(CHAPTER – 3) MY BOOK

MY BOOK1

[part 1] [part 2] [part 3] [part 4] [part 5]

Author: kimleehye19

Main Cast: Park Jiyeon, Kim Myungsoo, Choi Minho, Bae Suzy

Other Cast: Luna, Lee Jieun, Park chanyeol

Genre: Romance, School life, fantasy

Rating: PG-17

Annyeong…..

Part 3 hadir untuk kalian semua. Semoga kalian suka, ne…

Happy reading… ^_^

Myungsoo bingung menjawab pertanyaan Jiyeon. “Ajik. Mungkin kali ini aku akan mengalaminya.” Myungsoo melihat reaksi Jiyeon yang tengah mengerutkan keningnya. “aku belum pernah jatuh cinta. Banyak orang yang jatuh cinta pada orang yang salah. Maka dari itu, aku memilih untuk tidak mudah jatuh cinta. Aku mengurung hatiku sendiri untuk menghindari hal itu.”

“Apa maksudmu mengatakan banyak orang jatuh cinta pada orang yang salah?” Jiyeon menatap Myungsoo yang berdiri di depannya dengan tatapan serius. Baru kali ini Jiyeon melihat ekspresi wajah Myungsoo seserius ini.

Myungsoo mendesah pelan. “Kebanyakan orang akan mudah jatuh cinta. Sekali bertemu bisa saja mereka jatuh cinta. Tapi menurutku itu bukanlah cinta. Perasaan itu hanyalah obsesi sesaat karena rasa kagum atau rasa ingin memiliki tanpa mencintai dengan ketulusan hati. Menurutku jatuh cinta pada orang yang tepat akan terasa indah, namun jatuh cinta pada orang yang salah hanya akan menyakiti hati sendiri. Maka dari itu, aku menjaga hatiku selama ratusan tahun untuk menghindari hal itu. Jika aku…”

“Mwo?” tanya Jiyeon penasaran.

“Jika aku jatuh cinta pada orang yang salah maka aku akan benar-benar lenyap dari dunia. Karena hal itu merupakan bagian dari kutukan para dewa.” Myungsoo menundukkan kepalanya.

“Lenyap dari dunia? Apa itu artinya kau akan hilang selama-lamanya?” tanya Jiyeon yang tanpa disadari, tangannya mencengkeram jaket Myungsoo. Myungsoo mengangguk pelan.

“Jika kau suatu saat kau mengalami jatuh cinta pada orang yang salah, jika itu menyakitimu maka jangan diteruskan.”

Jiyeon terdiam. “Myung…” Jiyeon kaget Myungsoo sudah tidak ada di depannya. Dilihatnya cengkeraman tangannya di jaket Myungsoo, kosong. Jiyeon panik. Dia mengelilingi atap sekolah itu dengan seksama, mencari sosok Myungsoo. “Kim Myungsoo… Myungsoo-a…” Jiyeon melihat ke bawah gedung, opseo. Tiba-tiba Jiyeon kepikiran tentang kemunculan Myungsoo saat menolongnya. Mungkinkah dewa menghukumnya lagi? Apakah dia akan lenyap? Jiyeon membatin dengan perasaan cemas. Buku itu, ya dia harus segera melihat buku itu. Jika gambar Myungsoo masih ada di buku itu, berarti Myungsoo masih aman. Berarti Myungsoo masih di sini.

Jiyeon melepas high heel-nya lalu berlari menuruni tangga tiga lantai itu dengan nafas yang memburu. Pikirannya hanya tertuju pada buku yang dia simpan di apartemennya.

Jiyeon harus segera sampai di apartemen. Kim Myungsoo, dia tidak boleh pergi kemana-mana. Langkahnya semakin cepat meninggalkan gedung sekolah yang megah, suara Jieun dan Luna yang memanggil-manggil namanya tak ia pedulikan, Jiyeon harus sampai di apartemen. Akan ia pastikan Myungsoo masih ada di sana.

Jiyeon sampai di halte dan langsung mendapatkan bus yang membawanya ke apartemen. Saat turun dari bus, kakinya terkilir sehingga dia terpaksa berlari dengan tertatih-tatih.

Brukk!!

Tas dan sepatunya dilempar begitu saja di dekat pintu. Segera diraihnya buku Myungsoo. Dengan perasaan tak karuan, jantung berdegub kencang dan nafas terengah-engah, Jiyeon membuka buku itu.

Deg!

