[CHAPTER] I Love You My WEIRD BOY!!! (Chap 3)

image

Tittle: I Love You My WEIRD BOY!!
Author: @MerlinChrysilla
Cast :
*Park Jiyeon
*Im Siwan (Ze:A)
Genre: Romantic, So Sweet, School Life, Sad
Length: Chaptered

Merlin bingung mau ngomong apa hihi.. Di part ini Merlin bakal ngejawab pertanyaan pertanyaan readers di chapter sebelumnya hehe.. Maaf kalo banyak typo karena part ini dibuat sedikit mendesak/?

A/n: Oh iya buat para Readers jangan panggil Merlin dengan sebutan author,thor, apalagi tortor/? Cukup panggil Merlin aja biar kita semakin akrab oke? Selamat membaca^^

Setelah kejadian dimana Jieun dan Luna bertamu ke tempat tinggal Jiyeon dan Siwan, keduanya berjanji akan menjaga rahasia itu hingga Jiyeon dan Siwan sendiri yang mengijinkannya.

***  

Jieun POV

Hari ini merupakan hari sialku, belum sampai aku ke kelas untuk menyimpan ranselku, aku sudah terlebih dulu dimintai tolong oleh Kang songsaengnim untuk membawa berpuluh puluh buku Lembar Kerja Siswa ke ruang guru yang ada di lantai 3.

‘ahh dasar menyebalkan! Buku buku ini sangat berat!’ gerutuku dalam hati.

Dari kejauhan dapat aku lihat seorang lelaki yang kukenali betul penampilan dan gayanya itu sedang berjalan kearahku. Dengan perasaan gugup, dengan cepat akupun membanting arahku menuju anak tangga. Namun belum sempat aku memijakkan kakiku di salah satu anak tangga itu, kaki ku dengan lancangnya harus terkilir, dan membuatku kehilangan keseimbangan.

‘Ahh!!’ teriakku saat tubuhku mulai oleng dan kuketahui sebentar lagi akan membentur lantai dingin koridor sekolah ini.

Author POV

Hanya tinggal menunggu beberapa detik untuk tubuh ramping Jieun mendarat mulus di lantai dingin koridor sekolah. Jieun menutup kedua matanya, karena ia sudah tahu apa yang akan terjadi setelah ini. Jatuh dengan tumpukan tumpukan buku diatasnya hanya karena kegugupannya melihat seorang lelaki dan mengakibatkan dirinya salah tingkah. ‘Sangat bodoh’ pikirnya.

GREP!!

Sebuah tangan kekar kini melingkar tepat di pinggang ramping Jieun. Menahan bobot tubuh gadis itu agar tidak terjatuh dan membentur lantai. Menbunuh habis pikiran Jieun mengenai dirinya yang akan jatuh mengenaskan tadi.

‘kenapa lama sekali jatuhnya? Apa peristiwa jatuhku ini sengaja dirancang slow motion seperti di film film alay yang ada di TV?’ batinnya, sambil membuka sebelah matanya untuk mengintip apa yang sebenarnya terjadi.

‘Astaga!! Apa ini? Wajah laki laki yang kuhindari tadi kini malah berada tepat di depan wajahku dan itu membuat jantungku seakan berhenti berdetak karenanya. Im Siwan terlihat sangat-sangat tampan dari jarak sedekat ini, walaupun ketampanannya saat ini tertutupi oleh penampilan ala pria culun nya itu. Apakah ini nyata? Astaga kurasa aku hanya bermimpi! Ya tuhan, jika ini mimpi kumohon jangan pernah bangunkan aku lagi!!’ teriak Jieun dalam hati.

Ya, yang menolong Jieun saat hendak terjatuh tadi adalah Siwan. Laki laki itu tanpa sengaja melihat Jieun yang sedang kesusahan membawa banyak buku dan hendak jatuh. Maka, tanpa babibu Siwan pun berlari demi menangkap tubuh Jieun agar tidak jatuh.

Ckrekk!!

Suara shutter kamera terdengar sangat jelas di telinga Siwan dan Jieun membuat keduanya tersadar dengan posisi mereka yang kurang nyaman itu. Lalu dengan segera, Siwan pun melepaskan pegangannya pada pinggang Jieun.

“Jieun-shii, Apa kalian berpacaran? Astaga sungguh sangat romantis! Bahkan disekolah pun sempat sempatnya kalian berciuman seperti ini. Ck Im Siwan, ternyata penampilan culun mu itu semua hanya kedok untuk menutupi sifat prevert mu itu bukan? Ck sungguh tak bisa dipercaya” ucap Minho sang ketua majalah sekolah dengan suara yang cukup keras sambil memperhatikan layar kamera yang menampilkan gambar gambar yang telah ia ambil.

‘apa? Berciuman? pasti terjadi kesalahpahaman disini! Aish..’ batin Jieun dan Siwan.

