[CHAPTER – PART 2] MY PRINCESS

Suzy Miss A & L Infinite (241)

© C Class Graphics by: doremigirl

Title : My Princess | Author : dindareginaa | Main Cast : Bae Sooji, Kim Myungsoo | Additional Cast : Find by yourself! | Genre : Comedy – Romance | Rating : Teen

DISCLAIMER :

Inspired by Taiwanese Drama


Myungsoo sedang sibuk dengan sup kerangnya ketika Tuan Bang memanggil dirinya. Kenapa lelaki tua itu suka sekali mengganggunya? “Ada apa?” tanyanya tanpa menoleh pada sang atasan.

“Ada pelanggan yang ingin bertemu denganmu.”

Perkataan Tuan Bang sontak membuat Myungsoo mengernyitkan keningnya. Ada pelanggan yang ingin bertemu dengannya? Tumben sekali? Untuk apa? Apa masakannya tidak enak? Apa tadi ia terlalu banyak memasukkan garam?

Ya! Kenapa diam? Cepatlah! Gadis ini sangat cantik! Kau beruntung dia ingin bertemu denganmu!”

Cantik? Secantik apa memangnya? Baginya tak ada wanita yang lebih cantik dari ibunya. Tak mau mendengar ocehan Tuan Bang lebih lama lagi, Myungsoo segera mengikuti langkah lelaki botak itu setelah sebelumnya membersihkan tangannya dengan serbet.

“Apa yang bisa saya bantu, Nona?” tanyanya ketika ia sudah berhadapan dengan sang pelanggan yang memanggil dirinya. Namun, begitu Myungsoo melihat lebih jelas lagi wajah gadis tersebut betapa terkejutnya ia.

“KAU?!”

Gadis ini… bukankah putri sombong yang ditemuinya tempo hari? Untuk apa ia kemari? Oh, apa untuk meminta maaf? Myungsoo tersenyum simpul, senyum kemenangan. Dilipatnya kedua tangannya didepan dada. “Ada apa kau kemari, Nona? Kau ingin memita maaf padaku?”

“Kau mengenalnya, Sooji-ah?” bisik seorang gadis yang berada disamping sang putri.

Oh, jadi namanya Sooji. Gadis itu tak menjawab. Ia hanya mempoutkan bibirnya, membuat Myungsoo semakin memuji ciptaan Sang Maha Kuasa itu. Myungsoo tahu gadis itu sedang kesal setengah mati padanya hingga membuat gadis itu mengepalkan kedua tangannya.

“Kita pergi sekarang, Choi Sulli,” suruhnya lalu segera pergi. Gadis yang dipanggil Sulli itu sempat menatap bingung kearah Myungsoo sebelum akhirnya mengikuti langkah Sooji.

Ya! Bagaimana kau bisa mengenal gadis secantik gadis itu?” tanya Sehun yang entah sejak kapan sudah berada disamping Myungsoo.

Myungsoo mendesis. “Jangan pikir karena wajahmu tampan kau bisa mengenal semua gadis cantik, Oh Sehun,” sindirnya lalu kembali kesinggasananya – dapur.

Ya! Kau belum bercerita padaku! Siapa lelaki itu?” tuntut Sulli begitu ia dan Sooji sudah masuk kedalam mobil.

“Dia lelaki yang kemarin kuceritakan,” jawabnya malas.

Sulli tersenyum simpul lalu menyikut lengan Sooji. “Dia tampan,” bisiknya.

Sooji hanya mendesis mendengar pujian Sulli. “Tampan… dan sombong,” tambahnya. “Aku heran kenapa tempat itu ramai padahal mereka punya chef yang tidak sopan.”

“Kau harus mengakui bahwa masakan lelaki itu memang enak. Bahkan lebih enak dari restoran di hotel bintang lima.”

“Jangan berlebihan, Choi Sulli,” Sooji menatap tajam Sulli, meminta gadis itu untuk berhenti memuji lelaki sombong yang tak tahu berterima kasih itu.

“Baiklah,” Sulli mengalah. “Jadi, kemana kita sekarang?”

“Tentu saja mencari tempat lain! Aku yakin pasti ada tempat yang masakannya lebih enak dari lelaki sombong itu!”

