[CHAPTER] Boys of Bigbang – Part 12

BOB BOB CAST

Part Sebelumnya :

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11

Dedicated for my yeodongsaeng Devina.

Based on Boys Over Flowers (Korean Drama 2009).

Poor Jiyeon! Dirinya harus merasakan nasib yang sama seperti Geum Jan Di. Ada Gu Jun Pyo dengan versi sedikit berbeda. Dan keempat member Big Bang yang setia mengekor di belakang sang Leader, Seungri.

Kim Taeyeon baru saja selesai melakukan pertunjukkan musiknya yang di gelar malam ini. Direktur Han dan Lee Seungri duduk tepat di barisan paling depan. Melihat kehadiran Seungri, Taeyeon tidak mampu menyembunyikan senyum lebarnya. Malam pun semakin larut, sementara Taeyeon kini sudah berganti baju dan sedang berjalan menuju loby utama untuk menemui Direktur Han dan Seungri.

“Taeyeon-ssi, aku harap kau mau menemani Seungri malam ini,” ucap Direktur Han penuh dengan senyum. “Aku lebih suka jika Seungri bersama denganmu daripada bersama dengan sahabat-sahabatnya yang kadang suka bertindak gila. Lagipula aku ingin pertunangan dan pernikahan kalian dipercepat, maka dari itu pendekatan diantara kalian sangat dibutuhkan.”

Dengan rona merah yang mendadak bersemu di wajahnya, Taeyeon berkata, “Ne, dengan senang hati aku akan menemaninya.”

Direktur Han pun pergi meninggalkan keduanya yang masih belum berniat meninggalkan loby.

“Jadi kita akan melakukan kencan pertama kita malam ini?” tanya Seungri.

“Aku senang kau menganggap pertemuan kita ini sebagai kencan,” jawab Taeyeon.

“Perlu kau tahu…” ucap Seungri. “Aku tidak suka menemani yeoja berbelanja atau pergi mempercantik diri. Aku tidak suka menunggu.”

Taeyeon pun tertawa pelan mendengar pengakuan jujur dari Seungri.

“Aku pun tidak suka melakukan hal tidak berguna seperti itu,” ucap Taeyeon membuat wajah Seungri yang awalnya terlihat sungkan kini berubah menjadi lebih bisa menerima kehadiran Taeyeon.

“Araseo,” ucap Seungri. “Keadaan ini cukup menguntungkanku.”

“Bagaimana kalau malam ini kita makan di tempatku biasa makan dengan ibuku?”tanya Taeyeon memberi usul. “Dan besok jika kau punya waktu, aku bisa menemanimu kemana saja. Kudengar dari ibumu, kau suka pergi ke pacuan kuda. Atau ke arena reli. Atau bermain ski…”

“Mengapa kau tahu begitu banyak tentang…”

“Hobimu?” sela Taeyeon sambil tersenyum manis. “Tentu saja. Aku harus mengenalmu sangat dalam sebelum kau mencoba untuk mengenalku.”

“Mwo?” Seungri agak tidak mengerti maksud ucapan Taeyeon.

“Ibumu bilang kau adalah namja yang susah sekali untuk di taklukkan hatinya,” jawab Taeyeon. “Kau tidak akan mau mengenalku jika aku tidak berusaha untuk mengenalmu lebih dulu.”

Sebelah alis Seungri spontan terangkat saat mendengar ucapan Taeyeon.

“Aku menyukaimu,” ucap Taeyeon tanpa ragu. “Dan aku menerima perjodohan kita.”

**

“Perjodohan…” gumamku seraya berayun-ayun pada ayunan di tengah taman malam ini. “Lee Seungri….Kim Taeyeon…” Percakapanku dengan tunangan Seungri itu tiba-tiba terlintas kembali di pikiranku.

“Kau tahu aku datang kesini karena rencana Direktur Han yang ingin menjodohkanku dengan Lee Seungri….” Taeyeon bersuara lagi. “Aku tidak pernah mengenal sosok Seungri sebelumnya. Aku pun tidak pernah tahu saat ini dia sedang berhubungan dengan siapa. Tetapi setelah aku tahu bahwa ada yeoja cantik seperti dirimu yang sedang bersama dengannya saat ini, aku merasa sedikit tertantang.”

“T-tertantang?” tanyaku tidak mengerti.

“Geurae,” jawab Taeyeon. “Artinya aku harus berusaha keras untuk mendapat Seungri.”

