[CHAPTER – PART 1] THE SNIPER

the-sniper2® Writer Farah Vida Karina

Poster by ImJustAGILRS @ Poster Channel

Tittle: THE SNIPER – Part 1 | Author: farvidkar | Genre: Action, Politic, Romance | Cast: L Kim / Kim Myung Soo, Park Jiyeon, Bae Suzy | Other cast: Jangan manja, cari sendiri yah | Rating: PG-17

A/N: Asli buatan sendiri dengan imajinasi yang datang sendirinya. Tidak ada maksud lain dengan karakter yang dibuat. Fanfiction ini telah dipublish pada blog pribadiku. Big note untuk readers, perlu pemahaman ekstra. Jika sedang mengalami sakit, kepala, stress and etc, jangan memaksakan diri.

 

 

Apakah terlalu menyakitkan untuk melakukan hal itu?

Aku bahkan bisa menahan rasa sakit yang tak kutunjukkan padamu

Aku tak menyangka kau melakukan hal itu padaku

Mungkinkan selama ini yang dikatakannya memang benar?

 

Setelah peluru ketiga yang kuarahkan kepadamu telah bersarang dengan sempurna, aku akan mengubur jasadmu dengan pemakaman yang kau inginkan

 

 

Pyongyang, North Korea

Dentuman jarum jam analog bergema di ruangan yang bercahayakan minim ini. Tengah malam yang bagi rakyat biasa adalah saat yang tepat untuk beristirahat, sangat berbanding terbalik dengan hidupku. Rutinitas seperti inilah yang kujalani sebagai salah satu bagian dari prajurit elit Korea Utara. Di tempatkan sebagai tangan kanan presiden membuatku dapat memahami seperti apa tanggungan ayahku sebenarnya. Terlahir sebagai anak kandung dari seorang panglima jendral di Negara yang selalu dilanda konflik ini membuatku terlatih dengan sendirinya. Sikap kewaspadaan menerima pendatang dari Negara tetangga selalu melekat pada diriku. Keuletan merupakan modal utama untuk mendapatkan posisi yang kutempati sekarang. Bukan karena orangtuaku adalah pejabat yang berpengaruh, tetapi didikan yang kuterimalah yang menjadikanku seperti ini.

“Kalian tahu seberapa kejamnya hidup ini? Penghianatanlah yang paling menyakitkan” ucap seorang pria bermata sipit, dengan kaus V neck hitam yang membelah rendah belahan dadanya dipadukan dengan celana training hitam membuat pria yang bermarga Kim itu terlihat misterius. Rambutnya yang tak tertata rapi malah membuat karisma pria itu terpancar sempurna. Genggaman tangannya pada Heckler & Koch USP, yaitu pistol asal Jerman yang telah beroperasi sejak tahun 1992, dan dikenal sebagai Self Pistol Loading Universal. Pistol ini diset semi otomatis dengan upside-down lock mekanic dan menggunakan modus operasi short-back. Pistol ini dapat Menembakkan catridge 9 x 19mm Parabellum, terlihat cocok berada di tangan Kim Myungsoo. Mengarahkan tangannya dengan lincah ke arah sasaran tembak seratus boneka animatronic yang muncul dari segala arah. Jangan mengeluarkan reaksi yang berlebihan jika kau melihat seperti apa pertunjukkan yang dilakukan pria itu. Memutarkan badannya 360 derajat setelah merasakan sebuah tembakan yang diarahkan musuh kepadanya, membuat beberapa gerakan menyimpang sudut pitagoras. Tepat detik ke duapuluh tujuh, dari setiap sudut muncul sinar pointer laser dengan garis yang membingungkan membuat tubuh Myungsoo memaksa untuk menunduk dengan lincah untuk menghindari peluru panas rekayasa. Jangan kalian bayangkan system keamanan Korea Utara saat ini masih sama seperti awal tahun sembilanpuluhan. Kecanggihan teknologi yang berkembang tak akan membuat Negara tertutup seperti kami hanya berdiam diri.

“Myung, waktumu sudah habis” suara seorang gadis bergema di ruangan yang kini gelap kembali. Boneka rekayasa maupun sinar hijau yang awalnya bermain-main dengan pria itu kini menghilang seiring ditekannya tombol merah yang berada di tangan gadis bernama Jiyeon.

