(CHAPTER – PART 2) MY BOOK

jiyeon-myungsoo1

[part 1] [part 2] [part 3] [part 4] [part 5]

Author: kimleehye19

Main Cast: Park Jiyeon, Kim Myungsoo, Choi Minho, Bae Suzy

Other cast: Lee Jieun, Luna, Park Chanyeol

Genre: Romance, School life, Fantasy

Rating: G

Annyeong yeorobun…

Jreng jreeeeng………

I’m caming back. Kali ini aku bawain yang part 2. Di part 2 ini, peran Chanyeol masih belum ada soalnya masih ngumpet (xixixixi….). This story is mine, bener2 dari pikiran aku yang secara tiba-tiba bisa bikin FF seaneh ini. Gak usah lama-lama kali yaa, langsung aja cekidot….

“Myungsoo-ssi, apa kau sudah terlihat?”
“Eoh,” jawab Myungsoo yang langsung berdiri di tengah-tengah deretan baju-baju dengan kostum yang super aneh.
Kali ini sangking anehnya kostum yang dipakai Myungsoo, para ahjumma semakin memandang mereka berdua intens seraya melontarkan komentar-komentarnya. Bagaimana tidak aneh? Myungsoo yang mengenakan kostum pendekar dengan kain yang berlapis-lapis khas khas zaman dulu dan menggunakan ikat kepala serta sepatu yang tidak lazim digunakan oleh masyarakat sekarang. Orang yang melihatnya pastilah berpendapat bahwa dia adalah aktor film laga, atau mungkin malah seseorang yang tergila–gila menjadi seorang pendekar. Itulah yang ada di pikiran para ahjumma yang melihatnya.

Sadar akan kondisi itu, Jiyeon berpura-pura mengeluh bahwa aktornya ini kehilangan koper bajunya setelah selesai syuting. Jadi mereka harus membeli baju ganti untuknya. Ide gila Jiyeon itu berhasil membungkam para ahjumma yang tadinya tak berhenti berkomentar.
“Kau keluar dulu. Aku akan membayar baju-bajumu di kasir.” Jiyeon melangkahkan kaki ke kasir yang terletak di ujung depan. Sedangkan Myungsoo keluar dengan memakai baju baru yang masih dibayar oleh Jiyeon.

Dalam perjalanan, Jiyeon memasang wajah kesal. “Myungsoo-ssi, kau berhutang penjelasan padaku,” ketus Jiyeon dalam perjalanan pulang.
“Penjelasan apa? Bukannya aku sudah menjelaskan banyak hal padamu?”
Jiyeon menghentikan langkahnya. “Mungkin aku bisa menerima kenapa kau tidak bisa dilihat oleh orang lain. Tapi kenapa hanya setelah menyentuhku kau bisa dilihat, eoh? Jelaskan!”
“Hmm rupanya kau ingin penjelasan tentang itu. Baiklah akan aku jelaskan. Aku akan bisa dilihat oleh orang lain jika aku menginginkannya dan jika kau menyentuhku. Kau kan orang yang memiliki buku itu. Jadi sebagai imbalannya, saat kau menyentuhku, aku benar-benar nyata. Kau bisa memukulku, menendangku atau yang lainnya. Araseo?”
Jiyeon manggut-manggut. Benar juga. Sebagai imbalannya jika Myungsoo menyebalkan maka dia akan memukulnya, pikir Jiyeon yang kemudian mengeluarkan senyum evil-nya. “Keudae, araseo. Kajja!”

