[ CHAPTER – PART 14 ] RAINBOW AFTER THE RAIN

ra2r

 

Tittle : Rainbow After The Rain

Author : gazasinta

Main Cast : Park Jiyeon, Bae Suzy, Choi Minho, Kim Myungsoo

Genre : Family, Friendship, Romance

Rating : PG-17

Length : Chaptered

Poster created by @Chomichin art

Part 14

Pria gendut kemudian menjauhkan tubuhnya dari Jiyeon, ia benar-benar kesal karena kesenangannya diganggu orang lain yang kini menatapnya tajam.

“ Yyaaaa!!! dia adalah wanita yang aku sewa untuk semalam dengan uangku sendiri, mengapa kau begitu ikut campur eoh? “ ucap pria gendut geram dengan kehadiran pria yang kini ada dihadapannya.

Pria itu memicingkan matanya tidak percaya begitu saja apa yang pria gendut itu ucapkan, ia kemudian memiringkan wajahnya mencoba melihat reaksi wanita yang terbaring nampak ketakutan dengan selimut yang menutupi hampir seluruh tubuhnya yang bergetar.

“ Jeongmal ? apa seperti itu reaksi wanita yang akan disewa pria hidung belang sepertimu ? “ ucap pria itu seraya menunjuk wanita yang ada di ranjang dengan dagunya.

Merasa pria dihadapannya tidak bodoh untuk dibohongi, pria gendut itu menjadi salah tingkah, seketika matanya menangkap vas bunga yang tidak jauh dari tempatnya berdiri, dengan gerakan cepat ia pun mengambilnya dan melemparkan ke arah pria itu.

Pranggg….

Pria itu reflek menghindar, namun pecahan kaca dari vas bunga yang bertubrukan dengan dinding mengenai dahinya.

“ Aissshh saeki…” ucap pria itu geram mengusap dahinya dan mendapati darah mengalir dari sana.

Ia kemudian mendekat dan segera mencengkeram kaos tipis yang dipakai pria gendut, pria gendut nampak ketakutan dengan keringat yang sudah menetes membasahi hampir sekujur tubuhnya, wajah pria dihadapannya ini begitu menyeramkan dengan rahang yang mengeras dan syaraf wajah yang terlihat jelas menahan amarah.

“ Aku tidak takut jika harus masuk penjara karena telah membunuh pria busuk macam dirimu “ ucap pria itu mengancam, sontak pria gendut semakin gemetar, wajah pria dihadapannya tidak nampak main-main dengan ancamannya.

Tidak ingin mengambil resiko dengan menyerahkan keselamatannya “ Ba-baiklah….bawa wanita itu pergi, aku tidak akan mengganggunya lagi “ ucap pria gendut gagap.

Pria itu tersenyum sinis penuh kemenangan, tidak berapa lama beberapa petugas pengaman dan penghuni kamar hotel datang, otot wajah pria gendut yang semula nampak tegang kini sedikit mengendur, pria itu melepaskan cengkeramannya dari kerah si pria gendut dan mendorongnya kasar, sorot matanya masih tajam menatap ke arah pria gendut.

“ Tuan, kami mohon maaf anda harus ikut kami ke kantor untuk menjelaskan apa yang terjadi “ ucap petugas pengaman hotel.

“ Aku tidak melakukan apapun, ini hanya kesalahpahaman “ ucap pria gendut masih mencoba untuk mengelak.

“ Silahkan anda menjelaskannya nanti tuan “ petugas keamanan hotelpun menggiring pria gendut yang kini menutup wajah dengan kedua tangannya karena malu dirinya diperlakukan seperti seorang pria hidung belang yang tertangkap tangan.

“ Kamsahamnida tuan, anda telah menyelamatkan teman saya “ Jieun membungkukkan tubuhnya berkali-kali, ia merasa lega Jiyeon selamat dari cengkeraman si pria gendut mesum.

Pria itu hanya tersenyum datar membalas ucapan terimakasih Jieun, setelahnya Jieun menyusul temannya yang lain untuk memeriksa keadaan Jiyeon yang kini meringkuk di ranjang, tubuh Jiyeon masih terlihat gemetar.

Pria itu hendak melangkahkan kakinya untuk juga melihat keadaan wanita yang ditolongnya namun…

“ Kau tidak apa-apa ? “ tiba-tiba terdengar suara seorang wanita yang nampak begitu khawatir.

Pria itu mengalihkan pandangannya dan mengangguk singkat setelah menyadari siapa wanita yang menyapanya, Choi Sulli ia berada disana dan penasaran untuk mencari tahu apa yang telah terjadi ketika mendengar suara gaduh dari sebelah kamarnya.

Seketika Sulli nampak kaget ketika melihat dahi kekasihnya  terluka “ Ommo, dahimu berdarah, ini harus segera dibersihkan sebelum terjadi infeksi “ ucap Sulli khawatir.

Pria yang ternyata kekasih Choi Sulli menepis lembut tangan Sulli yang hendak menyentuh dahinya “ Gwencana, ini hanya luka kecil “ ucapnya datar.

“ Tapi tetap saja itu harus diobati….kajja kamarku disebelah, apa ada hal lain yang masih ingin kau lakukan disini ? tanya Sulli.

Si pria menggeleng dan setelahnya Sulli meraih lengan kekasihnya dan berjalan kekamarnya “ Kau pasti sangat lelah “ ucap Sulli.

Keduanya lalu meninggalkan kamar yang masih dipenuhi beberapa petugas hotel dan penghuni kamar lainnya yang masih ingin tahu lebih lanjut dengan apa yang terjadi, ketika si pria kembali menengokkan wajah ke arah kerumunan, ia sempat menatap sekilas wanita yang ditolong namun rambut panjang si wanita yang tergerai menghalangi si pria melihat wajahnya, ia pun  mengikuti langkah Sulli yang menuntunnya.

Tubuh Jiyeon masih bergetar karena ketakutan atas kejadian yang menimpanya, melihat itu Jieun benar-benar merasa bersalah.

“ Jiyeon-ah, apa kau baik-baik saja eoh ? maafkan aku, jika tadi aku tidak meninggalkanmu mungkin ini tidak akan terjadi “ ucap Jieun menyesal seraya memeluk tubuh Jiyeon begitu erat.

“ Jieun-ah, sebaiknya kau bawa pulang Jiyeon cepat, ia masih sangat syok, biar aku yang mengurus perijinannya dengan kepala hotel eoh “ ucap temannya yang lain.

“ Eoh… gomawo, terimakasih bantuannya “ ucap Jieun masih dengan wajah yang sangat bersalah.

Jieun menutupi tubuh Jiyeon dengan selimut tebal hotel, dengan dibantu satu temannya yang lain, mereka pun menuntun Jiyeon untuk segera bangkit dan mengantarnya pulang.

“ Ayo masuklah, kau pasti sangat lelah, apa kau ingin menyegarkan tubuhmu terlebih dahulu ? aku akan menyiapkannya “ ucap Sulli ketika keduanya baru memasuki kamar.

“ Gomawo, aku sudah mampir ke apartemenku” ucap kekasihnya.

“ Sudah ke apartemenmu ? sebenarnya kapan kau tiba di Seoul ? “ tanya Sulli sedikit kecewa, bagaimana tidak bahkan ia sudah berencana akan menjemput kekasihnya ini di bandara, ia kemudian menuju ruang dapur menyiapkan minuman untuk kekasihnya.

“ Semalam, mianhae…aku tidak memberitahumu “ ucap kekasihnya dengan kalimat yang tidak bertele-tele.

Sulli mendesah pelan, meski sudah 3 tahun bersama, kekasihnya masih saja nampak sungkan padanya “ Jika begitu kenapa kau tidak bilang kalau kita hanya berbeda jam penerbangan ? kita bisa pulang bersama, kau hanya sendiri ? Suzy dan orangtuamu kapan mereka kembali ? “ Sulli terus bertanya seraya tangannya sibuk mengaduk minuman untuk kekasihnya, dengan dua buah cangkir ditangannya ia  mendekat dan menyodorkan minuman itu.

” Ini minumlah  “ ucapnya.

Pria itu menerima pemberian Sulli “ Gomawo, mungkin minggu depan“ ucapnya meneguk minuman yang diberikan Sulli.

“ Kau tau aku disini tidak memiliki teman untuk menemaniku berbelanja di mall ataupun ke tempat lainnya, aku pikir Suzy pulang bersamamu….apalagi dengan kejadian tadi, kasian sekali wanita itu, untung tidak terjadi apa-apa dengannya, hidup di Seoul sendirian pasti sangat menyeramkan “ ucap Sulli terus saja berbicara seraya bergidik ngeri membayangkan kejadian yang baru saja terjadi.