“Baiklah nona Park, kini giliranmu” Myungsoo menyingkir dari balik kaca transparan yang menjadi pembatas di antara mereka berdua. Jiyeon mengeluarkan pistol yang berbeda, pistol yang dibuat oleh JP Sauer beserta anaknya Sig Sauer Exeter memiliki spesifikasi semi otomatis dengan 17 peluru. Tampilan besi yang kokoh membuat pistol yang berbasis 147 mm terlihat istimewa pada SIGP250. Mungkin ketika gadis ini wafat, ia akan dikenang sebagai wanita pertama yang bergabung dengan pasukan elit ini. Dagunya yang lancip membuat gadis berambut coklat ini terlihat semakin cantik ditambah bibir tipis yang dimilikinya itu akan membuat siapa saja bertekuk lutut, termasuk pria bermata sipit yang sedari tadi mengawasi gadis itu, siapa lagi kalau bukan Kim Myungsoo. Mungkin gadis ini terlihat dingin dan sangat tidak bersahabat, tak ada senyum yang dapat kau jumpai ketika berpapasan maupun bercakapan dengannya. Sombong, mungkin satu kata itu yang pertama kali terbenak dipikiran kalian.

Tak kalah mengesankan dengan latihan yang Myungsoo lakukan tadi. Gadis yang mengenakan kaus hitam ketat berlengan panjang itu bahkan lebih pintar dalam menentukan tempo. Ia bermain di atas garis hijau yang dapat merusak mata siapa saja. Gerakan tangannya yang kini menggenggam dua buah pistol memperlihatkan seperti apa level seorang pasukan elit sebenarnya.

“Dan kau boneka busuk, terimalah peluru terakhirku” gumam gadis itu mengarahkan tangan kanannya pada sebuah animasi boneka yang mendekat kearahnya.

….

Seoul, South Korea

Jalanan padat pada jam pulang kerja sudah merupakan hal biasa bagi para warga negeri ginseng ini. Populasi kepadatan penduduk yang meningkat ditambah banyaknya warga asing yang ingin berada di Negara yang sudah sangat berkembang ini tentu membuat kapasitas jalanan maupun tempat-tempat umum lainnya perlu ditingkatkan lagi. Udara dingin membuat kaca jendela pada bus yang melaju lamban ini berembun. Gadis berambut ikal itu menyandarkan kepalanya ke jendela, memainkan benda tipis berwarna putih di tangannya. Lantunan lagu lembut terdengar melalui earphone yang melekat di telinga gadis itu.

“wo buceng likai Oh ai buguan jingguo duoshao zuai wunai bie pa shiqu de dengdai” suara merdu yang dinyanyikan gadis itu membuat seorang pria yang duduk di samping sengaja mempertajam pendengarannya. Lagu yang berjudul agape yang dituliskan oleh wanita berdarah china dengan detil membuat Bae Suzy tenggelam dalam lamunannya. Hingga bus yang ditumpangi gadis itu berhenti di salah satu halte pemberhentian daerah campus Kyunghee. Setelah turun dari bus berwarna putih itu, lantas ia berjalan memasuki gerbang besar yang telah didirikan puluhan tahun lalu. Dengan blazer hitam yang dipadukan dengan kemeja soft pink dan rok kain bermotif bunga mawar, ia berjalan pelan memasuki pelataran kampus. Sesekali para mahasiswa yang berdiri di dekatnya mendekat dan membungkuk sopan.

Jangan mengira gadis yang berprofesi sebagai dosen itu telah menginjak kepala tiga ataupun empat. Umur yang masih terpaut muda berkisar duapuluh lima tahun itu telah menyandang predikat doctor di fakultas ilmu social dan politik. Mungkin kalian sering menjumpai wajahnya di saluran televise nasional, wajahnya terkenal sebagai bintang tamu untuk tema politik yang tak kian berhenti. Mulutnya yang pedas saat berkomentar membuat wanita yang masih pantas disebut gadis ini sangat terkenal di kalangan pejabat politik. Langkah kaki gadis itu terhenti tepat di depan pintu masuk kantor rektorat. Ia merasakan ada seseorang yang membuntutinya semenjak tadi.

“Masih terlalu pagi untuk menyerahkan tugas. Lebih baik kau pergi dan cari sarapan sebelum memasuki kelasku nanti siang” ucap gadis itu dengan wajah yang terlihat baik-baik saja namun dalam kalimat yang keluar dari mulutnya itu tentu saja tersirat sebuah bentakan. Cara seperti inilah yang dilakukan gadis itu untuk berkomunikasi. Setelah mengakhiri kalimatnya, lantas ia meninggalkan pria itu mematung dengan wajah yang sulit diartikan.

