The Heir’s Secretary (1st Chapter)

the-heir_s-secretary

Arin Yessy Presents…

THE HEIR’S SECRETARY

Starring : Park Jiyeon | Kim Myungsoo

Lenght : Multichapter

Rated : PG-15

Genre : Hurt/Comfort, AU, Tragedy

Poster by : Sifixo @ http://indofanfictionsarts.wordpress.com (thanks a lot)

Disclaimer : Don’t Copycut.. Read After Comments


 

Setengah berlari, tak kupedulikan berapa banyak tumpukan map yang kini kubawa. Sambil berharap bahwa aku tak tertinggal bis seperti kejadian tempo hari, kendati aku tak yakin dapat mengejarnya di halte tepat pada waktunya.

Entah, jam berapa saat ini. Yang jelas malam telah terasa begitu lama menjelang dan aku yakin bahwa waktu mungkin telah menunjukkan sudut 180 derajat pada jam dinding.

Jika bukan karena bos tua sialan itu harus menyuruhku merivisi ulang laporan berita investigasiku ini, mungkin aku telah tidur nyaman di atas tempat tidur sempit nan usang yang terdapat di dalam flat murah yang kusewa setahun belakang ini.

Menjadi wartawan bukanlah sesuatu yang awalnya terbayangkan olehku. Sering aku bermimpi ketika umurku tak kurang dari sepuluh tahun waktu itu. Sebuah impian bodoh yang hanya dapat kukubur bersama air mataku yang telah mengering sejak lama.

Seorang wanita paruh baya yang sangat kucintai bertanya kepadaku suatu hari di bulan april. Aku bahkan masih ingat kala itu kami menghabiskan waktu di taman sakura bersama seorang laki-laki gagah nan tampan yang kupanggil appa.

‘Jiyeon sayang, apa impianmu ketika kau dewasa kelak?’

Dengan senyum polos dan tatapan mantap bibirku membuka menyuarakan sebuah jawaban.

‘Aku ingin menjadi arsitek dan aku juga ingin hidup bersama appa dan umma selamanyaaaa..’ ucapku kala itu dengan penekanan pada huruf a di kata selamanya.

Seperti biasa, ummaku menyunggingkan senyuman malaikatnya. Wajahnya benar-benar sangat bersinar kala itu ditambah dengan lesung pipi yang membuat kecantikannya seakan tak pernah luntur.
Sedangkan ayahku, ia tampak sangat antusias dengan jawabanku. Membuatnya kembali melontarkan pertanyaan berikutnya.

‘Kenapa harus arsitek?’

‘Agar aku dapat membuatkan sebuah bangunan paling indah di dunia hanya untuk umma dan appa’
Nyaris tanpa keraguan aku menjawabnya. Membuat kedua orang tuaku menyunggingkan senyum lebih lebar.

Bergantian mereka mengecupku dan kami berpelukan kala itu. Di bawah pohon sakura yang sedang bermekaran di musim semi dengan langit cerah sebagai payung kami.

Namun siapa sangka jika itu adalah kebersamaan kami untuk terakhir kalinya. Seakan Tuhan memberiku hadiah terakhir sebagai perpisahan sekaligus rasa sakit yang seakan mengiris pembuluh arteriku.

Beberapa orang mengendarai alfa romero mencegat mobil yang di kendarai appaku ketika kami pulang dari taman. Dengan brutal mereka menyeret paksa appa dan ibuku. Meninggalkanku seorang diri yang terpaku di jok penumpang belakang.

“Dorrr!!!!?” suara itu. Memekakkan telinga. Seakan menyobek membran gendang telingaku, hingga kurasakan jantungku berdetak empat kali lebih cepat. Nafasku memburu. Pupil mataku membesar menyaksikan Ummaku terjatuh lemas ke tanah yang basah dengan darah bersimbah dari bagian dadanya.

