Pretend (Chapter 11)

 

FF Pretend new

Tittle : Pretend

Author : brownpills

Main Cast:

  • Park Jiyeon
  • Kim Myungsoo
  • Krystal Jung
  • Bae Suzy
  • Choi Minho
  • Kai

Lenght :  Chaptered

Genre : Romance, Family, Schoollife

Rating : PG-14

A/N : Pure of my mind. Also share in FFH. Don’t be a Plagiator!

All point of view of this chapter is Kim Myungsoo.

.

.

-Prev-

Myungsoo’s PoV

Walaupun kau mengatakan kalau kau ingin mati karena ketidakadilan, dunia tidak akan peduli. Sekarang kau sedang ada diujung jurang. Jika kau mengambil langkah yang salah, kau akan jatuh kebawah dan lenyap tanpa bekas.

-Quotes of You who Came From The Stars-

 

H-2 sebelum ‘kejadian’.

 

Bola basket itu mulus memasuki ring-nya. Decitan yang merusak telinga berkali-kali terdengar. Keringat sudah membasahi kemaja yang kukenakkan. Nafasku berderu tak karuan.

 

Apapun yang terjadi nanti, jangan salahkan dirimu.

 

Suara lembutnya menggema dalam otakku. Meracuni benakku dan melumpuhkan ingatanku. Berdebam suara bola basket saat aku membantingnya dengan keras. Mencurahkan gejolak yang tak dapat ditahan. Marah dan sedih bercampur menjadi satu.

 

Myungsoo-ya, teruslah berjuang dan kenanglah aku.

 

Secepat kilat aku melakukan gerakan lay up. Menerbangkan tubuhku sejajar dengan ring seraya memasukkan bola basket ke dalamnya. Gravitasi menarik tubuhku, membuatnya terbentur dengan lantai di lapangan in door ini.

“Argh!”

Reflek aku mengerang sembari menyentuh lengan kananku yang terasa perih. Samar samar aku merasakan kehadiran seseorang di hadapanku. Kepalaku mendongak seraya mendapatkan wajah dengan ekspresi datar.

“Kau terlihat lemah,” lirih Jiyeon, gadis dengan bibirnya yang memutih.

Dalam waktu seperti ini aku tak mampu untuk melihat wajahnya. Terlalu menyakitkan. Maka aku beranjak berdiri. Berpura-pura kuat sembari menggiring bola basket.

“Kau seperti ini karena Bae Suzy?”

Tepat disaat itu aku melayangkan bola berat ini ke dalam ring, namun gagal. Helaan nafas kasarku terdengar seraya aku menusuknya dengan mata elang milikku.

“Aku— benar-benar merasa hancur sekarang. Aku merasa diriku orang paling bodoh di dunia ini.”

Meski kalimatku dapat melukai hatinya, namun aku tidak ingin membuatnya terjatuh lebih dalam.

Berat hati aku berkata, “Pergilah, aku ingin sendiri.”

“Tidak ada gunanya menangisi orang yang sudah tidak ada—“

“Kau tidak mendengar ucapanku?!” Aku sendiri terkejut dengan bentakanku yang meluncur tanpa permisi. “Aku bilang pergi!”

Sepasang matanya yang berbinar membulat sempurna. Menghancurkan kepingan katiku yang tersisa. Membuatku merasa seperti berjalan di atas serpihan kaca.

Punggung mungilnya berbalik menjauhiku. Melihat bahunya yang gemetar mampu mempupuskan segala asaku.

Jangan pergi… Aku ingin mengatakan itu. Namun lidahku justru memanggil namanya.

“Jiyeon.”

Langkahnya tertahan sejenak. Kupaksa otakku untuk menemukan kalimat yang tepat. Sambil berusaha mengatur nada suaraku aku berkata, “Kau tidak boleh melihat kondisiku yang seperti ini.”

—o0o—

H-1 sebelum ‘kejadian’.

 

Jalanan terselimuti oleh salju tebal. Taman bermain itu seolah tidak pernah tertidur. Senyum cerah anak kecil tidak dapat dipudarkan, hal ini sedikit meringankan bebanku. Canda tawa bercampur di sekolah yang tidak begitu mewah. Hanya satu gedung tua dan taman bermain kuno di depannya.

Salah satu yang menikmati pemandangan itu adalah aku. Sesekali slr yang menggantung di leherku mengarah pada mereka. Mereka bagaikan anak-anak yang belum paham apa itu dosa. Bermain, berlari ke sana ke mari, berseru satu sama lain, tidak pernah bertengkar.

