[ONE SHOOT] The Lucky Maid

THE LUCKY MAID

Author: Anditia Nurul||Rating: PG-13||Length: Oneshot||Genres: Romance, Fluff, Family||Main Characters: (T-Ara) Jiyeon & (Infinite) L/Myungsoo||Additional Character: (BTS) V/Taehyung (as 4 y.o kid), (Infinite) Woohyun, (T-Ara N4) Dani & (OCs) Jiyeon’s parents||Disclaimer: I own nothing but storyline and the OCs|| A/N: Edited! Sorry if you still got typo(s).

“Sebagaimana pun beruntungnya aku, aku tetap seorang pembantu di sini.”–Jiyeon

HAPPY READING


Kalau bukan karena ide gila kedua orang tuaku yang mencoba menjodohkanku dengan seorang pengusaha muda yang entah mereka kenal dari mana, aku tidak mungkin berdiri di depan sebuah rumah mewah bersama seorang laki-laki berjas hitam yang beberapa saat lalu aku tolong dari aksi perampokan.

Ya, laki-laki ini beruntung karena saat terjadi aksi perampokan itu, aku berada di sekitarnya. Oh, tolong jangan salah paham. Aku bukan membuntuti laki-laki ini. Aku hanya kebetulan berada di dekat bank, berjalan sambil menggeret koper setelah aku kabur dari rumah.

Kim Myungsoo, laki-laki yang aku tolong ini menawariku bekerja sebagai maid. Bahasa kasarnya, pembantu rumah tangga. Dan aku… menerimanya. Ya, setelah kabur dari rumah sejak 3 hari yang lalu, aku tidak punya uang lagi. ATM, kartu kredit dan semua akses untuk mengambil uang dari simpananku di bank telah di blokir oleh kedua orang tuaku. Sungguh, orang tuaku kejam sekali. Hiks.

Tapi, aku bersyukur Tuhan mengirim Kim Myungsoo. Meski dengan tampangku yang kusut, kotor dan bau, dia mau memberiku pekerjaan. Tenang, dia tidak tahu kalau sebenarnya aku adalah seorang putri kabur dari istana. Aku mengaku sebagai seorang mahasiswi yang diusir dari rumah sewa karena tidak mampu membayar kontrakan, sudah 3 hari tidur di jalan. Mengenaskan.

“Nah, Park Jiyeon, mulai hari ini kau akan bekerja mengurus rumah ini,” kata Kim Myungsoo—atau lebih baik sekarang kupanggil Tuan Kim karena dia adalah majikanku—saat kami berada di ruang tamu rumahnya.

Oke. Ini… cukup sulit sebenarnya. Rumah Kim Myungsoo tidak jauh beda dengan rumahku, besar dan mewah. Di rumahku, ada 4 orang maid yang bertugas membersihkan seluruh rumah, namun sekarang… pekerjaan yang biasanya dikerjakan oleh 4 orang itu kini dikerjakan oleh aku… SENDIRI. Ya, sendiri. Kata Myung—maksudku, Tuan Kim, dia tidak punya pembantu di rumah—setidaknya sebelum aku datang.

“Bagaimana? Kau bisa… mengurus rumah ini, kan?” tanya Tuan Kim.

Aku yang sibuk melihat-lihat sekitar rumahnya, lantas menoleh begitu ia bertanya. “I-iya. Serahkan saja padaku,” jawabku. Sejujurnya, aku ingin bilang, ‘jangan serahkan padaku. Aku tidak biasa membersihkan rumah’, tapi… mengingat saat ini aku sangat butuh uang untuk kelangsungan hidupku, mau tidak mau aku harus terlihat meyakinkan sebagai… seorang pembantu.

“Oke. Kalau begitu, ikut aku. Aku akan mengajakmu melihat-lihat ruangan di rumah ini, sekaligus menjelaskan semua tugas-tugasmu.”

“Ya, Tuan Kim.”

“Tuan Kim?” Pemuda itu agak terkejut mendengar aku menyebutnya Tuan Kim.

Agak gelagapan, aku berkata, “K-kau… majikanku sekarang. Bukankah… aku harus memanggilmu dengan sebutan Tuan Kim? Atau… kau mau aku panggil Tuan Besar? Atau mungkin Tuan Muda?”

Myung—maksudku, Tuan Kim tertawa. “Tidak perlu. Kau tidak perlu sesopan itu padaku. Panggil Myungsoo saja, oke?”

“Eh?” Aku agak terkejut. “My-myungsoo?”

Tuan Kim—maksudku, Myungsoo mengangguk. “Ya. Lagi pula, kelihatannya umur kita tidak terpaut terlalu jauh. Aku 24 tahun. Usiamu pasti… tidak jauh dari situ, kan?”

“I-Iya, Tu—maksudku, Myungsoo-ssi. Aku… 23 tahun,” sahutku.

“Benar, kan!? Ya sudah. Ayo, akan kutunjukkan ruangan-ruangan di rumah ini.”

Aku baru hendak melangkah mengikuti Myungsoo yang melangkah lebih dulu, namun dari belakang… tiba-tiba kudengar seorang anak kecil berteriak, “APPA~~!!!” sambil berlari ke arah Myungsoo.

Seketika, aku terdiam di tempatku. Appa? Jadi…, Myungsoo ini… sudah punya anak di usianya yang baru 24 tahun? Oh, wow! Cepat sekali dia menikah.

“Ah~ Taehyung-ah, kau sudah pulang? Bagaimana hari ini? Apa Nam Ajussi membelikanmu sesuatu, hm?” tanya Myungsoo sembari berjongkok untuk menyamakan tingginya dengan seorang anak laki-laki yang ia panggil dengan nama Taehyung.

“Nam Ajussi mencubit pahaku, Appa~” Anak kecil itu mengadu.

“Ya. Aku minta maaf. Tadi Taehyung nakal sekali. Aku sampai tidak sadar sudah mencubit pahanya~” Entah sejak kapan berdiri di belakangku, namun… seorang laki-laki yang terlihat seusia Myungsoo, berada di sana.

“Hei! Woohyun-ah, kau ini bagaimana? Aku baru sekali menitip Taehyung padamu, tapi kau sudah berlaku kasar padanya,” ujar Myungsoo.

“Aku tahu. Maafkan aku,” sahut Woohyun. “Sebaiknya, kau carikan penjaga untuknya, hm. Kau tidak mungkin terus-terusan menitip Taehyung pada bawahanmu di kantor secara bergilir, hah?” usul Woohyun. “Atau jangan-jangan…” laki-laki itu memandangku dari atas ke bawah, “Gadis ini adalah orang yang akan kau jadikan baby sitter Taehyung?” lanjutnya.

“Ah, ya. Dia Park Jiyeon. Mulai hari ini, aku akan memperkerjakan dia di sini,” kata Myungsoo.

