[CHAPTER – PART 2] Beautiful Liar

beautiful liar pt1

© Poster by @farvidkar

Tittle: Beautiful Liar – Part 1 | Author: farvidkar | Genre: Action, Crime, Romance | Cast: L Kim / Kim Myung Soo, Bae Suzy | Other cast: Kim Kai/ Kim Jong In, Byun Baek Hyun, Shim Chang Min, Zelo, Ahn Jae Hyun, Lee Seung Gi and etc | Rating: PG-17

A/N: Asli buatan sendiri dengan imajinasi yang datang sendirinya. Tidak ada maksud lain dengan karakter yang dibuat. Jika terdapat kesalahan dalam penulisan harap dimaklumi.

Previous [Part 1]

The last part

L Kim melepaskan jaket kulitnya memperlihatkan kemeja putih yang memiliki noda darah. Pria itu perlahan membuka kancing satu persatu kemudian melemparnya ke dalam keranjang yang berisi tumpukan baju kotor. Walaupun dia kaya raya, L Kim tidak mau menyewa pembantu untuk mengurusi urusan pribadinya. Dengan cekatan dia melakukan pekerjaan rumah sendiri. Itulah kelebihan putra sulung Hansol group, berbeda dengan anak kedua yang senonoh seperti hewan liar.

Pria bermata sipit itu mengeluarkan ponselnya kemudian mengetikkan sebuah nama pada layar search contact, tertulis ‘detektif Lee’ pada layar ponsel.

“Oh Kim Myungsoo, tumben kau menelfonku” suara seseorang diseberang membuka perakapan duluan, seperti terdengar akrab.

“Ne hyung aku butuh bantuanmu” jawab Myungsoo to the point.

“Apa yang kau butuhkan na dongsaeng?”

“Tolong selidiki seseorang”

….

Choi Home’s

Pecahan kaca berserakan di lantai kamar yang disertai darah segar mengalir dari telapak tangan seorang pria muda. Dilihat dari sudut manapun, kini pria itu tak dapat dikatakan baik-baik saja. Terdapat jelas diwajahnya yang bengkak akibat hantaman sesuatu benda. Dahi pria itu juga terdapat sobekan yang tidak terlalu besar, dapat dipastikan bahwa luka yang didapatnya belum terlalu lama. Zelo yang harusnya sedang berada di markas ‘MAKERSOUT’ malah terkurung di kamarnya karena ulah orangtuanya. Choi Jun Hong adalah anak dari kepala kejaksaan Seoul, Choi Man Suk yang sangat terkenal dan disegani. Selalu menuntut anak sematawayangnya itu untuk mengikuti kemauannya. Jun Hong yang tertekan oleh tuntutan orangtuanya bergabung dengan ‘MAKERSOUT’ yang diketuai oleh Shim Changmin. Yang dulunya terkenal pendiam dan mengurung diri, kini jiwa bebasnya kembali.

Tidak ada ponsel dan fasilitas lainnya. Bahkan pintu menuju balkon yang ada di kamarnya sudah terpasang besi yang tidak dapat memberi akses untuk seekor anak kucing. Jun Hong terduduk di atas pecahan kaca, tak ada perubahan raut wajah yang diperlihatkannya. Sakit kejiwaannya kembali kumat, tubuhnya bergetar seolah-olah tersengat listrik bervoltase tinggi. Tangannya bergerak bebas menarik-narik rambutnya. Tak ada seorangpun yang mengetahui penyakitnya selain ketiga orang yang dianggapnya sebagai keluarga.

….

