(CHAPTER – PART 4) MY BOOK

MY BOOK1

[part 1] [part 2] [part 3] [part 4] [part 5]

Author: kimleehye19
Main cast: Park Jiyeon, Kim Myungsoo, Choi Minho, Bae Suzy
Other cast: Luna, Jieun, Park Chanyeol
Genre: Romance, School life, Fantasy
Rating: G

Annyeong, di part 4 ini aku jelasin beberapa peristiwa yang terjadi di part sebelumnya. Jadi yuk segera disimak…
Happy reading…

Brakk!!
Terdengar pintu apartemen Jiyeon didobrak oleh seseorang dari luar. Jiyeon dan Myungsoo segera menghampiri pintu yang mungkin sebentar lagi akan berhasil didobrak. Tanpa pikir panjang, Jiyeon melangkah untuk membukanya. Dia ingin tahu sekali siapa yang berani mendobrak pintu orang larut malam begini. Belum sampai di dekat pintu, tapatnya di depan pintu, Myungsoo menahan lengan Jiyeon. Jika orang yang mendobraknya adalah orang jahat, maka tidak aman untuk Jiyeon. Oleh karena itu Myungsoo yang membukanya.
Baru saja kunci pintu dibuka, tiba-tiba muncul 3 orang namja bertubuh kekar dengan security apartemen itu.
“Ada apa ini? Siapa kalian?” tanya Myungsoo tegas. Jiyeon berdiri di belakang Myungsoo dan mencengkeram jaket Myungsoo bagian belakang.
“Cepat keluar dari apartemen ini!” bentak salah satu namja yang memakai topi hitam.
“Siapa kalian? Mendobrak pintu apartemen orang lain, mengusir dengan membentak seperti itu?” Suara Myungsoo tak kalah tingginya dengan namja tadi.
“Mian, nona Park. Apartemen ini sudah dibeli seseorang,” terang security.
“Mwo? Nugu? Kenapa bisa?” tanya Jiyeon tidak percaya.
“Seseorang telah membelinya dua hari yang lalu. Saat itu anda tidak ada di apartemen dan baru kembali hari ini. Jadi baru malam ini mereka meminta anda keluar dari apartemen ini.” Security tampak takut.
Myungsoo yang mendengar penjelasan dari security itu tampak sangat emosi. Untung saja ada Jiyeon yang bisa menyuruhnya menahan emosi itu.
“Kami beri waktu 30 menit. Dalam waktu 30 menit anda harus keluar. Ini uang untuk mengganti perabotan yang ada di apartemen anda.” Salah satu dari tiga namja kekar itu melempar sejumlah uang ke Jiyeon. “Kami tunggu di sini.”