Okay. Sepertinya tugasmu bertambah, Park Jiyeon.

Laki-laki bernama Woohyun itu masih memandangku. Tatapannya terlihat mesum sekali. Hih!

“Hm… sayang sekali kalau gadis secantik ini harus jadi maid di rumah Kim Myungsoo,” katanya. “Bagaimana kalau kau kujadikan pacarku saja?” tanyanya, sangat sukses membuatku terkejut.

“APA?”

Dia tertawa. “Hahaha… tidak usah sekaget itu. Aku hanya bercanda. Lagi pula, kau terlihat kucel, kumuh, tidak terawat dan tidak seksi. Ckckck… bukan tipe gadis kesukaanku,” ujarnya.

Apa-apaan laki-laki ini? Baru pertama bertemu dia sudah berbicara yang macam-macam. Ugh, awas saja dia. Kalau bukan karena ini hari pertamaku bekerja, aku pasti sudah memberikannya jurus taekwondo-ku!

“Sudahlah, Nam Woohyun. Jangan mengganggu gadis itu. Lebih baik kau pulang sekarang,” perintah Myungsoo.

Woohyun mendengus kesal. “Iya. Iya. Bukannya berterima kasih, kau malah mengusirku!”

Diam-diam aku tertawa. Rasakan itu, Nam Woohyun!

Sepeninggal Woohyun, aku melayangkan pandanganku pada sepasan ayah dan anak di depanku. Kulihat Myungsoo sedang berusaha membujuk Taehyung agar tersenyum.

“Ayolah, Taehyung. Senyum. Jangan cemberut seperti itu. Kau tidak mau terlihat jelek di depan Jiyeon Ajumma, bukan?”

Ajumma? Aku? Ajumma? Ya! Kim Myungsoo, aku belum setua itu!

“Apa dia yang akan menjagaku, Appa?” tanya Taehyung di dalam pelukan Myungsoo, diam-diam melihat ke arahku.

“Ya. Mulai hari ini Jiyeon Ajumma yang akan menjagamu.”

“Dia… baik, kan, Appa?”

Myungsoo melirikku. “Ya. Dia baik. Tentu saja dia baik. Dia tidak seperti Woohyun Ajussi yang suka mencubit,” kata Myungsoo.

Dan tiba-tiba, bocah bernama Taehyung itu berlari ke arahku, memeluk kakiku sambil mendongakkan kepalanya untuk menatap wajahku. Jujur, aku kurang suka dengan anak kecil. Tapi—aish! Lagi-lagi aku harus berpura-pura menyukai anak kecil demi kelangsungan hidupku. “Jiyeon Ajumma, boleh aku memanggilmu ‘eomma’?”

Untuk kedua kalinya aku terkejut. “Eomma?” gumamku.

Eomma-nya sudah meninggal sejak dia berusia 1 tahun,” jelas Myungsoo.

Apa? Jadi, Kim Myungsoo ini adalah seorang duda beranak 1. Aku… harus bekerja untuk mengurus rumah seorang duda muda beranak 1? Oh, astaga. Tuhan, Kau pasti bercanda, kan?

@@@@@

Hari pertama bekerja yang saaaaaaangat melelahkan. Aku baru tahu, ternyata pekerjaan membersihkan rumah sungguh sangat melelahkan seperti ini. Aku jadi mengerti mengapa eomma selalu memperingatkanku untuk merapikan barang-barangku sendiri. Ya, agar pekerjaan para bibi di rumah tidak bertambah.

Saat ini aku berada di kamarku, kamar yang cukup—ah, bukan, kamar yang sangat bagus untuk seorang pembantu. Ya, mana ada pembantu yang diberikan kamar dengan kamar mandi, televisi dan pendingin ruangan di dalamnya? Bahkan tempat tidurku pun sangat empuk—seempuk tempat tidurku di rumah. Sungguh, aku bisa mengatakan diriku sebagai pembantu paling beruntung di dunia.

“Tok! Tok!”

Aku terperanjat begitu mendengar pintu kamarku diketuk. Buru-buru aku turun dari tempat tidur, beranjak membuka pintu dan… kudapati Myungsoo berdiri di depanku, lengkap dengan 2 gelas cangkir berisi teh di tangannya.

“Mau menemaniku minum teh?” tanyanya.

Agak mengherankan. Mana mungkin ada seorang majikan yang mengajak pembantunya minum teh bersama? Atau jangan-jangan… Kim Myungsoo ini menyukaiku? Haha! Apa yang kau pikirkan Park Jiyeon? Dia itu duda beranak satu. Ingat itu!

Aku mengangguk pelan. “I-iya.”

Kuikuti Myungsoo yang berjalan menuju lantai 2 rumahnya. Mengajakku minum teh di balkon sambil menikmati udara malam yang tidak terlalu dingin, indah dengan bulan purnama yang menghiasi langit bertabur bintang.

Myungsoo meletakkan salah satu cangkir teh di hadapanku, lantas meneguk teh dari cangkirnya sendiri. Tidak lama setelah itu, dia berkata, “Maaf tidak memberitahumu sebelumnya tentang Taehyung.”

“I-iya. Tidak a-apa-apa, Myungsoo-ssi,” jawabku sedikit gugup. “A-apa… sekarang dia sudah tidur?”

Myungsoo mengangguk. “Ya. Dia sudah tidur. Terima kasih sudah mau menemaninya hari ini,” ujar duda yang duduk di kursi yang berada di dekatku.

“Ya. Itu… termasuk tugasku di sini, kan?”

Lagi, Myungsoo mengangguk. “Kau benar. Sejak perusahaan yang kuwarisi dari ayahku semakin berkembang, aku jadi tidak punya banyak waktu untuk menemani Taehyung. Sering aku menitipkannya pada bawahan yang sudah aku anggap seperti sahabat atau saudaraku sendiri. Itu sedikit membuatku merasa tidak enak.”

“Lalu, kenapa tidak memperkerjakan baby sitter?”

“Aku tidak mau Taehyung dijaga oleh sembarang orang. Karena itu aku tidak memperkerjakan baby sitter. Aku sendiri heran melihat reaksi Taehyung saat bersamamu hari ini. Dia terlihat nyaman denganmu.”

Kugaruk pipiku yang tidak gatal. Ya, aku pun sama herannya. Biasanya, aku juga tidak begitu menyukai anak kecil, apalagi anak laki-laki. Tapi, saat menemani Taehyung bermain hari ini, entahlah… aku merasa cocok dengan anak itu.

“Ya. Bagus kalau kau pikir dia nyaman denganku,” balasku.

Myungsoo mengangguk, lantas menyesap tehnya.

Dan aku pun ikut menyesap tehku.

“Oh ya, Myungsoo-ssi, aku boleh bertanya sesuatu?”