At Gangnam Club

Lampu remang-remang sudah menjadi ciri khas tempat ini. Suara keras yang dapat membuat telinga seorang pendeta tuli, bartender berdada terbuka yang dengan mudah mendapat tip jutaan dollar dalam semalam, serta wanita-wanita penggoda yang bisa kapan saja melayanimu bertebaran di tempat laknat seperti ini. Jika kalian selalu datang ke club malam daerah Gangnam, pasti kalian akan mengenali ketiga wajah yang tak asing lagi. Setiap mendapatkan pemasukan di rekening, mereka selalu datang ke tempat ini. Kursi di sudut ruangan adalah tempat favourit MAKERSOUT. Bukan sekelompok orang yang biasanya berlenggak lenggok di atas panggung sambil bernyanyi, melainkan kelompok bayaran yang akan melakukan apapun demi uang. Banyak orang yang menyebut kami gangster, teroris, perampok atau apalah itu, yang jelas kami tak pernah melakukan kekerasan, melukai seseorang dengan sengaja, ataupun mencuri suatu barang untuk konsumsi pribadi. Tiba-tiba seorang wanita yang mengenakan mini dress mendekat ke arah mereka.

Wanna dance with me?” Tanya wanita jalang itu sembari mendekat dan duduk di atas pangkuan pria bermarga Shim.

“Dia sudah memiliki istri” jawab satu-satunya wanita yang tergabung di komplotan terkenal itu. Shim Changmin hanya mencoba menahan tawanya melihat wajah kesal Suzy.

She’s my wife” Changmin merangkul pundak Suzy mesra, membuat wanita pekerja seksual yang menggodanya itu langsung berdiri dan meninggalkan mereka. Baekhyun yang dari tadi hanya diam saja hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Entahlah apa yang terjadi dengan wanita-wanita disini. Apakah mereka semua mengalami gangguan penglihatan? Jelas-jelas aku lebih tampan dan lebih kaya darimu, tetapi mengapa mereka hanya datang menggodamu saja?” Byun Baekhyun terkenal sebagai ahlinya penggoda wanita, tetapi hal itu tak berlaku untuk Suzy. Dan kali ini untuk pertama kalinya dia datang ke club malam dan tak berhasil memikat seorang wanitapun, dia mundur satu peringkat di bawah sang leader.

“Mungkin kau akan tersisihkan ketempat ketiga setelah pria itu” ucap Suzy dengan mata yang terus menatap lurus kea rah seorang pria yang datang mendekat. Pria itu berwajah putih pucat, mengenakan jaket kulit cokelat yang dipadukan celana jeans hitam yang sangat kontras dengan warna kulitnya.

“Kau datang rupanya, Ahn Jae Hyun-ssi” sapa Changmin saat melihat Jaehyun datang dan bergabung duduk. Suzy serta Baekhyun membungkuk sopan kepada orang yang baru ditemuinya itu.

“Dia klien kita yang kuceritakan, Ahn Jae Hyun pewaris Hyundai group” jelas Changmin memperkenalkan Jaehyun kepada dua adik angkatnya itu.

“Byun Baekhyun imnida” Baekhyun memperkenalkan dirinya duluan, sambil mengulurkan tangannya.

“Suzy. Bae Suzy imnida” Suzy yang hanya mengenakan short pants dan kaus kebesaran mengundang perhatian Jaehyun. Pria yang lebih tua satu tahun dari Changmin itu menatap lama wajah Suzy lekat-lekat, karena merasakan kecanggungan yang terlihat di wajah gadis itu, Jaehyun kembali memfokuskan diri kepada dua orang pria yang sudah menunggu pria itu untuk duduk.

“Jadi apa kalian menemukannya?” Jaehyun mengawali pembicaraan dengan to the point.

“Ini, hanya document ini yang tersimpan di berangkas” kata Suzy yang menyodorkan beberapa document yang telah dibubuhkan cap biru.

“Kerja bagus. Setelah ini, aku masih memerlukan bantuan kalian. Mungkin ini masih langkah awal untuk melawan Hansol group

….

Jarum pendek menunjukkan pukul satu, udara dingin tak dapat menembus permukaan kulit Suzy. Gadis itu meminum banyak wine yang kini menjadi tameng utama untuk kehangatan tubuhnya. Tak ada kata mabuk di dalam kamusnya. Dia terkenal dengan julukan the best female dalam hal berburu anggur itu. Badan gadis itu sesekali limbung karena memapah Baekhyun yang sudah kehilangan sepertiga kesadarannya.

“noona, kenapa lama sekali” seorang anak yang dikenal Suzy mengagetkan gadis itu. Anak itu duduk manis memakan lollipop berbentuk bulat. Tubuhnya terlihat menggigil, dan benar saja saat Suzy meraba suhu tubuh anak kecil itu.

