[Chapter -1] HIGH SCHOOL LOVERS : His Gaze.

hsl1

High School Lovers : His Gaze

© Flawless

Poster © Swa @ARTFantasy

Park Jiyeon, Jung Krystal, Kim Myungsoo, Choi Minho.

 

*

 

Prolog

 

Gadis mungil itu terkesiap kaget, nyaris terjatuh dari tangga kala suara benturan barang-barang ke lantai semakin menyakiti alat pendengarannya. Untuk sekali lagi dia menutupi telinganya dengan tangan kecilnya, meringkuk sendirian, menangis tersedu memikirkan apa yang sedang terjadi di lantai bawah.

 

Dia memberanikan diri mengintip. Dan pada akhirnya dia menutup mulutnya saking shocknya. Di sana, ibunya terduduk menangis dengan luka lebam yang menghiasi wajah cantiknya. Dari yang mampu didengarnya ada satu kata yang dia tahu pasti artinya. Cerai. Ibunya baru saja mengatakan ingin bercerai dari ayahnya. Dia sendiri tidak terlalu paham masalah yang dihadapkan kepada keluarganya mengingat usianya yang belum mencapai sepuluh tahun.

 

Dalam beberapa waktu kemudian dia sadar bahwa keluarganya sudah hancur tak berbentuk lagi. Memimpikan untuk kasih sayang kedua orang tuanya secara lengkap kini tak akan mungkin lagi untuknya.

 

*

 

Chapter 1

 

“Jiyeon-ah, eomma akan ada perjalan bisnis tiga hari. Kau tidak apa-apa eomma tinggal,’kan?”

 

Jiyeon hanya mengangguk seraya tetap melanjutkan aktifitasnya menguncah sepotong roti. Dia memandangi punggung rapuh milik ibunya yang semakin jauh darinya. Sejak kecil dia sudah mulai terbiasa dengan bisnis ibunya yang terkadang harus membuatnya menjadi sendirian di rumah yang menurutnya sebesar istana. Sebisa mungkin Jiyeon tidak meminta apa-apa lagi dari ibunya karena dia sendiri tahu bagaimana sulitnya selama ini ibunya berusaha menghidupinya sebagai ibu tunggal, sementara ayahnya, dia bahkan tidak tahu di mana keberadaannya.

 

Usai menyelesaikan sarapan paginya, Jiyeon beranjak keluar dari rumahnya dengan seragam lengkap dan rambut sebahunya yang menjuntai jatuh ke bawah. Wajahnya tertunduk ke bawah selama perjalanan menuju halte bus.

 

*

 

“Dasar berengsek! Sudah aku katakan jangan pernah mengganggu adikku, ‘kan?” Murka Myungsoo. Dia menarik kerah seragam seorang yang kini tengah berdiri mematung di hadapannya. Demi Tuhan, Myungsoo tidak akan seperti ini jika saja bukan karena pria aneh itu malah mengganggu Soojung. Tidak peduli seberapa tidak akurnya dia dengan adiknya itu, tetapi sebagai seorang kakak tentu dia akan sangat marah mengetahui jika selama ini Soojung mendapat gangguan.

 

“Aku tidak apa-apa. Kyungsoo mungkin tidak sengaja tadi. “ Soojung menarik-narik lengan milik Myungsoo, berusaha menghentikan kakaknya itu sebelum terlambat. Lagi pula, jika ada insiden pemukulan yang dilakukan kakaknya, kemungkinan besar kakaknya akan mendapat teguran yang lebih keras dari pihak sekolah.

 

“Baik baik, aku lepas.”

 

Myungsoo menetralkan emosinya sendiri, sementara Soojung tengah membantu Kyungsoo untuk kembali kepada dirinya sendiri setelah sempat shock akibat ulah sembrono kakaknya. Lalu, beberapa waktu berikutnya telah berjalan, suasana yang sempat riuh akibat tindakan Myungsoo tadi sudah lenyap entah ke mana. Sekarang hanya tersisa Myungsso dan Soojung, kedua bersaudara itu nampak saling tatap-menatap dengan pandangan aneh, dan juga terlihat seperti ingin memakan satu sama lain.

