[CHAPTER – PART 4] 15:40:45 – Sorry

myung-ji-154045-1

15:40:45

Sorry

written by Quinniechip

T-ara’s Jiyeon – Infinite’s L – EXO’s Sehun – SHINee’s Minho || and other minor cast || Romance Friendship School Life || Chapter

Poster here | Prev here

-oOo-

Sudah genap enam hari Sehun dan Jiyeon seperti ini, menjalani hubungan yang entahlah harus disebut apa. Mereka tidak bertengkar, tapi juga tidak sedang dalam keadaan yang baik-baik saja. Ini sudah bagaikan perang dingin dan bagi Sehun hal ini lebih menakutkan daripada harus menghadapi tendangan maut seorang Gerard Pique.

Sudah enam hari pula Sehun berubah drastis menjadi seseorang yang lebih banyak diam. Sudah tidak ada lagi Sehun yang selalu bermain bola di waktu senggang, saat diajak oleh yang lainnya pun Sehun terus menolaknya dengan alasan malas.

Sebagai teman terdekat Sehun selama beberapa tahun ini, Jeongmin ikut merasakan dampak dari masalah yang menimpa sahabatnya. Dan sebagai teman yang baik Jeongmin menyarankan Sehun untuk mengajak Jiyeon bertemu, atau setidaknya menyelesaikan masalah mereka walaupun hanya lewat telepon.

“Kau berubah menjadi orang bodoh yang tak punya harapan hidup selama enam hari ini. Dia diam, kau pun begitu, saling menunggu siapa yang akhirnya akan bergerak lebih dulu

“–Jika seperti itu, sampai nanti aku menikah dengan Sabina Altynbekova-pun, masalah ini tidak akan selesai.”

Mendengar ucapan panjang Jeongmin, Sehun langsung bangkit dari tidurnya, “Kau cerewet sekali

“–Lagipula Sabina Altynbekova itu milikku.”

“Hei! Tidak bisa begitu. Kau kan sudah punya Jiyeon sunbae, jika bukan aku yang memperkenalkanku padanya, kau tidak akan pernah tahu jika ada atlet voli secantik dia.” Sahut Jeongmin tak terima.

Sehun hanya menatap singkat Jeongmin dan mendengus, “Mengapa sekarang kita jadi membahas Sabina yang tak ada hubungannya sama sekali dengan masalah ini?”

“Karena kau berusaha merebut Sabina dariku–“

Jeongmin mengambil ponsel Sehun dan menyerahkan padanya, “–Hubungi dan temui dia.”

Sehun mengerutkan dahinya bingung, “Siapa? Sabina Altynbekova?”

“Bodoh.” Balas Jeongmin datar, “Tentu saja Jiyeon sunbae.”

Wajah Sehun berubah lemas, dan hanya gelengan yang ia berikan sebagai balasan dari saran baik Jeongmin.

“Baiklah kirim pesan saja padanya jika kau tak berani.”

Sehun kembali menggeleng dan menidurkan kembali kepalanya di atas meja. Jeongmin hanya bisa menatap heran pada sahabatnya, ia tak bisa melakukan apa-apa lagi disaat sang pemeran utama tak melakukan apapun untuk merubahnya.

Beberapa detik kemudian ponsel milik Sehun yang tergeletak begitu saja di atas meja menyala. Jeongmin yang menyadari lebih dulu langsung melihat siapa yang mengirimi sahabatnya pesan ditengah jam pelajaran seperti ini.

“Ya! Oh Sehun, lihatlah

Ya! Ini lihatlah siapa yang mengirim pesan.” Jeongmin berusaha menunjukkan layar ponsel pada Sehun, “Kekasihmu, Park Jiyeon.”

Mendengar nama seseorang yang telah membuatnya menjadi seperti ini, Sehun langsung bangkit dan merebut ponselnya dari tangan Jeongmin.