“kenapa menunggu di luar? Kan sudah kubilang untuk tetap berada di dalam mobil dan menyalakan pemanasnya” mereka berjalan menuju parkiran yang tak jauh dari tempatnya berdiri. Kali ini terpaksa Suzy harus menjadi sopir untuk dua manusia bergender male. Selama perjalanan pulang gadis itu menyenandungkan beberapa lagu western, sementara Baekhyun maupun anak itu sudah terlelap tidur.

….

At Bae Home’s

Rumah keluarga Bae kosong tak berpenghuni. Ayah angkat gadis itu adalah seorang nelayan yang menetap di Busan, sedangkan istrinya kini sedang dalam perjalanan menuju kampung halamannya. Waktu yang tepat untuk menampung kedua anak manusia yang sedang tertidur pulas di atas lantai hangat milik keluarga ini. Hanya beralaskan kain tebal, Baekhyun memasuki alam mimpinya semakin dalam. Sementara anak kecil yang mengikutinya itu tidur di kasur bersama Suzy.

“Kau adalah manusia berlebel namja pertama yang tidur bersamaku” gumam Suzy sembari mengelus puncak kepala anak kecil itu.

….

At Kyunghee University

Salah satu tempat menuntut ilmu terbesar di South Korea ini masih seperti biasanya, ramai dipenuhi oleh mahasiswa dari dalam negeri maupun luar negeri. Maklum saja, Kyunghee University membuka pintu lebar untuk pertukaran pelajar. Bebas pajak, biaya pendidikan murah, tempat yang strategis, dan sangat banyak kelebihan lainnya yang dirasakan oleh mahasiswa disini, begitu pula yang pernah dirasakan oleh pria berlesung pipit itu. Sedari tadi dia duduk di salah satu bangku perpustakaan sambil membaca beberapa buku hukum.

Omoo, Lee Seunggi-ssi?” suara seorang wanita paru baya berhasil mengalihkan pandangan yang bernama Lee Seunggi itu. Tak kalah kaget dengan wanita tua di depannya, Seunggi bangkit berdiri dan memeluk pelan wanita itu.

“Professor Han kau bertambah cantik saja!” sambut Seunggi melepas rindu pada seorang dosennya dulu. Pria itu masih tetap sama seperti dulu, selalu meninggalkan kesan yang baik pada semua orang.

“Apa kau bermaksud mengejekku secara tersirat, detektif Lee? Hahaha. Ngomong-ngomong ada perlu apa kau kemari?” wanita paru baya itu sangat mengenal Seunggi yang merupakan lulusan sarjana Kyunghee beberapa tahun lalu. Anak asuhnya ini memiliki IQ 170.

“Bolehkah aku minta tolong sesuatu?”

….

At Choi Home’s

Pengamanan ketat terlihat jelas dari kejauhan. Letak rumah yang menanjak, tidak memungkin akses yang mudah untuk memasukinya. Camera sisi tv terpasang disudut rumah megah ini. Dari jarak seratus meter, Suzy dan Baekhyun sedang mendebatkan sesuatu.

“Apa kau yakin? Wajahmu tidak terlihat seperti orang sakit jiwa” bisik Baekhyun dengan kedua tangan yang sibuk mengecek beberapa bawaannya.

“Tentu saja, kau meragukan aktingku?! Sudahlah, aku akan berjalan duluan. Semoga kau selamat dari cabikan Choiyoung” Suzy berjalan perlahan meninggalkan Baekhyun yang kini bersembunyi di balik sebuah pohon pinus. Gadis itu berjalan dengan kaki yang diseret-seret, rambut hitamnya acak-acakan seperti gelandangan. Diperkuat dengan pakaiannya yang robek-robek karena disengaja, dia berjalan mendekati pengawal yang berjaga di depan pagar tinggi kediaman jaksa Choi.

“Apa yang gelandangan lakukan di daerah elit ini” gumam seorang pria berbadan tegap tetapi masih dapat ditangkap oleh indra pendengaran Suzy.