Dalam keadaan serba bingung, Myungsoo dan Jiyeon mau tidak mau harus keluar dari apartemen itu. Mereka memasukkan baju-baju yang belum sempat dimasukkan ke dalam lemari dan beberapa barang lainnya ke dalam koper. Satu koper besar dan tas pakaian milik Jiyeon. Sedangkan Myungsoo hanya membawa koper ukuran kecil karena baju-baju Myungsoo tidak sebanyak Jiyeon. Myungsoo membawa kedua koper itu menuruni lift dan Jiyeon mengekor di belakangnya dengan membawa tas pakaiannya.
Mereka berdiri di ponggir jalan. Bingung mau menginap dimana larut malam begini. Jiyeon mengusulkan mereka menginap saja di sauna. Tentu saja Myungsoo tidak setuju larena Jiyeon masih gadis remaja. Myungsoo mengusulkan menginap di hotel tapi Jiyeon tidak setuju karena terlalu mahal. Akhirnya mereka lelah berdebat terus. Myungsoo menawarkan membeli kopi untuk Jiyeon. Jiyeon pun mengiyakan.
“Cosimi…” seru Jiyeon pada Myungsoo yang sudah menjauh. Namja itu pergi sebentar untuk membeli kopi karena cuaca malam itu dingin.
Jiyeon menunggu Myungsoo di depan gedung apartemen. Dia mengeratkan tali coat-nya untuk mengurangi dingin yang menyerangnya. Tiba-tiba Jiyeon dikagetkan dengan adanya sebuah mobil putih yang terlihat mewah berhenti tepat di depannya. Jiyeon tak ingin tahu siapa orang itu. Mungkin hanya orang yang bingung mencari alamat, pikirnya. Ternyata yeoja yang baru saja turun dari mobil itu adalah Bae Suzy. Dia mendekati Jiyeon.
“Wah waah.. Kau benar-benar akan pindah ya?” sindir Suzy sinis. “Banyak sekali bawaanmu? Ternyata gadis kuper sepertimu juga memiliki banyak barang ya… Bagaimana rasanya keluar dari apartemenmu malam-malam begini? Pasti menyenangkan..” Suzy mendekatkan wajahnya ke arah Jiyeon untuk memastikan bahwa ucapannya benar.
Jiyeon menatapnya tajam. Tangannya sudah mengepal ingin memukul Suzy dengan jurus taekwondo-nya. “Usahamu sudah sukses. Cukhae!”
“Apa kau tidak ingin tahu bagaimana aku mengusirmu?”

Flashback
Beberapa hari lalu saat Jiyeon pulang ke rumahnya, Suzy datang ke apartemen. Di dalam loker apartemen di lantai dasar, dia melihat tagihan sewa apartemen Jiyeon. Senyum evil tiba-tiba menghias wajah cantiknya.

Sampainya di rumah, Suzy meminta dibelikan apartemen. Tepatnya dia ingin membeli apartemen yang ditempati oleh Jiyeon. Karena masa pembayaran sewa sudah tiba dan Jiyeon tak kunjung kembali ke apartemen, akhirnya pemilik apartemen itu bukan lagi meyewakan namun menjualnya kepada Suzy. Suzy pun merasa sangat senang. Dengan begini dendamnya akan terbalas dan diapun dapat menguasai Myungsoo untuk melakukan apapun yang dimintanya.

Malam dimana dia melihat kedatangan Jiyeon dan Myungsoo adalah saat dimana Suzy merencanakan ide jahatnya. Dia menelepon orang suruhannya untuk mengusir Jiyeon malam itu juga.
Flashback end.

Jiyeon geram atas sikap Suzy yang tidak bisa ditolerir. Bukan karena kehilangan apartemennya, tapi sifat dan sikap Suzy yang membuatnya harus menahan marah.”Lalu apalagi yang kau inginkan?” tanya Jiyeon tak kalah sinis dengan Suzy.
“Pergilah jauh-jauh, kalau perlu kau juga harus pindah sekolah. Aku berpikir apakah kau dapat menanggung biaya sekolah itu?”
“Apa kau yakin dengan ucapanmu? Apa kau tidak akan menyesal?” tanya Jiyeon yang tengah menatap tajam pada Suzy.