“Kau mau tanya apa?”

Aku terdiam sejenak. Sebenarnya, aku juga sedikit tidak enak menanyakan ini, tapi… aku penasaran. Aku memikirkannya sejak aku tahu fakta bahwa… majikanku ini adalah seorang duda beranak 1.

“Kau… menikah muda, ya?” tanyaku agak hati-hati, takut Myungsoo tersinggung. Sangat tidak lucu jika aku langsung dipecat karena Myungsoo tersinggung dengan pertanyaanku.

Tapi, dia malah tertawa. Oke. Ini… aneh. Maksudku, majikanku ini… aneh. “Kupikir kau sudah tahu jawabannya. Kenapa bertanya lagi?” balasnya.

Aku menyengir. Ya, sudah pasti Kim Myungsoo menikah muda. Taehyung sekarang berusia 4 tahun, sementara Kim Myungsoo baru berusia 23 tahun. Itu artinya, paling tidak, Myungsoo menikah di usia 18 tahun. Oh, God! Apa jangan-jangan… Taehyung itu anak hasil… ehm, perbuatan… itu.

GLEK!

“Kenapa raut wajahmu berubah seperti itu, hm? Apa yang kau pikirkan?” tegur Myungsoo.

Lekas aku menggeleng, lalu menjawab, “Tidak. Bukan apa-apa.”

Dan selanjutnya, kulihat Myungsoo tertawa samar. What’s funny?

“Kau pasti berpikir kalau Taehyung adalah anak hasil perbuatan di luar nikah, ya?” tanyanya, seketika membuatku mematung. Ya, aku memang berpikir seperti itu, Myungsoo-ssi. “Tenang saja. Taehyung bukan anak hasil perbuatan itu.”

Aku tidak tahu kenapa, tapi… aku bernapas lega setelah mendengar penjelasan Myungsoo.

“Tolong bantu aku untuk menjaganya. Dia sangat berharga dalam hidupku~” kata Myungsoo lagi.

Ya, Kim Myungsoo-ssi, karena kau sudah membantu menyelamatkan hidupku, aku akan berusaha untuk membantumu menjaga Taehyung dan juga rumah ini tentu saja. Serahkan padaku!

@@@@@

Hari Minggu. Tepat 5 hari, tuan putri Park Jiyeon yang cantik ini bekerja di rumah seorang duda beranak 1. Hah, ini baru 5 hari dan—entahlah, aku mulai berpikir untuk pulang ke rumah orang tuaku dan menerima perjodohan itu. Ah, tidak! Apa yang barusan aku pikirkan? Tidak dan tidak! Aku tidak akan pernah mau dijodohkan dengan pengusaha muda kenalan appa atau siapa pun. Aku ingin mencari dan menemukan pangeranku sendiri! Untuk saat ini, aku harus bertahan menjadi seorang pembantu.

Appa~ Eomma~” Taehyung memanggil aku dan Myungsoo di tengah-tengah acara sarapan. Oh, biar aku sebutkan satu lagi keuntungan menjadi pembantu di rumah Myungsoo, aku… bahkan diperbolehkan makan semeja dengan mereka.

“Ya? Ada apa, Sayang?” balas Myungsoo, menatap anak kecil tampan yang duduk di sebelah kirinya. Sementara aku yang duduk berhadapan dengan Taehyung hanya bisa memperhatikan. Ayolah, meski sudah 5 hari aku dipanggil eomma, aku masih belum terbiasa.

“Besok temanku ulang tahun. Aku belum punya kado untuknya,” kata Taehyung polos.

“Aah~ begitu,” sahut Myungsoo paham. “Baiklah. Nanti kita akan ke mall untuk membeli kado.”

“Aku juga mau beli mobil-mobilan baru, boleh, Appa?” pinta Taehyung lagi dengan suara yang sangat menggemaskan.

“Tentu saja~”

“YEEE~~ ASIIIKKK~~~!!!” riang Taehyung. Sungguh menyenangkan melihat anak kecil itu bahagia seperti saat ini. “Eomma~ hari ini Appa mau membelikanku mobil-mobilan baru~” katanya padaku. Aku membalasnya dengan sebuah senyuman.

“Jiyeon-ah, nanti kau juga ikut, ya?”

“Apa?” kagetku, mengalihkan pandangan ke arah Myungsoo.

“Nanti kau juga ikut. Aku tidak tahu membeli kado untuk anak kecil,” jelasnya.

Aku mengangguk paham. “Ah, ya. Baiklah~”

Sekitar beberapa jam setelah sarapan, kudapati diriku berjalan di dalam sebuah gedung mall yang tidak jauh dari rumah Myungsoo, lengkap dengan sebuah tas yang tidak terlalu besar yang tersampir di bahu kiriku. Tas yang berisi… makanan ringan dan minuman untuk si kecil Taehyung. Ya, kau tahu? Sekarang aku adalah… ibunya, jadi aku yang repot.

Sebenarnya, aku tidak masalah dengan peranku sebagai pembantu merangkap ibu jadi-jadian untuk Taehyung. Hanya saja…, aku baru menyadari 1 hal. Detik ini dan untuk beberapa puluh menit ke depan, aku berada di tempat umum. Bagaimana kalau aku tidak sengaja bertemu dengan temanku dan melihat aku sedang memegang tangan seorang anak kecil? Huwaaa… bisa-bisa mereka salah paham. Dan yang lebih parah dari itu, bagaimana kalau aku… bertemu dengan orang suruhan Appa? Myungsoo bisa tahu kalau aku berbohong. Aku bisa dipecat dan diusir dari rumahnya, lalu… huwaaaa… aku akan berakhir dengan perjodohan.

AAAA!!! TIDAK! TIDAK! TIDAK!

“Selamat datang~” Seorang pramuniaga dari sebuah toko mainan menyapa kami—aku, Taehyung dan Myungsoo—saat memasuki toko. Aku hanya membalasnya dengan senyum. Sedangkan Taehyung sudah melepaskan pegangan tanganku, berlari menghampiri rak-rak berisi mainan.

“Sekarang bagaimana?” tanya Myungsoo padaku. Oke. Untuk masalah satu ini, sepertinya Tuan Kim benar-benar butuh bantuanku.

Sementara Myungsoo duduk di salah satu kursi yang berada di dalam toko, Taehyung malah tampak asik mencari mainan untuk dirinya sendiri, aku sibuk mencari kado untuk teman Taehyung. Kata Taehyung saat di perjalanan, temannya yang berulang tahun itu perempuan. Oke. Itu mudah. Anak perempuan pasti suka boneka, mainan masak-masakan atau ya… apa pun yang terlihat lucu saat mereka memainkan atau memakainya.