Keesokan harinya Jiyeon kembali ke sekolah. Dalam perjalanan, dia memikirkan satu hal. “Myung…” tiba-tiba ia ingat bahwa tidak ada yang bisa melihat Myungsoo selain dirinya sendiri.
Greb!
Jiyeon memegang lengan Myungsoo agar namja itu dapat dilihat oleh orang lain.
“Yaak, kenapa tiba-tiba kau menyentuhku?” Myungsoo kesal karena Jiyeon menyentuhnya seenaknya saja. Tanpa bicara lebih dulu.
“Ah, mian. Aku lupa. Mian.” Mereka berhenti di depan pintu gerbang. Jiyeon sadar bahwa Myungsoo bukanlah seorang siswa, jadi dia tidak bisa masuk lingkungan sekolah seenaknya saja saat bisa dilihat. “Myongsoo-ssi… Bolehkah aku memanggil namamu Myungsoo saja? Ini kan sudah zaman modern. Jadi tidak perlu seformal itu.”
“Eoh,” jawab Myungsoo singkat.
Jiyeon melihat jam tangannya, masih ada waktu untuk ngobrol sedikit dengan Myungsoo.
“Hmm, Kim Myungsoo, apa kau juga merasakan hal yang dirasakan manusia? Seperti lapar, haus, mengantuk, atau bahkan jatuh cinta?”
Pertanyaan Jiyeon berhasil membuat Myungsoo tercengang. “Kenapa kau menanyakan itu?”
“Aku hanya penasaran. Cepat jawablah. Sebelum aku masuk ke kelas. Sebentar lagi bel berbunyi.”
“Ya, aku bisa merasakan hal-hal seperti itu. Aku bisa merasakan lapar, haus, mengantuk, dan….”
“Gumawo. Aku masuk dulu.” Jiyeon berlari meninggalkan Myungsoo di depan pintu gerbang.
Sedangkan Myungsoo lagi-lagi memandang heran pada yeoja yang menurutnya aneh. Baru kali ini dia bertemu dengan orang seaneh Jiyeon.

Myungsoo pov
Yeoja itu unik. Entah kenapa meskipun dia agak aneh bagiku, aku tetap senang mengawasinya. Berbeda dengan pemilik yang dulu. Yeoja dingin dan cuek. Huft… Apa yang harus aku lakukan di sini? Aku sudah bosan berada di sini. Pemilik bukuku yang dulu juga salah satu siswa di sekolah ini. Sudah beberapa hari aku tidak melihatnya.

Aku masih berdiri di depan pintu gerbang dengan menampakkan diriku secara nyata. Aku belum pernah merasakan menuntut ilmu. Dulu saat aku baru saja memulai belajar di sekolah rakyat, appa melarangku dengan alasan yang tidak jelas.
Saat aku merenungi nasibku yang tidak beruntung ini, sekilas tadi aku melihat seorang yeoja berambut panjang yang amat ku kenal. Ya, Bae Suzy. Dia baru saja tiba di sekolah. Tumben dia terlambat ke sekolah. Bagaimana kabar Suzy? Semoga dia dalam keadaan baik.

Gedung sekolah ini kalau dilihat-lihat bagus juga. Siswanya banyak sekali. Sekolah terfavorit di Seoul. Aku berkeliling di dalam sekolah. Sangat mudah bagiku untuk menyelinap dan berkeliaran ke mana-mana. Tapi aku sudah bosan hidup seperti ini. Hidup? Apakah aku masih bisa dikatakan hidup sementara aku tidak mengalamni penambahan usia. Tuhan, berapa lama lagi aku harus menanti?

Omo, Park Jiyeon? Secara tidak sengaja aku melewati kelas 2A. Siapa itu di samping Jiyeon? Sepertinya namja itu tidak asing bagiku. Choi Minho? Mataku terbelalak melihat namja yang kuketahui adalah Choi Minho, namjachingu pemilik bukuku yang dulu. Ternyata dia pindah ke sekolah ini.

Kulihat Jiyeon sedang sibuk mengerjakan sesuatu. Saat bel istirahat berbunyi, dia segera memaaukkan buku-bukunya ke dalam tas kemudian meninggalkan kelas. Aku sengaja mengikuti langkah kaki Jiyeon yang ternyata menuju ke atap sekolah. Yeoja ini menurutku semakin aneh saja. Istirahat malah menyendiri di atap sekolah. Saat dia memejamkan matanya, kulihat semburat kesedihan di wajahnya. Apakah yeoja itu sedang bersedih? Lebih baik aku tanyakan saja padanya.