Appa berteriak dan hendak menghampiri umma yang gaun pastel cantiknya kini telah di dominasi oleh warna merah darah. Namun hanya sedetik. Kedua lengan kokoh milik seorang laki-laki bertubuh besar menghantam rahang kiri ayahku, hingga laki-laki lain yang mengenakan tuxedo abu-abu, yang tengah memegang pistol revolver melesatkan pelurunya hingga menembus tulang tengkorak ayah yang paling kucintai di dunia ini.

“Bagaimana dengannya bos?” laki-laki lain yang memiliki banyak tato pada bagian lengannya itu menunjuk tepat ke arahku.

“Pastikan ia masuk ke rumah sakit jiwa”

“Argghhh…!!!” ringisku pelan ketika kurasakan pergerakan tiba-tiba yang dihasilkan oleh kaki bagian kiriku.

Dengan mata setengah basah aku menatap datar ke arah stiletto yang kukenakan. Patah, sudah kuduga.. Stiletto yang kubeli dengan harga murah beberapa minggu yang lalu tak akan bertahan lama.

Tak ada yang dapat kulakukan selain menghela nafas dan meratapi nasib yang tak berpihak kepadaku hari ini. Seharusnya aku keluar saja dari majalah kriminal itu dan mulai mencari pekerjaan yang lebih baik di Seoul. Beasiswa yang telah menamatkanku sebagai seorang insiyur rasanya tak akan ada gunanya jika aku masih bertahan sebagai wartawan investigasi dengan gaji yang jauh dari kata layak. Lagipula siapa yang akan berbelas kasihan pada gadis yatim piatu sepertiku? Tak ada.. Semua orang di Seoul benar-benar sibuk dengan urusannya masing-masing.

Hssss,,, andai kedua orang tuaku masih ada di sampingku. Setidaknya aku tak perlu hidup terlunta-lunta seperti ini. Minimal aku memiliki orang-orang yang kucintai sebagai tempat untuk menuangkan segala keluh kesah dan menjadi sandaran saat beban yang menghimpit di pundakku terlalu berat hingga aku sendiri kesulitan untuk menopang tubuhku.

Andai saja……

Aku menghembuskan nafasku di udara dan mengelap peluh yang bercucuran dari bagian pelipisku. Hingga dengan setengah malas aku mencopot stiletto hitam sialan itu dan membuangnya ke tempat sampah.

Yah, begini lebih baik. Setidaknya kakiku tak perlu lagi kesakitan akibat berlari menggunakan sepatu hak tinggi itu, walaupun kulihat dari sudut mataku, beberapa orang yang lalu lalang tampak melemparkan tatapan aneh ke arahku. Hah? Siapa yang peduli tentang itu? Aku tak perlu memikirkan apa yang tengah mereka pikirkan kan? Seperti aku peduli saja. Bahkan seingatku aku tak memiliki teman semenjak duduk di bangku sekolah menengah pertama. Karena aku adalah gadis yang tak pedulian, dingin, dan memiliki dendam masa lalu yang belum terbalaskan.

Sudahlah.. Lupakan dulu semua itu park ji yeon. Sekarang kau hanya perlu fokus menemukan pekerjaan dengan bayaran lebih baik.

Aku memejamkan mataku sejenak. Mengumpulkan semua tekad yang masih tersisa dalam jiwaku. Hingga kemudian aku melanjutkan langkah kaki telanjangku menuju sebuah toko kecil di balik gang ujung jalan. Kupikir aku akan berjalan kaki sampai rumah karena sepertinya aku telah ketinggalan bis, Damn. Tak apa, hitung-hitung meregangkan kakiku yang tegang akibat seharian memakai stiletto sialan itu.

Kulangkahkan kakiku ke dalam sebuah bangunan kecil dengan barang-barang kebutuhan pokok tertata tak begitu rapi dalam beberapa etalasenya. Seorang ahjumma berumur sekitar enam puluh tahunan itu menyapaku ramah.

