[Chapter – 2] HIGH SCHOOL LOVERS : One Step Closer.

hsl1

High School Lovers : One Step Closer

© Flawless

Park Jiyeon, Krystal Jung (Kim Soojung), Kim Myungsoo, Choi Minho

*

Chapter 2

 

Hening menyapa Jiyeon dan Myungsoo. Kedua orang itu saling beradu tatapan dalam diam. Suasana yang sebelumnya ramai menjadi lebih senyap karena sebagian siswa sudah memasuki kelas mereka masing-masing. Sementara Jiyeon masih memilih untuk tetap tinggal dan berusaha untuk mematahkan ucapan gila Kim Myungsoo soal menempel bak permen karet. Demi Tuhan, Jiyeon benci seseorang yang memaksa merengsek masuk dalam hidupnya. Dan Myungsoo sudah termasuk dalam daftar hitam miliknya.

 

“Kau bercanda. Jangan mencoba masuk dan memahami duniaku!” Tegas Jiyeon. Raut wajahnya sulit terbaca akibat ekspresinya yang selalu terlihat sama. Ia berbalik memunggugi Myungsoo, kemudian kembali berujar, “Berhenti berusaha karena aku membenci orang jenis sepertimu.”

 

Myungsoo tetap kukuh di tempatnya bahkan setelah sosok Jiyeon tidak tertangkap lagi oleh pandangan matanya. Ia nampak berpikir keras maksud lain dari penggalan kalimat penolakan dari Jiyeon. Baiklah, Myungsoo mungkin sedang berdelusi, tapi kepalanya malah berpikir jika Jiyeon sebenarnya menginginkannya untuk sedikit memahami sisi misterius dirinya.

 

“Oppa! Ya Tuhan, setelah meninggalkanku tanpa perasaan ternyata Oppa sedang merayu Jiyeon. Ck, tidak bisa dipercaya.” Suara cempreng Soojung memenuhi pendengaran Myungsoo. Lain halnya dengan Myungsoo yang mulai menunjukkan gelagat kekesalan, Soojung justru semakin gencar menggoda Myungsoo dengan kejahilannya. “Ah, Oppa aku tadi mendengar kata penolakan. Itu untukmu, ‘kan?”

 

Melihat bagaimana Soojung terbahak dengan wajah tanpa dosanya semakin membuat kepala Myungsoo serasa kepanasan di pagi hari. Pria itu dengan kasarnya melayangkan pukulan kecil ke kepala Soojung sekedar untuk membuat saudaranya itu kembali menjadi lebih normal dari sebelumnya. “Kau gila, ya?”

 

Soojung hanya merespon Myungsoo dengan wajah masam. Dia membalas pukulan Myungsoo lebih keras, kemudian kembali tertawa lepas. Astaga, ternyata memang benar tidak ada hal yang lebih menyenangkan dari menggoda kakaknya sendiri.

 

“Wah-wah, coba lihat betapa akurnya kalian,” ucap Minho yang secara tiba-tiba muncul entah dari mana. Dia mengacak rambut panjang Soojung dan juga memberikan pukulan lemah pada bahu Myungsoo. Sesekali dia tertawa melihat bagaimana balasan reaksi yang diberikan Myungsoo dan Soojung. Raut wajah mereka nyaris menyerupai satu sama lain ; bibir yang mengkerut dengan wajah masam nan dingin. Benar-benar suadara yang kompak, nilai Minho.

 

“Apa kau sedang mengejek kami, Tuan Choi?” Tanya Myungsoo dengan nada suara yang sarkastik. Pagi ini adalah pagi terburuk bagi Myungsoo, setelah mendapat penolakan secara mentah-mentah yang kedua kalinya dari Jiyeon, dia juga mendapatkan ejekan aneh dari adiknya, dan sekarang sahabatnya pun ikut mengejeknya seperti Soojung.

 

“Terdengar seperti ejekan, ya? Menurutmu bagaimana, Soojung-ah?”

 

Soojung membalas tatapan isyarat dari Minho, lalu dia tersenyum dengan jahatnya. “Tentu saja tidak. Itu lebih ke pujian, menurutku.”

 

Lalu pada detik berikutnya Minho dan Soojung kembali hanyut dalam tawa mereka karena Myungsoo yang semakin lama semakin kesal. Minho bahkan sudah menebak jika Myungsoo sudah sangat dongkol semenjak kedatangannya.

