Season [Drabble Collection]

season

[Drabble Collection]
Season
by: Shaza (@shazapark)

Park Jiyeon & Kim Myungsoo

Romance
Teenager

Credit poster: CarolineLovely

.

.

.

.

Spring


Ketika Kim Myungsoo baru saja mendapat perintah menggelikan yang pernah ia dengar dari Ibunya, rasanya ia ingin sekali cepat-cepat terjun bebas ke dalam lubang hitam. Baru beberapa menit yang lalu, Ibunya mengatakan bahwa ada sebuah toko bunga cantik yang baru melakukan promote minggu ini di dekat rumahnya.

Tanpa pikir panjang lagi, Ibunya seketika menyuarakan perintah, “Myungsoo-ya, coba kau mampir ke toko itu. Belikan Ibu bunga gladiolus.” Bahkan Myungsoo harus menggumamkan nama bunga itu berkali-kali dalam hatinya agar tidak terlupa.

Sembari terus menggumamkan nama bunga, tungkai Myungsoo terus membuat langkah-langkah ringan yang membawanya menuju toko bunga. Matanya sesekali mengerling ke arah taman bermain di kompleksnya yang sarat akan bocah. Myungsoo mendecih, lantas kembali mengarhkan pandangannya ke depan.

Di kala itu, indera penciumannya menangkap aroma-aroma bunga yang harum, mata bulatnya mulai mencari-cari sumber wewangian tersebut. Myungsoo hampir saja mengira bahwa aroma bunga tersebut berasal dari taman bermain, jika saja bukan karena sebuah bunyi lonceng yang dibarengi oleh suara gadis tiba-tiba menyeruak dari arah kirinya.

Myungsoo menoleh cepat, dan mendapati dua gadis remaja baru saja keluar dari sebuah toko dengan pakaian yang berbeda. Pakaian formal dan pakaian informal.

“Iya. Di lain hari datang lagi, ya.” Gadis dengan apron putih melambaikan tangannya, dan disambut anggukan oleh gadis lainnya. Myungsoo memandang lekat ke arah gadis berapron putih tersebut, senyumnya masih setia tercetak diwajahnya.

Myungsoo mengangkat kedua alis, menanamkan gagasan baru, bahwa senyum itu benar-benar langka. Ia baru pernah melihatnya hari ini.

Myungsoo yang tengah melamum memandanginya tiba-tiba saja sedikit tersentak ketika menyadari bahwa sepasang manik cokelat cerah milik gadis itu telah memaku ke arahnya. Gadis itu membungkuk, lantas tersenyum. Myungsoo mengerjap sebentar, sebelum akhirnya ikut membungkukkan badannya.

Gelagapan, Myungsoo buru-buru menggerakan bola matanya ke arah lain. Mencoba mencari objek yang dapat ia pandang, apapun, asal jangan gadis itu. Sungguh, Myungsoo sendiri tidak yakin jika dirinya akan segugup ini. Tepat di saat itu juga, gadis berapron putih tersebut kembali membalikkan badannya dan beranjak masuk ke dalam toko.

Sebuah tulisan ‘Supreme’ yang menggantung tepat di atas toko tempat gadis itu berpijak membuat Myungsoo mengerutkan dahi. Ia memandang sekilas ke dalam toko yang hampir sebagian tempatnya dipenuhi oleh bunga-bunga, lantas mendesah.

“Jadi itu tokonya? Apa aku harus bertemu gadis itu lagi?” batinnya pasrah. Sungguh, ia tidak mau mendapati dirinya gugup setengah mati seperti orang tolol lagi. Mengembuskan napas lelah, pria jangkung itu akhirnya berjalan memasuki toko bunga tersebut.

Toko bunga tempat dimana gadis bernama Jiyeon bekerja.

Aku kembali tercenung menatap paras cantiknya. Jemari ramping milik gadis itu menyusur ke surainya yang halus tatkala angin musim gugur menerpa helaian cokelat tersebut. Senyum tipis di bibirnya kembali tersungging kala dedaunan kering yang berwarna kuning mulai berjatuhan di tanah.

