[CHAPTER-PART 1] High School OF Love

HOL

| Author : amaliachimo |

|Title : High School OF Love | Main cast : Park Jiyeon, Jung Sojung (Krystal), Kim Jongin, Kim Myungsoo |

| Genre : mix (?)._. | Length : Chaptered | Rating: PG-17]

| Prolog |

HOF-CAST

Inspirasi berasal dari Allah S.W.T melalui imajinasi sendiri, jadi kalau ditiru dosa yaa..

Mohon dukungannya dengan membaca semua dan di komentarin 😉

 Selamat membaca

-Suatu Malam, saat Liburan Musim Panas-

Dengan membawa sekantung minuman bersoda yang dibelinya dari mini market Jiyeon berjalan santai menelusuri jalan sepi malam itu. Udara hangat musim panas membuatnya terjaga hanya dengan kaos putih dan celana jens. Jiyeon menoleh ke belakang, tidak ada siapapun di sana. Aneh, batinnya. Jiyeon merasa pendengarannya tidak mungkin salah, samar-samar tadi ia mendengar ada langkah kaki yang mengikutinya dari belakang.

Tiba-tiba dari selah gang kecil di samping kanannya muncul dua orang peria asing menghadang Jiyeon,”Aissh, Ajusshi mengagetkanku saja.”keluhnya yang berhenti ditempat tanpa perasaan curiga sedikit pun.

Kedua peria dewasa itu menyeringai sambil perlahan mendekati Jiyeon yang menatap bingung keduanya. Reflek hidung Jiyeon mengendus-ngedus seperti anjing akibat mencium bau alkohol yang mangkin kuat di sekitarnya. Ketika itu pula, Jiyeon masih belum curiga. Bola mata cantiknya hanya bergerak menatap kedua peria tersebut secara bergantian. Sampai masing-masing pria itu berhasil mencengkram tangan Jiyeon. Barulah Jiyeon sadar, kalau mereka adalah orang jahat. Jiyeon berusaha sekuat tenaga melepaskan cengkraman itu, namun tubuh mungilnya tentu saja kalah dengan kekuatan dua peria bertubuh gemuk sekaligus, sampai kantung plastik dalam gengamannya jatuh begitu saja ke aspal. Akhirnya, bersamaan dengan rasa takut Jiyeon menangis sekuat tenaga sambil berdoa dalam hati.

Baru saja salah satu dari kedua peria itu akan membungkam mulut Jiyeon, dahi mereka sudah lebih dulu terkena lemparan kerikil berukuran sedang secara bergantian.

“Ahhkkkkkkk.”teriak keduanya melampiaskan rasa sakit, yang dengan sepontan juga melepaskan cengkaram tangan mereka pada Jiyeon.

Namun Jiyeon tidak menyadari keadaan yang menguntungkan baginya itu, ia masih terus menangis. Sampai seorang pemuda menarik tangannya lalu berkata,”Pali!”mereka—Jiyeon dan pemuda itu—pun berlari menjauh dari kedua peria yang masih kesakitan itu.

Setelah acara kejar-kejaran yang berlangsung sekitar 10 menit, Jiyeon dan pemuda itu bersembunyi di balik tembok pagar tinggi. Dengan posisi pemuda itu bersandar di tembok sambil mengatur nafasnya yang terengah-engah dan Jiyeon terdiam dalam dekapannya. Entah sejak kapan Jiyeon sudah berhenti menangis, namun pemuda itu tetap membekap mulutnya. Suasana lelah yang mendominasi sepertinya mulai terkalahkan oleh kecanggungan. Apalagi pemuda itu sekarang sudah tidak membekap mulut Jiyeon, tapi malah bertukar pandang dengan gadis ini. Suara detak jantung mereka semakin jelas terdengar kian beradu layaknya pacuan kuda, sampai suara pemuda itu berusaha mengusik kecanggungan.

Gwenchanayeo?”tanyanya.

Gwenchana.”jawab Jiyeon penuh kepolosan sambil menghapus sisa-sisa air matanya.

