Pretend (Chapter 10)

FF Pretend new

Tittle : Pretend

Author : brownpills

Main Cast:

  • Park Jiyeon
  • Kim Myungsoo
  • Krystal Jung
  • Bae Suzy
  • Choi Minho
  • Kai

Lenght :  Chaptered

Genre : Romance, Family, Schoollife

Rating : PG-14

A/N : Pure of my mind. Also share in FFH. Don’t be a Plagiator!

WARNING! COMPLICATED PROBLEM!

.

.

Apa yang kalian lakukan ketika seseorang yang kalian benci menghilang?

Apa yang kalian lakukan ketika manusia menyudutkan kalian?

Apa yang kalian lakukan ketika harapan hanya tertinggal bekas luka?

Tetapi… bagaimana jika ternyata seseorang itu adalah sahabat dalam selimut?

.

.

Kisah ini menceritakan tentang keputus-asaan anak-anak orang kaya. Jadi, kalian harus siap dengan apa yang akan terjadi di dalam kisah ini. Mungkin menyenangkan atau malah mengerikan. Mau tak mau, bersiaplah.

.

.

Sore hari disaat salju pertama turun, kedua insan itu membisu dalam keheningan. Pada bukit dengan pepohonan kering, mereka bergulat dalam pikiran masing-masing. Tanah yang tadinya kecoklatan, kini terselimuti oleh salju berwarna putih.

Sesosok pria dengan kaos lengan panjangnya tengah duduk dengan kedua kaki sedikit menjulur ke depan. Meski pandangan pria itu menatap lurus, sebenarnya ia tengah mengawasi gadis di sampingnya.

Mungkin gadis itu tidak menyadarinya. Namun, detak jantung pria itu berdegub tak karuan. Ia dapat melihat gadis di sisinya tengah menahan rasa sakit.

Bahkan walau sebatas bisikan, ia dapat mendengar bahwa si gadis tengah merintih pelan. Hal itu meremukkan hatinya. Membuat urat nadinya terasa berhenti mengalir.

Tak lama kemudian, gadis yang terbungkus mantel kedodoran itu menyandarkan kepalanya pada bahu lebar milik pria. Sedikit menambah beban pada pria.

Tenggorokannya tercekat dengan kedua matanya yang terbelalak. Minho belum siap dengan semua ini. Dengan tangan gemetar, ia meraih pergelangan tangan milik Bae Suzy. Menariknya ke atas pelan-pelan seraya melepasnya.

Tidak sedikitpun gadis itu bergerak. Dia diam seolah semua persendiannya sudah tidak berfungsi.

Kepulan asap mulai keluar melalui mulut Minho. Dingin mulai menyerangnya. Kepalanya menoleh dengan enggan.

Dan di sanalah gadis itu berada. Terpejam lelap dalam kedamaian.

“Suzy,” desis Minho dengan suara parau.

“Sooji-ya!”

Uraian air mata mulai berjatuhan.

“Bae Suzy!”

Ia mengerti, teriakannya tak mampu membangunkan gadis dalam pangkuannya sekarang. Namun tidak peduli pita suaranya akan terputus, pria itu –Choi Minho- tetap berteriak dalam rintikan hujan salju.

-Banyak yang belum kuucapkan, seperti kalimat

‘Aku mencintaimu…’-

.

.

-Prev-

Jiyeon’s PoV

Aku percaya kalau kematian adalah sebuah akhir dan orang mati akan lenyap. Tapi bagaimana jika kematian itu bukan sebuah akhir?

-Quotes of You who Came From The Stars-

 

H-2 sebelum ‘kejadian’.

 

Gesekan antara spidol hitam dengan papan tulis putih mengusik telingaku. Seiring berjalannya tulisan yang dibuat oleh Guru Bahasa Inggrisku, aku menggores pena pada lembar kertas. Tak ada yang berani bersuara untuk kali ini. Masing-masing dari temanku yang duduk hanya mengunci mulutnya rapat.

Sesekali aku mencuri kesempatan untuk melongok ke bangku sampingku yang kosong, begitu pula dengan bangku depannya dan bangku paling depan. Jadi, ada tiga bangku tak berpenghuni di kelasku.