“Membeli ramen lagi nak?”

“Ne, ahjumma.. Berikan aku lima ramen ya..”

“Sebentar, ” ia nampak mengedarkan pandangan ke segala arah, mencari sesuatu.

“Perlu kubantu?”

“Oh tidak perlu.. Stoknya sepertinya masih ada di belakang, tunggulah di sini”

“Ne..”

Aku meletakkan berkas-berkas dalam beberapa stopmap itu di atas meja kasir, sementara lensa mataku menatap fokus ke arah televisi analog berukuran empat belas inchi yang terpasang di atas cabinet. Berita malam sedang ditayangkan oleh channel televisi sembilan.

Tak ada yang menarik, hingga gendang telingaku menangkap sebuah nama tak asing. KJS group. Yang kutahu adalah sebuah perusahaan pertambangan minyak lepas pantai terbesar di Asia Timur. Kira-kira mereka memiliki berita heboh apa lagi setelah pemberitaan demo kenaikan gaji ribuan karyawan bulan lalu.

‘Kim Jong Suk selaku CEO KJS group telah menunjuk presiden direktur baru untuk memimpin perusahaan keluarga ini. Presiden direktur yang baru tak lain adalah putera tunggal CEO, Kim Myungsoo yang baru saja menyelesaikan studi gelar doktor dalam teknik pertambangan dan mineral Columbia University’

Tunggu! Laki-laki paruh baya itu! Aku mengenalnya..!

Kutajamkan kedua lensa mataku untuk menangkap dua orang sosok laki-laki berbeda umur yang di tayangkan oleh layar televisi.

Ia, laki-laki berkacamata tebal yang menggunakan tongkat hitam mengkilap itu adalah pembunuh kedua orang tuaku. Ia adalah laki-laki yang sukses membuat semua orang beranggapan bahwa aku adalah gadis kecil dengan keterbelakangan mental yang memiliki tingkat halusinasi tinggi, hingga separuh masa sekolah dasarku kuhabiskan di sekolah anak-anak berkebutuhan khusus. Berengsek!

“Nak… Nak…” Sebuah telapak tangan bergerak menghalangi pandanganku

“Ini ramennya..”

“Ah.. Ne,” Aku membuka dompetku dan mengeluarkan beberapa lembar uang won.

“Kamsahamnida ahjumma..”

Baru saja aku hendak beranjak keluar toko, suara serak ahjumma penjaga toko menghentikan langkahku.

“Oh, nak..”

“Ne..”

“Carilah pekerjaan yang lebih baik di KJS group, aku membaca di sini mereka membutuhkan beberapa karyawan baru” ahjumma itu nampak melirik sekilas kakiku yang tak memakai alas. Ia mungkin kasihan padaku.

“Ambilah..” ia menyodorkan sebuah koran pagi kearahku yang langsung kuterima dengan perasaan antusias.

“Kamsahamnida ahjumma..” aku menundukkan badanku dan lalu berjalan cepat menuju flat murahku yang mungkin masih dua kilometer lagi jauhnya jika aku lewat gang sempit ini.


Manik mata cokelatku menelusuri sebuah iklan yang mencapai setengah halaman dalam koran pagi yang di berikan oleh ahjumma penjaga toko beberapa jam lalu.

Jam telah menunjukkan pukul dua dini hari dan aku tak memiliki niat sama sekali untuk merebahkan tubuhku di atas tempat tidur. Pikiranku melayang-layang memikirkan berbagai hal. Tentang mencari pekerjaan dengan bayaran tinggi di Seoul sampai dengan bagaimana cara melampiaskan dendamku pada kim jong suk.

Ckck.. Manager marketing dan Operasional rasanya tak cocok untukku. Terlebih dengan staff HDR yang gajinya tak seberapa. Ataukah aku harus melamar menjadi sekretaris?