“Ini.”pemuda itu menjulurkan tangan kirinya yang menggengam dua kantung plastik sekaligus, dahi Jiyeon mengkerut bingung,”salah satu kantungnya itu, punyamu yang terjatuh tadi.”lanjut pemuda itu membaca ekspresi Jiyeon.

Gamsahamnida.”kata Jiyeon sambil mengambil salah satu kantung pelastik tersebut tanpa melihat isinya terlebih dahulu.

Ne.”singkat pemuda itu menanggapi ucapan terima kasih tersebut, sepertinya ia sedikit gugup karena terus-terusan dipandangi oleh Jiyeon yang pipinya kini bersemu merah,”Dimana rumahmu?”tanyanya berusaha terlihat biasa saja.

“Hah?”bingung Jiyeon sekali lagi, sepertinya seluruh indranya sedang tidak bisa berfungsi dengan baik saat ini.

“Aku akan mengantarmu pul—“kalimat yang baru saja akan keluar dari mulut pemuda itu terpotong akibat suara musik yang tiba-tiba saja merusak suasana,”Aisshh,”keluhnya menyadari bahwa suara itu berasal dari handphone—nya sendiri.

Pemuda itu merogoh saku celana panjangnya, lalu melihat layar handphone tersebut. Di sana tertulis ‘Incoming call Jung Sojung’ kontan pemuda itu mendecah pelan. Baru saja layar handphone itu disentuh, suara cempreng dari sebrang sana langsung menghantam kupingnya.

Yaaaa, Kkamjong. Kemana saja kau? Kenapa hanya ke minimarket sampai selama ini? Aku—“tanpa harus belama-lama menyiksa kupingnya, pemuda ini langsung saja memutuskan sambungan telepon tersebut.

“Mianhae, aku tidak bisa mengantarmu pulang nenek sihir sudah tak sabar menungguku di rumahnya. Annyeong.”

Pemuda itu pergi begitu saja setelah mengacak rambut Jiyeon yang masih terdiam di tempat.

Nenek sihir? Apa dia benar-benar seorang pangeran dari negri dongeng? Batin Jiyeon dengan bodohnya.

”Nama? Tunggu siapa nama pangeran itu?”gumam Jiyeon sambil celingukan, namun pemuda itu sudah tidak terlihat lagi,”yaa Tuhan pertemukan aku dengan pangeran itu lagi, amin.”harapnya seraya memjamkan mata lalu tersenyum.

***

Belum ada siapapun di dalam kelas kecuali Jongin yang duduk di bangkunya sambil mendengarkan musik dan memejamkan mata. Ia tertidur dengan posisi duduk yang rapih, kaki menyilang dan tangan melipat di dada. Sampai suasana kelas pun mulai berganti ramai, Jongin masih saja betah pada posisinya, tidak merasa tergangu sedikit pun.

Jiyeon masuk ke kelas itu dengan wajah berseri menghampiri meja Jongin, di sana juga sudah ada Kyungso—teman sebangku Jongin—bersama beberapa teman lelakinya yang berkumpul mengelilingi meja mereka—Jongin dan Kyungsoo.

Annyeong.”sapa Jiyeon pada semuanya, yang sebenarnya lebih tertuju pada Jongin.

Semua yang terkena sapaan itu tersenyum menyambut Jiyeon. Terkeculai Jongin yang tidak merubah posisinya sama sekali, diam dan kaku persis seperti patung. Untunglah Jiyeon yang sudah terbiasa dengan sikap acuh Jongin selama 1 bulan terakhir ini, tidak terlihat gurat kecewa sedikit pun.

“Jongin, ini bekal takoyaki dariku. Kali ini kau harus memakannya, karena aku sendiri yang membuatnya ne!”kata Jiyeon sambil menaruh kotak makan berwarna biru di atas meja pemuda patung itu,”Aku titipkan  pada Kyungsoo.”lanjutnya menggeser kotak makan itu ke hadapan Kyungsoo sambil tersenyum ramah.