.

.

Autumn

 


Setiap gerakan yang ia buat benar-benar tak luput dari pandanganku. Semua, tak terkecuali ketika gadis itu berkedip. Seolah kedipan mata itu terasa sangat gontai di penglihatanku.

Sejujurnya, aku tidak paham kapan aku mulai mengobservasi segala hal yang ada pada gadis itu. Berkali-kali aku mencoba menguak segala hal yang ada pada dirinya, meski usahaku selama ini hanyalah memandangnya dari kejauhan, tapi setidaknya aku dapat melihat senyumnya setiap hari, lebih tepatnya sore hari.

Dia, gadis itu. Aku melihatnya pertama kali di taman ini, di awal musim gugur yang dingin. Ia terduduk di bangku panjang taman sembari menundukkan kepala, menggores guratan indah di buku gambarnya dengan senyum yang tak pernah sirna dari bibirnya. Sesekali aliran angin yang lembut menyerbu surainya, membuat jalinan cokelat itu terusak sesaat. Kulit putihnya yang halus seolah kian berkilau ditimpa sinar matahari yang jingga. Matanya yang besar tampak bening bersih, seakan memancarkan sinar kebebasan di dalamnya

Cukup sampai disana, mataku benar-benar sudah terpaku padanya. Duniaku seolah benar-benar teralihkan karena keberadaannya.

Sebenarnya, semenjak hari itu, aku berharap boleh bertemu dengan sosok itu lagi suatu saat nanti. Dan, siapa sangka, rupanya Tuhan kembali mempertemukanku kepada sosok itu seminggu kemudian, tepat disaat aku memenangkan kompetisi bermain gitar di sekolahku.

Ia selalu disana. Persis seperti saat pertama kali aku bertemu dengannya. Di tempat yang sama dan di waktu yang sama. Gadis itu tidak pernah berubah. Hanya pakaian dan model rambutnya saja yang berubah-ubah. Terkadang ia mengikat rambutnya menjadi satu, mengepang rambutnya menjadi dua, dan menggerainya. Pada dasarnya, aku tetap menyukai semua model rambut itu.

Dengan keyakinan penuh, aku melangkah mendekati gadis itu. Menciptakan haluan yang akan membawaku menuju sosok yang sejak lama kuamati ini. Tanpa sadar, tangan kiriku mencengkeram erat leher gitar yang sedang kupegang. Bibirku mengulas senyum tipis tatkala diriku telah berdiri tepat di belakang gadis itu.

Dari sini, aku dapat melihat segala hal yang ia kerjakan di buku gambarnya. Rupanya, ia pandai melukis. Setiap goresan pensil yang ia ciptakan di buku gambarnya sarat akan makna yang sulit dibabarkan penjelasannya.

Aku berdehem untuk mengalihkan perhatiannya, namun gadis itu tidak menoleh. Sepertinya ia tidak mendengar. Daripada aku dianggap sebagai orang gila yang berdehem tidak jelas, lebih baik aku memanggilnya.

“Nona.” Kurasa suaraku sudah cukup keras untuk memanggil gadis itu. Meski aku tahu, panggilan ‘Nona’ adalah panggilan yang lazim digunakan oleh siapapun dan umum di tujukan kepada siapapun juga. Merasa tidak ada sahutan sama sekali, aku menghela napas sejenak.

Kurasa mendekati gadis ini bukanlah hal yang mudah. Aku menyentuh bahu gadis itu perlahan, membuatnya tersentak kecil. Gadis itu menoleh ke belakang. Matanya yang besar memandang lurus ke arah manik kelamku, sinar kepanikan terpancar jelas dari matanya yang bening.

“Hai.” Gumamku, bermaksud menyudahi keheningan yang sempat menyelimuti kami. Gadis itu mengerjap sejenak, kemudian memiringkan kepalanya dengan raut wajah bingung. Aku menggaruk tengkukku yang tidak gatal, lantas memposisikan diriku agar duduk di sebelah gadis itu.