Ponsel Jiyeon berdering. Pesan dari oppanya. Sebentar lagi Chanyeol menemuinya di sana. Tak lama kemudian Chanyeol tiba di depan apartemen Jiyeon. Dia sangat terkejut melihat yeodongsaeng-nya itu dikelilingi koper dan tas.
“Yaak, Jiyeon-a, wae gurae? Ige mwoya?” tanya Chanyeol kaget.
“Hah, aku keluar dari apartemen, oppa. Mian.” Jiyeon memasukkan kedua tangannya ke dalam saku coat.
“Bukankah kau nona Bae? Putri dari direktur Bae?” tanya Chanyeol pada Suzy yang menatapnya heran.
“Aah, ye, Chanyeol-ssi. Ngomong-ngomong kau sedang ada urusan apa kemari?” tanya Suzy yang penasaran kenapa namja sekaya Chanyeol bisa ada di depan apartemen biasa apalagi bicara dengan Jiyeon.
“Aku ke sini untuk menemui dongsaengku, Jiyeon.”
Jlegeeerrr!!!
Bagai disambar petir jutaan volt, Suzy sangat amat terkejut. Jiyeon adik dari Chanyeol?
“Oppa, kau mengenalnya?” tanya Jiyeon.
“Tentu saja. Direktur Bae adalah salah satu direktur perusahaan cabang kita di Daegu. Dulu almarhum appa menolong tuan Bae yang tidak memiliki pekerjaan. Akhirnya appa mempekerjakan tuan Bae di perusahaan. Kini tuan Bae menjadi salah satu direktur di cabang kita. Apa dia chingumu?”
“Anhi. Aku tidak pernah punya chingu seperti dia,” jawab Jiyeon ketus.
Ternyata appa Suzy adalah orang bawahan Chanyeol. Karena tuan Park sudah meninggal, makanya Chanyeol mengambil alih posisi appanya sebagai Presdir. Sedangkan tuan Bae hanya orang yang diberi pekerjaan oleh tuan Park sampai sekarang karirnya melonjak hingga menjadi direktur.

Suzy tidak tahan menanggung malu di depan Jiyeon, akhirnya dia pulang. Chanyeol mengajak Jiyeon untuk pulang ke rumahnya di Seoul. Rumah baru yang ia beli karena perusahaan inti sekarang dia pindahkan ke Seoul. Jiyeon meminta izin pada Chanyeol agar Myungsoo juga tinggal bersama mereka. Dia juga menjelaskan bahwa selama ini Myungsoo lah yang ada di sisinya. Chanyeol pun mengizinkan Myungsoo tinggal di rumahnya. Mereka bertiga tinggal di rumah megah milik Chanyeol.

Keesokan harinya Minho meminjamkan catatannya pada Jiyeon karena dia tidak masuk sekolah selama beberapa hari. Minho yang baik hati tapi malang nasibnya memiliki yeoja seperti Suzy. Minho dan Jiyeon sedang asyik mengobrol. Kali ini Jiyeon menjaga jarak dengan Minho karena dia sudah berniat melupakan namja itu. Benar kata Myungsoo, jika kau mencintai orang yang salah maka rasa sakit yang kau dapatkan.

Di sebuah restoran China, Myungsoo  menggantikan Jiyeon bekerja sebagai pelayan. Karena skill dan kemampuan berbahasa mandarin Myungsoo sangat bagus, manager restoran meminta Myungsoo menjadi karyawan tetap di sana.

Myungsoo pov.
Waaah hari ini jongmal haengbokaeyo… Tidak disangka karena terbiasa menggantikan Jiyeon sebagai pelayan di mana-mana, aku telah memiliki skill itu dan kini aku mendapat pekerjaan. Oh dewa, semoga pilihan yang ku ambil ini tidak salah. Aku sudah terlanjur melangkah, aku sudah terlanjur berada di sisinya. Jadi harus aku lanjutkan hingga batas waktu itu. Aku akan membuatnya jatuh cinta padaku dengan ketulusan hatinya. Jika aku gagal, aku siap menerima konsekuensinya. Aku rela lenyap selama-lamanya.
Kim Myungsoo, hwaiting!
Aku pulang bekerja naik bus. Jiyeon telah mengajariku bagaimana melakukan segala sesuatu sebagai masyarakat modern. Akupun terbiasa dengan itu semua.
Myungsoo pov end

Minho pov.
Hari ini entah kenapa Suzy terlihat aneh. Jika biasanya dia marah-marah pada Jiyeon, kini dia memilih menghindari Jiyeon. Ah nae yeoja misterius. Pulang sekolah aku melihat Suzy sedang menunggu seseorang di pintu gerbang, saat orang yang ditunggunya tiba, dia segera menarik tangan orang itu. Bukankah itu Jiyeon? Ya, Jiyeon. Apa yang akan diperbuat Suzy pada Jiyeon?