Kyungsoo dan beberapa teman lelakinya itu melihat kotak makan pemberian Jiyeon dengan mata berbinar bak anjing-anjing yang sedang kelaparan.

“Tunggu!”Jiyeon menahan lagi kotak makannya, gadis ini memberikan tatapan curiga pada mereka—ia menyadari gelagat aneh dari teman-teman Jongin,”Kali ini tidak boleh ada yang menyentuh makananya sedikitpun kecuali Jongin, Oke!”katanya memperingatkan.

Tentu saja mendapat tatapan mengerikan rubah cantik seperti Jiyeon, mereka hanya menganguk pasrah termasuk Kyungsoo yang dititpkan.

Jiyeon keluar dari kelas 2.C—kelas Jongin—sambil bernafas lega dan tersenyum, ia harap kali ini bekal makananya jatuh pada orang yang tepat. Sebelumnya, Jiyeon masih mentoleransi teman-teman Jongin yang mencicipi bekal itu, tapi tidak untuk kali ini. Karena Jiyeonlah yang memasaknya sendiri dengan susah payah. Meskipun sebenarnya Jiyeon tahu Jongin tidak pernah sedikitpun mencicipi bekal darinya, tapi ia tetap berusaha dan tidak lelah untuk tetap berharap.

***

“Kang Minhyuk.. Kang Minhyuk..Kang Minhyuk…”gumam Krystal sambil menopang dagu dan mengetuk-ngetuk meja dengan pulpen di tangan kanannya.

Krystal ingat benar betapa hancur hatinya saat pengumuman peringkat umum sekolah—seminggu setelah liburan musim panas lalu—di layar-layar plasma yang terpasang di koridor, namanya tidak lagi tertulis pada peringkat pertama, tetapi peringkat ke-dua. Ya, namanya telah tergeser oleh seseorang bernama Kang Minhyuk yang sama sekali tidak ia kenal. Selama bertahun-tahun Krystal selalu menjadi nomor satu, baru kali ini ia dikalahkan. Padahal nilainya juga tidak buruk, malah meningkat dari semester lalu. Karena itu, Krystal seharian menangis dan mengurung diri di kamar. Benar-benar teragis baginya.

Dan parahnya tadi pagi-pagi sekali, baru saja Krystal melangkah masuk ke kelasnya yang sepi belum berpenghuni itu, Bu Oh—wali kelasnya—memanggil.

Pagi itu di Ruang Guru. Krystal duduk di hadapan Bu Oh yang tersenyum bangga padanya.

“Sebelumnya, selamat kau masuk tiga besar juara umum lagi. Jujur sebagai wali kelas ibu bangga padamu.”

Krystal hanya tersenyum masam menanggapinya, bagaimana bisa disaat pringkatnya turun adalah kebanggaan? Pikirnya.

“Langsung saja kalau gitu, tujuan ibu membawamu kesini karena kau terpilih untuk mewakili sekolah dalam lomba sains tingkat nasional—”sesaat mata Krystal berbinar memandang gurunya yang tidak terlalu tua ini, namun saat,”—bersama dengan Kang Minhyuk.”nama itu disebut wajahnya langsung berubah datar.

Sekarang entah dia harus mensyukuri nasibnya yang terpilih sebagai perwakilan olimpiade sains atau meratapi kebersamaannya nanti dengan sang rival. Aisss, batinya sambil mengacak rambutnya frustasi.

“Apa yang sedang kau pikirkan? Hm?”suara merduh yang dibuat-buat itu berhasil membuatnya menoleh.

Bae Suzy. Ia duduk manis di sebelah Krystal dengan senyuman teramahnya. Tumben, batin Krystal lalu mengalihkan pandangannya, malas.

“Tidak ada gunyanya ber-acting di hadapanku, aku bukan salah satu dari tim pencari bakat!”

Suzy membuang nafasnya geram mendengar sindiran yang sangat tepat sasaran itu,”Yaa, maumu apa sih? aku sudah berusaha baik padamu.”ujarnya dengan nada tinggi.