 

“Seharusnya kau tidak menghentikanku, dasar bodoh.”

 

“Ya! Kalau aku tidak menghentikan Oppa, pasti sekarang Oppa sudah bertemu Kim Saem dan mendapat surat teguran. Sekarang, bukankah Oppa harus berterima kasih kepada adik tercanitku ini, hum?”

 

Myungsoo tidak memperludikan ocehan panjang lebar Soojung, dia kemudian berbalik melangkah dua langkah sebelum akhirnya terhenti karena merasa telah menabrak seseorang. Alis mata Myunsoo saling tertaut kebingungan. Dalam hitungan detik Myungsoo kembali pada kesadarannya, lalu berencana untuk memaki.

 

“Maaf.”

 

Beberapa detik Myungsoo tertegun setelah manik matanya bertemu dengan sosok gadis yang menabraknya. Sebenarnya tidak ada yang istimewa, tapi tatapan mata gadis itu sedikit berbeda. Seperti tidak ada kehidupan, mungkin.

 

Lamunan panjang Myungsoo terhenti kala Soojung melayangkan pukulan kecil pada punggungnya, secara reflex dia menoleh dengan wajah yang sangat-sangat masam. Soojung menyengir tanpa dosa sembari melakukan v-sign dengan wajah yang dibuat-buat mengejek dengan kesan yang imut.

 

“Soojung-ah, gadis itu.. Kau mengenalnya?”

 

Soojung mengkerutkan keningnya, bertanya-tanya dalam hati siapa sebenarnya yang sedang dimaksud suadaranya. Seingatnya tadi ada beberapa gadis yang melewati mereka, tetapi hanya sepintas saja diantara mereka yang sempat dilihatnya sendiri. “Siapa?”

 

“Yang berambut pendek,” jawab Myungsoo. Mungkin dia sendiri masih berada dalam luar jangkaun kesadarannya. Dia menoleh sentak pada Soojung, menuntut jawaban paling akurat yang akan diberikan padanya.

 

“Ah, dia Park Jiyeon. Teman sekelasku.”

 

“Kenapa aku tidak pernah melihatnya?”

 

“Tentu saja, dia itu suka menyediri di pojok kelas. Tapi, tunggu..” Soojung mungkin sedikit terlambat menyadari, tetapi setidaknya sekarang dia tahu. Gadis itu menaik turunkan alisnya berniat semakin memperkeruh suasana hati Myungsoo hari ini, siapa tahu saja dia akan mendapatkan keuntungan. “Oppa menyukainya. Iya, ‘kan?”

 

“Lupakan.” Myungsoo berteriak kesal tidak terima. Dia akhirnya menyerah dan memutuskan meninggalkan Soojung untuk kembali ke kelasnya dan menemukan sedikit ketenangan di sana.

 

*

 

Suasana kantin riuh seperti biasanya. Siswa-siswa yang sudah mulai dihinggapi rasa lapar kini tengah menyerang kantin dan berebutan bak anak-anak. Meja di tengah-tengah sudah penuh oleh Myungsoo, Soojung, dan Minho. Sementara di pojok sana, sendirian seperti sebelumnya, Park Jiyeon. Sedikit rishi melihat pemandangan menyedihkan Jiyeon, Myungsoo memilih mengambil makanannya dan melangkah mendekati meja gadis itu.

 

“Aku duduk, tidak apa-apa, ‘kan?” Myungsoo memperhatikan ekspresi wajah datar yang tercetak dengan cantik di wajah Jiyeon. Dia paham Jiyeon tidak menginginkan kehadirannya di meja itu, tapi siapa peduli, lagi pula ini demi menuntaskan rasa penasarannya mengenai gadis itu tidak lebih dan tidak kurang.

 

“Ada apa dengannya?” Minho mendelik menatapi Myungsoo yang kikuk bersama Jiyeon. Dia nyaris tertawa tat kala Myungsoo justru semakin lama terlihat semakin bodoh. Ini aneh, sangat aneh malah, mengingat bagaimana banyaknya pengalaman Myungsoo dengan wanita, tapi apa ini? Myungsoo bahkan tidak bisa menangani jenis seperti Park Jiyeon.

