[FICLET] Are You Remember Me?

rurmmbrme

Shin Min Rin/Lin (@nzazlin)

present

Title: Are You Remember Me?

Genre: Romance, Fluff, Sad(?), Angst(gagal)/?/

Length: Ficlet

Rated: T

Cast: Choi Minho (SHINee) | Park Jiyeon (T-Ara) | Jung Soojung/Krystal (f{x}) | Kim Myungsoo/L (Infinite)

Disclaimer: The plot original by me, so don’t copycat, eventhough if the storyline not too good. The cast belong to themselves. Thanks to GOD who blessed me and some inspiration from B1A4 Remember’s song!

Summary: “Apakah kau tidak mengingat ku Jiyeon?”, kalimat itu terlontar dari Minho. Apa yang terjadi? Check it out guys~!

WARNING: TYPO, OOC, OOT!!!

 

 

“Are you remember me?”

–=–

Ia sedaritadi tak henti-hentinya melihat jam tangan terus-menerus. Orang yang ditunggunya belum datang-datang juga, padahal sudah terbilang cukup lama ia menunggu. Wanita yang ditunggunya padahal tau kalau ia tidak suka menunggu lama. Tapi tetap saja, tidak tau kesibukan apa yang menghambatnya tepat waktu untuk mendatangi lelaki ini.

Pelayan berseragam khusus itu pun datang lagi dan memberikan buku menu. Lagi-lagi si lelaki menunda untuk memesan menu terlebih dahulu sampai wanita yang ditunggunya itu datang. Untuk kedua kalinya pelayan barusan kembali dengan catatan pesanan hampa dari meja lelaki tersebut.

Lelaki itu mengirim pesan kedua menyuruh agar wanita yang ditunggunya cepat datang. Ia mencoba menelepon tapi tidak diangkat. Lelaki itu menghela nafas kesal. Ia memutar-mutarkan smartphonenya seperti mainan. Tiba-tiba matanya menangkap sesuatu yang sangat menarik. Putaran smartphonenya terhenti dan ia sekarang mengotak-atiknya, menekan tombol kamera untuk membidik objek yang sangat menarik baginya.

Ia mengarahkan smartphonenya mengarah ke seorang wanita yang sangat terlihat anggun dari kejauhan, dari tempatnya berada bisa terlihat kalau wanita anggun itu sangat cantik. Memang, wanita banyak yang cantik. Tapi ada sesuatu yang membedakan wanita cantik ini dibandingkan wanita cantik lainnya di mata lelaki ini. Sebenarnya si lelaki yang sibuk mengarahkan kameranya pada sang wanita tidak begitu jelas melihat wajahnya atau bisa dibilang belum menyadarinya.

Wanita itu terbungkus dengan anggun oleh dress hitam yang diujung roknya terdapat renda-renda transparan nan indah. Ia berjalan mendekati lelaki yang masih mengarahkan kamera smartphonenya itu –yang mengambil gambar dirinya diam-diam-. Bukan untuk duduk di hadapan lelaki itu. Bukan untuk menemui lelaki itu memang. Tapi ia duduk di seberang meja yang tepat berhadapan secara langsung jika kursi di depan mereka masing-masing belum diisi oleh orang.

Lelaki itu masih mengarahkan kameranya, melihat wanita anggun tersebut dari layar smartphonenya. Entahlah, hanya melihat sang wanita dari layar kamera tidak secara langsung, membuat dada lelaki ini berdesir hebat. Wanita itu memang tidak memperhatikan sekelilingnya, malah terkesan cuek. Daritadi wanita itu kalau tidak memandang ke bawah pasti ia melihat ponselnya. Sekarang ia melihat ponselnya sambil sesekali menoleh ke belakang seperti menunggu seseorang.

Kilatan blitz tiba-tiba muncul, dan kilatan tadi tepat terarah ke sang wanita. Hingga ia merasa terganggu dan menatap lelaki di depannya. Tak sengaja lelaki itu menghidupkan flash dan mengambil foto. Lelaki tadi tampak tidak terkejut tapi lebih seperti tetap bersikap keren walaupun sebenarnya dalam hatinya berdebar malu. Sang wanita menatap gerak-gerik si lelaki tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, hanya menatap dengan mata indah lukisan eyeliner nan tajam miliknya.

Lelaki itu menunduk pura-pura memainkan smartphonenya. Diam-diam ia mengirim pesan kembali kepada wanita yang ditunggunya sedaritadi.