Sooji menghembuskan nafasnya perlahan membuat Sulli terkikik pelan melihat ekspresi frustasi sahabatnya itu. Pasalnya, sudah lebih dari seratus restoran kecil yang mereka kunjungi, tapi tak ada yang bisa mengalahkan masakan dari si lelaki sombong. “Bukankah sudah kubilang tak ada yang bisa mengalahkan masakan sang chef tampan?”

“Apa yang harus kita lakukan sekarang? Bisa mati aku kalau sampai Keluarga Choi tahu bahwa menantu mereka hanyalah seorang pembohong besar,” lirihnya.

“Tentu saja ada. Kembali ke dapur si chef tampan.”

Sooji mendelik kearah Sulli. Sudah berapa kali gadis ini mengatakan bahwa lelaki sombong itu tampan? “Tapi, bagaimana kalau dia menolak? Bukankah kau tahu bahwa kami berselisih?”

“Kau tidak akan tahu sebelum mencoba,” Sulli mengidikkan kedua bahunya. Bagaimanapun juga pilihan ada di tangan tuan putri. Mau kebohongannya terungkap atau mengalahkan egonya sendiri.

Sooji terdiam sejenak sebelum akhirnya membuka suara kembali. “Ahjussi, kita kembali ke restoran tadi,” suruhnya.

Myungsoo tak bisa mengendalikan senyumnya begitu mengetahui bahwa sang putri cantik kembali ke restorannya untuk menemuinya. Padahal ia sempat menyesal karena secara tak langsung membuat Sooji pergi.

Lain halnya dengan Sooji. Ia kini merutuki keputusannya karena datang lagi ketempat ini. Sulli menyikut lengan Sooji. “Cepat katakan padanya maksud kedatangan kita kemari,” bisik Sulli.

Sooji menghembuskan nafasnya perlahan. Mimpi apa ia semalam karena harus melakukan hal yang menurutnya rendahan ini? “Sebelum aku mengatakan tujuan kita kemari, sebaiknya kita berkenalan dulu. Namaku Bae Sooji,” Sooji mengulurkan sebelah tangannya.

Myungsoo melirik tangan Sooji sekilas lalu menyambut uluran tangannya. “Kim Myungsoo. Chef Kim,” ujarnya berusaha terlihat angkuh. Ia bersumpah pada dirinya sendiri ia tak akan mencuci tangannya setelah ini.

“Ajari aku memasak,” pintanya. Tapi percayalah, jika kau mendengar langsung ucapan Bae Sooji, kau akan yakin bahwa dari nada bicaranya tadi lebih terdengar seperti sebuah perintah.

Myungsoo menatap Sooji tak percaya. Lihatlah! Keangkuhan gadis ini bahkan tak berkurang! Myungsoo mendesis. “Nona, kau bahkan belum meminta maaf padaku dan sekarang kau memintaku – tidak – kau bahkan menyuruhku mengajarimu memasak?!”

Mwo? Meminta maaf?” tanyanya sedikit terkejut. “Ya! Bukankah kau yang tak bisa megendarai sepeda? Dan sekarang kau memintaku untuk meminta maaf? Sulit dipercaya!”

Sulli menepuk pelan keningnya lalu menyikut lengan Sooji – lagi. “Kau lupa tujuan kita kemari?” bisiknya. “Turuti saja permintaannya. Dan ingat, gunakan bahasa yang lebih lembut.”

Sooji mendengus kesal. Baiklah,ia tak punya pilihan lain sekarang. “Aku minta maaf,”ujarnya pelan.

Myungsoo terseyum simpul. Tiba-tiba saja timbul niatnya untuk menjahili Sooji. “Aku tidak dengar,” ujarnya. “Katakan lebih keras lagi.”

“Aku minta maaf,” katanya dengan nada suara yang sedikit ditinggikan.

“Lebih kuat,” suruh Myungsoo.

“Aku minta maaf!” ujarnya, atau mungkin lebih terdengar seperti teriakan.

“Baiklah. Maafmu kuterima,” ujar Myungsoo sombong membuat Sooji medesis. “Tadi kau suruh aku apa? Mengajarimu memasak? Katakan padaku kenapa aku harus mengajarimu memasak?”

“Ayolah. Kumohon. Ini demi hidup dan matiku,” Sooji menunjukkan wajah memelasnya.

