[FICLET] Vampire Girl

vampire girl poster

Arin Yessy present to you..

a ficlet called Vampire Girl

 

starring : Park Jiyeon | Kim Myung Soo | Oh Sehun

genre : Romance, Hurt/Comfort, AU, Little bit of Horror

lenght : ficlet

rating : PG-13

 

Disclaimer : Has been publish in my private blog with different cast. Don’t copycut, Must Leave Your Comments after read this FF. Sorry for typo and bad story. Happy Reading

 

Rasa lelah mendera tubuhku ketika kupaksakan menaiki satu persatu anak tangga menuju lantai dua di sebuah flat sederhana milikku yang terletak di pinggiran kota Seoul.

Sambil membawa tumpukkan file-file hasil desain di tangan kiriku, sementara tangan kananku merogoh-rogoh ke dalam tas tangan yang kulingkarkan di pergelangan tangan kiriku. Mencari sebuah benda bernama kunci dengan hiasan gantungan berbentuk bola.

“brukk…” Ketika aku berhasil menemukan kunci flatku, Tumpukan kertas-kertas file itu jatuh berserakan. Aku menghelas nafasku kesal, Dengan tergesa-gesa aku berjongkok dan memungutnya satu persatu untuk menyusunnya kembali.

Perasaanku kacau balau saat ini. Hariku benar-benar buruk. Semuanya tak berjalan sesuai dengan perkiraanku. Bosku memarahiku habis-habisan karena ia kecewa dengan hasil rencana desain interior yang kulampirkan kepadanya. Laki-laki paruh baya itu menyobek kertas-kertas desainku di depan kedua mataku, Bahkan ia sama sekali tak menunjukkan sikap untuk menghargai hasil jerih payahku yang selalu pulang larut malam untuk mengerjakan desain ini. Sehingga terpaksa aku kembali lembur hingga tengah malam untuk mengerjakan desain interior yang baru.

Bagaimanpun aku tak dapat menolak perlakuan yang diberikannya kepadaku. Apalagi berpikiran untuk resign dari perusahaan yang dipimpinnya.

Untuk mendapatkan pekerjaan dengan bayaran tetap di Seoul tidaklah mudah. Aku bahkan rela meninggalkan eomma dan adik laki-laki ku di Daegu untuk pekerjaan sebagai interior designer ini.

Terlebih penyakit hepatitis yang diderita oleh eommaku mengharuskanku untuk mengumpulkan lebih banyak uang demi pengobatan yang harganya jelas tak murah.

Aku menutupi wajahku yang kini telah berurai air mata dengan kedua telapak tanganku. Menangisi hidupku yang tak pernah terlepas dari kesulitan. Rasanya begitu menyesakkan. Namun aku tak dapat melepaskan rasa sesak yang seakan menggerogoti seluruh tubuhku. Bukan tak dapat tepatnya, tapi semesta seakan menginginkanku untuk menyimpan rapat-rapat kesulitan hidup yang selalu membayangi langkah-langkahku.

Kukepalkan kedua telapak tanganku. Hingga dapat kulihat pembuluh vena berwarna biru kehijauan yang tampak menonjol dari punggung tanganku. Kuusap cairan bening yang membasahi kedua sisi pipiku dan berdiri tegak sambil berusaha menarik sudut-sudut bibirku untuk membentuk seulas senyuman. Sembari membayangan senyuman eommaku yang hangat , tergambar begitu jelas di wajahnya yang secerah mentari pagi ketika suatu saat penyakit itu terlepas dari tubuhnya. Dengan melakukan hal ini setidaknya dapat mengangkat sedikit beban yang memberatkan punggungku.

Aku harus tetap semangat!

Aku memasukkan kunci flat ke dalam lubang kunci dan memutar kenopnya hingga pintu kayu berwarna cokelat gelap itu terbuka.
Aku membawa tumpukkan lembaran-lembaran kertas itu ke dalam flatku sambil meraba-raba sakelar lampu dan memencetnya hingga kini ruangan kecil yang hanya terisi oleh sebuah sofa, meja, cabinet, dan kitchen set ini diterangi oleh cahaya lampu.

