[ CHAPTER – PART 15 ] RAINBOW AFTER THE RAIN

ra2r

Tittle : Rainbow After The Rain
Author : gazasinta
Main Cast : Park Jiyeon, Bae Suzy, Choi Minho, Kim Myungsoo
Genre : Family, Friendship, Romance
Rating : PG-17

Poster created by Chomichin@

Part 15
“ Oppa…mianhae..hiks…hiks, aku begitu bodoh mengabaikanmu, seharusnya aku saja yang mati…bukan dirimu, jika sudah begini apa yang harus aku lakukan ? aku tidak memiliki siapapun didunia ini selain dirimu….oppa jebal bawa aku bersamamuuuuu “

Seorang yeoja mungil berteriak diatas sebuah jembatan yang dibawahnya mengalir air yang begitu deras dan tentu saja begitu dingin, tangisannya semakin kencang teringat nasib yang menimpa dirinya.

Meski kini tubuhnya semakin gemetar, namun tidak ada sorot keraguan dari kedua matanya, perlahan ia merentangkan kedua tangannya dan mulai memejamkan matanya, tidak ada lagi hal yang mengganjal untuk ia pertimbangkan, tekadnya sudah bulat akan mengakhiri hidupnya malam ini.

Baru saja ia mengambil ancang-ancang untuk terjun tiba-tiba seseorang berteriak “ Apa yang kau lakukan!!! “
Yeoja mungil itu sedikit terkejut, ia mengurungkan niatnya sejenak berusaha untuk mengenali suara dibelakangnya, namun merasa ia tidak memiliki siapapun lagi didunia ini, yeoja mungil itu mengabaikannya dan kembali mengambil ancang-ancang untuk melaksanakan niat awalnya.

“ Kau adalah manusia yang paling bodoh yang pernah aku temui!!! “ kali ini suaranya terdengar sangat marah.
Yeoja mungil perlahan membalikkan tubuhnya, ia menatap heran ke arah orang yang berada tak jauh dari hadapannya.

Seorang yeoja seumuran dengannya membawa ransel dipunggungnya serta koper yang ia seret dengan tangannya. Wajah yeoja itu sangat cantik dengan pancaran kelembutan, namun memandang kesal ke arahnya.

“ Wae ? kau siapa ? mengapa kau mengatakan aku bodoh ? kau tidak tahu apa-apa tentangku “ ucapnya kesal.

Yeoja cantik mendekat perlahan, namun yeoja mungil kembali berteriak “ Jangan mendekat atau aku akan melompat dan mengakhiri hidupku “ ucapnya mengancam.

Yeoja cantik menghentikan langkahnya, perlahan ia menghembuskan nafasnya kasar “ Apa yang kau harapkan dari mengakhiri hidupmu ? apa permasalahan yang kau hadapi akan selesai ? mengapa kau begitu pengecut menghadapi hidup ? apa kau berharap kelak akan bereinkarnasi dan kehidupanmu barumu akan bahagia ? “ ucap yeoja cantik kesal.

Yeoja mungil itu masih terisak, kini tubuhnya terlihat begitu lemah namun sorot matanya tajam menatap tidak suka ke arah yeoja cantik dihadapannya “ Aku sudah bilang, kau tidak tau apa-apa mengenai diriku, kau jangan ikut campur dengan urusanku “ hardiknya kesal.

“ Tidak ada kesempurnaan didunia ini, setiap yang hidup pasti akan diberikan ujian oleh Tuhan, tapi apa kau akan menyerah begitu saja dengan mengakhiri hidupmu ? memang nasib buruk seperti apa yang kau terima ? apa kau merasa kau lah orang yang paling menyedihkan didunia ini eoh ? “ teriak yeoja cantik menjadi sangat emosi.

“ Kau tahu ? aku baru saja mengetahui jika aku ini bukan anak dari orangtua yang selama 17 tahun merawatku dengan kasih sayang, eomma kandungku hanyalah wanita yang miskin, setelah kenyataan itu aku ketahui semua teman-teman yang dulu sangat ramah terhadapku perlahan-lahan menjauhi bahkan mengejekku, dan yang lebih menyedihkan Tuhan masih memberiku ujian dengan mengambil eomma kandungku padahal kami baru dua bulan bersama, bahkan aku belum berbuat apa-apa untuk membuatnya bahagia dan bangga memilikiku, aku tidak memiliki siapapun lagi didunia ini, dan kini aku tidak tahu harus kemana ? apa kau bisa merasakan kesedihanku eoh ? tapi aku masih disini dan akan tetap berpijak pada bumi ini, aku percaya pelangi akan datang setelah hujan yang terus menerus menimpaku“ yeoja cantik tiba-tiba luruh terduduk dijalan sepi dihadapan yeoja mungil dengan airmata yang berderai.

Yeoja mungil terkesiap dengan reaksi yang ditunjukkan oleh yeoja cantik itu, kini ia merasa begitu kecil mendengar kisah yeoja dihadapannya “ Wa-wae ? mengapa kau menangis ? aku kan belum melakukan apapun padamu “ ucap yeoja mungil tiba-tiba merasa sangat takut dengan reaksi yeoja dihadapannya.

“ Aku mohon teruskan hidupmu, jangan melakukan hal-hal yang kelak akan kau sesali…hu…hu..hu “ ucap yeoja cantik dengan suara parau dan tangisan yang semakin mengiris hati.

Yeoja mungil menjadi bingung, ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dan dengan perlahan ia turun dari tiang jembatan, dengan langkah ragu ia mendekati yeoja cantik.

“ Pegang tanganku, dan jangan lepaskan lagi, agar aku tidak lari kembali ke jembatan itu dan menyeburkan diriku, aku Lee Jieun siapa namamu “ ucapnya seraya mengulurkan tangan.

“ Aku Bae Jiyeon “ ucap yeoja cantik yang bernama Jiyeon.

Keduanya kini terduduk ditrotoar jembatan, suasana sepi dan dingin membuat mereka menenggelamkan tubuhnya di lutut masing-masing.

“ Mianhae, aku menjadi malu ketika tahu masalah yang menimpaku sama sekali tidak ada apa-apanya denganmu, huh.. aku memang bodoh “ ucap Jieun merutuki kebodohannya.

“ Dia adalah temanku sejak kecil, kami sama-sama tumbuh dilingkungan panti asuhan, ia sudah aku anggap sebagai oppaku sendiri karena hanya dia yang mau menemaniku dipanti, ia namja yang sangat baik “ ucap Jieun membayangkan namja yang ia ceritakan.

Jiyeon dengan serius mendengarkan apa yang Jieun ceritakan, Jiyeon sedikit merasa tidak enak ketika Jieun menyebut panti asuhan, ternyata jika setiap orang mengatakan dirinyalah yang paling bernasib sial, itu hanya karena kita tidak pernah mau melihat kesusahan orang lain.

“ Dua bulan yang lalu aku mengetahui jika ia tidak hanya sekedar menganggapku sebagai dongsaengnya, ia mengatakan jika ia mencintaiku, namun aku benar-benar hanya menganggapnya oppaku, hingga akhirnya aku menjauhinya, aku pergi dari panti hanya karena untuk menghindarinya “ Jieun menghentikan ceritanya, ia kemudian menatap Jiyeon yang matanya masih memerah akibat menangis.