Mendengar apa yang dikatakan Sulli, tiba-tiba ingatan pria itu kembali kepada 7 tahun lalu, sejak wanita yang masih sampai detik ini tidak bisa hilang dari pikirannya, Jiyeon…ia sama sekali tidak tahu bagaimana kabar dan dimana keberadaan wanita yang pernah ia anggap sebagai dongsaengnya itu sekarang, Jiyeon bahkan ia tidak memiliki siapapun di negerinya sendiri.

Sulli menghentikan pembicaraannya, ia melihat kekasihnya hanya terdiam dan sepertinya tidak tahu apa yang sedang Sulli katakan.

“ Ada apa ? apa ada yang kau pikirkan ? “ ucap Sulli menyadari sikap kekasihnya yang hanya terdiam.

Kekasihnya memang pria yang tidak banyak berbicara, terkesan cuek dan tidak romantis, namun begitu Sulli sangat mencintainya, ia beruntung bisa bertemu dengan kekasihnya ketika kuliah di Amerika, dan betapa gembiranya ia ternyata kedua orangtua mereka pernah menjalin kerjasama sewaktu di Seoul dan akhirnya sepakat untuk menjodohkannya.

“ Kim Myungsoo!!! “ Sulli menyentuh lembut bahu kekasihnya yang bernama Kim Myungsoo, pria itu ternyata masih belum tersadar dari lamunannya.

“ Eoh, mianhae…eum kau mengatakan apa ? “ tanya Myungsoo masih belum menyadari jika Sulli menatapnya aneh.

“ Jika terlalu lelah kau tidak perlu menemuiku malam ini, kita bisa menunda makan malamnya esok hari “ ucap Sulli mencoba memahami apa yang Myungsoo rasakan.

Myungsoo tersenyum tipis, meski begitu ia tidak ingin mengecewakan wanita yang selama 3 tahun ini bersamanya “ Aku sudah disini dan ingin makan malam denganmu “ ucap Myungsoo yakin.

Sulli tersenyum mendengar kalimat yang diucapkan Myungsoo “ Baiklah, hanya 10 menit mohon tunggu aku “ ucap Sulli menunjukkan kesepuluh jarinya dan setelahnya ia melangkah ke kamarnya.

Myungsoo berdiri dari duduknya, ia kemudian melangkah menatap pemandangan Seoul dari balik kaca jendela, Seoul sudah banyak berubah dari terakhir Myungsoo berada disini, namun entah mengapa perasaannya belum sedikitpun berhasil ia ubah meski telah ada wanita yang sangat mencintainya disampingnya.

“ Apa kita akan bertemu lagi ? “ ucap Myungsoo seraya meraih sebuah kalung dari dalam saku celana yang selalu ia bawa kemanapun ia pergi.

“Ini minumlah, hangatkan tubuhmu “ ucap Jieun menyodorkan minuman hangat untuk menenangkan Jiyeon.

Namun Jiyeon tetap tak bergeming, pandangannya masih kosong,  melihat wajah Jiyeon seperti itu  membuat Jieun teman sekamarnya benar-benar merasa bersalah, ia pun kembali memeluk Jiyeon.

“ Kau tidak marah padaku? aku mohon maafkan aku…..aku tidak akan pernah meninggalkanmu sendiri lagi eoh …mianhae “ ucap Jieun benar-benar menyesal hingga airmatanya menetes.

Sungguh ia pasti tidak akan memaafkan dirinya sendiri jika saja tadi Jiyeon terlambat ditolong, bagi Jieun….Jiyeon tidak hanya sekedar teman sekamar, sahabat selama  7 tahun dalam keadaan suka maupun duka, namun Jiyeon sudah ia anggap sebagai adiknya sendiri meski umur mereka tidak jauh berbeda, Jieun sangat berhutang budi pada Jiyeon, jika tidak ada Jiyeon mungkin Jieun tidak lagi berada didunia ini.

Jieun melepas pelukannya dan berinisiatif untuk meletakkan bibir gelas agar Jiyeon meminumnya, tidak berapa lama mulut Jiyeon sedikit terbuka “ Minumlah Jiyeon-ah, agar kau merasa lebih baik eoh “ ucap Jieun mengusap air matanya dan membiarkan Jiyeon meneguk minumannya perlahan.

Setelahnya Jiyeon sedikit menunjukkan reaksi, ia menatap Jieun yang masih menangis dihadapannya, namun mulutnya masih tertutup dan tidak mengatakan apapun.

“ Jiyeon-ah jeball, kembalilah seperti semula eoh, kau harus bangkit, jangan seperti ini “ ucap Jieun dengan suara terisak menahan tangisan berusaha untuk tetap memberi semangat kepada sahabatnya.

Jiyeon menatap Jieun dengan pandangan sendunya “ Pria itu…. “ ucap Jiyeon singkat.

Jieun dengan sabar menunggu Jiyeon mengatakan sesuatu, namun hanya dua kata itu setelahnya Jiyeon kembali hanya termenung.

“ Pria gila itu sudah meninggalkan hotel,  kita tidak akan bertemu dengannya lagi, jadi kau tidak perlu takut eoh “ ucap Jieun antusias  memegang kedua tangan Jiyeon.

“ Gomawo Jieun-ah “ ucap Jiyeon singkat namun air matanya kembali menetes.

“ Hu…hu..hu “ ucapan terimakasih Jiyeon dan bayangan pria mesum itu membuat Jieun semakin merasa bersalah, ia tidak mengerti bagaimana Jiyeon menjalani hidup selama ini dengan hatinya yang begitu baik dan sikapnya yang lembut.

“ Jiyeon-ah aku menyayangimu “ ucap Jieun tulus kembali memeluk tubuh Jiyeon yang hanya terdiam begitu erat.

“ Aku hanya memilikimu didunia ini Jieun-ah, tidak ada yang lain “ ucap Jiyeon membuka suara, mendengar itu membuat rasa bersalah Jieun semakin menjadi-jadi.

Kringgg……

Minho menoleh ke arah alarm di mejanya ketika benda pengingat itu bergetar.

“Fiuhhh….sudah waktunya kah? “ Minho melebarkan tangannya ke atas meregangkan otot-ototnya yang kaku akibat seharian ini begitu serius bekerja.

Minho kemudian membereskan laptop dan semua berkas-berkas ke dalam tas nya, jika ia tidak memasang alarm dimeja kerjanya tentu saja ia tidak akan sadar jika ia memiliki janji dengan sahabat lama sekaligus rivalnya.

Minho menjadi pria yang gila bekerja sejak keluarganya mempercayakan perusahaan furniture kepada Minho, ditangan Minho perusahaannya semakin maju pesat, jika dulu semua orang memandangnya sebelah mata dan hanya menganggap Minho adalah bayang-bayang appanya, kini Minho menjadi pemimpin yang disegani karena kepiawaiannya mengolah perusahaan hingga seperti sekarang ini.

Awalnya Minho tidak berniat sama sekali untuk ikut campur dengan bidang pekerjaan appanya, hanya karena ia tidak ingin terlalu larut untuk memikirkan seseorang, akhirnya Minho menerima tawaran appanya itu, tujuan utamanya tentu saja Minho berharap pikiran tentang wanita itu teralihkan, meskipun pada akhirnya Minho sama sekali tidak pernah bisa melupakannya.

Sepanjang perjalanan menuju tempat pertemuan dengan sahabatnya, senyum Minho terus mengembang, ia  membayangkan pertemuannya nanti, mereka sudah lama tidak bertemu,  tentu ini akan menjadi pertemuan yang sangat mengharukan 7 tahun tidak melihat wajah masing-masing, hanya mengandalkan teknologi untuk menjaga hubungan baik.

Ia meyakini sahabatnya itu tentu sama suksesnya dengan dirinya, Minho terus fokus menyetir, namun tiba-tiba ia tersenyum ketika telepon genggamnya berkedip menandakan ada panggilan masuk.

“ Yeobboseo……nde aku sedang menuju kesana, baiklah….aku tidak akan terlambat “ ucap Minho dan memutus sambungan telepon.

Minho mengedarkan pandangannya mencari sosok yang ingin ia temui, dan tersenyum ketika matanya menangkap sosok itu ada disana, namun dahinya sedikit berkerut mengetahui jika sahabatnya itu tidak sendiri, ia bersama dengan seorang wanita cantik yang duduk dihadapannya, dengan langkah cepat Minho menghampiri  sunbaenya ketika sekolah di senior high school dulu.