Namun aku tertegun ketika kulihat seorang laki-laki berperawakan tegap dengan tubuh yang dibalut oleh jubah hitam tengah duduk di sofa malasku.

“nuguseyo?”

Aku tahu benar jika flat murah ini tak memiliki sistem keamanan canggih layaknya apartemen-apartemen mewah di pusat kota Gangnam, jadi dengan sedikit keahlian dan sebuah penjepit kertas, kau bisa dengan leluasa masuk ke tempat ini.

“nuguseyo?”

Ia tak kunjung merespon pertanyaanku. Beberapa dugaan berputar-putar memenuhi otakku.

Laki-laki ini jelas bukan pencuri ataupun perampok. Hanya pencuri dengan otak tidak waras yang akan merampok rumahku. Karena jujur saja tak ada barang berharga disini.

Jika ia berniat untuk melakukan hal-hal jahat kepadaku, mungkin sekarang aku sudah terikat dengan tali yang kuat dengan mulut ditutup menggunakan kain dan semacamnya.

Aku mengumpulkan segenap keberanianku dan melangkahkan kakiku menuju kearahnya. Rupanya rasa penasaranku lebih besar daripada ketakutanku sendiri.

Baru beberapa langkah kecil, Ia menatap tajam ke arahku. Sedetik kemudian ia sudah berada dengan jarak beberapa inchi dari wajahku, membuatku kaget bukan kepalang hingga refleks aku memundurkan tubuhku.

Aku mendongak untuk menatap wajah di balik jubah hitam itu. Mendapati sepasang bola mata berwarna kuning ke emasan tengah menatap tajam le arahku. Wajah laki-laki itu begitu pucat dengan bibir berwarna semerah darah.

“ssii–si–apa kau?”

“kau sangat cantik…” Ia mendekatkan tubuhnya ke arahku. Mengunci tubuhku diantara dinding flat dan tubuhnya yang kekar.

“lepaskan aku..”

“mana mungkin aku melepaskan dirimu sayang.. lihatlah, kau semakin cantik dengan ekspresi ketakutan seperti itu,”
Ia menyentuh pipi kiriku dengan jari jemari miliknya. Rasanya begitu dingin dan menusuk syaraf-syarafku, membuatku terperangah dan menyadari satu hal bahwa laki-laki yang ada dihadapanku ini bukanlah seorang manusia.

Aku menghembuskan nafasku, melepaskan segala ketakutan yang menggerogoti tubuhku, mengumpulkan seluruh keberanianku yang tersisa dan menatap tajam bola mata berwarna kuning keemasan itu.

“aku tak takut padamu…”

“memang seharusnya kau tak perlu takut padaku, karena sebentar lagi…” Ia mengambil jeda di dalam kalimatnya untuk menyibakkan beberapa helai rambut yang menutupi sebagian wajahku. “kau akan menjadi milikku selamanya” ia berbisik pelan ke arahku.

Aku benar-benar tak mengerti apa yang tengah dibicarakan makhluk ini sekarang.

“aku tak tahu siapa dirimu tuan dracula, tapi bisakah kau menghilang saja sekarang?”

“brukkk…..” Ia melempar tubuhku di sudut ruangan, hingga dapat kurasakan punggungku terasa begitu sakit akibat benturan keras dengan tembok batu bata. Aku meringis kesakitan sambil menatap kedua matanya yang kini berwarna merah berkilat.

“mianhae…” sedetik kemudian ia telah berjongkok di hadapanku. Pupil di kedua bola matanya telah kembali berwarna keemasan. Dan raut wajahnya terlihat begitu, errrr…. sedih, kurasa.


“perlu kau ketahui,, aku bukanlah dracula..”
Kini kami tengah duduk di sofa dengan aku yang bersandar di bantalan sofa akibat rasa sakit yang masih mendera sekujur tubuhku.