SENT.

Pesan terkirim dan lelaki ini mendongakkan kepalanya berencana untuk melihat sang wanita di seberang mejanya. Mata si lelaki membulat lebar seperti terkejut. Tatapan mereka saling bertemu.

Ia pun hanya bisa mengungkapkan pertanyaannya dalam hati, ‘Bukankah dia…… Jiyeon?’

si lelaki ini baru menyadari kalau wanita itu, Jiyeon, adalah seseorang yang dikenalnya. Tapi ada yang aneh, Jiyeon melihatnya dengan tatapan asing.

“Jiyeon-ssi. Maaf membuat mu menunggu lama.” Lelaki berkemeja aqua blue itu datang sambil menenteng jas hitam dan duduk di hadapan sang wanita. Jiyeon, tersenyum menanggapinya dan mengeluarkan ketidak beratannya menunggu. Kedatangan lelaki berkemeja aqua blue itu menutup arah pandang si lelaki yang masih memperhatikan mereka secara seksama. Jiyeon dan lelaki berkemeja aqua blue itu mulai berbincang-bincang.

“Minho-ya? Museun iriya?” Suara seorang wanita bertanya kepada si lelaki yang bernama Minho itu. Kedatang si wanita cantik ini tak dihiraukan Minho, bahkan terkesan diabaikan. Wajahnya yang cantik dan terkesan sempurna itu menatap Minho bingung karena tidak dijawab Minho. Minho masih terlihat berpikir dan menatap Jiyeon dan lelaki kemeja aqua blue itu daritadi.

“Hey Minho-ya? Minho-ya?” Wanita itupun mengibaskan tangannya di depan wajah Minho. Minho memegang tangan si wanita dan menatapnya.

“Apa sih? Aku tidak melamun.”

Si wanita mengendikkan bahu dan menarik tangannya. “Salah siapa kau liat ke belakang ku terus dan udah dipanggil-panggil tidak peduli?”

Minho menatap si wanita ini tanpa menjawab pertanyaannya. Kini ia memfokuskan tatapannya pada wanita di hadapannya. Wajahnya masam menatap si wanita.

“Kau sudah pesan belum? Aku lapar banget nih. Waiter!” wanita tadi mengalihkan pembicaraan seolah tak peduli dengan tatapan Minho dan melambaikan tangannya. Minho hanya bisa berbicara dalam hati mengeluarkan kekesalan menunggu si wanita ini.

“Ngapain sih kau sangat lama datang? Tau kan kalau aku tidak suka menunggu lama.” Minho tampak cemberut. Wanita di depannya menunjukkan wajah merasa bersalah yang dibuat-dibuat.

Aigooouri Minho marah ya? Waaaa neomu kiyeowo~” Wanita itu meraih pipi Minho sambil tersenyum gemas, menunjukkan senyuman manisnya. Minho masih menunjukkan wajah cemberutnya.

Karena gemas, wanita di hadapannya ini mencubit pipi Minho dengan gemas.

Ya! Keumanhe Jungie-ah….”

Minho menangkap tangan wanita yang dipanggilnya Jungie itu dengan sigap. Jungie-Soojung- tersenyum kikuk dan membiarkan tangannya digenggam oleh Minho. Minho mengurungkan niatnya untuk mencereweti Soojung soal keterlambatannya. Sekarang mereka malah tersenyum satu sama lain. Aneh.

“Ehm. Chogiyo… Bisa pesan sekarang?”

Mereka menghentikan aksi mereka dan tertawa kikuk satu sama lain. Pelayan sudah berada di depan mereka, siap dengan papan kertas yang akan membawa pesanan.

“Ah, Ahahaha. Mianheyo… Kau pesan apa Minho-ya?”

“Aku sama saja dengan mu.”

“Oke. 2 fetuccini carbonara dan wine.”

Ne, algeusseumnida.” Pelayan menulis pesanan mereka sambil mengangguk mengerti. Minho menatap Soojung dengan mata yang membulat seolah tak percaya.

“Ah, jangan pakai acar korea di pesanan ku.” Pinta Soojung dan dijawab oleh anggukan mengerti dari si pelayan. Selepas pelayan tadi pergi. Minho menganga lebar dan menatap Soojung. Soojung membalas tatapannya dengan tersirat jelas ‘apa’ disana sambil terkekeh pelan .

Daebakk! Habis ini aku ada jadwal pemotretan untuk klien Jungie-ya!”