“Kenapa kau di sini?” tanyaku dengan suara lumayan nyaring sehingga Jiyeon terlonjak kaget. Hahahaa… Aku tertawa dalam hati melihat ekspresinya saat kaget tadi. Jiyeon menyipitkan matanya yang silau terkena cahaya matahari.
“Yaak, Kim Myungsoo! Sydah ku bilang jangan muncul di depanku sembarangan begitu. Aku kaget, ara?”
“Anhi. Yaak, kenapa kau di sini? Apa kau tidak ke kantin?”
“Anhi.”
“Kau tidak lapar?”
“Anhiyo.”
“Apa kau ingin aku traktir?”
“Aish, napeun namja. Pergi sana. Mengganggu saja.” Jiyeon mengusirku karena aku mengganggu istirahatnya.
Hmmm aku punya ide.
“Yaak, Park Jiyeon, apa kau pernah membolos?” tanyaku selidik.
“N E V E R,” jawabnya dengan penekanan di setiap hurufnya.
“Baguslah. Apa kau ingin merasakannya?”
“Tuan Kim Myungsoo yang terhormat, kau kira aku bisa sekolah di sini tanpa pengorbanan, eoh? Seenaknya saja kau mengatakan kata “Bolos” di depanku.”
Waah aku membuat yeoja ini marah.
“Kalau sekali-kali kan tidak apa-apa.”
“Anhi. Shireo.” Jiyeon meninggalkanku yang masih berdiri mematung mungkin dengan tatapan kosong.

“Keurom… Waeyo?” tanyaku cerewet.

“Mwo?”

“Jiyeon-a, kau bilang bisa sekolah itu karena pengorbanan.”

“Eoh. Biaya sekolah memang dari appaku. Aku tidak memiliki kesempatan untuk mendapatkan beasiswa di sini karena dulu telat. Jadi, appa membiayai sekolahku. Untuk kebutuhan lainnya aku menolak pemberian appa. Aku ingini mandiri seperti appa dulu. Karena aku kasihan pada appa yang sedang menderita kanker darah. Jadi aku tidak ingin terlalu membebani appa,” jelas Jiyeon dengan ekspresi sedih.

Aish, yeoja itu semakin sulit untuk dipahami. Akhirnya aku putuskan jalan-jalan sendiri saja.
Aku mengeluarkan kantong uangku. Setahuku uang zaman sekarang tidak begini. Sepertinya aku mengingat sesuatu yang… Ah, aku ingat. Uang zaman dulu kan bisa dijual. Aku akan coba.
Hmm chakkaman. Ini kan uang emas. Kenapa tidak ku jual saja ke toko emas atau pembuat perhiasan emas. Kim Myungsoo, kau benar-benar pintar.
Myungsoo pov end.

‘Aku mendapatkan uang senilai, mmm, berapa ya? Bagaimana cara menghitungnya? Ah, nanti saja aku minta bantuan Jiyeon untuk menghitungnya. Uang ini aku ambil sedikit untuk berbelanja bahan makanan terutama ikan dan daging kesukaanku,” celoteh Myungsoo dengan memasang senyum menawannya di depan tumpukan uang yang baru ia dapatkan setelah menjual beberapa tel uang emas.
Ya, Myungsoo masih menyimpan uangnya yang ia peroleh dari hasil jerih payahnya sebelum peristiwa aneh itu terjadi.

Malam ini Jiyeon baru pulang ke apartemennya pukul 8 malam. Anggota badannya terasa ingin lepas. Apalagi dia harus sampai di apartemen lalu memasak makan malam. “Aigoo, rasanya tulangku semakin menua. Apakah aku sudah mulai tua? Andwae. Aku tidak mau cepat tua.”