Gemaan bunyi bel tanda kelas berakhir membuyarkan lamunanku, menyentakkan semua teman sekelasku dari kegiatan mereka.

“Salinlah vocabulary ini, barulah beristirahat,” perintah Guru Boa.

Selesai memenuhi papan tulis dengan beberapa ratus kata, Guru Boa merapikan bukunya seraya memasukkannya ke dalam map besar.

“Sekian pelajaran Bahasa Inggris. Silahkan istirahat,” ucapnya.

Sonsaengnim!”

Suara nyaring seorang gadis menggagalkan niat Guru Boa untuk pergi dari kelas. Seluruh perhatian kini tertuju pada gadis dengan warna rambut merah menyala.

Fei hanya mengkomat-kamit bibirnya, bingung harus berkata seperti apa, “Ngngg—Bae Suzy—“

Tidak ada satupun yang berniat melepaskan pandangannya dari Fei, termasuk aku. Wajah kami sama, menegang dalam kerutan alis.

“—apakah dia sudah tidak ada?”

Hawa dingin menyelimuti kelas kami. Gerakan kecilpun tidak dilakukan. Penghuni kelas ini layaknya patung yang dipajang di museum.

Sebelah tangan Guru Boa menyentuh keningnya seolah ia tengah merasakan pusing kepala. Setelah menarik nafas dalam ia menghadap pada kami dan berkata, “Mungkin kalian belum mendengar kepastian kabar itu—“

Kalimat Guru Boa bagaikan halilintar yang akan meluluhlantahkan dunia.

“—akan aku beritahukan kepada kalian. Berita duka—“

Sulit sekali untuk menelan air liurku. Pandangan temanku tidak siap dengan apa yang akan dikatakan oleh Guru Boa.

“—kemarin sore nyawa teman kalian telah menghilang, yaitu Bae Suzy.”

Mulutku sedikit terbuka mendengarnya. Tercengang di tempat. Sebagian dari penghuni kelas ini ada yang terduduk lemas, sisanya berbisik dengan kawan sebelahnya.

Setelah itu aku dapat melihat duka di wajah Guru Boa. Guru yang masih muda itu menghembus nafas pelan seraya meninggalkan kelas kami dengan berat.

“Jadi kabar itu benar,” kata Nickhun tergagap.

“Mengapa Suzy pergi begitu saja,” kesal Naeun merengut.

“Bagaimana ini? Catatan Fisikanya masih ada di aku,” kali ini gadis imut bernama Eunji mulai berisak.

Pandanganku melirik sinis kepada mereka yang merengek seorang diri.

Ya! Park Jiyeon!”

Aku tau Fei yang berteriak seperti itu. Karena itu aku menoleh malas pada Fei yang sudah berdiri menatapku tak suka.

“Apa kau tidak berniat berkata apapun?” tanyanya sedikit emosi.

“Apa yang harus kukatakan?”

“Cih,” Fei mendecakkan lidah seraya menusukku dengan pandangannya. Gadis itu berjalan mendekati Nickhun dan Naeun yang bersebelahan.

“Seharusnya gadis itu merasa bersalah, aku benar bukan?” pertanyaan yang dilontarkan oleh Fei itu cukup keras untuk dapat kudengar.

Nickhun dan Naeun saling pandang tak mengerti, membuat Fei melirikku sekilas. Hal itu cukup memberi kode kepada mereka berdua. Sesaat mereka menoleh padaku, merasa tidak enak mungkin. Namun sedetik kemudian mereka mengangguk bebarengan.

“Apa yang kau maksud?” tanya Eunji polos.

Jujur saja, pertanyaan Eunji itu mewakili pertanyaanku.

“Seperti dongeng Sleeping Beauty, seorang penyihir membuat Putri Aurora tertidur selamanya. Ibaratkan saja itu adalah Park Jiyeon dan Bae Suzy,” jelas Fei begitu lancar.

Kepalan tanganku bergetar kuat di sisi rok. Sambil mengatur tingkat kesabaranku, aku menghampiri gadis rambut merah itu dan menatapnya garang.