“aku tidak peduli.. yang kupedulikan adalah apa urusanmu mendatangiku?” Aku menatap lurus ke arah cabinet di depanku, tak ingin menatap wajahnya yang sebenarnya kelewat… tampan.

“aku akan menjemputmu, dan kau harus ikut denganku..” ucapnya dengan suara berdentang seperti lonceng.

“kenapa aku harus ikut denganmu?”

“Kau harus.. Karena adikmu telah menjadikanmu tumbal..”

Aku membelalakkan kedua bola mataku sambil menatap meminta penjelasan lebih ke arahnya. Namun ia hanya menyeringai sambil menunjukkan senyuman jahat ke arahku.

“kau berbohong!” Aku hendak memukul lengannya namun ia segera meraih pergelangan tanganku.

“adikmu… mengorbankan nyawamu kepadaku agar ia memperoleh harta dan juga popularitas..”

“kau pasti berbohong..” Aku menggeleng-gelengkan kepalaku, tak ingin mendengarkan kata-kata yang terlontar dari mulutnya.

“singkatnya adikmu menukar dirimu dengan harta..”

Aku menutup mulutku dengan tangan kiriku. Benarkah apa yang dikatakan makhluk dunia lain ini? Rasanya aku tak ingin mempercayai kata-katanya. Namun jika itu benar….
Mataku berkaca-kaca menatap laki-laki yang ada di hadapanku. Hingga aku tak kuasa membendungnya lagi. Tetes demi tetes cairan bening itu kini mengalir deras membasahi kedua mata dan pipiku.

“channie….”


“Sehun-na…” Aku memejamkan kelopak mataku, menikmati saat-saat terakhir dalam hidupku ketika aku masih dapat mengucapkan nama laki-laki yang amat kucintai.

“wae?” Sehun, laki-laki berambut cokelat itu menggenggam tanganku yang tergeletak di atas meja.

“Kurasa, kita harus mengakhiri hubungan ini..”

“mwo? tapi.. kenapa?? apa aku menyakitimu??”

Oh Tuhan, apakah aku sanggup melakukan hal jahat ini kepada laki-laki baik seperti dirinya.

“bukan itu.. tapi…” Aku menarik tanganku dari genggaman Sehun.

“tapi apa?? Ji Yeon-ah, berikan aku alasan yang masuk akal..”

Aku menghela nafasku dan menatap wajah sendu milik Sehun. Bagaimanpun, walaupun sangat menyakitkan, aku harus membuatmu membenciku selamanya Sehun-ah.

“Karena.. karena aku tidak mencintaimu bodoh..! Selama ini aku tak pernah menyukaimu apalagi mencintaimu. Aku hanya memanfaatkan laki-laki polos seperti dirimu!” Aku meninggikan nada suaraku sembari berusaha sekuat tenaga membendung air mata yang seakan telah siap untuk mengalir.

Laki-laki tampan itu melemparkan tatapan tidak percaya ke arahku. Namun, sedetik kemudian raut wajahnya berubah menjadi murung. Oh My, aku tak sanggup menyaksikan pemandangan yang ada di hadapanku ini.

Aku memundurkan kursi yang kududuki dengan kasar hingga terdengar bunyi ‘kreeekk’. Aku menegakkan tubuhku dan berlalu dari hadapannya tanpa mengucapkan sepatah katapun.

Ingin rasanya aku berbalik ke arahnya, kemudian memelukknya dan mengatakan bahwa aku sedang gila karena mengucapkan kata-kata yang telah menyakiti hatinya. Ingin sekali aku mengatakan begitu aku mencintai dirinya, satu-satunya laki-laki yang telah mengisi seluruh ruang hatiku,, setidaknya hingga detik ini. Detik-detik terakhir hidupku sebagai seorang manusia.

Tapi tak mungkin aku melakukannya. Karena beberapa menit lagi, laki-laki bermata keemasan itu akan membawaku bersamanya. Akan lebih menyakitkan bila ia menyaksikan wanita yang tengah dicintainya telah meninggalkannya untuk selama-lamanya. Biarlah ia membenciku, agar ia dapat melupakanku dengan lebih mudah.

