[CHAPTER] Boys of Bigbang – Part 13 (FINAL)

BOB BOB CAST

Part Sebelumnya :

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12

Dedicated for my yeodongsaeng Devina.

Based on Boys Over Flowers (Korean Drama 2009).

Poor Jiyeon! Dirinya harus merasakan nasib yang sama seperti Geum Jan Di. Ada Gu Jun Pyo dengan versi sedikit berbeda. Dan keempat member Big Bang yang setia mengekor di belakang sang Leader, Seungri.

Seungri terbangun saat mendengar suara gaduh yang kutimbulkan dari dapur. Aku tak sengaja menjatuhkan panci-panci milik almarhum nenekku dari raknya. Pikiranku mendadak tidak fokus dan dadaku kembali disesaki kenyataan bahwa Seungri kini tidak mencintaiku lagi dan lebih memilih Taeyeon. Ditambah perdebatanku dengan yeoja itu beberapa menit yang lalu, membuat perasaanku semakin hancur. Karena terlalu begitu serius menenangkan diri, aku tak sadar bahwa Seungri sudah berdiri di belakangku, entah sejak kapan.

“Kenapa kau bisa tinggal di rumah sejelek ini?” tanya Seungri seraya menatap jijik padaku setelah matanya berputar menyapu isi dapur.

Aku putuskan untuk tidak menjawab pertanyaannya dan lebih memilih pergi menghindar darinya. Hanya saja tangannya sudah lebih dulu menahanku sebelum aku sempat pergi..

“Kau tahu seminggu dari sekarang aku akan menikahi Taeyeon?” tanya Seungri seraya menatap tajam ke arahku.

Lagi-lagi aku tidak menjawab, bahkan tidak balas tatapannya.

“Dan kau tahu itu artinya apa?” tanya Seungri lagi. “Berhentilah berpikir bahwa kau bisa memilikiku.” Kedua mata Seungri mulai menelanjangiku dari ujung kaki sampai kepala, sebelum menunjukkan ekspresi mengejek. “Benar kata ibuku yang tua itu, kau benar-benar miskin, tidak cantik dan…”

Dan apa? batinku seraya memberanikan diri menatap kedua matanya yang kini sedang menatap kedua mataku.

“Ehem…” Seungri malah berdeham seraya mengalihkan tatapan kedua matanya. “Beginikah caramu memikat seorang namja?”

“Apa maksudmu?” tanyaku akhirnya bersuara.

“Matamu itu…” ucap Seungri seraya kembali menatap kedua mataku. “Apa yeoja miskin sepertimu mampu membeli kontak lense?”

Apa maksud ucapannya? Aku benar-benar tidak mengerti. Kontak lense? Aku mampu membelinya, tetapi untuk apa? Mataku sudah cukup indah tanpa harus dilapisi benda aneh itu. T-tunggu…jika benar Seungri juga merasakan bahwa mataku…i-indah…

“Lupakan saja,” ucap Seungri membuyarkanku dari pikiran-pikiran pasal mataku yang mungkin dianggapnya indah. “Sekarang dengarkan aku baik-baik. Aku hanya cukup memberitahumu sekali. Dan kuharap kau mengerti. Ibuku yang tua itu berkata bahwa kau adalah seorang yeoja yang menggilaiku yang sedang berusaha mengambil kesempatan disaat otakku sedang bermasalah akibat kecelakaan itu, walaupun aku sendiri merasa baik-baik saja dengan kepalaku ini. Aku akan berusaha menerimamu sebagai…penggemarku. Dan tidak lebih. Aku hanya minta kepadamu untuk melarang TOP dan yang lainnya terus melakukan hal konyol macam ini hanya demi mempersatukan kita berdua. Aku jelas-jelas sangat terganggu dengan kata ‘mempersatukan’ itu. Mungkin TOP dan yang lainnya punya semcam hutang padamu dan sebagai gantinya kau meminta mereka untuk membuatku menyukaimu. Aku benci mengatakan hal itu, tetapi mulai detik aku akan berusaha memahamimu. Aku sudah memiliki calon istri. Dan aku akan menikah dengannya seminggu dari sekarang. Tolong jangan rusak apapun disaat hari pernikahanku tiba.”

Apa-apaan ini? Mengapa dia berkata seperti itu padaku? Seakan-akan dia sedang mencoba membuat tali perdamaian denganku menggunakan kata-kata yang cukup menyakitkan untuk aku dengar. Aku penggemar yang menggilainya? Sekarang aku tahu mengapa Seungri begitu sukar menerima kehadiranku di hadapannya setelah kecelakaan itu terjadi. Selain karena memang dia lupa padaku, faktor terbesarnya berasal dari ucapan Direktur Han, yang entah bagaimana mampu membuat Seungri percaya bahwa aku memang yeoja gila yang berusaha memanfaatkan TOP dan yang lainnya untuk membantuku mendekati dirinya.

“Kau mengerti apa yang aku katakan?” tanya Seungri berharap ada semacam respon seperti anggukan dariku.

“Satu pertanyaanku untukmu,” ucapku tiba-tiba. “Apa kau mencintai Taeyeon?”

Seungri terdiam, belum mengeluarkan jawaban apapun.

“Untuk apa kau menanyakan hal itu?” tanya Seungri balik. “Menurutku apa yang sedang kau pertanyakan tadi termasuk jenis pertanyaan pribadi. Dan seharusnya kau sadar bahwa kau bukan orang penting di dalam hidupku yang bisa mengetahui dengan mudah tentang masalah pribadiku, salah satunya masalah perasaan.”

Aku bukan orang penting untuknya? Tentu saja, Lee Seungri. Kau menganggapku tidak penting setelah kecelakaan itu terjadi.

“Aku hanya ingin tahu,” ucapku pelan. “Tidak apa-apa jika kau tidak mau menjawabnya.” Aku sudah melangkahkan kakiku dan tepat sebelum aku keluar dari rumah, Seungri berkata, “Aku tidak perlu mencintainya hanya untuk menjadikannya istriku.”

Aku terdiam dengan tubuh mematung. Entah mengapa aku menyukai jawabannya. Jawabannya tiba-tiba saja membuatku merasa sedikit lebih baik, menyadari perasaan takutku belakangan ini bersumber darinya dan Taeyeon. Aku takut….takut tidak bisa memilikinya.

Tanpa aku sadari, Taeyeon mendengar semuanya. Dengan gusar dia melangkah pergi.

**

Malam ini kami berencana untuk mengadakan makan malam di tepi pantai di temani aneka hidangan laut. Aku pun mencoba meminta beberapa hasil laut milik tetanggaku yang cukup dekat dengan nenekku dulu. Dia tinggal di belakang rumahku beberapa meter, dikelilingi dengan pagar bambu yang dihiasi tanaman rambat. Dibelakang rumahnya itulah terdapat ruangan besar seperti sebuah kulkas jumbo, diisi aneka hasil panen lautnya. Biasa dia memasarkan hasil panennya itu pagi hari sementara sore sampai malam waktunya melaut.

“Apa dia akan memberikan dengan percuma hasil panennya?” tanya GD padaku sebelum aku pergi.

“Ne, dia orang yang baik dan sangat perhatian dengan keluarga nenekku,” jawabku. “Tenang saja. Kau akan makan banyak ikan dan kerang malam ini.”

“Jangan buat air liurku menetes sebelum waktunya, Patbingsoo,” ucap GD tepat saat Taeyeon datang menghampiri kami.

“Boleh aku ikut?” tanya Taeyeon tiba-tiba, membuat aku dan GD saling bertukar pandangan heran.

“Tentu saja,” jawabku akhirnya seraya beranjak pergi bersama dengan Taeyeon di sebelahku.

Inmo Ahjussi dengan wajah penuh senyum memberikan serenteng kunci miliknya padaku saat kami sudah tiba di depan rumahnya. “Ambil sebanyak yang kau mau. Anakku yang baru datang dari kota menghasilkan banyak sekali gurita dan tiram. Dia memang jago melakukannya.”

“Ne, Ahjussi aku akan ambil banyak sesuai saranmu,” ucapku disertai senyum.

“Aku akan pergi bersama dengan anakku dan baru kembali jam tiga pagi nanti,” ucap Ahjussi. “Sementara itu kau bisa simpan kunci itu setelah kau selesai mengambil ikan-ikannya. Aku akan mengambilnya setelah aku kembali.”

“Tenang saja, Ahjussi. Aku akan menyimpan kuncinya,” ucapku.

Aku dan Taeyeon pun beralih ke gudang penyimpanan hasil panen laut Inmo Ahjussi. Taeyeon terperangah ketika melihat ruangan berbentuk persegi ini yang berisi berkotak-kotak hasil laut dan tumpukkan balok es.