Seperti ada sebuah tombak yang menusuk jantungku saat mendengar ucapannya.

“Aku tahu, saat ini Seungri sedang tidak mengingat dirimu,” sambung Taeyeon. “Dan jujur aku merasa kasihan padamu.”

“Bukankah seharusnya kau senang?” tanyaku seraya berusaha mengontrol perasaanku.

“Aku bukan yeoja licik yang hobi mencuri start,” ucap Taeyeon jujur. “Kuakui aku menyukai Seungri saat pertama kali aku melihatnya kemarin. Dan dia pun sepertinya menerimaku dengan baik. Tetapi aku sadar bahwa ada kau yang seharusnya Seungri ingat saat ini. Aku pun tahu bahwa Seungri sebenarnya sangat mencintaimu. Hanya saja, karena dia tidak sedang mengingatmu…peluang buatku terlihat lebih besar.”

“Lalu apa maksudmu berbicara seperti ini? Kemana arah pembicaraan kita?” tanyaku tidak mengerti.

“Aku ingin bersaing secara sehat denganmu,” ucap Taeyeon berterus terang seraya menjulurkan tangannya ke arahku. “Jika pada akhirnya Seungri memang harus mengingatmu kembali, aku akan mengalah dan membiarkan perjodohanku dengannya batal. Tetapi selama keadaannya terus seperti ini, aku harap kau mau menerima keberadaanku di sisi Seungri. Aku ingin kita bersaing secara sehat, Jiyeon-ah. Karena aku tidak ingin memiliki musuh selama berada disini.”

“Haruskah aku mati sekarang?” desahku seraya menutup kedua mataku dengan telapak tangan. Tiba-tiba dari sela-sela jariku mengalir air yang berasal dari mataku. “Pabbo…” desahku seraya mengusap wajahku yang sudah basah. “Aku tidak pernah mau mati ketika namja itu menyiksaku. Kenapa sekarang….kenapa sekarang aku begitu lemah? Hanya karena dia tidak mengingatku lagi. Hanya karena…hanya karena kini aku telah mencintainya…”

Malam begitu dingin dan menyiksa, aku sendiri disini. Tanpa adanya seorang namja yang biasa menggangguku…mengejarku…

Di malam yang sama, di tempat yang berbeda…

“Kau bisa datang bersamaku ke pertunjukkan biola Jun Sung Ahn jika kau mau,” ucap Taeyeon setelah memasukkan potongan steak ke dalam mulutnya.

“Aku tidak tertarik datang ke tempat seperti itu,” jawab Seungri.

“Tetapi kau datang ke pertunjukkanku malam ini,” ucap Taeyeon mengingatkan.

“Ibuku memaksaku untuk datang,” jawab Seungri tanpa memikirkan akibat dari ucapannya yang kini membuat ekspresi Taeyeon berubah.

“Oh begitu,” ucap Taeyeon memelan. “Kupikir kedatanganmu malam ini karena kau memang ingin melihatku…”

“Kau harus tahu bagaimana sifat ibuku yang sebenarnya,” ucap Seungri. “Dia tipe pemaksa. Dan aku selalu menjadi korban pemaksaannya dari kecil.”

Taeyeon berusaha tertawa mendengar pernyataan Seungri.

“Direktur Han tipe ibu yang tegas,” ucap Taeyeon berusaha menilai.

“Dan sayangnya aku tidak suka dengan tipe seperti itu,” ucap Seungri setelah meneguk red wine miliknya sendiri.

“Kudengar kau setuju dengan perjodohan kita…” Taeyeon mencoba mencari topik pembicaraan yang bersangkutan dengan perjodohan mereka. “Apa kau melakukannya atas dasar paksaan?”

“Aku harus benar-benar menikah sebelum perusahaan ayah aku ambil alih,” jawab Seungri. “Dan aku tidak begitu memikirkan siapa dan darimana asal yeoja yang hendak dijodohkan denganku.”

“Apa sebelumnya tidak pernah ada yeoja yang sedang bersama denganmu?” tanya Taeyeon mencoba memancing ingatan Seungri apa dia sudah mengingat sosok Park Jiyeon.

Seungri pun menggeleng, membuat Taeyeon menghela nafas sangat pelan.

“Park Jiyeon,” Tiba-tiba Taeyeon dengan nekadnya menyebut nama itu. “Banyak yang bilang bahwa yeoja itu pernah memiliki hubungan spesial denganmu.”

