(CHAPTER – PART 1) My Book

jiyeon-myungsoo1

my book

[part 1] [part 2] [part 3] [part 4] [part 5]

Author: kimleehye19
Main cast: park jiyeon, kim myungsoo, Choi Minho, bae suzy
Other cast: Luna, Lee Jieun, Park Chanyeol

Genre: Romance, School life, Fantasy

Rating: G

Annyeong… ini FF perdana aku. Waktu mau bikin FF, tiba-tiba dapat wangsit. Langsung deh buka lepi, ngetik2 and jadilah Part 1 ini. Jika ada typo, mian yaa.. hehe… Jangan lupa komennya aku tunggu banget lho. Your Comment is My Motivation. Kalo ada yang mau ngasih saran, boleh banget. Aku suka.

Happy Reading ^_^

Jiyeon pov
Kriiiiiiiiing…. Aaaakh berisik sekali! Aigoo, aku tidur baru sebentar, kenapa si alarm sudah berdering…
Nasibku selalu begini. Aku harus bangun pagi-pagi buta karen ada satu misi yang harus ku selesaikan. Segera saja ku langkahkan kaki ini menuju kamar mandi yang terletak tepat di samping kamarku. Di dalam kamarku memang tidak ada kamar mandi. Hidupku ini sederhana. Hanya ada aku seorang di apartemen ini.

Setelah mandi, berpakaian rapi, memoles wajah minimalis, menyiapkan ramen, sarapan, berangkat. Omo! Ada yang lupa. Si Befa belum aku kasih makan. Aish! Befa enak sekali jam segini kau masih tidur-tiduran. Igeo, makananmu sudah kusiapkan. Jaga diri baik-baik, ne… Aku berangkat dulu Befa. Annyeong….
Kucingku tidak mengeong, bahkan melirik aku pun tidak.

Pagi-pagi begini hanya akulah pelajar yang berada di bus umum. Kota Seoul masih terlihat sepi. Bahkan embun masih menetes dan kabut masih tebal hingga menghalangi pandangan. Setelah 30 menit perjalanan, akhirnya aku sampai di sekolah. Gedung bertingkat megah ini masih diselimuti kabut. Tapi pintu gerbangnya sudah terbuka. Para cleaning service nya memang sangat rajin. Kapan mereka berangkat ya?

Tanpa babibu, aku langsung berlari ke arah perpustakaan yang terletak di lantai 2, sebelah barat. Lagi-lagi hanya aku yang sudah datang. Tujuanku berangkat terlalu pagi begini memang ingin ke perpustakaan. Tugas biologiku belum selesai. Aku memerlukan beberapa referenai lagi. Aku memang tidak banyak memiliki buku pelajaran, keuanganku terbatas. Lagipula buku-buku itu kan sudah disediakan di perpustakaan.

Wah, perpustakaan sudah dibuka. Kalau jam segini, belum ada penjaganya. Hanya kamera cctv dan komputer yang mengawasiku. AC ruangan ini belum seberapa dingin. Aku mencari rak biologi yang tak kunjung ketemu. Sebenarnya dimana rak biologi? Bukankah harusnya di sini? Kenapa tidak ada? Aneh…

Bruuukk!!

Mwonde? Jantungku seakan mau lompat dari tempatnya. Tiba-tiba terdengar suara buku jatuh. Tapi siapa yang menjatuhkannya? Kan hanya ada aku di perpustakaan ini? Bulu kudukku merinding. Mungkinkah ada hantu di sini?
Buku yang jatuh itu ternyata tidak jauh dari tempatku berdiri. Kuhampiri buku yang jatuh tadi. Kuambil, kuamati sampulnya. Sepertinya buku ini bukan milik perpustakaan, juga tidak ada nama pemiliknya. Lalu ini milik siapa? Ah, aku ambil saja. Kelihatannya buku ini menarik untuk dibaca.

Akhirnya tugasku selesai. 5 menit lagi bel masuk berbunyi. Aku harus segera ke kelas. Nanti malah terlambat masuk kelas kan bahaya. Hwang songsaenim akan mengeluarkan tanduk terpanjangnya. Membayangkan saja sudah mengerikan.