“Baru pertama kali melihatnya?” tanyaku seraya mulai mengambil ikan, tiram, gurita bahkan lobster yang akan dimasukkan ke dalam baskom besar yang kubawa dari rumah.

“Ne,” jawab Taeyeon. “Aku tidak bisa membayangkan jika berlama-lama di tempat ini.”

“Mungkin awalnya kau akan terserang hypothermia sebelum akhirnya kau jatuh pingsan atau mungkin mati,” jawabku membuat Taeyeon spontan menatap kearahku.

Hypothermia? Pingsan? Atau mati?” gumam Taeyeon yang belum juga mulai membantuku mengambil tumpukkan tiram ini. Lama suara Taeyeon tak terdengar lagi, sampai akhirnya dia berkata, “J-Jiyeon-ah…sepertinya aku lupa sesuatu. Aku harus menghubungi ibuku sebelum beliau marah-marah. Dia harus tahu kabarku tiap saat.”

“Ne, araseo. Kau hubungi saja ibumu,” ucapku seraya kembali fokus dengan tiram-tiram ini.

Pintu terdengar tertutup saat Taeyeon menghilang dari pandangan.

**

Aku mencoba bersender pada dinding ruangan ini yang terasa sangat dingim. Yeoja itu, Kim Taeyeon, aku tidak menyangka dia akan sejahat ini, mengunciku dari luar di ruangan sedingin ini. Aku ingat aku membiarkan kunci tertinggal di lubang pintu begitu saja sementara aku sibuk mengambil ikan-ikan ini. Taeyeon …apa yang dia pikirkan sehingga bisa melakukan hal ini padaku? Sesaat aku teringat saat dimana Sunny mencoba menculikku dan menghajar Seungri sampai terluka parah. Sunny dan Taeyeon, keduanya yeoja yang begitu menggilai Seungri dan mampu berbuat apa saja demi mendapatkan namja itu.

Sementara itu di tepi pantai…

“Sudah satu jam,” ucap GD seraya melihat jam tangannya. “Kenapa si Patbingsoo dan Taeyeon belum kembali?”

“Arang sudah siap dibakar dan aku mulai lapar,” ucap Daesung yang sudah siap di depan tempat pembakaran.

Tak lama kemudian muncullah Taeyeon.

“Dimana Jiyeon?” tanya GD dengan wajah bingung.

“J-Jiyeon?” Terlihat Taeyeon berusaha mencari jawaban. “Dia belum kembali?”

“Mwo?” tanya GD semakin bingung.

“Kupikir dia sudah kembali lebih dulu,” ucap Taeyeon seraya meremas kedua tangannya. “Kami keluar bersama setelah mengambil hasil laut itu dan aku sengaja meninggalkannya ke kamar mandi, menyuruhnya lebih dulu pergi.”

“Kemana dia?” tanya GD seraya menggaruk kepalanya.

“Waeyo?” tanya TOP saat melihat kejanggalan dari tingkah laku Taeyeon.

“Patbingsoo menghilang,” jawab GD.

“Menghilang?” Cemooh Seungri yang sedang sibuk dengan ponselnya. “Mengapa dia bisa hilang di daerah tempat tinggalnya sendiri? Aneh.”

Tanpa memperdulikan cemooh dari Seungri, TOP langsung pergi mencari, diikuti Taeyang, GD dan Daesung.

“Kau tidak ikut mencarinya?” tanya Taeyeon.

“Aku mengantuk,” ucap Seungri seraya melangkah pergi menuju ke dalam rumah.

**

Kucoba menggedor pintu besi berengsel otomatis ini, tetapi rasanya percuma saja. Yang kudapat hanya memar di tanganku. Aku sudah tidak bisa menahannya lagi, tubuh kedinginan dan hypothermia yang kusebut tadi sepertinya mulai menyerang tubuhku. Jujur saja, satu-satunya hal yang mampu melumpuhkan indera dan syarafku adalah kedinginan. Tiba-tiba kedua tanganku bergetar, merambat ke kakiku, seluruh tubuhku, bahkan wajahku.

“Tidak adakah dari mereka yang mencariku?” gumamku pelan. Sudah lebih dari tiga jam aku berada di dalam ruangan dingin ini. Nafasku pun rasanya sudah menjadi uap-uap dingin yang berhasil membekukan bawah hidungku. Aku tidak berharap Seungri datang untuk menolongku, karena memang tidak mungkin dia akan datang. Satu-satunya harapanku hanyalah TOP atau mungkin GD atau Taeyang…atau Daesung…

“Jiyeon-ah!” Akhirnya ada yang datang untuk menolongku. Dia menggedor-gedor pintu ini berkali-kali untuk mengalihkan perhatianku ke arah kaca yang terpasang di tengah pintu. Dia datang…penolongku datang… “Bertahanlah!” Suaranya terdengar lagi.

“Gumawo, TOP,” ucapku dengan sisa suara yang kupunya. Aku sudah tidak bisa merasakan kaki dan tanganku lagi. Aku hanya bisa menunggu sampai TOP akhirnya membawaku keluar dari tempat ini.

**

Seungri sudah kembali ke atas ranjangnya sementara dirinya masih disibuki dengan ponselnya.

“Aku harus kembali secepatnya ke Seoul,” ucap Seungri seraya memainkan ponsel di dagunya. “Tetapi bagaimana caranya? TOP dan yang lainnya pasti menahanku.”

Seungri pun kembali memainkan ponselnya. Dibukanya pesan di dalam ponselnya yang berisi ratusan pesan.

“Tidak ada gunanya aku menyimpan pesan-pesan ini,” gumam Seungri hendak menghapus semua pesan yang berada di dalam ponselnya. Tiba-tiba perhatian Seungri teralih pada satu pesan dengan nama kontak ‘PATBINGSOO-KU’. “Patbingsoo?” gumam Seungri seraya membuka pesan itu.

Aku mau tidur. Jangan ganggu aku lagi. Jika besok kau terlambat datang, kencan kita resmi batal!

“Kencan?” gumam Seungri dengan alis bertaut bingung. Rasa penasaran pun mulai merajainya. Dibacanya pesan-pesan tersebut secara runtun dari awal. “Tidak mungkin…” gumam Seungri berusaha menenangkan pikirannya yang mendadak kusut. “Patbingsoo…Park Jiyeon….dan aku mengencaninya?”

Dan tiba-tiba ide gila terlintas di pikiran Seungri. Dibongkarnya barang-barang di dalam tas berwarna ungu yang bertuliskan Park Jiyeon di talinya. Buku besar dan lusuh berwarna merah muda pun menarik perhatian Seungri. Dibukanya buku itu dan benda yang pertama kali Seungri lihat adalah foto yang terjatuh dari sela-sela buku itu. Seungri mengambil foto itu dengan tangan sedikit bergetar.

“W-wae?” gumam Seungri yang kini tidak bisa berpikir apa-apa. “Kenapa aku…dengannya…berfoto bersama?”

Rasa sakit saat pertama kali kepalanya terbentur jendela kaca mobilnya seperti terasa kembali. Telinganya pun ikut berdengung dan itu semua terjadi dengan tiba-tiba. Seungri tidak mampu menahan rasa sakit di kepalanya ini, seakan-akan luka di kepalanya terbuka kembali dan ditusuk dengan kenangan lama yang mencoba menerobos masuk. Potongan-potongan gambar seorang yeoja pun menghiasi kepala Seungri, seperti rekaman rusak yang terputus-putus.

“Nuguya?” Sebuah suara berat terdengar. Langkah kaki yang sudah tidak asing terdengar di telingaku. “Kau jagoan baru di sekolah ini?”

Kini untuk pertama kalinya Lee Seungri berbicara kepadaku. Tatapan dinginnya, wajah menyebalkannya, tingkah pongahnya, benar-benar membuatku nyaris muntah di tempat.

“Annyeong Patbingsoo-ssi,” ucap salah satu dari kroni Seungri. G-Dragon melambai ke arahku.

“Patbingsoo?” Seungri mengernyit bingung.

“Anak dari penjual patbingsoo, tahun ketiga sama dengan kita,” ucap Taeyang.

“Jadi itu panggilanmu?” tanya Seungri seraya tertawa merendahkan. “Apa tidak ada panggilan yang lebih konyol dari itu?”

“Setelah berhasil sembunyi selama setahun, kini dia mulai berani menunjukkan diri di hadapanmu,” timpal Yuri dengan wajah puas.

“Kau sembunyi? Dari kami?” Seungri mendekatkan wajahnya kearahku, membuatku semakin mual saja. “Kenapa pengecut sepertimu berani berlagak sok jagoan beberapa detik yang lalu?”

