(CHAPTER – PART 5) MY BOOK

MY BOOK1[part 1] [part 2] [part 3] [part 4] [part 5] [End]

Author: kimleehye19
Main cast: Park Jiyeon, Kim Myungsoo, Choi Minho, Bae Suzy
Other Cast: Luna, Jieun, Park Chanyeol
Genre: romance, school life, fantasy
Rating:PG-17

Annyeong…

Untuk mengobati rasa penasaran readers semua, aku post part 5 ini. Jongmal gomawo yang udah ngikutin FF ku n yang udah komen. Part ini spesial untuk kalian semua.

Check it out!

“Kim Myungsoo,” lirih Jiyeon yang tak berdaya melihat namja bernama Kim Myungsoo tergeletak tak berdaya di pinggir jalan. Darah mengucur dari tubuhnya. Kakinya bergetar tak bisa menopang tubuhnya yang berjalan mendekati Myungsoo.
Kim Myungsoo tertabrak mobil box saat menyelamatkan Jiyeon.

Flashback.
Jiyeon yang melihat anak kecil di tengah jalan segera berlari dengan sedikit tertatih untuk menyelamatkan anak itu. Tanpa disadari, lampu rambu jalan berganti merah. Tak lama kemudian sebuah mobil box melaju dengan kecepatan cukup tinggi. Mobil itu semakin mendekat hingga akhirnya Myungsoo berlari mendorong Jiyeon yang memeluk anak itu ke pinggir jalan, sedangkan dirinya tidak sempat menyelamatkan diri dari kecelakaan itu. Alhasil, Jiyeon dan anak itu selamat. Namun berbeda dengan Myungsoo. Tubuhnya tak berdaya dan mengalami luka parah di kepala dan kakinya.

Flash back end.

Myungsoo segera dibawa ke RS.
Di RS, Jiyeon berjalan mondar mandir dengan perasaan kacau dan kalut. Tubuhnya sedikit bergetar karena masih syok, ditambah luka lebam akibat perkelahiannya dengan 5 orang namja kemarin. Kondisi tubuhnya pun lemah tapi dia tidak mau menerima perawatan dari tim medis. Jiyeon menunggu proses operasi Myungsoo selesai. Jiyeon melirik arlojinya, 2 jam. Belum ada tanda-tanda bahwa operasinya selesai. 1 jam kemudian dokter keluar. Myungsoo dinyatakan patah tulang betis kanan, tulang selangka retak dan tulang pelipis yang juga retak. Mendengar penjelasan dari dokter, Jiyeon hanya bisa pasrah. Myungsoo harus selamat, pikirnya.

4 jam setelah proses operasi selesai, Myungsoo dipindah ke kamar perawatan. Beruntung tidak ada organ tubuhnya yang mengalami kerusakan sehingga tidak begitu mengkhawatirkan. Tapi ini sudah 4 jam Myungsoo belum juga sadar. Hingga malam tiba, Jiyeon masih setia menemani Myungsoo yang terbalut perban di beberapa bagian tubuhnya.
“Jiyeon-a,” panggil Chanyeol lirih.
“Eoh, oppa.” Jiyeon menahan airmatanya. Dia tidak ingin menangis di depan siapapun. Dia harus tegar. “Oppa, kau datang bersama siapa?” tanya Jiyeon yang melihat seseorang di luar ruangan.
“Seorang teman. Aku bertemu dengannya di lobi depan. Katanya dia sedang mengantar temannya check-up. Apa kau ingin memberi salam padanya?”
Jiyeon mengangguk pelan. Kemudian dia keluar ruangan untuk menyapa teman Chanyeol.
Deg!
“Choi Minho?” Jiyeon tak menyangka Minho adalah chingu dari oppanya. “Kau, kau kenal oppa?” tanya Jiyeon.
“Eoh, Jiyeon-a. Apa kau dongsaengnya Chanyeol?” tanya Minho balik yang dijawab Jiyeon dengan anggukan kepala. “Omo… Aku benar-benar tak menyangka kau juga di sini. Ngmong-ngomong; siapa yang baru kecelakaan?”
“Seseorang.”
“Apa aku boleh melihatnya?” Minho melihat tubuh Myungsoo yang tergeletak di ranjang dikelilingi selang infus dan ventilator. Sesaat kemudian dia keluar lagi, di sana ada Jiyeon yang terlihat pucat karena dari siang tadi dia belum istirahat bahkan masih memakai seragam sekolah. “Jiyeon-a, namja yang kecelakaan itu – apakah dia namhachingumu?”
Deg!
Kenapa Minho bertanya seperti itu pada Jiyeon. “Anhi,” jawab Jiyeon singkat.
“Lalu kenapa kau sangat mencemaskan keadaannya?” tanya Minho lagi.
“Dia adalah namja yang selalu menyelamatkan aku. Kau tahu, dia adalah namja yang menolongku waktu acara pesta di sekolah itu.”
“Omo… Jadi namja yang menolongmu adalah dia. Hmm kasihan sekali. Siapa namanya?”