Wajah Sehun berubah setelah matanya sibuk menelusuri pesan singkat yang beru dikirim padanya. Jeongmin yang bingung melihat ekspresi Sehun langsung mendekat berusaha melihat apa isi pesan dari Jiyeon.

“Apa yang ia katakan?” Tanya Jeongmin berusaha menyingkirkan tangan Sehun yang menutupi layar ponselnya, “Dia ingin pisah?”

Pertanyaan Jeongmin hanya dibalas dengan tatapan tajam dari Sehun. Jeongmin yang sedikit merinding setelah mendapat tatapan mematikan dari Sehun langsung mundur dan bersandar pada kursi yang didudukinya.

“Ba.. baiklah, aku hanya bercanda, apa yang dikatakannya?”

Sehun menunjukkan ponselnya pada Jeongmin, “Ia ingin bertemu.”

From : Jiyeon Chagiya~

Aku tunggu kau di tempat parkir, pos milik Jung ahjusshi, pulang sekolah nanti.

Jeongmin hanya bisa diam menatap Sehun yang juga diam dengan ekspresi yang tidak dapat dijelaskan. Ia tak membayangkan bagaimana jika ia menjadi Sehun. Setelah sibuk perang dingin dan bermain petak umpet selama enam hari, ia muncul kembali dengan pesan yang sedatar itu. Jeongmin juga tidak bisa membayangkan sebanyak apa kesabaran yang Sehun miliki.

Bukannya ia menuduh siapa yang salah dan berpihak pada yang benar, hanya saja Jeongmin tak menyangka jika kisah cinta Sehun yang selalu terlihat ceria dan semangat di luar, bisa jadi sedramatis ini.

Jeongmin dan Sehun sudah berteman sejak pertama kali mereka masuk sekolah menengah pertama, dan ini sudah memasuki tahun keempat mereka menjadi sahabat dekat. Jeongmin sangat mengetahui bagaimana seorang Sehun, begitu juga sebaliknya. Jeongmin juga menjadi saksi utama seluk beluk kisah cinta mereka berdua, Sehun dan Jiyeon.

Walaupun Jeongmin tak mengenal Jiyeon begitu dekat, tapi ia tahu bagaimana sifat Jiyeon yang sebenarnya. Sejak awal Jeongmin juga sudah mengetahui jika cepat atau lambat semuanya akan berjalan seperti ini. Sehun dan Jiyeon tidak akan baik-baik saja selamanya.

“Bahkan kau masih menyimpan kontaknya dengan nama seperti itu.” Ucapan terakhir Jeongmin terdengar bersamaan dengan bel tanda istirahat.

Sehun bangkit dan sempat melirik kearah Jeongmin yang masih duduk disebelahnya, “Asal kau tahu saja, ia masih berstatus sebagai pacar resmiku.”

Sehun meninggalkan Jeongmin yang masih duduk terdiam di tempatnya. Menatap Sehun yang menjauh dengan tatapan iba. Jeongmin hanya menggelengkan kepalanya, berharap agar sahabatnya baik-baik saja, walalupun sekarang tidak bisa dikatakan begitu, setidaknya nanti saat semuanya telah benar-benar selesai, ia tak akan berubah menjadi orang lain.

-O-

Dua bangku panjang di dekat tangga pada saat jam istirahat akan selalu penuh oleh Myungsoo dan gang-nya. Tidak ada yang berani mengusir mereka, bukan karena sekumpulan siswa itu akan memukul siapapun yang mengganggunya, EST –begitulah Myungsoo menyebut gang yang ia pimpin­– tidak akan pernah main tangan jika bukan dalam keadaan yang terdesak, setidaknya begitulah janji yang mereka buat.

Myungsoo memiliki suara khas yang keras dan berat, apalagi jika ia sudah marah, siapapun yang mendengar pasti akan merinding dibuatnya. Itulah yang paling dihindari semua orang yang mengenal Myungsoo.