Konyol karena aku iri dengan mereka.

Oppa!”

Kepalaku menoleh mendapati seorang gadis berpakaian tebal tengah berlari-lari kecil. Gadis itu menghampiri seorang pria yang jaraknya sekitar empat meter dariku.

Oppa sudah datang!”

Kini gadis lain dengan tubuh gempal menyahutnya. Mengikuti langkah kecil gadis cantik yang awal tadi. Begitu pula dengan teman-temannya, mereka sudah tidak peduli dengan ayunan ataupun jungkat jungkit. Saat ini anak-anak itu kegirangan mengerubungi seorang pria yang meneteng dua buah kardus.

Mataku menyipit mencoba membenarkan apa yang kulihat benar atau salah. Sampai pandangan pria yang membagikan buku itu mengarah padaku.

“Minho,” desisku.

Tidak lama Minho mengalihkan perhatiannya. Kembali tersenyum sambil menyerahkan barang dalam kardus itu kepada anak-anak kecil yang mengelilinginya.

Yakin anak-anak imut itu sudah kembali ke tempatnya karena mendapat mainan baru, aku mendekati Minho.

“Untuk apa kau ke tempat seperti ini?” tanyaku mencoba acuh tak acuh dengan mengamati sekeliling.

Tempat yang kami pijaki tidak terlalu terkenal. Bagi mereka yang memiliki ekonomi menengah ke bawah hanya bisa masuk ke sekolah dasar seperti yang terbentang di hadapanku.

“Memberikan bantuan kecil,” jawabnya.

Sudah lama sejak perkelahian itu, aku tidak pernah mengajak Minho bercengkrama.

“Kau sendiri?” tanyanya balik.

“Mendonorkan dana untuk gedung ini. Dan juga memotret laki-laki dan gadis manis seperti mereka,” tanpa sadar aku tersenyum kecil menjawabnya.

Hujan salju tidak selebat hari kemarin. Namun aku tetap merapatkan coatku ketika angin sepoi melambai dan membawa tumpukan salju entah ke mana. Tidak biasanya aku dan Minho memiliki obrolan dalam diam.

“Ehem,” aku berdehem sejenak mencairkan suasana, “Kau mau kopi?”

Memang aku sudah menyediakan satu termos kopi hangat yang kusimpan di tas selempangku. Jaga-jaga aku bisa membeku di tengah perjalanan.

“Boleh,” sahutnya.

Segera aku merogoh tas, suatu keberuntungan aku membawa gelas mungil plastik berjumlah tiga. Aliran hangat mengucur dari mulut termos saat aku menuangkannya ke gelas. Minho menerima uluran tanganku sambil menyeruput kopi panasku. Begitu pula denganku.

Espresso,” gumamnya menghirup wangi biji kopi yang enak.

“Ayahku baru saja pulang dari Perancis dan membelikannya,” ucapku enteng.

“Kau selalu meminta oleh-oleh espresso dari ayahmu.”

Diriku tertegun mendengarnya. Minho mengenalku dengan baik, tidak beda jauh dengan Suzy. Ah benar, Suzy—

Mian.”

Aku mengerti ia pasti membelalakan matanya mendengar kata maaf dari mulutku. Susah payah aku menelan saliva dan mencoba berpikir bagaimana cara mengatakannya.

“Saat itu aku tersulut emosi,” jelasku memandangi anak-anak dengan wajah berseri di hadapanku, “—tidak seharusnya aku marah padamu. Sekali lagi aku minta maaf.”

Minho menolehkan kepalanya. Tersenyum tulus sambil menjawab, “Arraseo.”

Aku membalas pandangannya dengan sepasang mata tidak percaya, “Kau tidak marah?”

Ia menggeleng pelan, “Kaulah yang marah. Setiap berpapasan denganku kau bahkan tidak mau melihat wajahku.”

Berat hati yang sempat tersimpan di hati kini sudah menjadi ringan. Cengiran menghiasi wajahku. Tanpa basa-basi aku merangkul pundak Minho membuat pria itu risih dengan sikapku.

“Minho! Myungsoo!”

Teriakan seorang gadis menghentikan candaan kami. Penglihatanku menangkap sesosok gadis memakai pakaian musim dingin berwarna cokelat muda tengah berlari-lari kecil menghampiri kami.

Senyuman gadis dengan topi rajutan yang bertengger manis di kepalanya itu merekah.

“Krystal?” heran Minho, sementara aku sudah melepas rangkulanku.