“Maaf nona! Kau mungkin salah paham” panggil pria tadi dari jarak yang cukup jauh. Suzy berhenti dan menunggu pria itu mengejarnya.

“Aku bukan mahasiswa di kampus ini. Apakah ada mahasiswa yang mengenakan jas dengan sepatu mahal sepertiku? Serta bolpoin mahal yang bisa mengeluarkan lampu?” Suzy memperhatikan penampilan pria dihadapannya dengan seksama. Benar saja, wajah yang diperkirakan enam tahun lebih tua darinya, serta penampilan pria itu beda dari yang lain.

“Jangan hanya menatapku seperti itu. Lebih baik kau antar aku ke auditorium”

….

Royal Corporation, South Korea

Mungkin kalian akan mengira tempat ini terlihat sama seperti perusahaan-perusahaan lainnya. Desain bangunan yang tidak terlalu mencolok namun tetap memperlihatkan kejayaannya. Akses kendaraan yang strategis membuat perusahaan ini mudah dikenal masyarakat. Baru tigapuluh tahun berdiri, namun sudah menggaet berbagai macam keuntungan yang sulit dihitung dengan jari. Perusahaan tambang emas ini dibangun oleh pria kaya bernama Daniel Bae yang memiliki seorang istri dan anak sematawayangnya. Tak akan gampang menemukan foto mereka di mesin pencarian internet begitu pula tak ada satupun profile yang kalian dapati.

Pria paru baya yang berbadan tegap itu menyesap coffee hangat dengan asap yang mengepul dari atas permukaan cangkir. Pagi yang tidak terlalu sibuk itu dihabiskan dengan membaca surat kabar yang menampilkan beberapa topic yang membahas perusahaannya di Seoul. Alis pria tua itu berkerut ketika pada kepala surat yang menampilkan dateline terkini mengisukan beberapa kabar tidak sedap.

“Harga Emas Turun, Mungkinkah Royal Akan Melewati Masa Krisisnya?” salah satu surat kabar terkemuka itu selalu saja mengisukan sesuatu yang dapat mengundang desas desus tidak sedap. Namun dengan adanya berita-berita seperti tentu akan membuat nama Royal Corporation tersebar kemana-mana. Salah satu tak-tik yang cukup membuat tanda tanya besar, jika bermodalkan isu tidak sedap saja tentu akan menggoyangkan pertahanan kerjasama antara Royal dan rekan bisnisnya yang tentu akan berpikir dua kali untuk bekerjasama dengan perusahaan yang beresiko besar. Namun pasti ada suatu alasan yang dimiliki seorang pebisnis.

….

Department of Defense, North Korea

Terlihat kumuh dan jauh dari kata modern. Namun jangan kaget jika kalian menemukan benda-benda berteknologi tinggi saat memasuki bangunan terkokoh di Pyongyang ini. Tempat dimana kau merasa aman dari serangan musuh. Jauh dari jangkauan deteksi satelit manapun. Negara yang sebagian besar penduduknya bekerja sebagai petani ini mulai berkembang seiring berjalannya suplai dari Rusia.

Keamanan yang diperketat seperti yang dilihat sekarang ini berawal dari insiden tigapuluh tahun lalu. Sebuah penghianatan tentara yang berujung pada kekacauan dunia. Sebuah rencana yang dijaga ketat namun pada akhirnya dibocorkan oleh oknum dalam. Mulai saat itulah tak ada yang namanya kunjungan dari Negara lain.

Presiden Park Byungtae rutin mengunjungi gedung yang terletak jauh dari gedung-gedung pemerintahan lainnya. Mengawasi dengan ketat setiap pergerakan yang dilakukan anak buahnya. Pria yang merupakan mantan pasukan elit ini sudah sangat ahli dalam hal-hal seperti ini, maka dari itu dia sangat menjaga ketat negaranya dari segala serangan blok barat.

“Apa kau menemukan sesuatu?” Tanya tuan presiden kepada pria yang bekerja di depan layar kaca PC. Ruangan yang dikhususkan untuk orang-orang tertentu saja yang dapat menginjakkan kakinya di tempat ini.