“Beginikah caramu memperlakukan orang yang sudah menolongmu?” tanya Seungri.

“Menolongku?” tanyaku dengan nada mengejek. “Kau hanya mengusap wajahku dan membantuku berdiri. Apa itu pantas disebut dengan sebuah pertolongan? Jangan konyol! Bahkan jika didunia ini hanya tersisa kau dan aku, aku tidak akan pernah sudi menerima pertolongan darimu!”

Tepat ketika aku hendak beranjak pergi dari gymnasium, Seungri menahan tanganku.

“Apa kau serius dengan ucapanmu?” tanya Seungri meyakinkanku. “Bahkan jika didunia ini benar-benar hanya tersisa kau dan aku, kau tidak akan pernah sudi menerima pertolonganku?”

Kutepis tangan Seungri sekuat tenaga seraya berkata, “Kau? Menolong orang? Apa hal itu ada di dalam kamus hidupmu?”

“Kau benar-benar telah meremehkanku, Jiyeon-ah,” desah Seungri seraya terkekeh. “Kau satu-satunya yeoja yang berani melawanku. Dan aku baru sadar bahwa sekolah ini menyimpan yeoja unik sepertimu.”

“Bisakah kau berhenti mengganggu?” tanyaku seraya menepis tangan Seungri.

“Jangan munafik,” ucap Seungri seraya menarik tanganku, membuat tubuhku ikut tertarik, menjadi lebih dekat dengannya. “Semua yeoja menggilaiku. Aku tahu sebenarnya kau menyukaiku. Kau berusaha melawanku agar intensitas pertemuan kita menjadi semakin sering.”

“Micheosseo?” tanyaku sebal. “Kenapa bicaramu seperti orang tidak waras?”

Aku mencoba menepis tangannya tetapi genggaman tangan Seungri pada lenganku begitu kuat.

“Jangan samakan aku dengan yeoja-yeoja aneh itu,” sambungku dengan tatapan dingin.

“Araseo,” ucap Seungri. “Akan kubuktikan bahwa aku dapat membuatmu menyukaiku.”

Gila! Namja ini benar-benar gila!

“Sedikit rumit memang,” sambung Seungri. “Disaat kau berusaha menarik perhatian TOP demi memenuhi tantangan dariku, kau juga harus berhadapan denganku. Aku ingin tahu seberapa lama kau bertahan dengan kemunafikanmu. Bahkan aku dapat membuat dirimu menyukaiku lebih cepat daripada membuat TOP menyukaimu.”

Seungri sedikit mendekatkan wajahnya kearahku.

“Dan disaat kau mulai menyukaiku…kupastikan kau tidak akan pernah bisa melupakanku,” tambah Seungri seraya mengecup pelan pipiku.

“Besok…Myeongdong jam 1 siang,” ucap Seungri. “Jika kau tidak datang, kau harus mengembalikan uang pengobatan ibumu kepadaku. Tunai.”

“Y-yaa…!” Aku tidak sempat memakinya karena dia sudah pergi, menghilang dibelokan depan. “Jinjiha! Jadi ini maksudnya menolongku?!”

“Wae?” Aku tidak bisa menahan diriku untuk tidak membalas ucapannya. “Kau puas, heh?”

“Aku ingin menolongmu,” ucap Seungri seraya memberikan sapu tangan sutranya kepadaku.

“Kau? Menolongku?” tanyaku dengan raut wajah mengejek. “Bukankah kau orang yang paling ingin melihatku tersakiti? Sekarang kau puas, heh? Mereka berhasil melukaiku, secara mental ataupun fisik.”

Seungri tidak menjawab ucapanku lagi. Matanya kini sepenuhnya menatap mataku.

“Kau hanya tidak mengenalku dengan baik,” ucap Seungri akhirnya. “Menurutmu aku memang kejam. Tetapi perlu kau tahu, Patbingsoo…hanya aku yang bisa menolongmu. Walaupun aku tahu, kau  tidak akan pernah mau menerima pertolongan dariku.”

“Konyol,” ucapku seraya mengusap asal sisa darah yang masih melekat di bawah hidungku. “Jangan berlagak sok pahlawan di depanku. Aku tahu watak aslimu. Kau tidak akan pernah berhenti membuatku tertekan sampai akhirnya aku memutuskan untuk keluar dari…”

Ige mwoya? Ucapanku terputus tepat saat Seungri mengusap sisa darah di bawah hidungku dengan sapu tangan sutranya. Aku terdiam mematung dengan mata terbelalak. Apa yang sedang namja ini lakukan?

“Orang lain….bisa masuk dan keluar dari sekolah ini seenaknya,” ucap Seungri perlahan. “Tetapi kau…kau sudah masuk ke dalam sini. Dan aku tidak akan pernah membiarkan dirimu keluar dari sini.”

Ucapan Seungri seketika masuk ke telingaku, membuat debaran aneh di dalam dadaku. I-ige m-mwoya?

“Kita akan keluar dari sekolah ini bersama-sama, Jiyeon-ah,” ucap Seungri. “Kupikir…hidup kita akan sejalan, kita akan selalu bersama-sama. Suka tidak suka…kau harus menerima kenyataan itu, kenyataan dimana aku tidak akan pernah melepaskanmu.”

“Aku memang menyukai, Park Jiyeon,” ucap Seungri seraya menarik diriku ke dalam dekapannya. “Dan aku akan menunjukkannya sekarang!”

Si namja menyebalkan ini….

Apa yang sedang dia pikirkan saat ini?

Mengapa dengan berani dia…

Omona…

Puluhan pasang mata mulai menatap kami semua, Tiffany-Yuri, GD-Daesung-Taeyang dan Gyuri-TOP….semuanya memandang kami dengan mata terbelalak.

Seungri pun melepaskan bibirnya dariku seraya berkata, “Aku menyukaimu, Patbingsoo.”

Seungri menghampiri si duda genit ini sebelum akhirnya menjatuhkannya dalam sekali pukul. Seungri menarik kerah kemeja Su Ro sebelum menghajar wajahnya sekali lagi.

“Kau akan dikeluarkan dari sekolah itu,” ucap Seungri seraya mengenyahkan Su Ro. “Kau tidak perlu memberikan surat pengunduran diri. Kau akan dikeluarkan secara tidak hormat. Sekarang pergi dari hadapanku!”

“S-Seungri…” gumamku tidak percaya dengan apa yang dia lakukan.

Seungri tidak menjawabku. Dia menghampiri ibuku untuk membantunya berdiri. Su Ro sudah pergi masuk ke dalam rumahnya dengan hidung patah dan berdarah.

“Apa yang telah kau lakukan?” tanyaku dengan suara pelan.

“Sudah kubilang…” ucap Seungri seraya menatap lekat kedua bola mataku. “Aku tidak akan membiarkanmu keluar dari sekolah itu. Dan satu lagi…mulai detik ini aku tidak akan membiarkanmu terluka.”

“Kau benar-benar sudah gila, Lee Seungri,” ucapku seraya menggeleng heran.

“Geurae,” kekeh Seungri. “Aku juga berpikir diriku sudah mulai gila karenamu, Patbingsoo. Bagaimana bisa aku tertarik dengan hagsaeng miskin sepertimu. Tetapi itulah kenyataannya saat ini. Dan aku sendiri tidak bisa membantahnya. Dan aku baru menyadarinya kemarin malam…jika aku tidak buru-buru memilikimu, mungkin kegilaanku akan semakin bertambah.”

“Bilang padaku, sekali saja, kalau kau mencintaiku,” ucap Sunny. “Dan aku akan melepaskan kalian semua.”

Seungri tidak menjawab dan tetap diam sementara dirinya terus dihantam oleh kaki besar kedua namja kekar itu.

“Sekali saja, Seungri-ah…” ucap Sunny yang kini mulai mengeluarkan air mata.

“Mianhae,” ucap Seungri dengan mulut berlumuran darah. “Aku hanya….mencintai….Park Jiyeon….”

“Kenapa kau masih perduli kepadaku?” tanyaku. “Aku sudah menyakitimu sewaktu di Bali. Dan karena itu kau akhirnya pergi meninggalkanku di Bali.”

Seungri tersenyum seraya menjawab, “Sejak kapan aku memutuskan untuk menghindarimu karena ucapan pedasmu padaku? Banyak hal yang tidak bisa aku ceritakan saat ini padamu. Tetapi aku janji akan memberitahumu secepatnya.”

“Mianhae, karena aku kau terluka parah seperti ini,” ucapku seraya mengusap darah di sudut bibir Seungri.

“A-appoyo,” ucap Seungri mengaduh kesakitan.