“ Lama tidak bertemu apa kabarmu ? “ ucap pria yang menjadi sunbaenya segera berdiri dengan pakaian resmi yang membuatnya nampak berbeda.

Minho hanya tersenyum sinis, namun tidak berapa lama…

Hug…

Minho memeluk tubuh sunbaenya dengan hentakan yang cukup keras “ Sudah lama tidak bertemu, tch….bahkan kau makin terlihat keren “ ucap Minho tersenyum sinis.

“ Benarkah? Kau juga, sial…. mengapa kau begitu berbeda ketika dulu masih mengenakan seragam eoh ? “ ucap pria tampan itu membalas pelukan Minho.

“ Kim Myungsoo….”

“ Choi Minho “

Ha….ha…ha

Keduanya tertawa begitu bahagia, sementara Sulli yang juga ada disana hanya bisa menatap mereka dengan pandangan heran, kekasihnya nampak berbeda ketika tadi mereka hanya berdua, dan apa ini mengapa Myungsoo tidak memberitahunya jika ia mengundang temannya untuk bertemu disini juga.

Menyadari ada yang menatapnya Minhopun melepas pelukan rindunya, matanya menatap Sulli kemudian berganti menatap Myungsoo seolah meminta Myungsoo untuk menjelaskan siapa wanita yang ada bersamanya.

Myungsoo menarik sudut bibirnya yang masih tersenyum “ Kenalkan ini Choi Sulli …..“ ucap Myungsoo yang tentu saja membuat Minho dan Sulli menunggu kalimat perkenalan selanjutnya untuk menjelaskan siapa Choi Sulli.

“ Dia yeojachinguku “ ucap Myungsoo melanjutkan kalimat menggantungnya, karena Minho dan Sulli keduanya masih hanya terdiam dengan pandangan yang terlihat menuntut penjelasan.

Sulli tersenyum dan membungkukkan tubuhnya “ Annyeong, aku Choi Sulli calon tunangan Kim Myungsoo, senang bertemu denganmu “ ucap Sulli ramah yang tentu saja kalimat yang Sulli pertegas membuat Minho kembali menatap Myungsoo tajam.

Myungsoo pun melayani tatapan Minho yang seolah tidak mengerti “ Hai aku Choi Minho sahabat lama Kim Myungsoo “ ucap Minho mengalihkan pandangannya ke Sulli.

Suasana makan malam yang Minho perkirakan akan berlangsung menarik, nyatanya justru sebaliknya mereka bertiga hanya fokus pada apa yang ada dihadapannya, sesekali mata Minho melirik ke arah Myungsoo, namun seolah tidak menyadari Myungsoo hanya terus memasukkan makanan kedalam mulutnya.

Sulli meletakkan sendok serta garpu miliknya, kemudian membersihkan bibirnya dengan tisu yang ada dimeja, tangannya beralih pada tas tangan yang ia bawa dan mengeluarkan sesuatu dari sana.

“ Aku menyiapkan ini untukmu, aku harap kau menyukainya “ ucap Sulli menyerahkan kotak kecil kepada Myungsoo.

Myungsoo menatap apa yang disodorkan Sulli, ia pun menerima dengan gerakan ragu “ Gomawo “ ucap Myungsoo dan hendak memasukkan pemberian Sulli kedalam kantong jasnya.

“ Bukalah, aku ingin kau memakainya sekarang “ ucap Sulli seraya tersenyum.

“ Tch Kim Myungsoo pabbo, jika ia ingin makan malam dengan yeojachingunya, mengapa masih mengajakku bertemu ? “ Minho menggerutu dalam hati, namun ia tetap memasukkan potongan daging kedalam mulutnya.

Myungsoo membuka kotak kecil pemberian Sulli, namun raut wajah yang terpancar dari wajah Myungsoo membuat Sulli lagi-lagi harus menahan kecewa, Myungsoo tidak terlihat senang menerima pemberiannya.

“ Wae ? kau tidak menyukainya ? “ tanya Sulli membuyarkan lamunan Myungsoo.

Tanpa menjawab pertanyaan Sulli, Myungsoo memakai pemberian Sulli di tangan kanannya.

“ Gomawo “ ucapnya singkat dan setelahnya suasana kembali hening.

“ Selamat malam “ ucap Myungsoo dan segera berbalik untuk meninggalkan Sulli setelah mengantarnya.

Sulli masih memandang kekasihnya, ia masih terlalu rindu dengan Myungsoo, meski kekasihnya  bukanlah pria yang romantis yang bisa membuat wanitanya terbang melayang karena perlakuan lembutnya, namun begitu Myungsoo adalah pria yang baik.

“ Myungsoo-ah…..” Sulli memanggil Myungsoo seolah berat untuk membiarkan Myungsoo melangkah pulang.

Mendengar namanya disebut Myungsoo menghentikan langkahnya “ Wae ? “ ucap Myungsoo kembali membalikkan tubuhnya menghadap Sulli.

Sulli bergerak cepat mendekat ke arah Myungsoo.

Cup

Ia mengecup pipi Myungsoo dan setelahnya ia hanya tersenyum “ Aku tidak berharap kau segera pulang, tapi nampaknya kau sangat lelah “ ucap Sulli menunduk.

Myungsoo memahami perasaan Sulli “ Kita baru berpisah selama 2 hari, apa begitu merindukanku ? “ tanya Myungsoo.

Sulli tersenyum ia meraih kedua tangan Myungsoo “ Istirahatlah, besok kau harus menemaniku keliling kota Seoul eoh? ” ucap Sulli lembut dan perlahan ia melepaskan genggaman tangannya bergegas meninggalkan Myungsoo.

Myungsoo masih berdiri menatap pintu kamar hotel Sulli yang baru saja tertutup, entah mengapa memasuki tahun ketiga hubungannya ia belum juga merasakan getaran pada dirinya jika Sulli melakukan skin ship, sangat sulit sekali untuk membalas sedikit saja apa yang telah Sulli berikan padanya, Myungsoo menghela nafasnya berat dan berlalu dari sana.

Bunyi Suara musik yang memekakkan telinga serta kedap-kedip lampu menjadi pemandangan yang aneh untuk Myungsoo, ia tidak pernah berkunjung sekalipun ketempat seperti ini, ditambah lagi dengan banyaknya wanita yang memakai pakaian minim dengan pandangan menjijikkan menatapnya, disalah satu kursi bar Minho tersenyum dan melambaikan tangannya ke arah Myungsoo.

Mereka memang berjanji bertemu kembali setelah Myungsoo mengantarkan Sulli pulang, mereka hanya ingin berdua saja melepas kerinduan.

“ Mengapa ke tempat seperti ini ? “ tanya Myungsoo heran menatap Minho dan mengambil kursi tepat disamping kiri Minho.

“ Wae ? kau tidak pernah ke diskotik sebelumnya ? “ balas Minho seraya meneguk habis minuman dalam gelasnya.

Myungsoo tidak menjawab, mata tajamnya kemudian mengitari setiap sudut diskotik “ Berikan aku orange juice “ ucap Myungsoo kepada seorang bartender.

“ Ha..ha..ha “ Minho tertawa mendengar minuman yang Myungsoo pesan.

“ Wae ? kau menertawakanku…tch kau banyak berubah Minho-ah “ ucap Myungsoo.

Minho terdiam mendengar kalimat Myungsoo yang menganggapnya banyak berubah, mata tajamnya menatap Myungsoo, namun pandangan Myungsoo masih serius berkeliling, Myungsoo masih tidak merasa nyaman berada dikeramaian diskotik.

“ Dia yang membuatku berubah….kepergiannya membuatku ingin selalu menghilangkan ingatanku tentangnya….tapi sampai detik ini ternyata aku tidak bisa…tch menyedihkan “ lirih Minho yang wajahnya sudah memerah karena efek minuman.

Ucapan Minho membuat Myungsoo menatapnya, namun lidah Myungsoo terasa kelu untuk merespon ucapan Minho.

“ Silahkan tuan, ini pesanan anda “ ucap bartender memecah kebisuan antara dua namja tampan dihadapannya.

“Minumlah, ceritakan padaku mengenai wanita itu …pabbo, jika kalian ingin berkencan mengapa harus mengajakku bersama,  tidak romantis sekali “ ucap Minho mencibir.

Yang disindir hanya tersenyum pahit, tidak ada kalimat yang keluar dari mulutnya.

“ Apa kau sudah benar-benar melupakan Jiyeon ? “ Minho kembali bertanya.