“Aku tidak menyangka dapat bertemu kalian di tempat seperti ini,” jawabnya membenakan syal putihnya.

Minho tersenyum kikuk menjawabnya.

“Apa yang kau lakukan di sini?” tanyaku akhirnya.

“Aku menjadi guru di sini. Guru Musik,” ujarnya seperti sebuah kebanggaan. “Sudah lama aku menjadi sukarelawan untuk sekolah ini.”

Minho dan aku hanya manggut-manggut paham.

“Kalian tidak bertengkar?” pertanyaan polos Krystal sedikit mengundang tawa.

“Sahabat seperti kami tidak pernah bertengkar,” belaku dengan senyum lebar kelewat batas membuat Minho bergidik.

Mwoya? Bukankah di sekolah, kalian sedang tidak akur? Hal itu sudah tersebar di sekolah,” ucap Krystal.

“Kau harus lebih pintar memilah mana gossip mana fakta. Abaikan saja, itu hanya gossip,” sanggahku.

“Tapi—“

“Apa kau tidak mengajar? Muridmu sudah menunggu,” potongku malas menanggapi sifat keras kepala Krystal.

Krystal mendengus pelan seraya melangkah menjauhi kami. Aku menghela nafas, berhadapan dengan gadis itu harus pintar berdebat, dan aku malas melakukannya. Sedangkan Minho memincingkan matanya melihat tingkahku.

—o0o—

Hari H, ‘kejadian’ dimulai…

 

Bangku kelas yang terletak di deretan paling belakang menjadi sandaran tubuhku. Goresan sinar sore menerobos melalui kaca jendela yang belum tertutup tirainya. Tersisa sekitar enam siswa yang mengikuti kelas tambahan. Suasana sepi lebih mendominasi.

Sembari menunggu kelas tambahan dimulai –aku termasuk enam siswa itu- sedari tadi aku sibuk mengamati hasil potretanku.

Mulai dari sekolah tua yang kemarin ku kunjungi hingga kedua mataku terpaku pada sosok gadis yang tertera di lembar foto. Tanganku lebih mendekatkan foto-foto yang kini sering menampilkan wajah gadis itu.

Rambut cokelatnya yang menjadi favoritku melambai saat ia berjalan akan memasuki mobil jemputannya. Dirinya yang sedang duduk di atas kasur rumah sakit sembari menikmati majalah di pangkuannya. Terakhir, wajah tirusnya dari samping yang menggambarkan kehampaan.

Pikiranku tersadar dari suatu hal. Seolah ada manik yang tertinggal dan aku harus meraihnya kembali.

Masalah Suzy sudah membutakan pandanganku dari gadis itu. Gadis yang diam-diam menjadi semangatku tiap aku putus asa.

Dengan mantap aku beranjak berdiri. Mendekati bangku yang merupakan tempat duduk gadis itu. Kosong, hanya ada tasnya. Maka aku mengeluarkan ponselku dan menekan beberapa nomor.

Tepat saat sambungan telepon di ponselku, dering ponsel lain terdengar. Membuat tanganku bergerak mengikuti arah bunyi itu.

Ponsel yang kukenal milik Jiyeon tertinggal di laci. Ia meletakkannya di sela-sela buku sehingga tidak sengaja aku membuat buku tebalnya terbuka. Di situlah ada selembar kertas dengan tulisan tangan yang tidak rapi.

 

Hidup dalam kepura-puraan.

Hidup memakai topeng senyum dan tawa.

Aku tidak ingin hidup seperti ini.

Aku merindukannya. Aku ingin bertemu dengannya dan meminta maaf padanya.

Setelah ini, aku tidak perlu menderita.

Kedamaian yang selalu kuimpikan akan terwujud.

 

Dahiku mengernyit selesai membacanya. Meski berusaha menghapusnya, namun pikiran negatif itu memaksa masuk ke dalam benakku. Membuatku bergegas keluar dari kelas.

Sekencang mungkin aku berlari dalam koridor. Pantulan keras sepatuku menggema. Setiap ruangan dalam gedung ini kuperiksa satu per satu dengan nafas terengah. Tidak ada.

Sakit menusuk dadaku yang mulai kehabisan tenaga untuk berlari. Aku berjalan cepat terseok masuk ke dalam perpustakaan yang belum kuperiksa. Di sanalah Minho berada. Membisu dalam kesendirian.

“Apa kau melihat Jiyeon?” tanyaku tidak kentara. “Ya!”