Ceklek… (suara pintu dibuka)

Tik… (suara saklar lampu)

“Omo! Ige mwoya?” Jiyeon kaget, sangat kaget melihat belanjaan yang jumlahnya cukup banyak berserakan di apartemennya.
“Annyeong…” Myungsoo tiba-tiba muncul dengan senyumnya yang terlalu manis.
“I, ige mwoya, Myungsoo-a? Kau dapat dari mana?”
“Aku belanja di supermarket.”
“Apa kau punya uang?” tanya Jiyeon heran.
“Omo, aku hampir lupa. Yaak, Jiyeon-a, aku minta tolong padamu. Tolong bantu aku menghitung uang ini.” Myungsoo mengulurkan setumpuk uang kertas yang bernilai jutaan won.
Jiyeon membelalakkan mata besarnya. Ia tidak percaya dapat melihat uang sebegitu banyaknya. “Apa ini uangmu?”
Myungsoo mengangguk mantab.
“Kau merampok dimana?”
“Yaak, aku ini orang baik-baik. Mana mungkin merampok? Tadi aku menjual uang emasku.” Karena aku sama sekali tidak mengerti jenis uang zaman sekarang makanya aku minta bantuanmu untuk menghitungnya.

Jiyeon menghitung uang Myungsoo dengan teliti. Sementara itu Myungsoo memasakkan omurice untuk Jiyeon. Setelah acara menghitung uang selesai, Jiyeon kembali dikejutkan dengan jumlah nilai uang itu.
“Sudah selesai?”
“Igeo.”Jiyeon menyerahkan uang itu pada Myungsoo.
“Jumlahnya berapa?” tanya Myungsoo lagi.
“11 juta won.” Jiyeon mengambil omurice yang telah dibuatkan Myungsoo tadi.
“Apa itu uang yang sedikit?” tanya Myungsoo yang berhasil membuat Jiyeon kesal.
“Ah, ne araseoyo. Gumawo Jiyeon-a. Karena jumlah uang ini banyak sekali, aku beri kau separuhnya. Igeo.” Myungsoo membagi tumpukan uangnya menjadi dua lalu memberikannya pada Jiyeon yang masih menyantap omurice buatannya.

“Kau memberikan ini padaku? Serius? Gojimal!”
“Ne, ambil saja. Aku serius kok. Hmm sebagai imbalannya aku ingin kau menemaniku jalan-jalan sebagai manusia. Otte?” Myungsoo memasukkan uangnya ke kantong uangnya.

Jiyeon terlihat berpikir. Jika dia menyetujuinya berarti besok bolos. Tapi jika menolaknya, dia sungguh tidak enak hati karena Myungsoo.sudah memberinya uang 5juta won. Jumlah yang tidak sedikit. Akhirnya Jiyeon menyetujuinya. Besok mereka akan jalan-jalan kemana saja, tentunya Myungsoo akan menampakkan dirinya sebagai manusia.

Keesokan harinya Myungsoo dan Jiyeon pergi bersenang-senang. Dengan kostum yang casual, mereka menikmati acara yang dibuat Myungsoo. Mereka pergi ke taman, bersepeda, menonton film di bioskop, makan teokbokki dan samgyupsal di kedai pinggir jalan. Kemudian terakhir mereka pergi berbelanja. Myungsoo membeli beberapa pakaian karena sekarang ini dia agak sering menampakkan diri. Sedangkan Jiyeon hanya membeli kaos, celana dan dress hitam yang cantik.
“Waaah aku senaaang sekali hari ini.” Myungsoo menebar senyum pada setiap orang yang lewat di depannya.
“Oh ya, apa kau pernah ke salon?” tanya Myungsoo dengan ekspresi aneh.
“Mwo? Salon? Aku belum pernah ke salon. Lagipula untuk apa aku ke sana.” Jiyeon menghabiskan es krim rasa coklatnya.
“Aku ingin pergi ke salon sekarang.”
Jiyeon tersedak mendengar kata-kata Myungsoo barusan.
“Yaak, Park Jiyeon. Makan pelan-pelan saja. Kajja kita ke salon.”

Keluar dari salon, keduanya tampil beda dari yang sebelumnya. Rambut panjang Jiyeon dipotong sedikit dan diwarna coklat terang. Sedangkan Myungsoo diwarna coklat gelap hampir berwarna hitam. Myungsoo terlihat sangat tampan. Jiyeon sampai terpesona melihatnya.