“Kau menganggap akulah penyebab kematian Suzy?” geramku.

Suasana mulai memanas. Namun Fei hanya membalas pandangan berapiku dengan sorot matanya yang santai.

“Kau pintar juga,” sahutnya santai.

Jika bukan karena rasa sabar yang tersisa sedikit, mungkin aku sudah menarik rambut merahnya. Mencakar pipi mulusnya agar meninggalkan luka di sana.

Naman kutahan diriku sebisa mungkin. Bukankah aku sudah terbiasa diperlakukan tidak adil?

“Penyihir, menyingkirlah dari kelas kami,” ujar Fei masih menambahnya.

Nickhun, Naeun, dan Eunji sedikit bersimpati padaku. Namun mereka tidak berbuat apa-apa.

Mataku mulai berkaca-kaca karena menahan emosi. Aku menjawab semua bualan Fei dengan tatapan laserku. Merasa semua mata tertuju padaku, aku segera melangkahkan kaki menuju ke luar kelas.

.

.

Derap kakiku memantul saat melewati koridor sekolah. Dengan wajah memerah aku menggertakkan gigi gerahamku. Tidak hanya teman-teman satu kelasku, setiap orang yang kulewati selalu membisikkan sesuatu tidak jelas sembari melirikku dengan pandangan menjijikkan.

Setiap hentakan kakiku adalalah wujud dari pelampiasan amarahku. Saking kesalnya aku tidak sadar aku sudah berada di lantai dasar sekolah. Tempat yang begitu sepi.

Ekor mataku mengawasi setiap penjuru, tidak ada segilintir orang yang lewat. Kecepatan berjalanku sedikit menyusut menyadarinya. Namun ada suara berdecit yang cukup memekakan telinga.

Asalnya dari lapangan in door basket. Maka dengan was was aku memasuki lapangan yang cukup lebar itu dengan kedua ring basket yang berhadapan.

Sekujur tubuhku bergetar menangkap banyak bola basket yang berada di lantai tidak beraturan. Seseorang memainkan salah satu bola oranye itu. Dia, Kim Myungsoo. Tidak menggunakan jas hitam sekolah. Hanya kemeja putih dengan dasi yang sedikit merosot.

Rambutnya berantakan, mengkilap ketika lampu meneranginya. Pria itu berkali-kali mencoba memasukan bola basket ke dalam ring. Yang menjadikanku merasa sedih, ia tidak menyadari keberadaanku.

Ia terus memantulkan bola basket sambil berlari ke sana ke mari, tidak peduli meski kemejanya sudah basah terkena peluhnya, tidak peduli meski kedua kakinya akan patah. Intinya ia adalah kaca porselen yang sedang hancur menjadi serpihan kecil.

Ketika ia melakukan lay up, bola berhasil masuk dalam ring. Dan ketika itu pula, kakinya terkilir seraya tubuhnya membentur lantai dengan keras.

“Argh!”

Melihatnya kehilangan akal sehat, membutakan pandanganku. Bahkan setetes air mata sulit untuk keluar.

Perlahan aku menyeret kedua kakiku mendekatinya. Berdiri di hadapannya yang tengah terduduk di lantai. Ia-pun mengangkat kepalanya. Saat dari dekat barulah terlihat jelas. Ternyata pria ini memang terpukul.

“Kau terlihat lemah,” ujarku tak berbobot.

Dia mengabaikan perkataanku. Seraya beranjak berdiri, ia meraih bola basket dan memantulkannya kembali. Menimbulkan decitan-decitan pelan.

“Kau seperti ini karena Bae Suzy?”

Bola basket yang cukup berat itu melayang tak mengenai papan ring. Nafas Myungsoo berhembus secara kasar. Ia melihatku dengan pandangan yang sulit kuartikan.

“Aku— benar-benar merasa hancur sekarang,” sahutnya. “Aku merasa diriku orang paling bodoh di dunia ini.

Dan aku orang paling jahat di dunia ini, begitu?

Kini sedikit demi sedikit aku mulai paham. Antara Myungsoo dan Suzy—

“Pergilah, aku ingin sendiri,” perintahnya.