Jiyeon pov end

“Yaak, Jiyeon-a, hari ini kau ada acara apa tidak?” tanya Luna, teman baikku sekaligus teman sekelas Jiyeon.
“Wae?” tanya Jiyeon sambil memandangi sampul buku yang terjatuh di perpustakaan tadi.
“Hari ini aku ingin mengajakmu dan Jieun nonton di bioskop. Otte?” tawar Luna yang selalu ceria.
“Ah, mian, Luna-ya. Hari ini aku ada kerja part-time sepulang sekolah. Aku sedang ada misi untuk mengumpulkan uang. Makanya aku harus kerja lebih rajin.”
“Yaak, misimu terlalu banyak. Oh ya, buku apa yang kau pegang itu? Aku baru lihat…” Luna mengambil buku itu dari tangan Jiyeon.
“Molla. Aku menemukannya di perpustakaan. Tapi ini bukan milik perpustakaan. Di dalamnya juga tidak ada nama pemiliknya. Karena terlihat bagus, ya aku bawa saja. Lumayan untuk mengisi waktu luang.”
“Aish, yeoja ini. Bukankah waktu luangmu sudah kau gunakan untuk bekerja? Lagipula apa kau tidak capek melakukan kegiatan terus menerus?”
“Yaak, aku juga punya hari libur, ara? Setiap hari minggu aku libur total. Yang namanya hari minggu kan memang harus digunakan untuk beristirahat. Besok kan hari minggu. Jadi akan kugunakan waktu istirahatku besok untuk membaca buku unik ini.” Jiyeon mengambil buku itu kembali dari tangan Luna.

“Yaak, Jiyeon-a. Kau lihat itu?”
“Igeo mwoya? Bicara yang jelas, pabo!”
“Kau lihat Bae Suzy? Igeo…” Luna menunjuk ke arah pohon cemara yang di bawahnya ada seorang yeoja sedang terlihat bingung.
“Eoh, aku melihatnya. Kau tertarik sekali pada yeoja itu. Waeyo?” tanya Jiyeon.
“Bukankah kemarin dia sangat ceria, pintar, cantik, pokoknya perfect. Tapi sekarang kenapa di terlihat menyedihkan begitu? Dandanannya juga acak-acakan.”
“Ya mana aku tahu. Jika kau ingin tahu, tanyakan sendiri padanya. Sudahlah, Hwang songsaenim sudah di belakang kita.”

“Anak-anak, hari ini kalian akan mendapat teman baru. Sebenarnya dia akan ditempatkan di kelas 2B, tapi karena Naeun dari kelas ini baru pindah kemarin, jadi dia dipindah ke sini,” jelas Hwang saem.

Semua mata tertuju ke arah pintu masuk kelas 2A itu, termasuk Jiyeon dan Luna. Seorang namja berambut coklat terang dengan ekspresi cute dan cool, memasuki ruang kelas tanpa seulas senyum di bibirnya. Tak lama kemudian namja itu mengenalkan diri.
“Annyeong, joneun Choi Minho imnida. Aku pindahan dari Daehan. Salam kenal.” Minho mengenalkan diri kemudian duduk di bangku paling belakang, tepatnya di samping kanan Jiyeon.
“Yaak, kau lihat? Dia sangat tampan,” ucap Luna kagum dengan paras yang dimiliki oleh namja bernama Choi Minho itu.
Dengan setengah berbisik dan mencondongkan badannya ke kiri, Jiyeon berkata,”Aku tahu dia sangat tampan. Tapi aku tidak perlu seheboh dirimu.” Kata-kata Jiyeon membuat Luna mempoutkan bibirnya.

Sepulang sekolah, Jiyeon beristirahat di atap sekolah, tempat paling nyaman untuk tidur atau sekedar menenangkan pikiran.

Kini yeoja berambut panjang itu tengah menikmati waktu istirahatnya sembari menunggu jam masuk kerja. Jiyeon adalah tipe yeoja pekerja keras. Di usianya yang tergolong masih sangat muda, dia telah menjalani profesi apa saja yang termasuk kerja part-time. Semangatnya untuk hidup mandiri sangat kuat. Bukan karena orangtuanya kurang mampu. Tapi karena dia sendiri yang menginginkan hidup mandiri. Meskipun kerja part-time dimana-mana, Jiyeon tetap tidak melupakan tugas-tugas sekolahnya. Dia sudah berjanji pada appa dan eomma-nya bahwa pendidikan akan diutamakan di atas segalanya.

