Is It a Curse? [Chap. 8]

It is a Curse
Cast:
Kim myungsoo
Park jiyeon
Other cast:
Park chanyeol
Genre: Fantasy,Romance, Sad/ Hurt
Author : @kethychan
A/N: Ini ff murni keluar dari otak ku, mungkin jika ada sedikit kesamaan itu hanya lah kebetulan semata. Please don’t siders and don’t plagiat ok😉
Summary: Apa ini sebuah kutukan? Jika memang ini sebuah kutukan kenapa harus aku yang mengalami semua ini? Kenapa tidak orang lain saja? Aku benci berada dalam situasi seperti ini!!
Backsong : Hyun ah –Can you love [ ost her lovely heels]
Entah kenapa saat menulis ff ini, aku ngerasa nyaman dan feel nya dapat pas denger lagu ini. Tapi aku gak tahu klo kalian[up to you] hanya recommend aja kq😀


Story Begin~

Author P.O.V

Tin… tin …tin
Suara klakson tersebut sangat mengganggu sarapan pagi Jiyeon. Yeoja itu menghempaskan kasar roti panggangg itu kepiring dan menyambet tas nya kasar menuju pintu utama. Mata nya menatap tajam sosok namja yang berada diatas motor tersebut. Kim Myungsoo. Sosok namja yang beberapa minggu ini telah mengusik ketenangan hidup nya. Ia sangat membenci Myungsoo yang selalu sok care dengan nya, ia bahkan lebih nyaman dengan kehidupan nya awal nya. Tetapi, sayang nya semua itu tak berlangsung dengan lama karena Myungsoo tiba –tiba hadir dalam kehidupan nya dan mulai mengacaukan semua nya.

“Ya! Kau mengganggu sarapan pagi ku tuan Kim” decak Jiyeon dingin dan kini telah duduk di atas motor Myungsoo.

“Mianhae, aku tak bermaksud” Myungsoo telah menjalan kan motor nya. Tak ada pembicaraan setelah perbincangan kecil tadi. Kedua nya bungkam dan lebih memilih terhanyut dengan pikiran masing –masing.

Sesampai nya di sekolah, semua mata memandang shock kearah Myungsoo dan Jiyeon. Bagaimana tidak, namja yang bisa di bilang popular itu membonceng seorang yeoja yang paling di takuti di sekolah. Itu adalah sebuah berita yang sangat menggemparkan. Semua fans yeoja Myungsoo menatap tak suka terhadap Jiyeon.

Namun, yeoja itu hanya mengacuhkan tatapan tersebut dan meninggalkan Myungsoo yang berada di belakang. Karena Myungsoo ia semakin di benci oleh semua orang.

“Jiyeon –ah chamkammanyo!” teriak Myungsoo yang berusaha menyamai langkah kaki mereka.

“Sebenarnya ada hubungan apa antara Jiyeon dan Myungsoo?” decak yeoja

berkacamata tersebut yang kini tengah berbincang –bincang denga teman –teman nya.

“Entahlah, apa mereka telah meiliki hubungan yang sangat special?” gumam yeoja berambut pirang tersebut.

“Andwae, Myungsoo oppa tak boleh memiliki hubungan special dengan yeoja monster itu. Lagi pula aku rasa Myungsoo oppa itu pasti mendekati yeoja itu karena ingin mengetahui ajal atau masa depan nya saja.” Segah yeoja berambut merah itu. Ia berusaha meyakin kan kedua teman nya tersebut.

“Hem, aku rasa begitu, mana mungkin tipe Myungsoo oppa seperti dia. Sangat tidak mungkin” decak yeoja berambut pirang tersebut. Walau pun yeoja –yeoja itu sudah berbicara dengan volume suara yang sangat di pelan kan. Tapi, Jiyeon bisa mendengar semua itu dengan jelas. Ia hanya mendengus pelan dan meninggalkan ruang kelas yang sangat sumpek tersebut. Myungsoo yang melihat Jiyeon akan meninggalkan kelas dengan cepat saja ia menyusul yeoja tersebut.

“Apa kau kesal dengan gossip baru di sekolah ini. Kau bahkan menjadi popular dengan cepat karena berita ini, bukan kah itu hebat?” gumam Myungsoo yang kini tengah merangkul pundak Jiyeon. Jiyeon yang melihat tangan Myungsoo yang menyentuh tubuh nya dengan cepat ia menyingkirkan tangan tersebut dengan kasar.

“Jangan menyentuh ku, jangan berbicara dengan ku, jangan berdekatan dengan ku dan ABAIKAN saja aku. Karena mu, kehidupan ku menjadi terusik. Kau mengganggu ketenangan ku KIM MYUNGSOO!!” ucap Jiyeon dingin namun penuh dengan penekanan.