“Tidak ada gunanya menangisi orang yang sudah tidak ada—“

“Kau tidak mendengar ucapanku?!” suara beratnya memotong kalimatku. Mengejutkanku dengan bentakannya yang menggema. “Aku bilang pergi!”

Bibirku bergetar dengan urat nadi yang mengalir cepat. Denyutan di kepala begitu terasa. Aku berbalik dengan kasar, berniat meninggalkannya. Namun—

“Jiyeon,”

— langkahku tertahan.

“Kau tidak boleh melihat kondisiku yang seperti ini.”

—o0o—

H-1 sebelum ‘kejadian’.

 

Dalam gedung besar di lantai paling atas, sesosok wanita paruh baya dengan perhiasan glamour di leher dan pergelangan tangannya itu sibuk membereskan beberapa dokumen di atas meja kerjanya. Rambut pendeknya terlihat rapi. Baju yang ia kenakan limited edition, hanya ada sepuluh di dunia.

Eomma,” panggilku berdiri di hadapan mejanya.

Aku bagaikan angin yang berlalu. Wanita yang merupakan ibuku itu menghiraukan keberadaanku. Sesekali ia mengaitkan rambutnya yang menjutai ke balik daun telinganya.

Eomma,” kali ini suaraku lebih keras.

Mwoga?”

Tersenyum sinis mjendengar respon singkatnya.

“Katakan padaku, apakah eomma yang mencabut semua tawaran film yang kumainkan?” tanyaku tertahan. “Aaaa, tentu itu eomma, aku tidak perlu bertanya.”

Wae? Kau masih mau terlibat dalam film?”

“Mengapa eomma menanyakannya?! Tentu iya! Aku sudah menjalankan separuh episode dan eomma mencabutnya begitu saja?! Apa eomma sudah gila?”

“Hentikan ucapan kasarmu, Park Jiyeon,” ucap ibuku sembari membanting tumpukan dokumen di mejanya.

“Apa kau pikir semua ini kesalahan eomma?” tanyanya membuatku menaikkan kedua alis.

“Ingatlah, kau mendapat film itu karena eomma yang merekomendasikan. Begitu sebaliknya, eomma akan mengambil semua yang eomma telah berikan padamu.”

Penjelasannya membuat rahangku mengeras. Gigi gerahamku gemeretak satu sama lain.

“Apa eomma mencoba untuk menjatuhkan karirku?” geramku.

“Bukan menjatuhkan, justru membangkitkan.”

“Karena itu, kembalikan semua film yang kumainkan!”

Teriakanku yang menggema membuat ibuku terdiam sambil menatapku dengan pandangan khasnya.

“Jiyeon-a, kau ingin hidup dibawah kekuasaan eomma?” ucapnya agi-lagi membuatku heran, “Kau sudah besar, hiduplah mandiri. Jangan bergantung pada kekuasaan eomma—“

Ia berbicara seraya kembali meneruskan aktivitas awalnya membereskan lembaran-lembaran miliknya, “—wartawan hampir saja mengetahui kau mendapatkan peran utama karena bantuan eomma. Kini eomma akan meluruskannya. Kau harus memulainya dari awal—“

Sengaja ia menggantungkan kalimatya. Menatapku penuh arti, “—dengan usahamu sendiri.”

Bahuku merosot mendengarnya. Pandanganku memanas, tetapi sekujur tubuhku menggigil. Bahkan bibirku bergetar.

Sambil berusaha mengatur nada bicaraku aku berkata dan menatapnya tajam, “Setidaknya eomma meminta izin padaku terlebih dahulu—”

Ia mengangkat kepalanya. Memandangku dengan kerutan di dahinya. Dengan langkah berat aku membalikkan tubuh dan berkata,

“—karena aku menyukai acting.”

—o0o—

Hari H, ‘kejadian’ dimulai…

 

Sepasang mataku sudah lelah melihatnya. Loker yang berada di hadapanku kini penuh dengan coretan, aku hanya memasukan kunci loker seraya membukanya.

Tidak seperti dugaanku, ternyata mereka tidak menyentuh isi dalam lokerku. Aku menghela nafas dan mengambil satu botol di antara lima botol yang terjejer rapi di dalam loker.