Barulah Minho terkejap dari lamunannya. Melihatku yang kesulitan dalam pernafasan. Pandanganku mengarah pada buku bersampulkan merah muda di meja. Itulah benda yang menjadikan renungan Minho.

Kasar aku merebut buku itu. Membuka-buka dan membacanya sekilas. Mulutku menganga dan menatap kosong pada Minho.

“Mungkin Jiyeon ada di atap,” tebakku tidak mempedulikan tanda tanya besar di kepala Minho, aku kembali melanjutkan langkah tergesaku.

Sesak dada, nafas terputus, keringat mengalir deras sudah tidak kupedulikan lagi. Yang kupikirkan hanya satu. Hanya satu, hanya satu, dan hanya satu, — Park Jiyeon.

Setiap anak tangga kulewati tanpa kewelahan. Sampai aku mendobrak pintu atap sekolah. Dengan sisa tenaga yang kumiliki aku berlari pada gadis yang hampir terjatuh melalui pembatas besi. Menarik salah satu lengan gadis itu sekuat mungkin.

Hingga aku mendapat bantuan dari belakang -Minho menyusulku-. Pria itu yang terkenal dengan tubuh atletisnya membantuku menarik lengan gadis itu. Sambil mengerang keras aku serasa melempar tubuh gadis itu kembali ke atas.

Tubuhku goyah membentur lantai atap. Begitu pula dengan Minho dan juga kedua gadis yang kini terlentang di atap.

Langit malam dengan sedikit bintang memenuhi pandanganku yang berair. Kepalaku yang menyentuh lantai terasa dingin. Hampir aku kehilangan kesadaran, namun sosok yang menghantui pikiranku membangunkanku. Membuatku duduk dan ternyata sosok itu tepat berada di sebelahku.

Rambutnya berantakan, bibirnya putih, dan wajahnya memucat. Dia bersimpuh di lantai sambil menunduk. Bahunya gemetar dengan kedua tangannya yang mengepal, meninju lantai atap.

Minho dan Krystal sudah membenarkan dirinya masing-masing, meringis sambil mendudukan diri.

“Kau gila…” bisikku.

Pandanganku mengunci gadis itu. Tidak ada perasaan yang tepat untuk menggambarkan isi hatiku.

Dengan nafas terengah aku berkata, “Tetaplah hidup walaupun kau sudah lelah. Itulah yang tertulis di halaman terakhir buku harian Suzy.”

Kemudian ada suara yang menggiringku ke dalam kepekatan. Membawaku menelusuri jalan yang gelap. Suara tangis Jiyeon, akhirnya aku mendengarnya.

“Aku tidak tahan.”

Kalimat parau yang ia ucapkan sambil menenggelamkan kepalanya dalam, terdengar mengerikan. Seolah sikapnya kini tengah mengajakku untuk melihat betapa suram hidupnya.

“Aku ingin bertemu Suzy, ada hal yang harus ku ucapkan—” lagi ia berkata, “—aku ingin berkata bahwa dia satu-satunya yang memahamiku bagaimana rasanya saat penyakit menguasai kondisi tubuh—“

Sekujur tubuhku gemetar. Tiap uraian kalimat yang ia utarakan adalah jarum kecil yang mampu merobek luka hati.

“—aku dan dia pernah merasakannya—“ tangan mungilnya menyentuh dada bagian jantung, “—rasa sakit ini.”

Apatisme dan pesimisme merajai kerangka nurani. Dan saat terlintas pikiran semua takkan terobati. Hal ini terjadi di luar batas ekspetasi. Perasaan kalut menusuk hati terdalamku melihat kondisi Jiyeon yang terpuruk.

Aku membencinya, aku benci melihatnya meneteskan air mata.

“Kematian Suzy bukanlah kesalahanmu. Ia meninggal karena penyakit kanker lambung. Dia pernah mengatakan padaku kau adalah yang terbaik, tidak memuji di depan, tidak menggunjing di belakang. Bagi Suzy kau teman yang sesungguhnya,” Minho menjelaskannya dengan tulus.

“Jiyeon-a, tidak bisakah kau membuka pandanganmu lebih luas. Lihatlah bahwa kita semua ada di sisimu,” kini Krystal mengembangkan senyumannya.

Kepala Jiyeon terangkat perlahan. Air mata masih mengaliri pipi merah mudanya. Dia memandang meminta keyakinan.

“Aku…”

Entah setan apa yang merasukiku. Lenganku segera menarik pinggang Jiyeon. Membiarkan tubuhnya bersandar dalam dada bidangku. Membuatku merasakan tubuhnya yang dingin. Dekapanku terlalu erat hingga kepala Jiyeon terbenam di dalamnya.

