[Chapter 1] Belle in the 21st Century

belle-myungyeon

Belle in the 21st Century

kkezzgw art&storyline

 Cast:  T-Ara’s Jiyeon, INFINITE’s Myungsoo

Other Cast: SHINee’s Minho, miss A’s Suzy, and more (than 12)~

belle-cast-myungyeon

Genre: Romance, Marriage Life, Family, Friendship

            Rated: General

Length: Chapter

FacebookTwitter: ELF SONE YOONWONITED Blog:  keziagw kageweyoonwon Ask.fm

Disclaimer: FF ini terinspirasi dan di adaptasi dari series Disney Princess‘Beauty and the Beast’ (1991) yang akan diterjemahkan menjadi versi abad 21 dengan berbagai perombakan yang tetap berhubungan dengan cerita aslinya. Series pertama dari Disney Princess di abad 21 versi kkezzgw ini dimulai dari MyungYeon dan nanti akan dilanjutkan ke MinStal, TaeLli, dan seterusnya. FF ini sudah dibuat dalam berbagai versi. Mohon maaf untuk kesamaan cerita, alur, karakter, adegan, nama, maupun typo.

————————————————————————

 

—Cerita dalam chapter ini telah diperbaharui pada 23 Juni 2016. Reader baru maupun lama disarankan untuk membaca lagi untuk menghilangkan kebingungan di chapter-chapter berikutnya—

*

*

*

2012

Jaekyo International Holding Inc

“Breaking News on Economic Issues. Siang ini, pusat kota dipadati oleh ribuan buruh yang melakukan demonstrasi tepat di depan pabrik raksaksa Jaekyo Group. Hal ini disebabkan karena adanya kebijakan Pemutusan Hubungan Kerja yang dilakukan mereka pada dua ribu karyawan dikarenakan keputusan peralihan tenaga kerja manusia menjadi teknologi mesin. Namun keputusan itu berdampak serius dan fatal bagi kedua belah pihak, terbukti dengan jatuhnya nilai saham Jaekyo Group hingga menyentuh 20% selama tiga hari belakangan ini. Banyak pemegang saham yang memilih untuk kembali melempar saham mereka ke bursa efek atau sibuk meminta penjelasan panjang dari CEO Jaekyo Group. Sementara itu berbagai macam spekulasi terhadap kejayaan Jaekyo Group semakin dipertanyakan, terlebih juru bicara Jaekyo Group belum memberikan pernyataan resmi apapun-“

PRANG!

Layar TV 80 inch yang sebelumnya sibuk memberitakan berita terhangat selama seminggu ini kini pecah akibat lemparan gelas crystal yang menghantamnya beberapa detik yang lalu. Pria itu memijat pelipisnya yang terasa pening karena gelombang emosi yang menghantam kejiwaannya sejak kemarin tak kunjung mereda. Buku – buku jarinya memutih dan wajahnya memerah menahan emosi.

“Anda tidak apa – apa, sir?”

Kim Jong Woon mendesis, “Apa menurutmu aku baik – baik saja dalam kondisi seperti ini? Bagaimana aku bisa baik – baik saja jika para pendemo kurang ajar itu sukses menganggu saham perusahaanku dalam kurun waktu 24 jam?” jawabnya sinis dan berhasil membungkam bibir asistennya.

“Joesonghaeyo, sir”

Jaekyo Group adalah sebuah perusahaan industri terbesar di Korea Selatan, perusahaan ini sudah berdiri 50 tahun atau tiga generasi lamanya. Perusahaan yang membantu devisa negara hingga 10% ini jelas bukan perusahaan sembarangan, uang yang dihasilkan setiap tahunnya sangat melimpah dan siapapun tidak akan sanggup untuk tidak berdecak kagum jika tahu berapa nominal yang sanggup dihasilkan perusahaan tersebut dalam kurun waktu satu tahun.

Namun seminggu yang lalu, CEO dari perusahaan ini—Kim Jong Woon—memutuskan untuk memecat sekiranya ribuan karyawan di karenakan mereka akan menggunakan teknologi modern seperti mesin – mesin ataupun robot yang tentunya tidak sulit untuk didapatkan mengingat penghasilan perusahaan itu setiap tahunnya. Keputusan yang sangat membuat rugi ribuan jiwa itu jelas menimbulkan pro dan kontra, terlebih ribuan karyawan itu kini sedang berdiri di depan kantor mereka dengan banner – banner penolakkan yang begitu eye-catching untuk diliput para pencari berita, terbukti sejak kemarin kantor itu dipenuhi para wartawan yang hilir mudik di sekitar lobby sambil membidik kameranya untuk mengabadikan moment langka tersebut . Kini hampir setiap stasiun TV di negeri ginseng itu sibuk memberitakan tentang kejadian heboh yang sudah berlangsung dua hari berturut – turut.

“Lalu bagaimana dengan buruh – buruh sialan itu? Apa anak buahmu sudah melakukan pekerjaannya dengan baik?”

“Mereka berhasil mendapatkan apa yang anda minta, Tuan.” Ujar Lee Jungsik, asistennya.

Dengan ragu, sang asisten berjalan mendekati atasannya sambil membawa map berwarna hitam transparanyang langsung disambarnya. Kim Jong Woon segera membuka map itu dengan kasar, keningnya berkerut marah melihat beberapa foto – foto hasil penyelidikan anak buahnya. “Kami sudah merangkum profil lengkap ketujuh buruh itu, anda bisa melihatnya.”

Kim Jong Woon tertawa sinis setelah membaca profil ketujuh buruh itu. “Orang biasa seperti mereka berani melawanku? Bunuh mereka dan buat pembunuhan itu terlihat seperti kecelakaan kerja! Tak akan kubiarkan bedebah itu merusak kinerja perusahaan ini!”

“Tapi tuan, bagaimana kalau keluarga korban menuntut biaya asuransi? Bagaimana pun kasus ini akan dianggap sebagai kecelakaan kerja.”

“Bilang pada mereka kalau kecelakaan ini sudah merugikan perusahaanku, karena itu jangan berharap perusahaan ini akan mengeluarkan dana satu sen pun! Bawa pengacaraku bersamamu!” desisnya kejam.

Asistennya hanya mengangguk mengerti dan berjalan keluar ruangan.

**

“KEPARAT!”

PLAK!

Lee Jungsik hanya diam dan pasrah mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari Nyonya Park. Wajah wanita itu memerah menahan amarah, tangannya gemetar saat menggenggam amplop cokelat berisi gaji terakhir suaminya yang mengalami kecelakaan kerja sehingga kini terbaring koma karena gegar otak dan lumpuh.