“Dia yeoja gila,” jawab Seungri dengan ekspresi aku-tidak-tertarik-membahasnya.

“Dia cukup cantik, kurasa…” ucap Taeyeon seraya memainkan gelas wine-nya,.

“Tetapi dia miskin,” sahut Seungri. “Dan aku benci yeoja miskin. Mereka hanya bisa memanfaatkan hartaku pada akhirnya. Jika aku memiliki pasangan yang berstrata sama denganku, paling tidak mereka cukup tahu diri sebelum berpikir bisa mengeruk harta keluargaku.”

“Kau tahu…aku tidak sekaya keluargamu,” ucap Taeyeon mengungkapkan kebenaran tentang dirinya.

“Tetapi kau tidak semiskin yeoja lain di luar sana,” ucap Seungri. “Aku bisa menilai dalam sekali lihat, kau tipe yeoja yang cukup mandiri. Kau punya pekerjaan di usiamu yang semuda ini. Kau cukup menyenangkan bagiku.”

Kepala Taeyeon seperti menggelembung dan nyaris terangkat karena terlalu senang mendengar pujian Seungri untuknya. Paling tidak, Seungri mau memberikan respon positif kepadanya, mengingat bahwa Direktur Han pernah berkata bahwa Seungri bukan tipe namja yang mudah diajak berteman.

**

Seminggu kemudian…

“Jiyeon-ah!” TOP berhasil menahan tangan Jiyeonku. “Kenapa kau tidak menjawab teleponku semalam?”

“Mianhae, aku hanya sedang tidak ingin diganggu belakangan ini,” jawabku dengan wajah suram.

“Semalam Seungri dan Taeyeon telah melakukan acara pertunangan mereka,” ucap TOP, membuat kepalaku berhasil terangkat.

“M-mwo?” Aku berusaha untuk tidak menunjukkan kesedihan setelah beberapa hari belakangan ini kuhabiskan waktu sepanjang malam untuk menangis.

“GD dan Taeyang punya rencana gila untuk menghancurkan acara pertunangan itu, tetapi kau tidak ada disana dan sulit sekali dihubungi,” ucap TOP. “Dan pernikahan mereka sudah terjadwal. Segalanya terjadi begitu cepat dan tergesa-gesa. Direktur Han ingin upacara pernikahannya segera dilaksanakan, bahkan sebelum sekolah ini meluluskan Seungri.”

Aku terdiam, tidak mampu berkomentar apa-apa atas keputusan yang sudah dibuat.

“Pernikahan mereka tertanggal dua minggu dari sekarang,” ucap TOP membuat hatiku semakin terasa berdenyut tidak keruan.

“K-kalau begitu biarkanlah acara itu berlangsung,” ucapku seraya membalikkan tubuh, hendak pergi.

“Kau rela menyerahkan Seungri kepada Taeyeon?” tanya TOP seraya menahanku untuk yang kedua kalinya. “Dia orang baru yang mencoba hadir kedalam kehidupan kalian berdua….dan kau rela menyerah begitu saja?”

“Taeyeon berhak mendapatkan Seungri. Dan dia tidak tahu apa-apa soal masalahku dengan Seungri dan Direktur Han,” jawabku nyaris menangis. “Anggap saja aku tidak pernah mengenal Seungri, bahkan Direktur Han. Semuanya akan terselesaikan begitu saja.”

“Bicara apa kau ini?” tanya TOP tidak mengerti. “Kau mencoba mundur?”

“Seungri tidak mengingat siapa aku ini!” ucapku tegas. “Dia sudah melupakanku. Dan aku yakin Direktur Han sangat menyukai keadaan ini. Aku tidak bisa berbuat apa-apa di saat semua orang berpihak pada kehadiran Taeyeon….”

“Aku tidak!” sela TOP. “GD, Taeyang dan Daesung pun lebih suka jika Seungri bersama denganmu.”

“Jebal….” isakku tak tertahan lagi. “Aku tidak ingin berharap lagi.”

“Berharap tidak pernah salah, Jiyeon-ah,” ucap TOP masih terus berusaha meyakinkanku.

“Tetapi harapan ini justru menyiksaku,” ucapku jujur. “Seharusnya dari awal aku sadar bahwa membalas cinta Seungri hanya akan berbuah kesakitan untuk diriku sendiri. Seharusnya yang aku lakukan dulu terus menjauhinya….”