“Mauku? Kau menyingkir dari sini, dan bersikaplah seperti biasanya. Perlu kau tahu, seusaha apapun kau mencari tahu nomor Jongin dariku, sampai memberiku Menara Eiffel sekalipun, tidak akan aku beritahu. Arraseo!”

“Aisss.”

Suzy berdiri lalu menendang bagku yang didudukinya tadi hingga mengenai betis Krystal.

“Yaa,”teriak Krystal sepontan sambil menoleh pada Suzy geram.

“Itu sikapku yang biasanya.”kata Suzy puas dengan penuh keangkuhan, setelah itu ia pergi menuju tempat duduknya di bangku paling belakang.

Tidak lama Jiyeon masuk ke dalam kelas dengan disambut tampang bete Krystal,”Kau kenapa?”tanyanya ketika sudah duduk di sebelah teman sebangkunya ini.

Krystal menghembuskan nafas panjang lalu bercerita panjang lebar tentang segala keluh kesahnya yang bertumpuk sejak tadi.

***

Alunan musik piano mengiringi keriangan seluruh murid SMA Kirin yang sudah menanti-nanti waktu istirahatnya sejak tadi. Jongin yang baru keluar dari kelasnya, sudah dikejutkan saja dengan kemunculan Jiyeon di hadapannya. Mengejutkan? Tidak juga, ini sudah sering terjadi semenjak kepindahannya di sekolah ini.

Melihat senyum ceria Jiyeon, Jongin menghembuskan nafas panjangnya sambil memutar bola matanya jengah. Kyungsoo dan teman-teman Jongin lainnya hanya bisa tertawa melihat adengan yang selalu menghiasi hari-hari mereka dengan pemuda itu. Seperti tidak menganggap kehadiran Jiyeon, Jongin melewati Jiyeon begitu saja—menyusul Kyungsoo yang sudah mendahuluinya.

Tanpa rasa kecewa sedikitpun Jiyeon hanya mengedipkan matanya berkali-kali lalu menyusul Jongin,“Jongin, changkkamanyo!”teriaknya sambil berlari kecil demi mengintili pemuda yang begitu dikaguminya ini.

“Jongin, apa kau sudah memakan bekal buatanku? Hm?”

“Rasanya enak tidak?”

“Kau tau, aku senang akhirnya bisa memasak juga dengan kedua tangannku ini.”

“Awalnya memang sangat sulit, tapi karena memikirkan dirimu semuannya jadi terasa lebih mudah.”

Sepanjang perjalanan Jiyeon terus-menerus mengoceh di belakang Jongin yang sama sekali tidak menanggapinya. Belum lagi langkah kaki Jongin yang panjang, sungguh menyulitkan Jiyeon untuk mengikutinya. Tapi bukan Jiyeon namanya kalau menyerah begitu saja untuk cinta pertamannya ini.

***

Krystal berjalan sendiri menuju Laboratorium Biologidengan sekelebat ingatan tentang kata-kata yang seolah-olah terdengar lagi di telingannya.

“Istirahat nanti kau dan minhyuk akan mendapat pengarahan sebenatar dari guru pembimbing kalian untuk olimpiade kali ini.”—Bu Oh—

“Hm, Krysie itu kesempatan bagus untukmu, dengan semangkin dekat kau bisa tahu kelebihan dan kelemahannya. Manfaatkanlah itu sebaik mungkin untuk menjadi lebih unggul darinya.”—Jiyeon—

Krystal menganguk sebentar di depan pintu Lab. Biologi yang belum terbuka. Benar juga, batinnya sambil meraih knop pintu itu lalu memutarnya.

Ungkapan Sherlock Holmes pada Watson sahabatnya yang tidak sehebat dirinya itu ternyata ada benarnya, pikir Krystal.

“Kau mungkin tak tampak bercahaya jika di sampingku, tapi kaulah sumber cahaya itu.”