Lewat di depan mereka jika sedang berkumpul saja rasanya sudah sungkan, apalagi bagi para gadis, Jimin yang terkenal dengan julukan cassanova itu pasti akan langsung menggodanya. Jangankan siswa, Miss Kwon, guru olahraga cantik yang berperawakan layaknya barbie saja sudah berkali-kali terkena godaan dari Jimin dan kawan-kawannya.

“Ya! Kim Myungsoo, kau mendekati Minah?” Tanya Jonghyun mengagetkan.

Myungsoo merebut ponselnya yang berada ditangan Jonghyun, “Memangnya salah?”

Jonghyun masih meandang Myungsoo heran, “Bukankah Bang Minah sedang dekat dengan Kyungsoo sunbae?”

“Sedang dekat bukan berarti pacaran, kan?” Ucap Jimin menyahut, “Hei, tapi apa kau tak takut akan berurusan dengan Kyungsoo sunbae, secara dia itu-”

“Apa yang perlu ditakuti dari si pemain keyboard itu?” Potong Myungsoo cepat, “Secara perawakan, aku lebih gagah darinya.”

“Oh baiklah Tuan Kim si pemain drum terhebat..”

“Lalu bagaimana dengan Bomi? Kau menyukainya bukan?” Tanya Woohyun tiba-tiba.

“Kau bercanda?” Tawa Myungsoo datar, “Apa yang harus aku sukai dari bocah super cerewet itu–”

“–aku hanya senang menggodanya, melihat wajah marahnya itu suatu kesenangan tersendiri untukku.”

Sekelompok orang itu hanya mencibir heran pada Myungsoo, “Dasar kau.”

“Ah iya, kau sudah memberikan data pendaftaranmu itu pada Jiyeon?” Tanya Sungyeol.

“Jiyeon siapa–” Tanya Myungsoo balik, “–Ah Jiyeon, sepertinya sudah.”

“Sepertinya?”

“Setiap orang yang kumintai tolong selalu kabur dengan urusannya masing-masing.” Balas Myungsoo sambil melirik Jimin yang hanya tersenyum meringis dengan polosnya, “Jadi aku serahkan saja pada orang lain, dan memintanya untuk memberikan kertas itu pada Jiyeon.”

“Kau tititpkan pada siapa?” Sahut Kevin bertanya.

Myungsoo terlihat berpikir, “Entahlah, aku tak bertanya siapa namanya, lagipula itu tak penting–”

“–yang pasti gadis itu cerewet.”

“Aku sudah tahu jika akan jadi seperti ini jika kau menitipkannya pada orang lain.” Ucap Donghyun, “Ya! Park Jimin seharusnya kau yang memberikan kertas itu pada Jiyeon–“

“–dan lagi-lagi kau membuat masalah baru bahkan dengan orang yang tidak kau kenal.”

Myungsoo hanya sibuk mengangguk-agguk sambil mengedarkan pandangannya kearah sekitar, bertingkah layaknya ia tak mendengar ucapan panjang Donghyun yang ditujukan untuknya.

“Kau menitipkannya pada teman satu kelasku?” Tanya Jimin kemudian.

Mata Myungsoo kembali menelusuri ruang kosong yang berada di depannya, mencari seseorang yang telah ia titipi kertas miliknya.

“Ah itu dia, baru saja berjalan melewati kita.” Tunjuk Myungsoo pada lima orang gadis yang sedang berjalan bersama.

“Bukankah itu Jiyeon dan teman-temannya?” Ucap Hyunseung memastikan, “Kau menitipkannya pada siapa?”

“Itu gadis berambut panjang yang berjalan disamping Bomi.”

Teman lainnya berusaha melihat gadis berambut panjang yang berjalan semakin menjauh. Jimin berusaha menebak, lima gadis itu tidak lain tidak bukan pasti Bomi, Jiyeon, Krystal, Hayoung, dan Yooyoung. Jika dia berambut panjang pasti bukan Yooyoung, dan bukan juga Bomi.