Botol kecil berisi banyak pil itu kugenggam. Jantungku terasa mencekat membuat botol pil yang kugenggam terjatuh di lantai, menggelinding ke arah loker lain.

Dengan malas aku meraihnya sambil berjongkok. Menggenggamnya lebih erat. Ketika aku berdiri, mataku terpana melihat tanda nama yang tertempel di loker di hadapanku.

Mengikuti naluri manusiawi, aku menyentuh loker itu. Merabanya perlahan membuat loker itu sedikit terbuka.

Pupil mataku membesar. Aku tidak bermaksud membobol loker milik orang lain. Tetapi dengan sedirinya tanganku meraih buku bersampulkan merah muda di dalamnya. Menatapnya sejenak dan mulai membacanya.

.

.

Berbagai rak buku menjulang tinggi tertata rapi setiap deret. Di dekat kaca jendela yang memenuhi tembok terdapat sekumpulan meja dan kursi. Begitu pula di bagian tengahnya. Banyak kursi yang tidak dihuni, mungkin karena sudah memasuki jam sore.

Kuhempaskan tubuhku di salah satu kursi yang letaknya paling sudut, di mana di sebelah kursi ini ada seorang pria sedang menekuni sebuah buku dongeng. Pria itu menoleh mengerutkan dahi menyadari kehadiranku.

“Lanjutkan saja,” ujarku tidak berniat membalas tatapannya.

Ia mengangkat bahu acuh tak acuh sambil kembali bersitatap dengan bukunya. Ketika aku meliriknya, dapat kutangkap sebuah koin mungil di samping buku itu.

“Mengapa kau datang ke mari?” tanyanya membuka percakapan setelah lama hening, “Pasti ada hal yang mau kau bicarakan.”

Pria dengan rambut yang menutupi dahinya itu lantas membuka halaman selanjutnya.

“Bolehkah aku mengatakannya?” ucapku malah bertanya.

Jelas membuat pria itu menghentikan aktivitasnya sejenak.

“Ini mengenai Bae Suzy,” ujarku akhirnya.

Begitu nama itu meluncur melalui bibirku, ia langsung kembali melemparku dengan kedua alisnya yang terangkat.

“Aku turut berduka.”

Seringai dingin muncul di wajahnya.

“Kau pasti meledekku kan? Menganggap bahwa aku tidak tulus mengatakannya.”

Aniy,” sanggahnya. “Aku hanya heran, mengapa kau mengucapkannya padaku.”

“Choi Minho,” entah mengapa aku memekik.

Mwo?”

Pandangan kami bertemu. Bertukar pikiran satu sama lain. Tidak seperti Myungsoo yang melampiaskannya dengan ugal-ugalan, Minho –pria ini- menyimpannya rapat di dalam hati.

“Seluruh sekolah kini membenciku—” tiba-tiba aku mengatakannya begitu saja. “—mereka bilang aku ini salah satu penyebab dari kematian Suzy—“

Pria itu membisu tidak berkomentar. Membiarkanku mencurahkan isi hati.

“—mereka mulai menggangguku dan menyalahkanku. Awalnya aku tidak terima. Tidak masuk akal jika Suzy meninggal hanya karena perlakuanku padanya, benar bukan?”

Tenggorokanku tercekat. Sepasang mataku berbinar dengan kilauan air mata, aku menahannya.

“Tetapi—“

Aku mengggantungkan kalimatku, membuat Minho memandangku meminta penjelasan.

“—aku rasa mereka ada benarnya. Aku ini tidak memikirkan perasaan orang lain. Hal terakhir yang kuucapkan pada Suzy saat itu—sungguh tidak bisa dimaafkan.”

Air mata meleleh di pipiku. Untuk pertama kalinya aku menangis di hadapan seseorang. Masih menahannya namun terasa sesak di dada.

Mwo? Apa yang kau katakan?” lirih Minho.

“Aku menyuruhnya untuk tidak muncul kembali di hadapanku—“

Dalam padangan kaburku aku melihat Minho membulatkan matanya. Sementara aku berisak dalam kesakitan.