“Kalian pikir kami ini apa?! Aku tidak butuh uang ini! Aku ingin suamiku kembali!” jerit Nyonya Park dan langsung melempar amplop itu ke wajah Lee Jungsik.

Sementara itu, seorang gadis dengan seragam sekolahnya hanya terdiam di depan pintu masuk, tangannya mengepal penuh amarah mendengar perkataan kedua utusan dari Jaekyo Group tentang ayahnya. Ingin sekali ia menghabisi mereka dengan kedua tangannya, namun melihat banyaknya bodyguard di dekatnya membuatnya mengurungkan niat itu.

Pengacara Jaekyo Group mengambil alih pembicaraan dengan sinis. “Nyonya, ini bukan sepenuhnya kesalahan kami. Ini kecelakaan kerja, kami sudah berusaha mengantisipasinya sedemikian mungkin tapi suami anda sendiri yang ceroboh”

“APA KAU BILANG?!”

Pengacara itu tersenyum miring sambil mendorong amplop itu kepada Nyonya Park. “Lebih baik anda terima ini, Nyonya, karena…perusahaan kami tidak akan memberikan uang santunan atas kesalahan yang suami anda lakukan. Suami anda sudah membuat saham perusahaan kami jatuh. Sudah untung kami masih berbaik hati memberikan uang ini,”

“KAU PIKIR KAU SIAPA!”

“Lebih baik anda mengambil uang itu dan tutup mulut anda,” pengacara itu memberikan kartu nama yang menunjukkan ia adalah seorang pengacara, “sebelum kami menuntut anda atas pencemaran nama baik perusahaan,”

Nyonya Park hanya berteriak – teriak histeris sambil memukul – mukul dadanya yang terasa sesak, foto suaminya yang berada dalam genggamannya ia usap seolah tak dapat menerima kondisi ini. “Kalian menyebut diri kalian manusia?! Tidak ada manusia yang pantas diperlakukan seperti ini oleh manusia lainnya! Kami memang miskin ta-tapi kami masih punya harga diri dan kasih! Sangwoo-ya……”

Sementara Nyonya Park sibuk menangisi suaminya, Lee Jungsik dan pengacara itu mulai beranjak pergi. Lee Jungsik terkejut begitu melihat gadis itu berdiri dengan mata menyala penuh amarah menatap keduanya seolah – olah siap menerkam. Namun keduanya seolah tak peduli dan hanya melewatinya begitu saja.

“Sangwoo-ya….apa dosa kita sampai kita mengalami semua ini….hiks…”

Gadis itu mengusap air matanya, menguatkan hatinya  lalu memeluk ibunya yang terlihat begitu terpuruk karena ini. “Eomma….”

“Ji-Jiyeon-ah, kau sudah pulang, nak?”

“Eomma…..wae-waegurae? Appa…appa wae?”

Mendengar pertanyaan putrinya, Nyonya Park kembali histeris dan langsung memeluk tubuh mungil anaknya. Di tengah hujan deras serta petir yang menyambar, kedua wanita Roxanne itu saling menumpahkan perasaan mereka, alam seolah ikut berduka bersama keduanya, ikut menjadi saksi kejamnya hukum terhadap kaum rendahan seperti mereka, keluarga Roxanne yang miskin namun berbahagia.

**

2015

Gadis itu berlari dengan kecepatan maksimal sambil sesekali mengatur nafasnya yang tersenggal, bahkan pandangan orang-orang yang memperhatikannya tidak ia pedulikan. Ketakutan yang ia alami kini jauh lebih penting dari segalanya.

“Berhenti di sana! Hei!” teriak sekumpulan pria berjas hitam dengan wajah sangar yang mengejar gadis itu seolah tiada hari lain untuk melakukannya. Seluruh kekuatan mereka dipacu sekuat tenaga, peluh sudah membanjiri kedua belah pihak namun aksi kejar mengejar di tengah teriknya matahari tidak memengaruhi mereka.

“Aish, aku harus lari kemana?” pekik gadis itu panik. Ia mengusap pergelangan kakinya yang memerah karena sejak tadi ia berlari dengan sepatu yang robek disana – sini. Begitu mendengar suara teriakan para preman itu, ia mengumpat pelan sebelum melepas sepatunya dan berlari bertelanjang kaki. Wajah cantiknya sudah pucat pasi, ia benar – benar takut jika ia harus mati di tangan preman – preman sialan itu.

Gadis itu seakan mendapat pencerahan saat melihat sebuah gang kecil di ujung jalan, terlebih ia melihat telephone box usang bertengger manis disana. Ia tersenyum lega lalu langsung berlari kearah gang dan masuk ke dalam box.

Ketiga pria itu semakin bingung melihat gadis yang mereka kejar berlari seperti angin. Mereka yakin gadis itu memang berbeda dengan gadis pada umumnya. Entah sudah berapa kilometer mereka berlari sejak mereka menangkap basah si gadis yang bekerja di sebuah coffee shop kecil di pusat kota, namun rasa lelah tampaknya tak dirasakan oleh gadis itu, tidak seperti mereka yang rasanya lebih baik mati dibanding harus mengejar gadis itu lebih lama lagi.

“S-stop…aku sudah tidak kuat…” ujar salah satu dari mereka tepat ketika ia berkacak pinggang seraya mengatur pernafasannya kembali.

Empat pria lainnya pun ikut menyerah, bahkan mereka langsung jatuh terduduk diatas aspal sambil membanting map yang sejak tadi mereka gunakan untuk menunjuk – nujuk gadis itu, “Gadis itu benar-benar…..mengapa ia bisa lari secepat itu?”

Pria itu menatap sengit kearah anak buahnya. “Diam kalian semua! Seharusnya kalian membantuku memikirkan caranya kita menjelaskan ini pada Boss!”

Sedangkan gadis itu kini bisa menghembuskan nafasnya dengan lega begitu melihat preman – preman itu memutuskan menyerah dan pergi dari sana. Punggungnya ia sandarkan pada dinding plastik itu dengan keringat dingin yang membanjiri sekujur tubuhnya, ia benar – benar ketakutan. Sekalipun ia pemegang sabuk hitam taekwondo dan ia lumayan ahli dalam judo, namun akal manusiawi dalam dirinya tetap mengeluarkan emosi panik dan takut yang membuatnya hampir gila.

Dengan kaki gemetaran ia keluar dari telephone box lalu berjalan menyusuri jalan setapak yang ternyata menghubungkannya ke jalan utama. Beruntunglah tidak ada yang memperhatikan penampilannya yang mirip korban bencana. Dengan gontai ia mendudukkan dirinya di halte bus yang saat itu terlihat sepi, ia menutup mukanya dengan kedua telapak tangannya ketika bulir air mata kembali membanjiri matanya.

.

.