Sekitar beberapa menit bertualang di antara deretan rak mainan, aku menjatuhkan pilihanku pada… sebuah boneka kelinci berwarna putih yang terlihat lucu dengan pakaian berwarna merah muda. Oke. Aku pilih yang ini saja.

“Aku sudah dapat~” seruku saat kuhampiri Myungsoo bersama Taehyung dan mainan barunya.

“Boneka?” gumam Myungsoo.

“Ya. Memangnya kau memilihkan apa untuk anak perempuan, hah? Robot-robotan?”

Myungsoo menggeleng. “Tidak,” balasnya. “Ya sudah, ayo,” lanjutnya, mengajak aku dan Taehyung menuju kasir.

Setelah membayar, kami bertiga pun keluar dari toko. Lagi-lagi, aku yang harus repot membawa 2 bungkusan berisi mainan. Sebagaimana pun beruntungnya aku, aku tetap seorang pembantu di sini.

Saat berjalan menuju escalator, tiba-tiba ponsel Myungsoo berdering. Myungsoo berhenti melangkah, begitu pun aku dan Taehyung. Entah siapa yang menelepon, namun… Myungsoo menjauh dari kami saat menjawab panggilan itu. Sekitar beberapa menit kemudian, Myungsoo pun menghampiri aku dan Taehyung.

“Jiyeon-ah, kau ajaklah Taehyung bermain. Seingatku ada tempat bermain anak-anak di lantai 3. Aku harus bertemu dengan seseorang di café di dekat sini. Nanti aku akan menghubungimu setelah aku selesai,” jelas Myungsoo padaku. Aku mengangguk.

Tidak lama, Myungsoo menunduk, menyejajarkan tingginya dengan anak semata wayangnya. “Taehyung-ah, Appa pergi sebentar, ya. Kau dan eomma pergi bermain di lantai atas. Nanti Appa akan menjemput Taehyung dan eomma setelah Appa selesai.”

“Baik, Appa~” sahut Taehyung.

“Anak pintar.” Myungsoo mengacak-acak pelan rambut anaknya. “Ya, sudah. Appa berangkat sekarang.”

Sepeninggal Myungsoo, aku mengajak Taehyung ke lantai 3. Setelah bertanya pada seorang satpam yang menunjukkan letak tempat bermain untuk anak, akhirnya… aku dan Taehyung tiba di tempat itu. Ya, benar-benar surga untuk anak kecil. Taehyung langsung melepas genggamanku, berlari memasuki arena bermain dan bergabung bersama beberapa anak kecil yang berada di sana.

Hah~ dasar anak kecil.

Setelah Taehyung bergabung dengan teman seumurannya, aku… mau tidak mau… harus bergabung dengan beberapa orang ibu yang duduk mengawasi anaknya. Aku merasa sedikit risih karena beberapa dari ibu yang ada di situ memperhatikan ku saat aku berjalan menghampiri mereka.

Ah, mungkin… mereka berpikir aku terlalu muda untuk menjadi seorang ibu.

Eomma~ hausss~~”

Baru beberapa menit aku merapatkan bokongku pada bangku, Taehyung berlari menghampiriku, mengatakan dirinya haus. Bergegas aku mengeluarkan botol air minum dari tas yang sejak tadi membuat bahu sebelah kiriku pegal. Setelah menghilangkan dahaganya, Taehyung kembali berlari ke arena bermain.

“Anak Anda lucu sekali~” kata seorang ibu yang duduk di sebelahku. Dilihat dari penampilannya, mungkin… ia lebih tua sekitar 5-6 tahun dariku.

Mendengar ucapannya, aku hanya bisa senyum cengengesan. Ya, Taehyung memang sangat lucu.

“Usianya berapa?” tanya ibu itu.

“4 tahun,” jawabku.

“Wah~ Anda kelihatannya baru berusia 20-an awal, tapi sudah punya anak yang berusia 4 tahun,” katanya dengan nada kagum yang dibuat-buat. “Anda menikah muda, ya?”

Aish! Kenapa ibu satu ini cerewet sekali? Dia seperti ibu-ibu teman arisan eomma. Ck! Menyebalkan.

“Hehe~” Dan lagi-lagi, aku hanya bisa menjawabnya dengan sebuah senyum cengengesan. Terserah saja dia mau mengartikan apa.

Kim Myungsoo-ssi, sebaiknya kau cepat. Aku mulai tidak tahan bersama dengan ibu-ibu di sini.

@@@@@

Appa~” Taehyung berseru riang, keluar dari area bermain dan berlari ke arah Myungsoo yang akhirnya datang setelah dengan teganya membiarkan aku duduk di antara ibu-ibu yang punya rasa ingin tahu yang tinggi.

Melihat Taehyung—yang mereka pikir adalah anakku—berlari ke arah Myungsoo, salah satu dari mereka berkata, “Wah~ suami Anda juga masih muda. Tampan sekali~”

Entah untuk keberapa kalinya hari ini aku hanya tertawa cengengesan. Bergegas aku menghampiri Myungsoo yang sedang berbicara dengan Taehyung.

“Hari ini aku sangat senang, Appa~”

“Oh, ya? Baguslah kalau begitu~” Myungsoo mengacak-acak pelan surai hitam Taehyung.

“A-anu, maaf mengganggu. Tapi, sebaiknya… kita pulang sekarang,” ujarku, menyela pembicaraan Myungsoo dan anaknya. Kuperhatikan sekitar dan kudapati ibu-ibu tadi mulai berbisik-bisik. Uh, pasti membicarakan aku.

“Ha? Taehyung belum mau pulang, Eomma~” rajuk Taehyung. Aduh!

“Ya. Memangnya kenapa kau buru-buru mau pulang. Bukankah lebih kita berlama-lama di sini, hm? Lagi pula, aku dan Taehyung sudah lama tidak berjalan-jalan di mall.”

“Ya, aku mengerti, tapi…” Kugantungkan ucapanku, lantas berbisik pada Myungsoo, “ibu-ibu di sini menganggap kita suami-istri. Kau tahu? Aku sudah tidak tahan berada di dekat mereka,” lanjutku.

Setelah aku berbisik seperti itu, Myungsoo malah tertawa samar. “Ah, baiklah, aku paham,” sahutnya. “Hmm… Taehyung-ah, kapan-kapan lagi kita bermain di mall, ya? Eomma sudah lelah. Kau tidak mau eomma sakit, kan?” Myungsoo merunduk, berusaha membujuk Taehyung.

Bocah tampan itu merengut, lalu mengangguk. “Ya sudah. Kita pulang saja. Taehyung tidak mau eomma sakit~” sahutnya kelihatan terpaksa. Ah, aku jadi kasihan padanya.