Myungsoo menatap lekat Sooji. Ia paling tak bisa melihat seorang wanita memohon padanya. Myungsoo akhirnya mendesah. “Baiklah. Aku akan mengajarimu.”

Jinjja?” Sooji bertepuk tangan kecil. Sepertinya lelaki ini tak sejahat yang ia bayangkan. “Kapan aku bisa mulai belajar?”

“Besok. Jam delapan pagi. Datang kesini. Dan jangan terlambat!” ujarnya dengan penuh penekanan disetiap kalimatnya.

Sooji mengangguk mengerti. Baginya tak masalah dengan hal ini. Asal itu untuk pangeran berkuda putihnya, apapun akan dilakukannya.

Tuan dan Nyonya Bae menatap heran kearah Sooji begitu melihat gadis itu menyantap sarapannya dengan lahapnya. Apa yang terjadi pada anak tunggal mereka? Apa kemarin dia tidak makan?

“Sooji-ah, perhatikan makanmu. Kenapa kau terburu-buru sekali?” tanya Nyonya Bae.

“Maafkan aku. Hari ini aku ada urusan penting dan tak boleh terlambat. Aku selesai!” seru Sooji kemudian setelah menyelesaikan suapan terakhirnya. “Aku pergi dulu,” pamitnya lalu pergi begitu saja membuat kedua orangtuanya menatapnya bingung.

Myungsoo melirik jamnya sekilas begitu Sooji sudah berada dihadapannya. “Kau terlambat lima menit.”

Sooji mendengus kesal mendengar perkataan Myungsoo.”Hanya lima menit,” ia membela diri. Kenapa lelaki ini perhitungan sekali?

Myungsoo lalu menatap lekat Sooji dari ujung rambut hingga ujung kakinya. Ia menatap Sooji tak percaya. “Kau yakin akan belajar memasak dengan pakaian seperti itu?”

“Tentu saja,” Sooji tersenyum lebar.

Myungsoo menggelengkan kepalanya. Yang benar saja! bagaimana gadis ini bisa memasak dengan dress seperti ini? Dasar Tuan Putri! Myungsoo mendesah. “Tunggu sebentar,” ujarnya lalu pergi membuat Sooji menatapnya heran. Tak lama ia kembali tapi tidak dengan tangan kosong. “Pakai ini.” Myungsoo melemparkan kaus berwarna hitam polos miliknya dan juga celana pendek dengan warna senada.

Sooji membesarkan matanya. Tak percaya dengan apa yang baru saja Myungsoo berikan. “Ya! Kau gila? Ini kebesaran untukku!”

“Kau mau pakai itu atau kita tidak belajar memasak?” ancam Myungsoo.

Sooji menghembuskan nafasnya perlahan. Lihat saja! Setelah urusan mereka berakhir, Sooji akan memberikan pembalasan pada lelaki sombong ini. HAHAHA. Sooji dapat merasakan tanduk iblis menyembul dari ujung kepalanya.

“Kenapa diam? Cepat ganti pakaianmu!”

Sooji tersentak dari lamunan jahatnya lalu mempoutkan bibirnya. Ia lalu segera pergi dari hadapan Myungsoo.

Myungsoo segera menahan tawanya begitu melihat Sooji memakai pakaian yang bukan ukurannya. Gadis itu terlihat tak nyaman dengan pakaiannya. Tapi, Myungsoo tak peduli. Mata elang Myungsoo lalu tertuju pada rambut bergelombang Sooji yang indah. Ia medesah. Tangannya lalu meraih karet gelang yang diletakkannya di dekat wastafel. “Pakai ini,” suruhnya.

Wae?” tanya Sooji tak suka.

“Kau mau makanan penutupmu itu dibubuhi dengan rambut? Ppalli!

Sooji melirik kesal kearah Myungsoo. “Ya! Neo micchyesseo? Aku selalu menata rambutku! Rambutku bisa rusak kalau memakai benda itu!”

“Jadi, apa yang harus kita lakukan?”

Sooji tersenyum nakal seraya melirik Myungsoo lekat.

Myungsoo menghembuskan nafasnya perlahan. “Ya! Bukan seperti itu cara menuangkan adonannya!” pekiknya. “Kenapa kau itu lambat sekali? Kau tidak tahu tanganku sudah pegal memegangi rambutmu?”