“M-mianhae,” ucapku kikuk, membuat Seungri tersenyum.

“Aku benar-benar mencintaimu, Patbingsoo,” ucap Seungri tulus.

Aku terdiam, bingung harus menjawab apa.

“Apa kau masih tidak bisa menerimaku?” tanya Seungri seraya mencoba mencari mataku yang mencoba menghindari tatapannya.

“A-aku….” Aku harus menjawab apa?

“Aku akan menunggumu,” ucap Seungri memotong ucapanku. “Sampai akhirnya kau mau membalas cintaku.”

Dan tiba-tiba saja Seungri mendaratkan bibirnya yang berdarah ke arah bibirku. Aku terkejut sesaat, tetapi aku tidak mampu menolak ciumannya. Sepertinya aku harus membiarkannya. Jujur saja, aku merindukan ciumannya.

“Aku akan sangat menyukai kencan hari ini jika kau mau menciumku,” ucap Seungri seraya menunjuk pipinya.

Beberapa saat aku terdiam dengan wajah memerah.

“Ppali,” ucap Seungri tidak sabaran. Mobil kami sedang berhenti karena lampu merah dan Seungri terus mendesakku untuk menciumnya. “Cepat sebelum lampunya berubah hi…” Seungri terdiam saat aku menarik wajahnya ke depanku untuk mencium bibirnya sekilas.

Lampu sudah berubah hijau dan Seungri belum juga menjalankan mobilnya.

“J-jalankan mobilnya,” ucapku gugup.

“N-ne,” ucap Seungri seraya menjalankan kembali mobilnya.

“Kenapa tiba-tiba kau bersikap seperti ini?” tanya Seungri dengan pandangan bertanya-tanya. “Apa aku telah melakukan kesalahan seharian ini? Apa ada kata-kataku yang menyinggung perasaanmu? Ah, soal TOP…sungguh aku hanya bercanda…”

“Aniyo,” ucapku cepat. “Kau tidak melakukan kesalahan apa-apa. Aku merasa bahwa hubungan kita hanya sebuah hubungan yang tidak jelas bagaimana akhirnya.”

“Bicara apa kau ini?” tanya Seungri kini dengan nada marah. “Kaupikir aku sedang main-main sekarang? Aku memutuskan untuk berhubungan denganmu karena aku ingin kaulah yang akan menjadi pendampingku sampai akhir.”

“Tidak mungkin,” ucapku pelan. “Itu tidak akan mungkin.”

“Wae? Kenapa harus tidak mungkin?” tanya Seungri meminta penjelasan.

“Kita berbeda,” jawabku. “Karena perbedaan inilah kita tidak pernah dapat bersatu.”

“Alasanmu terlalu mengada-ada,” ucap Seungri semakin mempererat genggaman tangannya padaku. “Hari ini kau bilang bahwa kau mencintaiku. Lalu semua itu apa artinya kalau pada akhirnya akan seperti? Apa ungkapan cintamu hanya kebohongan?”

Aku terdiam sesaat sebelum menjawab, “Geurae. Aku hanya berbohong. Dan aku berhasil membohongimu.”

Kini Seungri yang terdiam. Matanya menatap mataku dengan pandangan bertanya-tanya.

“Paling tidak dengan cara seperti ini aku telah membalasmu,” ucapku menambahkan.

“Membalasku?” tanya Seungri pelan.

“Jangan kaukira kau telah berhasil mengambil perhatian dan perasaanku,” ucapku. “Kaulah satu-satunya orang yang kubenci didunia ini. Sampai kapanpun perasaanku tidak akan pernah berubah.”

“M-mworago?” Suara Seungri semakin terdengar melemah.

Setelah menepis tangannya dengan kasar, aku berkata, “Jangan pernah bermain-main dengan orang miskin sepertiku. Aku terlalu kuat untuk kau tindas. Aku terlalu licik untuk kau permainkan. Aku membalasmu disaat kau tidak pernah tahu kapan saat itu akan datang. Inilah saatnya, waktuku untuk membalasmu, Lee Seungri.”

Hal terakhir yang berhasil menyesaki pikiran Seungri adalah saat dimana kecelakaan itu terjadi. Rekaman akan masa lalunya kini resmi hadir di dalam ingatannya setelah sekian lama menghilang entah kemana.

“Patbingsoo…” gumam Seungri seraya mengusap dahinya yang berkeringat. “Aku mengingatmu…aku kembali mengingatmu.”

**

Pintu sudah terbuka dan seseorang tiba-tiba mengangkat tubuhku yang sudah tak bertenaga ini ke dalam dekapannya yang hangat. Hangat sekali, seperti dekapan yang pernah Seungri berikan untukku. Dan rasanya benar-benar sama. Bahkan aroma tubuhnya. Aku sampai takjub dengan diriku sendiri ditengah-tengah kekritisan ini aku masih mampu membaui aroma tubuh penolongku ini.

“Gumawo,” desahku pelan.

“Bertahanlah, Jiyeon-ah…” ucap seseorang itu membisiki telingaku yang dingin. “Bertahanlah.”

Kukendurkan pelukan penolongku ini untuk menatapnya, memastikan bahwa orang ini benar-benar TOP. Kubuka mataku dan kudapati sepasang bola mata hitam dengan pandangan penuh resah ke arahku. Bibirku semakin kelu menyadari bahwa penolongku ini bukan TOP. Melainkan…

“Lee Seungri….” desahku masih tak percaya. Bagaimana bisa dia? Dia dihadapanku saat ini. Nyata. Memelukku. Pelukan yang hangat.

Seungri menempelkan kedua tangannya yang hangat di wajahku yang dingin, diikuti bibirnya yang tidak kalah hangat. Aku ingin terkejut seperti biasanya, setiap dirinya menempelkan bibirnya pada bibirku. Tetapi aku tak sanggup melakukan apa-apa selain menerima ciuman hangatnya dalam keadaan diam. Yang aku rasakan saat ini hanya kebahagiaan yang tiba-tiba memudar diiringi gelapnya pandangan mataku.

**

Aku tersadar di atas ranjang rumah sakit. TOP dan yang lainnya berada di sekeliling ranjangku, tetapi yang kucari hanyalah sosok Seungri. Tak lama kemudian pintu terbuka dan sosok yang kucari muncul dengan senyumnya yang menggoda.

“Kita harus keluar, sepertinya,” gumam Daesung seraya beranjak keluar, diikuti TOP dan yang lainnya.

Seungri tidak bicara apa-apa, dia hanya mendaratkan tangannya ke wajahku. Belaian ini, sungguh aku merindukannya.

“Bagaimana bisa kau akhirnya mengingatku?” tanyaku padanya.

“Panjang ceritanya,” jawab Seungri seadanya. Dia lebih memilih diam sambil memperhatikan wajahku daripada banyak bicara. Tiba-tiba dia berbisik, “Mianhae…”

Aku pun menggeleng seraya berkata, “Aku senang kau sudah mengingatku lagi.”

Tiba-tiba air mata Seungri menetes, membuat saat itu juga dilanda kebingungan. Belum pernah aku melihat sosok jagoan ini menangis.

“W-waeyo?” tanyaku seraya berusaha bangun dari ranjangku, tetapi Seungri menahan tubuhku agar tetap dalam posisi tidur.

“Aniyo,” jawab Seungri seraya menghapus asal air matanya.

“Kau menangis dan hal ini tidak pernah terjadi,” ucapku membantah.

Seungri pun tersenyum sebelum menjawab, “Perlu kau tahu, hanya karena dirimu…aku sering menangis.”

“Benarkah?” tanyaku tidak percaya.

“Setiap aku memikirkan rasanya kehilangan dirimu, entah bagaimana caranya, air mata ini mulai menetes,” ucap Seungri. “Disaat aku tidak mengingatmu, masa-masa itu terasa begitu abu-abu buatku. Aku seperti tidak pernah merasakan cinta. Maafkan aku…karena dengan lancangnya aku telah melupakanmu.”

“Aku harus yang minta maaf,” ucapku pelan. “Kecan terakhir kita waktu itu berakhir buruk. Percayalah padaku, aku tidak sungguh-sungguh mengatakannya padamu. Aku hanya…”

“Didesak oleh ibuku yang tua itu?” tebak Seungri memotong ucapanku. “Aku mengerti, Jiyeon-ah. Mulai saat ini aku mengerti, jika sikapmu berubah, itu karena ibuku…ibuku yang berusaha memisahkan kita.”

“Aku mencintaimu…” ucapku tanpa takut-takut seperti dulu. “Cintaku nyata untukmu.”

Seungri tersenyum, seakan-akan tidak mampu menahan rasa bahagianya saat ini. Seungri pun mengangkat sedikit tubuhnya untuk menciumku, ciuman yang jujur saja sangat aku rindukan.