“Cuma sedikit. Kau kan juga sering minum wine Minho-ya! Aku tau itu! Hahaha.”

Mereka tertawa berdua setelah itu. Minho mengelus rambut Soojung, terlihat amat mesra. Ternyata kemesraan itu dilihat oleh sepasang mata indah milik seseorang. Matanya menatap mereka dengan tatapan kosong akan tetapi bibirnya terbuka kecil seolah tidak percaya.

“Em… Jiyeon-ssi? Kau sedang tidak tidur kan?”

Mata Jiyeon beralih menatap lelaki di depannya dan tersenyum merasa bersalah, “Ah, mianheyo Myungsoo-ssi, sampai dimana kita tadi?”

Lelaki yang dipanggil Myungsoo itu tersenyum hingga menampakkan eye smile dan lesung pipinya. Terlihat sangat tampan. Akan tetapi makin membuat perasaan Jiyeon merasa bersalah.

“Lupakan saja. Ngomong-ngomong kau sedang lihat apa?”

“Ah ani. Aku Cuma lihat pemandangan langit dan rumah penduduk kota yang terlihat jauh dari sini ternyata sangat bagus ya! Ini pertama kalinya setelah sudah lama aku tidak di Seoul.” Jiyeon tampak bersemangat, ia tersenyum cerah namun tatapan matanya terlihat tak bersemangat.

Geurotji? Apakah New Zealand sangat indah dari ini?”

“Ya, seperti itulah. Hm sedikit berbeda, hm tapi ku rasa hampir sama indahnya.”

 

-.-.-.-

 

“Terima kasih banyak untuk makan siang yang menyenangkan hari ini Myungsoo-ssi. Lain kali ajak aku kesini lagi ya.” Jiyeon tersenyum manis, tapi benar ekspresi ini terlihat natural tidak seperti sebelumnya.

“Aku tidak akan keberatan untuk mengajak mu kembali makan siang lagi Jiyeon-ssi. Tapi kau harus memenuhi satu syarat dulu,” Ucap Myungsoo dengan senyuman misteriusnya. Tatapan mata Jiyeon seolah melambangkan rasa penasarannya.

“Jangan tatap namja lain. Tatap aku saja, ne? Aku ingin mengenal mu lebih dekat Jiyeon-ssi.” Myungsoo tersenyum lembut dan mulai menggenggam tangan Jiyeon yang berada di atas meja. Jiyeon seolah terkejut, tapi merasa bersalah.

“Wuah, bahkan akting ku saja tidak bisa membohongi mu Myungsoo-ssi. Hahaha. Aku benar-benar tak bisa membohongi mata seorang psikolog.” Jiyeon tertawa terbahak-bahak merasa ini semua begitu lucu. Ternyata tertangkap basah semuanya. Myungsoo tersenyum dan menepuk kepala Jiyeon lembut.

Myungsoo tiba-tiba melihat jam tangannya, dan tampak terkejut.

Mianheyo, Jiyeon-ssi. Bisa kita pulang sekarang? Aku lupa kalau ada janji dengan pasien.”

Gwenchana. Aku juga sudah mau pulang.” Myungsoo tersenyum lembut menanggapi jawaban Jiyeon.

Mereka berdiri dan mulai untuk pergi keluar dari restoran setelah Myungsoo membayar tagihannya. Di sela perjalanan mereka menuruni tangga. Jiyeon dan Myungsoo tampak akur, mereka berdua bahkan tertawa dengan senang karena lelucon yang dilontarkan Jiyeon.

Beralih ke meja dimana Minho dan Soojung berada. Seiring perginya Jiyeon dan Myungsoo yang tidak diketahui oleh Minho. Mereka menikmati wine mereka dengan santai di siang hari begini.

Mata Minho dengan penasaran menatap meja Jiyeon saat dirinya dan Soojung terdiam cukup lama karena kehabisan topik pembicaraan. Meja itu sekarang sudah kosong. Hanya ada pelayan yang membersihkan makanan di meja saja yang tertinggal. Minho hanya bisa tersenyum kecewa.

“Minho-ya, menurut mu sikap ku tadi salah tidak? Aku kan tidak sengaja memberikan data rating yang salah. Lagian, mana bisa aku tau kalau itu salah tanggal?”

“Kau lupakan saja, oke? Sudah lewat juga, jangan diingat-ingat. Itu semua kan sudah terjadi, tak bisa terulang lagi kan?”