“Aku bukan gelandangan pria babo” ucap Suzy dalam hati. Apakah dia lebih terlihat seperti gelandangan dibandingan penyamarannya sebagai wanita sakit gila?.

“Tetapi wajahnya lumayan, sayang sekali kalau ditakdirkan sebagai gelandangan” ucap pria satunya. Merasa dipuji, Suzy berusaha menahan senyumnya. Untunglah dia terlahir memiliki wajah yang tidak buruk, setidaknya walaupun ditakdirkan sebagai orang miskin dan tak memiliki skill lebih, dia masih memiliki harapan untuk terjun ke dunia entertainment hanya dengan mengandalkan wajahnya.

“Nona, apakah kau kelaparan?” Tanya salah satu pria itu sambil memegang lengan Suzy, sementara yang satunya mencoba menuntun gadis itu ke dalam area kediaman Choi. Gadis itu tidak bodoh, dia mengerti apa yang ada di dalam pikiran kedua pria brengsek yang mencoba membodohinya. Mereka menuju sebuah kamar kosong yang disediakan untuk pembantu ataupun sopir, Suzy mengedipkan sebelah matanya saat tak sengaja bertatapan dengan Baekhyun yang berhasil melenggang masuk melewati pintu samping yang sedikit terbuka.

Kedua pria itu menyudutkan Suzy ke ujung ruangan. Ruangan kosong dengan pencahayaan minim itu membuat adrenalin Suzy teruji. Debu di seisi ruangan membuat pernafasan Suzy sedikit terhambat. Hanya siluet kedua pria itulah yang terlihat, mereka perlahan membuka kemeja yang memperlihatkan sepasang tangan kekar. Suzy yang memang sudah sering menghadapi pria-pria hidung belang seperti ini dengan gampangnya mengikuti alur permainan. Dari pada membuang waktu untuk meladeni pria-pria bodoh di depannya ini, lebih baik gadis itu menyerang dari pada menunggu di serang, piker Suzy.

“Jadi, kalian ingin bermain-main denganku?” reaksi yang sudah diduga Suzy sebelumnya, kaget. Gadis itu bangkit dari posisinya yang berpura-pura meringkut. Dia mendekati sumber bayangan kedua pria itu kemudian dengan gerakan cepat menghajar wajah mereka satu persatu. Memberi hadiah tendangan yang tepat mengenai hati pria yang ada di sebelah kanannya. Dan tak lupa memberi hadiah special pada pria satunya, mematahkan lengan kanan pria itu.

“Barusan adalah hadiah untuk kalian, para pecundang”

….

At Hansol Group Building

Inilah pusat kendali kekayaan Hansol group, gedung tertinggi di Seoul ini terletak di distrik Nowon. Memiliki puluhan ribu pekerja yang menyebar di puluhan anak perusahaan. Perusahaan ini telah membantu pemerintah dalam hal pekerjaan umum, mereka telah membantu mengurangi jumlah pengangguran di South Korea. Di bawah kendali Presdir Kim, Hansol mengibarkan kejayaan dengan signifikan.

Di balik sebuah kursi putar, L Kim memainkan jarinya mengikuti irama lagu yang didengarnya melalui eraphone. Pewaris perusahaan yang satu ini masih bisa dianggap wajar jika dibandingkan dengan tingkah laku seperti itu. Berkepala duapuluh dengan status bujang, tentu saja bersantai diselah pekerjaan merupakan rutinitas hariannya. Tak sadar akan kedatangan seseorang, pria itu masih terhanyut akan lagunya.

“Ekhem. Direktur Kim?” suara seorang wanita yang diketahui sebagai sekertarisnya itu dapat menembus pendengaran L Kim. Lantas pria itu hanya memberi kode tanda ‘ada perlu apa’. Sekertaris Jung yang sudah melayani bosnya kurang lebih tujuh bulan, sudah sangat memahami pria yang terkenal misterius ini.

“Fax dari Byun Corportion sudah diterima” ucap wanita itu memberi tahu. L Kim yang sibuk memainkan jarinya di atas ponselnya hanya menaikan sebelah alisnya tanpa menatap wanita cantik yang berdiri kaku di depannya.