“Tugas kelompok kali ini akan dirombak nama-nama anggotanya.” Kwon saem membacakan nama-nama anggota kelompok. Setiap kelompok terdiri dari dua orang. Jieun dengan Baekhyun, Luna dengan DO, sedangkan Jiyeon dengan Minho.
“Mwo? Choi Minho dengan Jiyeon?” Semua mata kini memandang ke arah mereka berdua.
Jiyeon yang tidak merasa tahu apa-apa karena sibuk menyalin di bukunya balik memandang heran pada teman-temannya. “Wae? Ada apa dengan ekspresi kalian itu?” Jari-jarinya berhenti menulis.

“Yaak, kau satu kelompok dengan Minho,” bisik Jieun pada Jiyeon.
“Mwoya? Aaah andwae. Shireoyo. Saem, kenapa tidak adil seperti ini?”
Tidak ada gunanya protes karena nama anggota kelompok sudah disetorkan ke wali kelas.

“Jieun-a, kau saja yang sekelompok denganku, ne?”
“Shireo. Setiap kelompok terdiri dari 2 orang, namja dan yeoja. Ara?” Jieun kembali ke tempat duduknya.

Luna mencondongkan badannya ke arah Jiyeon. “Apa kau takut akan terlibat cinta lokasi?” goda Luna.

“Michyeoseo?!” Jiyeon bertambah kesal mendengar ucapan dari Luna.

Setiap hari Selasa, Kamis, dan Jumat, Jiyeon dan Minho mengerjakan tugas kelompok. Makanya di hari-hari itu, mereka akan pulang sangat telat. Selama beberapa hari mengerjakan tugas bersama, Jiyeon baru tahu kalau Minho adalah orang yang baik namun ekspresi wajahnya tidak seramah orangnya.

Kedekatan Jiyeon dengan Minho karena tugas kelompok mereka membuat siswa lain di kelasnya iri dan selalu menggosipkan mereka. Gosip itupun menyebar hingga seantero sekolah.
Suzy yang notabennya adalah yeojachingu Minho merasakan panas di telinganya karena gosip itu. Dia pun menghampiri Minho saat sdedang mengerjakan tugas kelompok dengan Jiyeon pada saat pulang sekolah. Suzy marah-marah pada Jiyeon karena dia mengira Jiyeon menggoda namjachingunya. Dia sampai menggebrak meja yang digunakan Minho dan Jiyeon mengerjakan tugas. Minho ingin menenangkan Suzy tapi tidak berhasil.
“Menggoda? Kapan aku menggoda Minho?” seru Jiyeon tak kalah tinggi dengan suara Suzy. Dia tidak terima Suzy membentaknya dan menuduhnya yang tidak-tidak.

Di apartemen, Jiyeon teringat kata-kata Suzy yang menyakitkan hatinya. Dia sama sekali tidak mengenal yeoja itu begitupun Suzy tidak mengenalnya. Lagipula Jiyeon adalah sunbae-nya, berani-beraninya Suzy bersikap tidak sopan seperti itu. Tugasnya dengan Minho belum selesai. Jiyeon memutuskan untuk mengerjakan tugas itu sendirian daripada setiap mengerjakan tugas dengan Minho, Suzy datang memaki-makinya.
Myungsoo ingin membantu Jiyeon mengerjakan tugas itu karena akhir-akhir ini Jiyeon harus bekerja di beberapa tempat. Karena Myungsoo tidak mengerti tentang mata pelajaran tugas Jiyeon, dia membantu Jiyeon dengan menggantikan Jiyeon bekerja part-time di restoran sebagai pelayan, di cafe ssebagai pelayan, di hotel sebagai cleaning service, di toko buku sebagai penjaga toko. Myungsoo merasa senang dapat membantu Jiyeon selama beberapa hari hingga suatu saat dia mendapat peringatan dari dewa karena terlalu sering menampakkan diri. Sebagai hukumannya, dia tidak dapat menampakkan diri selama beberapa hari. Hal ini membuatnya harus berhenti membantu Jiyeon bekerja part-time.
“Nan gwaenchanayo. Gomawo sudah membantuku, Myungsoo-a.”