“Belum dapat saya konfirmasikan” tangan pria berkacamata itu bergerak lincah di atas papan keyboard, seperti telah ditakdirkan bersama pasangannya. Presiden Park melanjutkan kunjungannya ke dalam tempat dimana para penembak jitu berkumpul melepas lelah setelah semalaman latihan. Tidak ada kecanggungan saat satu-satunya wanita di ruangan itu bertatapan dengan presiden.

“Bagaimana latihanmu, nak?” presiden Park mendekati anak bungsunya sembari menyodorkan sapu tangan yang tersimpan dibalik saku jasnya. Beberapa orang lainnya memberi salam dalam bentuk membungkuk sopan kepada orang nomor satu di Korea Utara ini.

“Kalian istirahatlah” ucap presiden Park mempersilahkan orang-orang kebanggaannya itu untuk melepas lelah. Ada tatapan tidak suka yang dilemparkan presiden Park kepada pria muda yang bernama Kim Myungsoo itu. Jiyeon yang merasakan aura tidak sedap menyeruak di dalam ruangan sempit itu langsung mengalihkan pembicaraan.

“Aboji, kau bertambah kurus. Mau aku temani makan pagi? Kau pasti belum sarapan” gadis itu berhasil merayu ayahnya yang kemudian langsung menghilang meninggakan Myungsoo sendiri, namun bukan Park Jiyeon namanya jika pergi tanpa mengucapkan pamit begitu saja kepada kekasihnya. Sebelum menghilang dari balik pintu, gadis itu sempat mengedipkan matanya manja kepada Myungsoo. Ya tentu saja hanya kepada Myungsoo dan ayahnya-lah gadis itu berani mempertunjukkan aegyonya.

….

Kyunghee University, South Korea

Layar LCD berukuran 20 x 11 meter yang terbentang di dalam auditorium menampilkan slideshow yang tersetting dengan laptop milik pria bernama Kim Soo Hyun. Para mahasiswa yang menerima wejangan dari politisi muda itu tampak antusias, terutama mahasiswa yang bergender wanita. Materi yang dibawakan pria itu tak lari dari profesinya tentu saja. Suzy berdiri di sudut ruangan tak jauh dari tempat Soohyun berdiri. Gadis itu memperhatikan secara seksama seperti pembawaan politisi muda yang bergabung di partai pemegang kursi terbanyak pada kabinet saat ini. Ini adalah kali pertama Suzy bertemu secara langsung dengan pria itu. Hanya sebatas melihatnya di layar televisi, ternyata jauh berbeda setelah melihat pria itu secara langsung, buktinya pagi tadi Suzy tak mengenali pria yang terlihat lebih muda itu. Umur Soohyun yang menginjak tigapuluh satu tahun itu dapat disejajarkan dengan mahasiswa yang berada di kampus ini. Pembawaan bahasa yang santai dan tak tergesa-gesa menggambarkan kinerja sehari-hari pria itu.

“Kau, gadis yang berdiri di sana coba kemari” tersadar dari lamunan, kini semua mata tertuju pada Suzy. Setan apa yang merasuki gadis itu hingga tak sadar namanya disebutkan. Jari telunjuk Soohyun yang mengarah ke arahnya membuat gadis itu menaikkan sebelah alisnya. Sorak-sorak riuh terdengar. Suara setan-setan kecil yang menyuruhnya naik ke podium menemani pria yang sampai saat ini menatapnya dengan pandangan memohon.

“Baiklah” lebih baik menyerah sekarang daripada timbul lebih banyak lagi godaan-godaan yang mengarah kepadanya. Gadis itu perlahan menaiki anak tangga dengan pelan akibat high heels tujuh centi yang mengalas kakinya. Tak ingin membuang waktu, Soohyun mendekat dan langsung menggendong gadis itu ala bridal. Spontan saja wajah gadis itu berubah merah.

….

Pyongyang National Park, North Korea

Taman bersejarah yang terletak tak jauh dari gedung pemerintahan menjadi tempat favorit bagi sepasang kekasih yang sudah hampir menjalin hubungan selama dua tahun. Udara dingin tak menyurutkan keinginan Jiyeon untuk cepat-cepat pergi dari tempat ini, padahal sudah kesekian kalinya sang kekasih mengajaknya untuk kembali ke gedung yang setidaknya dapat memberi mereka berdua kehangatan. Jiyeon mengeratkan jaket coklat yang disampirkan oleh Myungsoo dipunggungnya. Sementara pria itu membaringkan badannya di atas rumput hijau dengan menjadikan paha gadis itu sebagai bantalnya.