BELLE POV

Kakiku benar – benar terasa sakit dan nyeri, terutama di bagian tumit dan pergelangannya. Selama seminggu ini para debt collector itu terus mengejarku, menemukanku dimanapun aku bekerja dan mereka kembali menghantuiku yang sampai saat ini masih belum dapat membayar lilitan hutang ayahku yang membengkak sejak beberapa tahun silam untuk biaya pengobatan ibuku.

Kutata kembali rambut maupun pakaianku yang terlihat berantakan dan kusut, kurenggangkan otot – otot kaki dan tanganku sebelum kembali masuk ke dalam cafe Sugar Momma, tempatku bekerja selama empat tahun terakhir ini. Aroma kopi serta vanilla langsung menyapaku hangat seperti biasanya, cafe ini cukup ramai saat makan siang. Aku hanya berharap tidak ada pelanggan yang menyadari karyawan cafe ini datang tanpa alas kaki.

“Jiyeon! Astaga, aku mencarimu sejak tadi dan kau kembali dengan penampilan yang…hmmm-”

Eunji menggeleng pasrah melihat penampilanku, aku pun hanya bisa tersenyum kaku menanggapinya. “Menyedihkan. Ya, aku tahu.” Desahku pasrah seraya memasang topi kerjaku kembali.

Eunji terkekeh geli. “Kau pasti melalui hari yang berat lagi, mukamu mirip seperti orang yang berjuang melewati badai.”

Aku hanya bisa mendengus jengkel. “Badai debt collector! Oh, aku bisa gila jika mereka terus mendatangiku!”

“Jadi para debt collector itu masih mengejar – ngejarmu?”

Aku hanya tersenyum pasrah sambil membersihkan cangkir dan piring dalam diam. “Ya begitulah, sebenarnya aku kabur dari mereka hanya karena tidak mau berkelahi di jam kerja. Nanti si nenek lampir itu mengoceh lagi!”

Eunji hanya tertawa sebelum berlari ke meja kasir untuk melayani pelanggan yang datang. Sugar Momma hanyalah salah satu coffee shop kecil di pusat kota, namun disinilah tempatku bisa mendapatkan uang dengan gaji yang cukup untuk mahasiswi dengan tingkat keterbatasan uang yang sudah tak tertolong. Aku bekerja disini dari jam satu siang hingga tujuh malam sebagai kasir dan pembuat kopi.

Tak lama Eunji muncul bersamaan dengan aroma hot dog serta kentang goreng menyeruak menusuk indera penciumanku.

“Makanlah, aku tahu kau belum menikmati jam makan siangmu,” katanya lalu menjejalkan tiga kentang sekaligus ke dalam mulutku. Aku terpaksa menutup mulutku menahan tawa tapi tetap menelan kentang – kentang itu dengan lahap. “Gomawo!” balasku gembira.

Aku sedang memasukkan beberapa tartlet ke dalam cake freezer ketika bel di pintu masuk cafe berdenting. Sontak aku langsung menunduk sopan, memberikan senyum sopan dan ramah terbaik yang kumiliki.

Mulutku nyaris mengaga lebar begitu melihat siapa yang berdiri disana sambil mengamati keseluruhan cafe. Astaga, ternyata pria – pria seperti ini memang ada dan nyata. Fisiknya sempurna, dengan perawakan tampan serta badan tinggi tegap, kemeja birunya memperlihatkan ketangguhan dengan dada bidang serta bisepnya menonjol tegas di balik kemeja itu, mata hitamnya menatap dingin menusuk tajam membuatku lupa cara bernafas. Kini pria dengan perawakan dewa Yunani itu berjalan kearahku, setiap langkahnya menunjukkan kebesarannya.

Aku meraih pulpen dan order slip,  lalu segera menghampirinya. “Annyeong hasimnikka…ada yang bisa saya bantu, tuan?”

Espresso please,” tanganku bergetar gugup mendengar suara bass-nya yang terdengar begitu dalam melewati bibir sexy-nya, menggelitik gendang telingaku. Aku tidak pernah seperti ini pada pelanggan, pria ini membuatku gugup dan melupakan sikap profesionalku.

“Ada yang lain, tuan?”

“That’s all.” Jawabnya ketus lalu mengambil gadgetnya dengan sikap angkuh yang membuatku muak. Astaga pria ini, untuk apa fisik sempurna jika kelakuannya sangat menyebalkan?

Aku mengantar pesanannya dalam waktu kurang dari lima menit, setelah itu aku berusaha keras mengalihkan pandanganku dari pria itu. Jam makan siang selalu menyita waktuku dan Eunji karena banyaknya pelanggan.

Ketika aku menoleh kearah mejanya, pria itu sudah pergi. Aku menghampiri meja itu untuk membersihkannya sebelum mataku terbelalak sempurna melihat apa yang berada di balik tissue.

Lima puluh won!? Aku tercengang tak percaya.

“Eunji-ya! Eunji-ya!”

Ia mengernyitkan keningnya penuh pertanyaan ketika aku menariknya ke dalam pantry, “Wae wae wae!?”

Yak, kau harus lihat tip yang kudapat sekarang,”

Mata Eunji pun ikut membulat begitu melihat jumlah tip yang berada di tanganku. “Kau serius? Salah satu pelanggan yang memberikanmu? Yang benar saja, untuk segelas kopi?

“Begitulah…”

“Dia pasti milyarder! Bagaimana mungkin ada orang yang rela ‘membuang’ uang sebanyak itu hanya untuk tip?!”

“Lumayan sekali, uang ini bisa kugunakan untuk membayar biaya rumah sakit ayahku,” jawabku penuh syukur, membayangkan sosok pria itu kembali membuat jantungku berdetak cepat. Oh sialan, sebenarnya kau memikirkan apa, Jiyeon.

Setelah itu kami kembali bekerja hingga jarum jam menunjukkan pukul tujuh malam. Sebelum pergi, aku sempat membantu Eunji membersihkan cangkir – cangkir dan mengepel beberapa sudut cafe. Jam dinding sudah menunjuk ke angka delapan malam ketika aku keluar dari cafe. Aku berlari kearah halte bus yang cukup ramai malam itu. Selama perjalanan pulang aku tertidur karena kelelahan, dan untuk kesekian kalinya tidak menikmati gemerlapnya kota Seoul dibawah langit malam yang bertabur bintang.

Aku-Park Jiyeon, hanyalah gadis biasa yang terlihat ‘biasa’ di usia 24 tahun. Putri dari keluarga kecil yang bermukim di Seoul dan dapat di kategorikan sebagai keluarga golongan rendah di tengah gemerlapnya kejayaan Korea Selatan. Ayahku dulunya adalah seorang buruh pabrik yang mengalami kecelakaan kerja, hingga saat ini beliau masih terbaring koma di rumah sakit. Karena itu juga, ibuku yang terlalu stress meninggal karena sakit berkepanjangan. Kini aku hidup sebatang kara, berjuang sendirian melawan kerasnya hidup.