Jiyeon mulai membaca buku yang ia temukan di perpustakaan. Rupanya buku itu berisi sejarah kerajaan Dinasti Ming dari China. Jiyeon semakin bosan membaca buku itu. Buku itu lebih mirip dengan buku dongeng yang menceritakan seorang namja yang mendapat hukuman karena telah melukai gadis khayangan yang mencintainya. Peristiwa itu terjadi saat pemerintahan Dinasti Ming.
“Ah, ternyata hanya seperti itu. Dinasti Ming hanya sebagai cameo. Lagipula aku tidak suka sejarah. Jadi tidak perlu kulanjutkan. Lebih baik aku segera meluncur ke toko kue.”
Jiyeon beranjak dari tempat istirahatnya kemudian berjalan kaki sekitar 2km untuk sampai di toko kue. Berjalan kaki sejauh itu bagi Jiyeon bukanlah hal yang melelahkan. Sungguh, yeoja itu seperti besi yang tahan banting.

“Annyeong, silahkan menikmati…”

“Ahjussi ingin pesan kue apa?”

“Ah, araseo. Aku akan segera membungkusnya.”

“Gamsahamnida…”

Jiyeon baru saja selesai melayani tamu-tamu yang datang ke toko kue. Dengan begitu, berakhir juga pekerjaannya hari ini. Dulu selama 1 bulan menjadi karyawan tidak tetap, akhirnya kini Jiyeon menjadi karyawan tetap di toko kue itu. Hatinya sngat gembira.

Di perjalanan pulang naik bus, Jiyeon tertidur. Hari ini dia benar-benar lelah. Rasanya ingin segera sampai di apartemen lalu menikmati mimpinya. Jiyeon berharap kali ini dia bertemu dengan seorang namja tampan. Bahkan lebih tampan dari Choi Minho.

Sesampainya di apartemen yang tidak terlalu luas, Jiyeon segera ganti baju lalu merebahkan diri di kasur tipisnya. Tak berapa lama kemudian dia terlelap dalam tidurnya.

Kriiiiiiing!!!
“Aigoo, aku lupa tidak mengganti jam alarmnya. Hari ini kan hari minggu. Kau diamlah alarm. Aku berhak menikmati tidurku sampai jam berapapun,” gumam Jiyeon yang baru saja mematikan alarmnya.

Jam 9 pagi.
Jiyeon tidur dengan perasaan tidak tenang. Perutnya sudah protes ingin segera diberikan sarapan. Lapar sekali. Dia harus membuka mata. Tapi matanya terlalu berat untuk bangun. Akhirnya Jiyeon pun memgubah posisi. Kini ia duduk di kasur tipis dan mulai membuka matanya perlahan.

Betapa kagetnya Jiyeon melihat sesosok namja sedang menatap dingin padanya. “Omo! Neo nuguseoyo?” tanyanya dengan terbata-bata karena takut kalau namja itu akan berbuat jahat padanya. Sekarang ini marak kejahatan di mana-mana. Mungkin saja namja itu salah satu pelakunya, pikir Jiyeon.

Tangannya menyingkirkan selimut yang tadi menutupi tubuhnya, lalu berdiri untuk mengamati namja itu dari dekat. Hmmm tampan juga, tapi siapa dia? Jiyeon bertanya-tanya tentang sosok namja di depannya.

Tanpa merasa bersalah karena masuk ke tempat orang lain apalagi apartemen seorang yeoja, namja itu menjawab dingin. “Nan Kim Myungsoo.”

“Kim Myungsoo?” ulang Jiyeon untuk memastikan bahwa dia tidak salah dengar. “Myungsoo-ssi, siapa kau ini? Berani-beraninya kau masuk ke apartemenku. Kau…ke sini lewat mana? Apa kau ingin beruat jahat padaku?” Ditatapnya namja yang berpakaian aneh itu.
Seorang namja yang mengaku namanya Kim Myungsoo memang terlihat aneh, sangat aneh. Namja itu memakai pakaian ksatria tradisional Korea dengan warna perpaduan biru muda, navy dan cream dengan ikat kepala berwana navy. Memang terlihat tampan. Tapi mengingat bahwa sekarang sudah zaman modern, aneh jika melihat seseorang memakai pakaian seperti itu.