Mendengar Minho sudah mulai menyinggung Jiyeon, Myungsoo kembali meraskan sesak didadanya “ Apa kau sudah menemukannya ? “ Myungsoo balik bertanya.

“ Kami sudah sering  bersama….feelingmu begitu kuat, karena itu kau menyerah dengan tantanganku dan mencari wanita lain  ? kau benar-benar menerima tantanganku eoh ? “ ucap Minho menepuk bahu Myungsoo.

Myungsoo menatap Minho tidak percaya, kini tubuhnya benar-benar terasa lemas, namun tentu saja ia yakin Minho yang akan memenangkan taruhan yang tidak ia sepakati dengan lisan itu, mengingat Minho dan Jiyeon masih berada di negeri yang sama, namun tidak mau menunjukkan kekecewaannya Myungsoo mengalihkan pembicaraan mengenai Jiyeon.

“ Kami akan bertunangan bulan depan, ia putri dari sahabat appa di korea dulu, kami kuliah di universitas yang sama, ia wanita yang baik “ ucap Myungsoo menjelaskan dengan singkat mengenai Sulli.

Namun melihat pancaran yang berbeda dari Myungsoo “ Apa kau mencintainya ? “ tanya Minho.

Myungsoo menengok ke arah Minho “ Apa harus saling mencintai untuk memiliki ? “ balas Myungsoo meneguk habis minuman yang ada ditangannya.

Minho mengendikkan bahunya, keduanya kemudian terdiam kembali dengan pikiran masing-masing. Lama mereka hanya terdiam, kemudian Minho mengeluarkan kotak kecil dari saku jaketnya.

“ Ini untukmu “ ucap Minho seraya menyerahkan kado kecil yang hanya ditatap heran Myungsoo.

“ Kau benar-benar menyiapkan sesuatu untuk menyambutku? “ Myungsoo tersenyum mengejek.

“ Jika kau tau apa isinya, kau pasti berpendapat lain “ ucap Minho kembali meneguk habis sisa minumannya.

Myungsoo membuka kado kecil pemberian Minho, setelah melihat apa yang ada disana, ia menatap Minho dengan pandangan sinis “ Tch…Jeongmal “ ucap Myungsoo berubah kesal.

“ Aku tau kau tidak suka dengan benda itu, karena benda itu mengingatkanmu akan Jiyeon, perpisahan dengan Jiyeon berhubungan dengan waktu, kau benci ketika harus menunggunya kembali, benar kan apa yang kukatakan ? “ ucap Minho tersenyum penuh kemenangan

“ Jika kau tau, mengapa kau memberikan apa yang ku benci ? “ tanya Myungsoo dengan pandangan tajam namun tidak dipandang sebagai tatapan seorang musuh oleh Minho.

“Ha..ha..ha…tentu saja aku ingin membuatmu kesal, kau itu sainganku bukan ? eoh anhi, sekarang harusnya tidak lagi, karena kau sudah memiliki wanita disampingmu, keutchi “ ucap Minho membuat Myungsoo memandang sebal ke arahnya.

“ Mianhae, tapi aku lebih menyukai yang ini “ ucap Myungsoo seraya menunjukkan jam tangan yang diberikan Sulli.

“ Jika begitu kau buang saja pemberianku, atau kau bisa menjualnya jika tidak memiliki uang “ ejek Minho.

“ Aku akan menyimpannya, siapa tahu kau juga akan membenci benda ini suatu hari nanti “ balas Myungsoo.

Minho hanya tersenyum “ Bagaimana kabar adikmu ? apa ia juga akan kembali ? “ tiba-tiba Minho bertanya tentang Suzy.

“ Wanita yang patah hati, mungkin dia tidak berniat untuk menemui pria brengsek itu lagi “ ucap Myungsoo asal.

Minho membuang nafasnya kasar, betapa ia paham mencintai tanpa tahu perasaan orang yang dicintai, karena ia pun merasakannya sekarang “ Kurasa adikmu berbeda denganmu, setidaknya ia lebih berani dan jujur dibandingkan pria tengik disampingku “ cibir Minho.

Keduanya kembali terdiam dan sibuk dengan minuman yang ada ditangannya masing-masing, meski selera minum Minho lebih baik dari Myungsoo, namun Minho bukanlah peminum yang baik, wajahnya kini memerah hanya karena satu gelas minuman yang ia pesan, pembicaraan mereka beralih ke seputar pria, pekerjaan, dan banyak hal lainnya yang mereka rasa lebih menarik daripada sekedar wanita.

“ Kau bisa menyetir atau perlu kuantar? “ tanya Myungsoo tidak yakin dengan keadaan Minho.

“ Gwencana, aku baik-baik saja “ ucap Minho seraya membuka pintu mobilnya

“ Baiklah, sampai bertemu “ ucap Myungsoo melangkah meninggalkan Minho, namun ia berbalik ketika Minho kembali memanggilnya.

“ Myungsoo-ah…..aku berbohong, Jiyeon….aku sama sekali belum bertemu dengannya sejak 7 tahun lalu, tapi kau tetap kalah, karena kau sudah memiliki calon tunangan eoh “ Minho tidak tega membuat Myungsoo menjadi tidak semangat, namun ia mengingatkan bahwa status Myungsoo tidak lagi sama ketika dulu mereka bersepakat, meski hanya calon tunangan tentu ada hati yang harus dijaga oleh Myungsoo.

Myungsoo terdiam mendengar perkataan Minho, namun entah mengapa tiba-tiba ada perasaan lega yang tiba-tiba hadir dalam benaknya, meski ia tidak tahu apakah ketidakberhasilan Minho bertemu dengan Jiyeon adalah kabar baik atau kabar buruk untuknya.

Minho menangkap senyuman tipis yang terukir dibibir Myungsoo, ia pun kemudian masuk dalam mobilnya meninggalkan Myungsoo yang masih berdiri disana.

Myungsoo menatap mobil Minho yang semakin lama menghilang dari pandangannya, sedikit demi sedikit bibirnya tertarik membentuk senyuman yang membuat perasaannya berbeda.

Suasana dapur hotel pagi hari begitu sibuk, Jieun segera mengganti pakaiannya dengan seragam hotel, hari ini ia harus menggantikan Jiyeon untuk melayani kamar hotel yang seharusnya menjadi tanggung jawab Jiyeon.

Sebenarnya ia juga ragu meninggalkan Jiyeon sendiri, namun Jiyeon bersikukuh jika keadaannya sudah kembali seperti semula, bahkan Jiyeon menunjukkan jika ia sudah bisa tertawa tadi.

“ Jieun-ah, tamu no 135 itu memanggil Jiyeon, kau yang ditunjuk ibu kepala untuk menggantikan Jiyeon bukan ? “ ucap Minah.

“ Eoh nde, baiklah aku akan segera kesana, gomawo Minah-ah “ Jieun kemudian bergegas menggulung rambutnya dan memoles sedikit lipstick dibibir mungilnya.

“ Selamat bekerja semuanya!!! “ ucap Jieun penuh semangat dan meninggalkan dapur hotel.

Sulli masih sibuk memakai sepatu high heels sementara telepon genggamnya masih menempel di telinga kirinya, ia nampak semangat berbicara dengan orang diseberang sana, terlihat dari pancaran wajah dan senyum yang selalu terulas dari bibir merahnya.

“ Kau dimana ? apa sudah dekat ? baiklah aku sudah siap….aku menunggumu “ ucap Sulli dan setelahnya ia menutup sambungan telepon.

Ting tong

Sulli melangkah ke arah kamera di pintu apartemennya untuk melihat siapa yang datang “ Mengapa bukan dia ? “ tanya Sulli heran mendapati pelayan hotel yang hadir bukan yang biasanya, namun ia segera membuka pintu kamarnya.

“ Selamat pagi nona, saya Lee Jieun menggantikan Bae Jiyeon yang hari ini cuti, apa ada yang bisa saya bantu ? “  ucap Jieun memperkenalkan diri.

Sulli terdiam sejenak mengamati Jieun dari ujung kepala hingga ujung kakinya, kemudian ia pun tersenyum “ Kau masuklah “ Sulli mempersilahkan Jieun masuk.

“ Apa kau mengenal baik petugas yang bertanggung jawab atas kamar hotelku ? “ tanya Sulli ramah.

Jieun mengangguk “ Eoh, benar nona, Jiyeon itu sahabatku “ ucap Jieun.