Berdehem sesaat, kemudian aku mulai memangku badan gitar ke pahaku. “Bolehkah aku memainkan satu lagu untukmu?” aku bertanya padanya, dengan posisi tangan yang seolah siap memetik dawai gitar yang akan menyuarakan denting halus nan indah. Tanpa merubah posisinya, gadis itu mengerutkan kening. Dan jujur saja hal ini membuatku sedikit heran.

Tanpa menunggu waktu lebih lama lagi, jemari panjangku mulai memetik dawai gitar. Sesekali aku menyenandungkan lagu, agar semakin menyempurnakan permainanku. Aku melirik ke arah gadis itu tanpa menghentikan kegiatanku dalam memetik dawai gitar.

Yang kudapati adalah, gadis itu sedang menuliskan sesuatu di dalam notes. Tak lama ia menyerahkan notes itu ke arahku, membuat permainan gitarku terhenti mendadak. Aku membaca tulisan tangan yang tertera di lembar kertas putih tersebut.

Aku tidak memahami maksudmu mendatangiku. Tapi kau boleh meneruskan permainan alat musikmu itu, sepertinya indah.

Tepat disaat itu juga, kepalaku terangkat dengan cepat. Menatap paras cantik yang sejak seminggu lalu aku kagumi itu. Ia tersenyum hingga memperlihatkan deretan giginya yang rapi. Mataku memandang ke arah matanya yang bening, lantas memiringkan kepala.

“Kenapa kau berbicara sambil menulis di kertas?” tanyaku sebagai pertanyaan yang paling ingin kuketahui jawabannya. Gadis itu mengerutkan kening, kemudian kembali menulis sederet kalimat di dalam notes-nya.

Bisakah kau menuliskan ucapanmu di kertas ini? Aku tidak dapat memahami maksud ucapanmu.

Setelah ia memberikan notes itu, barulah aku paham. Aku rasa, kalimat ‘Aku tidak dapat memahami maksud ucapanmu’ lebih pantas diubah menjadi ‘Aku tidak dapat mendengar ucapanmu’ bukankah begitu?

Dia. Gadis yang sejak sebulan lalu aku kagumi ini rupanya tuli dan bisu. Mendapati satu fakta ini hanya dapat membuat ulasan senyum dibibirku kembali terkembang. Aku tidak pernah menyangka akan jatuh cinta pada seorang gadis yang tuli dan bisu.

Tanpa melepas senyum di bibirku, aku mengambil alih pulpen dan notes di genggamannya. Lantas menulis sederet kalimat untuknya.

Namaku Kim Myungsoo. Bolehkah kita berteman? Siapa namamu?

Kulihat ia tersenyum lebar begitu membaca notes yang aku berikan padanya. Mataku tak dapat lepas memandangnya barang sedetikpun. Tuhan, ia terlalu indah. Kenapa kau tidak menyempurnakan makhluk ini dengan suara? Tanpa sadar aku mengulas senyum lagi, kali ini lebih lebar.

Tak lama gadis itu mulai menulis, senyumnya semakin mengembang tatakala tangan putih itu menyerahkan notes ke arahku. Dan dari sana, aku pastikan dapat memulai hari-hari baru bersama orang yang aku cintai.

Namaku Jiyeon. Tentu kita boleh berteman. Bolehkah kau melanjutkan permainan alat musikmu itu?

Satu yang membuatku tercengang adalah, apa yang akan ia dengar ketika aku mulai memainkan gitarku ini? Tanpa bisa menolak, aku mulai menuruti keinginannya. Kulihat ia menikmati setiap nada yang aku buat.

Aku tahu, gadis ini berbeda dari gadis-gadis yang lain, ia memiliki keinginan yang besar. Ia sangat mengagumkan. Baiklah, mulai dari sekarang. Ya, sekarang. Aku akan menguak segala hal yang ada pada dirinya. Gadis mengangumkan bernama Jiyeon.