Jieun dan Siwan sekarang telah jadi pusat perhatian. Siwan yang tak suka dirinya terekspose oleh orang lain lebih memilih menundukkan wajahnya lalu membetulkan letak kacamanya yang sebenarnya tak bermasalah itu. Berbeda dengan Jieun yang kini menyembunyikan rona merah yang tercetak jelas di kedua pipinya, entah itu karena malu atau kesal.

“Aku ingin lihat..”ucap beberapa murid sambil mengerumbungi Minho, sedangkan Jieun masih menunduk menyembunyikan rona merah yang ada di pipinya, dan tanpa sadar menarik kedua ujung bibirnya membentuk sebuah senyuman.

“Omo Lee Jieun dan Im Siwan kalian benar benar berciuman?” ucap Salah satu murid dengan suara yang sangat keras.

Siwan POV

‘apa katanya? Berciuman? Omong kosong macam apa ini? Dasar orang orang bodoh! Dengan mudahnya percaya pada sebuah foto seperti itu? Bukannya bertanya kebenarannya pada kami, mereka dengan santai mengambil kesimpulan asal itu’

Aku dengan segera mengambil kamera Minho, namun belum sempat aku menggapainya, gerakanku tertahan karena Jieun sudah mendahuluiku.

Jieun POV

Dengan sedikit tergesa, Aku merebut kamera Minho yang tadi sedang di pegang oleh salah satu Murid yang sedang berkumpul tadi. Dan ternyata memang benar! didalam foto itu aku terlihat seperti sedang berciuman dengan Siwan. Walau kenyataannya kami tidak berciuman sama sekali.

Pandanganku beralih melihat Siwan yang sedang diam terpaku sambil kedua matanya menatap lurus kearah depan. Ku coba mengikuti pandangannya, dan astaga, kini Jiyeon tengah berdiri dengan deraian air mata yang membasahi pipinya.

“Ji.. Jiyeon?” ucap Siwan dengan nada yang sangat jelas gugupnya.

Dengan linangan air mata yang masih mengalir deras di pipinya, Jiyeon berlari pergi menjauhi tempat ini. Diikuti Siwan yang dengan segera mengejar kepergian Istrinya itu. Dan jujur itu membuatku merasakan sesak di hatiku. Karena sesungguhnya, aku memiliki perasaan suka kepada Siwan jauh sebelum Jiyeon menikah dengan Siwan, yaitu sejak 2 tahun yang lalu.

Saat dengan tidak sengaja aku melihat Siwan yang sedang membaca buku di taman belakang sekolah.
Dengan tiba tiba saja muncul sebuah perasaan hangat yang menjalar ke seluruh hatiku saat aku melihat keseriusannya saat membaca, dan kuyakini jika perasaan itu adalah CINTA. Cinta pada pandangan pertama.

Namun saat mengetahui perihal pernikahan Jiyeon dan Siwan, kucoba untuk menekan perasaanku ini dan bersikap seperti biasa. Tapi dengan adanya kejadian tadi, perasaan itu malah semakin membesar lagi.

‘apa yang harus kulakukan? Mianhae Jiyeon-ah, Siwan-ah’ batinku menangis.

Jiyeon POV

Hatiku bagai tertindih batu ber ton ton beratnya. Rasanya sesak dan seakan akan hendak hancur. Aku tak percaya dengan semua ini, Jieun sahabatku sendiri berciuman dengan suamiku. Dan yang lebih parah ternyata mereka berpacaran.

“mengapa kalian tega kepadaku? Hiks.. Kalian jahat!!” tangisku pecah seketika. Mengundang kekhawatiran dari ibuku. Ya, setelah kejadian disekolah tadi, aku langsung pulang kerumah orang tuaku dan mengunci kamarku. Saat ini aku tidak ingin bertemu dengan Siwan. Hatiku akan terasa sakit jika mengingat kejadian tadi.

“Ji-ah gwenchana? Ada apa eoh? Ceritakan pada eomma.. Jangan menangis seperti ini dan membuat eomma khawatir..” tutur lembut seorang wanita yang kutahu itu adalah ibuku dari luar pintu kamarku.

“eomma biarkan aku sendiri.. Aku sedang ingin sendiri, jika Siwan oppa datang tolong bilang kalau aku tidak ingin bertemu dengannya!”

“arraseo, tapi berhentilah menangis ne?” balas ibuku dengan nada khawatir yang tersirat jelas disetiap kata kata nya.

Perlahan kudengar langkah kaki itu menjauh dari kamarku. ‘maafkan aku eomma, saat ini aku memang sangat ingin sendiri’

***

Seminggu kemudian…

Siwan POV

Sudah seminggu ini aku tidak melihat Jiyeon masuk ke sekolah, dan ia pun tidak pulang ke rumah kami berdua. Saat aku mendatangi kediaman orang tua Jiyeon, ibunya selalu bilang jika Jiyeon menolak untuk bertemu denganku.