 

“Dia penasaran pada Jiyeon, atau mungkin bisa disebut kalau Oppaku yang bodoh itu menyukai Jiyeon. Antara dua pilihan itu, bagian mana yang terbaik?”
“Sepertinya akan lucu kalau Myungsoo menyukai Jiyeon, jadi aku memilih gagasan ke dua.”

 

Baik Minho maupun Soojung sama-sama tertawa terbahak-bahak, tidak habis pikir bagaimana tipe seorang Kim Myungsoo berubah seratus delapan puluh derajat.

 

Suasana hening menyelimuti meja Myungsoo dan Jiyeon, keduanya tidak mengucap barang satu patah kata pun seolah takut mengganggu satu sama lain. Hal itu sangat dirasakan Myungsoo. Pria itu hanya bisa bersibobok dengan tatapan misterius milik Jiyeon, dan anehnya dia menyukai tatapan itu.

 

“Kenapa kau sendirian?” Bodoh, pertanyaan macam apa itu. Maki Myungsoo. Dia melihat bagaimana cara pandang Jiyeon berubah padanya. Apa dia tersinggung, sekali lagi Myungsoo hanya berperang argument dengan batinnya.

 

“Aku menyukainya. Maaf, aku pergi.”

 

Myungsoo hanya diam tidak menunjukkan gelagat ingin memperpanjang percakapan singkat mereka. Dalam benaknya sudah tertumpuk sedemikian pertanyaan mengenai jawaban Jiyeon yang sayangnya harus menggantung di udara.

 

“Tidak berniat mengejar Putri impianmu, Tuan Kim?”

 

Myungsoo melempar tatapan kematiannya untuk Minho dan Soojung. Dia lekas beranjak sebelum telinganya semakin memanas akibat ocehan menggoda dari sahabat dan adiknya. Pria itu menyelipkan tangannya pada saku celananya kemudian berjalan dengan gaya angkuhnya.

 

*

 

Jiyeon melewati gerbang sekolah dengan langkah yang lemah. Gadis itu sebenarnya berniat sampai di rumahnya sedikit lebih lambat sebelumnya, mengingat jika Ibunya sedang tidak di rumah. Dia membuang nafasnya dengan berat. Hari ini ada seseorang yang berusaha masuk ke dalam dunianya, tetapi tetap saja ia tidak akan mengijinkannya. Kenapa? Tentu saja karena ia tidak mau berubah lebih banyak karena pengaruh orang itu dalam hidupnya.

 

Langkah kaki Jiyeon hentak berhenti, dia menoleh memeriksa sekelilingnya. Tidak ada. Jiyeon tahu ada seseorang yang mengikutinya, tapi setidaknya dia perlu bukti untuk firasatnya yang terlampau tajam.

 

Sepuluh menit telah lewat bagai angin dan sampai detik ini pun Jiyeon masih menyadari jika seseorang tetap mengikutinya. Dia berbalik secara cepat dan menemukan siapa sosok sebenarnya dari orang yang menguntitnya. “Apa yang kau inginkan?”

 

“Tidak ada.” Jawab Myungsoo sekenanya. Ekspresi itu lagi, nilai Myungsoo. Pria itu entah dengan alasan apa, dia menyukai tatapan aneh milik Jiyeon. Dan sekali lagi dengan tanpa alasan dia juga sangat ingin untuk dilihat oleh Jiyeon dengan tatapan itu. Kau gila, Myungsoo. Sangat gila, rutuknya dalam hati.

 

“Jangan mengikutiku!”

 

Tidak menampakkan ekspresi kesal setelah mendapat penolakan mentah-mentah dari seorang gadis, Myungsoo justru tersenyum sangat lebar mengetahui jika pemikiran Jiyeon tidak sejalan dengan pemikiran gadis pada umumnya.