**

“Taeyeon-ah!” bentak sang ibu di hadapan Direktur Han. “Bicara apa kamu ini?”

“Mianhae,” ucap Taeyeon seraya mengusap air matanya. “Aku benar-benar tidak bisa menikah dengan Seungri. Aku merasa berdosa, Eomma.”

“Aku tidak mengerti, mengapa kau memutuskan semua ini dengan tiba-tiba?” tanya Direktur Han. “Apa Seungri telah menyakitimu? Kau bisa bilang padaku dan aku akan bereskan anak itu.”

Dengan cepat Taeyeon menggeleng seraya menjawab, “Tidak perlu. Aku…” Air mata Taeyeon menetes lagi. “…aku nyaris membunuh Park Jiyeon.”

Sang ibu maupun Direktur Han spontan terkejut mendengar pengakuan Taeyeon.

“M-mwo?” tanya sang ibu seraya memegang dadanya.

“Mianhae, Eomma,” isak Taeyeon seraya memeluk sang ibu. “Sajang-nim, aku mencintai Seungri. Tetapi aku tidak bisa merusak cinta yang Seungri rasakan kepada Park Jiyeon. Aku sudah berusaha agar Seungri melihatku, tetapi aku gagal. Aku justru merasa seperti penjahat yang penuh ambisi untuk memilikinya. Benar kata Jiyeon, yang aku rasakan ini bukanlah cinta, tetapi ambisi.”

“T-Taeyeon-ah…kita bisa luruskan ini pelan-pelan,” ucap Direktur Han mencoba menenangkan Taeyeon.

“Park Jiyeon yeoja baik, bahkan dia terlalu baik. Kupikir dia akan melaporkanku ke polisi setelah aku nyaris membekukannya di dalam ruangan pendingin itu. Tetapi dia tidak melakukannya. Sudah dua hari Jiyeon sadar setelah dia pingsan dan di bawa ke rumah sakit, tetapi belum ada tanda-tanda bahwa dia akan melaporkanku ke polisi. Seungri pun tidak bicara apa-apa padaku. Keadaan ini membuatku semakin merasa bersalah.”

“Taeyeon-ah, kenapa kau bisa melakukan hal seperti itu?” tanya sang ibu berusaha menenangkan diri.

“Mianhae, Eomma,” ucap Taeyeon seraya memeluk sang ibu kembali. “Aku telah gagal menjadi anak terbaikmu. Dan semua itu karena cinta. Cinta yang sebetulnya bukan hakku.”

Direktur Han tidak bisa berkata apa-apa. Dia hanya terdiam di tempatnya duduk saat ini.

**

 Aku sudah kembali ke Seoul dan ke sekolah. Tubuhku sudah kembali pulih seutuhnya. Victoria benar-benar tidak menyangka saat tahu Taeyeon berani melakukan hal seperti itu kepadaku.

“Itu namanya percobaan pembunuhan!” ucap Victoria seraya meremas kertas yang ada di tangannya.

Toko kuenya siang ini sedang sepi, entah karena apa. Biasanya jika sepi begini, Victoria akan mengomel menyadari omzet bulan ini pasti akan jauh lebih kecil daripada bulan sebelumnya. Tetapi sepertinya siang ini dia tidak mempermasalahkan hal itu, dia justru menikmatinya asalkan dia bisa tahu semuanya tentang kejadian di Jeju.

“Lalu kau hanya diam saja?” tanya Taeyeon. “Kau tidak melaporkannya ke…”

“Percuma saja jika Patbingsoo melaporkannya ke polisi,” sela TOP yang sudah berdiri diambang pintu masuk toko, entah sejak kapan dia berdiri disana. “Dia meninggalkan Korea pagi ini.”

“Aku saja yang akan menjelaskannya, TOP.” Seungri muncul di belakang TOP dan langsung menghampiriku sebelum mengambil tanganku. “Kau tidak keberatan jika karyawan-mu ini pulang lebih cepat hari ini?” tanya Seungri pada Victoria sebelum membawaku pergi.

“Tentu tidak,” jawab Victoria. “Lagipula sepertinya hari ini tidak akan ada pembeli yang datang.”

“Aku pembelimu hari ini,” ucap TOP seraya membungkuk, memperhatikan isi dari rak kaca kue Victoria. “Kue raspberry itu sepertinya enak.”

Sementara TOP sedang asik memilih kue, aku sudah berada satu mobil dengan Seungri menuju…entah menuju kemana. Setengah jam kemudian kami tiba di sebuah tempat yang sudah tidak asing bagiku, walaupun baru satu kali aku mengunjunginya, itupun karena dipaksa dengan adegan penculikan.

“Mau apa kau membawaku ke rumahmu?” tanyaku langsung menolak keluar dari mobil.

“Waeyo?” tanya Seungri. “Kau takut pada Direktur Han?”

“Aniyo…hanya saja…”

“Aku akan melindungimu,” sela Seungri seraya menarik tubuhku keluar dari mobil. “Percayalah padaku,” tambah Seungri saat melihat ekspresi wajahku yang sangat cemas. Betul, aku memang sangat cemas sekarang, menyadari sikap seperti apa yang akan Direktur Han tunjukkan padaku setelah perjodohan anaknya dengan rekannya yang kaya itu batal total.

Aku terlalu asik berpikir tentang keresahanku, sampai tidak menyadari bahwa aku sudah tiba di dalam ruangan besar yang sepertinya ruang tamu rumah ini. Seungri pergi dan kembali bersama dengan seseorang di sebelahnya. Wajah Direktur Han kini terpampang jelas di hadapanku, entah sejak kapan terakhir kali aku melihatnya. Keangkuhannya masih ada di sana, walaupun tidak sekentara dulu. Wajar saja, bersikap sungkan kepada orang miskin macam aku sudah menjadi kegiatan rutin yang wajib ada di kamus mereka.

“Bisa tinggalkan aku dengannya?” pinta Direktur Han pada Seungri.

“Aku sudah berjanji akan menemaninya,” ucap Seungri yang masih setia duduk di sebelahku.

“Aku bukan monster jahat yang hobi mencekik kekasih anakku sendiri,” ucap Direktur Han berusaha meyakinkan Seungri bahwa sang ibu mungkin hanya akan sedikit mencekikku, hanya sedikit.

“Aku tidak apa-apa,” ucapku akhirnya. Aku tidak mau ada perseteruan bahkan sebelum Direktur Han sempat menyebut namaku.

Seungri pun akhirnya melepaskan tanganku setelah aku memintanya dengan nada meyakinkan. Kini tinggal aku dengan Direktur Han, hanya berdua di ruangan besar ini. Semoga aku siap menerima semua caci maki dari orang kaya ini. Semoga.

**

Seungri menahan tanganku saat aku bergegas keluar dari pintu besar rumahnya setelah percakapanku dengan Direktur Han selesai.

“Waeyo?” tanya Seungri dengan wajah bingung. “Dia menyakitimu? Ibuku yang tua ini bicara kasar padamu?” Suara Seungri terdengar menggebu-gebu.

“Aniyo,” jawabku berusaha menenangkannya. “Aku hanya perlu pulang cepat-cepat sekarang.”

“Kalau begitu biar kuantar,” ucap Seungri menawarkan.

“Tidak perlu,” ucapku menolak dengan cepat. “Ada baiknya kau temui ibumu saja sekarang.”

“Tetapi…”

“Aku pulang dulu,” ucapku tanpa sempat menjelaskan sesuatu padanya.

Kutinggalkan Seungri yang masih kebingungan dengan sikapku ini. Sampai akhirnya dia kembali masuk untuk menemui ibunya.

“Apa yang sudah kau katakan padanya?” tanya Seungri dengan suara keras. “Bukankah kau yang menginginkan pertemuan ini? Bukankah kau sudah berjanji padaku untuk tidak menyakitinya lagi?!”

Direktur Han tidak menjawab apa-apa, dia justru sibuk mengatur jadwalnya bersama dengannya asistennya.

“Siapkan semuanya untuk rapat malam ini,” ucap Direktur Han pada asistennya sebelum beranjak dari kursi kebesarannya lalu berjalan menuju pintu keluar ruang kerjanya.

“Mau kemana kau?” tanya Seungri otomatis menahan langkah sang ibu. “Aku sedang bicara padamu.”

Direktur Han akhirnya menatap kedua mata Seungri yang kini sedang memancarkan aura kebencian pada dirinya.

“Sebegitu bencinya kah kau kepada ibumu ini? Sehingga untuk memanggilku ‘Eomma’ saja kau tidak mau?” tanya Direktur Han.