Hari-hari dilalui Jiyeon bersama namja yang asal usulnya tidak jelas. Mungkin bagi beberapa orang, Myungsoo adalah makhluk aneh. Namun tidak bagi Jiyeon. Dia menganggap Myungsoo seperti manusia lainnya, manusia normal. Setiap hari mereka bercanda, tertawa, curhat, saling menasehati hingga tanpa disadari mereka berdua semakin dekat.

Dekatnya hubungan Myungsoo dengan Jiyeon juga berlaku untuk hubungan Jiyeon dengan Minho. Meski Jiyeon telah mengetahui bahwa Minho adalah namjachingu Bae Suzy, Jiyeon tetap berteman dengannya hingga memiliki perasaan spesial yang ternyata dipendam oleh Jiyeon.

Malam ini sekolah mengadakan acara ulang tahun yang diramaikan oleh penampilan banyak siswa dari berbagai kelas. Jiyeon datang dengan balutan dress hitam yang dibelinya bersama Myungsoo. Dengan rambut yang tergerai dan beberapa aksesoris seperti gelang, anting, dan jam tangan menghiasi tubuh indahnya. Tak lupa Jiyeon memakai sepatu high heel 10cm berwarna hitam yang sangat serasi dengan baju yang ia kenakan. Myungsoo pun dibuat terpana oleh penampilannya.

Di acara pesta, Jiyeon, Luna dan Jieun sedang mengobrol membicarakan apa saja yang menarik bagi mereka. Saat Minho dan Suzy lewat di depannya dengan bergandengan mesra, hatinya terasa teriris pilu. Suzy yang mengenakan dress selutut sama dengannya hanya warna dan modelnya berbeda. Yeoja itu juga memakai pita dan sepatu yang senada dengan dressnya, warna baby pink.

“Jiyeon-a, kau kenapa?” tanya Luna.
“Apa kau memiliki perasaan pada Minho?” timpal Jieun dengan wajah polos tak berdosa. Luna menyenggolnya dengan siku. Menyuruh Jieun diam.
Jiyeon tak menjawab, diam seribu bahasa. Tak jauh dari sana, rupanya Myungsoo memperhatikan mereka dengan tatapan dingin. Dia mengawasi Jiyeon layaknya seorang malaikat. Sayang, Myungsoo masih belum dapat menampakkan diri. Jika dia bisa menampakkan diri, pasti dia akan ikut menikmati pesta itu.

“Yaak, Jiyeon sunbaenim, kemarilah!” teriak Suzy dengan melambaikan tangannya.
Jiyeon, Luna, Jieun dan Myungsoo dibuatnya tercengang mendengar panggilan Suzy pada Jiyeon. Tanpa berpikir panjang, akhirnya Jiyeon menuruti kata-kata Suzy. Dia meninggalkan Luna dan Jieun yang masih menatap punggungnya. Sampai di dekat meja yang digunakan untuk menghidangkan kue, Jiyeon terpeleset karena menginjak sesuatu. Secara spontan Myungsoo berlari untuk menangkap tubuh Jiyeon agar tidak jatuh ke lantai.

Grebb!!

Myungsoo berhasil menangkap tubuh Jiyeon yang hampir menyentuh lantai. Wajah mereka hanya berjarak beberapa senti. Posisi Myungsoo setengah jongkok karena dia sedikit terlambat menangkap tubuh Jiyeon.