Sulli mengangguk mempercayai ucapan Jieun “ Ini untuk temanmu…ia telah membantuku, sebenarnya aku ingin memberikan ini kemarin, tapi sepertinya ia terburu-buru “ ucap Sulli seraya memberikan amplop kepada Jieun.

Jieun menerima pemberian Sulli, wajahnya menyiratkan pertanyaan, namun cepat-cepat ia bersikap seperti biasa, bukankah itu tidak sopan jika terlalu ingin tahu tentang orang lain “ Kamsahamnida nona nanti akan saya sampaikan “ ucap Jieun membungkuk hormat.

“ Dia cuti kenapa ? “ tanya Sulli ingin tahu.

Jieun menggigit bibir bawahnya, apa ia harus menceritakan sebenarnya, tapi kan nona ini memang kemarin juga mencari tahu dan datang ke tempat kejadian, apa ia benar-benar tidak mengetahui apa yang terjadi dengan Jiyeon “ Eumm…temanku, sepertinya ia masih sedikit terguncang “ ucap Jieun polos.

“ Terguncang ? “ tanya Sulli mengerutkan keningnya, tidak mengerti apa yang dikatakan Jieun.

Jieun jadi merasa tidak enak karena terlalu terbuka, bahkan Sulli adalah tamu yang setiap pegawai hotel harus bersikap sopan “ Eum bagaimana yah mengatakannya ? “ ucap Jieun seraya mengusap tengkuknya yang tidak gatal.

Sulli memicingkan matanya melihat Jieun nampak kikuk, setelahnya mata dan mulutnya terbuka begitu kaget dengan pemikirannya sendiri “ Ommo, apakah berhubungan dengan kejadian kemarin dikamar sebelah, apa itu adalah temanmu ? “ tebak Sulli seraya sedikit berteriak.

“ Nde, iya itu adalah teman saya Bae Jiyeon no….”

Belum selesai Jieun berkata tiba-tiba bel pintu berbunyi “ Eoh sebentar, itu pasti kekasihku “ ucap Sulli memotong pembicaraan mereka dan segera melangkah kearah pintu hotel.

“ Myungsoo….cepat sekali ? masuklah ” Sulli memberikan jalan untuk Myungsoo masuk.

Myungsoo menatap Jieun yang kemudian tersenyum kepadanya, khawatir mengganggu keduanya “ Maaf nona, jika tidak ada lagi yang anda butuhkan, saya akan kembali….silahkan anda memanggil saya kapanpun jika anda butuh “ ucap Jieun sopan.

Sulli pun tersenyum “ Baiklah, eoh sampaikan pada temanmu aku turut prihatin, semoga ia cepat kembali seperti semula“ ucap Sulli.

Myungsoo menatap keduanya, meski tidak tahu apa yang mereka bicarakan namun sepertinya Sulli mengenal yeoja pegawai yang ada dihadapannya ini.

Jieun hendak beranjak pergi namun ia kemudian teringat sesuatu “ Eoh tuan, sekali lagi terimakasih, jika tidak ada anda mungkin nasib teman saya akan berbeda “ ucap Jieun kembali membungkukkan tubuhnya.

“ Eoh “  ucap singkat Myungsoo masih belum menyadari apa yang sedang kedua orang dihadapannya ini bicarakan.

Jieunpun kemudian meninggalkan keduanya masih diiringi dengan pandangan Myungsoo yang seolah bertanya-tanya, melihat wajah bingung Myungsoo…

“ Myungsoo-ah, hari ini kau belum memulai untuk memegang perusahaan appamu kan ? aku ingin kita mengelilingi Seoul, bagaimana ? “ tanya Sulli dengan wajah memohon manja.

Myungsoo hanya mengangguk, Sullipun menyusupkan tangannya ke lengan Myungsoo dan pergi bersama.

Minho memandang kesal ke arah jam tangannya hari ini ia harus memimpin rapat perusahaan, namun mobilnya mengalami gangguan, dan kini ia harus rela membuat tangannya kotor untuk memperbaiki mobilnya, hampir 20 menit ia mencoba memperbaiki, namun mesin mobilnya tidak juga berhasil diperbaiki.

“ Yeobboseo, aku akan meninggalkan mobil ini dan alamatnya akan segera ku kirim “ ucap Minho menelepon bengkel mobil.

Ia tidak memiliki banyak waktu untuk menunggu, namun taksi tidak juga berhasil ia dapatkan, Minhopun bergegas ke halte bus dan menunggunya disana.

“ Tch hari ini mengapa begitu sial “ Minho terus saja menggerutu.

Tidak berapa lama bus yang ditunggupun datang, ia kemudian bergegas naik ketika pintu bus terbuka, setelah memasukkan koin ia mengedarkan pandangannya mencari bangku kosong, namun karena hari masih sangat pagi dengan kondisi semua orang akan pergi bekerja alhasil Minho pun harus rela berdesakan dengan penumpang lainnya.

“ Nde, Jieun-ah….aku ingin membeli beberapa keperluan rumah, tidak apa…aku baik-baik saja, segeralah kau pulang, aku membuatkan masakan yang enak untukmu, Jieun-ah aku harus segera turun…nde baiklah gomawo “ Jiyeon dengan terburu-buru menutup telepon genggamnya dan berdiri dari bangku bus.

“ Aku turun dihalte sana “ ucapnya memberitahu bapak supir.

“ Gomawo “ ucap Jiyeon dan turun dari sana.

Baru saja pintu bus tertutup dan bus berjalan lambat, namun mata Minho membulat, ia menangkap seseorang yang ia kenal yang baru saja turun dari bus yang sama yang kini ia kendarai, tapi bagaimana mungkin ia tidak melihat ketika itu, tanpa peduli jika ia sedang tergesa-gesa.

“ Tolong hentikan bus ini, aku ingin turun!!! “ ucapnya nampak panik.

“ Eoh tuan anda tidak bisa sembarangan menghentikan bus, anda bisa turun dihalte berikutnya “ ucap supir itu mencoba menjelaskan.

Minho menjadi kesal karena permintaannya diabaikan “ Ahjussii, hentikan bus ini …aku harus turun disini dan aku tidak akan memaafkanmu jika aku terlambat “ suara Minho meninggi dan bus pun berhenti mendadak.

“ Tch bagaimana orang itu, ia belum pernah naik kendaraan umum mungkin….. seenaknya saja “

Minho tidak peduli dengan protes yang di katakan penumpang lainnya, kaki panjangnya segera berlari dan matanya terus sibuk mencari sosok yang baru saja ia lihat yang membuat ia benar-benar terkejut, ia melihat yeoja yang selama ini hilang dari kehidupannya, yeoja yang membuat ia hampir gila karena terlalu merindukannya.

Minho terus melangkah, mata tajamnya terus sibuk berkeliling mencari sosok yang amat berarti  dalam kehidupannya , ia tidak ingin kembali kehilangan jejak yeoja pujaannya “ Jiyeon-ah….kau kah itu eoh ? “ Minho terus menyebut nama Jiyeon, ia sangat yakin ia tidak sedang berhalusinasi sekarang ini.

Minho mengambil telepon genggam dari sakunya dan berusaha menghubungi seseorang.

“ Myungsoo-ah, aku melihatnya…..aku melihatnya, dia….dia ada di Seoul, ia masih berada disini “ ucapnya lirih dengan nafas memburu.

Myungsoo terdiam mematung, kalimat yang Minho ucapkan terdengar seperti berita buruk ditelinganya, namun ia berharap bahwa Minho membohonginya seperti yang kemarin ia lakukan, meskipun berulang kali Minho berbohong, ia merasa itu tidak lebih menyakitkan daripada harus merelakan Minho bertemu dengan Jiyeon.

Sulli yang melihat ada perubahan di wajah Myungsoo pun nampak menghentikan aktivitas memilih gaun yang ia sukai “ Kau kenapa ? “ tanya Sulli heran karena wajah Myungsoo berubah memucat.

“ Myungsoo-ah, apa kau sakit ? jika begitu ayo kita pulang saja “ ucap Sulli khawatir, ia pun meletakkan gaun yang baru saja akan ia beli dan memegang bahu Myungsoo lembut.

“ Eoh, aku merasa badanku tiba-tiba tidak enak “ ucap Myungsoo.

Sulli benar-benar sangat khawatir “ Baiklah, biarkan aku yang membawa mobil “ ucap Sulli dan iapun menuntun Myungsoo keluar dari butik.

“ Apa kau melihat seorang wanita  berambut sebahu, ia memakai baju berwarna putih dan tadi ia melintasi jalan ini “ tanya Minho berharap mendapat jawaban.