Aku, Taehyung dan Myungsoo pun keluar dari tempat bermain. Untuk beberapa menit, kami berjalan-jalan di sekitar mall. Sama di tempat bermain tadi, saat berjalan-jalan pun, beberapa pasang mata melihat ke arah kami sambil berbisik-bisik. Ya, aku tahu saat ini kami terlihat seperti keluarga kecil yang bahagia, berjalan sambil bergandengan tangan. Aku benar-benar berharap tidak ada satu pun orang yang mengenalku yang melihatku seperti ini.

Appa~ aku mau es krim~” Taehyung menoleh ke arah Myungsoo yang berada di sisi kirinya, menunjukkan raut wajah memelas yang sangat imut. Entah seperti apa wajah mendiang istri Myungsoo, tapi… aku yakin dia cantik. Sungguh Myungsoo dan istrinya bekerja sama dengan baik saat membuat Taehyung… hahaha. Aish! Apa yang barusan aku pikirkan?

“Tapi, hanya boleh makan 1 cup mini, ya~ Tidak ada cup jumbo!” kata Myungsoo.

Taehyung mengangguk, menuruti kata Appa-nya.

Kami pun berjalan ke booth penjual es krim yang tidak jauh di depan. Myungsoo memesankan es krim rasa cokelat untuk jagoan kecilnya, rasa vanilla untuk dirinya dan… yah, lagi-lagi kuakui aku benar-benar beruntung menjadi seorang maid karena majikanku mentraktirku es krim rasa stroberi.

Namun…, di saat kami berdiri menunggu pesanan, tiba-tiba saja kulihat beberapa pria berjas dan berkacamata hitam berjalan ke arah kami. Dari wajah-wajah mereka, aku sangat yakin mereka adalah suruhan Appa yang selalu mencariku sejak aku kabur dari rumah. Mampus! Mereka sudah melihatku.

Aku harus bagaimana sekarang? Tetap di sini atau… LARI!

Tanpa basa-basi aku langsung berlari meninggalkan Myungsoo dan Taehyung. Aku bahkan bisa mendengar Myungsoo berteriak memanggilku. Ah, maafkan aku Myungsoo-ssi, tapi… aku benar-benar harus melarikan diri sekarang.

“Nona Park! Jangan lari!”

Dan pria-pria berjas hitam itu pun mengejarku.

@@@@@

Waktu telah menunjukkan pukul 7 malam dan aku baru pulang ke rumah Myungsoo. Melarikan diri dari bodyguard-bodyguard Appa sungguh membuatku sangat lelah. Aku sampai harus bersembunyi berjam-jam di gudang barang sebuah toko milik temanku di SMP yang berjualan di mall itu.

“Kau darimana? Kenapa baru pulang?” Myungsoo langsung menegur begitu aku tiba di rumahnya.

Aku menghela napas, lalu membungkuk 90 derajat. “Maafkan aku.”

“Kenapa kau tiba-tiba lari, hah? Aku sudah menghubungimu berkali-kali, tapi ponselmu tidak aktif,” kata Myungsoo, marah.

“Aku tahu aku salah. Aku benar-benar minta maaf, Myungsoo-ssi,” sesalku. Aku bahkan tidak tahu sejak kapan air mataku mengalir. Entahlah, aku benar-benar merasa bersalah pada Myungsoo yang telah baik padaku.

“Ya sudah, masuklah. Bersihkan tubuhmu dan ganti pakaianmu. Setelah itu, temui Taehyung di kamarnya. Dia tidak mau makan kalau tidak disuap eomma-nya,” perintahnya, lalu meninggalkanku.

Kutegakkan tubuhku sambil menyeka air mata. Kulihat Myungsoo naik ke lantai 2 menuju kamarnya. Tampaknya, dia benar-benar marah. Ah ya. Pembantu macam apa aku ini? Sudah berani berulah, padahal baru 5 hari bekerja. Kau benar-benar tidak tahu berterima kasih, Park Jiyeon!

Setelah menenangkan diri, bergegas aku beranjak menuju kamarku. Membersihkan diri dan mengganti pakaian, lalu menemui Taehyung di kamarnya di lantai 2. Sambil membawa sepiring makanan, aku masuk ke dalam kamar Taehyung. Menghampiri bocah tampan yang langsung menunjukkan wajah cemberutnya begitu melihatku masuk.

“Taehyung~” panggilku.

Bocah itu itu menggembungkan pipinya, menatapku kesal.

“Ayo, makan, Sayang. Kau belum makan, kan?” Aku menghampirinya, duduk di dekatnya.

Eomma dari mana? Kenapa baru pulang?” tanyanya.

“Ah, maafkan eomma. Tadi eomma ada urusan penting.”

“Urusan penting apa sampai meninggalkan Taehyung dan Appa?” tanyanya lagi. Haduh, aku malah semakin merasa bersalah.

Eomma minta maaf, Taehyung-ah. Maaf karena sudah meninggalkan Taehyung.”

“Taehyung akan memaafkan eomma asal eomma berjanji tidak akan meninggalkan Taehyung dan Appa,” rajuknya.

Aku menghela napas panjang. “Ya baiklah. Eomma berjanji tidak akan meninggalkan Taehyung dan Appa.”

“Janji?” Taehyung menaikkan kelingking mungilnya.

“Janji.” Dan kutautkan kelingkingku pada kelingkingnya sebagai tanda bahwa aku berjanji padanya. “Sekarang Taehyung makan, ya, supaya cepat besar~” kataku.

“Ya, eomma~”

“Aaa~ buka mulutnya, Taehyung. Kereta mau masuk~”

@@@@@

Waktu telah menunjuk pukul 8 lewat saat aku keluar dari kamar Taehyung. Setelah menyuapinya, aku menemaninya bermain hingga akhirnya… ia tertidur lelap di kamarnya. Sambil membawa piring kosong, aku menuruni tangga. Namun, di bawah, di ruang tengah, aku melihat Myungsoo duduk di sofa sambil melihat foto seorang wanita di dalam sebuah album.

Uh?

Apa itu… foto mendiang istrinya? Ibu Taehyung?

Benar dugaanku, ibu Taehyung benar-benar cantik.

Aku pun melintas di ruang tengah, berjalan ke dapur untuk membawa piring kosong di tanganku. Tepat di saat aku melintas, Myungsoo memanggilku.

“Jiyeon-ah?”

Aku menoleh ke arahnya dan membalas, “Ya?”

“Setelah kau membawa piring itu ke dapur, kau… mau menemaniku mengobrol sebentar?” tanyanya.

Aku mengangguk pelan. “Ya,” jawabku sekali lagi.

Lekas aku berjalan ke dapur, meletakkan piring Taehyung di tempat pencucian piring. Setelah itu, aku kembali menghampiri Myungsoo yang duduk di ruang tengah. Kulihat ia masih sedang membuka-buka album foto berwarna biru ketika aku berjalan mendekatinya.

“Itu… foto… eomma-nya Taehyung?” tanyaku.