“—aku memang jahat bukan?”

“Mengapa kau seperti ini?” jelas Minho bertanya heran melihat sikapku yang rapuh tak seperti biasanya, “Apa yang terjadi?”

Tanganku yang gemetar mengeluarkan sebuah buku berbungkus merah muda. Meletakkannya di atas meja dan menggesernya tepat di hadapan Minho.

“Aku membaca diary milik Suzy,” ujarku kini disertai tangisan pecah.

Perlahan Minho menyentuh buku itu. Ia tidak membukanya hanya memandangnya kosong.

“Kini aku tau siapa itu penyihir yang membuat Putri Aurora tertidur. Penyihir itu adalah aku.”

Kalimatku yang bercampur suara serak mengisi perpustakaan yang sudah sepi. Berkas cahaya matahari menyirami wajahku yang basah terkena air mata. Hidungku memerah penuh dengan ingus.

“Aku pantas dihukum. Aku lelah, aku ingin istirahat…”

Minho terpengkur tak bisa berucap. Dengan rasa pusing yang menyerang kepala, aku beranjak berdiri meninggalkan pria itu. Melangkah lunglai tak tentu arah. Meniti setiap anak tangga menuju atap sekolah.

 

Rencana Hidup.

2014, July 14th

Yeoudoi Park adalah tempat penuh dengan warna merah muda. Aku menyukainya. Hari ini aku menghabiskan senja di sana bersama Minho.

 

Tetesan air mataku tak dapat berhenti mengalir. Seiring langkah kakiku menaiki anak tangga, seiring luka membekas dalam hatiku. Mengingat tiap rangkain kalimat dalam buku harian Suzy, menguak celah besar di hati.

 

2014, July 20th

Tidak ada harapan. Tidak banyak waktu yang tersisa. Aku sudah merasa mati di dalam kehidupan.

 

Terpaan angin salju menyambutku saat tiba di atap sekolah. Dinginnya menjalari sekujur tubuhku. Menusuk tulangku hingga terasa pegal.

 

2014, July 31th

Hari terakhirku di sekolah. Mencoba merekamnya dalam pikiranku agar tidak melupakan sekolah ini. Gadis itu rupanya masih membenciku. Entah cara seperti apa yang harus kugunakan, dia tetap menganggapku sebagai saingannya. Karena itu, aku tidak sempat mengucapkan selamat tinggal padanya.

 

Matahari yang mulai terbenam di ujung cakrawala, mendatangkan gelapnya malam pekat. Kerlap kerlip Kota Seoul sedikit terlihat dari atap sini. Perlahan kedua kakiku menaiki pembatas atap. Berdiri tegap dengan sekujur tubuh yang gemetar.

 

Hidup dalam kepura-puraan.

Hidup memakai topeng senyum dan tawa.

Aku tidak ingin hidup seperti ini.

 

Es salju mengeringkan cairan bening yang mengisi relung mata. Penglihatanku tidak berani melongok ke bawah. Kepulan asap keluar melalui bibirku.

 

Aku merindukannya. Aku ingin bertemu dengannya dan meminta maaf padanya.

 

 

Berat rasanya berdiri di tempat yang tinggi. Jiwaku akan terenggut dari jasadnya. Nafasku akan berakhir hembusannya. Nadiku juga tak sanggup untuk terus berdenyut. Kemudian sepasang mataku sayup-sayup tertutup perlahan seraya menghempaskan tubuh membelah salju yang turun.

 

Andwae!”

 

Pekikan yang menggema itu membelalakan kedua mataku. Menyadarkanku dari sihir astral dalam pikiran. Aku masih merasakkan udara berada di sekitarku. Jantungku masih berdegup pula.

 

“Arrgghh.”

 

Suara melengking itu kembali terdengar. Sesaat dunia terasa berhenti berputar bagiku hingga kugelengkan kepalaku dengan keras dan memaksa untuk mendongakkan kepala.

“Krystal?”

Tenggorokanku kering saat menyebut nama gadis yang tengah merintih itu.

“Akh!”

Ia mengerang sambil mencengkram kuat pergelangan tanganku. Tidak peduli dengan lengan kanannya yang terasa perih dia tetap menahanku, membuat tubuhku melayang akibatnya.