Kecelakaan itu memang menghancurkan kebahagiaan keluarga kami, aku dan ibu terpaksa berhutang dengan jumlah yang besar untuk membiayai pengobatan ayahku yang tak kunjung bangun dari tidur panjangnya. Berbagai masalah yang kami hadapi membuat ibu jatuh sakit dan akhirnya menghembuskan nafasnya beberapa tahun lalu. Terlepas dari semua masalah keluarga, aku bersyukur dalam keterbatasan yang kumiliki kemampuanku bisa membawaku menembus tebalnya dinding Seoul National University melalui jalur beasiswa program Accounting.

Tiga tahun menetap di ibu kota tidak membuatku bisa bersenang – senang seperti gadis pada umumnya. Keterbatasan uang membuatku sibuk dengan part time job sambil menyelesaikan tugas di kampus. Aku bekerja keras untuk membayar hutang keluarga kami, namun hasilnya tidak pernah maksimal sekeras apapun kami bekerja.

Sesampainya dirumah, aku langsung memasak mie instant sambil mengerjakan tugas – tugas kampusku yang sempat terbengkalai karena aku terlalu sibuk dengan pekerjaan. Namun sialnya ketika aku memilih channel berita, munculah berita tentang satu perusahaan yang selalu membuaktu ingin marah setiap mengingatnya.

Jaekyo Industries

Mendengar nama itu saja sudah membuatnya muak. Berita itu memberitakan pengangkatan CEO baru untuk Jaekyo Group yang akan diturunkan kepada Putra Mahkota keluarga mereka dan mereka semakin penasaran dengan Putra Mahkota mereka yang tidak pernah menunjukkan batang hidungnya secara resmi.

Seketika mood –ku langsung memburuk, selera makannya pun hilang. Dengan jengah aku langsung mematikan TV dan aku tanpa sadar membanting remote-nya. Sialan, aku benar –

.

.

AUTHOR POV

Bahu Jiyeon lemas dan kepalanya terus menunduk dalam di mejanya. Ia tak berniat sama sekali untuk menyongsong hari ini dengan semangat, pikirannya terus teringat akan kondisi ayahnya yang semakin hari semakin memburuk. Terlebih tadi pagi seorang dosen memanggilnya ke kantornya dan memberi tahu nilainya mengalami penurunan drastis, dan perkembangan skripsinya tidak membuat para dosen pembimbing puas. Dosen itu mengingatkan bahwa bisa saja beasiswanya dicabut oleh dewan karena penurunan ini.

Ia tidak mungkin membiarkan beasiswa itu melayang! Pekerjaan part time yang harus ia lakukan memang sangat menyita waktu belajarnya. Ia hampir tidak ada waktu kosong hanya sekadar untuk bernafas.

Kuliah, uang, pekerjaan, rumah sakit, debt collector. Semua sukses membuatnya berada dalam fase frustasi yang berkepanjangan di usianya yang belum genap 24 tahun. “Jiyeon-ah!”

Jiyeon menoleh dan mendapati Naeun berjalan kearahnya. “Naeun-ah,” gumamku dengan suara sumbang.

“Hei, ada apa dengan wajahmu? Musim panas sudah berlalu tapi wajahmu masih terlihat gersang,” candanya.

“Very funny, Son Naeun

Naeun hanya terkekeh geli sebelum merangkul bahu Jiyeon. “Ada masalah apa lagi?”

“Hanya-masalah biasa, kau tahulah” ujar Jiyeon malas.

“Ah….bagaimana keadaan ayahmu? Apa dia sudah membaik?”

Jiyeon menggeleng seadanya. “Justru keadaannya memburuk. AHH! Aku benar – benar stress saat ini!”

“Bukankah kau sudah bekerja tanpa henti? Apa itu masih kurang?” tanya Naeun tak percaya.

“Uang yang kuhasilkan selama ini kugunakan untuk membayar hutang keluargaku. Entahlah…sepertinya aku harus mencari pekerjaan lagi yang dapat menghasilkan uang banyak..”

Naeun hanya merenung sambil berpikir, lalu senyum perlahan muncul di wajahnya, “Ah! Astaga….bagaimana aku bisa lupa”

Jiyeon menoleh heran, “Ada apa?”

Naeun tersenyum lalu mengambil ponselnya dengan wajah berseri – seri. “Aku teringat tentang pekerjaan yang temanku bicarakan kemarin, kau harus membacanya…ya semoga kau tertarik” ujar Naeun terdengar ragu.

Naeun segera memberikan ponselnya kearah Jiyeon yang dengan mata penuh ketertarikan membaca setiap kata yang tertulis disana. Namun senyum itu memudar digantikan gurat wajah tak percaya. “Naeun, kau menawariku pekerjaan seperti ini?”

“Jangan salah paham!” potong Naeun cepat, “Pekerjaan itu bukanlah pekerjaan seperti bayanganmu, percayalah padaku. Aku hanya malas untuk mengambilnya karena lamaran ini shift malam, aku tidak bisa. Lebih baik kau saja, apalagi kau bisa bela diri, tak akan ada yang berani macam – macam denganmu. Oh iya, tawaran ini berlaku untuk weekend.”

Mendengarnya penjelasan singkat Naeun, walaupun masih ada setitik keraguan di benaknya, namun ia benar – benar membutuhkan uang, sepertinya ia memang harus mencoba pekerjaan ini, “Baiklah, aku akan kesana besok malam. Gomawo Naeun-ah!”

.

.

BEAST POV

Aku berulang kali mengingatkan diriku sendiri untuk melupakan kebodohanku karena menyetujui ini. Semenyebalkannya rumah itu beserta segala penghuninya, aku tetap diwajibkan pulang sesuai dengan kesepakatan yang sudah kubuat sendiri. Hanya itulah yang menjadi motivasiku untuk tetap menginjakkan kaki disana.

Mobilku meluncur dengan mulusnya membelah padatnya jalanan Seoul di malam hari. Sepertinya aku harus menunda keinginanku untuk ‘bersenang – senang’ malam ini karena pria sialan itu akan membahas masalah peralihan kekuasaan Jaekyo Group ke tanganku.

Aku tersenyum penuh kemenangan. Akhirnya perusahaan ini akan menjadi milikku!

Begitu tiba di depan rumah, aku segera memberikan kunci mobilku pada salah seorang pelayan dan berjalan masuk dengan langkah berat. Atmosfer dingin dan kaku  kembali kurasakan. Melihat jam aku pun memutuskan untuk pergi ke ruang makan. Di meja makan seluruh keluarga ayahku sudah berkumpul disana menyantap hidangan mereka dalam keheningan, seperti biasanya.