“Oppa, apa kau takut mati?” pertanyaan yang keluar begitu saja dari mulut mungil gadis itu. Cukup terjadi jeda panjang sebelum Myungsoo membuka mulutnya.

“Tidak,” jawab pria itu terputus, kemudian ia menatap manik mata kekasihnya. Pria itu menggenggam erat tangan gadisnya, seolah memberitahukan bahwa tak ada kebohongan yang akan dia ucapkan.

“Jika aku telah memastikan kau baik-baik saja” lanjut pria itu sembari memainkan rambut panjang Jiyeon yang bergelantungan. Tak ada senyum yang diperlihatkan gadis itu, namun ada kelegahan yang dapat dirasakan Myungsoo dari denyut nadi gadis itu.

“Jika aku dan gadis cantik dari negeri sebelah tenggalam di laut, siapa yang akan kau tolong?” Tanya gadis itu lagi. Myungsoo hanya tersenyum sekilas kemudian mengangkat tangan kanannya ke udara dan mengukir nama gadisnya itu.

“Ah, tentu saja kau akan memilihku. Bukankah kau tidak menyukai gadis-gadis berwajah badut yang selalu mengoleskan bahan-bahan kimia ke wajah mereka” ucap gadis itu pelan. Seperti terbawa angin yang barusan berhembus, taka da percakapan lagi di antara keduanya.

“Bagaimana jika antara aku dan ibumu? Siapa yang akan kau tolong?” gadis itu tak henti-hentinya bertanya. Myungsoo berpikir sebentar, memilah-milah jawaban yang akan diberikan kepada anak presiden ini.

“Yak bukankah kau bisa berenang? Bodohnya aku dari tadi memjawab pertanyaanmu” raut wajah gadis itu berubah kesal, lebih tepatnya merenggut. Belum sempat gadis itu memberi jitakan ke atas kepala Myungsoo, pria itu dengan sigat menangkap tangan Jiyeon kemudian dengan teknik sit up yang terlatih dengan entengnya ia bangkit dan mengecup singkat bibir tipis gadis bermarga Park itu. Suasana segera berubah setelah sebuah tembakan dengan sengaja diarahkan meleset kepada sepasang kekasih itu. Dari arah jam tiga, pria paruh baya yang menyandang posisi sebagai ayah kandung Park Jiyeon menghampiri mereka. Sepasang kekasih yang sedang dalam posisi mesra itu lantas memperbaiki posisi mereka ke semula.

“Maafkan saya pak presiden” awkward terjadi di mereka. Myungsoo yang memang menyadari rasa ketidaksukaan ayah angkatnya itu sudah sangat paham apa kesalahannya. Dalam pikiran Myungsoo kesalahan yang diperbuatnya adalah karena mendekati anak bungsu presiden Park.

“Apa yang ada dipikiranmu sehingga membiarkan seorang gadis bermain di taman saat udara dingin seperti ini?” tegur presiden Park. Wajah khasnya itu sama persis seperti anak kedua, Jiyeon. Tidak ada garis melengkung di bibirnya, menatap marah ke arah Myungsoo. Meskipun dia memberi keterbatasan gerak untuk pria yang telah kehilangan sosok orangtua sejak berumur empat tahun, presiden Park tetaplah menjadi orang yang sangat berjasa bagi pria bermarga Kim itu. Akibat insiden yang menewaskan orangtuanya, presiden Park-lah yang membesarkan Myungsoo, mendidik anak itu hingga tumbuh besar bersama anaknya, dan yang paling Myungsoo syukuri pria paruh baya itu tak pernah membandingkan kasih saying yang diberikannya. Hingga sesuatu mulai berubah saat Myungsoo menaruh persaannya kepada Park Jiyeon.

….

Kyunghee University, South Korea

Jam istirahat makan siang sudah lewat dari duapuluh menit yang lalu, namun kantin yang menjadi tempat langganan Suzy tetap saja dipenuhi pengunjung. Mi instan yang menjadi santapan favoritnya kini tak sampai seperempat yang tersisa di dalam mangkuknya. Pria yang barusan berkenalan dengannya hanya menatap dengan diam apa yang dilakukan seorang selebriti kampus saat ini.