Myungsoo agak terkejut mendengar pertanyaanku yang mungkin menginterupsi lamunannnya. Ia melihat ke arahku, lalu mengangguk.

“Cantik~” gumamku.

“Ya. Tentu saja,” sahut Myungsoo.

Untuk sesaat kami berdua terdiam. Myungsoo tampak begitu takzim memandangi foto mendiang istrinya. Hah, sunggu beruntung wanita itu bisa mendapatkan pria sebaik Kim Myungsoo yang tampan, baik dan penyayang. Andai saja… aku juga bisa mendapat pria seperti Myungsoo…

Astaga! Jiyeon, apa yang kau pikirkan, hah?

Ingat! Kau itu hanya pembantu Kim Myungsoo!

“Kejadian di mall tadi,” ujar Myungsoo memulai permbicaraan, “bisa kau menjelaskannya? Kenapa kau dikejar-kejar oleh pria-pria berjas hitam?”

Aku gelagapan. “Ah… itu…”

“Sebenarnya, kau siapa, Park Jiyeon?” tanya Myungsoo, menatapku dengan tatapan yang tajam mengintimidasi.

Aku tidak berani membuat kontak mata dengannya. Huh, sungguh takut menceritakan siapa diriku sebenarnya.

“Ceritakanlah yang sebenarnya. Saat ini, anggap aku sebagai temanmu,” ujar Myungsoo lagi.

“Kau… tidak akan marah kalau… tahu siapa aku sebenarnya, kan? Kau… tidak akan memecatku?”

Myungsoo menghela napas, lalu mengangguk.

“Jadi, sebenarnya… aku adalah…”

Dan aku mulai menceritakan siapa diriku sebenarnya, alasan aku melarikan diri dari rumah, perjodohan itu dan semuanya. Aku mengaku pada Myungsoo bahwa selama ini aku sudah membohonginya, tapi… aku tidak bermaksud untuk melakukan itu. Aku… hanya butuh pekerjaan agar aku bisa tetap hidup meski tanpa uang dari kedua orang tuaku.

“Memangnya… kau mau dijodohkan dengan siapa?” tanya Myungsoo di sela-sela ceritaku.

Kugidikkan kedua bahuku. “Kata Appa, dia seorang pengusaha muda. Aku belum pernah bertemu dengannya.”

Myungsoo terkekeh. “Kalau begitu, kenapa melarikan diri, hah? Kau kan belum pernah melihat orangnya. Siapa tahu saja dia tampan dan sesuai dengan tipemu, ya, kan?”

Aku mendengus. “Ya, aku tahu. Tapi, aku tidak mau dijodohkan. Aku ingin mencari calon pendamping hidupku sendiri tanpa dibantu oleh kedua orang tuaku.”

“Begitu?”

“Ya. Salah?”

Myungsoo menggeleng. “Tidak salah.”

“Baguslah,” sahutku. “Karena kau sudah tahu siapa aku sebenarnya, aku harap kau tidak memecatku. Aku butuh pekerjaan ini, Myungsoo-ssi.”

Lagi, Myungsoo terkekeh. “Tentu saja aku tidak akan memecatmu hanya karena alasan itu, Jiyeon-ssi.”

Aku pun menghela napas lega.

“Ya sudah. Kau pasti lelah karena seharian dikejar-kejar oleh pria-pria tadi. Sebaiknya kau pergi tidur karena besok kau harus menemani Taehyung ke acara ulang tahun temannya.”

Aku mengangguk. “Terima kasih, Myungsoo-ssi.”

“Ya, sama-sama,” sahutnya. “Selamat malam. Mimpi yang indah~” kata Myungsoo, lalu tersenyum. Senyum yang amat manis yang pernah kulihat.

Lagi, aku mengangguk. “Ya. Kau juga,” balasku, lantas beranjak menuju kamarku.

@@@@@

“Kalau sudah selesai, langsung telepon, oke? Nanti aku yang jemput atau aku akan menyuruh seseorang menjemput kalian,” pesan Myungsoo saat mengantar kami ke acara ulang tahun teman Taehyung yan diadakan di sebuah taman bermain.

“Ya. Aku mengerti.”

“Taehyung-ah, Appa pergi dulu. Bersenang-senanglah dengan eomma~” Myungsoo melambaikan tangannya pada Taehyung.

“Ya, Appa~” Taehyung balas melambaikan tangannya juga.

Setelah mobil Myungsoo berlalu, kuajak Taehyung menemui temannya yang berulang tahun. Memberikan gadis kecil yang berdandan a la Snow White itu kado yang telah dibeli kemarin, sekaligus mengucapkan selamat ulang tahun padanya.

Eomma, Taehyung mau main dengan teman-teman di sana~” kata Taehyung sambil menunjuk sebuah perosotan.

Aku mengangguk pelan. “Baiklah. Tapi, hati-hati mainnya, ya~”

“Ya, Eomma~”

Dan bocah kecil itu langsung berlari menghampiri teman-temannya.

Aku pun duduk di salah satu kursi yang disediakan sambil mengawasi Taehyung bermain. Sesekali kuedarkan pandanganku ke sekitar, melihat betapa meriahnya acara ini. Balon-balon berwarna-warni di pasang di beberap sudut taman, badut Mickey Mouse dan Donald Duck yang menghibur anak-anak juga beraneka ragam kue yang berada di atas meja.

“Jiyeon-ah?” Sontak aku menoleh begitu mendengar seseorang memanggilku.

GLEK!

“A-ah, Da-dani?” gumamku gelagapan. “A-apa yang kau lakukan di-di sini?” tanyanku gugup. Uh, bagaimana bisa Kim Dani berada di sini, hah? Astaga! Mampus! Kuharap dia tidak tahu kalau aku kabur dari rumah.

Dani melipat kedua tangannya di depan dada, lalu berkata, “Justru aku yang seharusnya bertanya seperti itu padamu, Park Jiyeon. Ini adalah acara ulang tahun keponakanku. Tentu saja aku ada di sini. Kau sendiri? Kenapa kau bisa berada di sini, hah?”

“Ah, itu… anu…” Aku sungguh tidak tahu harus menjawab apa. Dani tahu aku adalah seorang anak tunggal, mana mungkin punya keponakan?

“Apa?” tanya Dani terkesan menuntut. Benar-benar mampus!

“Aku… sedang menemani anak sepu—”

EOMMA~~~”

Tepat di saat aku ingin berbohong, tiba-tiba saja Taehyung berlari ke arahku DAN MEMANGGILKU EOMMA DI DEPAN DANI!

“Jiyeon-ah, apa yang terjadi, hah? Siapa anak kecil ini? Kenapa dia memanggilmu eomma?” Dani menyerangku dengan pertanyaan yang bertubi-tubi.