“Kim Myungsoo. Dia mengalami kecelakaan juga karena menyelamatkanku. Aku sangat berhutang budi padanya.”

Kemudian Jiyeon dan Minho mengobrol di luar. Setelah itu, Chanyeol mengajak Minho pulang. Chanyeo; tidak bisa menemani Jiyeon karena nanti malam dia ada meeting penting membahas proyek baru perusahaannya.

Jiyeon yang sudah mengganti pakaiannya dan menerima perawatan dari dokter karena kondisi tubuhnya yang lemah, kini melanjutkan kegiatannya, menemani Myungsoo dan menunggu namja itu sadar. Hingga larut malam, Myungsoo belum sadarkan diri. Jiyeon pun tertidur di sisi ranjang dengan tangan yang mengenggam tangan Myungsoo.

Di alam sana, Myungsoo tak bisa melihat apa-apa. Yang dapat ia lihat hanyalah warna putih. Segalanya berwarna putih. Entah dia masih hidup, sudah mati atau bahkan sudah lenyap. Tiba-tiba seseorang datang mendekatinya dengan senyum yang merekah di balik kumis. Myungsoo hanya berdiri mematung dan mengingat siapa orang itu. Betapa syoknya dia, appa yang dirindukannya kini ada di depannya.
“Kim Myungsoo, appa senang bertemu denganmu lagi. Kau anak appa satu-satunya.”

Myungsoo masih menatap namja yang ada di depannya itu lekat-lekat, memastikan bahwa itu benar-benar appanya. Jambang dan kumis putih menghias wajah appanya. Ternyata appanya sudah tua. Tidak seperti saat Myungsoo meninggalkannya karena diambil oleh dewa.

“Mianhae Myungsoo-a. Kau harus menjalani takdir serumit ini untuk memperoleh kebahagiaan. Ini semua berawal dari kesalahan appa.”
“Maksud appa?” tanya Myungsoo dengan ragu.
“Dulu setelah appa dan eommamu menikah, kami belum dikaruniai seorang anak selama 10 tahun. Akhirnya kami minta diberikan seorang anak. Lalu dewa memberikan dengan syarat, saat anak itu berajak dewasa, appa harus mendidik anak appa dengan baik dan mengarahkannya menjadi biarawan (pendeta). Appa gagal melaksanakannya, maka sebagai konsekuensinya, appa harus menyerahkanmu pada dewa agar mereka sendiri yang mendidikmu tapi kau selalu berbuat ulah sehingga kau terkurung dalam buku itu.” Hening sesaat namun tatapan mata Myungsoo tak lepas dari appa yang selalu ia rindukan. “Tetaplah berjuang anakku. Kau harus bisa mengembalikan takdirmu sebagai manusia. Nikmatilah hidupmu.”

Myungsoo meneteskan airmata. Ia ingin sekali memeluk appanya. Sudah berabad-abad Myungsoo berada di dunia, selama itu pula ia tak melihat appanya. Takdir Myungsoo yang rumit membuat appanya juga meneteskan airmata. Appa Myungsoo semakin lama makin jauh lalu menghilang.

Jiyeon masih tidur di sisi Myungsoo. Dia tidak mengetahui airmata menetes dari mata Myungsoo yang masih terpejam. Jari-jari Myungsoo bergerak pelan disusul dengan gerakan kelopak matanya yang menandakan ia sudah siuman. Mata Myungso masih dalam proses adaptasi dengan cahaya lampu kamar. Ketika ingin menggerakkan jari kirinya, terasa ada yang memegang tangannya. Ia melirik ke arah samping. Benar saja, Jiyeon tidur nyenyak sekali. Dari raut wajahnya, yeoja itu terlihat sangat lelah. Rupanya saat itu matahari sudah tersenyum hangat.