Jieun meraih tas dipunggungnya, ia mengeluarkan sesuatu dari sana “ Ini pakailah “ ucap Jieun seraya menyodorkan tisu kepada Jiyeon, ia pun mengambil satu tisu yang lain untuk dirinya sendiri.

“ Minggu lalu aku mendapat kabar bahwa ia memiliki penyakit kanker stadium akhir, aku begitu terkejut “ perlahan Jieun membuang nafasnya dan semakin menenggelamkan kepalanya dikedua lututnya.

“ Aku sudah terlambat, ketika aku kembali pengurus panti asuhan berkata bahwa oppaku telah tiada , dan yang lebih menyedihkan oppaku menitipkan pesan bahwa aku tidak diperbolehkan melihat jenazahnya, aku begitu sedih. Tapi aku baru sadar ketika pengurus panti menjelaskan bukan karena oppaku membenciku, tapi ia tidak ingin aku melihat tubuhnya yang begitu kurus dan keadaannya yang begitu menyedihkan terlihat olehku “ Jieun mengusap tisu pada hidungnya, airmatanya seolah sudah habis karena terus menangis sejak tadi.

Jiyeon hanya mendengarkan tanpa menginterupsi, ia kemudian menggenggam tangan Jieun, Jieun menoleh kearah Jiyeon dan tersenyum.

“ Aku terlambat menyadari, bahwa ternyata aku juga mencintainya, mencintai namja yang aku anggap sebagai oppaku sendiri, aku baru sadar dan menyesal aku belum membalas perasaannya “ ucap Jieun.

“ Myungsoo oppa mencintaimu, apa kau tega menyakiti perasaannya ?”
“ Geure, Myungsoo oppa tidak hanya menganggapmu sebagai dongsaengnya, ia MENCINTAIMU, perasaan yang ia miliki adalah perasaan NAMJA kepada YEOJA bukan OPPA kepada DONGSAENGNYA, apakah kau begitu bodoh tidak dapat merasakannya ? “

“ Ahh masalahku hanya seperti itu, tapi aku sudah menyerah, sekali lagi gomawo…jika tidak ada dirimu mungkin besok pagi namaku akan jadi headline surat kabar di Korea Selatan…hahahha “ ucap Jieun berusaha tertawa.
Jiyeon yang diajaknya berbicara hanya terdiam dengan pandangan kosong, ada sesuatu yang kini mengusik hatinya setelah mendengar cerita Jieun, ia tidak ingin setelah banyak cobaan berat yang ia lalui kini tiba-tiba memiliki cerita yang sama pula dengan Jieun.

“ Oh, keluarga tuan Kim semuanya sudah pindah ke Amerika agassi pagi tadi , saya tidak tahu kapan mereka akan kembali, bibi Jung dan supir Kang pun tidak diperintahkan untuk mengurus rumah ini, mungkin saja akan dijual “ ucap salah seorang tetangganya dulu.

Jiyeon terdiam mematung, jemarinya begitu lemah kini memegang kedua tali ranselnya, beberapa hari ia memutuskan untuk pergi, ternyata ketika ia kembali keluarga angkatnya lah yang justru meninggalkannya entah samapi kapan ia tidak tahu.

“ Hanya itu yang aku ketahui , aku harus segera pergi bekerja “ ucap ahjussi.

“ Eoh …kamsahamnida ahjussi atas informasinya, mianhae merepotkanmu“ Jiyeon membungkuk dan kemudian ahjussi itu segera berlalu dari hadapan Jiyeon.

Jiyeon menatap sedih rumah besar dihadapannya, perlahan ia mendekat ke arah gerbang dan membayangkan semua keluarganya ada disana.

“ Appa, letak dasimu tidak rapi, aku akan merapihkannya “
“ Gomawo, kau memang anak appa yang baik “
“ Yeonnie-ah hati-hati nde, segera pulang setelah pelajaran usai “
“ Nde eomma…aku pergi “
“ Kau duduklah didepan, aku tidak ingin kau berada sejajar denganku “
“ Nde…oppa “

Jiyeon tersenyum pilu, tangannya merosot begitu saja dari teralis pagar yang ia pegang “ Kita benar-benar terpisah “ air mata Jiyeon membasahi kedua pipi mulusnya .

Jiyeon melemparkan pandangannya keluar jendela, hamparan sungai dan sawah serta anak-anak yang bermain layangan dipematang sawah membuat perasaanya sedikit tenang. Tangan kecilnya menggeser kaca jendela , membiarkan angin masuk dan meniup-niup rambutnya.
Jiyeon kemudian menyembulkan kepalanya, satu tangannya ia gunakan untuk menangkap angin yang justru terasa menampar-nampar pipi lembutnya. Seoul sudah jauh ia tinggalkan, kota yang banyak menyimpan kenangan untuknya, dan kini ia hanya mengikuti kemana kakinya akan melangkah melanjutkan hidup tanpa ada seorangpun sanak saudara.

3 Jam jarak Seoul-Myungdong telah Jiyeon tempuh, hari kini sudah berganti sore, langit biru kini berubah warna menjadi oranye, perlahan Jiyeon membuka matanya dan mencoba menjernihkan penglihatannya yang kabur karena telah tertidur selama beberapa jam di bus.
Bus berhenti dihalte terakhir desa Myungdong, ia kemudian menyampirkan tas punggungnya dan menyeret kopernya.

Jiyeon terlihat panik ketika ia tidak menemukan amplop coklat berisi uang pemberian eommanya untuk ia melanjutkan sekolah di dalam ranselnya. Ia mengeluarkan semua isi dalam tasnya, dengan penasaran kopernyapun ia bongkar untuk mencari keberadaan amplop yang akan membawanya bertahan hidup.

“ Ommo, aku tidak merasa mengeluarkannya, Tuhan aku mohon tolong aku “ ucap Jiyeon panik.

“ Bae Jiyeon, sedang apa kau disini ? “ tiba-tiba suara seseorang memanggilnya.

Jiyeon reflek menolehkan wajahnya, raut wajahnya berubah sedikit tenang menyadari ia mengenal orang yang memanggilnya.

“ Lee Jieun ? “ Jiyeon menghela nafasnya lega, ia kemudian berdiri dan memeluk Jieun.

Jieun mengernyitkan dahinya heran dengan sikap Jiyeon.

Jieun meletakkan segelas teh hangat dihadapan Jiyeon “ Jadi kau kembali kerumah orangtua angkatmu, tapi mereka sudah tidak disana lalu kau kehilangan semua uang yang eommamu berikan untuk biaya hidupmu….huh itu menyedihkan sekali? “ ucap Jieun miris dengan cerita jiyeon.

Wajah Jiyeon kembali bersedih, namun ia terlalu lelah untuk meratapi nasibnya, ia pun meraih segelas teh hangat untuk membasahi tenggorokannya yang terasa kering.