“Mereka meminta kenaikan kualitas bahan dasar, jika tidak mereka akan membatalkan kontrak kerjasama” jelas wanita itu dengan rinci. L Kim yang mendengar kata terakhir tadi hanya menarik sudut bibirnya. Kemudian dia tertawa, entahlah menertawakan apa.

“Batalkan saja” hanya dua kata yang diberikannya, dan sekertaris Jung mengangguk tanda mengerti.

….

Kim Kai berjalan lurus tanpa memperhatikan langkahnya, sudah kesekian kalinya dia menabrak seseorang tanpa mempedulian makian yang datang dan pergi tertiup angin. Sudah kesekian kalinya pula dia menelfon Suzy tetapi selalu saja dijawab oleh suara wanita asing yang terekam melalui operator.

“Shit! Apa dia sudah menemukan pria yang lebih tampan dariku? Harusnya dia memberiku kabar! Buang-buang waktuku saja pagi ini!” gerutu Kai melangkahkan kakinya memasuki ruangan kecil berbentuk segi empat yang terbuat dari besi alumunium. Benda itu mengantarnya ke lantai dua puluh tiga. Pakaiannya yang lain daripada yang lain membuat semua mata tertuju pada mahasiswa jurusan post music modern itu. Terlihat sebuah ruangan yang dikelilingi kaca sehingga semua orang yang berada di tempat itu bisa leluasa melemparkan pandangannya ke dalam. Kai berdiri diam di depan pintu, merapikan kaus putih berlengan panjang dan menaikan jelana jeansnya di atas pinggang. Diam-diam berusaha tak menimbulkan derap langkah, pria itu mengendap ngendap masuk ke ruangan yang dihuni oleh seorang pria bermata sipit. Sudah dapat ditebak siapa pria itu, L Kim. Posisi yang strategis bagi Kai untuk mengelabui pemilik ruangan ini. Dengan posisi L yang duduk di atas kursi putarnya membelakangi pria berkulit hitam itu, Kai mendekati meja kayu jati yang kosoh mencoba menggapai kunci mobil berlebelkan Mercedes, namun sayangnya kalah cepat dengan mata elang Kim Myungsoo.

“Apa uang yang ku kirimkan masih kurang?” itulah bentuk sapaan yang keluar dari mulut L. melepas earphonenya, kemudian berdiri dan memukul Kim Kai dengan stick golf yang terpajang di dekatnya.

“Ampun hyung! Aish appo!! Aku tidak akan mengulanginya lagi! Appo hyung!” Kim Kai lari berhamburan menghindari pukulan kakak kandungnya itu. Dia sangat menyayangi Kim Myungsoo, menganggap kakaknya itu sebagai ayah keduanya. Tumbuh bersama dari darah yang sama, berbagi pengalaman terutama dalam hal memikat wanita tentunya.

“Sejak kapan aku mengajarimu mencuri hah?! apa kau ingin mengikuti jejak wanita jalang itu?” omel Myungsoo dengan gaya kebapakannya. Orang-orang yang berada tak jauh dari ruangan itu menaruh minat kepada mereka, ada yang terlihat tegang sampai berusaha menahan tawa. Hal ini merupakan hal langkah yang sangat jarang dipertontonkan di depan khalayak umum.

Ani hyung! Aniyeo!! Hyung jebbal hentikan! Kau akan merusak imageku di depan sekertaris Jung!” ucap Kai sambil melirik sekertaris Jung yang sangat jelas sedang menahan tawa.

….

At Police Station

Jam istirahat yang seharusnya dihabiskan Changmin dengan cara mengisi isi perutnya malah dihabiskan untuk menangani beberapa kasus yang belum terselesaikan. Sementara anak kecil di sebelahnya itu hanya berdiam diri tanpa melakukan sesuatu. Memegang sebuah mobil-mobilan yang dibelikan Changmin untuk menyuap mulut robek anak itu yang memang dari pagi dititipkan kepadanya. Anak kecil berbaju biru itu sengaja dititipkan pada Changmin karena Baekhyun maupun Suzy sedang ada urusan, sedangkan Zelo menghilang tanpa kabar. Mengingat Shim Changmin bekerja di bagian kepolisian, pria itu dapat membantu menemukan wali dari anak kecil yang sedari tadi tak kunjung membuka identitasnya. Namun sampai saat ini tak satu clue yang didapatkannya hingga beberapa petugas kepolisian menyeret paksa seorang pria dengan wajah babak belur karena berusaha melawan saat ditanggap.