Opseo… gambar Myungsoo sudah tidak ada di buku itu. Jiyeon terduduk lemas. Airmata yang tadinya hanya sebulir dua bulir kini semakin deras mengalir dari sudut matanya. “Myungsoo-a…” lirihnya. Jiyeon semakin larut dalam tangisnya. Tiba-tiba Jieun masuk ke apartemennya. Jieun memang tahu kode kunci apartemen Jiyeon.

“Ji, Jiyeon-a, wae gurae?” tanya Jieun yang segera meraih tubuh Jiyeon. Jiyeon malah menangis semakin dalam.

“Ini salahku, ini salahku.”

“Wae gurae?” Jieun masih bingung kenapa Jiyeon menangis sedalam itu. Akhirnya malam itu juga Jiyeon menceritakan perihal buku dari saat dia menemukannya di perpustakaan hingga kejadian di pesta tadi. Jieun merasa haru dan tersentuh. “Tenanglah, aku yakin dia pasti kembali.”

“Kim Myungsoo, neo eodiseo?” lirihnya di sela-sela isak tangisnya.

Kini Jiyeon menjalani hari-harinya tanpa Myungsoo. Namja yang sudah menemaninya setiap hari, kini tidak ada lagi. Di sekolah maupun saat bekerja, Jiyeon terlihat murung dan kurang semangat. Padahal biasanya dia sangat bersemangat melakukan apapun. Dia adalah yeoja yang selalu ceria. Luna dan Jieun cemas memikirkan kondisi sahabatnya itu. Kenapa takdirnya berubah begini…

Jiyeon sedang mengerjakan soal matematika agar nanti saat dia lelah sepulang bekerja, tugasnya tidak terbengkalai. Tugasnya dikerjakan di sekolah, saat jam istirahat.

Brakk!!

Suara gebrakan meja mengagetkan yeoja berambut panjang yang tengah disibukkan dengan angka-angka dalam soal matematiknya.

“Kembalikan buku itu!” seru seorang yeoja yang dikenal sebagai yeojachingu Minho. Minho pun dibuat kaget oleh yeojachingunya itu.

Merasa dirinya sedang dalam proses dipermalukan di depan teman-temannya, Jiyeon bangkit dari bangkunya, menatap tajam pada yeoja yang sudah berani kurang ajar padanya. “Aku pikir kau masih punya sopan santun meskipun tindakanmu brutal. Tapi ternyata aku salah. Kau lebih brutal dari binatang buas.” Jiyeon menahan marahnya yang akan meledak. Dadanya terasa panas, kenapa yeoja bernama Suzy itu muncul dengan menggebrak mejanya.

“Kembalikan buku itu! Kau mencurinya dariku.” Suzy membalas tatapan tajam dari Jiyeon.

Tangan Jiyeon sudah mengepal ingin menghajar yeoja kurang ajar itu. “Jika kau ingin mencari malasah denganku, carilah alasan yang jelas. Buku apa? Apa aku pernah bicara denganmu? Apa aku pernah menemuimu? Mengikutimu ke manapun kau pergi? Apa kau dan aku saling kenal? Jawabannya adalah ANHI. Aku tak pernah melakukan itu. Bahkan aku tidak ingin kenal dengan yeoja sepertimu.”

“Aku beri kau waktu 2 hari. Dalam waktu itu kau harus mengembalikan buku itu.” Suzy menahan emosinya karena di sana masih ada Minho yang belum keluar kelas.

“Buku apa?” Jiyeon masih belum mengerti. Sesaat kemudian dia sadar bahwa buku yang dimaksud Suzy adalah buku Myungsoo. Apa mungkin Suzy adalah pemilik buku itu sebelumnya? Jiyeon masih belum tahu.

Minho segera menyusul Suzy dan memarahi yeojachingunya karena bertindak diluar kendali apalagi tidak sopan di kelas sunbaenya.

Suasana kelas menjadi ramai, banyak yang bingung kenapa Suzy mendatangi Jiyeon dan meminta sebuah buku. Jiyeon menutup kasar buku matematikanya kemudia dia keluar kelas menuju atap sekolah. Seperti biasa, Jiyeon menenangkan diri di sana. Hati dan pikirannya benar-benar kacau. Myungsoo, sosok yang selalu berada di sisi Jiyeon, kini entah dimana dia berada. Jiyeon merasa sangat terpukul atas kepergian Myungsoo tanpa penjelasan. Ditambah kejadian yang baru saja membuat emosinya meluap. Jiyeon ingin berteriak sekeras-kerasnya namun apalah daya, hanya airmata yang membasahi pipi mulusnya. “Myungsoo, Kim Myungsoo…” Dia merindukan Myungsoo.