“ Ujianku ternyata belum usai, gwencana aku akan memulai kembali dengan kedua tanganku ini “ ucap Jiyeon berusaha tabah.

“ Aku akan mengajakmu untuk bekerja dikedai Min ahjussi , ia sangat baik kebetulan satu orang keluar dari sana karena akan menikah, kau pasti langsung diterima oleh ahjussi “ ucap Jieun antusias.

Jiyeon memandang Jieun dengan haru “ Gomawo Jieun-ssi , jika tidak ada engkau..” ucap Jiyeon terhenti karena Jiyeon memotong ucapannya.

“ Itu tidak seberapa jika dibandingkan dengan nyawaku, mulai sekarang mari kita hidup bersama-sama, dalam suka maupun duka “ ucap Jieun memberi jari kelingkingnya untuk mengikat janji bersama.

Jiyeon menautkan jarinya dengan jari Jieun, mereka kemudian tersenyum bersama.

“ Tuhan gomawo, dibalik ujian yang datang, Kau masih mengirimkan Lee Jieun untuk menemaniku, aku akan menghargai hidupku mulai dari sekarang “ ucap Jiyeon dalam hati.

Jiyeon dan Jieun bekerja begitu giat, pagi hingga sore mereka gunakan untuk bekerja di kedai milik Min ahjussi, dimalam hari mereka juga masih harus bekerja di toko roti milik keluarga Jung, meski upah yang mereka dapat hanya cukup untuk menyewa rumah dan makan sehari-hari mereka sangat bahagia, hidup dalam kesederhanaan dan tidak mampu untuk melanjutkan pendidikannya, hidup seperti ini harus pula mereka syukuri.

Agar tidak tertinggal dengan ilmu pengetahuan Jiyeon selalu menyisihkan uangnya untuk sekedar membeli satu buah buku dan membacanya sebelum ia beranjak tidur, Jieun begitu kagum dengan semangat hidup yang Jiyeon tunjukkan.

Kebaikan hati Jiyeon yang selalu menolong kepada siapapun yang butuh bantuan dan sifat mengalahnya pada orang yang menyakitinya membuat Jieun terkadang tak kuasa menahan air mata. Banyak pelajaran baik yang dapat Jieun ambil dari diri Jiyeon, bagi Jieun Tuhan bukan hanya mengirimkan manusia biasa yang kini menemaninya, tetapi malaikat cantik yang berasal dari Syurga.

Myungsoo menyandarkan bahu di dinding lorong apartemennya, meninggalkan Minho dan Jiyeon didalam sana, tidak peduli lalu lalang orang yang menatap aneh kepadanya. Ia memilih menyembunyikan perasaan rindunya dan membiarkan Jiyeon bersama dengan Minho sekarang, ada banyak hal yang membuat ia berekspresi datar, Myungsoo terbebani dengan perjanjiannya dengan Minho serta tentang Sulli yang kini bersamanya.

Kringg…

Myungsoo menatap telepon yang ada digenggamannya, namun ia tidak segera menjawab meski ia tahu siapa yang menghubunginya. Karena terus saja berbunyi Myungsoo pun menekan tombol hijau disana “ Aku sudah menerima pemberianmu, gomawo itu sangat enak “ ucap Myungsoo seolah tahu apa yang akan Sulli tanyakan.

Sulli terdiam, belum sempat ia bertanya namun Myungsoo sudah menyelanya dengan nada bicara berbeda “ Mianhae….aku tidak mengantarkannya sendiri “ sesal Sulli mengira kekecewaan nada suara Myungsoo karena ia mengirim orang lain ke apartemennya.

Lagi-lagi reaksi Sulli yang berbeda membuat hati Myungsoo semakin sesak, yeoja itu begitu polos dengan segala pikiran baik yang ada dikepalanya “ Ahniya, kau sedang apa sekarang ? apa kau memiliki kegiatan hari ini ? “ tanya Myungsoo mencoba membuat Sulli tidak merasa bersalah.

“ Eoh, hari ini aku di hotel saja, apa siang nanti aku boleh ke kantormu ? tapi jika itu mengganggu aku tetap disini “ ucap Sulli.

Myungsoo terdiam sejenak, memikirkan jawaban yang pas agar Sulli tidak merasa tersinggung jika ia menolaknya “ Kau adalah calon tunanganku, mengapa begitu sungkan “ ucap Myungsoo berbeda dengan apa yang ia rasakan.

Pipi Sulli bersemu merah, sepanjang ia bersama Myungsoo, baru kali ini Myungsoo dengan terang-terangan mengakui status dirinya.

“ Gomawo, jika kau mengijinkannya “ ucap Sulli menahan debar di jantungnya.

“ Eoh “ ucap Myungsoo singkat.

Klik

Sulli menarik kembali senyum yang sebelumnya begitu merekah, Myungsoo memutuskan komunikasi hanya dengan kalimat yang begitu singkat, namun Sulli sepertinya sudah memahami bagaimana sifat Myungsoo hingga hatinya tidak lagi merasa tersinggung.

Myungsoo menghela nafasnya kasar, hidup yang ia jalani penuh dengan kepura-puraan yang akhirnya membuat dirinya tersiksa. Ia hanya tidak ingin menyakiti Sulli yang sudah begitu memahami perasaannya selama 3 tahun kebersamaan mereka.

“ Tidak peduli alasanmu, kumohon kau jangan lagi menghilang, jika hidupmu begitu sulit untuk engkau hadapi, kau hanya cukup menemuiku, aku tidak akan pernah membiarkanmu mengeluarkan air mata eoh “ ucap Minho yang menggenggam kedua tangan Jiyeon begitu erat.

Jiyeon membalas kalimat Minho dengan senyumnya, ia begitu terharu dengan sikap Minho yang menyambutnya, namja ini tidak berubah dari terakhir kedekatan mereka, bahkan ini terasa berlebihan, Minho tidak lepas menatap dirinya membuat Jiyeon gugup “ Mianhae..Jika kepergianku membuatmu begitu khawatir “ ucap Jiyeon pelan.

Bunyi pintu membuat keduanya menoleh , Myungsoo berdiri disana menatap tangan Minho dan Jiyeon yang saling bertautan,bukan hanya matanya, hati Myungsoo bahkan terasa panas melihat pemandangan itu.

Senyum lembut Jiyeon mengiringi langkah Myungsoo yang mendekat, perlahan ia melepaskan tautan tangan Minho.

“ Minho sangat merindukanmu, bahkan ia hampir berencana bunuh diri jika benar-benar tidak bisa lagi melihatmu, apa kau tahu ? “ ucap Myungsoo seraya mengambil posisi duduknya berhadapan dengan Jiyeon, ia mencoba menetralkan perasaannya dengan gurauannya.

“ Ha…ha..ha Yya Kim Myungsoo kau ini begitu sembarangan berbicara, kau pikir aku namja pabbo seperti dirimu eoh ? “ ucap Minho membalas gurauan Myungsoo.

Jiyeon menatap keduanya heran, ini pertama kalinya melihat kedua namja yang dulu saling melempar sinis tatapan kini berubah begitu akrab, namun jauh dilubuk hatinya ia merasa senang jika memang hubungan mereka membaik.