“Apa matahari terbit dari barat hari ini? Myungsoo, apa ini benar – benar kau?”

Yoojung, adik tiriku yang selalu mengomentari apapun, adalah orang pertama yang menyapaku seperti biasa. Barulah ayahku dan yang lainnya ikut menoleh.

“Myungsoo, akhirnya kau datang. Makanlah bersama kami,”

Aku mendengus jijik mendengar suara Kim Hanna yang berusaha terlihat perhatian padaku. Aku hanya diam tak membalas sapaannya dan memilih duduk di samping Kibum, adik tiriku yang lain. Sejak pertama aku sudah menyadari tatapan membunuh dari ujung meja, tapi siapa perduli? Aku membenci mereka semua.

Suasana makan malam yang seharusnya menjadi ajang sebuah keluarga untuk berbincang hangat jelas tidak tampak di keluarga ayahku. Kami semua lebih senang berkutat dengan sendok dan garpu, bungkam dan berkonsentrasi memakan apa yang dihidangkan koki Italia di rumah ini. Hanya denting peraduan sendok garpu dan piringlah yang terdengar sejauh ini, lampu yang sukses menghangatkan meja makan tampaknya tak dapat menghangatkan suasana makan malam ini.

“Kau bilang ingin mengatakan sesuatu mengenai perusahaan. Katakan padaku, jangan terus menerus membuang waktu berhargaku disini.” Kali ini aku yang membuka suara, menatap langsung kearah ayahku di ujung meja.

“Kau pasti sudah dengar mengenai pemindahan kekuasaan ayah ke tanganmu,” katanya yang kutanggapi dengan menatapnya datar. “Lalu?”

“Dalam kondisi seperti ini, berhentilah membolos dan lakukanlah tugasmu sebagai General Manager dengan serius. Sudah saatnya kau berhenti bermain – main dan mengenalkan wanita yang bersedia menikah denganmu ke keluarga ini!”

Apa pria tua ini bercanda? “Ah…jadi setelah kau menghancurkan hati ibuku, kau juga berniat untuk menghancurkan kebebasanku?” tandasku menatap ayahku yang hanya menghela nafas lelah.

“Bisakah kau berhenti bersikap sinis pada ayahmu? Setidaknya untuk saat ini kita harus bekerja sama mempertahankan perusahaan peninggalan kakekmu.”

Aku meletakkan sendok dengan tenang, tetap menatap datar ayahku yang menatapku marah. “Lalu apa aku yang membuat perusahaan peninggalan kakek terancam bangkrut tiga tahun lalu?”

“KIM MYUNGSOO! Aku menyuruhmu fokus pada pabrik kita karena sebentar lagi kaulah yang berada di posisiku sekarang!”

Aku semakin malas mendengar kalimat – kalimat yang selalu kuhindari selama ini. “Dan sudah ribuan kali kubilang aku tidak berminat menikah sama sekali! Walaupun aku ingin memiliki perusahaan sialan ini, tapi aku lebih senang dan tidak peduli jika kaulah penyebab kehancuran perusahaan ini….Kim Jong Woon.”

“BERANINYA KAU!” Kim Hanna dan Yoojung memekik ngeri ketika ayahku melempar tongkatnya kearahku dengan wajah memerah padam menahan amarah. “Kau tidak peduli? Tidak, kau harus peduli! Mau tidak mau kau harus peduli, Kim Myungsoo! Kaulah penerus dari Jaekyo Group dan aku tidak mau tahu, kau harus segera membawa seorang gadis kehadapanku atau aku yang akan membawanya untukmu dan kalian harus menikah!”

“Jadi kau menantangku? Baiklah, bawa siapapun gadis itu! Tapi jangan harap ia akan sanggup menyandang status sebagi istriku dalam kurun waktu satu bulan. Ah, tidak, bahkan akan kupastikan ia akan segera menghilang dari hidupku dalam waktu satu minggu!”

Aku sudah muak berada di tempat ini, lebih cepat aku pergi lebih baik. “Jika tak ada lagi yang ingin kalian bicarakan, aku pamit pergi.” tukasku ketus lalu membungkukkan badan sebelum berjalan pergi meninggalkan ruang makan.

Aku bisa merasakan tatapan ayahku membakar punggungku yang menghadapnya sekarang, begitupun dengan dua anak dan istrinya. Mereka benar – benar memalukkan. Samar-samar telingaku menangkap pembicaraan mereka.

“Dad, are you okay?”

“Ya, aku tidak apa – apa, bukankah aku selalu seperti ini setelah berdebat dengan anak kurang ajar itu?”

Aku berdecak sinis. Memang siapa yang membuatku seperti ini?

“Aboji, lebih baik lupakan saja urusan tentang itu, kalau perlu aku akan menggantikan posisi Myungsoo sebagai CEO untuk Jaekyo Group. Aku rela belajar bisnis dibanding melihatmu seperti ini terus saat menghadapinya..”

Kibum dan kebaikannya. Dia memang tidak pernah berubah.

“Aku bukannya tidak mau kau menggantikan posisiku. Aku hanya ingin mengikat kakakmu untuk terus berada dalam pengawasanku, hanya menjadi CEOlah satu-satunya cara agar tindakan anak itu bisa kukontrol dengan baik.”

Aku tersenyum sinis mendengarnya. Tanganku terkepal menahan kebencian yang semakin mendidih membunuh perasaanku. Kim Myungsoo tidak bisa dikendalikan oleh siapapun. Hanya akulah pengendali diriku sendiri. Setelah ia menghancurkan keluargaku, ia ingin mengendalikanku?

Tidak ada siapapun yang dapat mengontrol hidupku.

 

AUTHOR POV

Angin musim gugur berhembus menerpa wajah tampannya yang tak kalah dingin dengan dirinya. Malam itu bintang terlihat bersinar begitu gemerlap ketika Myungsoo berdiam diri di taman rumahnya selama beberapa menit untuk menenangkan diri. Pertemuan dengan keluarga ayahnya selalu membawa efek buruk baginya, tidak pernah ada kebahagiaan atau kedamaian di dalam hatinya ketika melihat sang ayah bisa bebas tersenyum sedangkan ia tertpuruk sendirian dalam memori kelam yang tak pernah bisa ia lupakan.

Memutar pandangannya ke kiri, mata elangnya tak sengaja menatap sebuah tanaman bunga yang sangat dicintai mendiang ibunya, bunga mawar. Ia tersenyum getir begitu melihat mawar – mawar itu bermekaran dengan cantiknya di tempat favorit ibunya semasa ia masih hidup dulu.