“Yaak, Park Jiyeon! Palli ireona!” Myungsoo membangunkan Jiyeon yang masih pulas tidur di bangkunya. “Haish, yeoja ini. Selalu saja sulit dibangunkan. Yaaaaaak, ada gempa bumi! Ireona! Palliwa!” seru Myungsoo yang sedang menahan tawa.
Jiyeon menggerakkan tubuhnya.kemudian mengangkat kepalanya. Dia melihat namja di depannya sudah membuka mata bahkan membangunkannya. “Kim Myungsoo, apa kau sudah sadar?” tanya Jiyeon mengamati wajah Myungsoo dan menangkup wajah namja itu dengan kedua tangannya.

“Mana ada pasien membangunkan penunggunya di pagi hari?” sindir Myungsoo.
“Yaak! Kenapa kau suka sekali membuatku takut, eoh? Aku hampir mati berdiri karena kau,” omel Jiyeon.
Myungsoo juga kesal pada Jiyeon. Dia baru sadar tapi sudah diomeli oleh yeoja itu. “Aku yang celaka, kenapa kau yang takut?”
“Yaak, pabo! Kau celaka karena menyelamatkan aku. Apalagi sekarang kau tidak tembus pandang seperti sebelumnya. Kau tahu? Aku takut melihat orang-orang yang ku sayangi pergi meninggalkan aku. Rasa sakit ditinggalkan itu benar-benar membuat hati ngilu.” Jiyeon tertunduk.
“Araseo. Mian, ne… Ah, kau tidak sekolah? Aah, ternyata jadi manusia modern itu lebih susah. Tertabrak barang kotak besar saja bisa sampai patah tulang. Zaman dulu jika tertabrak kuda hanya luka biasa. Tidak patah tulang. Yaak, Jiyeon-a, tulangku yang patah apa bisa disambung lagi?”
“Anhi, tulangmu yang patah akan aku patahkan lagi.”

Karena Myungsoo sudah siuman, akhirnya dia sudah diizinkan makan makanan yang disediakan oleh RS. Bubur. Ya, itulah makanan yang harus dimakan Myungsoo. Meskipun sempat mendapat protes dari Myungsoo, Jiyeon tetap dapat menjejalkan bubur itu ke dalam mulut Myungsoo.

“Apa ini makananku? Kenapa bubur bentuknya begini? Sepertinya tidak enak. Jiyeon-a, apa tidak ada makanan lain?”

Jiyeon benar-benar dibuat kesal oleh Myungsoo. Saat sudah sadar, namja itu tak henti-hentinya mengoceh. “Eoh. Kau harus makan ini. Aku tidak akan memberimu makanan selain ini. Makanlah kalau kau tidak ingin kelaparan.”

Myungsoo menatap tajam pada yeoja yang sedang menyuapinya.

Sementara itu di kantor, Chanyeol sedang memikirkan sesuatu yang terus mengganggu pikirannya. “Aku harus bertindak,” gumamnya kemudian dia memanggil Direktur Bae yang kebetulan sedang menengok putrinya di Seoul. direktur Bae tinggal di Busan karena ia bekerja di perusahaan Park cabang yang di Busan. Tak berapa lama, Direktur Bae masuk ke ruangan Chanyeol dan duduk tepat di depannya. Chanyeol berbasa basi untuk membuka percakapan lalu dia menceritakan apa saja yang dilakukan oleh Suzy pada Jiyeon. Direktur Bae menahan emosi. Bisa-bisanya Suzy membahayakan nyawa Jiyeon. Dari semua peristiwa.

Sepulang dari kantor Chanyeol, tuan Bae memanggil putri semata wayangnya. Baru saja Suzy tiba di hadapan appanya, kini ia menatap heran pada appanya.
“Appa, waeyo? Tumben sekali kau memanggilku, appa?” tanya Suzy penasaran.
Plaaakk!!
Sebuah tamparan sukses membuat kulit pipi Suzy yang putih bersih menjadi merah dan terasa panas. Suzy menangis. “Appa…” Ia masih belum tahu kenapa appanya menamparnya.
“Siapa kau berani-berani berbuat sejahat itu pada Jiyeon?”
“Appa…” lirih Suzy.
“Aku menyesal memperlakukanmu seperti tuan putri, sekarang inikah balasanmu kepada appa? Kau putriku satu-satunya tapi kau malah mempermalukan appa di depan keluarga Chanyeol. Jika saja presfir Park masih hidup, ia tidak segan-segan memenjarakanmu dan memecat appa.”
Suzy hanya terdiam, menangis.
“Serahkan dompetmu!”
“Appa…”