“ Jiyeona-ah apa kau heran aku dan oppamu bisa dekat seperti ini ? tapi, sayangnya aku tidak bisa menjawabnya , akupun tidak tahu pasti mengapa kami bisa sedekat ini “ ucap Minho mengendikkan bahunya.

“ Perjanjian konyol “ tiba-tiba kalimat itu meluncur dari bibir Myungsoo membuat Jiyeon dan Minho menolehkan pandangan ke arah Myungsoo, yang ditatap tidak bergeming dan hanya memainkan telepon genggam yang sejak tadi ia pegang.

Minho sedikit tidak nyaman dengan ucapan Myungsoo yang menyinggung perjanjian itu, meski ia bukanlah orang pertama yang menemui Jiyeon, namun Myungsoo telah ia anggap gugur karena keberadaan Sulli.

“ Perjanjian konyol apa yang oppa maksud ? “ tanya Jiyeon ingin tahu.

“ Ahniya, hanya ingin membuatmu penasaran “ ucap Myungsoo enteng dengan pandangan yang masih tertuju pada Minho.

Minho membalas tatapan Minho dengan senyum sinisnya “ Aku harus segera pergi ke kantor “ ucapnya seraya melirik Jiyeon.

“ Kau membutuhkan toiletku, wajahmu begitu jelek sekali, apa seperti itu seorang pimpinan ? “ ucap Myungsoo mengejek.

Lagi-lagi Myungsoo mengajaknya bercanda “ Eoh dimana letak toiletmu ? “ ucap Minho seraya berdiri mencari letak toilet di apartemen Myungsoo.

“ Disana “ tunjuk Myungsoo dengan dagunya.

Minho berjalan ke arah toilet, Sepeninggalan Minho suasana hening tercipta, Myungsoo dan Jiyeon tidak tahu harus membicarakan apa.

“ Ehem.. “ Jiyeon berdeham berusaha menghilangkan rasa gugupnya, menyadari itu Myungsoo pun segera bangkit dari duduknya, namun…

“ Oppa, aku ingin mengatakan…”

“ Gwencana, aku sudah baik-baik saja sejak kau memutuskan pergi “ potong Myungsoo memunggungi Jiyeon seolah tau apa yang akan Jiyeon katakan.

Jiyeon akhirnya memilih diam, meski ia tidak lagi ingin mengungkit masalah keergiannya, ia ingin sekali mengucapkan terimakasih pada Myungsoo yang telah menyelamatkan kehormatannya dihotel beberapa hari yang lalu.

“ Bagaimana kabar appa dan eomma serta Suzy ? apa mereka akan kembali ? “ Jiyeon merubah arah pembicaraannya.

Myungsoo berjalan menuju jendela apartemennya, menarik tirai yang menghalangi pandangannya ke arah luar “ Mereka baik-baik saja, jika tidak ada halangan minggu depan akan kembali ke Korea “ ucap Myungsoo.

Jiyeon hanya tersenyum, reaksi yang oppanya tunjukkan berbeda dengan Minho yang begitu antusias menyambutnya, meski sedih namun Jiyeon mencoba memahaminya.

Jiyeon memandang oppanya yang kini terlihat berbeda dari 7 tahun lalu, tubuh kurusnya dulu kini berubah menjadi lebih tinggi dan tegap, siluet bentuk hidung serta jakun dileher Myungsoo tampak terlihat jelas dilihat dari arah samping, bibir merah Jiyeon kembali mengulum senyum ia menyukai gaya rambut oppanya yang tidak pernah berubah dari 7 tahun lalu.

Menyadari Jiyeon terus menatapnya, Myungsoopun menolehkan pandangannya dan balik menatap Jiyeon, pandangan keduanya bertemu, meski saling diam namun senyum tipis mencoba mereka tunjukkan.

“ Jiyeon-ah, aku akan mengantarmu “ ucap Minho muncul dari arah samping seraya mengeringkan tangannya dengan tisu toilet.

Pandangan keduanya kemudian terpisah, Jiyeon yang menatap gugup Minho, serta Myungsoo yang kembali menatap keluar jendela.

“ Kau tidak perlu mengantarku, jika nanti nanti terlambat itu bukan tanggungjawabku “ seloroh Jiyeon mencoba menolak halus ajakan Minho.

Dan seperti Minho yang ia kenal lama, tangannya langsung ditarik oleh Minho, tanpa mau mendengar adanya penolakan “ Kaja, jika kau terus menolak, maka aku akan benar-benar terlambat “ mau tidak mau Jiyeonpun berdiri dan mengikuti langkah Minho.

Myungsoo menatap dengan pandangan yang berbeda ketika keduanya akan segera pergi dari apartemennya, namun sebelumnya Minho berbisik tepat di telinga Myungsoo “ Aku akan mengantarkan adikmu dengan selamat, kau mengijinkanku bukan? “ ucap Minho mematahkan pandangan tak suka Myungsoo kearahnya dan berjalan menuju pintu.

Namun tiba-tiba Jiyeon melepaskan pegangannya, Jiyeon kemudian kembali berjalan mendekati Myungsoo “ Oppa, kau harus sarapan sebelum bekerja, jaga kesehatanmu jangan sampai kau lelah dan sakit…..itu yang nona Sulli ucapkan untukmu “ ucapan Jiyeon melemah ketika harus mengatakan bahwa bukan ia yang mengatakan kalimat itu.

Meski merasa sedih dengan sebutan nona yang Jiyeon ucapkan “ Eoh, katakan padanya aku menyukai apapun pemberiannya “ ucap Myungsoo mencoba menguatkan hatinya untuk mengatakan kalimat itu.

Minho menatap keduanya dengan pandangan iri, namun ia tidak akan menyerah hanya karena ia menangkap ada yang lain diantara keduanya.

Mood Minho berubah drastis, berbeda dengan pertama kali ia menemukan Jiyeon, pikiran-pikirannya sendiri yang membuat hatinya terusik.

“ Kau tidak boleh tidak konsentrasi ketika menyetir, aku ada disini dan masih ingin hidup lebih lama “ ucap Jiyeon menyadarkan Minho dari segala pikirannya sendiri.

“ Eoh, aku tidak sedang melamun, apa terlihat seperti itu ? “ tanya Minho kembali mengumpulkan konsentrasi penuh ke arah jalan.

“ Eoh, apa yang kau pikirkan ? “ tanya Jiyeon lembut.

Minho tidak lekas menjawab, ia hanya mengulas senyum dibibirnya “ Myungsoo, aku memikirkan sikapnya padamu “ ucap Minho akhirnya.

“ Aku tidak ingin ia berubah “ ucap Minho singkat.

Jiyeon tidak mengerti arah pembicaraan Minho mengenai perubahan Myungsoo, namun “ Aku sama sekali tidak melihat perubahan dari dirinya “ ucap Jiyeon mencoba menebak apa yang Minho maksud.