Inilah yang biasa ia lakukan setiap hari jika mempunyai waktu, selama ini ia seperti robot yang gila bekerja, berangkat subuh dan pulang dini hari, itulah kebiasaan yang mulai ia terapkan sejak dua orang yang ia cintai meninggalkannya begitu saja.

Terkadang ia kembali mengingat setiap perkataan ibunya dulu. Waktu dimana ia masih mengerti bagaimana caranya melanjutkan hidupnya layaknya manusia normal, waktu dimana ia masih dapat tersenyum dengan bebasnya, waktu dimana ia bisa mencintai apapun yang ia suka dan cintai, waktu dimana tidak ada rasa benci yang melumpuhkan hatinya.

Myungsoo menggenggam besi kursi dengan kencang, kepalanya mendadak panas dan pikirannya sudah benar – benar kacau, sama seperti setiap ia mengingat ibunya dan melihat ayahnya. Tanpa pikir panjang, ia berlari kearah mobilnya untuk menuju tempat pelampiasan emosi kaumnya, yaitu club malam dan alkohol.

**

Jiyeon mematung di sebuah ruang ganti sambil memandangi gaun biru sepaha yang menjadi kostumnya untuk bekerja mulai hari ini. Ya, akhirnya ia memutuskan untuk menerima tawaran Naeun untuk bekerja di club malam mewah ini demi menyambung hidup sekaligus menambah penghasilannya. Ia hanya berharap keputusannya untuk bekerja part time di sebuah club malam ‘bawah tanah’ bukanlah akhir dari hidupnya. Dengan cepat ia segera berjalan ke meja rias dan mulai merapikan make up-nya yang sempat luntur terbasuh oleh air bening yang keluar dari matanya.

Suara pintu yang di ketuk pelan memecahkan keheningan ruangan itu, tak lama munculah gadis berambut hitam legam yang sebelumnya mengantarnya kesini.

“Perlu bantuanku?” tanyanya ramah.

Jiyeon tersenyum mengiyakan. Gadis cantik itu melenggang masuk ke dalam dengan pakaian yang sama dengan yang dikenakan Jiyeon. “Kau pasti habis menangis. Tak perlu terlalu dipikirkan, bekerja disini bukanlah sebuah aib yang berarti..” ujarnya santai.

Jiyeon memperhatikan gesture tubuh maupun wajah gadis cantik yang sekarang sedang mendandaninya, wajahnya terlalu polos untuk bekerja di sebuah club malam seperti ini, belum lagi matanya yang besar seakan semakin menunjukkan betapa lugu dan manisnya gadis ini. “Oh iya kita belum sempat berkenalan tadi. Suzy,” katanya mengulurkan tangan bersemangat, “…dan kau?”

Jiyeon tersenyum. “Jiyeon, Park Jiyeon.”

Ia mendesah senang. “Ah ya, Jiyeon! Hari ini kau bertugas di ruangan nomor delapan. Aku akan mengantarmu kesana karena kebetulan sekali aku bertugas di ruangan VIP nomor sembilan.”

Baru beberapa menit bertemu, Suzy sudah membuat Jiyeon nyaman berdekatan dengannya. Sepertinya mereka akan berteman baik setelah ini. “Done! Lihatlah kau sangat cantik walaupun hanya diberi polesan tipis” puji Suzy tulus.

Jiyeon memperhatikan dirinya yang tampak jauh berbeda dari biasanya, ia terlihat begitu cantik dan elegan dalam waktu bersamaan. “Apa ini benar – benar sosok Park Jiyeon?” tanyanya dalam hati sambil menatap intens pantulan dirinya di kaca.

Mereka pun berjalan beriringan menuju ruangan tempat mereka bekerja. Selama perjalanan dari ruang ganti menuju ruangan VIP yang dimaksud, mereka mengobrol bebas tanpa rasa canggung sedikitpun. Tak dapat mengelak jika banyak pria yang melihat mereka dengan baju minim serta aura kecantikan yang begitu terpancar jelas memancing birahi mereka. Namun mereka kembali di sibukkan pada pasangan yang mereka bawa ‘dari rumah’ untuk bersenang – senang di tempat ini.

“Jadi kita hanya melayani tamu dengan menuangkan minuman ataupun mengajaknya berbincang jika ia butuh teman?” tanya Jiyeon sedikit tak percaya namun mendesah lega. Naeun benar, pekerjaannya disini tidak untuk memuaskan pelanggan dengan makna lain.

“Begitulah, disini status kita hanya…hmm pelayan biasa. Untuk hal – hal berbau ‘melayani’ yang lain, mereka bisa langsung naik ke hotel diatas melalui lift khusus. Tenang saja, club malam ini terhitung cukup sopan. Terlebih kalangan tamu VIP, mereka cukup tahu aturan mengingat mereka rata – rata adalah para pengusaha atau tamu penting. Seperti yang kubilang, mereka akan langsung memesan ‘honeys’ jika hasratnya sudah tak terbendung”

“Lalu apalagi yang harus kuperhatikan?”

“Kau harus terlihat ramah dan selalu tersenyum, jangan dengarkan apapun perkataan mereka yang menyinggung. Anggap saja meraka sudah mabuk-well mereka memang mabuk, dan jangan sampai membuat tamu marah karena kita pasti akan mendapat hukuman dari boss.”

Jiyeon mengangguk mengerti lalu mereka kembali melanjutkan perjalanan mereka. “By the way, bela diri apa yang kau kuasai?”

“Aku pemegang sabuk hitam taekwondo dan sempat mempelajari kungfu sedikit, kau?”

Suzy tersenyum. “Kita sama! Well, sebenarnya aku sedang belajar judo.”

Tak terasa mereka pun sampai di depan sebuah ruangan yang ditutupi dengan tirai berwarna – warni yang terlihat sangat mengundang. Nomor ruangan dipasang tepat diatas ambang pintu. “Ini ruangannya. Jika mereka macam – macam, keluarkan kemampuan bela dirimu, fighting!” kata Suzy mengepalkan tangannya kearah Jiyeon untuk menyemangati teman barunya itu.

Jiyeon tersenyum tipis lalu kembali focus pada tirai di depannya. Ia menarik nafasnya dalam sebelu menyemangati diri sendiri. “Siapapun yang ada di dalam pasti ia adalah orang yang bermartabat. Ya, mind control…mind control…” gumam Jiyeon menyemangati dirinya sendiri.