Aku mengikuti Suzy yang memvawa Jiyeon ke dalam gang sepi. Beberapa namja keluar dari tempat persembunyiannya. Apa-apaan Suzy? Aku takut mereka akan melukai Jiyeon. Aigoo, ottohke? Aku harus membantunya nanti.

“Apa kau ingin menghajarku?” tanya Jiyeon seakan menantang 5 namja yang mengelilinginya. “Baiklah, aku tidak suka keroyokan. Majulah satu per satu.” Jiyeon menantang namja di sekelilingnya.
Salah satu namja maju untuk melawan Jiyeon, tapi dia dapat dilumpuhkan Jiyeon dengan beberapa pukulan di kepala dan ulu hati namja itu. Satu namja maju lagi. Diapun berhasil dibekuk Jiyeon dengan jurus untuk mematahkan tulang pergelangan tangan lawan. Lalu dia memukul wajah namja itu. Dua namja KO. Jiyeon masih terlihat segar dan bertenaga. Master taekwondo itu tidak mudah dikalahkan, inilah yang belum diketahui Suzy.
Namja ketiga berhasil dibekuk lagi. Aku benar-benar salut pada Jiyeon. Dia seorang pendekar. Mungkin aku saja kalah melawan mereka.
Jiyeon lagi-lagi melancarkan tendangannya ke arah ulu hati, wajah dan betis lawan. Alhasil musuhnya itupun terkapar. Namja keempat dan kelima maju bersamaan. Kali ini Jiyeon harus berhati-hati karena salah satu namja membawa sebilah pisau lipat. Jiyeon segera mengingat jurus yang digunakan untuk melawan orang bersenjata tajam. Dengan memanfaatkan salah satu namja, Jiyeon berhasil membuat satunya berdarah. Kemudian dia pun berhasil membuang pisau itu dan mengambilnya. Tanpa memanfaatkan pisau itu, Jiyeon berhasil membekuk mereka berdua dengan memukul kepala mereka menggunakan kayu pemukul bola bisbol di dekatnya. Dengan nafas terengah-engah, Jiyeon menantang mereka hingga mereka pun kabur. Jiyeon benar-benar hebat.
Suzy, yeojaku, ternyata dia sejahat ini. Dia mengetahui keberadaanku. Aku segera meminta Jiyeon pulang. Sementara yeojaku, aku menyeretmya paksa untuk segera masuk ke dalam mobilku.
Minho pov end.

Jiyeon pulang dengan keadaan kacau. Rambut panjangnya terurai tidak rapi, baju seragamnya kotor sekali, roknya sobek, hanya blazer yang masih utuh padahal saat melawan namja-namja tadi, seragam itulah yang dipakai Jiyeon. Jalannya pun terseyok-seyok karena sempat mendapat beberapa pukulan.

Melihat Jiyeon pulang dengan kondisi menyedihkan, Myungsoo segera menyiapkan air hangat untuk menyeka luka lebam Jiyeon. (note: untuk luka lebam alias gosong yang baru maka dikompres dengan air dingin atau es batu. Nah, untuk luka.lebam yangv sudah terlewat minimal gk sampek 1 jam ya kalo gk salah, maka dikompres dengan air hangat).