Namun semua orang yang ada disana hanya menggelengkan kepala dan berkata bahwa banyak orang dengan ciri-ciri yang Minho sebutkan yang baru saja lewat.

Minho meremas rambutnya kesal “ Arrrgggkkk Bae Jiyeon sebenarnya kau dimanaaaaa ?? “ tanpa peduli dengan banyak orang yang melihatnya Minho berteriak begitu kencang.

“ Kasian sekali , apa mungkin pria setampan itu gila hanya karena seorang wanita ? “

Jiyeon mendengarkan dua orang wanita yang baru saja masuk ke dalam toko dan nampak heboh dengan apa yang sedang mereka bicarakan, tidak berapa lama ia kembali fokus dan mencari semua barang yang sudah ada dalam daftar belanjaannya.

Jiyeon mengigit kuku jarinya dan pandangannya tidak lepas kearah pintu, hari sudah larut malam namun Jieun belum juga pulang, padahal ia berjanji akan pulang lebih cepat, makanan di meja yang telah Jiyeon siapkan pun hampir semuanya sudah menjadi dingin, namun bukan itu yang ia khawatirkan, ia hanya takut terjadi sesuatu dengan sahabatnya itu.

“ Jieun-ah kau  kemana eoh ? “ ucap Jiyeon semakin khawatir.

Tidak berapa lama, suara derit pintu terdengar, dan seketika itu pula senyum Jiyeon mengembang. Sosok yeoja mungil muncul dari balik pintu dengan penyesalan di raut wajahnya.

“ Mianhae, tadi ada pekerjaan tambahan jadi aku harus pulang selarut ini, baterai telepon genggamku habis, jadi aku tidak bisa menghubungimu “ ucap Jieun dengan tatapan merasa bersalah karena pasti Jiyeon mengkhawatirkannya.

“ Syukurlah jika kau baik-baik saja“ Jiyeon merasa lega kini.

“ Kau pasti sangat lapar, aku sudah menyiapkan makanan kesukaanmu “ ucap Jiyeon lembut dan segera menarik lengan Jieun ke meja makan kecil tanpa kursi disana.

“ Woooahhhhh mashita….kau memang hebat Jiyeon-ah, semua ini kesukaanku, gomawo “ ucap Jieun begitu antusias.

“ Cucilah tanganmu dulu, jangan sampai kau sakit “ ucap Jiyeon lembut mengingatkan.

Jieun mempoutkan bibirnya lucu, sementara Jiyeon mendesah lega, ia senang Tuhan masih peduli dengan mengirimkan Jieun untuknya, sehingga hari-hari yang dijalanin tidak terasa sepi.

“ Ini dari nona Sulli, sebagai tanda terimakasih karena kau telah membantunya “ ucap Jieun menyerahkan hadiah yang diberikan Sulli untuknya.

Jiyeon hanya memandang amplop yang berada ditangan Jieun, melihat Jiyeon yang hanya terdiam Jieunpun menaruh amplop tersebut ditangan Jiyeon “ Ini terimalah “ ucap Jieun.

“ Ini apa? “ tanyanya heran.

Perlahan Jiyeon membuka amplop itu, dan sangat terkejut ketika mengetahui isi amplop tersebut “  Uang ? mengapa ia memberikan uang banyak sekali “ ucap Jiyeon tidak percaya

Jieun hanya mengendikkan bahunya tidak tahu “ Memangnya kenapa jika uang, itu kan ucapan terimakasih, jadi kenapa kau harus menolaknya “ucap Jieun polos.

“ Aku tidak bisa menerimanya, uang ini terlalu banyak “ ucap Jiyeon merasa ini terlalu berlebihan dan menutup kembali amplop tersebut.

Jieun hanya menggoyang-goyangkan kepalanya seolah sudah tau bagaimana reaksi Jiyeon “ Lalu apa yang akan kau lakukan ?  mengembalikannya “ tanya Jieun tidak percaya dengan sikap idealis Jiyeon.

“ Eoh tentu saja, aku tidak ingin berhutang budi pada orang lain, bahkan aku baru mengenalnya “ ucap Jiyeon.

Jieun tiba-tiba teringat sesuatu “ Eoh Jiyeon-ah, kau tidak perlu memberikannya pada nona itu, kau berikan saja pada kekasihnya, jika kau kembalikan aku yakin nona Sulli tidak akan menerimanya lagi “ ucap Jieun memberikan ide.

Jiyeon mengerutkan keningnya tidak mengerti apa maksud Jieun memberikan pada kekasih nona Sulli, menyadari kebingungan Jiyeon.

“ Kau tau, kemarin pria yang menyelamatkanmu dari pria bajingan tua itu adalah kekasih nona Sulli, namanya…..eumm…siapa yah ? tadi nona Sulli memanggilnya apa yah ? “ Jieun terus berpikir berusaha mengingat nama kekasih Sulli.

Jiyeon menunggu Jieun yang sedang berpikir “ Ahhh …..tidak penting nama, yang pasti nona sulli itu beruntung sekali, ia memiliki kekasih yang mempunyai hati manusia dan berwajah seperti malaikat, pria itu sangat tampan sekali……tapi… “ Jieun menggantungkan kalimatnya.

“ Tapi apa ? “ tanya Jiyeon yang seolah penasaran.

“ Tapi siapa yah namanya ? “ ucap Jieun yang membuat Jiyeon hanya mengegelengkan kepala.

Jieun akan berubah menjadi seorang yang tidak peduli orang lain, jika otaknya sedang ia pakai untuk mengingat sesuatu, memahami hal itu Jiyeon pun segera berdiri “ sudah malam aku mengantuk….aku akan memulai kerja besok, gomawo hari ini kau juga sudah membantuku”  ucap Jiyeon.

Seperti yang ia duga, Jieun benar-benar tidak menggubris pembicaraannya, yeoja imut itu masih terlihat mencoba menemukan nama kekasih dari tamu hotelnya, Jiyeon pun hanya geleng-geleng kepala dan berlalu dari hadapan Jieun.

“ Myung…doo, Myung…goo,….Myung…poo….ahhhhh mollaaa “ Jieun menggusak rambutnya gemas, ia masih penasaran Sulli menyebut kekasihnya tadi apa.

Minho masih tampak kesal dengan kejadian pagi tadi, ia sangat yakin wanita yang berada satu bus dengannya adalah wanita yang sudah sangat lama ia cari, Minho terus menggusak rambut tebalnya benar-benar penasaran “ Apakah kita tidak berjodoh ? mengapa sulit sekali bertemu denganmu ketika kau justru sangat dekat denganku “ ucapnya lirih.

Ia kemudian merebahkan tubuhnya diatas ranjang “ Aku yakin aku pasti menemukanmu, tidak peduli bagaimana lelah diriku……huhhh Minho-ah hwaiting!!!jika berusaha maka Tuhan akan bersamamu “ ucap Minho menyemangati diri sendiri.

Layar laptop Minho menyala, ada pesan masuk di skype nya, Minho beranjak mendekat “ Suzy ? “ ucap Minho mengerutkan dahinya, namun tidak lama wajah bingungnya berganti dengan senyuman dan jarinya cepat mengetik sebuah kalimat balasan.

“ Minggu depan ? “ ucapnya kaget dengan jawaban Suzy atas pertanyaannya, meski hubungan mereka masih baik-baik saja sebagai sahabat entah mengapa keduanya tidak ada yang memulai untuk saling menyapa atau sekedar menanyakan kabar dalam 7 tahun perpisahan mereka.

Jika Minho, alasan ia tidak mau menghubungi Suzy terlebih dahulu adalah ia tidak ingin membuka harapan bagi Suzy, ia takut jika pada akhirnya Suzy sulit untuk melupakannya, atau ia sendiri yang benar-benar tidak bisa lagi mencintai Suzy.

“ Hah, mianhae Suzy-ah…aku masih belum bisa melupakannya “ ucap Minho menjawab pertanyaan Suzy langsung, tanpa sadar Minho tertidur di depan laptop sementara layarnya terus berkedip.

Seoul memang sudah memasuki musim dingin, namun disepanjang jalan begitu ramai dengan orang-orang yang berlalu lalang dengan jaket tebalnya. Myungsoo menikmati pemandangan yang lama ia tinggalkan, toko-toko dengan lampu yang begitu terang, dan banyak pasangan yang keluar hanya untuk menikmati hangatnya secangkir kopi, Seoul benar-benar berubah dari terakhir ia tinggalkan.