“Gadis berambut lurus yang tergerai panjang itu.”

“Dasar bodoh.” Donghyun menjitak kepala Myungsoo pelan.

Myungsoo yang tak terima lalu membalas, “Ya! Apa maksudmu men-”

“Itu Jiyeon, bodoh!”

Ucapannya terpotong. Kini Myungsoo hanya bisa diam dan masih berusaha menyerap apa yang dimaksud oleh ucapan Donghyun barusan.

“Gadis berambut panjang yang kau sebut cerewet itu Park Jiyeon, bodoh!”

-O-

Jam pulang sekolah adalah hal yang paling menyenangkan bagi seluruh murid, salah satunya adalah Sehun, jika saja jam pulang sekaloah kali ini tidak bertepatan dengan janjinya bersama Jiyeon.

Jujur saja, selama beberapa hari ini tak bernah bertemu Jiyeon, Sehun merindukannya, tapi entah ada apa rasanya Sehun tak ingin bertemu Jiyeon kali ini. Ia merasa ada sesuatu yang akan terjadi padanya dan Jiyeon, perasaannya sungguh tak enak. Sehun sudah berusaha untuk menghilangkannya, tetapi tetap saja rasa itu tak bisa pergi begitu saja.

Jeongmin sudah mengingatkannya berkali-kali agar tak mempedulikan itu, segera datang dan temui Jiyeon lalu selesaikanlah masalahnya secepat mungkin, itu yang Jeongmin katakan sebelum ia menarik Sehun bangkit dari kursinya.

Bukannya Sehun berprasangka buruk terhadap apa yang ia rasakan, hanya saja hubungannya dengan Jiyeon saat ini sedang tidak baik, dan jika prasangka itu benar, Sehun tahu jika kemungkinan terburuk itu bisa saja terjadi

Belum setengah jalan menuju tempat yang Jiyeon janjikan padanya, sudah lemas rasanya kaki Sehun untuk berjalan lebih lanjut. Bukan karena ia sakit atau apapun, tapi karena gangguan sugestinya sendiri, yang berpikiran tentang hal negatif pada nantinya.

Sehun mendudukkan tubuhnya pada tangga pinggir lapangan sekedar untuk menenangkan dirinya, tarik nafas yang dalam dan kelauarkan sebanyak-banyaknya, lakukan berulang kali.

“Ya! Apa yang lakukan di tempat seperti ini–” Tanya seseorang tiba-tiba, “–latihan untuk persalinanmu nanti?”

Sehun terdiam tak menanggapi candaan yang dilontarkan, “Ah hyung, kau mengagetkanku..”

Lelaki itu mendudukkan tubuhnya tepat disamping Sehun, “Huh, jika seperti ini tak perlu lagi aku menanyakan bagaimana kabarmu, melihatmu sekarang ini sudah menunjukkan bagaimana keadaanmu yang sebenarnya.”

“Apa?” Sehun bertanya tak mengerti.

Minho hanya tertawa, “Wajahmu itu menunjukkan jika kau sedang tidak dalam keadaan yang baik-baik saja.” Jawab Minho tertawa, “Bahkan orang gila juga tahu..”

Sehun mengerti dengan apa yang dimaksudkan oleh seniornya, ia juga mengetahu bahwa wajahnya saat itu mungkin sudah lebih buruk daripada ekspresi terjelek Jeongmin saat mendapat kejutan ulang tahunnya bulan lalu.

“Berceritalah jika kau mau, aku akan dengan senang hati mendengarnya.”

Sehun hanya bisa tertawa hambar menanggapi ucapan Minho yang begitu tahu tentang dirinya. Ia merasa bahwa Minho benar- benar mengetahui bagaimana perasaannya saat itu, seperti Minho bisa membaca apa yang ia rasakan.

“Jika kau menolak juga tak masalah..”