“Apa kau masih pantas menjadi ibuku?” tanya Seungri seakan-akan sudah tidak perduli dengan apa yang disebut kesopanan itu.

Direktur Han terlihat agak terkejut saat mendengar ucapan Seungri.

“Awalnya kupikir sikapmu ini sangat wajar untuk disebut seorang ibu,” ucap Seungri. “Bahkan aku mampu menghitung berapa kali aku makan satu meja denganmu. Berapa kali kau menanyakan kabarku setelah berbulan-bulan menghilang hanya karena sibuk mengurusi pekerjaanmu itu. Kakiku patah, aku hilang ingatan…rasanya semua itu hal sepele yang tidak perlu kau khawatirkan. Dan aku anggap semua itu wajar. Sangat wajar.” Seungri terdiam sebentar seraya menatap wajah sang ibu yang mulai berubah. “Tetapi setelah aku melihat ibu dari orang lain, saat aku melihat bagaimana bentuk kasih sayang dan kepedulian ibu dari Park Jiyeon, yeoja miskin yang selalu kau rendahkan itu, kini aku sadar bahwa kau tidak pantas disebut seorang ibu. Bahkan para pembantu itu lebih peduli kepadaku…”

Direktur Han terdiam, terlihat jelas bingung mau menjawab apa.

“Dulu aku sama sepertimu,” ucap Seungri. “Aku bertindak seenaknya pada orang-orang dibawahku. Aku menindas teman-temanku hanya karena aku merasa menguasai sekolah. Tetapi Park Jiyeon menyadarkanku, semua itu bukan kekayaanku. Semua itu kekayaanmu. Harta yang selalu aku pikirkan selama ini. Kekuasaan dan penindasan yang selalu menjadi jati diriku. Berkat Park Jiyeon, semua hal buruk itu perlahan menghilang dariku. Dan kau tahu, apa yang aku pikirkan sekarang ini? Cinta. Kasih sayang. Kepedulian. Pengorbanan.”

Direktur Han resmi terkejut mendengar semua ucapan Seungri. Jujur saja Direktur Han merasa takjub dengan berubah positif yang terjadi pada diri Seungri, tetapi perubahan itu bukan terjadi karenanya.

“Untuk apa kau memendam kekayaanmu yang tidak pernah habis itu?” tanya Seungri, suaranya mulai memelan. “Untuk apa kau menjadikan hartamu sebagai alat untuk menindas orang lain? Mungkin kau puas dan bahagia setelah melakukan itu semua, tetapi percaya padaku…semua itu hanya sia-sia. Dan hanya akan berakhir kemalangan untuk dirimu sendiri. Aku sudah merasakannya. Saat dimana aku merasa harus memiliki Park Jiyeon, tetapi dia lebih memilih TOP hanya karena kepribadiannya jauh lebih baik daripada aku. Dan aku juga merasakannya ketika aku berusaha menjadi apa yang Jiyeon inginkan, aku berusaha merubahnya…dan Jiyeon kini menjadi milikku.”

Direktur Han masih terdiam, bahkan aura kepongahannya seakan-akan luntur dari wajahnya.

“Apa kau tega mengambil seorang yeoja yang aku cintai yang sudah berhasil merubah sikap burukku ini?” tanya Seungri. “Kau tega?”

Direktur Han masih belum menemukan kata-kata untuk menjawab pertanyaan Seungri. Yang terjadi justru air mata Direktur Han yang menetes, membuat Seungri agak terkejut karena jujur saja dirinya belum pernah melihat sang ibu mengeluarkan air mata seperti ini.

Tiba-tiba Seungri memeluk tubuh sang ibu seraya berkata, “Aku mencintaimu. Lebih dari apapun yang aku miliki. Aku sangat berterima kasih karena kau yang telah melahirkanku, sehingga aku tidak pernah merasakan kekurangan. Tetapi sudah saatnya aku berpikir dari sudut pandang orang lain. Sudah waktunya aku berhenti memikirkan diriku sendiri. Kekayaan kita tidak seharusnya menjadi milik kita. Kekayaan kita bukan perisai, bukan alat untuk mengangkat harkat dan martabat kita. Kekayaan kita justru sesuatu yang bisa menjadikan kita dicintai oleh banyak orang. Cinta yang tulus. Dan percayalah, Park Jiyeon tulus memberikan cintanya padaku bukan karena hartamu. Dia mencintaiku karena aku mencintainya. Dia mencintaiku karena tahu bahwa cintaku nyata untuknya.”

“Aku…” Direktur Han mulai bersuara. “…harus pergi sekarang. Dan akan kembali tiga bulan kemudian. Seperti katamu, aku memang terlalu sibuk melakukan aktivitas yang berhubungan dengan pekerjaanku. Terima kasih karena sudah bicara panjang lebar padaku.”

Seungri perlahan melepaskan tangan sang ibu yang kini sudah pergi menuju pintu keluar. Entahlah, apakah ucapannya tadi mampu meresapi hati sang ibu.

**

Malam harinya…

Seungri sudah menungguku di taman dekat rumahku malam ini. Katanya ada hal serius yang ingin dia bicarakan berdua denganku.

“Kita pergi dari sini,” pinta Seungri saat aku sudah tiba di hadapannya, membuatku otomatis menatap terkejut. “Kita pergi sejauh mungkin. Aku yakin ibuku yang tua itu tidak selalu bisa menemukan kita. Kita cari negara yang jauh dari sini dan kita buat kehidupan baru.”

“Apa yang sedang kau pikirkan?” tanyaku tidak mengerti dengan niatnya yang terdengar tidak masuk akal di telingaku.

“Aku mencintaimu dan aku sudah tidak bisa menemukan cara untuk membuat Direktur itu berubah pikiran,” jawab Seungri. “Kekayaan memang sudah menumpulkan hati nuraninya.”

“Seungri-ah, kau tidak mengerti apa-apa,” ucapku mencoba menjelaskan.

“Kau yang tidak mengerti,” ucap Seungri seraya memegang kedua bahuku. “Ibuku mampu melakukan apa saja untuk memisahkan kita berdua. Tetapi jika kita pergi menjauh dari sini…”

“Lee Seungri, dengarkan aku dulu…”

“Kau yang harus dengarkan aku, Patbingsoo!” ucap Seungri agak keras.

“Dia merestui hubungan kita!” selaku keukeh untuk tetap bicara, membuat Seungri otomatis terdiam. “Dia menerimaku.”

“M-mwo?” tanya Seungri tidak percaya.

“Kau memang selalu bertindak gegabah berdasarkan pemikiranmu sendiri,” ucapku.

“K-kau tidak menjelaskan apa-apa padaku siang ini,” ucap Seungri merasa bersalah.

“Aku bukannya tidak ingin menjelaskan, tetapi aku belum sempat. Ibuku butuh membawa Ji Na untuk pemeriksaan rutin ke rumah sakit, itu yang membuatku terburu-buru siang tadi,” ucapku menjelaskan.

“J-jadi…ibu tua itu?” tanya Seungri bingung mau mengatakan apa.

“Ibumu tidak tua,” ucapku meralat ucapannya. “Bahkan dia terlihat lebih muda daripada ibuku.”

“Ibuku tetap tua di mataku,” ucap Seungri keukeh akan pendapatnya. “Jadi dia benar-benar sudah merestui hubungan kita?”

Aku mengangguk seraya tersenyum.

“Aku benar-benar tidak percaya…bagaimana mungkin…” ucap Seungri seraya menarikku kedalam dekapannya yang hangat. “Aku benar-benar bahagia…jeongmal…”

**

Di dalam pesawat pribadi keluarga Lee…

“Awalnya kupikir sikapmu ini sangat wajar untuk disebut seorang ibu,” ucap Seungri. “Bahkan aku mampu menghitung berapa kali aku makan satu meja denganmu. Berapa kali kau menanyakan kabarku setelah berbulan-bulan menghilang hanya karena sibuk mengurusi pekerjaanmu itu. Kakiku patah, aku hilang ingatan…rasanya semua itu hal sepele yang tidak perlu kau khawatirkan. Dan aku anggap semua itu wajar. Sangat wajar.” Seungri terdiam sebentar seraya menatap wajah sang ibu yang mulai berubah. “Tetapi setelah aku melihat ibu dari anak orang lain, saat aku melihat bagaimana bentuk kasih sayang dan kepedulian ibu dari Park Jiyeon, yeoja miskin yang selalu kau rendahkan itu, kini aku sadar bahwa kau tidak pantas disebut seorang ibu. Bahkan para pembantu itu lebih peduli kepadaku…”

“Dulu aku sama sepertimu,” ucap Seungri. “Aku bertindak seenaknya pada orang-orang dibawahku. Aku menindas teman-temanku hanya karena aku merasa menguasai sekolah. Tetapi Park Jiyeon menyadarkanku, semua itu bukan kekayaanku. Semua itu kekayaanmu. Harta yang selalu aku pikirkan selama ini. Kekuasaan dan penindasan yang selalu menjadi jati diriku. Berkat Park Jiyeon, semua hal buruk itu perlahan menghilang dariku. Dan kau tahu, apa yang aku pikirkan sekarang ini? Cinta. Kasih sayang. Kepedulian. Pengorbanan.”