Perlahan, ia menyibakkan tirai itu dan langsung disuguhkan dengan ruangan kelas atas dengan jejeran sofa melingkar berwarna maroon memenuhi ruangan. Di depan sofa terpampang TV 60 inch, kaca yang berada tepat di belakang TV itu adalah sebuah kaca besar yang menghiasi tembok belakang ruangan dengan pemandangan air yang dihias dengan berbagai lampu yang memantulkan warna neon secara bergantian. Coffee table panjang diletakkan di tengah ruangan bersama dengan botol – botol alcohol bertebaran bebas dan bau – bau aneh tercium di ruangan itu.

Gadis itu langsung memalingkan wajahnya malu melihat tiga pasang pria dan wanita sibuk bercumbu sedangkan pria lainnya tampak acuh dan hanya meminum vodka-nya secara teratur. Begitu pandangannya bertemu dengan Jiyeon, pria itu mengibaskan tangan kearahnya. “Kau pelayan kami hari ini ‘kan?”

Jiyeon mengangguk kaku lalu membungkuk. “Iya tuan, apa ada yang bisa saya bantu?”

Pria itu melirik teman – temannya dengan kesal lalu menendang salah satu dari mereka. Jiyeon ingin tertawa namun beruntungnya ia dapat menjaga sikap.

“What the hell, man?” gerutu pria itu.

“Pelayannya sudah datang, apa kau ingin menambah sesuatu?” tanyanya, terdengar sangat formal.

“Aish, pesan apapun! Lagi pula ini club malam-ku, Soohyun!” balasnya dengan kesal sebelum kembali mencumbui wanita bayaran di pangkuannya. Jiyeon mengernyit jijik melihat pemandangan seperti ini.

Pria itu-yang sepertinya bernama Soohyun-mendengus pasrah sebelum menatap Jiyeon dengan bosan. “Kalau begitu ambilkan kami Chateau Latour 1961 dan Dom Perignon. Bilang pada bartender-nya ini atas permintaan Kai.”

Jiyeon mengangguk mengerti. “Ada lagi, tuan?”

“Tidak ada, kau bisa pergi sekarang.”

Tak berniat menunda lebih lama lagi, Jiyeon keluar dari ruangan panas itu dengan wajah merah padam. Ia benar – benar tidak tahan mendengar suara desahan dan erangan tertahan memenuhi ruangan itu, ia heran bagaimana pria bernama Soohyun tadi bisa bertahan tanpa merasa terganggu. Atau mungkin ia sudah terbiasa?

Lalu apa urusannya denganmu? Batin Jiyeon menyuarakan pendapatnya. Benar, ini tidak ada urusan dengannya, disini ia hanya bekerja sebagai pelayan mereka. Untuk urusan pribadi atau hal berbau intim ia sepertinya harus membiasakan diri untuk menutup mata dan menyumpal telinga.

Hingar bingar club malam ini selalu menjadi destinasi para muda-mudi yang ingin menghilangkan penat kembali menyapa Jiyeon. Alunan lagu yang dimainkan oleh DJ, para pria buaya yang lupa keluarga dirumah, kaki – kaki jenjang yang sibuk menari di lantai dansa, serta bau alkohol yang bercampur dengan asap rokok menjadi pemandangan yang sudah lumrah untuk dinikmati di tempat ini.

Jiyeon mengernyit jengah, ia tidak pernah suka keramaian dan tempat menyesakkan seperti ini. Ia lebih suka membaca novel di kamarnya yang tenang dan damai sambil mendengarkan lagu klasik yang membangun suasana cerita. Jiyeon sangat ingin angkat kaki dari tempat nista ini, kebutuhan ekonomi-lah yang membuatnya terpaksa menyeret kakinya masuk kesini.

Jiyeon menghentikan langkahnya begitu melihat cermin besar di lorong itu. Gadis itu mengerjap panik ketika melihat eye shadow dan blush on yang mempercantik wajahnya terlihat sangat tebal. “Aish…mengapa ini terlihat sangat tebal? Aku tidak mau disangka wanita bayaran disini,”

Jiyeon melupakan sejenak tugasnya dan memilih membersihkan make up-nya. Dalam aksinya, sayup – sayup ia mendengar perdebatan panas sepasang pria dan wanita di belakangnya.

“Kau bilang apa? Putus?! Apa kau gila?!”

“Well, jika kau berharap kata ‘putus’ cocok untuk hubungan kita selama ini, aku hanya mengiyakan saja.”

“You just want to play with me, right? You take me for fun!”

“Aku heran mengapa kau masih perlu bertanya,”

“Kenapa?! Kenapa kau tiba – tiba membuangku? Apa kemampuanku di ranjang menurun?!”

Jiyeon mendengus jijik mendengarnya. Master and his mistress, memalukan.

“Aku hanya sudah kehilangan selera denganmu. Kau terus mengoperasi payudaramu hingga membengkak seperti pantat babi.”

“Kurang ajar! Kau juga menikmatinya, you brute!”

“Dan sekarang aku sudah muak dengan payudaramu apalagi denganmu. Pergi dari hadapanku sekarang juga!”

Setelah selesai merapikan make up-nya, Jiyeon pun kembali berjalan kearah tangga dimana bartender berada. Too bad…ia terpaksa harus melewati dua orang ini untuk mempersingkat jarak.

“Apa kau mendapat mistress baru sampai kau menendangku seperti ini?!”

“Kau tidak perlu tahu apapun tentangku.”

“Mungkin saja kemampuan ranjang mistress barumu tidak sebanding dengan kemampuanku memuaskan your damn manhood! Tunjukkan padaku seperti apa wanita sialan itu!”

“Shut the fuck up, woman!”

Astaga, wanita ini benar – benar menghancurkan martabat kaum hawa. Mendengarnya begitu menikmati menjadi seorang wanita simpanan para billionaire membuat Jiyeon muak, dan tanpa sadar ia terus mengamati keduanya.

Jiyeon tersentak setelah mengenali siapa sosok lelaki itu. Ia tak mungkin salah, ini pria yang ia temui kemarin, pria jelmaan dewa Zeus itu! Matanya mengerjap tak percaya dengan pemandangan di depannya, pria yang tingkat kedinginan serta keangkuhannya melebihi Gunung Everest itu terlihat jauh lebih tampan dan menggairahkan sekarang. Jiyeon termangu takjub melihat bukti lain keindahan ciptaan Tuhan di muka bumi.

Jiyeon mengerjap kaget ketika pandangan matanya bertemu dengan pria itu. Ia ingin mengalihkan pandangannya namun mata biru sapphire itu seolah menghipnotisnya, membuat Jiyeon seolah menyelami birunya lautan indah. Jiyeon bahkan tidak sadar kini jarak diantara mereka semakin menipis hingga pria itu berada tepat di depannya.