Hyung” panggil anak itu dengan mata yang terus memperhatikan orang yang baru saja diseret ke dalam sel. Changmin hanya menanggapinya dengan dehaman.

“Na abojie,” ucap anak itu terputus. Changmin menaruh perhatiannya pada anak kecil itu. Mengikuti pandangan mata anak itu ke dalam sel yang tak jauh dari tempat mereka.

….

At Kyunghee University

Ruangan laboratorium IT nampak sepi, hanya ada seorang pria yang sedang memainkan jarinya di atas keyboard di temani seorang professor yang sudah mengabdi sekian tahun untuk membagi ilmunya di tempat ini. Data-data para mahasiswa terpampang jelas di layar monitor PC beserta foto berukuran empat kali enam.

“Seunggi-ssi, sudah jam istirahat. Aku akan membelikanmu makan siang” Professor Han bangkit berdiri meninggalkan Seunggi yang masih sibuk memperhatikan setiap lembar document.

“Jangan terlalu serius, nanti hidungmu tambah membesar” gurau wanita berambut putih itu sambil mengedipkan matanya.

….

At Ahn Home’s

Rumah yang dulunya di huni oleh empat orang dengan kehidupan damai merupakan suatu saat-saat paling membahagiakan menurut Jaehyun. Pria itu duduk termenung mengingat masa-masa kecil dia bersama ibu, ayah, serta adiknya. Memorinya kembali saat dirinya menginjak empat belas tahun.

 

Flashback

Kehidupan keluarga bahagia ini mulai goyang, diawali kedatangan seorang wanita yang mengaku-ngaku sebagai istri simpanan presdir Ahn dari Hyundai group. Caci maki perkelahian suami istri itu terdengar dari balik pintu kamar. Bunyi guci yang dibanting terdengar. Ahn Jaehyun yang menginjak bangku sekolah menengah pertama tentu saja mengerti dengan permasalahan seperti ini, begitu pula sang adik yang berumur seperdua tahun dari umur sang kakak.

“Apakah ayah dan eomma sedang meniru drama di tv?” itulah yang di ucapkan sang adik. Banyak drama married life yang tidak sengaja dilihatnya. Mungkin tak lama lagi kata cerai akan terucap oleh pemilik Hyundai group itu.

“lebih baik aku pergi membawa anak-anakku! Kau rawat saja wanita jalang yang biadap itu!” suara bentakan sang ibu membuat air mata Jaehyun yang sedari tadi berusaha di tahannya kini tak terbendung lagi. Sang adik hanya berusaha memeluk erat sang kakak.

“Hah membawa anak-anak? Apa kau punya uang untuk menghidupi mereka? Kau tidak sadar bahwa semua harta ini adalah hasil jeripayahku?! Baiklah aku akan merawat wanita yang kau sebut jalang itu! Setidaknya dia masih berguna dibandingkan kau istri tidak berguna yang sakit-sakitan!!” sekumpulan kalimat kasar keluar dari mulut pria bermarga Ahn itu, sang istri yang memiliki fisik lemah hanya tersungkur lemas akibat tekanan batin yang didapatnya.

“kau selalu menyerangku dengan kata ‘miskin?’, apa kau tidak sadar lima belas tahun lalu kau mengemis siang dan malam padaku untuk mendapatkan cinta. Bahkan saat itu kau terlihat lebih miskin dariku”

End flashback

 

“Apakah wanita cantik dan seksi dapat merubah naluri seorang lelaki?” gumam Jaehyun. Di kediaman ini masih terpajang beberapa foto ibu kandungnya itu. Walaupun didominasi oleh wajah baru, foto tua yang berukuran besar itu masih dapat menarik perhatiannya. Wajah ibunya dengan sudut bibir tertarik ke atas memarerkan kesan keibuannya.