“Waaa tapi kan gara-gara itu aku dimarahi Sajangnim berjam-jam sampai terlambat datang kesini! Hah…”

Aigooo….” Minho mengacak-acak rambut Soojung hingga membuatnya berantakan. Soojung berteriak protes dan kelabakan merapikan rambutnya yang berantakan oleh perbuatan Minho.

Sepertinya kekesalannya tadi soal keterlambatan Soojung sudah terlupakan. Ajaib sekali, tidak biasanya Minho akan biasa-biasa saja dan cepat melupakan soal keterlambatan, walaupun itu dilakukan oleh wanita spesialnya sekali pun. Kecuali satu orang. Ya, satu orang yang membuatnya sampai hari ini tak bisa melupakan kenangan yang pernah terukir.

 

-.-.-.-.-

 

Minho keluar dari mobil Hyundai berwarna hitam miliknya sambil mengalungkan kamera profesional dan menenteng sebuah tas besar. Tak lupa ia menekan tombol alarm mobilnya dengan dagu yang dibantu bahunya. Barang bawaannya benar-benar banyak sekarang. Setelah menyelesaikan pekerjaan dari siang hingga larut malam seperti ini. Tubuhnya sekarang benar-benar ingin cepat bertemu kasur empuk.

Minho menganggukkan kepalanya tersenyum simpati kepada dua orang berjas hitam selayaknya penjaga itu walaupun mulutnya mengapit kunci mobil. Lalu ia menuju lift yang berada tak jauh lagi darinya. Ia kesusahan untuk menekan tombol lift karena tangan dan mulutnya sudah dipenuhi barang bawaan.

Aish…” Minho bergumam pelan. Ia menurunkan barang bawaannya. Dan….

Ting! Suara lift disebelah berbunyi seiring ia berjongkok menurunkan tas, dan seorang wanita tersenyum menatap Minho. Minho membelalakkan matanya heran dan kaget, perasaannya bercampur aduk. Wanita tadi menunjuk lift yang terbuka seolah mengajak Minho masuk bersama ke lift yang telah dibuka.

“Ah, chogi… aku penghuni baru apartemen nomor 365. Kalau kau mau, kita naik bersama saja. Ku lihat kau kesusahan untuk membuka pintu lift dengan barang bawaan yang banyak.”

Tak ada respon dari Minho. Ekspresi wajahnya seperti kalah tarung dalam lomba balap. Kecewa. Seperti itu perasaannya sekarang.

Tepat. Wanita di hadapannya ini, Jiyeon, wanita yang tadi siang menarik perhatiannya dan sampai sekarang membuatnya tercengang-cengang. Jiyeon menundukkan sedikit kepalanya melihat wajah Minho dengan tatapan selidik. Minho pun terkesiap dan dengan cepat berdiri setelah memasukkan kunci mobil ke dalam saku saat ia menurunkan tasnya sebentar. Tanpa berkata apa-apa, Minho masuk ke dalam lift sambil menatap Jiyeon dengan tatapan mengajak masuk karena Jiyeon masih terdiam di tempatnya.

“Ah, kau berada di lantai yang sama dengan ku.” Jiyeon tersenyum manis setelah menanyakan lantai Minho dan menekan tombol lift barusan.

“Aku berada di kamar 363. Kalau kau butuh bantuan, datang saja ke apartemen ku.” Minho tersenyum getir sambil memandang wajah Jiyeon yang kini manggut-manggut mengerti lalu dibubuhi dengan senyuman.

Tak ada percakapan lagi setelah itu, bahkan Jiyeon pun hanya diam sambil memandang lurus ke depan. Beda dengan Minho yang menunduk sambil memikirkan sesuatu.

Layar kecil yang berada di atas tombol lift menunjukkan angka 4 serta tanda panah ke atas. Mereka masih diam, dan Jiyeon menoleh melihat Minho karena merasa bosan. Wajahnya tampak kagum melihat kamera profesional yang dikalungkan Minho.

“Wuah! Daebakk! Kau seorang fotografer?” tanya Jiyeon tiba-tiba dengan wajah sumringah dan menatap wajah Minho. Minho menatap Jiyeon dan seperti terkejut.

“Ah… ne. Aku baru saja pulang dari pengambilan foto.” Minho kali ini tersenyum dan mengangkat sedikit kameranya. Tapi tak bisa dipungkiri, dalam hatinya terasa amat kecewa dengan sikap Jiyeon. Entah apa yang terjadi.