Keesokan harinya, Jiyeon berangkat ke sekolah dengan berjalan gontai. Pikirannya kemana-mana hingga tanpa sadar ia menabrak Minho di depan pintu kelas. “Ah, mian,” ucapnya lirih dengan ekspresi sedihnya. Luna dan Jieun semakin cemas melihat Jiyeon seperti mayat hidup.

“Apa ini karena namja bernama Kim Myungsoo itu?” tanya Luna pada Jieun yang terus memperhatikan Jiyeon di sebelahnya.

“Aku rasa masih ada masalah lain,” jawab Jieun. “Tidak biasanya dia seperti ini.”

Tak berapa lama kemudian, Jiyeon tiba-tiba mengangkat kepalanya dan mengeluarkan buku catatannya. Dia menulis sesuatu. Setelah itu ekspresi sedihnya hilang seketika. Luna dan Jieun bingung dengan perubahan Jiyeon yang tak terduga. Jiyeon keluar kelas, berjalan ke arah papan mading yang terletak di lantai satu, lebih tepatnya di sebelah kelas Suzy. Di sana dia melihat Suzy dan Minho sedang membaca mading bersama. Dengan ekspresi yang sulit ditebak, Jiyeon menarik tangan Suzy, membuat yeoja itu menyingkir, menjauh dari Minho. Jiyeon mendekatkan wajahnya ke wajah Minho hingga tidak ada jarak diantara mereka. Semua orang terkejut atas sikap Jiyeon itu. Jiyeon mencium Minho di depan umum bahkan di depan Suzy. Setelah itu, Jiyeon membalikkan badan dan berjalan menuju atap sekolahnya.

Jieun yang ikut menyaksikan kejadian tadi benar-benar tidak percaya, seornag Park Jiyeon nekad berbuat seperti itu. Jieun memutuskan menyusul Jiyeon ke atap sekolah.

Jiyeon dan Jieun terdiam. Akhirnya Jieun membuka suara,”Kenapa kau melakukan itu? Apa kau tidak sadar bahwa tindakanmu itu bisa menjatuhkan namamu sendiri?” Jieun memegang lengan kiri Jiyeon.

Jiyeon masih diam. Tatapannya menerawang ke langit. Dia berpikir jika Myungsoo ada di langit, dia dapat melihatnya. Jiyeon menarik nafas dalam-dalam. Senyum terukir di bibirnya, hal itu malah membuat Jieun semakin heran. “Apa aku terlihat menciumnya?”

“Apa maksudmu?”

Flashback.

Jiyeon berjalan lurus ke depan. Di sana ada Minho dan Suzy sedang asyik membaca mading bersama-sama. Tiba-tiba Jiyeon menarik lengan Suzy yang menyebabkan yeoja itu menjauh dari Minho kemudian Jiyeon mendekatkan wajahnya ke wajah Minho. Jiyeon membuatnya seolah-olah dia mencium Minho. Dengan menutup mata seolah sedang berciuman, Jiyeon berkata,”Mian. Aku hanya ingin kau memperingati yeojamu itu untuk menjaga ucapan dan tindakannya sebelum ku patahkan semua tulangnya.” Setelah itu Jiyeon meninggalkan Minho dan komentar-komentar negatif yang langsung menusuk telinganya. Tanpa peduli, Jiyeon tetap berjalan menuju atap sekolah.

Flashback end.

Jiyeon telah menceritakan yang sebenarnya pada Jieun. Dia tidak mungkin menyerahkan first kiss-nya pada namja yang masih menjadi milik yeoja lain. Jieun mendesah pelan, syukurlah.

“Tapi apa alasanmu melakukan itu?” tanya Jieun.

Jiyeon kembali menceritakan kejadian malam sebelumnya.

Flashback.

Setiap pulang kerja, Jiyeon merasa amat lelah. Sehingga dia cepat-cepat pulang ke apartemen untuk segera beristirahat. Setelah pintu dibuka dan lampu dinyalakan, betapa terkejutnya Jiyeon. Apartemennya berantakan. Semua barangnya bertebaran dimana-mana, lemarinya terbuka, baju-bajunya di luar, begitupun baju-baju Myungsoo. Kamarnya sungguh tak bisa disebut kamar lagi. Di meja dapur, dia menemukan pesan bahwa buku itu harus segera ia kembalikan ke Suzy. Sudah pasti iini perbuatan Suzy. Jiyeon geram, kertas pesan tadi disobek kecil-kecil. Kali ini Jiyeon harus berhasil membalas perbuatan Suzy yang sudah di luar batas.

Flashback end.

Sepulang sekolah, Jiyeon bersiap untuk berangkat kerja. Setelah berganti pakaian, Jiyeon melangkahkan kaki menuju halte bus. Tiba-tiba ponselnya berdering. Tumben oppanya menghubungi Jiyeon jam segitu.