….

At Choi Home’s

Seperti memasuki labirin panjang, Suzy menyelusuri rumah mewah ini. Berjalan dengan cepat melalui sudut-sudut dinding berusaha mandarin jangkauan kamera sisi tv. Di tangannya sudah ada beberapa helaian kain berwarna hitam. Setelah mendapatkan posisi yang pas, gadis itu melempar kain yang sedari tadi digenggamnya kea rah kamera sisi tv hingga tersangkut. Begitulah seterusnya hingga ia berada tepat di depan pintu kamar Zelo. Baekhyun sudah menunggu di dalam kamar dengan wajah yang sulit di jelaskan.

“Apa yang terjadi?” Suzy mengguncang-guncang tubuh Zelo. Kondisi pria itu kalah parah dengan kondisi kamarnya. Baekhyun yang masuk melalui balkon sudah siap menggendong tubuh besar Zelo untuk melompat kebawah.

“Entahlah, mungkin stressnya kambuh. Aku akan segera membawanya pergi dari sini. Kau urus sisanya” ucap Baekhyun yang dibalas anggukan mengerti oleh gadis itu. Setelah memastikan Baekhyun sudah turun dengan selamat, lantas gadis itu membersihkan alat-alat yang digunakan mereka. Menyimpan kembali tali yang digunakan Baekhyun untuk turun, beberapa obeng atau apalah yang digunakan untuk membobol pagar besi yang menghalangi akses menuju balkon.

Suzy baru saja mau menyentuh gagang pintu, namun pintu itu terbuka terlebih dahulu.

“Astaga! Apa yang terjadi? Kemana tuan muda Choi pergi! Pengawal!” suara seorang wanita terdengar dari balik pintu. Suzy bersembunyi disela-sela tirai putih gading panjang yang menyentuh lantai sehingga dapat menyamarkan kakinya. Derap langkah beberapa orang terdengar, tak dapat dipastikan berapa jumlah orang itu. Saat ini gadis itu hanya berdoa semoga saja dirinya tidak tertangkap basa. Terdengar bunyi percakapan yang dilakukan seseorang.

“Sepertinya mereka sudah pergi. Kau pergi ke taman belakang, dan kau periksa apakah ada mobil yang terparkir di luar, mungkin mereka belum menjauh” Suzy menarik nafas lega saat orang-orang itu sudah pergi meninggalkan tempat ini.

….

On the road

Baekhyun mengemudikan mobilnya dengan cepat. Mereka melewati jalanan yang jarang dilalui orang-orang agar terhindar kemacetan. Suzy mempererat seatbeltnya saat pria yang mengemudi di sampingnya itu memperdalam injakan gas mobil hingga kecepatan 120km/jam. Jalanan disiang hari ini terlihat gelap. Pohon-pohon tinggi menjulang yang diperkirakan sudah puluhan tahun membuat cahaya hanya dapat menembus sela-sela ranting yang ada. Gadis itu tidak mengenekan kacamata minusnya, softlance yang digunakannya tadi sudah dilepas karena yang dipikir gadis itu kacamatanya ada di dalam tas selempangnya.

“Apakah matamu benar-benar sebegituh parah? Ini berapa?” Tanya Baekhyun memecah keheningan. Pria itu menjulurka jarinya mencoba mengecek seberapa parah penglihatan Suzy tanpa alat bantu.

“banyak” jawab Suzy singkat. Sebenarnya hanya ada satu jari, tetapi di mata gadis itu ada beberapa jari. Kemudian tak ada lagi percakapan yang mereka lakukan. Suzy terlelap dalam tidurnya, rambutnya yang diurai panjang itu menutupi wajahnya yang tertunduk ke bawah. Baekhyun menatap lama, tenggelam ke dalam pemikirannya. Gadis yang dikenalnya cukup lama itu memiliki sifat yang sulit ditebak. Entahlah terlihat polos saat kau berkunjung ke rumahnya, terlihat tomboy saat berkumpul bersama teman-teman, dan terlihat seperti gadis nakal saat kau memberinya uang. Namun ada satu hal yang pasti, jangan hanya melihat kulit terluar jika kau tak ingin menyesal. Lamunan pria itu buyar ketika mendengar bunyi letusan senjata dari arah belakang. Mobil hitam mengejar mereka seperti pemburu yang berkeliaran pada siang hari.