 

“Sudahlah, aku pergi. Dan aku punya pemikiran bagus tentang kalian.” Myungsoo yang kali ini memasang wajah menggoda kepada adik dan sahabatnya. Waktu untuk membalas. “Aku pikir kalian sangat cocok.”

 

Dugaan Myungsoo memang tidak pernah meleset. Lihat sekarang bagaimana Minho yang tadinya sangat puas tertawa kini menjadi kikuk, sementara Soojung, jangan ditanya lagi. Adiknya sekarang tengah diserang rasa malu, terbukti dengan rona merah muda manis yang menghiasi pipi pucatnya.

 

“Apa yang kau katakana? Soojung itu juga adalah adikku, dasar bodoh.”

 

Minho berucap santai. Tetapi raut wajah Soojung dan Myungsoo secara drastic berubah, terutama Soojung. Myungsoo merutuki dirinya sendiri karena mengangkat hal menyangkut perasaan kepada Minho dan Soojung. “Ya, kau benar. Soojung juga adikmu. Yah, adikmu.”

 

*

 

Jiyeon menaikkan sebelah alisnya. Tatapannya mengarah pada sosok tampan yang saat ini duduk berhadapan dengannya tanpa tahu rasa malu. Demi apapun, Jiyeon sangat rish sekarang terlebih dengan cara pandang sosok tampan itu padanya. “Apa?” ketus Jiyeon. Dia meletakkan sendoknya, lalu mendongak membalas tatapan sosok tampan itu. “Aku sudah bilang-“

 

“Kenapa? Merasa keberatan? Tapi ini tempat umum, asal kau tahu.”

 

“Kim Myungsoo-ssi!”

 

“Ya, Park Jiyeon-ssi.”

 

Jiyeon menggebrak mejanya dengan kasar. Ia berdiri berniat meninggalkan Myungsoo, tetapi tangan pria itu menahan lengannya. Tatapan membunuhnya ia layangkan kepada Myungsoo berharap agar dengan tatapannya itu setidaknya Myungsoo merasa sedikit jera.

 

“Kau belum menyelesaikan makananmu, Nona Park.”

 

Jiyeon hanya mendengus kesal, lalu untuk kesekian kalinya menghempaskan tangan Myungsoo yang memegang erat pergelangan tangannya. Dia mengambil gelasnya yang masih berisi air mineral, lalu tanpa segan-segan menyiramkan air itu ke wajah Myungsoo. “Aku sudah katakan berhenti berusaha untuk masuk dalam duniaku.”

 

Myungsoo membasuh wajahnya dengan telapak tanganya. Sekeras mungkin dia berusaha agar amarahnya tidak meledak. Ia menarik nafas panjang, lalu menghembuskannya dengan perlahan. Dia kembali membuka mulut untuk membalas ucapan Jiyeon, “Dan apa kau pikir perintahmu itu bisa menghentikanku?”

 

Jiyeon kehabisan kata-kata untuk melawan Myungsoo yang sepertinya memiliki puluhan stok kata. Tidak peduli lagi dengan Myungsoo, akhirnya Jiyeon memilih untuk meninggalkan Myungsoo dan juga keramaian kantin yang menyesakkan.

 

*

 

Soojung menatapi wajah Myungsoo yang nampak sangat memprihatinkan. Memang semenjak pulang sekolah wajah Myungsoo terus ditekuk, dan juga selalu memberikan gambaran jika pria itu sedang dalam emosi tingkat tinggi. Lama menatapi Myungsoo, Soojung mengalihkan pandangan pada Minho yang sibuk memainkan game ponselnya. Ah, pria benar-benar tidak bisa dimengerti, Soojung membatin.

 

Awal sepuluh menit berlalu dengan keheningan, sampai pada akhirnya Soojung mulai merasa suasana semakin mencekam. Ia menempel pada Myungsoo, berniat bermanja-manja seperti biasanya, namun naasnya reaksi yang diberikan kakaknya sangat tidak bersahabat. Lalu, Soojung memberanikan diri bertanya pada Myungsoo, “Masalah Jiyeon?”

 

Tidak ada jawaban yang diberikan Myungsoo. Kakaknya itu seperti terkena penyakit mellow, dan itu sangat mengerikan bagi Soojung. Soojung kemudian merapat kembali pada Myungsoo, kali ini dengan niat berbeda. Ingin memberi saran. “Oppa mendekatinya terlalu cepat. Seseorang seperti Jiyeon bukan orang yang mudah percaya pada orang lain, jadi seharusnya Oppa mendekatinya secara perlahan-lahan dan membiarkan dia memutuskan, apakah dia akan memberikan Oppa kesempatan atau tidak.”