“Eoh, Channyeol oppa, wae?”

“Jiyeon-a, aku sedang ada di Seoul. Aku jemput kau sekarang.”

“Op, oppa, wae gurae?” tanya Jiyeon pada Chanyeol yang sebentar lagi datang menjemputnya.

“Kita harus segera pulang. Appa.. appa meninggal, Jiyeon-a.”

Bagai disambar petir beribu-ribu kali, bagai ditimpa beratus-ratus pohon, Jiyeon tak sanggup lagi berdiri. Ia terduduk di tepi jalan. Kali ini cobaan apa lagi? Kenapa cobaan datang bertubi-tubi? Jiyeon rapuh, terpuruk, tak ada kata-kata yang dapat melukiskan perasaannya saat ini. Nafasnya tersengal-sengal karena hatinya terlalu sakit, tangisnya terlalu dalam. Appa dan Myungsoo tiada. Setelah meratapi kepergian Myungsoo, kini Jiyeon kembali meratapi seseorang. Appa-nya yang menjadi motivasi Jiyeon, yang selalu menjadi teladan bagi Jiyeon, yang amat disayangi Jiyeon lebih dari apapun, appa yang selalu membesarkan hatinya di kala dia sedang terpuruk, kini appa-nya sudah meninggal.

Jiyeon pov.

Kenapa Tuhan membuat takdirku serumit ini? Apa salah dan dosaku? Kenapa kau mengambil Myungsoo dan appa? Kembalikan mereka, Tuhan. Kembalikan mereka padaku. Hidupku sangat berat, terasa semakin berat.

Kini aku sudah berada di rumah, jenazah appa belum dikremasi. Airmataku tak henti-hentinya mengalir. Hatiku, entah seperti apa hatiku saat ini. Apakah aku masih mempunyai hati? Apakah hatiku yang hancur masih bisa disatukan? Aku menatap eomma, hatiku semakin hancur melihat eomma yang juga tak berhenti menangisi kepergian appa. Appa adalah segalanya bagi keluarga kami.

“Jiyeon-a, terimalah ini uang asuransi appamu. Gunakan untuk memenuhi kebutuhanmu dan biaya sekolahmu.” Eomma menyodorkan sejumlah uang kepadaku. Aku semakin terisak, tanganku bergetar menerima uang itu.

Perusahaan appa kini dijalankan oleh Chanyeol oppa. Sebenarnya aku pun diminta turut menjalankan perusahaan itu. Tapi aku masih sekolah, jadi aku izinkan oppa mengambil alih perusahaan itu.

Hari ini jenazah appa sudah dikremasi. Akupun bersiap untuk kembali ke Seoul. Luna dan Jieun mengkhawatirkanku karena sudah beberapa hari tidak masuk sekolah. Akupun memberikan penjelasan kepada mereka. Perjalanan ke Seoul ku tempuh dengan naik bus. Aku tidak mau diantar oleh oppa. Karena sekarang oppa akan sangat sibuk mengurus perusahaan.

Jiyeon pov end.

Sementara itu, Myungsoo yang diangkat dewa ke khayangan sedang menyaksikan kesedihan yang dialami Jiyeon. Hatinya begitu sakit melihat yeoja itu tak berhenti menangis. Kenapa takdir mempermainkan mereka? Myungsoo kesal, di saat Jiyeon sangat membutuhkan kehadirannya, dia malah kembali ke khayangan untuk menerima konsekuensi dari perbuatannya. Dewa memberikan dua opsi pada Myungsoo. Pertama, Myungsoo harus mencintai dan mendapatkan cinta dari sang pemilik buku. Kedua, Myungsoo harus dapat mematuhi segala aturan yang dibuat para dewa untuknya sebelum buku itu berpindah tangan. Jika dia gagal setelah menentukan opsi yang diajukan padanya maka Myungsoo akan lenyap selamanya tidak mati dan tidak bereinkarnasi. Bahkan arwah lebih terhormat daripada dia.

..

Jiyeon kembali ke Seoul. Perasaannya sedikit tenang karena dia yakin appanya akan mengawasinya dari langit. Oleh karena itu, Jiyeon harus kembali ke kehidupannya yang dulu, yang penuh semangat dan keceriaan. Dia mendengar ponselnya berdering. Pesan dari Minho.

From: C. M

Jiyeon-a, apa kau sudah kembali ke Seoul? Aku turut berduka tas meninggalnya appamu. Jika kau sudah kembali, mari bertemu. Aku ingin mentraktirmu. Kau tenang saja, kali ini Suzy tidak akan ikut campur. Katanya dia sedang makan malam bersama keluarganya

To: C. M.