Sooji terkikik pelan. Benar. Ia memang menyuruh Myungsoo untuk memegangi rambutnya. Dan Myungsoo bahkan tak berniat menolaknya! Sooji sediri heran kenapa lelaki itu malah menuruti permintaannya semudah itu.

Ya! Ppalli! Tanganku sakit!”

“Aku sudah berusaha cepat!”

Sooji tersentak kaget begitu minyak panas menyentuh kulit mulusnya. Ia lalu meringis membuat Myungsoo sontak menarik tangannya.

“Kenapa kau tidak hati-hati?” tanya Myungsoo. “Tunggu sebentar,” ujarnya. Ia lalu pergi, namun tak lama ia kembali dengan salap ditangannya. “Kata ibuku, lukanya tidak akan berbekas kalau dioleskan dengan ini,” Myungsoo mulai mengoleskan salap tersebut pada tangan Sooji.

Sooji tertegun. Diam-diam, ia menatap lekat wajah Myungsoo. Sulli benar. Lelaki ini tampan. Tentu saja selama ini Sooji menyadarinya. Hanya saja, Sooji terlalu malu untuk mengakuinya. Ditambah lagi sifat lelaki ini yang menyebalkan.

“Kenapa kau menatapku seperti itu?” tanya Myungsoo begitu ia sudah selesai mengobati luka Sooji.

“Tidak. Aku tidak menatapmu,” bohongnya. “Jadi, haruskah kita lanjutkan sekarang?” tanyanya mengalihkan pembicaraan.

Myungsoo mendesis. “Akui sajalah nona. Memasak itu bukan keahlianmu. Lebih baik kau segera kembali ke istanamu,” sindirnya tajam.

“Aku bisa. Didunia ini tidak ada yang tidak bisa seorang Bae Sooji lakukan!”

Sooji menatap ragu hotteok buatannya yang kini tak berbentuk. Kenapa hasilnya jadi begini? Ia yakin sekali sudah melakukan apa yang diperintahkan Myungsoo dengan tepat. “Bagaimana rasanya?” tanyanya akhirnya pada Myungsoo yang baru saja menyuapkan hotteok ala chef Sooji itu.

Myungsoo meletakkan sumpitnya. Ia memutar kedua bola matanya lalu tersenyum. “RASANYA MENGERIKAN, BAE SOOJI! Kenapa kau bisa memasak makanan seperti ini? Aku yakin tidak akan ada yang mau memakan makanan ini.”

Sooji menekuk wajahnya. Ia mendesah. “Apa yang harus kita lakukan sekarang?” lirihnya. Namun, sedetik kemudian ia tersenyum. “Myungsoo-ya, aku tahu caranya supaya masakanku enak.”

Myungsoo menaikkan sebelah alisnya. “Bagaimana?”

Alunan musik klasik mulai terdengar di gedung ballroom hotel berbintang lima itu. Gedung mewah itu kini mulai dipenuhi oleh orang-orang yang berpakaian mahal. Dengan sekali lihat saja, kalian pasti tahu orang-orang tersebut bukanlah orang biasa.

Disudut ruangan, Sooji dengan disampingi oleh Minho tak henti-hentinya melemparkan senyum pada orang-orang penting yang dikenalkan oleh Nyonya Choi.

Eoh, Sooji-ah, kurasa sudah saatnya kau memasak,” ujar Nyonya Choi tiba-tiba.

Ne, eommonim.”

“Aku akan menemanimu,” tawar Nyonya Choi lembut.

Sooji membulatkan matanya. Ia sontak menggeleng. “Anio, eommonim. Tidak perlu. Aku bisa sendiri. Kau tahu, aku akan canggung jika ada yang memperhatikanku,” bohongnya.

“Baiklah aku mengerti. Kalau begitu pelayan disini akan mengantarmu ke dapur.” Nyonya Choi lalu memanggil seorang pelayan untuk mengantar Sooji ke dapur. Sooji lalu mengikuti langkah sang pelayan.

Sooji sesekali melirik arlojinya. Kenapa mereka lama sekali?

“Sudah lama menunggu?”