“ Oppaku memang seperti itu, ia orang yang tidak bisa dengan mudah menunjukkan ekspresinya kepada orang lain, jika ia terlihat dingin diluar, namun kenyataannya ia orang yang paling ingin menunjukkan kehangatannya pada orang lain, jika sekarang ini ia terlihat tidak merindukkanku, aku tidak lagi khawatir karena aku yakin kerinduan oppa dua kali lipat lebih besar dari apa yang kita bayangkan “ ucap Jiyeon yang sebenarnya menghibur kesedihan hatinya.

Minho tersenyum dengan jawaban polos Jiyeon, meski arah pembicaraannya bukan kesana, namun ia berusaha mendengarkan dengan serius kalimat Jiyeon yang membuatnya iri dengan sosok Myungso.

Sahabat adalah sahabat, jika mereka mencintai yeoja yang sama, makan persaingan tetap bernama persaingan.

“ Aku memang bukan orang yang menemukannya pertama kali, namun aku ingin orang yang pertama kali menggenggam hatinya “ lirih Minho dalam hati.

Sulli terus membolak-balik halaman majalah ditangannya, mata dan mulutnya tak henti-hentinya berdecak kagum dengan semua desain disana, hari pertunangannya dengan Myungsoo sudah semakin dekat, namun ia belum juga menemukan gaun yang hendak ia pakai diacara pertunangannya nanti.

“ Semuanya begitu cantik, jadi aku harus memilih yang mana ? “ ucapnya terlihat bingung.

Ia kembali mengulang halaman pertama dan membandingkannya dengan halaman lain “ Huh jika ada Suzy bukankah ini akan lebih mudah “ Sulli mempoutkan bibirnya.

Ting Tong

Sulli menolehkan kepalanya kearah pintu, ia meletakkan majalah di sofanya dan melangkah menuju pintu.

“ Eoh kau sudah kembali, apa kekasihku menikmati sarapannya ? “ tanya Sulli dengan wajah penasaran ketika mendapati Jiyeon dihadapannya.

“ Itu…aku…aku tidak menunggunya nona, namun kekasihmu bilang bahwa ia menyukai apapun pemberianmu “ ucap Jiyeon membuat pipi Sulli bersemu merah.

“ Jeongmal ? ahh dia memang sangat baik, gomawo aku selalu merepotkanmu, eeumm…..jika kali ini aku meminta pendapatmu apa kau keberatan ? “ tanya Sulli.

“ Tentu tidak nona, disini kami memang harus memberikan pelayanan yang baik kepada setiap tamu hotel “ ucap Jiyeon ramah.

Sulli pun mempersilahkan Jiyeon masuk, ia mengambil majalah yang sejak tadi ia lihat dan memperlihatkannya pada Jiyeon.

“ Menurutmu, yang mana lebih cocok untukku ? ini atau ini ? aku menyukai keduanya, tapi aku ingin terlihat lebih cantik dan kekasihkumenyukainya ketika ia melihatku “ ucap Sulli seraya memperlihatkan pilihannya kepada Jiyeon.

Senyum Jiyeon yang sejak tadi terukir perlahan sirna, ia memandang gaun yang Sulli tunjukkan dan terdiam untuk beberapa saat menatap gaun cantik dihadapannya.

“ Jiyeon-ssi mana yang lebih bagus ? “ tanya Sulli akhirnya karena Jiyeon tak kunjung menjatuhkan pilihannya.

“ Eoh, gaun apapun yang nona pakai semuanya pasti akan terlihat cantik, tapi pria biasanya menyukai kesederhanaan, kurasa yang ini cocok untukmu nona “ jari Jiyeon menunjuk satu gaun putih yang sederhana namun terlihat elegan dengan payet dan bordir yang tidak terlalu banyak.

Sulli kemudian tersenyum dengan pilihan Jiyeon “ Aku tidak menyangka seleramu sangat baik “ ucap Sulli.

Jiyeon menatap Sulli dengan pandangan sedikit tersinggung dengan kata “ tidak menyangka “ yang Sulli ucapkan, menyadari jika kata-katanya terdengar tidak begitu baik Sulli meminta maaf “ Mianhae, maksudku kita memiliki selera yang sama “ ucapnya meralat kalimat awal.

Jiyeon memasukkan baju-baju tamu hotel dengan semangat, ia bahkan mengambil alih baju tamu hotel yang seharusnya Jieun selesaikan, ia mengambil begitu banyak detergen dan menuangkannya kedalam mesin cuci.

Jieun nampak heran dengan sikap Jiyeon, padahal ia baik-baik saja pagi tadi ketika berangkat bersama, Jieun mendekati Jiyeon dan kemudian bertanya “ Jiyeon-ah, apa kau baik-baik saja ? “ tanya Jieun ragu.

Seolah tidak mendengarnya, Jiyeon terus memisahkan baju-baju sesuai dengan bahan dan warnanya agar tidak rusak ketika dicuci.

“Ia kenapa ? mengapa begitu aneh ? tapi tidak apalah, jika arahnya berubah positif “ ucap Jieun asal mencoba pekerjaan lainnya untuk ia kerjakan.

Myungsoo masih serius didepan laptopnya, jemarinya terus menari diatas keyboard, hari pertamanya sudah disibukkan dengan berbagai urusan kantor yang harus ia selesaikan.

Sulli melangkahkan kakinya dan melihat-lihat setiap sudut ruangan Myungsoo untuk membunuh rasa jenuhnya, sesekali ia melihat jam ditangannya.

Melihat Myungsoo yang masih sibuk, Sulli pun kemudian mendekat kearah Myungsoo “ Apa masih banyak yang harus kau selesaikan ? “ tanyaSulli lembut seraya melihat-lihat dokumen yang ada dimeja Myungsoo.

Sulli mendesah pelan pertanyaannya diabaikan Myungsoo “ Huh..” Jika ia tahu akan seperti ini tentu saja ia lebih memilih Myungsoo menjemputnya di hotel.

Mendengar lenguhan Sulli membuat Myungsoo menghentikan kegiatannya, ia menutup laptopnya dan segera berdiri memakai jas yang tersampir dikursinya.

“ Apa sudah selesai ? “ tanya Sulli merasa lega melihat Myungsoo bersiap-siap.

“ Mianhae, membuatmu menunggu lama “ ucap Myungsoo disambut senyum Sulli.

“ Gwencana, aku mengerti…..kita makan malam dimana ? “ tanya Sulli penasaran.

“ Aku menyerahkannya padamu “ ucap Myungsoo.

Jawaban yang sudah Sulli tebak sebelumnya, Sulli mengalungkan tangannya dilengan Myungsoo dan berhasil membuat Myungsoo menatapnya.

“ Tidak apa-apa kan jika calon tunanganmu melakukan ini ? “ ucap Sulli seolah tahu apa maksud Myungsoo menatapnya.
Tanpa menjawab Myungsoo pun akhirnya berjalan menuju keluar ruangan.

“ Yeobboseo “ sapa Minho.

Ini sudah yang ketiga kalinya telepon genggamnya berbunyi, namun setiap kali ia angkat penelponnya sama sekali tidak berbicara membuat kesabaran Minho habis.