“Untuk apa kau memendam kekayaanmu yang tidak pernah habis itu?” tanya Seungri, suaranya mulai memelan. “Untuk apa kau menjadikan hartamu sebagai alat untuk menindas orang lain? Mungkin kau puas dan bahagia setelah melakukan itu semua, tetapi percaya padaku…semua itu hanya sia-sia. Dan hanya akan berakhir kemalangan untuk dirimu sendiri. Aku sudah merasakannya. Saat dimana aku merasa harus memiliki Park Jiyeon, tetapi dia lebih memilih TOP hanya karena kepribadiannya jauh lebih baik daripada aku. Dan aku juga merasakannya ketika aku berusaha menjadi apa yang Jiyeon inginkan, aku berusaha merubahnya…dan Jiyeon kini menjadi milikku.”

“Aku mencintaimu. Lebih dari apapun yang aku miliki. Aku sangat berterima kasih karena kau yang telah melahirkanku, sehingga aku tidak pernah merasakan kekurangan. Tetapi sudah saatnya aku berpikir dari sudut pandang orang lain. Sudah waktunya aku berhenti memikirkan diriku sendiri. Kekayaan kita tidak seharusnya menjadi milik kita. Kekayaan kita bukan perisai, bukan alat untuk mengangkat harkat dan martabat kita. Kekayaan kita justru sesuatu yang bisa menjadikan kita dicintai oleh banyak orang. Cinta yang tulus. Dan percayalah, Park Jiyeon tulus memberikan cintanya padaku bukan karena hartamu. Dia mencintaiku karena aku mencintainya. Dia mencintaiku tahu bahwa cintaku nyata untuknya.”

Sekali lagi air mata Direktur Han menetes saat mengingat ucapan sang anak beberapa jam lalu di rumahnya.

“Kau sudah pintar bicara, pintar menasihati ibumu ini,” ucap Direktur Han seraya mengusap air matanya. “Kau berubah banyak. Dan itu terjadi bukan karena ibumu ini. Tetapi karena yeoja itu…”

Dia pun mengingat kembali percakapan dirinya dengan Park Jiyeon.

#flashback#

“Bisa tinggalkan aku dengannya?” pinta Direktur Han pada Seungri.

“Aku sudah berjanji akan menemaninya,” ucap Seungri yang masih setia duduk di sebelahku.

“Aku bukan monster jahat yang hobi mencekik kekasih anakku sendiri,” ucap Direktur Han berusaha meyakinkan Seungri bahwa sang ibu mungkin hanya akan sedikit mencekikku, hanya sedikit.

“Aku tidak apa-apa,” ucapku akhirnya. Aku tidak mau ada perseteruan bahkan sebelum Direktur Han sempat menyebut namaku.

Seungri pun akhirnya melepaskan tanganku setelah aku memintanya dengan nada meyakinkan. Kini tinggal aku dengan Direktur Han, hanya berdua di ruangan besar ini.

“Kau pasti senang mendengar berita batalnya perjodohan anakku dengan Taeyeon,” ucap Direktur Han. “Peluangmu untuk mendapatkan anakku terbuka lagi, walaupun hanya sedikit.”

Aku masih diam, belum berani bicara apa-apa.

“Kau mau tahu mengapa aku begitu melarangmu untuk mendekati Seungri?” tanya Direktur Han.

Aku mendongak, berusaha menatap matanya yang bermanik hitam dan tajam.

“Aku tidak menginginkan kekayaanmu,” ucapku akhirnya bersuara.

“Kau pikir aku akan dengan mudahnya percaya?” tanya Direktur Han.

“Aku tidak berharap kau mempercayaiku,” jawabku.

“Lalu kenapa kau masih berusaha untuk mendapatkan anakku?” tanya Direktur Han untuk yang kesekian kalinya. Aku merasa seperti sedang diinterogasi layaknya penjahat.

“Aku tidak berusaha mendapatkannya,” ucapku berkata jujur. “Aku bahkan pergi menjauh darinya, paling tidak sampai acara pernikahan Seungri dengan Taeyeon berhasil diselenggarakan.”

“Aku tahu soal itu. Kau pergi ke Jeju dan TOP beserta teman-teman Seungri lainnya yang idiot itu berusaha membawa Seungri ke sana, ketempatmu berada. Dan Taeyeon ada…”

“Dan berusaha membekukanku di dalam ruangan dingin tanpa celah keluar sedikitpun,” selaku menambahkan.

“Sekarang kau ingin berusaha terlihat benar setelah Taeyeon nyaris membunuhmu?” tanya Direktur Han.

“Kau akan selalu menyalahkanku bahkan setelah kau menyadari bahwa aku yang nyaris terbunuh saat itu,” ucapku mulai mencoba membela diri. “Dan semua itu aku dapatkan karena aku miskin.”

“Kau tahu baik akan hal itu,” ucap Direktur Han seraya mengambil sesuatu dari dalam tasnya. “Kau ambil ini dan kau jauhi anakku.”

Lagi-lagi Direktur Han mencoba menyogokku dengan kekayaan dan kekuasaannya.

“Aku masih hidup saat ini karena Seungri yang menolongku,” ucapku tanpa menyentuh sedikitpun amplop tebal berwarna coklat di hadapanku saat ini. “Dan itu aku anggap sebagai hutang nyawa dan aku wajib membalas budi padanya, atau mungkin kepadamu. Maaf, aku tidak bisa menerima uang itu. Dan aku akan menjauhi anakmu dengan sukarela.”

“Seharusnya kau melakukan hal itu dari dulu,” ucap Direktur Han.

“Aku sudah melakukannya dan apa yang terjadi? Seungri nyaris terbunuh pada kecelakaan itu,” ucapku. “Aku meninggalkannya dengan kata-kata yang sangat menyakiti hatinya. Dan kecelakaan yang tidak pernah siapapun inginkan itu terjadi. Bahkan aku berharap Seungri akan selalu baik-baik saja setelah aku meninggalkannya. Tetapi semuanya terjadi begitu saja…” Air mataku mulai menetes. “Dan dia melupakanku, sama seperti apa yang kau inginkan.  Dia kembali seperti Seungri yang dulu, yang selalu berpikir bahwa aku mampu digilas dan dikeluarkan dari sekolah hanya karena aku miskin dan tidak berharga di matanya.”

Direktur Han belum menunjukkan tanda-tanda akan membalas ucapanku.

“Bukan aku yang mencintainya,” ucapku menambahkan. “Aku justru membencinya. Hari-hariku gelap dan suram saat namaku menjadi salah satu orang yang ingin Seungri lempar jauh-jauh dari kehidupan sekolahnya. Tetapi aku tetap bertahan, dan bukan karena aku ingin mengambil simpatiknya hingga akhirnya dia mencintaiku. Aku bertahan untuk ibu dan adikku, satu-satunya keluarga yang tersisa yang aku miliki.”

Kuusap wajahku yang sudah sangat basah.

“Maaf karena Seungri mencintaiku dan aku berhasil membalas cintanya. Aku benar-benar minta maaf,” ucapku tulus. “Untuk yang kedua kalinya…aku akan berusaha menjauhi Seungri. Kali ini aku akan melakukannya dengan lebih hati-hati. Bahkan tanpa harus menyakiti perasaannya lebih dulu. Tetapi tolong…jangan katakan padanya bahwa aku melakukan hal ini karena aku membencinya. Justru aku membenci diriku sendiri, mengapa aku bisa membalas cintanya. Seungri…dia pernah berkata padaku bahwa dia…”

“Aku benar-benar bersyukur bisa mengenalmu,” ucap Seungri seraya menatap kedua mataku. “Jika tidak, mungkin sampai saat ini aku akan menjadi orang yang paling kesepian.”

“…bahkan kehadiran sahabat-sahabatnya tidak mampu menutupi rasa kesepiannya,” ucapku. “Tidak ada kehangatan keluarga di meja makan…” sambungku mengutip kata-kata yang pernah Seungri katakan padaku. “Kehadiran seorang ibu dan kepedulian yang Seungri harapkan darimu, itu yang hilang dari kehidupannya. Dan aku tidak menyangka dia begitu bahagia hanya karena aku mengajaknya kencan ala rakyat jelata.”