“Serahkan atau aku akan mengurungmu di kamar!” bentak tuan Bae.
Suzy menurut. Ia menyerahkan dompetnya. Appanya mengambil semua kartu kredit yang ada di dompet Suzy dan mencabut semua fasilitasnya kecuali ponsel. Suzy merengek pada appanya untuk tidak melakukan hal itu padanya. Tuan Bae tidak mempedulikan. Dia meminta Suzy untuk datang ke rumah keluarga Park dan meminta maaf dengan tulus. Awalnya Suzy menolak. Tentu saja dia gengsi pada Jiyeon. Namum kemudian appanya mengancam akan mengundurkan diri dari perusahaan Park jika Suzy tidak mau minta maaf. Akhirnya Suzy berjanji mau minta maaf.

Beberapa hari kemudian, Myungsoo masih tidak bisa bergerak karena beberapa tulangnya cidera. Dia hanya bisa melirik, mengerjapkan matanya, dan berbicara. Kondisinya sudah membaik, dia sudah bisa duduk. Tapi jika tulangnya belum 80% sembuh, dia tidak boleh  berdiri bahkan berjalan. “Huft… Susahnya jadi manusia zaman sekarang,” keluhnya.
“Sudahlah, jangan banyak mengeluh,” sekak Jiyeon yang sibuk membolak-baliikan surat kabar yang ia baca.
“Dulu jika terjadi kecelakaan, paling-paling hanya tertabrak kuda, jatuh dari pohon atau kuda, terkena panah. Sekarang kecelakaan juga mengalami kemajuan. Haah…”
“Jika kau ingin menjadi manusia normal, jalani saja hidupmu sekarang. Anggap saja sebagai latihan. Nanti malam aku akan pulang. Setelah itu, aku akan menggantikanmu bekerja di restauran.” Jiyeon masih berkutat dengan surat kabarnya.

Matahari menampakkan diri di ufuk barat. Suasana sore menyelimuti sebuah mobil yang melaju menuju perumahan elit di Seoul. Minho mengantar Suzy ke rumah keluarga Park. Suzy berniat untuk meminta maaf pada mereka. Sesampainya di depan rumah elit itu, mobil Minho berhenti, Suzy turun. Sedangkan Minho memutar balik mobilnya karena masih ada beberapa urusan. Ia hanya menitip salam untuk Chanyeol dan Jiyeon.

Sedangkan Jiyeon, dia berada di sebuah bus menuju ke rumahnya. Sesuai rencana, malam nanti dia akan menggantikan Myungsoo bekerja di restauran untuk mempertahankan pekerjaan itu karena kondisi Myungsoo belum pulih. Masih 10 menit lagi dia sampai di kompleks perumahannya.