“Apa yang kau lakukan?!” bentakku.

“Seharusnya aku yang bertanya. Apa yang kau lakukan? Apa kau sudah gila?!”

“Lepaskan aku atau kau ikut mati bersamaku,” ancamku.

“Lebih baik kita jatuh bersama.”

Rintikan benih salju mengguyur tubuhku dan tubuhnya. Melalui genggaman Krystal aku dapat merasakan dirinya menggigil. Gadis dengan rambut tergerai itu selalu membuat hatiku terpana.

“Apa hubungan kita begitu istimewa? Hingga ingin membuatmu mati bersama?!” cetusku kesal bercampur keheranan apabila Krystal tak kunjung melepaskannya.

“Sudah kubilangkan, kau itu adalah temanku. Dan teman adalah hal yang istimewa. Apa kau tidak mengerti, Park Jiyeon?!”

Aliran urat nadiku tertahan. Mulutku menganga mendengarnya. Kalimat yang ia ucapkan mampu membuat tubuhku semakin lelah.

“Akh,” Krystal mulai terlihat lelah.

Semakin lama cengkraman tangannya mengendor. Sulit bagiku untuk menghirup atau menghela nafas. Begitu pula dengan Krystal. Pernafasannya tidak teratur. Keringat melalui pelipisnya. Bibirnya memucat.

Rasanya tak tahan mengamati wajah gadis ini. Berusaha diriku melepaskan telapak tangan Krystal. Namun secepat kilat, ia kembali menahanku. Bahkan mencoba menarikku. Tetap saja kekuatan seorang gadis akan kalah dengan gaya tarik bumi.

Waktu seperti melambat begitu Krystal kehabisan tenaga. Yang membuatku merasa tertikam adalah cengkraman gadis itu tidak akan lepas dari pergelangan tanganku. Karenanya perlahan sebagian tubuhnya akan menembus angin—bersama diriku.

 

Setelah ini, aku tidak perlu menderita.

Kedamaian yang selalu kuimpikan akan terwujud.

.

.

Keajaiban memang tidak terjadi pada Suzy. Mungkin saja keajaiban itu berpihak pada Jiyeon dan Krystal. Tidak bisakah keajaiban berpihak sekali saja pada mereka?

to be continued~~~

:” huehueee *abaikan*. Hara akuin keterlambatan Hara dalam memposting FF ini. Dan yg Hara lakuin hanya bisa meminta maaf. Hara meminta tolong pada kalian untuk memakluminya. Kenapa? Hara baru saja masuk SMA *curcol* dan tugas sudah mulai menumpuk *gegara kurikulum 2013*. Hara tidak berbohong, di sekolah, persaingannya ketat. Ujung-ujungnya Hara memaksa mengurangi jam untuk membuat FF, apalagi nyantol wifi -__-.

Tentu Hara sediiihhhhh, tidak tepat posting FF, tidak bisa bertemu raeders, tidak berbaur dalam dunia FF, intinya Hara gamal (galau maksimal). Ya tapi apa daya, Hara juga manusia biasa yang memiliki aktivitas keseharian di dunia nyata. Karena itu Hara minta kemakluman dari kalian semua, pleasse… Hara juga udh berusaha tetap melanjutkan FF dan memposting secepat yang Hara bisa.

Back to FF, what happen? Uri Jiyi and Ital??? Kepo kaann? *ceria balik lagi di Hara* lanjuutt di Chapter 11 *proses*. Thanks for everything my lovely readers🙂

I Chapter 11 Myungsoo’s PoV COMING SOON I

70 responses to “Pretend (Chapter 10)

  1. Huaaa hiks hiks baca part ini bikin aku nangis kejer,,,
    Apa krystal sma jiyeon juga bakalan mati kaya suzy, brarti ff ini sad ending donk,, huaaa aku paling bnci sma sad ending,

  2. suzy sudah meninggal,ya??
    suzy ternyata sayang sama jiyeon,ya…
    kesian lihat minho…dia ndak sempat ungkapkan isi hatinya sama suzy..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s