“Percuma saja, Jiyeon-ah,” ucap TOP. “Ketertarikan Seungri padamu bukan main-main. Dia terus mengganggumu karena dia tahu pada akhirnya kau-lah satu-satunya orang yang pantas untuk memilikinya. Kau sederhana dan kesederhanaanmu itulah yang membuat Seungri ingin selalu berada dekat denganmu.”

“Tidak untuk sekarang ini!” selaku dengan nada agak tinggi. “Tolong berhenti mengatakan hal-hal seperti itu. Seungri mencintaiku, itu masa lalu. Seungri ingin memilikiku, itu pun masa lalu. Dan semuanya sudah tidak berarti lagi untuk sekarang ini. Aku hanya ingin pergi menjauh darinya sekarang. Aku mampu melakukannya, walaupun perlahan. Dan tolong, TOP….berhenti membuatku berharap kembali pada namja itu.”

**

“Dua minggu lagi pernikahanmu,” ucap GD seraya menggoyang-goyangkan gelas winenya di pub malam itu. Di sebelahnya, Taeyang dan Daesung sedang sibuk menatap Taeyeon, mencoba membandingkan siapa yang lebih cantik, dirinya atau Park Jiyeon. Disebelah Taeyeon, terdapat Seungri yang sedang memindahkan bidak kuda putihnya, berusaha menghindar dari benteng hitam milik GD. “Apa kau bahagia?”

“Kenapa kau bertanya seperti itu?” tanya Seungri.

“Aniyo,” ucap GD. “Aku hanya sedang bereksperimen dengan orang-orang yang ingin memulai kehidupan baru untuk hidupnya. Seperti contoh, pamanku yang melangsungkan pernikahan satu bulan yang lalu. Sebelum menikah, kehidupannya agak aneh. Dia suka sekali bergaul dengan setengah pria, kau pasti tahu maksudku. Aku jadi curiga, mungkinkah pamanku memutuskan untuk menjadi gay setelah ditinggal mati oleh istri pertamanya. Tetapi setelah dirinya bertemu dengan bibi Ahn Moon Sik, kini aku tahu bahwa cinta dapat merubah segalanya, salah satunya kehidupan pamanku yang suram. Mereka menikah dan pamanku bahagia. Kebahagiaan yang sesungguhnya dapat tercermin dari wajahnya, itu yang aku lihat dari wajah pamanku. Dan sekarang, aku tidak melihat apa-apa pada wajahmu. Mungkinkah kau tidak bahagia?”

Mendengar ucapan GD, mendadak ekspresi Taeyeon berubah kesal.

“Bicara apa kau ini, heh?” tanya Seungri. “Kau tidak bisa dengan seenaknya menilaiku apakah aku bahagia atau tidak.”

“Oh ayolah, kau sahabatku dari kecil. Suka duka yang kau rasakan, aku berhak tahu. Kau pun pernah mengatakannya padaku, seseorang yang berhak tahu tentang kehidupanmu, bahkan perasaanmu hanyalah sahabat-sahabat terbaikmu. Aku, Daesung, Taeyang dan TOP, kami sahabat terbaikmu. Bahkan ibumu saja tidak kau biarkan untuk tahu apa isi diarymu sewaktu kecil,” ucap GD dan Daesung pun mengangguk membenarkan.

“Perlu kau tahu, ibuku hanya butuh keturunan agar keluarga Lee bisa terus ada dan perusahaan ayahku tidak akan pernah jatuh ke tangan yang salah,” ucap Seungri. “Dan itu gunanya aku menikah. Jadi jika kau bertanya apakah aku bahagia atau tidak, aku tidak tahu harus menjawab apa. Taeyeon…dia yeoja yang cocok untukku.”

Taeyeon tersenyum getir, entah bagaimana dia harus bersikap. Ucapan Seungri tadi membuat hatinya terasa sakit, bayangkan saja, kehadirannya di dalam hidup keluarga Seungri hanya untuk sebuah keturunan? Lalu bagaimana dengan cinta? Bahkan Taeyeon ragu dengan ucapan yang pernah dia lontarkan pada Park Jiyeon, menyadari bahwa semakin hari dirinya semakin mencintai sosok Lee Seungri.