“Beberapa orang yang tidak memiliki otak jenius pasti memiliki kemampuan menstimulus yang sangat hebat”

Ya, ungkapan-ungkapan itu sangat cocok untuk Jiyeon. Berkatnya Krystal jadi memiliki akal bulus dibalik senyuman manisnya di hadapan sang guru pembimbing dan juga Kang Minhyuk yang baru dilihatnya ini.

“Annyeonghasimika.”sapa Krystal sambil membungkuk pada keduanya—guru pembimbing dan Minhyuk—secara bergantian,”mianhamnida, aku terlambat.”

Guru pembimbing yang bernama Choi Minho itu sekilas melihat jam tangan berwarna peraknya lalu berkata,”Gwencaha, silahkan duduk di samping Minhyuk.”persilahkannya pada Krystal dengan menggerakkan tangannya ke arah pemuda berkacamata yang terlihat tulus dan ramah itu.

“Karena sekarang sudah lengkap, bapak akan memulai pengarahan awalnya…“

Sesaat guru pembimbing yang bisa dipanggil Pak Choi ini memulai ceramah panjangnya, Krystal tersenyum tipis pada Minhyuk yang membalasnya dengan tulus itu.

***

“Jonginnnnn!”teriak Jiyeon menyemangati pemuda yang baru akan memulai tes American Football-nya.

“Jonginnnnnnn…Jonginnnnnn…..Jonginnnnn…!”teriak Suzy  dengan teman-temannya yang tidak mau kalah dengan Jiyeon.

Jiyeon dan beberapa murid perempuan lainnya termasuk Suzy kini berada di bangku penonton melihat tim Football vs Jongin. Ya, walaupun kemahiran Jongin bermain Football di Kanada—sekolahnya yang dulu—tidak perlu diragukan lagi, tapi tetap saja harus ada tes kemampuan agar sang pelatih yaitu Yoon Doojoon—salah satu guru olahraga SMA Kirin—bisa mengetahui sejauh mana kemampuan pemuda yang sempat menjadi atlet remaja itu.

Di lapangan dengan mudah Jongin melewati sebelas temannya yang menjadi lawannya ini termasuk salah satunya adalah Kyungsoo. Bola Football yang lonjong dan lancip diujung-ujungnya itu pun berhasil lolos dari pertahanan gawang yang cukup kuat.

“Yeyyyyyyyyyy..”sorak riang para fans Jongin membahana meramaikan suasana itu.

Pak Yoon bertepuk tangan menghampiri Jongin, lalu menepuk bahunya berkali-kali,”Daebak.”pujinya.

“Aku yakin, masuknya Jongin ke tim kita akan membawa kejuaraan yang sudah bertahun-tahun belum pernah kita raih.”ujar Chunji menggakui kemampuan Jongin.

“Tentu saja, sudah ku bilang teman sebangkuku ini sangat hebat.”timpal Kyungsoo juga sambil merangkul pundak Jongin yang hanya tertawa renyah menanggapi pujian-pujian itu sejak tadi.

“Hahah, jangan terlalu berlebihan.”kata Jongin akhirnya.

“Sudah-sudah sekarang waktunya menyegarkan tubuh kalian dengan minuman!”suruh Pak Yoon menggiring anak-anak murindnya itu seperti seekor ayam kecil pliharaannya.

***

Jongin berjalan bersama Kyungsoo dan Chunji melewati koridor yang cukup ramai dengan lalu-lalang para murid lainnya. Ini waktunya mereka pulang sekolah.

Melihat punggung tegap dengan menggempol tas berwarna hitam itu, membuat Jiyeon meyadari bahwa itu Jongin yang dicarinya sejak tadi. Gadi itu berlari menyusul Jongin.

“Annyeong.”sapa Jiyeon yang kini sudah menyusul di samping Jongin.

Melihat Jiyeon yang hanya sendiri, sekilas dahi Jongin mengkerut,”Dimana sojung?”tanyannya.

“Kami duluan, ne.”kata Kyungsoo sambil menepuk bahu Jongin yang menganguk. Kyungsoo dan Chunji melanjutkan jalan mereka mendahului Jongin.

“Krysie, masih harus pengarahan untuk persiapan olimpiade.”jawab Jiyeon.