“Apa kau sebegitu laparnya?” tanya Soohyun sembari memperbaiki anak rambut Suzy sehingga pandangan mata gadis itu tidak terganggu.

“Aku tidak sarapan tadi pagi” jelas gadis itu singkat dan masih saja sibuk dengan mangkuknya yang hampir habis. Soohyun yang sebenarnya tidak menyukai pesanannya yaitu sebuah ice cream caramel yang ditaburi kacang almond hanya bisa menunggu gadis itu sadar dan mengambil alih makanannya. Seperti di drama-drama yang ditonton pria itu. Dengan sengaja Soohyun memainkan sendoknya sehingga menimbulkan suara berisik.

“Kau tidak makan?” pertanyaan yang ditunggu-tunggu akhirnya keluar juga dari mulut gadis itu. “Perutku sensitive, kau suka ice cream?” gadis di hadapannya itu mengangguk. Setelah mendapatkan jawaban sesuai perkiraan, lantas pria itu langsung menyodorkan sendok ice cream ke dalam mulut gadis itu, namun rencananya tak sesuai harapan.

“sebelum tanganku putus, alangkah baiknya harus digunakan bukan?” tangan gadis itu menahan lengan Soohyun kemudian mengambil alih sendok beserta isinya.

….

Royal Corporation, South Korea

Bekerja mengendalikan kekayaan agar terus bertambah dan tetap mempertahankan eksitensinya bukanlah hal yang sulit. Apalagi ditambah dengan peralihan garis hidup yang dilakukan Daniel Bae, membuat pria itu terpaksa bergeyut di dunia bisnis. Tak suka menampakkan diri, itulah yang selama ini dia lakukan. Mempercayakan seorang pria muda untuk mengakomodir segala urusan perusahaan berdasarkan kehendaknya. Semua orang mengenal nama pemilik perusahaan tambang emas ini, namun melihat fotonya saja tidak pernah apalagi bertatapan langsung. Begitu pula saat berurusan dengan pemegang saham lainnya, hanya Kris Wu-lah yang terjun langsung sebagai tangan kanan pria itu.

“Dari data yang saya temui, ada beberapa rumor yang mengatakan bahwa beberapa bank besar di kawasan uni-eropa mengalami tekanan dari ECB (European Central Bank) yang mengakibatkan mereka berani merugi dengan menjual cadangan emasnya dengan harga rendah untuk memanipulasi kriteria minimum yang ditetapkan” jelas pria blasteran itu memberikan beberapa dokumen kepada sang presdir. Sudah sekian tahun ia bekerja dibawah kendali presdir Bae. Kesetiannya itu telah menyuri hati presdir Bae yang memang masih perlu memikirkan siapakah yang cocok menjadi penerus perusahaannya ini. Anak perempuan sematawayangnya bahkan tidak menaruh minat sama sekali dalam dunia bisnis.

“Beli semua emas yang mereka jual, kemudian jual dengan harga dua-kali lipat”

….

Department of Defense, North Korea

Matahari yang barusan tenggelam tergantikan oleh cahaya lampu redup yang menerangi ruang outdoor. Suara erangan tertahan terdengar dari kejauhan. Keringat yang mengalir di dahi pria itu tidak menjadi penghalang baginya. Pisau lipat yang menggoresi permukaan kulitnya terus saja di arahkan oleh pemiliknya. Tanpa mengenal kata lelah, Myungsoo terus berusaha menghindar dan memberi perlawanan kepada gurunya. Cahaya yang minim membuat pria muda itu tak akan mudah melihat gerakan lawannya. Hingga mata elang pria itu menangkap kilauan besi tajam yang terkena cahaya datang dari arah jarum jam Sembilan. Reflex Kim Myungsoo menahan benda tajam itu dengan tangannya, darah menetes begitu saja dari genggaman tangan kanannya. Tak ingin luka di tangannya bertambah parah, dengan menjadikan kaki kiri sebagai porosnya lantas ia memberi beban berat ke arah punggungnya sehingga lawan akan berpikir ia telah kehilangan keseimbangannya, kemudian tanpa terduga Myungsoo melakukan gerakan memutar dan langsung mengikat leher lawannya dari belakang dengan lengan kanan yang memegang pisau lipat itu.

“Bagaimana menurutmu pak presiden” Myungsoo berhasil lolos dari serangan beruntun yang di arahkan gurunya itu dan sekarang keadaan berbalik. Presiden Park hanya mengangkat sudut bibirnya yang tentu saja tak dapat dilihat dari posisi Myungsoo berdiri.