“Aku ingin bersaing secara sehat denganmu,” ucap Taeyeon berterus terang seraya menjulurkan tangannya ke arahku. “Jika pada akhirnya Seungri memang harus mengingatmu kembali, aku akan mengalah dan membiarkan perjodohanku dengannya batal. Tetapi selama keadaannya terus seperti ini, aku harap kau mau menerima keberadaanku di sisi Seungri. Aku ingin kita bersaing secara sehat, Jiyeon-ah. Karena aku tidak ingin memiliki musuh selama berada disini.”

“Aku mencintaimu, Lee Seungri,” ucap Taeyeon tiba-tiba, bahkan tidak lupa dia menambahkan kecupan hangat pada pipi Seungri. Semua yang ada disana terkejut melihatnya, bahkan Seungri tidak mampu mengerjapkan kedua matanya.

**

“Jadi kau akan kembali ke kampung halamanmu?” tanya Victoria seraya menatap tas besar yang hendak aku bawa pergi pagi ini. Ibuku sedang menatap miris ke arahku dengan berlinangan air mata.

“Kau tidak perlu kembali kesana,” ucap ibuku.

“Aku hanya ingin menenangkan diri, Eomma,” ucapku seraya memeluk ibuku yang rapuh ini. “Eonnie, aku harap kau mau menjaga ibuku yang cengeng ini.”

“Kau tidak perlu khawatir, Jiyeon-ah,” ucap Victoria. “Akan ada banyak kesulitan jika kau terus berada disini. TOP terus-terusan menanyaiku tentang keberadaanmu.”

“Mianhae, selama satu minggu ini aku terus menyusahkanmu dirumahmu,” ucapku tidak enak hati. “Aku hanya ingin menghindar sampai acara pernikahan mereka benar-benar berlangsung.”

“Kau tidak perlu melakukan itu,” ucap ibuku kembali memelukku. “Jika kau mencintai Seungri…”

“Aku tidak mencintainya lagi, Eomma,” selaku cepat. “Dan aku harus berangkat sekarang sebelum ketinggalan bus.”

“Kalau begitu hati-hati,” ucap Victoria seraya membantu memakaikan tas ranselku yang cukup berat.

“Kau bisa tinggal di rumah peninggalan nenekmu, Jiyeon-ah,” ucap ibuku yang sudah mengatakan hal itu setidaknya lima kali kemarin.

“Aku tahu, Eomma,” ucapku seraya menggenggam erat tangan ibuku. “Kalau begitu aku pergi dulu.”

Kepergianku ini bukan ide siapa-siapa. Aku yang memutuskannya. Aku tahu jalan seperti apa yang harus aku ambil untuk menghadapi keadaan yang menyiksa ini. Aku tidak bisa berada di satu daerah dengan Seungri ketika dia melakukan acara pernikahannya dengan yeoja lain. Aku juga tidak bisa membiarkan TOP menyeretku masuk ketika mereka sedang saling memasang cincin hanya untuk menggagalkannya. Aku tidak ingin menyiksa Seungri lagi. Aku tahu bagaimana rasa sakit di kepalanya ketika aku hendak mencoba mengingatkannya pasal kenangan kami dulu. Walaupun sebenarnya aku tidak yakin, apa Seungri pernah mencoba untuk berusaha mengingat kenangan tentang kami berdua. Aku ingin semuanya berjalan dengan baik tanpa adanya masalah. Seungri akan menikah dengan Taeyeon. Dan aku akan menyelesaikan sisa SMA-ku tanpa adanya romansa lagi.

**

Malam harinya…

“Aku dengar semuanya,” ucap TOP pada Victoria di toko kuenya. “Jiyeon kembali ke Jeju, ke kampung halamannya. Dan kau tidak bisa menyembunyikannya lagi.”

“Untuk apa kau terus memaksanya?” tanya Victora. “Jiyeon ingin melupakan namja itu. Dan kau…”

“Dan aku sedang berusaha mempersatukan mereka. Bukan hanya aku, sahabat-sahabat Seungri yang lain pun menginginkan hal itu,” sela TOP. “Seungri sahabat kami dan aku tidak ingin dia menyesal hanya karena pilihan yang dibuatnya salah. Dan semua itu terjadi karena otaknya tidak beres. Kita hanya tinggal membuatnya kembali mengingat siapa Park Jiyeon…”

“Tidak semudah yang kau pikirkan,” ucap Victoria. “Kau lupa dengan keberadaan ibu Seungri?”