“kau melakukan pekerjaan yang sangat bagus, nona Park.”
Makhluk itu menungguku di depan pintu cafe dengan melipat kedua tangannya. Kali ini ia berpakaian layaknya seorang manusia, kemeja putih bergaris dengan celana jeans hitam.

“apakah kau sangat senang sekarang?” tanyaku ketus sambil mendahuluinya berjalan menuju sebuah gang sempit yang tak jauh letaknya dari cafe itu.

Aku menyandarkan tubuhku di sebuah bangunan di antara gang sempit yang sepi. Tubuhku merosot ke tanah dan air mata yang sedari tadi kutahan telah jatuh tetes demi tetes.

Tak kupedulikan lagi kehadiran makhluk itu di sekitarku, yang kuinginkan hanyalah menangis sekencang-kencangnya.

Tuhan,, betapa berat cobaan yang harus kuhadapi. Duniaku hancur sekarang. Aku kehilangan semuanya, dan sebentar lagi aku akan meninggalkan orang-orang yang sangat kusayangi. Eomma.. bahkan aku belum bertemu kembali dengannya selama tiga bulan ini, dan kini aku harus meninggalkannya. Sehun.. satu-satunya laki-laki yang sangat kucintai, maafkan aku.

“apakah kau sudah puas menangis sekarang?” Ia berdiri di sampingku dan mengulurkan tangannya ke arahku.

“ayolah.. aku tak punya banyak waktu lagi,,” Ia meraih paksa tanganku dan membantuku berdiri. Ia melingkarkan tangannya yang sedingin es di bagian pinggangku. Dengan kemampuan teleportasinya kami telah berada di dalam flat milikku.

Aku hanya mengatupkan bibirku tak memprotes sedikitpun ketika ia menggendongku ala brydal style dan merebahkanku di atas tempat tidur milikku.

“apa kau siap?” Ia menyibakkan rambut panjangku yang menutupi sebagian wajah dan leherku.

“krrinnngggg…..” suara handphone yang tergeletak di dekatku membuat raut wajahnya kesal. Ia mengambilnya dan menempelkan handphone touchscreen itu di dekat telingaku,,

“annyeong,,, noona.. mianhae… jeongmal mianhae…” suara isak tangis dari seberang telepon menyambutku,

“gwenchana channie..”

“tapi,, noona.. jeongmal mianhae.. mian.. mianhae,,”

“gwenchana channie-ah,, berjanjilah pada noona untuk selalu menjaga eomma, yaksok??” air mata kembali menggenangi pelupuk mataku. Walaupun ia lah sumber masalah yang harus kuhadapi, namun ia tetaplah byun baekhyun.. adik laki-lakiku satu-satunya. Dan aku sangat mencintainya.

“nee… yaksok… noona.. saranghae,, jeongmal mianhae..”

“hemm.. channie..”

Makhluk itu melemparkan ponselku ke lantai.

“well, sudah cukup sesi teleponnya..”

Aku menatap pasrah ke arahnya. Tak ada yang dapat kulakukan untuk terlepas dari makhluk berkulit dingin ini.

“jangan khawatir.. aku akan melakukannya dengan cepat..”

laki-laki tampan dengan bola mata berwarna keemasan itu duduk di samping tempat tidurku. Tangan kanannya mengunci tubuhku dengan tangan kirinya menyentuh bagian leherku.

“kau tahu, kenapa aku memaksa adikmu untuk melakukan perjanjian setan ini..?”
Aku hanya menggeleng pelan.

“karena aku takjub melihatmu, kau sangat cantik..”

Aku tak tahu bagaimana harus menanggapi ucapannya. Apakah aku harus bersyukur memiliki wajah yang cantik, atau apakah aku juga harus kesal karena memiliki wajah cantik rupawan seperti ini.

“apakah kau begitu menyukaiku?” bisikku pelan.

“aku terobsesi olehmu..” ia mendekatkan wajahnya ke arahku.