Tak jauh berbeda denganku, Jieun dan Luna juga sama sama berusaha untuk menjelaskan semuanya pada Jiyeon. Walau awalnya Luna pun marah kepada aku dan Jieun, namun setelah diberi penjelasan oleh aku dan Jieun akhirnya ia juga percaya dan mau membantu untuk menjelaskan kebenaran yang terjadi. Tapi nihil, bagaikan benang kusut, kini Jiyeon terlah terlanjur percaya dengan kesalah pahaman itu.

‘Jiyeon-ah kembalilah…’ Aku hampir gila dibuatnya, aku merindukannya. Merindukan senyumannya, suaranya, candaannya, merindukan semuanya. Merindukan seorang PARK JIYEON.

“arghhh” teriakku dengan kencang, meluapkan segala beban yang ada di fikiranku. Untung saat ini aku sedang berada di rumah, bukan disekolah.

Cklekk!!

“oppa..”

Jiyeon POV

Hampir seminggu aku tidak masuk kesekolah ataupun pulang kerumah. Aku belum siap untuk bertemu dengan Siwan. Bukan karena aku yang masih marah padanya, melainkan karena aku malu. Malu karena telah termakan kesalah pahaman yang terjadi antara Siwan dan Jieun. Aku telah sadar aku salah, karena kemarin Luna dan Jieun telah menjelaskan semuanya padaku.

/Flashback on/

Rintik hujan jatuh membasahi tanah, bau basahnya yang khas, diiringu nyanyian dari para hewan amfibi terdengar indah melewati indera pendengaranku. Saat ini aku sedang berdiri di balkon kamarku. Melihat indahnya karya alam dari sang pencipta. Begitu menenangkan hati.

“Jiyeon!!”

‘suara ini? Jieun? Untuk apa ia kemari lagi? Apa ia tak bosan kutolak untuk datang belakangan ini?’

“Yak nona dinosaurus! Keluar kau! Atau rumahmu ini akan aku buat seperti kapal titanic yang dihantam longsoran gunung kelud! Dan eomma mu akan kusandra di kamarnya! Cepatlah keluar!”

‘aish ternyata ia membawa sekutu sekarang’ batinku.

“Yak Park Jiyeon! Cepat keluar dari kamarmu!!” teriakan Luna yang kedua ini membuatku mau tak mau langsung keluar dari kamarku. Dengan enggan kulangkahkan kakiku menemui kedua makhluk yang sedang berdiri di ruang tengah rumahku sambil berkacak pinggang itu.

“ada apa?” tanyaku to the point dengan nada sedatar mungkin.

“aish Jiyeon-ah, sampai kapan kau akan seperti ini? Kau tahu Siwan sepertinya hampir gila karena memikirkanmu yang selalu menolak saat ia ingin bertemu. Jieun juga, dia selalu bersedih setiap hari disekolah karena merasa bersalah padamu. Dan lihat juga aku, aku menjadi bodoh karena tidak ada kau yang selalu mengataiku bodoh. Apa kau tak merasa kasihan kepada mereka dan juga aku? Bukankah kami orang orang yang kau sayangi? Ji-ah, walaupun kau itu sahabat yang selalu menyiksaku, tapi aku sangat sayang padamu! Saat mendengar berita tentang Jieun dan Siwan, aku pun sempat marah. Tapi Jieun dan Siwan dengan sabar menjelaskan inti permasalahannya padaku, dan kini aku sudah mengerti jika diantara kalian hanya terjadi kesalah pahaman” tutur Luna panjang lebar.

‘apa katanya? Salah paham? Oh ayolah bagaimana dengan foto itu? Dan berita tentang Siwan dan Jieun yang berpacaran?’ tanyaku dalam hati.

“Ji-ah jangan salah paham lagi kumohon. Saat itu Siwan hanya sedang membantuku yang akan jatuh karena kakiku terkilir saat akan menaiki tangga sambil membawa banyak buku ditanganku. Dan mengenai foto itu, Minho si fotografer amatir itu dengan tanpa permisi mengambil gambar aku dan Siwan dari anggle yang salah, sehingga di foto itu terlihat jika kami seperti sedang berciuman. Tapi aku berani bersumpah jika aku dan Siwan tidak pernah berciuman sama sekali” jelas Jieun mulai angkat bicara.

“jadi? Itu hanya salah paham?” tanyaku dengan gugup. Entah kenapa mendengar penjelasan dari Jieun tadi membuat rasa bersalah kini melesak masuk ke hatiku. Aku merasa menjadi istri sekaligus sahabat terjahat karena sempat tidak percaya kepada suami dan sahabat dekatku sendiri.