“Kim Myungsoo…” lirih Jiyeon yang meringis menahan sakit. Luka lebamnya sedang dikompres oleh Myungsoo.
“Eoh, wae?”
“Bagaimana pekerjaanmu? Apa kau tidak mendapat hukuman lagi karena sering menampakkan diri?”
“Aku menjadi karyawan tetap di sana.” Myungsoo mengeluarkan senyumnya yang menawan. “Kalau pertanyaanmu yang satu itu panjang ceritanya.”
“Kalau begitu ceritakan. Pali!”
“Aku bisa menyelamatkanmu karna ada campur tangan dewa. Menurut mereka, kaulah orang yang dapat mengembalikan aku menjadi manusia lagi. Tentunya ada beberapa syaratnya.” Myungsoo berhenti sejenak. “Alasannya adalah appa. Kau adalah putri dari reinkarnasi appaku. Makanya hanya kau yang bisa mengembalikan aku menjadi manusia sewajarnya. Ada satu lagi yang ingin aku katakan.”
“Mwoya?” tanya Jiyeon cepat.
“Saat kau menemukan bukuku dulu, sebenarnya aku sendiri yang menjatuhkan. Beberapa hari sebelum kau menemukannya, Suzy lah pemilik bukuku. Dia membawanya kemana-mana karena takut hilang. Namun saat di perpustakaan, dia tidak sadar kalau bukunya terjatuh. Kemudian petugas perpustakaan mengambilnya dan meletakkannya di rak buku fiksi. Pada pagi itu kau datang. Aku sengaja menjatuhkannya ketika kau di sana sendirian karena aku tidak mungkin menjatuhkannya saat perpustakaan sedang ramai. Itu bisa membahayakan bukuku. Pada saat itu aku masih belum tahu kalau kau adalah orang yang dapat menolongku keluar dari kurungan ini. Tapi, maukah kau membantuku melewati rintangan ini?” Myungsoo.masih saja setia mengompres luka lebam di tubuh Jiyeon dan menyeka kakinya dengan air hangat. Tidak ada jawaban. “Yaak, kenapa kau diam? Ya sudah kalau kau tidak mau membantuku.” Saat Myungsoo hendak membereskan peralatannya, dia melihat Jiyeon ternyata sudah tidur. Apa tadi dia mendengar semua pengakuannya ya? Ah, molla, pikir Myungsoo.

Minho pov.
Masalah ini harus selesai. Ya, harus. Tapi apakah Jiyeon masuk sekolah ya? Eoh, i, igeo, Park Jiyeon. Omo, ada beberapa luka lebam di wajahnya. Hmm yeoja itu sangat teladan. Aku hampiri saja dia.
“Yaak, Park Jiyeon!” seruku. Dia pun berhenti dan menoleh ke arahku. Aku sungguh tak tega. Wajah cantiknya kini penuh lebam.
“Eoh, Minho-a, wae?” tanyanya santai.
“Aku ingin minta maaf atas kelakuan Suzy kemarin. Dia sangat kelewatan. Aku janji padamu akan kuubah dia menjadi yeoja penurut dan berkelakuan baik.” Jiyeon terkejut mendengar kata-kataku.
“Apa bisa?”
“Harus bisa. Keunde, tentang buku itu, buku apa yang dimaksud Suzy?”
Jiyeon hanya diam.”Bukan apa-apa. Aku masuk dulu, ne. Kakiku pegal sekali berdiri terlalu lama.” Kulihat Jiyeon berjalan dengan tertatih-tatih. Yeoja itu kuat fisik dan batinnya. Aku kagum padanya. Mungkin kalau aku menjadi dia, aku sudah mati kemarin.

Jam pelajaran selesai. Aku ingin menanyakan kenapa malam itu dia tidak datang?
“Ji, kenapa malam itu kau tidak datang? Aku menggumu. Malah Suzy yang datang,” keluhku.
“Eoh, aku sudah datang. Aku melihatmu sedang berdua dengan Sizy makanya aku tidak menghampirimu.”
Hah? Dia melihatku dengan Suzy? Apa dia melihatku melakukan itu dengan Suzy. Yaak, Minho pabo…

Aku mencari Suzy. Ternyata dia ada di ruang musik. Kuhampiri yeoja itu. Aku memarahinya karena tindakannya yang kelewatan. Sepertinya dia sedikit sadar dan mau mendengarkan aku. Syukurlah, Suzy-a, nan saranghaeyo. Kau harus berubah.
Minho pov end.
Minho tampak sedih melihat perilaku Suzy yang tidak baik. Ia pun bertekad akan mengubah yeoja itu menjadi malaikat. Awalnya ia ragu, tapi kemudian keyakinannya bertambah karena mengingat betapa besarnya cinta Suzy padanya begitupun sebaliknya.