Myungsoo menaikkan volume suara musiknya sedikit keras dan larut dalam lirik lagu yang ia putar, ia ingin berbeda malam ini, tidak lagi Myungsoo yang berada dalam suasana gamang, ia ingin mengeluarkan suaranya mengikuti irama musik yang kini ia dengarkan.

Mobilnya berhenti tepat di depan sebuah rumah kopi dipinggir jalan, desain unik serta suasana yang tidak terlalu ramai, ia rasa cukup untuk membuat perasaanya nyaman, ia melangkah dan memilih duduk menghadap jalan, Myungsoo memesan secangkir kopi,  ia ingin menikmati malamnya seorang diri, mengusir penat dikepalanya.

Sruupp

Myungsoo meneguk nikmat kopi ditangannya, pandangannya tertuju di jalan ramai yang bersalju, ia tersenyum miris ketika tiba-tiba wajah Jiyeon hadir “ Tch…gila mengapa semua wanita dimataku nampak seperti dia….Kim Myungsoo sadarlah, kau seharusnya sudah menyerah sejak kau memiliki seorang wanita “ ucapnya menyindir diri sendiri.

Myungsoo mengeratkan mantel tebalnya, meniup kedua telapak tangannya agar terasa lebih hangat, ia pun memandang langit malam yang sudah menurunkan saljunya “ Jiyeon-ah, meski kelak kau bukan takdirku namun bisakah kita kembali bertemu ? aku benar-benar merindukanmu “ ucapnya Myungsoo dalam doanya.

“ Selamat pagi….annyeongaseo!!! “

Jiyeon menyapa seluruh pegawai kebersihan hotel, mereka yang ada disana terkejut dengan kehadiran Jiyeon yang pagi ini sudah kembali seperti semula, seolah tidak pernah terjadi apa-apa terhadapnya, Jieun disamping Jieun pun tersenyum senang.

“ Jiyeon-ah, kau sudah masuk hari ini eoh ? apa kau sudah benar-benar sehat ? “ tanya Min-ah seorang yeoja kurus tinggi.

“ Tentu saja, ia kan bukan cuti sakit “ Jieun mengambil alih untuk menjawab seolah ia adalah juru bicara Jiyeon.

“ Kau ini, sepertinya senang memposisikan dirimu menjadi siapapun eoh, semua pertanyaan untuk orang lain, kau yang selalu menjawabnya “ ucap Min ah gemas mencubit pipi Jieun, yang hanya dibalas senyum bodoh oleh Jieun.

“ Eoh Jiyeon-ah, kau harus segera ke kamar nona Choi Sulli, sepertinya ia mencarimu sejak pagi tadi “ ucap Min-ah

“ Eoh gomawo Min ah-yya, aku segera kesana “ ucap Jiyeon segera bergegas mengganti seragamnya.

“ Eoh kau sudah sehat ? “ Sulli tersenyum ketika Jiyeon hadir dihadapannya dan sudah tampak tersenyum.

Jiyeon membungkuk hormat, dalam hati ia sangat kagum dengan kepribadian tamunya ini, selain cantik nona yang nampak sangat elegan ini juga sangat baik hati, ia membayangkan bagaimana bahagianya pria yang mendapatkan nona ini, dan betapa sulitnya mencegah banyaknya pria lain yang hendak merebut hatinya “ Eum….saya tidak apa-apa, terimakasih atas perhatian anda nona Choi ” ucap Jiyeon hormat.

Sulli pun mempersilahkan Jiyeon masuk, Jiyeon mengikuti langkah Sulli, tiba-tiba Jiyeon merasa tidak enak hati untuk membicarakan mengenai hadiah yang Sulli berikan “ Nona… saya kesini…. mau mengembalikan ini “ ucap Jiyeon seraya mengembalikan amplop coklat kepada Sulli.

Sulli hanya menatap sebuah amplop yang ia tahu adalah pemberiannya untuk Jiyeon, ia mengerutkan keningnya tidak mengerti mengapa Jiyeon mengembalikan pemberiannya “ Wae ? apa itu terlalu sedikit atau….? “ ucap Sulli menggantungkan kalimatnya.

“ Ahniya, nona saya rasa ini terlalu berlebihan, saya hanya pergi ke toko dan membeli satu buah jam, tapi hadiah ini sungguh berlebihan, aku tidak bisa menerimanya “ ucap Jiyeon khawatir jika Sulli akan tersinggung dengan penolakannya.

“ Jika begitu, aku memintamu untuk menolongku lagi agar semuanya menjadi impas, bagaimana ? “ tanpa menunggu Jiyeon menjawab, Sulli beranjak ke dalam dan kembali dengan membawa beberapa bungkusan lalu diserahkan kepada Jiyeon.

Jiyeon hanya menatap heran bungkusan yang kini sudah ada ditangannya “ eum….apa ini ? “ tanya Jiyeon.

“ Ini adalah hari pertama kekasihku bekerja, ia harus memulainya dengan sarapan yang sehat, tapi aku belum menyiapkan penampilanku, kau tidak perlu mengembalikkan uang yang ku berikan, aku meminta tolong padamu antar ini ke apartemennya “ ucap Sulli.

Jiyeon tampak berpikir, namun seperti mengetahui apa yang Jiyeon pikirkan, Sulli mengambil secarik kertas dan menuliskan alamat serta nomor telepon kekasihnya kepada Jiyeon, setelahnya ia memasukkan dengan cepat ke dalam kantong seragam Jiyeon.

“ Gomawo, katakan padanya aku masih belum siap untuk menemuinya pagi ini “ ucap Sulli dan kemudian iapun mendorong Jiyeon, Jiyeon hanya terdiam dan mengikuti apa yang Sulli perintahkan.

“ Ke apartemenmu ? memangnya kau bisa menyediakan sarapan apa untukku ? “ ucap Minho diseberang sana, ia begitu senang ketika Myungsoo memintanya datang dan menikmati sarapan pagi bersama.

“ Baiklah, aku sudah dalam perjalanan, aku akan putar balik untuk memenuhi undanganmu, jika itu tidak enak, kau harus menyiapkan sarapan sekelas restaurant selama satu minggu, bagaimana ? “ ucap Minho mengancam.

Minho yang awalnya ingin menuju kantor kemudian memutar arah mobilnya, ia tersenyum jika membayangkan bagaimana hubungan ia dan Myungsoo ketika masih sekolah dan memperebutkan Jiyeon, tidak menyangka jarak yang jauh justru membuat mereka menjadi lebih akrab, meski Minho masih yakin jika Myungsoo tetap menjadi rivalnya untuk mendapatkan wanita yang entah sekarang dimana keberadaannya.

Wajah Minho berubah kesal ketika lampu jalan sudah berwarna merah, mengharuskan ia menghentikan laju kendaraaannya “ Tch…sepagi ini sudah terjebak macet “ kesal Minho.

Jiyeon menatap gedung tinggi di hadapannya, lalu ia mencocokkan nama apartemen itu dengan yang Sulli catatkan dikertas yang kini ia pegang “ Eoh ini apartemen yang dimaksud “ Jiyeon merogoh saku roknya dan mengambil telepon genggam miliknya, ia kemudian menekan nomor untuk menghubungi kekasih nona Choi Sulli.

“ Yeobboseo, selamat pagi tuan… saya pelayan hotel tempat nona Choi Sulli menginap, ada titipan yang harus saya antar untuk tuan, jika boleh saya tau kemana saya harus mengantarnya ? “ ucap Jiyeon menjelaskan tujuannya.

“ Eoh…. Kau bisa naik ke lantai 10 no.103, berapa lama kau akan sampai disini ? aku harus segera pergi “ suara berat diseberang sana terdengar.

Leher Jiyeon tercekat, entah mengapa suara yang terdengar ditelinganya seperti tidak asing, ia seperti mengenal baik orang itu.

“ Apa kau masih ada disana nona ? berapa lama kau akan tiba ? “ ucap suara diseberang sana mengulang karena Jiyeon hanya terdiam.

“ Eum….ba-baiklah tuan, aku akan sampai disana kurang dari 10 menit…kamsahamnida “ ucap Jiyeon menutup sambungannya dan kini jantungnya berdetak lebih cepat.

“ Tidak mungkin, mereka sudah tidak lagi berada di sini “ ucap Jiyeon menampik pikirannya.

Namun tidak dipungkiri jika ia berharap apa yang ia pikirkan benar-benar terjadi, Jiyeon melangkahkan kakinya cepat menuju ke arah lift , tubuhnya baru saja masuk namun kemudian terdorong karena banyaknya penghuni apartemen yang juga menggunakan lift.