“Ah tidak, bukannya begitu, hanya saja..” Sehun tersenyum paksa merasa tak enak pada Minho, “Hanya saja aku merasa tak pantas jika harus menceritakan hal ini padamu, kurasa ini cukup memalukan.”

Minho tersenyum kemudian, “Kurasa bercerita padaku bukanlah suatu hal yang memalukan, sekonyol apapun cerita itu nantinya.”

“Kau tahu, hyung, bagaimana hubunganku dengan Jiyeon akhir-akhir ini– sangat buruk. Aku tak pernah berhubungan dengannya, jangankah bertegur sapa jika bertemu, ia selalu berusaha menghindar dariku dan ketika aku menghubunginya, aku tak akan pernah berkesempatan untuk bicara lebih dari tiga puluh detik dan dia sudah menutupnya lebih dulu.”

“Berkali-kali aku berusaha meyakinkan diriku untuk menemuinya secara langsung, tapi rasanya hal itu tak pernah berhasil, dan ketika ia mengajakku untuk bertemu lebih dulu, aku enggan, aku merasa tak seharusnya aku bertemu dengannya saat ini. Aku merasa ada sesuatu yang beda dan aku tak menginginkan itu.”

Minho hanya mengangguk sambil menatap Sehun heran, “Kau ini aneh–“

“–Kau mengatakan jika selama ini sangat sulit untuk menemuinya karena ia selalu menghindar, dan ketika ia ingin bertemu kau justru bersikap seperti ini.”

Hyung..” Sehun berbalik menghadap Minho, “Kurasa ini sangat sulit untuk dijelaskan–“

“–Ini.. aku.. ya kau tahu bagaimana hubunganku dengannya saat ini, dan aku.. aku takut jika.. kemungkinan buruk itu ada, hyung!”

Minho hanya tertawa kecil setelah melihat seberapa sulit Sehun untuk mengungkapkan perasaannya. Sehun yang biasanya selalu terlihat tenang sudah tak tampak lagi, kini wajahnya penuh dengan kepanikan yang tak dapat dipastikan.

“Baiklah, aku mengerti, kau tak perlu menjelaskannya lebih lanjut lagi.” Ucap Minho masih tertawa, “Jika aku boleh memberimu saran, temui saja dia lebih dulu, belum tentu perasaanmu itu benar–“

“–Tapi jika semua itu benar, mau tak mau kau harus menerimanya. Kau tidak boleh egois dengan terus mempertahakannya bersamamu secara paksa, mungkin dia bukanlah seseorang yang tepat untukmu.”

Ucapan panjang Minho sedikit banyak telah menyadarkannya. Ia harus bisa menerima apapun hasilnya nanti, jangan takut untuk menghadapinya. Jika belum apa-apa ia sudah merasa takut dan ingin mundur, bagaimana ketika ia benar-benar menghadapinya nanti.

Tarik nafas dalam-dalam dan keluarkan secara perlahan. Aku berangkat sekarang!

Drrrttt…

From : Jiyeon chagiya~

Aku menunggumu.

Seketika kaki Sehun kembali bergetar, seluruh tubuhnya terasa lemas. Isi pesan dari Jiyeon yang dikirim padanyalah penyebabnya. Tapi belum sempat Sehun mendudukkan tubuhnya kembali, Minho sudah menahan dan mendorongnya terlebih dahulu.

“Temui atau semuanya akan berakhir dengan sia-sia! Aku tahu kau bisa..”

Sehun menarik nafas panjang lalu tersenyum pada Minho, “Terima kasih, hyung, aku merasa menemukan seseorang yang benar-benar mengerti diriku.”

Dengan sedikit paksaan dan dorongan dari Minho akhirnya Sehun kembali pada tujuan utamanya, menemui Jiyeon.

“Kau sudah menunggu lama?” Ucap Sehun saat pertama menampakan diri di depan pintu.

Jiyeon hanya tersenyum sambil menggeleng, “Tidak. Duduklah ada banyak hal yang ingin kubicarakan denganmu.”