Aku tertawa cengengesan. “Akan aku jelaskan nanti. Aku urus anak ini dulu.”

Lekas kubawa Taehyung menjauh dari Dani. Rupanya, dia berteriak memanggilku karena… dia mau buang air kecil. Kutemani bocah itu menuju toilet umum terdekat, menunggu di depan pintu toilet hingga dia selesai.

Eomma tunggu di sini, ya. Taehyung bisa cebok sendiri, kan?”

“Ya, Eomma~”

Kusandarkan tubuhku pada dinding di samping pintu. Huh, aku harus menjelaskan apa nanti pada Dani, hah? Kalau aku menceritakan semuanya, apa dia… tidak akan mengadu ke orang tuaku, hah? Kalau aku tidak menceritakan semuanya, dia pasti akan bertanya terus-terusan seperti yang pernah ia lakukan saat aku pacaran diam-diam dengan tetangganya, Siwan.

Gee! Jangan sampai hal itu terjadi untuk kedua kalinya.

Sekitar beberapa menit kemudian, Taehyung membuka pintu toilet.

“Sudah selesai?” tanyaku.

Bocah tampan itu mengangguk. “Iya, Eomma.”

“Ayo kembali ke sana.”

Aku pun mengajak Taehyung kembali ke pesta. Kalau bertemu Dani lagi, sudah kuputuskan untuk menceritakan semuanya. Aku bisa menyuruh gadis itu untuk tidak menceritakan ini pada siapa pun, apalagi mengadu pada orang tuaku. Ya, itu pasti cara yang aman.

“Taehyung-ah, jangan la—”

“Nona Park!” Entah dari mana datangnya, tiba-tiba kurasakan tubuhku dipeluk dari belakang oleh seseorang.

Ya! Kau—” Sepersekian detik kemudian, orang itu membekap mulutku dengan sapu tangan yang sepertinya telah ditetesi kloroform.

“Maafkan saya, Nona Park.” Orang itu berbisik di telingaku. Ah, anak buah Appa.

“MMPPH!!!” Aku berusaha berontak. Namun, perlahan-lahan penglihatanku mulai kabur. Sayup-sayup kudengar Taehyung berteriak memanggilku, meneriakkan ‘eomma’ berkali-kali. Aku ingin menyuruhnya untuk lari dari sini, tapi aku tidak bisa melakukannya. Kesadaranku perlahan-lahan menghilang dan… sedetik kemudian, semuanya menjadi gelap.

@@@@@

“Eungh~”

Perlahan-lahan kubuka kedua mataku, mengerjap-ngerjapkannya beberapa kali sehingga penglihatanku jelas. Setelah seluruh nyawaku terkumpul, kuedarkan pandanganku ke sekitar. Oh tidak! Aku sudah kembali ke rumah. Aku sudah berada di kamarku!

Namun seketika, aku teringat sesuatu.

TAEHYUNG!

ANAK ITU BERADA DIMANA SEKARANG? GAWAT! BAGAIMANA INI? KALAU TERJADI SESUATU APA-APA PADANYA, MYUNGSOO TIDAK AKAN MEMAAFKANKU!

Tidak peduli dengan kepalaku yang terasa sedikit pusing, aku beranjak dari tempat tidur. Tepat di saat itu, eomma dan Appa masuk ke dalam kamarku.

“Jiyeon-ah, kau mau kemana?” Mereka bergegas menghampiriku.

“Aku harus kembali ke taman, Appa, Eomma. Ada sesuatu yang harus aku selesaikan,” jawabku, berdiri dari dudukku, hendak melangkah menuju pintu.

Tapi, Appa langsung menarikku, menyuruhku duduk di tepi tempat tidur dan berkata, “Jangan khawatirkan anak kecil itu. Dia sudah berada di tempat yang aman.”

“Apa Appa membawanya ke sini, hah? Dimana dia? Biarkan aku mengantarnya pulang ke rumah Appa-nya. Dia adalah tanggung jawabku.”

Appa dan eomma saling berpandangan, lalu tersenyum. Tidak lama kemudian, gentian eomma yang berkata, “Sudahlah. Anak itu sudah bersama Appa-nya.”

“Benarkah?”

Keduanya mengangguk. Aku pun bernapas lega. Syukurlah anak buah Appa tidak macam-macam pada Taehyung. Sungguh, aku tidak tahu harus bagaimana kalau Myungsoo sampai marah karena aku tidak bisa menjaga Taehyung dengan baik. Aku… tidak mau membuatnya kecewa padaku.

“Oh ya, Jiyeonie, ada seseorang yang bertemu denganmu,” kata eomma.

“Si-siapa?”

Lagi-lagi, Appa dan eomma saling memandang satu sama lain, lalu tersenyum. “Tunggu sebentar, akan kami panggil dia ke sini.”

Appa dan eomma beringsut keluar dari kamarku, meninggalkan aku yang penasaran dengan siapa seseorang yang ingin bertemu denganku. Apa mungkin… laki-laki yang akan dijodohkan denganku? Oh tidak! Kenapa harus bertemu orang itu di saat yang seperti ini, hah!?

Aish! Keterlaluan!

“Jiyeon-ah~”

Persis di saat aku mengacak rambutku, kesal, sebuah suara yang tidak asing mengetuk gendang telingaku. Aku melihat ke arah pintu dan—astaga!

“Myungsoo-ssi?” kagetku.

“Bagaimana keadaanmu?” tanyanya, berjalan menghampiriku.

“Ba-baik,” jawabku. Kedua mataku tidak lepas memandang laki-laki itu. “Kau…, bagaimana kau bisa berada di sini, hah? Apa… anak buah Appa-ku yang membawamu ke sini? Dimana Taehyung?”

Myungsoo tertawa pelan. “Hei, kalau bertanya itu satu-satu. Aku tidak tahu harus menjawab yang mana dulu,” ujar Myungsoo.

Aku menghela napas. “Maaf, aku hanya terkejut kau berada di sini,” balasku.

“Aku memang harus berada di sini, bukan? Aku harus memastikan kau dalam keadaan baik-baik saja.”

Aku mengernyitkan dahiku, bingung. “Apa maksudmu, hah?”

“Masa kau tidak mengerti?” Dia malah balik bertanya, lalu tersenyum. Senyum yang tidak bisa aku artikan.

“Sebenarnya ada apa, hah? Aku benar-benar tidak mengerti!” Kugaruk pipi kanan dengan jari telunjukku. Sungguh, aku pasti terlihat sangat bodoh karena Myungsoo malah menertawakanku.

“Aku adalah… lelaki yang akan dijodohkan denganmu, Nona Park~”

“APA?” seruku terkejut. Sangat terkejut. “KAU?” ulangku. Kurasakan tubuhku bergetar hebat.

Myungsoo mengangguk.