 

Bagai mendapat pencerahan dari Tuhan, suasana hati Myungsoo langsung berubah secepat kilat. Pria itu memegang bahu Soojung, lalu mencium pipi adiknya sebagai rasa terima kasihnya. “Kau pintar. Sangat pintar, Kim Soojung.”

 

Soojung tertawa senang. Setidaknya saudaranya sekarang sudah berubah menjadi lebih normal. Dia menyenggol Minho yang duduk tidak jauh darinya. Kedua orang itu saling melempar pandangan lalu tersenyum puas bersama.

 

“Tapi, Oppa menyukainya atau tidak?”

 

“Tidak tahu.”

 

Oh, Ya Tuhan, jenis jawaban apa yang baru saja Soojung terima dari Myungsoo benar-benar abstrak tanpa bentuk, sulit ditebak. Gemas pada Myungsoo, dia mencubit pipi tirus milik Myungsoo.

 

“Minho-ya, kau jaga Soojung, aku ada urusan penting.”

 

“Ya! Oppa, apa yang lebih penting dari adikmu, hah?”

 

Soojung sudah terlanjur lambat menyuarakan keberatannya pada Myungsoo. Kenyataanya dia sekarang benar-benar gugup karena di rumah hanya tersisa dia dan Minho, kalau sudah seperti ini tidak akan ada lagi yang dapat diperbuatnya.

 

“Kau kenapa? Demam? Wajahmu merah.”

 

Oh, astaga. Oh, astaga. Demi Tuhan, apa yang akan aku lakukan. Setelah Soojung merasakan tangan besar milik Minho menyentuh keningnya, rasa pusing menyerang kepalanya dan pandangannya juga mulai buram, barang-barang bergerak tidak pasti, dan-

 

“Ya Tuhan, Soojung!”

 

*

 

 

Langit Seoul sudah berubah gelap semenjak matahari telah kembali ke peraduannya. Aktifitas-aktifitas rutin masyarakat pun mulai melonggar. Sekarang semua orang mungkin tengah berkumpul bersama keluarganya dan menikmati makan malam yang tenang, jadi wajar saja jika jalanan terlihat sedikit lebih senggang dari siang hari.

 

Jiyeon dengan satu kantung plastic ditangannya berjalan sangat santai ditemani cahaya rembulan yang tak terlalu terang. Dia terkadang melihat ke beberapa arah dan menemukan hal yang sedikit menarik minatnya. Lalu, terkadang juga dia hanya memandang sekilas dan langsung pergi begitu saja.

 

Suara monoton sekarang jelas memenuhi pendengaran Jiyeon. Suara dari orang-orang yang tengah berkumpul dengan pembicaraan misterius, suara gesek antara sepatu dan jalanan, sampai suara kendaraan yang melaju bebas di jalanan.

 

Jiyeon berhenti, menunggu lampu berwarna hijau agar bisa segera sampai ke sebrang sana. Ting, dia mendongak dan mendapati lampu rambu-rambu itu sudah berubah, kemudian dengan santainya dia berjalan melewati beberapa mobil yang pengemudinya tengah melakukan serapahan karena harus menunggu lebih lama lagi. Namun, tanpa ada pemikiran jika mobil akan melaju saat itu juga, Jiyeon sama sekali tidak menyadari jika sinar lampu mobil semakin mendekat padanya. Dan akhirnya-

 

Bruk. Mata Jiyeon terpejam, tubuhnya bergetar ketakutan apakah ketika ia membuka mata napasnya masih berhembus, atau ia sudah berada di dunia lain yang tidak akan sanggup digapai oleh orang yang masih bernapas.

 

“Kau tidak apa-apa?”

 

Suara itu. Jiyeon tahu siapa pemiliknya. Kim Myungsoo, pria penggangggu hidupnya yang memiliki suara berat yang memiliki kesan hangat. Entahlah, tapi Jiyeon tetap memejamkan matanya masih sangat takut untuk melihat bagaimana keadaan sebenarnya.

 

“Jiyeon-ssi, kau tidak apa-apa?”

 

Lagi. Dan kemudian Jiyeon tersadar nyawanya sudah terselamatkan oleh pria permen karet itu. Matanya secara berangsur terbuka. Setelah sepenuhnya tersadar dia terkesiap mendapati tubuhnya berada di bawah tubuh Myungsoo. Mungkin hanya lima belas detik dia tertegun lalu dia segera menjauh diri dari si pria permen karet itu.