Balik ke Suzy. Ketia dia akan memencet bel rumah keluarga Park, pintu terbuka. Tak lama kemudian muncullah Chanyeol.
“Eoh, Suzy-a, kau datang?”
“Ne, Chanyeol-ssi. Kau mau kemana?”
“Ah, aku mau ke minimarket dulu. Kau masuklah, aku tidak akan lama. Hanya ingin membeli beberapa cola dan makanan ringan. Mungkin sebentar lagi Jiyeon pulang.”
Suzy menuruti kata-kata Chanyeol. Dia masuk ke dalam rumah yang 3x lipat lebih megah dari rumahnya. Rumah besar dan mewah itu sepi. Karena penghuninya sedang berada di luar semuanya.
Suzy yang awalnya ingin minta maaf, terbersit pikiran kotornya lagi. Dia berniat untuk mengambil buku itu. Secepat kilat, Suzy sudah ada di lantai dua. Melewati beberapa kamar dan akhirnya sampai di kamar Jiyeon. Dia mencari buku itu di seluruh tempat, mulai laci nakas, lemari, rak buku, meja belajar, meja rias, rak boneka. Hasilnya nihil. Kemudian ia keluar dari kamar Jiyeon dan beralih ke kamar sebelahnya. Dia mengintip kamar itu. Foto Myungsoo terpampang di sana. Suzy masuk dan segera mencari buku itu. Hasilnya nihil juga. Kemudian karena kesal, dia menendang nakas yang ada di samping tempat tidur. Ada sesuatu di bawah nakas, batinnya. Sizy mengagkat nakas itu, benar saja. Buku yang ia cari ada di bawah nakas itu. Suzy segera mengambilnya dan memasukkannya ke dalam, dan keluar dari kamar, menuruni tangga lalu menghubungi Chanyeol bahwa dia akan pulang saja. Tepat ketika dia membuka pintu, depan, Jiyeon berdiri di sana. Jiyeon tersentak kaget karena Suzy keluar dari rumahnya. Tak lama kemudian Chanyeol pun datang.
Di dalam rumah, Jiyeon bertanya tentang maksud kedatangan Suzy. Chanyeol tidak tahu karena dia belum sempat mengobrol dengan Suzy. Dia baru saja dari minimarket dan Suzy menunggu di dalam rumah. Sadar akan bahaya yang menimpa, Jiyeon segera berlari ke kamar Myungsoo. Dia mencari buku itu di bawah nakas. Opso. Jiyeon mengingat lagi dimana dia menyimpan buku itu. Dia ingat betuk bahwa buku itu ada di bawah nakas kamar Myungsoo. Dengan penuh kecurigaan, Jiyeon berlari keluar rumah. Mengejar Suzy yang sebentar lagi sampai di halte bus.

Jiyeon pov.

Aku sudah mencarinya di bawah nakas itu tapi kenapa tidak ada. Aku sangat yakin waktu pindah ke rumah ini, buku itu aku simpan di sana. Bahkan Myungso juga melihatnya. Mungkinkah buku itu diambil Suzy? Kan tadi dia ada di sini sendirian. Tanpa pikir panjang aku ambil langkah seribu mengejar Suzy yang mungkin sekarang sudah sampai di halte atau bahkan sudah naik bus. Aku tidak bisa lari seperti biasanya. Kondisiku belum benar-benar pulih. Buku itu tidak boleh ada di tangan Suzy. Aku tidak ingin kehilangan Myungsoo lagi. Sampai di halte dengan nafas terengah-engah, aku tidak menemukan siapa-siapa lalu pikiranku tertuju pada Myungsoo. Segera saja aku mencari taksi dan meluncur ke rumah sakit. Berlari lagi. Aku harus memastikan bahwa Myungsoo masih ada di sana.
Sampai di kamar. Oh… Akhirnya.
Cekleeek…
Suara pintu terbuka. Mwo? Myungsoo dimana? Kenapa tidak ada? Aku bertanya pada suster apakah pasien di kamar ini dipindah? Suster menjawab tidak.
Deg!
Aku lemas terkulai. Kakiku sudah tak sanggup menopang tubuhku lebih lama. Apakah aku kehilangan Myungsoo lagi? Andwae. Tidak boleh terjadi. Myungsoo eodiseo? Aku menangis sesenggukan.
“Yaaak! Kenapa kau duduk disitu?” tiba-tiba aku mendengar suara yang tidak asing bagiku. Aku menoleh ke belakang. Kim Myungsoo? Dia duduk di kursi roda dengan tatapan aneh padaku. Aku bangkit dan berhambur memeluknya. Dia masih bingung.
“Myungsoo-a, kau masih di sini? Aku bisa menyentuhmu?”
“Yaak, apa kau kira aku sudah mati? Kau menangis? Uljima!” jawabnya polos.
Dengan sedikit takut, aku meberitahukan padanya kalau Suzy telah mengambil buku itu.
“Mwo? Lalu bagaimana? Aku tidak ingin bersama yeoja itu. Aku…”
“Aku juga tidak mengizinkan kau beralih pada Suzy. Tetaplah di sisiku, Kim Myungsoo.”
Myungsoo menatap aneh lagi padaku. Lalu aku mengecup singkat bibir tipisnya. Tapi pikiranku masih khawatir tentang buku itu.
Jiyeon pov end.

Tbc.

Gimana chingu? Ini belum berakhir. Masih ada yang lebih seru. Semoga part ini tidak mengecewakan.
Komennya aku tunggu ne….
Gomawo

56 responses to “(CHAPTER – PART 5) MY BOOK

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s