“Mungkin keadaan kita seimbang, Kim Myungsoo” itulah yang dikatakan presiden Park sembari memegang pistol milik Myungsoo yang ternyata telah beralih ke tangannya. Pistol itu telah menempel tepat di samping perut Myungsoo dengan pelatuk yang terangkat.

….

Bae’s Residence, South Korea

Jangan mengira di dalam rumah yang terlihat seperti ini hanya terdapat taman beserta kolam ikan yang dapat memanjakan matamu saja. Bangunan mewah yang terletak di daerah gangnam ini bukanlah tempat yang dapat dimasuki orang seenaknya saja. Rumah seorang billionare adalah suatu privasi. Bagi Daniel Park, pekerjaan dan urusan rumah tangganya tidak boleh dicampur aduk seperti kau membawa tumpukan berkas di atas kasur. Rumah yang tampak luarnya seperti sebuah porselen cantik ternyata berbeda jauh saat kau menginjakkan kaki di dalamnya. Aksesori hiasan sebuah senapan yang terpajang di dinding ruang tamu, serta beberapa benda kecil yang merupakan teman dekat sebuah pistol bahkan menjadi hiasan di dalam lemari kaca. Tak jauh dari pintu masuk, ada sebuah ruangan beratapkan awan yang dapat membuat siapa saja pasti tertarik memasukinya. Suara-suara memekakkan telinga berasal dari tempat itu. Seorang pria kaya raya ditemani anak sematawayang-nya yang cantik itu terlihat berbeda, sangat berbeda. Memegang senapan angin yang diarahkan pada benda datar berbentuk bundar yang terdapat garis-garis tiap diameternya. Bidikan yang tak pernah meleset, seperti itulah yang terjadi. Bae Suzy melepas penutup telinganya ketika dirinya telah merasa puas, begitu pula sang ayah. Mereka duduk di sebuah kursi rotan sambil memakan beberapa potong roti yang disiapkan nyonya rumah.

“Jadi kau akan menerima tawaran itu?” presdir Bae membuka percakapan nampak harap-harap cemas pada keputusan yang akan diambil anaknya itu. Suzy yang menyadari raut wajah sang ayah lantas mendekat kemudian memeluk erat presdir Bae dari belakang.

“Tentu saja, itu adalah cita-citaku” jawab Suzy. Ayahnya tidak dapat menentang gadis itu, mengingat ia sudah menjadi gadis dewasa yang tentu punya pilihan seperti ayahnya dulu.

“Apa kau yakin akan bergabung dengan pihak Kim Soohyun? Lebih baik bergabunglah dengan partai koalisi” saran presdir Bae. Jalan pikiran rumit anaknya itu sangat sulit dibaca, bahkan yang mempunyai darah daging serupa.

“Perhitunganku sudah sangat matang aboji, lebih baik urus saja perusahaanmu itu. Sebelum orang-orang beralih ke logam mulia”

….

Department of Defense, North Korea

Larut malam kali ini terasa berbeda. Titik terang mulai terlihat di mata presiden Park. Beberapa orang yang memang ahlinya tak gencar terus melacak keberadaan orang yang selama ini menjadi buronan Negara. Berbagai data hasil sadapan tertampil lebar pada layar PC yang aktif. Hanya presiden Park dan intelejen Negara yang berada di ruangan ini. Penyelidikan diam-diam yang dilakukannya selama ini kini telah membuahkan hasil. Dengan nama yang berbeda, tak akan bisa menipu teman dekatnya itu. Tertampil sebuah profil pria paru baya yang selama ini bersembunyi di balik negera tetangga.

“Seperti dugaanku, dia tumbuh dengan makmur” gumam presiden Park. Seolah-olah sudah mengenal lama.

….

Di lain tempat, Kim Myungsoo duduk bersandar pada meja tua berdebu yang telah lama tidak digunakan. Pria itu membalut tangannya dengan perban untuk meminimalisir volume darah yang terus saja mengalir. Ruangan yang sudah lama tidak digunakan ini dulunya adalah tempat para pasukan elit sparing. Namun saat ini kata gudang lebih tepat untuk diberikan kepada ruang bersejarah yang melahirkan legenda-legenda Korea Utara. Tak lama pintu terbuka menampakkan seorang gadis yang sangat dikenalnya. Wajah dingin gadis itu berubah drastic ketika menyadari tangan kekasihnya itu telah terbalut perban”

“Apa kau baik-baik saja? Aish pasti ulah ayahku” itulah bentuk sapaan yang diarahkan Jiyeon. Gadis itu memeriksa tiap inci tubuh kekasihnya. Banyak goresan yang berupa darah kering. Jiyeon menarik nafas frustasi dengan tatapan manja.