“Mustahil! Aku tidak percaya ini,” gumamku sambil menutup mulut dengan telapak tangan kananku.

“Kau harus percaya karena ini benar. Aku adalah lelaki yang akan dijodohkan denganmu, Park Jiyeon~”

“Jadi, Appa dan eomma menjodohkanku pada seorang duda beranak 1, hah?” gumamku tanpa sengaja.

Dan lagi-lagi, Myungsoo malah menertawakanku. “Jadi, kau benar-benar percaya bahwa aku seorang duda muda beranak 1, hah? Kau benar-benar percaya bahwa Taehyung adalah anak kandungku?”

Dengan polosnya aku mengangguk dan itu malah membuat Myungsoo tertawa terbahak-bahak. Aku tahu ini tidak sopan, tapi… Myungsoo benar-benar kelihatan sangat aneh hari ini.

“Jiyeon-ah, Jiyeon-ah,” gumam Myungsoo, berusaha meredam tawanya sendiri, “kau ini sungguh polos,” lanjutnya.

“Apa maksudmu, hah?”

Dia menghela napas panjang, mengakhiri tawanya. Sepersekian detik kemudian, ia berkata, “Dengar, ya. Taehyung adalah anak dari kakak perempuanku yang meninggal 5 tahun lalu, Kim Taeyeon. 5 tahun lalu kakakku dan suaminya meninggal akibat kecelakaan. Sebelum meninggal, kakakku berpesan padaku untuk menjaga Taehyung. Karena itu, aku mengangkat Taehyung sebagai anakku.”

Kedua mataku membulat sempurna begitu Myungsoo menyelesaikan penjelasannya. “Jadi, kau…”

Myungsoo terkekeh, lalu seolah mengerti lanjutan dari kalimatku, ia mengangguk pelan dan berkata, “Jadi, aku bukan seorang duda beranak 1 seperti apa yang kau kira selama ini.”

“Tapi, kenapa kau tidak pernah mengatakannya, hah?”

“Kau tidak pernah bertanya,” balas Myungsoo, lantas tertawa. Sial! Selama ini memang hanya aku sendiri yang mengira Myungsoo adalah seorang duda muda beranak 1. Myungsoo sekali pun tidak pernah mengatakan bahwa dia adalah seorang duda. Ck!

“Jadi, ketika aku mengira Taehyung adalah anak hasil di luar nikah dan ketika aku mengira kau menikah muda…”

“Aku hanya mengerjaimu, tahu! Tidak kusangka kau semudah itu percaya padaku.”

Aku terdiam sejenak memikirkan semua yang terjadi.

“Jadi, saat kau dirampok, kau menjadikan aku maid dan tinggal di rumahmu itu…”

Myungsoo tersenyum, lantas dengan santai dan tanpa nada bersalah sedikit pun, ia berkata, “Itu adalah skenario yang aku buat bersama Appa dan eomma-mu.”

WHAT?

“Lalu, saat aku dikejar-kejar di mall dan tadi, aku disekap sampai dibius segala…”

Lagi Myungsoo tersenyum dan lagi-lagi, tanpa nada bersalah sedikit pun, ia berkata, “Itu juga bagian dari skenario kami.”

WHAT? ARE YOU KIDDING ME?

Jadi, selama ini Myungsoo sudah tahu siapa aku yang sebenarnya, hah? Jadi, semua yang terjadi selama 1 minggu ini adalah rencana yang telah disusun oleh Appa, eomma dan Myungsoo? Astaga! Berdosakah aku kalau aku mengatakan… MEREKA BERTIGA SUNGGUH JAHAT SEKALI!!!

“Kenapa? Kau merasa dibodohi, ya?” tanya Myungsoo, lalu terkekeh.

Aku langsung menarik guling di dekatku dan memukul Myungsoo. “TENTU SAJA! KAU PIKIR AKU TIDAK LELAH MENJADI MAID DI RUMAHMU, HAH? KAU PIKIR AKU TIDAK LELAH MELARIKAN DIRI DARI ANAK BUAH APPA, HAH?” teriakku sambil memukul Myungsoo bertubi-tubi dengan sebuah guling.

Ya! Ya! Hentikan, Jiyeon-ah. Maaf. Ya! Hentikan!”

Aku tidak peduli dengan ucapannya. Yang aku tahu, aku hanya ingin memukulnya sampai semua rasa kekesalanku terlampiaskan. Tapi, entah bagaimana kejadiannya, tahu-tahu… Myungsoo sudah menindihku di atas tempat tidur.

GLEK!

Kami berdua terdiam dalam posisi itu. Kedua mata kami bertemu, saling berpandangan dalam jarak dekat. Aku bisa merasakan jantungku berdetak kencang, nafasku sedikit tersengal, darahku berdesir dan… sekujur tubuhku terasa dialiri oleh listrik. Ke-kenapa… Myungsoo terlihat sangat tampan, hah?

“Berhenti memukulku, oke?” gumam Myungsoo.

Aku langsung mengangguk.

Sebuah bentuk sabit sekali lagi terukir di wajahnya.

“Jadi…, Nona Park, kau mau menerima perjodohan ini, kan?”

“Eh?” Aku tidak tahu harus menjawab apa.

“Kau harus ingat janjimu pada Taehyung, Nona. Kau tidak akan meninggalkan anak itu dan juga aku.”

“A-apa?”

“Taehyung pernah berkata seperti itu padaku,” kata Myungsoo. “Jadi, bagaimana? Kau… mau, kan?”

Aku… mengangguk pelan.

Dan sebulan setelah kejadian itu, aku dan Myungsoo resmi bertunangan. Entahlah. Rasanya… ini seperti sebuah cerita dongeng yang menjadi nyata. Sedikit seperti kisah Si Cantik dan Si Buruk Rupa. Hanya saja… dalam cerita ini, Myungsoo bukanlah Si Buruk Rupa, tapi… seorang duda beranak satu. Oops.

-THE END \(^O^)/-

-Anditia Nurul ©2014-

-Do not claim this as yours-

-Do not repost/reblog without permission-

133 responses to “[ONE SHOOT] The Lucky Maid

  1. Hahahaha…. Ya ampun sumpah thor aku sukaaaa bgttt sma cerita’y bnr2 tdk trduga, ku pikir pertemuan myungsoo & jiyeon itu murni yg krna mereka ber-2 memang ditakdirkan untuk brsma, eh trnyata itu adalah sebuah scenario yg memang udh direncanain, DAEBAK…. ^^
    Saat lihat poster’y ku kira di sni myungsoo & taehyung itu sdr yg akan memperebutkan maid’y, oh trnyata bkn so2k taehyung di sni justru adalah seorang anak kecil, emang sih taehyung bnr2 punya wajah yg super imut & baby face sprti anak kecil, jdi gemas aku…😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s