Banyak pasang mata menatap mereka dengan terkejut karena kemunculan Myungsoo secara tiba-tiba. Jiyeon, Myungsoo, Luna, Jieun, Minho, Suzy membelalakkan mata mereka. Semua orang yang berada di sana terkejut dengan kemunculan Myungsoo yang tiba-tiba menangkap tubuh Jiyeon. Berbeda dengan yang lainnya, Myungsoo dan Jiyeon terkejut karena Myungsoo dapat menampakkan diri padahal dia masih menjalani hukuman dari dewa yang tidak bisa menampakkan dirinya selama beberapa hari. Kenapa bisa? tanya Myungsoo dalam hati.
“Myungsoo, Kim Myungsoo?” gumam Jiyeon yang wajahnya berjarak dekat dengan wajah Myungsoo. Posisi Myungsoo sedikit jongkok karena dia sedikit terlambat.menangkap tubuh Jiyeon.
“Kim Myungsoo…” seru Suzy dengan tatapan tajam pada Jiyeon dan Myungsoo.
Jiyeon dan Myungsoo pun menoleh. Setelah membenahi posisi mereka, Jiyeon berdiri di samping Myungsoo, Suzy pun melontarkan kata-kata pedas lagi pada Jiyeon.
“Hah, darimana kau menemukan dia, Park Jiyeon? Bukankah tidak ada namja yang mau berkenalan denganmu?” seru Suzy dengan nada amat sangat sinis.
Tak terasa butir airmata menyeruak keluar dari manik mata indah milik Jiyeon.
“Keumanhe!” bentak Myungsoo pada Suzy yang berhasil membuat yeoja itu menggigit bibir bawahnya karena kesal.
Jiyeon berlari meninggalkan tempat itu dengan perasaan sedih. Myungsoo pun berlari menyusulnya.
“Jiyeon-a, Jiyeon-a!”

“Jiyeon-a! Jiyeon-a?” panggil Myungsoo yang mengejar Jiyeon ke atap sekolah. Meskipun Jiyeon memakai high heel, langkahnya tak kalah cepat dari Myungsoo.
Jiyeon berhenti karena lengannya ditarik oleh Myungsoo. Kini keduanya saling berhadapan. Jiyeon menutup mulutnya dengan telapak tangan kanan, membungkam mulutnya agar suara tangisnya tidak terdengar. Myungsoo melihat kondisi Jiyeon yang berubah 180° merasa sangat prihatin. Dia menarik Jiyeon ke dalam dekapannya. Jiyeon pun menangis dalam pelukan hangat Myungsoo.
“Sudahlah. Jangan diambil hati. Mungkin dia masih marah padamu karena Minho dekat denganmu.” Tak ada respon dari Jiyeon. “Yaak, kenapa kau terus menangis? Seperti bayi saja,” celoteh Myungsoo yang berusaha meghibur Jiyeon. “Kajja, kita ke atap. Mungkin di sana kau bisa tenang.” Myungsoo menuntun Jiyeon naik ke atap sekolah, tempat favorit Jiyeon untuk menenangkan diri.

Keduanya terdiam. Memikiran kejadian tadi. Myungsoo merasa ada yang aneh. Masa hukumannya belum berakhir namun saat dia menolong Jiyeon kenapa dia bisa terlihat dan berhasil menyelamatkan Jiyeon. Padahal sebelumnya tidak begitu. Apakah masa hukumannya sudah selesai? Myungso bertanya-tanya dalam hati.
“Myungsoo-a…” lirih Jiyeon yang membuyarkan lamunan Myungsoo.
“Wae?”
“Apa masa hukumanmu sudah berakhir? Kenapa kau bjsa menyelamatkan aku?”
“Aku juga bingung. Saat menolongmu aku tidak peduli apakah aku bisa menyentuhmu atau tidak. Ternyata aku berhasil menyelamatkanmu. ” Myungsoo tertunduk.
“Myungsoo-a, apakah kau pernah jatuh cinta?” tanya Jiyeon dengan ekspresi lugu.

Tbc

Akhirnya setelah melalui masa pengeditan, part ini bisa aku posting. Gimana chingu? Semoga tidak mengecewakan. Oh ya, di sini aku bikin peran Suzy menjadi orang yang sensitif dan mudah marah. Tetapi ada alasan di balik semua itu, tentunya di part selanjutnya. Kalau banyak typo, mian ne…

Ada saran? Silahkan sampaikan. Aku senang menerima saran… ^_^

63 responses to “(CHAPTER – PART 2) MY BOOK

  1. yah.. ko jiyi malah sk sm minho? huhu.. smg cm perasaan sesaat n akhirnya sk sm myungsoo.. smg myungsoo jg bs jd manusia seutuhnya n nemenin jiyi.. hihi

  2. Pingback: (CHAPTER – PART 6 END) MY BOOK | High School Fanfiction·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s