“Jiyeon –ah tapi aku tak bermak –“ kalimat Myungsoo terputus karena Jiyeon kembali melanjutkan kalimat nya.

“Sudah ku katakan jangan berbicara dengan ku!! Dan satu lagi kau tak perlu mengantar jemput ku lagi. Aku bisa menyuruh Chanyeol oppa yang mengantar ku. Jadi mulai saat ini berhenti lah sok care dengan ku, arrachi?!”Jiyeon berjalan meninggalkan Myungsoo. Sedangkan namja itu hanya menatap kosong punggung Jiyeon yang semakin lama semakin menghilang dari jarak pandang nya.

“Apakah salah aku peduli dengan nya?” lirih Myungsoo.
Di tempat Jiyeon, kini ia sedang menerawang jauh keatas langit biru kosong di atap sekolah. Kata –kata yang ia ucapkan pada Myungsoo tadi terus saja terngiang –ngiang di benak nya. Jiyeon merasakan sebuah perasaan aneh, saat ia memejamkan mata nya ia melihat banyak bercak darah dimana –mana. Dan di sana ia mendengar ada sebuah suara tangisan dan teriakan histeris seseorang yang sangat ia kenal. Dengan cepat saja ia membuka mata nya, keringat dingin telah memenuhi wajah nya.

“Aneh. Sebernarnya apa yang akan terjadi? Dan darah siapa itu? Kenapa menjadi teka –teki seperti ini, eoh?” gumam Jiyeon pelan.

Seharian ini Jiyeon tak mengikuti pelajaran di kelas. Ia lebih memilih untuk menghabis kan waktu nya untuk tidur sekaligus untuk menghindari Myungsoo namja menyebalkan itu. Tanpa ia sadari waktu telah menunjukan pukul 7 malam, Jiyeon bergegas turun dari atap sekolah karena ia takut penjaga sekolah sudah pulang. Dewi fortune masih memberkati nya pagar sekolah belum terkunci, ia pun melanjutkan jalan nya menuju rumah. Di halte bus Jiyeon menunggu sendirian dan jalan di dekat sana pun sangat sepi.

5 menit…

10 menit…

20 menit…
Bus sama sekali tak lewat. Jiyeon mulai panik karena bayangan yang ia lihat tadi siang terus saja menghantui benak nya. Ia takut hal itu terjadi pada oppa nya, eomma nya atau pun pada Myungsoo. Eh! Myungsoo. Kenapa aku tiba –tiba memikirkan nya, untuk apa aku memperdulikan namja menyebalkan itu. Pikir Jiyeon.

Tin … tin … tin …

Suara klakson itu sangat di kenal oleh Jiyeon. Sontak saja ia menengadahkan kepala nya dan menatap seseorang yang menekan klakson tersebut. Dan ternyata itu Myungsoo. Huft! kenapa ia harus bertemu dengan namja ini. Pikir Jiyeon geram.

“Menunggu bus? Percuma saja, para supir bus sedang demo di kantor pemerintah dan mereka sedang mengadakan mogok kerja. Kau mau menunggu sampai kucing beranak monyet pun bus tak akan ada yang lewat” jelas Myungsoo. Jiyeon hanya diam dan menatap datar Myungsoo.

“Oh!” seketika bayangan itu muncul lagi dan membuat Jiyeon kembali di selimuti oleh keringat dingin. Myungsoo yang melihat perubahan sikap Jiyeon, ia mulai turun dari motor nya dan menggoyang –goyang kan lengan yeoja tersebut pelan.

“Jiyeon … Jiyeon –ah, gwenchana?” tanya Myungsoo khawatir.

“Myungsoo –ya apa aku akan mati?” ucap Jiyeon yang pandangan nya kosong.

“Ya! Busun suriya?!” Myungsoo sama sekali tak mengerti dengan apa yang di ucapkan Jiyeon. Dan tanpa di ketahui oleh Myungsoo, kini mata Jiyeon sedang menatap sebuah objek. Seorang anak kecil yang akan menyebrang jalan dan dari jarak yang tak begitu jauh ada sebuah mobil yang melaju dengan kencang nya. Melihat hal tersebut Jiyeon menghempaskan kasar tangan Myungsoo dari lengan nya. Ia berlari kearah yeoja kecil itu yang memang jarak nya tak begitu jauh dari nya. Di dorong tubuh mungil yeoja itu ke trotoar.

Brak…

Mobil itu dengan indah nya menabrak tubuh Jiyeon yang memang berada di tengah jalan. Melihat ia menabrak seseorang, sang pengendara mobil itu bergegas melaju kan mobil nya dan meninggalkan Jiyeon yang telah terlukai lemas di jalan dengan darah yang berlumuran di mana –mana. Myungsoo bergegas berlari kearah Jiyeon dan memangku tubuh yeoja tersebut.