“Ketika Seungri sudah mengingat Jiyeon, pernikahan itu tidak akan terjadi,” ucap TOP. “Dan persetan dengan Direktur Han. Dia juga manusia dan aku yakin kebaikan hati Jiyeon mampu meluluhkan Direktur Han.”

“Jangan bodoh, TOP,” ucap Victoria. “Bukan Jiyeon yang Direktur Han inginkan. Dan sampai kapanpun yeoja kaya itu tidak akan merubah pikirannya.”

“Aku tidak perduli,” ucap TOP. “Aku dan yang lainnya sudah merencanakan sesuatu untuk membuat Seungri dan Jiyeon kembali bersatu. Dan jika kau memang benar sahabat Jiyeon, seharusnya kau mendukung kami.”

**

 TOP dan yang lainnya berhasil membuat Seungri ikut serta dalam liburan dadakan yang akan di adakan di Jeju. Kehadiran Taeyeon sempat membuat TOP dan yang lainnya frustasi. Tetapi mereka yakin mereka bisa mempersatukan Seungri dan Jiyeon, walaupun pada akhirnya mereka harus menyingkirkan Taeyeon sejenak dari hadapan Seungri. Yang benar saja! Taeyeon selalu bersama dengan Seungri, menempel bagai perangko dengan amplopnya. Hal ini sempat membuat Daesung menggeram gemas. Dan malam itu, mereka tiba di depan sebuah rumah kayu tua dekat dengan pantai Jeju.

“Rumah siapa ini?” tanya Seungri memandang penuh jijik ke arah rumah di hadapannya saat ini.

“Masuk saja dan kau akan tahu,” ucap GD seraya mengetuk pintu setengah reyot itu.

Tidak lama kemudian pintu terbuka dan muncul sosok yang selama ini berusaha TOP cari.

Pada saat itu juga Seungri berbalik dan berjalan pergi. Taeyeon dan TOP pun menyusulnya.

“Micheosseo?” tanya Seungri seraya menatap benci ke arah TOP.

“Dengarkan aku dulu!” ucap TOP tegas. “Liburan ini memang sengaja kami rencanakan untuk membuatmu mengingat kembali pasal Jiyeon.”

“Aku tidak butuh mengingatnya karena memang aku tidak pernah mengenalnya!” ucap Seungri setengah berteriak. “Kurasa kau dan yang lainnya sudah gila, memaksaku untuk mengingat sosok yeoja miskin itu sementara diriku seminggu dari sekarang akan melaksanakan upacara pernikahan!”

“Seungri benar,” sela Taeyeon yang sama marahnya dengan TOP. “Apa kau tidak memikirkan bagaimana perasaanku?”

“Aku hanya mau memikirkan perasaan orang yang aku kenal,” jawab TOP. “Aku mengenal Jiyeon dan kau Seungri-ah, kau mengenal Jiyeon lebih baik dari kita semua!”

“Aku akan pulang dengan Taeyeon sekarang juga,” ucap Seungri seakan-akan tidak perduli dengan semua ucapan TOP. “Dan aku akan tetap melaksanakan pernikahanku dengan Taeyeon. Sementara itu, aku harap kau dan yang lainnya mampu menjaga jarak dariku. Aku tidak mau ada omong kosong lagi soal yeoja miskin itu. Aku akan menikah dan kalian semua tidak boleh merusaknya!” Seungri pun menarik tangan Taeyeon untuk pergi bersama dengannya.

“Biar aku yang bereskan hal ini!” ucap Daesung seraya berlari menghampiri Seungri, sebelum akhirnya meninju wajah sang sahabat hingga pingsan.

Taeyeon memekik di tempat.

“Mianhae, tunanganmu ini memang agak bebal,” ucap Daesung seraya menggotong Seungri ke dalam rumah Park Jiyeon.

**

“Untuk apa kalian semua melakukan hal yang tidak berguna seperti ini?” tanyaku setelah berhasil membawa TOP dan yang lainnya ke luar rumah sementara Taeyeon masih di dalam menjaga Seungri.

“Tidak berguna katamu?” tanya TOP. “Paling tidak kau bisa menghargai sedikit usaha kami untuk mempersatukanmu dengan Seungri.”

“Sudah kubilang berkali-kali padamu…”

“Kami tidak ingin mendengar penolakanmu lagi, Patbingsoo,” ucap Taeyang.