“Sudahlah, aku baik-baik saja. Wanna sparing with me?” Myungsoo melempar tatapan jahil kepada kekasihnya itu. Setelah gadis itu mengangguk setuju, lantas Myungsoo mengambil Heckler & Koch USP-nya dari dalam jaket hitamnya kemudian mengeluarkan peluru yang sudah ada di dalam pistol tersebut hingga menimbulkan bunyi baja yang terjatuh di atas permukaan lantai. Begitupula yang dilakukan Jiyeon pada SIGP250 kesayangannya itu.

“Jangan mengadu pada ayahmu jika hal itu terjadi” bisik Myungsoo tepat di telinga gadisnya itu. Menghirup udara sebentar hingga bau khas gadisnya itu memenuhi rongga hidungnya. Setelah itu ia lantas mencengkram bahu Jiyeon namun sayang gerakan tangan gadis itu dapat menyadari dengan cepat dengan menghindar di balik punggung Myungsoo. Tanpa basa-basi gadis itu lantas menarik jaket yang dikenakan pria itu hingga tak sampai terlepas seutuhnya pria itu berbalik kemudian mendorong gadis itu ke lantai, bukan seorang pria namanya jika dengan sengaja melakukan hal itu. Tangan myungsoo yang tidak diperban menahan kepala Jiyeon agar tidak terbentur di tanah. Posisi gadis itu jatuh di tanah dengan tubuh terlentang, Myungsoo berada tepat di atas tubuh gadis itu. Tangan pria itu yang diperban bergerak di atas kemeja Jiyeon, perlahan memperbaiki bagian atas kemeja gadis itu yang terbuka sehingga memperlihatkan sedikit belahan dadanya.

“Aku tak suka kau memperlihatkannya pada lelaki lain” ucap Myungsoo setengah berbisik kemudian mengarahkan pandangannya kea rah pintu yang terbuka. Sedari tadi ada seseorang yang menunggu mereka tersadar akan kedatangannya.

“Ma.. maaf mengganggu acara kalian. Kim Myungsoo kau dipanggil presiden Park di ruangannya” pria berkacamata itu nampak gugup di hadapan sepasang kekasih berwajah dingin itu. Apalagi saat mendapat tatapan tajam dari mata elang yang dimiliki kepala pasukan elit, Kim Myungsoo.

….

Dua buah bendera yang terletak di sudut ruangan menjadi ciri khas dari ruangan kepresidenan ini. Tidak semewah seperti milik Negara lain, tetapi nampak elegant dengan perabotan klasik. Presiden Park telah menunggu kedatangan pria bermarga Kim, dengan raut wajah yang sulit dijelaskan ia menatap Myungsoo. Seolah-olah telah menunggu hari ini tiba, ia memberi selembar foto kepada pria muda itu.

“Bunuh Bae Dongwook beserta istri dan anaknya” ucap presiden Park memberi perintah. Myungsoo menatap foto yang kini beralih di tangannya. Entah seperti sesuatu menembus tubuhnya. Wajah dingin pria itu berubah pasif, menatap foto seorang gadis yang memperlihatkan senyum terbaiknya.

“Gadis ini..” gumam pria itu tercekat.

 

To be continue

 

*Note permintaan siapakah yang terkabulkan? Haha MyungYeon mendominasi pada part ini. Jangan ketawa setan saat mengira Myungsoo akan mengapa-apakan gadis manis itu (?). MyungZy dimanakah kau berada? Mungkinkah alur percintaan akan berubah? Nantikan part selanjutnya.

 

104 responses to “[CHAPTER – PART 1] THE SNIPER

  1. Jangan myungzy donk
    Aku pengen nya myungyeon
    Aku suka bgt moment myungyeon disini

    Aku suka cerita nya memang sih bacanya butuh konsentrasi tp beneran deh aku suka alur nya

    Btw yg disuruh di bunuh itu keluarganya suzy ya
    Myungsoo kenal suzy??

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s