Perasaan itu kembali muncul, dadanya berdetak tak karuan tapi Sehun berusaha menenangkannya tanpa Jiyeon mengetahuinya.

“Maafkan aku– maaf jika beberapa waktu terakhir ini aku selalu menghindar darimu tanpa alasan, maafkan aku jika aku terus menutup panggilan darimu tanpa pemberitahuan, maaf jika aku tak pernah membalas pesan darimu, bahkan aku tak pernah mempedulikanmu ketika kita berpapasan sekalipun. Maafkan aku.”

“Aku tahu aku memang salah, dan tak seharusnya aku melakukan hal semacam itu padamu. Aku merasa aneh, ada yang berubah dalam diriku dan aku tak tahu apa itu, yang pasti hal itu berhubungan denganmu, Oh Sehun.”

“Rasa yang dulu ada sudah terasa hampa dan kosong. Kau bagiku bukanlah kau yang dulu lagi, semuanya hilang begitu saja. Aku coba untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi padaku dan inilah caranya, maaf karena membuatmu merasa tak nyaman tapi kurasa inilah cara yang benar-benar tepat. Aku sudah tak mencintaimu lagi, Oh Sehun..”

“Maafkan aku karena telah menyakitimu sebegitu dalamnya, aku sadar dengan apa yang telah aku lakukan dan aku tahu aku-”

Ucapan Jiyeon terhenti seketika saat Sehun berdiri. Matanya masih gambang menatap Jiyeon dalam dengan wajah datar yang seketika membuat Jiyeon bungkam seribu bahasa.

Bibirnya terangkat perlahan. Sehun tersenyum ah lebih tepatnya menyeringai yang membuat Jiyeon merinding hanya dengan melihatnya, dan Jiyeon tahu jika Sehun memendam kecewa di balik senyum menyeringainya.

“Aku rasa semuanya sudah selesai. Aku pergi.”

Sehun berbalik meninggalkan Jiyeon yang masih duduk terdiam dan matanya yang masih mengikuti gerak punggung Sehun yang perlahan menjauh.

“Ah aku ingin mengucapkan terimakasih atas kenangan yang telah kau bagi denganku selama ini. Aku harap kau menemukan seseorang yang lebih baik dariku.”

Kata-kata terakhir yang Sehun ucapkan padanya begitu membuat hatinya mencelos. Sehun sudah benar-benar menjauh. Punggung yang beberapa detik lalu masih menghadap padanya kini telah hilang di ujung pemandangan.

Ia sudah benar-benar kehilangan Sehun karena ia sendiri yang melepasnya. Entah ia masih belum terbiasa dengan semua ini atau bagaimana, yang pasti hatinya terasa begitu kosong sekarang. Nama Sehun yang dulu melekat erat dihatinya kini telah pergi.

Tetesan air matanya mulai turun. Dadanya sesak dan tiba-tiba ia merasa jika ia belum siap menerima semua ini.

“Hapus air matamu, kau terlihat jelek saat menangis.”

Sunbae..?”

-To be Continued-

Note :

Uwaaaahhh yes! Akhirnya selesai juga ya ini dan bisa di post, ngak lama kan haha /tabok/

Maaf deh kalo molor lama ya, aku juga masih punya kesibukan sekolah yang nggak tau kenapa baru awal gini udah kerasa sibuk banget, ada aja yang diurusin. Hehe tapi tetep kok aku nggak ngelupain ini

Comment please yes! Sarannya juga boleh kok~

96 responses to “[CHAPTER – PART 4] 15:40:45 – Sorry

  1. Si sehun kasian bgt. Jadi pengen ntar di ending jiyeon balikan sama sehun :3 masa cowo sebaik sehun di buang gitu aja, kan sayang. Kalo ga balikan sama sehun, jadinya jiyeon keliatan egois, ga mau usaha mertahanin si sehun

    Btw aku ga ship jiyeon sama salah satu dari itu cowo bertiga xD

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s