“berjanjilah kau akan melakukannya dengan cepat..” aku menarik ujung kemejanya.

“kau tidak akan merasakan sakit, aku berjanji sayang..”

Nafasku tercekat ketika bibirnya yang dingin menyapu permukaan kulit leherku. Ia mengecupnya singkat dan perlakuannya membuat nafasku semakin memburu.

Kemudian rasa sakit luar biasa kurasakan di bagian leherku ketika gigi gigi tajam milikknya menembus kulitku.

Rasanya seperti ditusuk oleh ratusan pedang namun kau tak kunjung mati, Rasanya panas, tenggorokanku panas, semakin panas hingga aku yakin sekali bahwa kini tenggorokanku telah terbakar.

Sekujur tubuhku merasakan panas luar biasa ketika racun milikknya kini telah mengalir ke dalam pembuluh darahku. Api ini semakin berkobar dan membuatku ingin menjerit sekuat-kuatnya, Namun bibirku bungkam, tak ada satu patah katapun keluar darinya.

Tubuhku begitu berat, menguburku dalam kobaran api yang menjilat-jilat. Menyebar dengan kesakitan luar biasa dari leher ke bahu dan perutku, membakar tenggorokanku, menjilat wajahku.

Panas membakar itu semakin menjadi-jadi, meningkat, semakin memuncak hingga melampaui apapun batas kesakitan yang pernah kurasakan.

Sekarang dibalik api yang berkobar itu, aku menemukan denyut lemah jantungku ketika aku berharap saat ini aku tak menemukannya. Berharap aku merengkuh kegelapan itu, mengoyak dadaku, dan merenggut jantungku.

Tolong, seseorang bunuhlah aku sekarang juga. Aku akan melakukan apapun untuk menghentikan siksaan ini.


Aku mengamati pantulan diriku di depan cermin rias antik yang terletak si sebuah kamar tidur mewah bergaya mediteranian pertengahan.

Benarkah sosok yang dipantulkan oleh cermin itu adalah diriku?

Aku menyentuh kedua pipiku, gadis dalam pantulan cermin itu juga melakukan hal yang sama persisi seperti gerakanku.

Wow,, jika itu benar diriku,, aku pasti sangat cantik sekarang. Seribu kali lebih cantik dari bentuk manusia yang hanya dapat kuingat samar-samar di dalam memoriku.

Sebuah mahkota yang berkilau melingkar dengan elegan di atas rambut hitam panjangku. Simbol bahwa kini aku adalah istri dari penguasa kerajaan ini. Kulitku seputih salju tanpa noda sedikitpun, alisku berwarna kecoklatan dan saling bertaut menyaksikan pemandangan indah yang ditampilkan oleh cermin yang telah berusia ratusan tahun ini.

Bibirku, bibir tipisku kini berwarna semerah darah. Dan bola mataku, kini irish mataku berwarna merah dan berkilat-kilat, seakan menghukum siapapun yang berani menatap lansung ke arah mataku.

“neomu yeppo…” suami vampirku, dengan kemampuan teleportasinya yang luar biasa telah berdiri di belakangku.

Ia mengamati pantulan kami berdua. Dan jujur saja, kukatakan bahwa kami adalah ‘pasangan paling serasi’.

“bagaimana kehidupan vampire mu nyonya?” Ia menyentuh pundakku dan mengecup sekilas bekas gigitannya di leher bagian kiriku.

“sempurna..”

Ia tersenyum ke arahku. Membuat wajahnya terlihat seribu kali lebih tampan dari terakhir kali aku melihatnya beberapa jam yang lalu.

Ia mengulurkan tangannya dan kusambut dengan sepenuh hati.

“mau berdansa denganku?”

“hemm..”

Ia melingkarkan lengan kekarnya di bagian pinggangku, sedangkan aku mengalungkan kedua tanganku di bagian leher miliknya. Ia sedikit mengangkatku untuk berdiri di atas sepatunya. Dan kamipun berdansa, entah sudah berapa lama kami berdansa. Namun dapat kurasakan kini kami telah melayang beberapa inchi dari lantai marmer di dalam kamarku.