.

.

 Winter


Menghela napas gusar, jemari ramping Myungsoo kembali menari-nari di atas keyboard komputernya. Sesekali diliriknya kaca jendela kamar yang telah lama berembun, menjadikan permukaannya rabun untuk dilihat.

Memandang suasana di luar apartemennya membuat Myungsoo rindu. Ia ingin kembali keluar apartemen, melihat gumpalan es salju yang melindungi permukaan tanah, menghirup hawa dingin, dan kembali menikmati segelas kertas cokelat panas bersama kekasihnya di taman.

Memikirkan hal itu membuat kepala Myungsoo berputar cepat, mengenang segala hal yang pernah ia lakukan bersama kekasihnya. Sembari menghentikan kegiatan mengetiknya, pria itu menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa ruang tengah. Memejamkan mata, berusaha mengingat kapan terakhir kali ia bertemu Park Jiyeon, kekasihnya. Ia pikir, sudah terlalu lama ia berkutat dengan setumpuk tugasnya.

Dikala itulah, indera penciuman Myungsoo menangkap aroma-aroma manis yang menguar dari arah dapur. Ia dengan segera membuka kelopak matanya yang sudah terlalu lelah memandang layar komputer, lantas mengarahkan bola mata cokelat itu pada pintu dapur yang entah sejak kapan telah terbuka lebar.

Suara-suara dentingan sendok dan gelas membuat Myungsoo melipat dahinya, heran. Pria itu baru saja akan bangkit menghampiri dapur jika saja matanya tak kembali menangkap sosok mungil itu. Park Jiyeon dengan dua gelas mug di masing-masing tangannya.

Kali ini Myungsoo bukan hanya melipat dahinya, tetapi juga memicingkan matanya. Berusaha meyakinkan dirinya bahwa sosok mungil yang terbalut sweater biru itu bukanlah Park Jiyeon. Namun ketika sosok itu mengayunkan tungkainya, mendekatinya kemudian mengecup pipinya, barulah pria itu sadar.

“Sudah lama tidak bertemu. Apa kabarmu?” gadis itu mengangsurkan tangan kanannya yang menggenggam gelas mug biru ke arah Myungsoo, dan diterima dengan senang hati oleh pria itu. Jiyeon ikut terduduk di sebelah Myungsoo.

“Baik. Kurasa kau juga begitu.” kalimatnya disambut dengan bahu Jiyeon yang terangkat, menandakan bahwa kalimat Myungsoo memang ada benarnya. Myungsoo mengerling sebentar ke arah isi gelas, cokelat panas. Yeah, tidak ada yang lebih menyenangkan selain cokelat panas buatan Jiyeon di musim dingin.

Pria itu kembali mengarahkan bola matanya pada sosok Jiyeon yang sedang menyandarkan punggung pada sandaran sofa seraya menyesap cokelatnya perlahan. Myungsoo mengulirkan senyum menawan, lantas tak mempedulikan lagi asal-usul bagaimana caranya Jiyeon bisa berada di apartemennya saat ini.

“Jiyeon, kau tahu, aku merindukanmu.” Tepat dikala itu juga, Myungsoo meletakkan gelasnya di atas meja, lantas merangkul pundak gadis itu. Jiyeon terkekeh kecil seraya menggumam “Kau pikir hanya kau saja yang rindu, eoh?”

.

.

 Summer


 

Suara gaduh festival sekolah di siang ini membuat kepalaku semakin pusing. Matahari yang seolah bersinar tepat di atas kepala membuat rambutku kian mengusam. Barusan Soo Jung pergi meninggalkanku, alasannya adalah toilet. Cih, padahal aku tahu itu hanyalah omong kosong.