Ia terus memandangi telepon dimejanya, menunggu nomor tidak dikenal itu kembali menghubunginya, sungguh kali ini ia akan memaki si penelepon jika ia tidak juga mau berbicara.

Kringg…

Dengan cepat Minho mengangkat teleponnya “ Yyaaa kau ingin berbicara atau tidak ? jika tidak sebaiknya…”

“ Apa kabarmu ? “ Suara lembut seorang wanita terdengar dan sukses membuat Minho terdiam.

Ia berusaha untuk mengenali suara wanita diseberang sana, namun karena ragu “ Mengapa sejak tadi kau hanya diam dan tidak mengatakan apapun “ ucap Minho berusaha meredam emosinya.

“ Mianhae…..aku takut jika ternyata ini bukan lagi nomormu “ ucap suara lembut diseberang sana terdengar takut.

“ Aku Kim Suzy, apa kau masih mengingatku ? “ tanya wanita yang ternya Suzy diseberang sana.

Minho mengernyitkan keningnya tidak mengerti dengan pertanyaan yang terkesan basa-basi, namun memahami jika wanita memang seringkali melakukan hal-hal yang membuat pria tidak mengerti jalan pikirannya Minho pun menjawabnya lembut “ Eoh….tentu saja “ ucap Minho singkat.

Suzy menjadi ragu seketika dengan reaksi Minho yang tampak datar “ Jika mengganggu sebaiknya lain kali saja aku menghubungimu “ ucap Suzy.

“ Aku baik-baik saja, bagaimana denganmu ? “ ucap Minho tidak ingin Suzy merasa tidak enak.

Suzy tersenyum disana mendengar respon Minho “ Aku sangat baik “ ucapnya singkat.

Lama keduanya terdiam, tidak tahu apa yang harus dibicarakan, bahkan Suzy yang meneleponnyapun tidak juga mengatakan apa tujuannya.

“ Aku “

“ Aku “

Ucap keduanya bersamaan, Minho tersenyum lirih “ Karena kau yang menghubungiku, maka silahkan kau duluan “ ucap Minho.

“ Aku…..ahh sebenarnya aku juga tidak tahu mengapa menghubungimu, aku…aku hanya tiba-tiba merindukanmu “ ucap Suzy terdengar sulit mengatakan perasaannya.

Minho tersenyum kaku mendengar kalimat Suzy yang mengatakan merindukan dirinya, entah mengapa hatinya tiba-tiba berdesir, namun tidak ingin Suzy berpikiran macam-macam “ Nado, karena kita sudah lama tidak bertemu, tentu saja aku merindukan sahabat baikku “ ucap Minho yang berhasil membuat Suzy akhirnya terdiam dengan kata terakhirnya.

“ Eoh, nde 7 tahun tidak saling bertemu dan menyapa, tentu saja dua orang sahabat akan saling merindukan “ ucap Suzy kembali menekankan status keduanya.

Hampir 1 jam Minho dan Suzy berkomunikasi di telepon, Minho merasa tidak enak jika ia meminta Suzy menghubunginya lain waktu, karena Minho memiliki janji dengan orang lain.

Namun seiring pembicaraan keduanya yang semakin membias tentang kenangan mereka ketika SMA dulu yang begitu dekat, Minhopun seakan tidak menyadari jika waktu terus berputar dan semakin larut.

Myungsoo membaca pesan yang Minho kirim, namja jangkung itu membatalkan janjinya karena dirinya masih sangat sibuk dikantor, Myungsoopun akhirnya menikmati makan malamnya berdua saja dengan Sulli.

“ Ia tidak bisa datang “ ucap Myungsoo tiba-tiba.

Sulli mendengarnya dan tentu saja ia merasa senang, namun tidak mau Myungsoo tersinggung dengan responnya “ Eoh, sayang sekali “ ucapnya seraya mengambil menu yang pelayan restaurant tawarkan.

“ Apa yang kau sukai ? “ tanya Sulli seraya membolak balik menu restaurant.

“ Aku menyukai hampir semua hidangan ” ucap Myungsoo singkat.

“ Baiklah “ ucap Sulli.

Myungsoo menatap Sulli yang tampil cantik malam ini, celana bercorak dengan aksen bunga berwarna lembut serta atasan tanpa lengan berwarna senada melekat sempurna pada tubuh tinggi dan ramping Sulli, setiap pasang mata menatap mereka begitu iri.

Bagaimana tidak, banyak yang mengatakan jika wajah Myungsoo adalah tipe ideal setiap yeoja di negeri Korea ditambah garis tegas wajahnya yang membuat banyak yeoja pasti langsung jatuh hati ketika melihatnya, dipasangkan dengan Sulli gadis cantik dengan kulit putih mulus dan bentuk tubuh tingginya yang membuat keduanya terlihat serasi dan sempurna.

Namun berbeda dengan pandangan Myungsoo, ia tidak pernah bisa sepenuh hati menerima wanita yang akan menjadi tunangannya beberapa minggu kedepan, meskipun Sulli begitu sabar dan memahami dengan baik sikap dinginnya, Myungsoo tidak juga bisa membuka hatinya untuk Sulli.

Sulli yang merasa ditatap Myungsoo menjadi sedikit salah tingkah dan tidak konsentrasi untuk memilih menu yang akan mereka nikmati “ Ini restaurant yang paling enak di Seoul, apa dulu kau pernah kesini ? “ tanya Sulli berusaha mengalihkan salih tingkahnya.

“ Ahni “ ucap Myungsoo seraya mengalihkan pandangannya mengitari sekeliling sudut restaurant.

Myungsoo baru menyadari jika suasana restaurant ini terlalu melankolis dengan lampu yang minim pencahayaan serta lagu klasik tentang cinta yang di iringi suara biola yang mendayu-dayu menambah kesan melankolis yang restaurant ini tawarkan.

Berbeda dengan Sulli yang berpikir bahwa suasana ini begitu romantis, ia sengaja memilih tempat ini agar Myungsoo juga dapat menikmati kebersamaan mereka, ini adalah malam pertama mereka berdua makan bersama di Seoul, di Amerika Myungsoo memang sering menemaninya makan malam, tapi ia selalu membawa serta teman-temannya bersama, alhasil itu tidak bisa disebut sebagai kencan pasangan.

Hari ini Sulli bersyukur ketika Minho tiba-tiba mengabarkan bahwa ia tidak bisa bergabung untuk makan malam bersama, meski Myungsoo tidak benar-benar murni mengajaknya makan berdua, namun ia cukup senang.

Dua orang pelayan datang dengan senyum ramah dan segera menata beberapa menu yang dipilih Sulli, Sannakji, Tteokguk, Miyeok Guk sudah terhidang cantik dimeja, membuat Sulli tidak sabar menikmatinya.

“ Ini pasti sangat enak, aku merindukan makanan ini begitu lama…di Amerika rasanya tidak seenak disini “ ucap Sulli seraya mengambil beberapa menu.

“ Ini untukmu “ ucap Sulli menyodorkan pirirng yang sudah dipenuhi makanan ke arah Myungsoo.