 

*

 

Jiyeon membolak balik buku matematika miliknya. Pikirannya melayang-layang entah ke mana. Gadis itu selama satu menit pertama mengingat wajah Myungsoo yang menurutnya sedikit aneh dan membingungkan, tapi kemudian pikirannya terganti oleh kenangan menyakitkan di masa kecilnya. Baiklah, katakan ini adalah trauma besar yang sudah dialaminya, tetapi siapa juga orang yang tidak akan trauma dengan hal yang membuat keluarganya tercerai-berai.

 

Jiyeon mengambil ponselnya yang tergelatak tak jauh dari posisinya sekarang. Ada sebuah pesan dan Jiyeon sudah tahu siapa pengirimnya. Ibunya, tentu saja.

 

Kau baik-baik saja, ’kan? Ingat jangan lupa untuk makan. Seperti itulah isi pesan singkat yang diberikan Ibunya untuk dirinya. Jiyeon sudah sangat paham dengan kondisi Ibunya, dan ia tidak akan menuntut hal yang lebih. Sejak Ayahnya memilih untuk benar-benar pergi, dia memang telah memutuskan untuk tidak lagi berharap lebih banyak kasih sayang untuknya, sekarang perhatian Ibunya terasa sudah cukup, walaupun pada dasarnya untuk anak normal lainnya akan menganggapnya sangat kurang dari sewajarnya.

 

Satu lagi pesan yang masuk ke ponselnya dan kali ini membuat keningnya sangat berkerut akibat berpikir terlalu lama, pasalnya nomor yang tertera sama sekali tidak dikenalnya, lalu dari mana orang ini menemukan nomor ponselnya.

 

Apa kau sedang menyendiri lagi, hum? Hanya beberapa kata yang cukup membuat Jiyeon memutar otaknya memilih siapa yang kemungkinan besar memiliki tujuan dengan mengirimnya pesan tidak jelas.

“KMY,” guman Jiyeon pelan.

 

*

 

Pagi berikutnya kembali datang. Aktifitas di sekolah sudah mulai berlangsung. Dari gerbang sekolah sudah nampak puluhan siswa hilir mudik, dan Jiyeon juga salah satu di antaranya. Sementara itu, Myungsoo justru terlihat menunggu di dekat gerbang sekolah. Pria itu terlihat sumringah kala sudah mendapati gadis dengan wajah datar dan tatapan mata anehnya sudah memasuki area lingkungan sekolah. Tanpa berpikir terlalu panjang, Myungsoo mendekat pada Jiyeon, kemudian menarik tangan gadis itu sedikit menjauh dari keramaian.

 

“Apa yang kau lakukan? Lepaskan!”

 

“Tidak ada. Aku hanya ingin memperkenalkan diriku secara resmi.”

 

Jiyeon mendesis. Dia menghempaskan tangan Myungsoo yang memegang erat pergelangan tangannya. Gadis itu berbalik dan berniat melangkah sebelum akhirnya niatnya terhenti oleh ucapan Myungsoo yang menurutnya terdengar sangat serius.

 

“Aku Kim Myungsoo, ingat itu. Pria bernama Kim Myungsoo mulai sekarang sampai seterusnya akan terus menmpelimu seperti permen karet, dan sampai saatnya tiba pria bernama Kim Myungsoo itu pasti akan membuat wajah datar itu hilang.”

 

TBC

 

Ini gaje, pasti >< Tapi masih dipost juga.

Semoga suka ceritanya, dan kalau ada kesalahan-kesalah dalam ff ini aku mohon maaf karena aku masih amatiran dalam dunia per ff-an.

Makasih J

A’Moore

66 responses to “[Chapter -1] HIGH SCHOOL LOVERS : His Gaze.

  1. Aduhhh jiyeon jd penyendiri gt, kira2 myungsoo berhasil ngedeketin jiyeon ga ya. myungsoo ga ada niatan buat ngerjain jiyeon kan?

  2. Hehe. Per ulama yg baik. Harap jiyeon dpt overcome traumanya. Dan apa yg Myungsoo akan lakukn utk menarik perhatian jiyeon?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s