Sooji segera menoleh. Ia sontak tertawa terbahak-bahak begitu melihat Sulli datang tak sendiri., melainkan bersama Myungsoo yang memakai seragam pelayan wanita lengkap dengan rambut palsunya!

Ya! Kenapa kau tertawa?!”

Sooji memegangi perutnya yang mulai terasa sakit. “Maafkan aku. Kau cantik sekali,” bohongnya masih sambil tertawa.

“Kalau begitu aku akan tinggalkan kalian berdua. Aku akan mengawasi kondisi dari luar,” Sulli segera pergi.

“Baiklah, kita mulai sekarang!”

“Wah, Sooji-ah, makanan ini benar-benar enak,” ujar Nyonya Choi begitu ia menelan habis hotteok yang dikiranya adalah buatan calon menantunya.

Gomawo, eommonim.”

“Aku tak tahu kalau kau bisa memasak makanan seenak ini,” ujar Minho tak percaya membuat Sooji merengut.

Oppa hanya belum mengenalku lebih jauh.”

Minho hanya mengangguk lalu kembali menyantap hotteok miliknya. Diam-diam, Sooji menghembuskan nafasnya lega. Setidaknya, rencananya tak gagal. Ini jauh dari apa yang ia harapkan.

Myungsoo tersenyum lebar begitu melihat wajah orang-orang yang memakan makanannya. Inilah alasannya mengapa ia menjadi chef. Rasanya begitu senang melihat raut wajah orang-orang itu. Mata Myungsoo lalu tertuju pada sepasang kekasih yang kini tengah asik bercanda tawa. Ia tertegun lalu memegang dadanya. Sakit… Kenapa rasanya sakit sekali?

“Apa ini?” Myungsoo menatap tak percaya amplop berwarna putih yang kini disodorkan oleh Sooji.

“Upahmu. Anggap saja ini sebagai ucapan terima kasihku padamu karena telah menolongku.”

Myungsoo masih diam, membuat Sooji lalu meletakkan amplop tersebut ditangan Myungsoo. “Terima saja. Kau bisa membeli sepeda baru dengan uang itu. Jangan menolaknya. Aku akan sedih jika kau menolaknya. Bagaimanapun juga kau sudah banyak membantuku. Aku tahu kesan pertemuan pertama kita tidak baik. Maka dari itu aku minta maaf. Bukankah kita berteman sekarang?” Sooji tersenyum lebar.

Teman? Myungsoo tersenyum miris. Hanya teman, Kim Myungsoo! Tentu saja. Orang miskin sepertimu tentu tak akan bisa menjadi lebih dari seorang teman dengan putri sepertinya!

“Aku akan menyuruh supirku untuk mengantarmu pulang. Kurasa sudah saatnya kita mengucapkan selamat tinggal. Urusan kita sudah selesai. Sampai jumpa, Chef Kim Myungsoo,” Sooji melambaikan tangannya lalu mulai berbalik pergi.

Myungsoo masih berdiri ditempatnya ketika punggung gadis itu mulai menjauh. Baginya sosok gadis itu sangat bersinar, membuat ia tak bisa menatap cahayanya lebih lama lagi. Apakah ini benar-benar sebuah akhir untuk mereka? Benarkah? Kenapa membayangkannya saja membuat Myungsoo tak suka?

Suasana di istana Sooji pagi itu hening. Aktivitas rumah itu seakan tak berjalan. Choi Sulli berlari tergopoh-gopoh menuju kamar Sooji. Ia bahkan tak mengetuk pintu marmer berwarna putih susu itu.

“Sooji! Bae Sooji! Ireona!

Sooji menggosok pelan matanya begitu suara Sulli mengusik tidurnya. “Wae? Kenapa kau membangunkanku sepagi ini?”

“Lihat ini!” Sulli menyerahkan koran pagi pada Sooji.

Dengan malas Sooji meraih koran tersebut. matanya yang awalnya masih terbuka setengah langsung terbuka seutuhnya begitu membaca headline koran pagi itu. Ti.. Tidak mungkin! Ini pasti mimpi!

TO BE CONTINUED

125 responses to “[CHAPTER – PART 2] MY PRINCESS

  1. wah myung memang malaikat yg selalu bantu suzy….myung udh mulai suka kah sm suzy…headline apa??penasaran??next min

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s