“Jiyeon –ah, jebal ireona,,, jebal kajima,,,”teriak Myungsoo frustasi.
Apakah ini kejadian yang ada di penglihatan ku tadi siang. Apakah hari ini adalah hari kematian ku?. Tapi, kenapa harus sekarang? Bahkan aku belum sempat membuat Chanyeol oppa bahagia dan aku belum sempat membuat eomma kembali seperti dulu. Sungguh aku belum siap meninggalkan dunia ini,belum. Masih banyak hal yang belum aku lakukan. Jebal, bisakah beri aku 1 kesempatan?. Batin Jiyeon.

*

*

*

Di rumah sakit, Chanyeol dan Myungsoo kini tengah mondar –mandir tak jelas bak setrika. Air mata Chanyeol telah membanjiri wajah tampan nya. Chanyeol tampak sangat berantakan sekali, Myungsoo menarik tangan Chanyeol dan membawa nya duduk agar dapat lebih tenang. Chanyeol mengusap wajah nya kasar, ia sangat bingung, panik, dan takut. Ia takut kehilangan sosok yang paling berharga dalam hidup nya. Ia sangat takut.

“Hyung, tenang lah. Aku mengerti perasaan mu saat ini. Aku yakin Jiyeon akan baik –baik saja. Bukankah dia yeoja yang kuat. Dia pasti bisa melewati masa kritis nya ini” ucap Myungsoo yang mencoba sedikit menenag kan Chanyeol. Namja itu hanya bisa mengangguk lemah.

“Hyung, kau tak menelpon ahjumma?” tanya Myungsoo. Mendengar penuturan namja tersebut entah kenapa ia ragu untuk mengambil ponsel nya. Tapi, mungkin kali ini eomma nya akan khawatir dengan dongsaeng nya. Dengan tangan tangan yang sedikit bergetar Chanyeol meraih ponsel nya dan menekan tombol 1.

30 detik…

1 menit…
Tak ada jawaban. Saat Chanyeol akan mematikan sambungan nya, tiba –tiba saja terdengar sebuah suara yang sangat ia kenal.

“Waeyo Yeollie?” tanya yeoja paruh baya itu.

“Eo –eomma Ji –jiyeon ke –kecelakaan dan se –sekarang ia se –sedang kri –kritis”tutur Chanyeol terbata –bata. Seseorang yang berada di seberang sana hanya diam mendengar penuturan nya.

“Eomma apa masih disana?”

“Oh! Nde, untuk apa menghubungi eomma? Bukankah itu hal yang bagus, akhir nya yeoja pembawa kutukan itu mendapatkan saat –saat kematian nya” ucap yeoja paruh baya itu dingin nan datar.

“Eomma!!” sentak Chanyeol geram dengan penuturan eomma nya tersebut yang memang sudah kelewat batas.

“Jangan hubungi eomma jika hanya ingin membahas yeoja monster itu” setelah mengucapkan kalimat tersebut sambungan terputus dengan sepihak. Chanyeol merasakan kaki nya melemas dan kini ia telah jatuh terduduk. Ia benar –benar tak habis pikir dengan eomma nya yang dengan tega nya mengucapkan kata –kata kejam tersebut. Apa eomma nya masih belum menerima kenyataan tersebut? Tapi kenapa harus Jiyeon yang di salah kan? Kejadian yang menimpa appa nya bukanlah kesalahan Jiyeon, tetapi itu semua memang lah sudah takdir appa yang harus meninggalkan mereka. Pikir Chanyeol yang kini menatap kosong ponsel nya. Pikiran nya kosong dan dada nya sangat sesak sekali mana kala kata –kata eomma nya masih terngiang –ngiang di telinga nya.

“Hyung! Kenapa ahjumma mengatakan hal itu?” ucap Myungsoo dengan tatapan shock nya .

To be Continue…

PS: huft selesai juga part 8… butuh perjuangan banget nyelesain part ini, membutuhkan inspirasi extra [Huh! Lebay mode on –“]. Eotte dg part kali ini? Menegangkan? Buat penasaran? Ato gaje tingkat dewa? Coment and like juseoyo nde. Semakin banyak respon nya maka semakin cepat Author ngeshare next part nya… Thanks for READERs and SIDERs … Annyeong~ Pyong~~

41 responses to “Is It a Curse? [Chap. 8]

  1. Aigoo hiks hiks kejam bgt sih eomma jiyi,, udh tw anak’y lagi kritis kirain bakalan luluh hatinya ngedenger putri lagi kritis,, ekh nnyata’y malah ngomong kejam begitu,, sabar yya jiyi eoniie,,,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s