Bisa kubayangkan, sekarang teman-temanku sedang menikmati minuman dingin di kelas, bersama kekasih masing-masing. Aku tahu itu, teganya mereka meninggalkan aku menjaga stand festival sendirian. Menghela napas sejenak, mataku mulai bergerak-gerak memutari seluruh penjuru di depanku. Siswa-siswi sekolah menengah yang sedang berdesakkan, hanya itu yang kudapati.

Merasa stand milik kelasku sepi. Otakku seolah berkata “Jalan-jalan sebentar rasanya bagus juga.” Dan dengan pemikiran sesederhana itu, aku berani meninggalkan stand kelasku yang dipenuhi barang jualan.

Sebenarnya tidak ada baiknya sama sekali berjalan-jalan di tengah desaknya orang-orang, dan di bawah teriknya sinar matahari. Ya Tuhan, apa yang telah aku perbuat? Aku macam orang yang sedang mengoleksi peluh saja.

Tubuhku sedikit terhuyung ke belakang, ketika merasakan manusia-manusia yang saling berdesakkan itu menyenggolku. Dengan cepat, aku menyeimbangkan tubuh. Tepat disaat itu juga, aku dapat merasakan tangan kananku tertarik.

Aku memandang si penarik tanganku itu dengan mata yang disipitkan. Ayolah, aku sama sekali tidak marah atas kehadiran orang ini, hanya saja…

“Kau baik?” tanyanya dengan suara yang teredam oleh kepala boneka beruang. Aku memandangnya dari atas hingga bawah, setelahnya aku baru menyadari bahwa sosok itu sedang terbalut dalam costume boneka beruang. Hih, mau-maunya orang ini memakai costume itu, untuk apa?

Aku mendongak, memandang tepat ke arah kepala beruang, kemudian membuka mulut. “Jangan sekali-sekali berbicara padaku, badut beruang. Aku malu.” Ujarku antara memprotes, tetapi juga malu. Setelahnya aku melengos pergi, meninggalkan ‘entah-siapa-orang-yang-berada-di-dalam-costume-boneka-beruang-itu’.

Beberapa menit setelah insiden boneka beruang itu, aku berhasil melupakannya, dan lebih tertarik untuk memperhatikan kegiatan para siswa dan siswi yang sedang mendirikan stand makanan. Perutku telah menjerit minta diisi, melihat daging burger yang di masak di penggorengan oleh para siswa itu membuatku tergiur.

Aku lapar. Jemariku menyusur ke permukaan perutku yang rata, lantas membalikkan badan untuk kembali menjaga stand kelasku. Mengingat bahwa uang yang kubawa hari ini tidak cukup banyak, dan aku sudah terlalu lama menelantarkan stand.

Terik sinar matahari kian menyengat kulitku ketika aku kembali melangkah menuju stand milik kelasku. Mataku kembali mengarah pada sebuah boneka beruang yang berjalan di tengah-tengah kerumunan siswa dan siswi. Aku mengerutkan kening. Merasa janggal dengan kelakuan si beruang.

Bukankah sekarang musim panas? Apa ia tidak merasa gerah berada di dalam boneka sebesar itu? Mengangkat bahu acuh, otakku kembali teringat bahwa sekolahku memang sedang melakukan kegiatanmengenai perayaan white day pada tanggal 14 Maret, itulah mengapa stand-stand setiap kelas telah berjajar di sepanjang susur lapangan hari ini.

Aku melihat boneka beruang itu membawa balon berbentuk hati. Ia bersusah payah berjalan di tengah-tengah kerumunan orang, sementara aku sudah tidak peduli lagi. Kini aku telah terduduk tenang di dalam stand kelasku yang berlokasi tepat disamping kolam taman sekolah.

Sebenarnya aku sudah cukup tenang dengan terduduk diam di stand kelasku, sampai kedua mata besarku menangkap siluet beruang itu… berjalan menghampiriku dengan satu tangan menggenggam tali balon berbentuk hati. Aku memalingkan wajah, berusaha meyakinkan diri bahwa beruang itu tidak sedang berjalan menghampiriku.