“Sudah lama sekali aku tidak mendengar nama itu,” desah GD seraya tersenyum.

“Patbingsoo, kau satu-satunya orang yang bisa membuat Seungri kembali mengingatmu,” ucap TOP seraya memegang kedua lenganku. “Berusaha tidak ada salahnya. Bahkan sampai pada hari pernikahan mereka, kami akan setia membantumu.”

**

Keesokan harinya…

Seungri terjaga semalaman dari nyamuk ketika aku meletakkan obat nyamuk di sudut ruangan kamar tidurku. Taeyeon tidur di sebelah Seungri, nyaris terlihat seperti memeluk pinggang Seungri. Rasa cemburu kembali menderaku. Mengingat ada begitu banyak pekerjaan yang harus aku kerjakan hari ini, akupun berbalik, enggan menatap kedua sosok di hadapanku ini lebih lama lagi. Hanya saja, sebuah suara menahan kakiku melangkah. Taeyeon terbangun.

“Jiyeon-ah, bisa kita bicara sebentar?” tanya Taeyeon seraya membawaku ke belakang rumah kecil milik nenekku ini. “Aku tidak menyangka tujuan mereka semua membawa Seungri kesini ada hubungannya denganmu. Mereka melakukan semua ini untukmu. Bahkan mereka tidak memperdulikan bahwa ada aku yang sedang bersama dengan Seungri.”

Aku terdiam, tidak menjawab apa-apa.

“Aku mencintai Seungri,” tambah Taeyeon terdengar sungguh-sungguh. “Sangat mencintainya.”

“Kau tidak perlu mengatakannya padaku,” ucapku mencoba bersuara. “Kau akan menikah dengannya. Rasa cintamu padanya tidak akan sia-sia.”

“Jangan naif, Jiyeon-ah,” ucap Taeyeon. “Aku tahu kau masih mengharapkan cintanya.”

“Kau tidak tahu apa-apa tentang diriku,” ucapku membalas dengan tegas.

“Lalu kenapa kau pergi kesini? Bukankah untuk menghindarinya?” tanya Taeyeon.

“Bukankah lebih baik jika aku pergi dari kehidupan calon suamimu itu?” tanyaku balik.

“Perlu kau tahu, aku tidak suka jika kau mau masih menyimpan rasa pada Seungri,” ucap Taeyeon terlihat berbeda. Ada ketamakan terpancar dari wajahnya. Berbeda sekali saat pertama kali kami bertatap muka.

“Bukankah kau pernah berkata bahwa kau sanggup bersaing sehat denganku?” tanyaku mencoba mengingatkannya. “Jika pada akhirnya Seungri harus mengingatku kembali, bukankah seharusnya kau bisa menerima keadaan itu?”

“Aniyo, Jiyeon-ah,” ucap Taeyeon. “Anggap saja aku tidak pernah mengatakan hal itu. Sekarang aku benar-benar ingin memilikinya. Kebersamaanku dengannya belakangan ini berbuah lain. Aku bahkan tidak rela jika Seungri menyebut namamu dalam bibirnya.”

Aku terdiam, terlalu shyok mendengar pengakuan menyakitkan dari yeoja berwajah baik seperti Taeyeon.

“TOP dan yang lainnya memang mendukungmu,” ucap Taeyeon menambahkan. “Tetapi perlu kauingat, aku memiliki dukungan dari Direktur Han. Apa kau mampu mengalahkan kekuatan Direktur Han?”

“Kau benar, aku memang tidak akan mampu mengalahkan kekuatan Direktur Han,” ucapku. “Aku hanya memiliki cinta untuk Seungri yang tidak pernah Direktur Han sadari. Cintaku jelas terkalahkan oleh kekuasaan Direktur Han. Perlu kau tahu, Taeyeon-ssi, cintaku bukan ambisius. Dan kuharap kau bisa membedakan, mana cinta dan mana ambisius untuk memiliki.”

Taeyeon terkejut mendengar ucapan terakhirku sebelum aku pergi meninggalkannya ke dalam rumah.

To Be Continue

Tunggu last partnya ya guys😀

32 responses to “[CHAPTER] Boys of Bigbang – Part 12

  1. Hmmm seungri makin menyebalkan klo masih lom inget jiyeon, taeyeon juga aishhhhh ambisius banget

    Suka sama usaha yg dilakukan top gd daesung
    Semoga seungri cepet sadar deh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s