“Ada apa?” Suzy terbangun, menatap ke arah belakang namun sayang sekali hanya bayangan-bayangan hijau dan hitam bergantian yang membuat kepala gadis itu pusing.

“Lebih baik tundukkan kepalamu, aku tak ingin ada yang mati mengenaskan di dalam mobilku” menambah kecepatan, melakukan beberapa maneuver untuk menghindari beberapa peluru yang mencoba menerobos permukaan ban mobil sport itu. Adegan seperti ini sudah sering dirasakan Suzy, namun yang satu kali ini nampak sedikit berbeda. Posisi gadis itu sedang tersudut, tak bisa melakukan apa-apa. Mobil yang dulunya berada di belakang kini bisa mensejajarkan posisinya. Kursi kemudi yang berada di sebelah kiri membuat Baekhyun tak dapat menjangkau seorang pria yang dari arah berlawan mencoba memecahkan kaca jendela. Suzy dapat merasakan hal itu, lantas gadis itu mencari benda mungil berwarna hitam yang terletak di bawah jok kursinya, kemudian mengarahkannya ke arah pria itu hingga kaca jendela mobil Baekhyun tertembus peluru membuat sebuah retakan. Mobil hitam yang mengejarnya oleng dan menabrak pohon, begitu pula mobil Baekhyun yang tak dapat menghindari sebuah mobil yang melaju dari arah berlawanan hingga jatuh ke jurang. Tak ada ledakan, tetapi terlihat kepulan asap mulai terlihat mengepul dari mobil Baekhyun. Pria itu tak ingin mati sia-sia di tempat sepeti ini. Dengan dahi yang berdarah, pria itu mencoba menyelamatkan Suzy namun gadis itu menghilang. Melihat Zelo yang terkapar tak berdaya di kursi belakang, pria itu mencoba menyelamatkan Zelo terlebih dahulu. Menggendong orang yang berbadan lebih besar di punggungnya memanglah bukan hal mudah, dia berjalan ke daerah yang diperkirakan cukup aman dari ledakan. Kepala Baekhyun terasa berat, sangat berat. Kesadarannya hilang saat mereka telah menjangkau daerah yang aman.

….

Sebuah mobil Mercedes melaju dengan cepat mengejar waktu. Sendirian pria itu mengemudikan mobil hitam kesayangannya, dia menuju daerah elite gangnam. Jalanan yang sepi dengan jurang terjal membuat pria itu sedikit berhati-hati mengingat banyak terjadi kecelakaan di daerah ini. Entah sial apa yang melewatinya, sebuah mobil dari arah berlawanan hampir menabraknya. Berhasil menghindar, namun sedetik kemudian terdengar bunyi tabrakan. Melalui kaca spion dia menatap mobil yang baru saja dilewatinya itu jatuh ke jurang. Lantas pria itu membanting stir dan memutar balik mobilnya. Benar saja, mobil yang kini berada di dasar jurang yang tidak terlalu dalam itu mengeluarkan kepulan asap. Pria yang mengenakan jas hitam itu berdiri di pinggir jurang sambil memperhatikan apakah masih ada korban di dalam mobil. Tanpa pikir panjang dia mengeluarkan ponselnya, menekan tiga dikit nomor. Sebelum suara diseberang ponselnya menyahut, pria itu merasakan sesuatu di menarik kaki.

“tolong..”

-To be continue-

PS: Hanya mau ingatin klo mobil di korea kursi pengemudi di sebelah kiri. Terus si Suzy kenapa gak pasang lagi softlancenya di mobil? Karena mobilnya udah jalan jadi entar goyang-goyang -_-. Oh iya untuk plagiator serah dah lu mau copas atau copy paste, yang penting baca buku undang-undang dulu sebelum klik kanan (?)

56 responses to “[CHAPTER – PART 2] Beautiful Liar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s