Jongin menganguk paham, lalu kembali melanjutkan jalannya. Namun, saat suara seseorang memanggilnya dari belakang. Jongin sepontan menarik tangan Jiyeon untuk mengikutinya belok ke koridor lainnya dengan berlari. Mendapati pintu Ruang UKS terbuka, mereka masuk kedalamnya dan menutup kembali pintu itu. Lagi-lagi posisi ini, sama persis seperti malam liburan musim panas lalu. Bedanya kini Jiyeon yang bersandar di pintu dengan Jongin tepat di hadapannya.

Sudah bisa dipastikan saat ini jantung Jiyeon berdetak tidak karuan, ia hanya bisa membeku pasrah dalam posisi tanpa jarak dengan Jongin.

Dari kaca kecil yang terpasang di pintu UKS, Jongin mengintip dan mendapati Suzy yang celingukan mencari seseorang, yang tidak lain adalah dirinya. Ya, yang memanggil namanya tadi itu Suzy. Jongin pun menunduk, takut tertangkap basah tengah bersembunyi. Akibatnya, wajah Jiyeon yang tadinya berhadapan dengan dada Jongin kini dituntut untuk berhadapan langsung dengan wajah pemuda itu.

Aishhh, dimana Jongin?”keluh Suzy celingukan dari luar,”apa tadi aku salah liat?”

Untuk beberapa saat saling bertatapan dalam posisi sedekat itu lagi, Jongin pun melepaskan dekapannya dan kembali mengintip dari balik jendela kecil tersebut. Jongin bernafas lega melihat sudah tidak ada Suzy di luar.

“Kajja!”ajak Jongin dengan ekspresi biasa saja, tidak seperti Jiyeon yang masih berusaha menormalkan reaksi aneh dari seluruh bagian dirinya ini.

***

Di dalam bus, Jongin dan Jiyeon duduk bersebelahan. Jiyeon  sejak tadi memperhatikan gelagat pemuda yang duduk tepat di samping jendela ini. Dia merasa ada yang aneh dengan Jongin.

Sejak duduk menunggu bus di Halte tadi, Jongin tidak berhenti memegangi perutnya, bulu tangannya pun ikut merinding. Dan sekarang, keringat jagung mulai terlihat di dahinya. Meskipun ekspresinya terlihat biasa saja, tapi pemuda ini seperti sedang menahan rasa sakit.

Karena kekhawatirnya sudah tidak bisa tertahan lagi akhirnya Jiyeon pun bertannya,“Jongin, Gwenchanayeo?”

“Gwenchana.”bohong Jongin, suaranya terdengar pelan sekali.

“Aniya. Kau sakit yaa? Perutmu yang sakit ?”tanya Jiyeon malah semakin tidak yakin kalau Jongin baik-baik saja. Apalagi tiba-tiba Jongin memejamkan matanya dan menekan perutnya sendiri kini.

“Jongin, apa yang kau makan tadi sampai seperti ini?”tanya Jiyeon lagi makin khawatir.

TBC

Mian bagi yg nunguin Myungsoo sabar yaa, kan masih di singapur ceritanya, klu yg bru baca part ini bsa liat dlu Prolognya udh ada linknya di atas biar lebih paham sama cerita aneh ini/? hehe..

92 responses to “[CHAPTER-PART 1] High School OF Love

  1. Yaa ampun jiyi karakternya disini lucu bgt kayak bocah yg ngebet minta permen wkwk
    Itu jongin jgn2 sakit karna makan makanan dari jiyeon wkwk

  2. jiyeon bener2 ngejar jongin banget sampe diikutin terus tapi kasian juga di cuekin jiyeonnya huhuhu
    jiyeon fightiing

  3. Knp jiyeon jd sukanya sma jongin.. Aku mw nya myungsoo yg di sukain jiyeon bukan jongin.. Tp gpp lah ceritanya ttp seru kok.. Aku klo boleh request yya aku mw nnti endingnya jiyeon sma myungsoo..
    Next…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s