Direktur Han masih diam, seakan-akan kehilangan kata untuk menjatuhkanku.

“Dia suka sekali makan bersama dalam satu meja bersama dengan orang yang dia cintai,” ucapku memberitahu. “Dia akan makan sebanyak-banyaknya. Semuanya dia suka. Ramen. Telur gulung. Kimbab. Semuanya…asalkan bersama denganmu. Percayalah, kehadiranmu sebagai sosok seorang ibu yang paling dia harapkan. Bahkan setelah aku meninggalkannya nanti, mungkin akan terasa sedikit lebih baik jika kau mau terus bersamanya.”

“Aku tidak menyangka…” Direktur Han akhirnya buka suara. “…kau lebih mengenal Seungri daripada aku. Aku ibunya…” Direktur Han segera menutup bibirnya setelah mengucapkan hal itu. Ibu? Apa masih pantas dia disebut seorang ibu? “Kau berhasil meninju wajahku akan kenyataan ini. Aku bahkan tidak tahu apa yang anakku senangi. Aku tidak tahu makanan apa yang dapat membuatnya begitu lahap. Aku tidak pernah menggunakan tanganku ini untuk membuatkannya makanan.”

“Seungri pasti sangat menyukainya, jika kau mau memasakkan sesuatu untuknya,” ucapku. “Apa saja. Aku akan beritahu apa saja tentang kesukaan Seungri padamu. Jadi…setelah nantinya aku berhasil meninggalkannya, dia tidak akan terlalu merasa kesepian.”

Tiba-tiba Direktur Han menatap kedua mataku seraya bertanya, “Mengapa kau bisa mencintainya jika alasannya bukan karena hartaku?”

“Dia tampan,” jawabku apa adanya. “Dia kesepian. Dan dia mencintaku. Ketiga hal itu yang membuatku sadar bahwa membalas cintanya tidak pernah salah, walaupun akan sangat beresiko.”

“Resiko?” tanya Direktur Han.

“Kau resiko itu, Sajang-nim,” jawabku membuat Direktur Han agak sedikit terkejut. “Kau satu-satunya orang yang dapat mengambil keputusan apakah aku dan Seungri berhak bersatu atau tidak. Dan dari awal aku sudah tahu bagaimana bentuk dari keputusanmu itu. Tidak salah memang…jika kau menginginkan yeoja yang terbaik untuk anakmu sendiri. Seungri tampan dan lebih baik jika bersanding dengan yeoja cantik untuk menyetarakannya. Dia kaya dan ada baiknya memang dia mendapatkan seseorang yang berstrata sama dengannya.”

“Dan dia kesepian,” ucap Direktur Han melengkapi. “Aku bahkan sadar bahwa aku tidak mampu mengambil rasa kesepian itu dari dirinya. Dia memang butuh seseorang yang bisa menemaninya disaat aku harus pergi berbulan-bulan demi pekerjaanku.” Tiba-tiba Direktur Han merasakan ada yang aneh pada dirinya. Tiba-tiba dia begitu yakin bahwa satu-satunya yang dapat memecahkan  rasa kesepian Seungri hanyalah… “Kau mampu melakukannya, Park Jiyeon. Aku tidak suka mengakuinya. Tetapi kau mampu membuat anakku merasa lebih baik disaat aku sudah membuat perasaannya berantakan. Aku iri padamu karena aku tidak bisa menjadi sepertimu.”

“Seungri sangat mencintaimu,” ucapku meyakinkan.

“Tetapi dia membutuhkanmu,” ucap Direktur Han melengkapi. “Kau memang miskin, tetapi Seungri sudah punya semuanya dan tidak perlu mengharapkan apa-apa lagi darimu kecuali kehadiranmu disisinya. Dan aku…setelah aku berhasil mendapatkan julukan sebagai ibu yang buruk, kini aku resmi menjadi manusia yang tidak punya hati layaknya monster karena berusaha menjauhi anakku darimu.”

Aku terdiam, berharap akan ada sesuatu perubahan keputusan yang Direktur Han katakan.

Tiba-tiba Direktur Han beranjak dari tempat duduknya lalu menghampiriku.

“Seharusnya aku lebih memikirkan kebahagiaan anakku,” ucap Direktur Han. “Dan seharusnya aku mengakui bahwa kebahagiaan itu sebagian besar berasal dari dirimu.”

“Aku…”

“Kau tidak perlu menjauhi anakku,” ucap Direktur Han tiba-tiba, membuatku otomatis terdiam. “Aku akan selalu menjadi orang yang paling sering meninggalkan Seungri. Bahkan untuk memulai perubahan agar dia mau menganggapku sebagai ibunya lagi saja sepertinya sudah tidak ada kesempatan. Aku pun tidak bisa menyalahkan pekerjaanku. Almarhum suamiku meninggalkan semua perusahaan padaku dan aku tidak bisa menelantarkannya. Aku mencintai suamiku, sangat mencintainya. Tetapi kurasa rasa cinta kalian berdua mampu mengalahi besar cintaku pada suamiku.”

Tiba-tiba dia memanggil asistennya untuk mendapatkan jadwalnya hari ini.

“Aku akan meninggalkan Seungri lagi ke Paris, untuk waktu yang cukup lama,” ucap Direktur Han. “Kuharap dia tidak akan marah padaku.”

“Dia tidak akan mungkin memarahimu,” ucapku meyakinkan.

“Kau begitu yakin,” ucap Direktur Han. “Dan semoga keyakinanmu itu benar adanya.”

#flashback end#

“Kuharap keputusanku ini benar,” desah Direktur Han.

“Kurasa keputusan tadi adalah keputusan yang paling benar yang pernah kau ambil, Sajang-nim,” ucap sang asisten yang duduk di sebelahnya.

Direktur Han hanya menunjukkan senyum singkatnya sebelum kembali tenggelam di dalam tumpukan dokumen di depannya.

**

“Yaa!” teriak seseorang saat aku hendak pulang sekolah.

Seungri beserta TOP dan yang lainnya sudah menungguku di depan pintu gerbang.

“Patbingsoo!” teriak Seungri. “Bisa-bisanya kau meninggalkanku untuk pulang lebih dulu? Kau berani melakukan hal itu padaku? Pada Lee Seungri, satu-satunya namja terkaya di sekolah ini?”

“Yaa!” balasku tanpa menunjukkan rasa takut sedikitpun. “Aku tidak kenal siapa namja terkaya di sekolah ini. Kuanggap semua hagsaeng disekolah ini sama. Tentang dirimu…yang kutahu kau adalah anak dari Direktur Han yang selalu membutuhkan semangkuk patbingsoo dingin untuk mendinginkan otakmu yang seringnya selalu berpikir gila dan gegabah.”

Seungri berusaha untuk tidak tersenyum saat mendengar ucapanku. Tiba-tiba dia menghampiriku dan dengan cepat dia menggendongku, meletakkan tubuhku melintang di bahunya layaknya sedang memanggul babi.

“Micheosseo?” tanyaku seraya memukul bahunya.

“Kau harus temani aku hari ini seharian penuh,” ucap Seungri seraya berjalan santai ke arah mobilnya, sementara TOP dan yang lainnya mengikuti kami di belakang.

“Lagi-lagi kau bertindak gegabah, Lee Seungri,” ucapku dengan nada sebal yang dibuat-buat.

“Aku tidak peduli,” ucap Seungri santai seraya memasukkanku ke dalam mobilnya.

“Yaa…kau tahu aku paling tidak suka dengan orang yang…” Mulutku sudah terkunci oleh mulutnya. Aku terdiam. Selalu terdiam, dengan perasaan aneh yang tiba-tiba menjalari seluruh syaraf di dalam tubuhku ini setiap Seungri mendaratkan kecupan atau ciuman hangatnya. “Aku memang paling jago mendisiplinkan bibirmu ini,” ucap Seungri seraya mencium hidungku sebelum masuk ke dalam mobil dan duduk di sebelahku.

Aku hanya mampu tersenyum, mengingat bahwa resiko berhubungan dengan namja menyebalkan macam Seungri sepertinya sudah tidak perlu aku khawatirkan lagi.

THE END

Note : Terima kasih, readers, sudah menyumbangkan waktu kalian untuk mambaca fanfict geje ini. Terima kasih juga untuk komentar dan likenya😀

29 responses to “[CHAPTER] Boys of Bigbang – Part 13 (FINAL)

  1. Yeayy.. FFnya happy ending, sweet bgt endingnya kak^^ FF fav. aku nih, ditunggu ya ka icha FF lainnya ttg Bigbang & Jiyeon lagi.. jeballll…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s