“Babe, what took you so long? I’ve been waiting for you,”

Gadis itu mengernyit heran. Bicara dengan siapa pria ini? Jiyeon menoleh ke belakang namun tidak mendapati siapapun. Dalam kondisi lengah ia kembali menatap ke depan dan terkejut begitu pria ini menarik tengkuk dan pinggangnya mendekat, menatap lurus ke matanya sebelum melakukan hal yang sangat tak ia duga.

Dia menciumku?!

Tubuh Jiyeon kaku dan matanya membulat sempurna, dunia disekitarnya seolah berpendar karena yang ia rasakan hanya genggaman tangan pria itu pada pinggangnya dan gerakan sensual di mulutnya yang ia rasakan saat ini. Keduanya saling bertatapan tajam di tengah pergumulan bibir mereka. Ciuman mereka langsung terlepas ketika tangan wanita di belakang pria itu menarik bahunya, menyisakan Jiyeon yang tercengang luar biasa di tempatnya.

“Bastard!”

PLAK!

Suara tamparan itu langsung membuat orang – orang memperhatikan mereka bertiga. Pria itu berdecak sinis sebelum menatap mantan mistress-nya jengah. “Hey, apa kau tuli? Jadi aku harus mengejanya sekarang? Aku muak denganmu, pig’s butthole!

“Asshole!” maki wanita itu jengkel sebelum pergi meninggalkan mereka.

Pria itu hanya menyeringai dingin lalu menatap kembali memusatkan perhatiannya apda Jiyeon yang masih tercengang. Ia memiringkan kepalanya sedikit, mengibaskan tangannya di depan mata Jiyeon. “Hey nona! Nona? Nona?! Hey! Ck, sepertinya ia benar – benar kehilangan jiwanya,”

Jiwa Jiyeon mulai terkumpul kembali, matanya langsung menatap lurus kearah mata biru itu. Dengan lancang, sang pria mengeluarkan selembar cek berisi 1 juta won dari dompetnya, lalu menyelipkannya di telapak tangan Jiyeon dengan santai. “Thank you.”

Bola mata Jiyeon menggelap menahan amarah. “Apa maksudnya ini?”

“Itu bayaranmu untuk ciuman sewaan tadi,” jawabnya santai sambil melirik jam tangan Rolex-nya, “sepertinya aku harus pergi sekarang. Bye!”

Pria itu berbalik dan melambai malas kearah Jiyeon. Namun sebelum ia melangkah lebih jauh, Jiyeon yang sudah meledak amarahnya langsung menyusulnya dengan langkah secepat kilat, meraih tangan pria itu, dan dalam sekejap mata tubuh pria itu sudah ia banting ke lantai kaca. Pria itu langsung meringis kesakitan namun hal itu justru membuat Jiyeon tersenyum senang.

“Sakit!? Kau punya kulit setebal tembok, jadi seharusnya itu tidak sakit,” ucap Jiyeon penuh sarkasme.

Gadis itu meremas cek di tangannya lalu melempar kearah muka pria itu dengan dagu terangkat tinggi. “Sebaiknya kau gunakan ini untuk biaya berobatmu.”

Mata birunya menatap Jiyeon tak percaya seolah – olah ia baru saja melihat hantu. “Apa kau sadar apa yang kau lakukan tadi?”

Tangan Jiyeon terkepal di samping tubuhnya. “Wanita yang anda anggap dapat di bungkam dengan 1 juta won ini sadar sesadar – sadarnya!” jawabnya marah.

“You really have no idea who I am.”

“A jerk who don’t have brain enough to handle his goddamn manhood! How close am I, Sir?” tandasnya berapi – api sebelum mengangkat kaki menjauhi pria itu bak wabah penyakit.

Lautan biru yang berada dimatanya seolah membeku ketika tatapannya menatap dingin kearah gadis itu. Tangannya mengepal sempurna ketika ekor matanya mendapati banyak mata memperhatikan dirinya sejak tadi. Jika sebelumnya ia tidak shock dengan kemampuan gadis itu, mungkin saat ini nasib gadis itu akan berakhir di ranjangnya detik ini juga. Ia mengusap bibirnya seraya tersenyum sinis. “Bibir yang menarik,”

“Yah Kim Myungsoo!”

Pria itu menoleh ketika mendengar namanya dipanggil oleh suara familiar dari belakang. Ia hanya mengangkat sebelah alis menatap sahabatnya itu. “Ada apa, Minho?”

“Aku melihat jalangmu bersama seorang anak Menteri disana, apa kau sudah memutuskannya?”

Myungsoo hanya tersenyum sinis. Gold-digger bitch, makinya.

“Ya, aku sudah bosan dengannya,” tandas Myungsoo lalu menyesap champagne milik Minho.

No wonder, aku heran mengapa kau bahkan tertarik dengan wanita bekas Kai itu.”

Myungsoo mengangkat bahunya tak peduli. “Ia mengirimiku pesan menawarkan dirinya waktu itu. Karena saat itu aku juga baru membuang Nahyun, aku menerimanya saja.”

Jackass,” umpat Minho seraya tertawa pelan. “Ah ya, apa kau kenal Sara? Playboy’s model, blonde, cup 36D-”

“Apa aku bahkan mengenalnya?”

“Sepertinya ya, karena ia menanyakanmu kemarin. Dia bilang kau semakin menggairahkan.”

“Oh ya?”

“Entahlah, aku sudah terlalu bosan melihatmu,” jawab Minho lelah, “Anyway, sepertinya kita harus kembali ke ruangan secepat mungkin. Taemin bilang pelayan ruangan kita hari ini sexy!

 

 

To Be Continue

A/N [2016/06/23] : Hallo readers sekalian! Jadi kalian pasti tahu aku vakum selama setahun karena terlalu cape ngadepin para readers yang nuduh FF ini plagiat FF lain. Karena itu aku memutuskan untuk merenung dan memutar otakku untuk tetap melanjutkan cerita FF ini walaupun dengan alur yang harus kuubah. Semoga perubahan yang ada disini berjalan kearah yang lebih baik, dan bagi kalian yang nuduh FF ini plagiat, semoga versi yang baru ini tidak bikin kalian nuduh saya lagi.

See you on the next chapter!<3

 

 

 

 

 

114 responses to “[Chapter 1] Belle in the 21st Century

  1. Pingback: (Chapter 3) Belle in the 21st Century – The First Meeting | High School Fanfiction·

  2. Pingback: [Chapter 2] Belle in the 21st Century – His Demands | High School Fanfiction·

  3. maigat jiyeon mimpi apa ya semalem bisa ketemu sama 2 cowok itu😂 kkkkkk
    kesian appa jungsoo😥 minyoung kok gitu banget sih😠
    myungsoo dikutuk? haha makanya jan kualat kkkkk😂 mangat ajalah ya buat ngilangin kutukannya😂 kkkkk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s