Myungsoo terdiam dengan telepon genggam yang masih menempel ditelinganya, suara seorang wanita yang baru saja berbicara dengannya mengingatkan Myungsoo akan sosok ceria Jiyeon.

Myungsoo menatap jam tangannya, benda yang ia benci namun kini tetap terpasang dipergelangan tangannya, entah mengapa hatinya tiba-tiba menjadi resah, mengingat suara yang baru saja menghubunginya, namun tentu saja ia tidak akan menebak itu benar-benar orang yang ia kenal, terlebih ia sering berhalusinasi mengenai wanita itu, jadi bukan tidak mungkin hal tadi pun adalah halusinasinya.

Minho memasuki area apartemen Myungsoo, ia memarkir mobil tidak jauh dari area pintu utama, dan bergegas memasuki apartemen tersebut.

Kakinya melangkah menuju lift, namun pintu lift terlihat bergerak dan akan segera tertutup “ Changkaman!!!! bisakah saya ikut ? “ Minho berlari namun terlambat pintu lift telah tertutup.

Baru saja Minho merelakan pintu lift nya yang tertutup dan meninggalkannya, tiba-tiba seolah menemukan sesuatu mata minho terbelalak dengan mulut yang sedikit terbuka, ia hanya mematung namun pikirannya jelas masih 100% dalam keadaan sadar, wanita didalam lift tadi, ya wanita yang membawa kantong plastik ditangannya, ia sangat mengenal wanita itu, dia…..wanita itu adalah Jiyeon…..yeoja yang ia cari selama ini, Minho sontak tersadar dan menekan paksa tombol lift yang lainnya.

Namun sial semua lift baru saja menuju ke lantai atas, Minho semakin gusar, jika wanita itu Jiyeon,  Minho harus mencegahnya untuk bertemu Myungsoo, meski ia tidak tahu untuk apa Jiyeon ke apartemen ini, Minho terus menerus menekan tombol, namun menyadari usahanya sia-sia ia kemudian memilih berlari menaiki tangga darurat.

“ Jiyeon-ah, ku mohon hentikan langkahmu, berhenti dan tunggu aku yang menemukanmu eoh “ ucap Minho dalam hati.

Sementara itu…

Myungsoo di dalam apartemennya terus menatap ke arah pintu, tanpa ia sadari jantungnya berdetak lebih cepat seiring waktu 10 menit yang si penelepon janjikan, ia merasa gelisah hingga ketika bel berbunyi Myungsoo pun tersentak.

Perlahan ia melangkahkan kakinya menuju pintu yang berbunyi, namun tampaknya kedua kakinya pun seolah berat untuk ia ajak melangkah. Myungsoo semakin dekat dan tangannya meraih knop pintu.

“ Aku berharap Tuhan tidak lagi mempermainkanku kali ini “ ucap mengambil udara untuk membantunya menenangkan diri.

Diluar…

“ Oppa, apakah itu dirimu ? apakah itu engkau ? “ tanpa Jiyeon sadari langkah kakinya setengah berlari kini, wajah lembutnya nampak tegang dengan tangan yang terlihat jelas gemetar, ia tidak tau karena apa, namun ia memiliki keyakinan ini ada hubungannya dengan suara yang baru saja ia dengar.

Kini ia telah tiba di kamar nomor 103, ia terdiam …keraguan tiba-tiba muncul dihatinya, namun entah mengapa tangannya justru meraih bel yang terletak di pintu tersebut.

Kriettttt….

Myungsoo membuka pintu apartemennya perlahan-lahan, seseorang kini berdiri disana, ia menyusuri sosok dihadapannya mulai dari sepatu heels hitam, kaki putih jenjang yang dibalut stocking sewarna kulit, beralih ke seragam yang sangat pas dan cocok untuk wanita ini, dan Myungsoo benar-benar lemas ketika tatapannya kini telah sampai pada wajah seorang wanita dihadapannya yang sudah terlebih dulu menutup mulutnya karena terlalu terkejut.

Air mata wanita itu sudah menghiasi pipinya yang lembut, wanita ini sangat cantik dengan rambut panjang yang digelung keatas, ia nampak begitu sempurna, Myungsoo tercekat…..dia sangat mengenal sosok yang kini ada dihadapannya, sosok yang sangat ia rindukan, namun juga tidak ingin ia temui dengan keadaannya yang sekarang ini.

“ Op-ppa…Myungsoo oppa…hiks..hiks “ wanita itu menangis dengan tubuh yang sudah bergetar.

Myungsoo terpaku, ia benar-benar syok dengan kejutan Tuhan di pagi hari ini untuknya.

Grebbbb

Jiyeon langsung menghambur memeluk Myungsoo, ia tidak menyangka dengan kenyataan yang ia lihat dihadapannya, oppanya yang sudah bertahun-tahun tidak ia lihat wajahnya, yang sudah sangat lelah untuk ia harapkan bertemu, kini Tuhan mendengarkan doanya, Tuhan masih sangat menyayanginya, ia masih diberi kesempatan untuk bertemu dan membayar janji-janji yang ia tinggalkan begitu saja yang mungkin membuat oppanya kecewa.

“ Oppa, bogoshipo…..aku sangat merindukkanmu, oppa katakan ini kau Myungsoo oppa ? “ Jiyeon semakin erat memeluk Myungsoo.

Myungsoo masih terdiam tidak tahu harus berbuat apa, rindu ? tentu saja ia juga sangat merindukan wanita yang kini memeluknya erat, Myungsoo hendak menggerakkan tangannya dan membalas pelukan Jiyeon, namun Minho muncul dihadapannya dengan nafas yang terengah-engah, tubuhnya basah dengan keringat namun jelas terlihat sorot kecewa dari matanya.

“ Myungsoo-ah…..aku berbohong, Jiyeon….aku sama sekali belum bertemu dengannya sejak 7 tahun lalu, tapi kau tetap kalah, karena kau sudah memiliki calon tunangan eoh “

Myungsoo mengurungkan niatnya untuk membalas pelukan Jiyeon, ketika kalimat Minho terngiang dalam pikirannya.

Minho mendekat, ia masih menatap Myungsoo tajam “ Jiyeon-ah!!! “

Minho meraih tubuh Jiyeon yang sedang memeluk Myungsoo untuk menghadap ke arahnya, wajah Jiyeon semakin terkejut dengan satu lagi namja yang ada dihadapannya, belum sempat Jiyeon berkata apapun.

Grebbb…

“ Kemana saja kau selama ini eoh ? apa kau tau aku hampir menjadi gila karena mu ? “ ucap Minho parau dan terdengar Nampak putus asa, ia sangat terharu bisa menemukan Jiyeon kembali.

Myungsoo hanya terdiam menatap keduanya, meski ia ingin marah karena Minho merebut Jiyeon dari tubuhnya namun ia sadar ia tidak berhak menghalangi Minho untuk memeluk Jiyeon. Myungsoo meletakkan telapak tangan di dada kirinya, ia masih tidak menyangka kini mereka semua bisa bertemu, meski keadaan Jiyeon jauh dari apa yang ia bayangkan, namun tidak Myungsoo pungkiri jika yeoja itu semakin cantik dan membuatnya begitu gugup.

Rasa bahagianya tiba-tiba berubah menjadi khawatir, kehadiran Jiyeon tentu saja bisa menggoyahkan perasaannya terhadap Sulli yang memang belum terlalu kuat, bagaimanapun kini mereka sudah bertemu dengan kondisi yang lebih dewasa, meski Myungsoo tidak mengetahui bagaimana perasaan Jiyeon terhadapnya.

“ Minho-ah, apa ini berarti aku yang menjadi jodohnya ? kau yang begitu keras mencari dan teramat dekat dengannya, mengapa kau tidak menemukannya terlebih dulu ?  Minho-ah….aku harus bagaimana eoh ? aku benci percaya dengan tantangan bodohmu “ Myungsoo mengepal kedua tangannya keras.

TBC

Mianhae keluar dari jadwal yang seminggu sekali dan hasilnya tidak sesuai harapan, author udah berusaha banget, ini pPart paling terburu-buru yang author bikin, entahlah maaf jika ada banyak typo atau kalimat yang tidak jelas🙂

Part selanjutnya mudah2an author bisa bagi waktu antara tugas kantor dan jadwal liga inggris yang segera dimulai, hehehe author ini football freak jadi kalo udah nonton bola ga bisa diganggu, tapi tenang author tetap akan berusaha menyelesaikan ff ini cepat yah, gomawo untuk para readers setiaku.

260 responses to “[ CHAPTER – PART 14 ] RAINBOW AFTER THE RAIN

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s