Ne, dimana? Aku akan langsung ke sana.

Jiyeon berpikir sejenak. Apa Minho dapat dipercaya. Jika dia bertemu lagi dengan Suzy, apa yang akan terjadi? Dia memilih menemui Minho dulu baru kembali ke apartemen.

Jiyeon melangkahkan kaki dengan santai, menaiki tangga panjang untuk sampai di lokasi dimana Minho sedang menunggunya. Dari kejauhan, Jiyeon melihat Minho sedang duduk di sebuah bangku, menunggunya. Ketika jaraknya mereka semakin dekat, Suzy muncul. Awalnya dia mengetahui keberadaan Jiyeon di sana, oleh karena itu Suzy muncul lebih dulu kemudian mengecup mesra bibir Minho dan memeluknya.

Tak disangka Suzy membalas sakit hatinya. Airmata Jiyeon berdesakkan ingin keluar. Di saat dia ingin melupakan Minho, yeoja itu malah memancing emosi dan membuat hatinya berkecamuk lagi. Dia menyaksikan adegan mesra mereka. Tiba-tiba seseorang menarik lengannya sehingga Jiyeon membelakangi Minho dan Suzy. Airmata yang membasahi pipi telah diusap lembut oleh orang itu. Jiyeon mendongakkan kepalanya.

Deg! Jantungnya serasa berhenti berdetak. “Kim Myungsoo…” gumamnya.

“Sudah kubilang, jika terasa sakit, jangan diteruskan!” Lalu keduanya berpelukan erat. Jiyeon melingkarkan tangannya di lehar Myungsoo. Sedangkan Myungsoo melingkarkan tangannya di pinggang ramping Jiyeon. Tangis Jiyeon berubah menjadi tangis bahagia.

Sementara itu, Suzy yang melihat kedatangan Myungsoo yang memeluk Jiyeon, memamerkan ekspresi kesal karena usahanya untuk membuat Jiyeon sakit hati malah tidak berhasil. Myungsoo pun melihat tatapan mata Suzy.

Jiyeon dan Myungsoo kembali ke apartemen. Myungsoo kaget melihat apartemen Jiyeon yang sangat berantakan. Jiyeonpun menceritakan perihal Suzy yang ingin merebut buku itu darinya. Untung saat berangkat sekolah, sebelum Suzy mengobrak abrik apartemennya, buku itu ia masukkan ke bawah kompor atas usulan Jieun. Alhasil, buku itupun aman karena mereka tidak berpikir bahwa Jiyeon akan menyembunyikan buku itu di bawah kompor.

Myungsoo membantu Jiyeon membereskan barang-barangnya. Saat melihat baju-bajunya, dia teringat saat membeli baju-baju itu bersama Jiyeon. Namun kini pandangannya justru beralih pada Jiyeon yang sedang memandangi foto almarhum appanya. Myungsoo mendekati Jiyeon, mencoba menghiburnya agar yeoja itu tidak menangis lagi. Kemudian Myungsoo pun ikut melihat foto appa Jiyeon.

Deg!

Myungsoo memandang foto itu lebih lama. “Aboji…” lirihnya tapi masih dapat didengar oleh Jiyeon. Tanpa disadari, Myungsoo meneteskan airmatanya. Hal itu semakin membuat Jiyeon bingung. Kenapa Myungsoo meneteskan airmata saat melihat foto appanya.

“Myungsoo-a, waeyo?” tanya Jiyeon.

“Appa, dia adalah appaku.”

Jiyeon terkejut mendengar penjelasan Myungsoo. Tangan kirinya menutup mulutnya yang terbuka. Ia berusaha mengatur nafasnya. Appa adalah appanya Myungsoo. Bagaimana bisa?

“Appamu adalah reinkarnasi dari almarhum appaku. Aku sangat merindukannya.”

Antara percaya dan tidak percaya, ternyata appa Jiyeon adalah reinkarnasi dari appanya Myungsoo. Ada apa ini sebenarnya? Jiyeon dan Myungsoo benar-benar bingung. Apa ada rahasia di balik ini semua.

Akhirnya keduanya meratapi kehilangan appa masing-masing dengan memandangi foto appanya Jiyeon. Mereka duduk di depan lemari, diantara tumpukan baju yang belum dimasukkan ke dalam lemari.

Brakk!!

Tiba-tiba pintu apartemen Jiyeon didobrak oleh seseorang.

Tbc.

Akhirnya selesai juga part ini. Jangan lupa tinggalkan koomentar ya chingu. Gomawo….

57 responses to “(CHAPTER – 3) MY BOOK

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s