Di rumah, Chanyeol sedang tidak pergi ke kantor. Dia melihat Jiyeon yang keadaannya masih kacau seperti kemarin. Jiyeon enggan bercerita pada Chanyeol. Akhirnya Myungsoo lah yang memceritakan perihal Suzy pada Chanyeol. Namja itu geram. Namun Myungsoo memintanya untuk bersabar. Karena jika Suzy ditekan atau diancam, dia akan semakin brutal. Segala cara akan ditempuhnya untuk merebut buku itu.
Setelah Myungsoo diangkat ke langit ketika berhasil menolong Jiyeon di acara pesta, dia melakukan negosiasi dengan dewa karena perbuatannya yang selalu melanggar aturan. Saat itu Myungsoo dikurung dalam sebuah ruang yang serba putih. Di sana ada Grim Reaper. Mereka berdua curhat-curhat hingga akhirnya dewa menurunkan Myungsoo ke bumi sebagai manusia normal untuk mencari cara membebaskan dirinya dari kurungan para dewa. Di bumi, dia harus segera bebas dari buku itu sebelum buku itu berpindah ke tangan orang lain. Akan sangat sulit baginya untuk bertemu dengan Jiyeon jika buku itu dipegang orang lain bahkan dia tidak dapat bertemu dengan Jiyeon. Inilah yang menjadi beban bagi Myungsoo. Akankah dia bisa menjadi manusia seutuhnya…

Di depan sekolah, lagi-lagi Suzy menunggu Jiyeon.
“Ada apa lagi? Jika kau berani mengganggu hidupku lagi maka aku tidak segan-segan mematahkan tulang-tulangmu. Camkan itu.” Jiyeon melangkah pergi namun kakinya tersandung kaki Suzy yang keliatannya memang sengaja dilakukan oleh Suzy.

Jiyeon yang hampir jatuh pun selamat karena seseorangmenarik lengannya. Suzy tegang melihat orang yang berdiri di depannya. Ya, Kim Myungsoo sudah berada di sana. Kali ini dia tidak menghioang begitu saja karena memang dia diturunkan sebagai manusia biasa untuk sementara ini. Suzy berkilah, dia berpura-pura mau minta maaf. Tentu Jiyeon dan Myungsoo tidak percaya begitu saja. Mereka pun pergi meninggalkan Suzy.

“Myungsoo-a, apa kau sudah selesai kerja?” tanya Jiyeon yang berjalan beriringan dengan Myungsoo.
“Aku shift malam. Jadi hari ini aku datang menemuimu sekalian belanja. Katanya oppamu ingin makan masakan rumah.” Myungsoo dan Jiyeon berhenti di seberang jalan, menanti rambu lalu lintas jalan menyala. Saat rambu itu sudah menyala, orang-orang pun menyberang. Sesampainya di seberang jalan, Jiyeon melihat seorang anak kecil kehilangan ibunya saat menyeberang tadi di tengah jalan. Lampu rambu berubah merah. Jiyeon berlari secepatnya untuk menyelamatkan anak itu. Namun tiba-tiba sebuah mobil box melaju tanpa mengetahui bahwa Jiyeon berlari ke tengah jalan. Akhirnya…
Braaaakkkk!!!
Menyadari siapa yang tersungkur di pinggir jalan, Jiyeon histeris. “Kim Myungsoo…” lirihnya.

Tbc

Uwaaa… Alurnya terlalu cepat atau lama? Aku harus menjelaskan beberapa poin yang sudah terjadi di part sebelumnya. Semoga tidak mengecewakan. Hehe…
Comment’nya aku tunggu chingu. Gomawo… ^_^

57 responses to “(CHAPTER – PART 4) MY BOOK

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s