 

“Akh-“ Myungsoo meringis. Ada sedikit luka di telapak tangannya, kemungkinan akibat dari tindakan sok pahlawannya dan akhirnya telapak tangannya menempel pada aspal jalanan yang tidak mulus.

 

“Biar ku lihat,” tutur Jiyeon dengan nada suara yang sama. Dia meraih pergelangan Myungsoo, melihat seberapa parah luka yang didapat pria permen karet itu karenanya. Sebenarnya hanya luka kecil, tapi berhubung nyawanya terselamatkan oleh Myungsoo maka setidaknya dia harus memberikan balasan. Benar, ‘kan?

 

Jiyeon kembali menemui Myungsoo setelah membeli plaster dan juga obat merah. Dia meraih lagi pergelangan tangan Myungsoo, lalu mulai mengobatinya dengan perlahan. Gadis itu menempelkan plaster dengan gambar pororo di telapak tangan Myungsoo, kemudian meniupkan angin kecil dari mulutnya ke sekitar luka Myungsoo. Merasa tugasnya untuk membalas Myungsoo sudah selesai, dia akhirnya berdiri dan menundukkan kepalanya, kemudian berujar singkat, “Terima kasih.”

 

Myungsoo entah bagaimana sudah menahan pergelangan Jiyeon lagi, dan memaksa gadis itu untuk melihat ke manik matanya. “Hanya itu?”

 

“Apa lagi? Aku juga sudah mengobati lukamu, jadi impas, ‘kan?”

 

“Tapi aku sudah melompat padamu dan hampir kehilangan nyawa, Nona Park!”

 

Jiyeon memutar bola matanya kesal. Benar-benar. Dia menjauhkan diri dari Myungsoo, wajahnya datar kembali setelah ucapan Myungsoo keluar mulus dari mulutnya. “Apa aku menyuruhmu menyelamatkanku? Tidak, kau yang datang dan bertindak bak pahlawan. Sekali lagi terima kasih. Aku pergi.”

 

Sial. Myungsoo memaki dirinya lagi. Ya Tuhan, dia baru saja bertindak bodoh. Park Jiyeon, sebelum ucapannya itu wajah Jiyeon tidak sedatar dan sedingin itu, malah terlihat bersahabat dan dia menghancurkannya dalam hitungan detik. Sekarang apa lagi yang akan dilakukannya? Besok bahkan dia sangsi jika Jiyeon mau melihat wajahnya. Ah, sial. Dia menendang botel kaleng soda sembarangan sekedar meluapkan kekesalan yang kembali menghantui dirinya. Minta maaf, yah minta maaf. Itu satu-satu cara untuk sekarang.

 

*

 

Myungsoo kembali ke rumahnya dan mendapati Minho terlihat panic sendiri. Dia menautkan alisnya bertanya-tanya hal apa yang bisa membuat pria kodok seperti Minho terlihat panic. Arah pandangannya mengikuti arah pandangan Minho, lalu dia mengerti apa yang tengah terjadi.

 

“Ada dengan anak nakal ini?”

 

“Adikmu pingsan, bodoh. Dan kau, coba lihat sekarang bagaimana santainya kau melihat adikmu seperti ini.”

 

“Kenpa tidak kau yang urus dia? Kau kan menyukainya jadi itu bisa menjadi kesempatan besar.”

 

“Ya! Aku menyukainya sebagai adikku.”

 

Oh, Myungsoo berbuat salah lagi. Soojung sudah sadar saat dia datang dan akhirnya adiknya itu menerima kenyataan pahit lagi setelah pagi tadi. Myungsoo berdehem dan menepuk bahu Minho pelan. “Kau bisa pulang.”

 

Minho hanya mengangguk seteuju, lagi pula ini sudah cukup larut dan besok dia masih harus bersekolah. Tanpa pemikiran panjang dia melangkah keluar meninggalkan kediaman Myungsoo.

 

Sepeninggalan Minho, Myungsoo langsung duduk di samping Soojung dan menempatkan kepala adiknya pada pangkuannya. Tangannya tergerak menyentuh puncak kepala Soojung. Kemudian beberapa waktu yang berlalu tangis Soojung sudah pecah. Myungsoo mengelus rambut panjang Soojung berniat untuk menenangkan adiknya itu. Hal ini sudah sangat lama terjadi. Bertingkah layaknya saudara yang saling menyayangi seperti ini sudah sangat lama mereka tidak lakukan, sebagai gantinya mereka hanya bertengkar bagai kucing dan tikus.