Seperti orang bodoh, aku bersiul-siul tidak jelas. Mataku bergerak-gerak gelisah memandangi pepohonan rindang, sampai sebuah suara debuman keras yang bersumber tepat di depanku itu menyita seluruh perhatian para siswa. Mau tak mau aku menyentakkan kepala ke arah sumber suara.

Beruang itu. Aku mendapati beruang itu sedang tengkurap di tanah, satu tangannya tetap menggenggam tali balon dengan erat, seolah balon itu memang sangat penting baginya. Antara ingin tertawa dan marah, aku memandangnya. Rupanya ia terjatuh.

Hening melanda seluruh penjuru lapangan, perhatian para siswa kini telah teralihkan pada sosok boneka beruang itu. Aku mengerutkan dahi ketika merasa bahwa beruang itu bangkit dari posisi terjatuhnya, lantas melangkah menghampiriku. Aku mengerjap heran, kemudian aku dapat melihat tangan beruang itu terangsur ke arahku.

Balon berbentuk hati itu. Rupanya ia menyodorkan benda berbahan karet yang diisi angin itu ke arahku. Seluruh perhatian orang-orang saat ini hanya dapat membuatku malu. Hello, siapa yang tidak malu jika sedang berada di posisiku saat ini? Di beri balon berbentuk hati oleh badut? Oh, itu memalukan.

Aku menerima balon itu dengan pasrah, rasanya aku cukup iba pada beruang ini. Aku cukup tidak tega melihatnya terjungkal, dan sekarang? Apa aku harus menolak balon pemberiannya? Well, meski aku masih tidak paham dengan maksudnya yang memberikanku balon berbentuk hati.

Hening masih setia memenuhi hawa siang ini. Terik sinar matahari seolah tidak peduli dengan keadaanku, ia tetap memnacarkan sengatan panasnya, membuat peluhku semakin membanjir.

Tak lama, aku melihat tangan beruang itu terangkat, melepas kepala beruangnya dengan sekali angkat. Menampilkan sosok asli yang ada di dalam costume boneka beruang itu. Untaian poni hitam menutupi matanya. Aku menyipitkan mata, kemudian terbelalak setelah mengetahui bahwa sosok itu adalah seorang pria.

Ketika pria itu menyibak poninya ke samping, barulah aku sadar. “Myungsoo-ah?!” jeritku tanpa sadar. Ya Tuhan, kenapa ia bisa berada di dalam boneka itu? Aku membekap mulut.

Pria itu tersenyum tipis, lantas berucap lembut. “Happy white day, Sayang. Semoga kita langgeng,” ia menarik pinggangku agar mendekat. Lantas mengurungku ke dalam pelukannya. Oh Tuhan, ia bahkan tidak peduli dengan tatapan-tatapan aneh para siswa yang menontoni kami. Dan lagi, ia tidak peduli juga dengan costume memalukannya itu, eoh?

Aku mengulas senyum, ikut-ikutan tak acuh terhadap penonton kami, lantas membalas pelukannya. “Happy white day too, Myungsoo-ah.” Kudengar kekehan kecil yang meluncur dari sela bibir kekasih beruangku.

.

.

/fin./

.

.

JANGAN ADA YANG BINGUNG! INI DRABBLE YANG KISAHNYA BERBEDA! Jadi, jangan ada yang bilang bingung “Kenapa Jiyeon yang bisu tiba-tiba bisa ngomong?” ini ceritanya per-drabble berbeda-beda oke? Ngerti gak? Please, jangan salah paham. Aku gak suka.

Krik. Maafin aku, lagi-lagi aku bawa FF pas SD yang berlumut di file laptop. Aku tau, ini semua ngecewain kalian. Maafin aku yaaa~ aku gak bisa memuaskan pembaca T^T

See you next time🙂

42 responses to “Season [Drabble Collection]

  1. Tdi sempat bingung, tpi pas balik lagi baca judulnya bru aku ngerti.
    Drablenya keren” thor,aku paling suka yang terakhir..
    Daebakk…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s