“ Eoh, gomawo “ ucap Myungsoo.

Keduanya menikmati hidangan dihadapannya, meski Sulli selalu tampil elegan namun ia tidak malu menunjukkan jika ia sangat menikmati hidangannya“ Persiapan pertunangan kita hampir 70% siap, minggu depan ketika orangtua mu datang, aku mulai menyebarkan undangannya, kapan kau ada waktu untuk fitting baju yang akan kita gunakan ? aku sudah menetapkan pilihanku dan 1 minggu kedepan itu sudah siap “ pembicaraan Sulli membuat Myungsoo hampir tersedak, terlalu fokus dengan hal lain Myungsoo melupakan jika pertunangannya dengan Sulli hanya tinggal beberapa pekan saja.

Sulli terus saja berbicara, namun Myungsoo tidak fokus dengan apa yang Sulli bicarakan, hingga….

Trang

Sendok Myungsoo terlepas dari tangannya dan terjatuh kelantai, suara nyaringnya berhasil membuat sebagian tamu restaurant menatap kearahnya. Sulli menghentikan pembicaraan dan berusaha tersenyum meminta maaf pada tamu lainnya khawatir mengganggu suasana romantis di restaurant ini.

“ Eoh mianhae “ ucap Sulli kepada beberapa pasang mata yang menatapnya merasa tidak enak.

Sulli menatap heran menyadari perubahan raut wajah kekasihnya “ Ada apa ? apa aku salah berbicara ? “

“ Ah tidak, itu hanya terasa licin “ ucap Myungsoo tidak ingin merusak mood Sulli.

Namun Sulli menyadari jika Myungsoo menyembunyikan sesuatu dari dirinya.

“ Selamat malam, sampai bertemu besok “ Jiyeon dan Jieun membungkukkan tubuhnya mengucapkan kalimat perpisahan dengan teman-teman lainnya.

Keduanya kini telah mengganti seragam hotelnya “ Jieun-ah kau pulang duluan saja, aku masih ada pekerjaan di kamar no.128 “ ucap Jiyeon.

Jieun menatap Jiyeon curiga “ Dengan pakaianmu seperti itu ? memangnya siapa tamu yang dikamar itu, seorang namja atau yeoja ? “ tanya Jieun menyelidik.

“ Ahniya dia seorang halmeoni, kau tidak perlu khawatir “ ucap Jiyeon meyakinkan sahabatnya.

“ Baiklah, jika ada apa-apa kau hubungi aku yah ? pastikan batere handphone mu terisi penuh “ ucap Jiuen seraya meninggalkan Jiyeon.

“ Nde…gomawo, hati-hati dijalan “ ucap Jiyeon.

“ Gomawo untuk malam ini, kau harus cepat istirahat…..jaga kesehatanmu “ ucap Sulli dan setelahnya ia menutup pintu kamarnya.

Myungsoo melangkahkan kakinya menuju lift yang akan membawanya ke lantai bawah.

Tring

Sebuah lift kapsul yang terbuat dari kaca berhenti tepat ketika pandangannya beradu dengan seorang yeoja yang ada didalam sana seorang diri, Myungsoo berusaha mati-matian menetralkan perasaannya.

Pintu lift telah terbuka namun Myungsoo masih terdiam disana hingga suara yeoja itu menyadarkannya.

“ Apa oppa akan menggunakan lift ini “ ucap wanita yang ternyata Jiyeon.

“ Eoh “ perlahan Myungsoo masuk dan mengambil posisi berdampingan dengan Jiyeon.

Myungsoo menyembunyikan kedua tangannya dibalik saku celana yang ia gunakan, keduanya hanya terdiam. Sesekali Jiyeon mencuri pandang ke arah Myungsoo dari ekor matanya, hening….sikap oppanya yang dingin sejak kedatangannya membuat Jiyeon begitu gugup ketika mereka bersama.

Myungsoo masih berkutat dengan pikirannya untuk mengatakan sesuatu kepada Jiyeon, matanya terus menatap angka yang menunjukkan dimana sekarang lift ini berada…..tepat ketika lift akan terbuka dilantai tujuannya, tangan Myungsoo reflek menekan tombol untuk mencegah pintu lift terbuka.

Jiyeon terkejut dengan apa yang Myungsoo lakukan “ Oppa kita harus segera keluar, apa ada….”

“ Mianhae jika aku terlalu egois “ ucap Myungsoo tanpa menatap Jiyeon yang terlihat tidak mengerti dengan apa yang Myungsoo katakan.

“ Aku memang tidak lagi seperti oppamu yang dulu, tapi perasaanku tetap sama dan tidak akan pernah berubah “ ucap Myungsoo yang masih tidak dimengerti oleh Jiyeon.

Jiyeon menatap lengan Myungsoo yang masih menekan tombol untuk mencegah pintunya terbuka, tangan oppanya dihiasi oleh jam yang ia ingat jika ialah yang memilih, namun Jiyeon tersenyum getir ketika menyadari jika Sulli lah yang Myungsoo tahu memberikan untuknya.

“ Oppa, aku tidak mengerti apa yang kau ucapkan, kau memang tidak pernah berubah dan tidak akan pernah berubah, kau akan tetap menjadi oppa untukku, jadi kau jangan selalu mengatakan hal-hal yang membuat aku bingung “ ucap Jiyeon mencoba tersenyum, meski entah mengapa ia merasa sedih mengucapkan hal itu.

Myungsoo membalikkan tubuhnya menatap Jiyeon, baru saja ia ingin memeluk Jiyeon mencoba membayar sikap dinginnya pagi tadi, namun sorot mata Jiyeon yang menatap kearah luar kaca lift dan tersenyum membuat Myungsoo mengurungkan niatnya.

“ Minho-ah “ ucap Jiyeon.

Myungsoo melihat Minho dari kaca dihadapannya, tangan yang hampir terangkat kembali ia turunkan, dan membiarkan Jiyeon menekan tombol agar lift terbuka.

Sebelum keluar “ Oppa, nona Sulli sangat baik dan cantik, kalian berdua sangat serasi, chukae….akhirnya aku akan memiliki kakak ipar, aku harap kau akan segera mengenalkanku secara resmi “ Jiyeonpun keluar dari dalam lift meninggalkan Myungsoo yang masih berdiri dengan nafas yang sulit ia dapatkan karena ucapan Jiyeon begitu terasa menghujam jantungnya.

“ Mianhae, aku sedikit terlambat “ ucap Minho kepada Jiyeon yang dibalas anggukan mengerti oleh yeoja itu.

“ Bisakah kau sebentar saja menungguku di dalam mobilku ? “ pinta Minho.

Seperti memahami apa yang terjadi Jiyeonpun meninggalkan keduanya.

Minho masuk kedalam lift dan berdiri menatap Myungsoo “ Aku mohon kau mematuhi janji yang sudah kita buat, meski aku bukanlah yang pertama menemukannya, tapi aku harap kau menghormati perasaan Sulli, ia wanita yang baik dan tidak pantas untuk kau sakiti, meski aku tidak tahu bagaimana perasaan Jiyeon, namun aku tidak ingin melihatnya kembali menangis karena mu “ Minho meletakkan tangannya dibahu Myungsoo.