Aku mengubah posisiku dengan menempelkan kedua tanganku ke wajahnya yang kini terasa hangat menyentuh permukaan kulitku. Memutarkan kembali ingatan-ingatan lemah dan samar ketika aku masih menjadi seorang manusia. Ingatan ketika ia mendatangiku tengah malam kala itu, atau ketika aku dapat merasakan dinginnya tubuh milikknya ketika bersentuhan dengan kulit manusiaku, dan ketika aku berbaring pasrah dan menatap wajahnya untuk terakhir kali dengan mata manusiaku.

“bagaimana kau bisa melakukannya?” Ia sedikit terkejut karena aku masih dapat mengingat sekilas memori manusiaku.

“entahlah, semua memori itu selalu terbayang olehku..”

“bisakah kau melakukannya sekali lagi?”

Aku tersenyum dan menempelkan kembali kedua telapak tangankku ke arah wajahnya. Kali ini aku memutar memori paling kuat yang dapat kuingat. Ketika Myungsoo menyambutku saat aku pertama kali membuka mata di kehidupan baruku. Ciuman pertama itu, fajar imortalitas, dan kenyataan bahwa aku kini menjalani kehidupan abadiku dengan dirinya.

Myungsoo mengusap lembut wajahku, menarik daguku lembut, dan mendaratkan ciumannya di atas bibir tipisku. Melumatnya sebentar dan mengecupnya sekali lagi.

“Myungsoo..”

“ada apa sayang?”

“apakah aku akan mendapatkan mata seindah dirimu kelak..?” Aku menatap warna mata kuning ke emasan miliknya. Aku bahkan dapat melihat pantulan diriku di dalam bola matanya.

“tentu saja,,”

“Ji Yeon, sayang..” bisiknya ke arahku.

“kenapa?”

“Tidak ada laki-laki manapun yang akan mencintaimu sebesar diriku mencintaimu,,”

Aku tersenyum ke arahnya, aku tersenyum memikirkan kebahagiaan yang akan kujalani bersamanya.

Kemudian kami melanjutkan dansa kami dengan penuh bahagia dalam naungan kebahagiaan kami yang sempurna selamanya..

FIN

Gaje banget kan? HAAAHAHAH.. #ketawaepilsamakyupil

kenalan dulu kali ya,, arin imnida~ author baru di sini, tapi bukan baru dalam dunia ini (ff dan art poster)

commetnya ditunggu lho yah? Oh.. dan jangan lupa Visit blog Indo Fanfiction, disana ada banyak FF dengan genre dan Cast yang lain daripada yang lain. Jangan lupa visit http://fanfictionsindo.wordpress.com . Atau macu baca epep2 saya yang lainnya? yang lebih absurd, gaje dan enggak banget? Makanya visit http://fanfictionsindo.wordpress.com *iklan lewat* Jangan lupa ninggalin jejak.. Kalau pada ninggalin jejak, saya kasih FF myungsoo-jiyeon lebih banyak lagi.. apa yang enggak buat readers coba #helehh banyak bacot thor!

Oke deh langsung aja don’t be silent readers.. comment juseyo, *capcus

104 responses to “[FICLET] Vampire Girl

  1. ya ampun jiyi dikorbanin sama adeknya sendiri tega banget ih baekhyun :’)
    terus juga jiyi harus bisa mutusin sehun aigooo itu pasti berat banget buat dia :’)
    konfliknya kurang thor *ini kan ficlet coy* hahaha
    bagus kok ceritanya🙂

  2. Baca ini pas mau nge baca Underworld Queen chap 6-end. Telat banget yah hehehe. Tapi tetep harus komen. Sebenarnya, feelnya kurang dapat. Soalnya, proses Jiyeon menyukai Myungsoo itu tidak diperlihatkan. Dari Jiyeon yang risih pada Myungsoo lalu tiba-tiba berubah menjadi baik seperti itu. But, tetep keren🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s