Pendidikan minimal sarjana S1, menguasai bahasa inggris dengan baik, berpenampilan menarik.

Well, sepertinya aku memenuhi kriteria sebagai sekretaris putera kim jong suk.

Dengan cekatan aku menghidupkan laptop yang sudah menemaniku sejak mulai mengerjakan tugas-tugas mahasiswa baru sampai sekarang aku telah menamatkan pendidikan S1 ku tiga tahun yang lalu. Walaupun kadang-kadang aku harus merestartnya berulang kali jika penyakit not respondingnya kambuh lagi.

Dengan cekatan jari jemariku bergerak lincah di atas keyboard hitam itu. Menulis surat lamaran pekerjaan adalah sesuatu yang gampang dan sudah ratusan kali mungkin tercatat aku telah membuatnya. Benar-benar memuakkan bukan? Menulis biodata dan CV yang bisa mencapai beberapa halaman folio. Terlebih Ketika harus menjawab pertanyaan yang sama berulang-ulang.

Apa alasan anda melamar pekerjaan di perusahaan kami?

Aku mengetuk-ngetukkan jari telunjukku di permukaan meja. Dahiku berkerut memikirkan jawaban yang paling pas untuk pertanyaan di atas. Tak mungkin juga aku menjawab bahwa tujuanku adalah mendapatkan lebih banyak uang. Benar-benar tak elit, mereka pasti akan langsung mendepakku karena mengangapku adalah karyawan yang matrialistis. Ataukah aku perlu memberikan mereka jawaban jujur bahwa aku masuk ke KJS group agar dendamku terbalaskan. Ha.. Mereka akan langung memasukkanku ke tahanan apapun yang terjadi.

Tujuan saya melamar pekerjaan sebagai sekretaris KJS group adalah karena saya memiliki ketertarikan yang tinggi pada sektor pertambangan yang merupakan salah satu penghasil devisa tertinggi di negara ini. Terlebih dengan pendidikan arsitektur yang telah saya pelajari selama empat taun, rasanya sumber daya saya akan sangat di butuhkan oleh perusahaan yang tengah berkembang pesat seperti KJS group. Terkahir, saya terbiasa bekerja dalam tekanan yang tinggi dengan jam terbang yang banyak, selain itu saya adalah seseorang yang fleksibel dan mudah untuk di ajak bekerja sama dalam tim. Jadi saya akan sangat cocok pada posisi ini.

‘Ha! Mereka tak akan dapat menolakku’

Aku tersenyum lebar sambil kembali melanjutkan kegiatan menulis surat lamaranku. Sesekali melirik jam beker kecil yang kuletakkan di sampingku telah menunjukkan pukul empat pagi. Ck.. Sebaiknya aku segera menyelesaikan pekerjaan membosankan ini dan pergi tidur sejenak. Tak mungkin pula aku bertemu dengan anak kim jong suk si presiden direktur itu dengan penampilan yang tak menarik sama sekali. Bisa-bisa penjaga lobi kantornya pun akan langsung mengusirku.


Aku merapikan penampilanku. Sebuah miniskirt hitam yang dipadukan dengan blouse putih dan sebuah blazer hitam pula kurasa telah cocok melekat dengan tubuhku. Tentu saja aku tak bertelanjang kaki lagi hari ini. Sebuah high heels enam centimeter melengkapi kaki jenjangku.

Dengan tenang aku duduk di luar ruang tunggu dimana semua pelamar menanti giliran mereka di wawancarai oleh sang presiden direktur. Kebanyakan dari mereka menampakkan ekspresi gugup yang terpancar jelas dari raut wajah mereka. Ha.. Mereka pasti tak akan lancar mempromosikan diri mereka sendiri di depan laki-laki pandai seperti anak kim jong suk.