“Anhi, tidak ada untungnya aku berbuat jahat padamu,” jawab Myungsoo. Tatapannya sedikit mejauh dari kata ‘dingin’.

“Keurom, kenapa kau bisa ada di sini. Apa kau mengenalku? Aku kan tidak mengenalmu.” Jiyeon mengajukan pertanyaan lagi seperti sedang menginterogasi seseorang.

“Apa aku terlihat mengenalmu?” tanya Myungsoo balik. Jiyeon mengerutkan dahi. “Kau yang membawaku kemari,” lanjutnya.

Ini semakin aneh, batin Jiyeon. Dia tidak merasa telah membawa namja ini ke apartemennya. Tapi kenapa dia bicara seperti itu? “Kapan aku membawamu ke sini? Aku kan tidak mengenalmu.”

Akhirnya Myungsoo menceritakan pada Jiyeon kalau dia berasal dari Dinasti Ming. Ayahnya orang Korea, ibunya orang China. Karena suatu masalah, ayahnya terpaksa membuangnya entah kemana. Namun Myungsoo tetap bersikeras tinggal di China. Hingga suatu saat ayahnya memanggil seorang biksu dan mengatakan kepada biksu itu bahwa Myungsoo akan ia korbankan pada dewa untuk kemakmuran rakyat pada masa dinasti Ming.

Para dewa membawanya ke khayangan. Namun di sana dia berkelakuan buruk hingga para dewa marah. Bahkan dewi kuan in pun marah padanya. Agar Myungsoo jera, akhirnya para dewa mengutuknya menjadi sebuah gambar di buku sejarah Dinasti Ming. Saat peristiwa itu terjadinya, usianya baru 18 tahun. Sampai sekarang pun usianya masih 18 tahun.
Myungsoo tidak mengalami pertambahan usia dan fisiknya juga tidak berubah.
Setelah menceritakan riwayat hidupnya secara singkat, Myungsoo mendesah pelan.
“Keurom, kau, kau berpenampilan seperti ini selama bertahun-tahun?” tanya Jiyeon yang mengamati pakaian Myungsoo dari ujung kepala sampai ujung kaki. “Kenapa ada orangtua yang tega membuang anaknya?” Jiyeon mengerutkan keningnya.
“Eoh,” jawab Myungsoo singkat. “Waeyo?”
“Anhiyo. Lalu bagaimana dengan orangtuamu?” ekspresi wajah Jiyeon berubah serius.
“Mollaseoyo. Sejak saat dewa membawaku, aku tidak tahu kabar appa dan eomma. Bagaimana kehidupan mereka, apakah mereka merindukanku atau tidak.”

Jiyeon memutuskan untuk berbuat baik pada namja aneh yang tiba-tiba datang dari sebuah buku ajaib. Dia merasa kasihan pada Myungsoo. Seandainya dia menjadi Myungsoo, pastilah sudah bunuh diri atau gila. Tapi Myungsoo tetap sabar menjalani takdirnya.

Hari minggu ini Jiyeon menggunakan waktunya untuk jalan-jalan. Awalnya dia ingin membaca buku yang ditemukannya kemarin yang berjudul “Ming Dinasty” tapi diurungkannya niat itu karena dia sudah tahu apa isinya. Myungsoo telah menceritakan semua isinya da Jiyeon. Jiyeon pun heran kenapa bisa ada sejarah seperti itu? Benar-benar aneh. Seperti dalam dongeng anak-anak yang dibacakan appa atau eomma-nya tiap menjelang tidur.

Di pinggir sungai Han, Jiyeon duduk di bangku panjang yang untungnya ditinggalkan sepasang kekasih yang baru saja pergi. Dia mengatur nafasnya, menghela dalam-dalam lalu menghembuskannya. Udara terasa sejuk di sini, batinnya. Kini tatapan matanya tertuju pada sekelompok yeoja seumuran dengannya sedang bercanda, bersenda gurau dan mengambil selca bersama-sama. Ingin sekali Jiyeon bisa seperti mereka.