“Keren! Ah, ngomong-ngomong aku belum memperkenalkan diri. Joneun Park Jiyeon imnida.”

“Apa-apaan ini?” desis Minho tiba-tiba sambil menatap ke bawah dengan lesu. Jiyeon mengernyitkan dahinya, desisan Minho terdengar jelas ditelinganya.

Ne?”

Minho menurunkan tas tentengannya. Ia kini memegang bahu Jiyeon, menghadapkan tubuh Jiyeon tepat ke hadapannya. Matanya terlihat serius. Jiyeon Cuma bisa terkejut dengan mulut yang sedikit terbuka.

“Apakah kau tak mengingat ku Jiyeon?”

“Ap-apa maksud—“

“Ini aku, Choi Minho.”

“Choi Minho?” Jiyeon seolah berpikir, nama itu tampak asing tapi juga terdengar familiar di telinganya. Ia menatap Minho kembali mencari jawaban.

“Jadi nama mu Choi Minho? Bangapseumnida Minho-ssi. Perkenalan mu mengejutkan ku.” Jiyeon malah tersenyum kikuk menatap Minho. Alis Minho mengernyit. Ia menundukkan wajahnya. Tepat pada saat itu lift pun terbuka.

“Ah, Minho-ssi, liftnya sudah terbuka. Sebaiknya kita keluar bersama. Kkaja.” Jiyeon melepaskan cengkraman Minho yang sebenarnya kuat itu dan keluar dari lift.

Sesaat itu pula terdengar bunyi tas yang jatuh tepat di depan lift setelah Jiyeon berjalan duluan. Minho sengaja menjatuhkan tasnya agar Jiyeon yang sudah berjalan lumayan jauh dari lift berhenti dan menoleh melihatnya.

“Jiyeon. Hentikan permainan omong kosong ini. Kau tidak mengenal ku? Kau tidak mengingat ku?” Minho seperti hilang harapan. Kali ini Minho benar-benar serius. Ekspresi wajahnya menyiratkan kekecewaan yang mendalam. Jiyeon merasa iba dan berjalan mendekati Minho.

“Minho-ssi, aku tidak tau apa yang kau bicarakan…”

Tiba-tiba tubuh Jiyeon sudah berada dalam pelukan Minho. Menyalurkan perasaan rindunya yang sangat teramat dalam. Tanpa bisa menyanggah pelukan ini, Jiyeon membiarkannya saja. Jiyeon benar-benar tidak tau siapa Minho ini, ia hanya merasa familiar tapi tidak bisa mengingat apa yang sebenarnya terjadi pada Minho.

“Jiyeon, aku sudah mencari mu dari 8 tahun yang lalu, sekarang kau muncul dengan tatapan asing dan kau tidak mengingat ku? Apa yang terjadi pada mu?”

Jiyeon terkejut, matanya membulat kaget. Tidak tau kenapa alasannya, air mata Jiyeon jatuh saat ia dalam dekapan Minho. Minho kembali memegang bahu Jiyeon untuk menghadapnya.

“Jiyeon-ah, aku tidak bisa melupakan mu. Walaupun ada aku sudah punya Soojung sekarang, tapi perasaan ku tidak bisa bohong. Aku selalu menunggu mu Jiyeon,”

Jantung Jiyeon berdetak hebat seiring dengan berjatuhannya air mata dari pelupuk mata. Jiyeon merasa benar-benar tidak tau harus melakukan apa. Minho mengusapkan ibu jarinya pelan menghapus air matanya.

“Dorawajwo.”

Jiyeon melepaskan pegangan Minho pada bahunya. Air matanya deras berjatuhan. Ia sungguh tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Bahkan dalam memori otaknya sekalipun wajah Minho terasa asing, walaupun ia merasa pernah dekat. Dulu.

“Nan…. Nan moreugesseoyo. Aku tidak ingat.”

 

 

==

THE END or ………….?

Note: Annyeong! Moshi~moshi! Ciao! Halooooo! *kbnyakan* *plakk*

Salam kenal semuanya~ Aku author baru di HSF!😀 Yooooosh~ Maaf ya ini fanfic gaje bin out of topic bgt. pngennya sad malah jadi kacau balau. karena smua ini dikarenakan oleh kegajean ku, Maaf! *bow*

Feel free to correct me yay!😀 Dan jgn lupa berikan kesan2 kalian stlah baca, do RCL or RC hahaha~

Ok, Thanks~

31 responses to “[FICLET] Are You Remember Me?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s