“aish dasar otak sapi! Memang kau hanya salah paham! So? Apa kau menyesal sekarang? Jika iya, peluk kami sekarang” Luna merentangkan kedua tangannya sambil tersenyum kearahku. Dan kuakui jika senyumannya saat ini membuatku merasa bahagia. Ku hampiri kedua sahabatku itu lalu memeluk tubuh mereka erat.

‘maafkan aku uri chingu-ya’

*beberapa menit kemudian..

“Jiyeon, apa kau sudah puas untuk memeluk kami? Aku rasa karena terlalu lama kau memelukku, perutku menjadi mulas” tutur Luna menghancurkan momment indah yang baru terjadi beberapa menit yang lalu itu.

“dasar anak bodoh! Cepat pergi ke kamar mandi!” titahku pada Luna yang sudah berlari terbirit birit kearah kamar mandi rumahku. Melihat tingkah Luna, aku dan Jieun pun hanya tertawa.

/Flashback off/

Hari ini aku ditemani Jieun dan Luna pulang ke tempat tinggalku dengan Siwan. Senyumanku seakan enggan untuk hilang dari wajahku. Aku merindukannya, aku merindukan suamiku. Kuharap ia tak akan marah padaku saat aku kembali nanti.

“arghhh” kudengar suara teriakan Siwan dengan jelas saat aku baru saja masuk kedalam rumahku.

“Oppa..” panggilku mencari keberadaan Siwan.

“Ji-ah? Itu kah kau?” Siwan oppa muncul dari kamar kami berdua.

“ne oppa ini aku.. Oppa mianhae aku telah salah paham, aku telah..”

GREP!!

“jangan diteruskan..” Potong Siwan sambil memeluk tubuhku erat.

“aku tak ingin mendengarmu mengungkit masalah ini lagi” lanjutnya.
“arraseo, oppa aku merindukanmu” balasku lalu dengan cepat melingkarkan kedua tanganku tepat di pinggang Siwan.

“nado Ji-ah.. Aku jauh lebih merindukanmu. Dan rasa rinduku itu hampir saja membuatku ingin mati bunuh diri saking tidak tahannya ingin melihatmu lagi” balasnya lalu mengelus pipiku dengan penuh kasih sayang.

“aish oppa itu menakutkan!” jawabku saat mendengar penyataan yang mengerikan dari bibir Siwan tadi. Kemudian mengecup kedua pipinya kilat dan berakhir di bibirnya.

Chup!

Hanya kecupan singkat namun membuat jantungku berdebar tak karuan karena ini merupakan pertama kalinya aku berinisiatif untuk memulai sebuah ciuman padanya.

“ternyata kau sudah mulai berani nona Im?” ledek Siwan padaku. Yang kurasa membuat wajahku berubah menjadi merah padam seperti kepiting saus tiram/?

“kumohon jangan pernah meninggalkanku lagi Ji..” lanjut Siwan oppa memeluk tubuhku erat.

Jieun POV

Hatiku sedikit terasa perih melihat Siwan dan Jiyeon sedang berpelukan seperti itu. Tapi rasa bahagiaku lebih mendominasi sekarang, aku turut bahagia dengan ending yang seperti ini. Rasa cintaku kepada Siwan mungkin memang sebaiknya kubuang jauh jauh. Aku tidak ingin Jiyeon meninggalkanku lagi, sahabatnya yang bodoh ini.

“Jieun-ah ayo kita tinggalkan mereka berdua.. Mereka mungkin membutuhkan reparasi untuk berdua” ucap Luna menyadarkanku dari lamunan tak pentingku.

“aish Luna-ah, apa maksudmu Privasi? Bukan reparasi pabo!” balasku yang hanya ditanggapi oleh cengiran bodoh darinya.

“memangnya tadi aku bilang apa?”

“tadi kau bilang reparasi Luna-ah!” ucapku dengan sedikit geram.

“baiklah aku memang salah.. Ayo, lebih baik jika sekarang kita makan tteokbeokki di kedai ahjumma jung bagaimana?”

“baiklah aku setuju!! Tapi bukankah ahjumma Jung menjual Ramen? Sejak kapan ia menjuak tteokbeokki?”

“oh iya kah? Mungkin sejak negara api menyerang. Tapi terserahlah, yang penting aku ingin makan di kedai ahjumma Jung”

“baiklah kajja..”

-TBC-

Nah selesai deh part 3nya.. Gimana? Suka kah? Kecewa kah? Comment yah ^^

58 responses to “[CHAPTER] I Love You My WEIRD BOY!!! (Chap 3)

  1. oh my… sebenernya luna ini datang dari planet mana? kok somvlak sih😂 wkwkwk
    tuh kan bener jieun yg suka sama siwan haha
    fiuuh akhirnya jiyeon sama siwan baikan juga😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s