 

“Tidak apa-apa, Soojung-ah. Di waktu yang akan datang aku yakin dia berubah pikiran.”

 

Soojung menganggukkan kepalanya sekedar memberi semangat pada dirinya sendiri. Sekarang yang dibutuhkannya hanya rasa tenang yang diberikan Myungsoo. Waktu-waktu berikutnya yang terlewat akhirnya hanya diisi dengan pembicaraan sepasang saudara, sebelum akhirnya Soojung jatuh terlelap dipangkuan Myungsoo.

 

*

 

Minho terlihat kebingungan kala mendapati Myungsoo dan Soojung yang nampak sangat akur. Ini sangat tidak biasa, seperti itu lah pemikiran Minho. Dia berjalan mendekat kepada dua bersaudara itu. Lalu, tanpa segan-segan bertanya pada Soojung, “Kau sudah sehat?”

 

“Tentu saja,” balas Soojung dengan nada bersemangat. Gadis itu kembali seperti biasanya dan bertindak seolah tuli akan apa yang sudah didengarnya semalam. Tetapi, hanya seperti itu yang bisa dilakukannya tidak ada lagi. Berubah menjadi dingin? Oh, tidak. Hal seperti itu tidak cocok dengannya.

 

Myungsoo melepaskan gandengannya dengan Soojung, lalu memberi isyarat singkat pada adiknya jika ada keperluan mendadak.

 

“Jiyeon lagi. Sepertinya Oppaku sangat penasaran padanya.”

 

Minho hanya mengangkat bahunya tidak peduli. Dia memegang bahu Soojung dan mendorong Soojung untuk segera masuk ke kelasnya.

 

“Jiyeon-ssi!”

 

Jiyeon menoleh dan raut wajahnya masih sama seperti sebelumnya. Tatapan matanya berubah. Sebelumnya tatapan Jiyeon hanya tatapan misterius untuk Myungsoo, tapi sekarang sudah berubah menjadi tatapan yang sangat tajam.

 

“Aku minta maaf,” ucap Myungsoo lantang. Dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Merasa tidak mendapat respon dari Jiyeon, Myungsoo kembali melanjutkan ucapannya, “Soal ucapanku kemarin.”

 

“Bagaimana lukamu?”

 

“Eh-“ Myungsoo benar-benar sedang tidak mengalami ganguan pendengaran, berarti yang didengarnya barusan nyata. Ini benar-benar kemajuan. Sekarang seperti Myungsoo telah melangkah maju satu langkah untuk benar-benar dekat pada Jiyeon, dan itu artinya dia bisa mengetahui hal yang sangat membuatnya penasaran. Dia menatapi manik mata cantik Jiyeon, lalu membuka suara, “Sudah baikan. Dan itu karena kau.”

 

Ada senyum tipis yang tercetak di bibir mungil Jiyeon walaupun terlihat samar. Gadis itu merasa sedikit senang karena untuk pertama kalinya ada orang yang mengatakan dia merasa lebih baik karena dirinya.

 

Myungsoo sadar akan senyum samar itu, dan dia ikut tersenyum sendiri membayangkan tindakan sok pahlawannya malam kemarin membuahkan hasil yang sangat besar.

 

Hari-hari berikutnya yang berlalu dihabiskan Myungsoo dengan menempeli Jiyeon bagai permen karet. Meskipun berulang kali Jiyeon memberikan reaksi penolakan padanya, tapi tetap saja dia mendekati gadis itu. Sesuai saran Soojung. Dia mendekati Jiyeon perlahan-lahan dengan satu langkah kecil, kemudian berubah menjadi satu langkah yang besar untuk lebih dekat dan memahami dunia Jiyeon.

 

TBC

 

Note : Maaf kalau alurnya semakin tidak jelas. Dan buat yang udah koment di chapter 1 aku ucapin makasih yang sebesar-besarnya, maaf kalau gk bisa balas satu-satu.

Semoga suka🙂

67 responses to “[Chapter – 2] HIGH SCHOOL LOVERS : One Step Closer.

  1. Ada kemajuan juga pada sikap jiyeon walaupun hanya kecil. Tk sabar ingin lihat apa lagi kegiatan Myungsoo utk mendekati jiyeon. Dan kesian soojung. Cintanya hanya one-sided. Harap Minho dpt melihat rasa cinta darinya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s