“Apa yang kau lihat?” tanya Myungsoo yang tiba-tiba duduk.di samping Jiyeon, mengisi bangku yang masih kosong.
“Yaak, kau mengagetkanku saja. Jangan seenaknya muncul begitu saja. Nanti aku kena penyakit jantung.”
“Kenapa dari tadi kau memperhatikan yeoja-yeoja itu?” tanya Myungsoo yang baru saja melepas ikatan kepalanya.
Jiyeon terpana melihat Myungsoo yang tidak memakai ikat kepala. Tampan, tampan sekali.
“Yaak, kenapa kau memandangku seperti itu? Apa ada yang salah denganku?” Myungsoo memperhatikan penampilannya sendiri, memastikan bahwa tidak ada yang aneh dari penampilannya. Hanya saja ia masih mengenakan baju pendekar.
“Anhi… Kau pede sekali. Ah, aku punya ide. Neo ttarawa!” Jiyeon bangkit meninggalkan Myungsoo.yang masih duduk di bangku tadi dengan ekspresi tidak mengerti.
“Hah, yeoja ini aneh. Kenapa harus.dia yang menemukanku?” gumamnya.sedikit kesal.

Jiyeon dan Myungsoo tiba di sebuah toko pakaian. Di sana tersedia banyak sekali macam pakaian. Tanpa aba-aba, Jiyeon menghampiri sederet kaos untuk namja. Ditatapnya Myungsoo yang berjalan di sampingnya kemudian dia sibuk memilih baju yang berjajar rapi.di depannya.
“Ini pasti cocok,” gumamnya. Ia mengambil sebuah kaos namja berwarna putih tulang. Kaosnya tidak mahal tapi kelihatan bagus. “Myungsoo-ssi, kemarilah!” tangan kanannya melambai ke arah Myungsoo.
Myungsoo pun menurut.
“Waah daebak! Kau terlihat keren, Myungsoo-ssi. Kita cari calana untukmu. Ttarawa!” Jiyeon menyerahkan kaos tadi pada pelayan untuk dibawa ke kasir. Kemudian dia melangkah ke deretan celana namja.
Beberapa pasang mata menatapnya aneh karena mereka menganggap Jiyeon gila. ‘Mungkin dia kehilangan namjanya, jadinya begitu. Gila.’
Jiyeon mendengarnya lalu menoleh ke sekelilingnya. Beberapa ahjumma memandangnya aneh. Jiyeon bertanya-tanya, kenapa mereka memandangnya seperti itu? Apa ada yang aneh dengannya atau Myungsoo yang berdiri di belakangnya.

“Kenapa banyak ahjumma yang melihatku seperti melihat hantu?” gumamnya.
“Itu karena mereka tidak bisa melihatku. Jika kau bicara denganku, maka kau terlihat bicara sendiri,” jelas Myungsoo.
“Mwo?” lirih Jiyeon dengan mulut melongo dan kerut di keningnya. “Keurom, bagaimana kau bisa terlihat?”
“Jika kau menyentuhku maka aku akan terlihat.” Myungsoo memegang tangan Jiyeon dengan posisi menunduk agar orang-orang di sana tidak curiga kenapa bisa ada namja yang muncul secara tiba-tiba.

“Apa sekarang kau sudah terlihat?” tanya Jiyeon polos.

Tbc…

Untuk part 1 nya sekian dulu yaa… Gimana? GJ ya? Gak apa-apa kan? Hehe….

Gamsahamnida untuk yang sudah baca FF ku ini. Untuk yang meninggalkan jejak komentar, jongmal gamsahamnida.

Annyeong…

65 responses to “(CHAPTER – PART 1) My Book

  1. Salam kenal,saya riders baru izin baca ff.nya ya
    ceritanya lucu,myungsoo pasti keren pake baju ksatria

  2. wah.. br nemu ff ini. asiik.. seru seru.. idenya ga biasa..
    ini couplenya myungyeon? baguus.. couple fav aku. hehe

  3. wah.. br nemu ff ini. asiik.. seru seru.. idenya ga biasa..
    ini couplenua myungyeon? bagus.. couple fav aku😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s