirku bergetar dan air mataku terus mengalir. Aku tidak memperdulikan bahwa siswa lainnya memperhatikanku atau bahkan mencemoohku. Sungguh, aku tidak perduli.

 

“Jiy, lebih baik kita ke kelas. Disini bukan tempat yang baik bagimu.”

 

Aku menampik lengan milik Minho yang berusaha mengabaikan situasi yang sedang kuhadapi. “Kau duluan saja. Aku harus menghajar bocah yang satu ini.”

 

“Jiy.”

 

“Tinggalkan kami berdua, Minho.”

 

Amarahku tidak bisa tertahan. Emosi memang terlebih dahulu mengawali tiap-tiap situasi yang buruk. Aku menyadari bahwa hatiku telah terikat jauh ke dalam hatinya dan aku tidak bisa melepasnya begitu saja. Salah menduga mungkin awal dari semuanya. Atau mungkin ini hanya sebuah persepsiku saja. Mungkin setitik kecemburuan telah hadir di lingkup kehidupan kami. Tapi, aku tidak begitu yakin.

 

“Kau menyebalkan, Myungsoo.”

 

Titik air mataku menitik perlahan tak henti dalam putaran waktu sebagai wujud dalam perihnya sanubari. “Bagaimana bisa kau menjadi seperti ini? Bagaimana bisa? Jawab aku, Myungsoo! Jawab aku!”

Myungsoo masih saja terdiam dan menundukkan kepalanya. Bibirnya terlihat bergetar dan mataku sendiri tidak dapat menangkap bayangan wajah Myungsoo sama sekali. Lalu ia mengangkat wajahnya dan setetes air mata turun di pipinya. Dan ia menangis dihadapanku untuk pertama kalinya.

I’m sorry, Jiy. So sorry.” Ia menghela nafasnya panjang. “Aku hanya marah pada diriku sendiri. Aku tidak cukup berani, Jiy. Aku pengecut.”

 

“Myungsoo…”

 

“Aku menyukaimu, Jiy.”

 

“Kau berbohong.”

 

“Gadis yang kusukai memang bukan orang lain. Gadis yang kusukai adalah gadis yang berdiri dihadapanku saat ini, dan aku tidak dapat mengelak bahwa aku sangat menyayangimu, Jiy.”

 

Tangisanku semain menjadi-jadi tak karuan. Pencampuran antara rasa sedih dan senang telah bereaksi menjadi satu dan memunculkan rasa abstrak yang sedang kurasakan. Tatapan milik Myungsoo yang begitu hangat menyelimuti hatiku yang selama ini tertutupi oleh tumpukan salju kutub yang mustahil mencair. Namun, Myungsoo telah membuktikannya. Kekuatan atau kekerasan salju itu meleleh bagaikan air terjun yang mengalir deras. Dia membuatku jatuh cinta untuk pertama kalinya. Lelaki itu membuatku jatuh ke dalam pelukannya.

“Perubahan sikap selalu datang dengan sejumlah alasan yang tidak masuk akal kuantitasnya, baby! Aku tidak membalas pesanmu, atau bahkan tidak menyapa dirimu pagi ini karena aku sendiri terlalu takut bahwa kau hanya menganggapku sebagai teman dan aku akan mengkhianati Minho sebagai teman dekatku. Kau mengerti bukan?”

Kemudian kedua tangannya mengapit tubuhku, lalu tatapannya lurus begitu saja ke dalam mataku. “Posisiku sulit, Jiy. Di satu sisi aku menyayangimu dan aku ingin mengubah identitas yang terlalu lama kau sandang sebagai teman baikku menjadi seorang gadis pendamping hidupku, namun di sisi lain—teman dekatku sendiri—Minho menyukai dirimu juga sama seperti diriku. Dan aku telah mencapai titik klimaks permasalahanku sendiri.”

 

Kemudian aku masih saja terdiam dalam kebisuan yang membekukan diriku. Lengannya merengkuh tubuhku dan memelukku ke dalam kehangatan yang selama ini aku rindukun. Kehangatan yang tidak bisa kau ukur dengan rumus matematika atau rumus fisika. Kehangatan yang bisa membuatmu terbuai dan yang kau rasakan hanyalah sebuah kenyamanan yang kau harapkan abadi adanya.

 

“Sekarang kau yang tentukan, Jiy. Kau yang putuskan.”

 

Warna langit yang biru telah menjadi saksi untuk perjalanan panjang yang telah kami lalui. Kata-kata yang tak terucap bahkan bisa menjadi sebuah masalah yang besar. Salah menduga adalah hal yang biasa, namun cara menanggapinya dengan benar adalah salah satu penyelesaiannya. Ketika Minho menyatakan perasaannya, seluruh tubuhku mengeluarkan reaksi canggung yang luar biasa. Dan lain halnya dengan Myungsoo, aku hanya merasakan sekumpulan rasa nyaman dan kehangatan ketika ia menyatakan perasaan yang ia miliki terhadapku. Lalu aku adalah ahlinya dalam membuat kesimpulan meskipun aku belum tahu nilai benar atau salahnya. Tapi, berdasarkan teori yang telah dipercayai selama ribuan tahun bahwa cinta adalah sesuatu yang tidak bisa dibohongi, kini harus kupercayai mentah-mentah.

Aku tersenyum pasti kemudian mengeluarkan kata-kata yang selama ini kusimpan dalam-dalam di hatiku. “Boleh tidak, jika aku memilih lelaki idiot yang suka tertidur di kelas saat pelajaran biologi dimulai?”

 

Then, You’re my girl, Baby!”

 

Dan satu hal lagi yang tidak boleh terlewatkan, besok Lee Jieun harus tahu tentang ceritaku hari ini.

 

 

/Fin

 

This is the first fic I made here in highschoolfanfiction. So please give your review, thank you :-)

44 responses to “[VIGNETTE] Alteration

  1. Yayayeay!!! MyungYeon! Yohooo
    Udah dari pada Minho sedih sama Jieun juga gak papa hahha
    Iya sih posisi Myung sulit tapi untungnya Jiyeon ngelabrakin Myung jadi ketahuan deh Jiyeon juga suka sama Myung hahaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s