Tapi, kapan giliranku akan datang. Beberapa orang silih berganti memasuki ruang kerja direktur utama dengan eskpresi berbeda-beda yang mereka tunjukkan ketika keluar dari ruangan itu. Hanya sebagian kecil dari mereka yang menutup pintu dengan sebuah senyuman kemenangan terlukis di bibir mereka. Sisanya.. Mereka mengumpat tak jelas bahkan tampak beberapa gadis keluar dengan mata sembab seperti seorang anak yang ketahuan mencuri oleh gurunya. Kasihan sekali, tapi jangan sampai lah aku memiliki nasib seperti mereka.

“Park ji yeon..” seseorang keluar dari balik pintu memanggil namaku. Dengan perasaan berkecamuk aku berdiri dan melangkah maju memasuki ruangan itu.

Seorang laki-laki berperawakan tegap berbalut tuxedo hitamnya tengah duduk di balik meja kerjanya dengan sebuah papan kaca bertuliskan kim myung soo. Sudah kuduga, rupanya seperti ini lah sosok putera kim jong suk. Umurnya mungkin tak jauh berbeda denganku, tebakku ia hanya setahun atau dua tahun lebih tua dariku. Well, harus kukatakan penampilannya sangat menarik. Khas dan memperlihatkan bahwa dirinya adalah laki-laki berpendidikan tinggi dan dibesarkan dalam keluarga yang berkecukupan atau malah berlebihan kayaknya. Tapi apakah ia tahu bahwa ayahnya yang sangat hebat itu hanya tak lebih dari seorang kriminal yang telah membunuh kedua orang tuaku.

“Duduklah nona..”

Tanpa menjawab, aku mendudukkan diriku di atas salah satu kursi di depan meja kerjanya. Sementara ia kini fokus membaca CVku dengan ekspresi serius sambil beberapa kali tampak mengerutkan dahinya.

“Jadi nona park jiyeon, sebelumnya anda adalah seorang wartawan?”
Ia menutup map biru itu dan menghadap ke arahku.

“Ya benar presdir..” Susah payah aku menunjukkan ekspresi bersahabat di depannya dengan senyum menawan yang terus kusunggingkan dari kedua seudut bibirku. Walaupun sebenarnya sumpah aku ingin mencekiknya saat ini juga atau melemparkan sepatu high heels yang kugunakan tepat ke arah kedua bola matanya.

“Apakah kau puteri park chan yeol?” Weit.. Apa-apaan ini? Pertanyaannya sungguh aneh, kenapa pula ia menanyakan nama mendiang ayahku? Ataukah ini adalah sebuah jebakan? Ayahnya yang brengsek itu telah memblacklist namaku dan nama ayahku dari dulu. Benar-benar licik, tapi tentu saja aku tak sebodoh itu.

“Tuan presdir, saya adalah anak yatim piatu dan dibesarkan di panti asuhan sejak kecil, bahkan saya tak mengenal siapa kedua orang tua saya” ucapku sedatar mungkin nyaris tanpa emosi diiringi dengan tatapan kesedihan yang sengaja kupancarkan.

Mianhae appa, umma.. Jangan anggap aku sebagai anak durhaka.

“Kalau begitu, selamat nona park jiyeon, jadilah sekretarisku mulai sekarang..”


To be continued

 

hai.. aku comeback dengan FF terbaru.. yang kemaren katanya pengen sekuel Vampire Girl, Sekuelnya udah aku publish di http://fanfictionsindo.wordpress.com dan sekuel cuma bisa dibaca di sana. Kalau ada yang nemu FF yang sama di blog lain, itu pasti plagiat..

oke deh, jangan lupa commentnya ya readers tercinta.. ^^ thank you~

52 responses to “The Heir’s Secretary (1st Chapter)

  1. Huaaaa , saya suka sekali ff nie author .. Apalgi sedikit berbau dewasa .. Pasti keren nie authorr . Tapi saya mau ngelanjut baca part 2 nya dulu yaaa authorrr .. Jjjjjjaaannnngggg author

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s