“ Aku akan berusaha sekuat tenaga untuk menepati janjiku, ku mohon kau berusaha lah untuk mendapatkan hatinya, dengan begitu aku akan benar-benar menyerah “ ucap Myungsoo lirih.

“ Benar kau akan memutuskan pulang besok ? mengapa kau merubah jadwalmu ? “ tanya Nana yang sedang membantu Suzy memasukkan semua barang-barang yang akan Suzy bawa besok.

Suzy menghentikan gerakan bibirnya yang sedang membaca satu-persatu daftar barang yang wajib ia bawa “ Rumah mode di Korea memintaku untuk datang lebih awal dari hari kerja resmiku, lagipula bukan hanya itu…..aku tidak sabar kembali melihat Korea eomma, apa kau tidak merindukannya ? “ tanya Suzy seraya mengikat rambutnya hitam panjangnya lebih tinggi agar tidak terganggu.

Wajah Nana berubah menjadi sedih, tentu saja ia sangat merindukan tanah kelahirannya, namun ada sesuatu yang ia khawatirkan “ Apa kau sudah mendapatkan kabar tentang Yeonnie ? “ tanya Nana.

Suzy mengalihkan tatapannya ke arah eommanya dan menghela nafas pelan “ Ahniya, tapi tenang saja eomma Jiyeon pasti bisa kita ketemukan “ ucap Suzy seraya mengelus punggung tangan Nana.

Nana mengangguk mengamini perkataan Suzy “ Bagaimana rupamu sekarang eoh ? “ lirih Nana.

Suzy meraih tubuh eommanya dan membawanya dalam dekapan eratnya “ Jiyeon pasti tumbuh menjadi gadis yang cantik dan sukses, ia anak yang baik Tuhan tidak mungkin membiarkannya sendirian dan kesusahan eomma “ Suzy terus menghibur eommanya.

Nana perlahan melepaskan pelukan Suzy dan meraih buku kecil di atas ranjang “ Kau lupa memasukkan ini, meski pintar namun kau tidak bisa menghilangkan kecerobohanmu “ ucap Nana mencubit lembut hidup Suzy.

“ Ha…ha..ha, gomawo “ ucap Suzy seraya mencium pipi eommanya.

Sulli bergegas membuka pintu ketika suara bel berbunyi “ Ini sudah malam, aku tidak memanggil pelayan hotel “ ucap Sulli.

Ia melihat tamunya dari kamera pintu yang tersedia “ Myungsoo ? “ Sulli terkejut namun ia segera membuka pintunya.

Perasaan Myungsoo benar-benar gamang setelah ia mengucapkan kalimat dukungan untuk Minho mendapatkan Jiyeon, kini ia kembali kepada Sulli dan benar-benar akan merelakan semuanya.

Ia akan memulai untuk benar-benar menerima Sulli sebagai pendamping hidupnya kelak, dan melupakan Jiyeon yang teramat sangat ia cintai.

“ Ada apa kau kembali ? “ tanya Sulli

“ Changkaman “ ucap Jiyeon ketika Minho akan melajukan mobilnya mengantarnya.

“ Wae ? “ tanya Minho menatap wajah Jiyeon yang terlihat kosong menatap kedepan.

Entah apa yang mengganggu perasaannya, Jiyeon merasa ia akan menangis, ia sungguh tidak nyaman dengan perasaannya “ Minho-ah ada barangku yang tertinggal diatas, aku harus kembali “ ucap Jiyeon berusaha membuka knop pintu disampingnya.

“ Biar aku antar “ ucap Minho.

“ Aku tidak apa-apa, hanya sebentar, ku mohon tunggu aku hanya sebentar…aku akan kembali “ ucap Jiyeon dan tanpa menunggu reaksi Minho ia turun dari dalam mobil Minho.

“ Mari kita memulainya dari awal, aku akan berusaha mencintaimu…bantu aku untuk hanya menatap kearahmu, tidak peduli apapun yang kelak akan terjadi, pegang erat tanganku dan jangan biarkan orang lain merebutku darimu “ ucap Myungsoo dengan nafas memburu.

Sulli hanya menatap Myungsoo heran, sejak pulang ke korea Myungsoo memang terlihat aneh dimatanya, namun tentu saja Myungsoo tidak akan bercerita mengenai apapun padanya, Sulli mengangkat tangannya dan engarahkan pada pipi Myungsoo, disentuhnya lembut pipi kekasihnya yang tiba-tiba basah oleh air mata.

“ K-kkau menangis ? “ tanya Sulli.

Tidak menjawab pertanyaan Sulli, Myungsoo justru meraih wajah Sulli dengan kedua tangannya dan mendaratkan bibirnya diatas bibir Sulli,

Sulli terkesiap …bibir Myungsoo begitu cepat menyambar bibirnya, bahkan ciuman Myungsoo teramat dalam hingga ia kesulitan bernafas. Sulli perlahan memejamkan matanya dan mengalungkan kedua tangannya dileher Myungsoo, mencoba menikmati ciuman pertamanya sejak mereka menjadi sepasang kekasih. Tidak dipungkiri meski banyak pertanyaan yang ada dikepalanya, namun ia tetap merasa bahagia.

Myungsoo perlahan melepaskan tautan bibirnya, nafasnya memburu, sama halnya dengan Sulli yeoja dihadapannyapun membuka matanya, seketika Sulli menjadi kikuk.

Jiyeon bersandar lemah dibalik dinding, berusaha membekap mulutnya yang terlalu terkejut melihat pemandangan yang entah mengapa terasa sesak ia rasakan kini, ia benar-benar ingin menangis meski ia tidak tahu mengapa ia ingin menangis. Oppanya mencium Sulli, yang bahkan wanita itu adalah kekasihnya jadi itu bukanlah alasan mengapa ia ingin menangis.

“ Tidak peduli alasanmu, kumohon kau jangan lagi menghilang, jika hidupmu begitu sulit untuk engkau hadapi, kau hanya cukup menemuiku, aku tidak akan pernah membiarkanmu mengeluarkan air mata eoh “

Jiyeon berusaha melepaskan punggungnya dari sandaran dinding, namun akhirnya ia kembali tersandar karena kakinya terlalu lemah untuk ia ajak berjalan, Jiyeon menekan dadanya agar rasa sakit yang ia rasakan sedikit berkurang.

“ Minho, bisakah kau datang dan membawaku pergi dari sini, aku benar-benar tidak mampu melangkah “ ucap Jiyeon parau.

TBC

Entahlah kemana arahnya ini ff, tapi mohon komentarnya yah, biar author tetap semangat menyelesaikan ff ini, jujur author mulai jenuh sama ff ini, pengen cepet2 selesai…huffttt

Untuk yang cuma komen 1 part atau beberapa part dan tiba-tiba menghilang, mudah2an di part ini sampe akhir tetep komen, biar author ga pake PW untuk chapter END nya …gomawo.

288 responses to “[ CHAPTER – PART 15 ] RAINBOW AFTER THE RAIN

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s