“Jangan lakukan itu. Jika kau melakukannya aku akan mati saat itu juga.”

Bisikanku berhembus di samping telinganya. Dapat kurasakan ia menegang dalam pelukanku. Beberapa menit berlalu ia melunak. Harum helaian rambutnya seperti bunga mawar yang mekar.

Aku melepaskan dekapanku. Menatapnya dengan kedua tanganku yang menghapus lembut sisa air matanya.

“Aku akan melindungimu,” yakinku.

Bola matanya kembali tergenang cairan bening. Sepasang mataku melekat pada wajahnya yang semerah tomat.

“Krytal! Mian aku terlambat. Aku ada sedikit ma—“

Teriakan bass itu menyentakkanku dan juga Jiyeon. Sosok pria berkulit cokelat datang mendekati kami, lebih tepatnya mendekati Krystal dengan wajahnya yang terburu-buru.

“Eoh! Jiyeon!” ujarnya terkejut menyadari keadaan Jiyeon yang berada di sebelahnya. “Ada apa ini? Mengapa kau menangis? Apa Myungsoo mengganggumu lagi?”

Tebakan Kai yang asal-asalan itu disambut dengan jitakan keras dari Krystal.

“Argh! Ya!” kesal Kai membulatkan matanya.

Krystal menatapnya tajam, “Diamlah, kau menghancurkan suasana.”

Mwoya? Apa yang salah?” Kai bersikeukeh tak mau disalahkan. Perhatiannya kembali tertuju pada Jiyeon, “Katakan padaku, apa seseorang menyakitimu?”

Jelas terlihat Krystal merengut. Mengerucutkan bibir tipisnya sambil menggerutu, “Setidaknya menjelaskan dulu padaku mengapa kau terlambat, hah? Bukankah kau yang memintaku untuk bertemu di atap? Aku sudah menunggumu tiga jam yang lalu. Dan aku melihat Jiyeon juga berada di sini tadi,” kalimat terakhir begitu lirih terkalahkan suara angin.

Mianhae,” kata Kai menggaruk tengkuk kepalanya yang tidak gatal.

Merasa kehilangan kesabaran menghadapi Kai, Krystal mengabaikan kedatangan pria itu. Justru gadis itu malah mendekati Jiyeon yang masih terduduk. Memeluk erat tidak mempedulikan respon Jiyeon yang tersentak.

“Aku juga akan melindungimu.”

Kalimat lembut Krystal cukup menggetarkan hati. Membuatku, Kai, dan Minho yang melihatnya termenung di tempat.

Lama mereka bertukar kehangatan hingga Jiyeon dapat mengembalikan senyumannya. Meski hanya senyuman singkat. Krystal melepaskan pelukannya dan memamerkan sederetan giginya yang tertata rapi.

“Aku juga,”

Perhatian kami teralih pada Minho yang mengangkat tangannya. Pria itu menarik kedua sudut bibirnya dan melanjutkan perkataannya, “Park Jiyeon, akan kulindungi kau.”

Sejenak keheningan aneh menyelimuti kami. Lebarnya tawa Krystal membangunkan lamunan kami. Gadis itu memperlihatkan senyum cerahnya. Kai terlihat kikuk karena tidak mengerti apapun. Namun dengan percaya diri ia ikut berkata,

Ya, Jiyeon! aku tak ingin kalah dari mereka. Aku akan lebih melindungimu.”

Kupu-kupu dalam perut menggelitik, memaksaku mengeluarkan luapan kebahagiaan. Untuk pertama kalinya aku merasa bahwa tidak ada gaya gravitasi di bumi. Tak ada yang menarik, tak ada beban, hanya terasa seperti terbang di angkasa.

 

Biarkan kami merasakan apa yang dinamakan sahabat.

.

.

Suzy, dapatkah kau melihatnya? Kami berhasil mengembalikan senyum gadis itu. Gadis yang kau anggap sebagai teman terbaik. Aku melakukannya, aku mencintainya, Suzy. Aku mencintai gadis itu.

-To be Continue-

Road to Final

T____T hhuuueee…. road to final…. mungkin tingga 2-3 chapter lagi, guys. Kepo sama endingnya? Ikutin FF ini aja yap🙂

81 responses to “Pretend (Chapter 11)

  1. Bagi suzy jiyeon adalah teman terbaiknya karena dy tidak memuji didepan dan menggunjingkan dibelakang. Sedih banget ceritanya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s