Pervert Jiyeon —{2nd Scene}

Pervert Jiyeon-2

Pervert Jiyeon —{2nd  Scene}

By Yaumila

| Main cast Park Jiyeon – Oh Sehun |

| Support cast Shin Hyeri – Kim Jong In – And other’s | Genre School Life, Romance | Length Main Chapter |

| Rating PG-17 |

 My Blog : http://yaumila.wordpress.com

Previous part : [Prologue] – [1]

Disclaimer :

All of story is mine. So, don’t be plagiarism!

Copy-Paste is not allowed!

.

.

.

 

Aura yang melingkup antara Sehun dan Jiyeon terasa sangat aneh. Terutama Sehun, ia yang dalam situasi ini menjadi seorang korban ingin sekali melarikan diri sejauh mungkin. Kemanapun. Asalkan tidak bertemu dengan Jiyeon. Namun ia bukanlah pemuda tidak bertanggung jawab yang akan meninggalkan pekerjaannya begitu saja. Akhirnya ia harus menekan rasa malunya itu hingga tugas mereka—menyusun buku selesai.

Tapi anehnya Jiyeon malah bersikap biasa saja seolah tidak terjadi apapun diantara mereka berdua—menurut Sehun. Perlu diingatkan, gadis itu baru saja menyentuh ‘benda’ berharganya beberapa waktu yang lalu. Tapi melihat Jiyeon bersikap seperti itu membuat Sehun sedikit kesal. Sehun juga tidak tahu pasti apa yang membuatnya kesal saat ini. Ia hanya merasa seperti seorang gadis yang telah direnggut paksa keperawanannya. Baiklah ini terlalu berlebihan. Namun sang tersangka yaitu Jiyeon hanya bersikap acuh—yang Sehun yakini ia hanya berpura-pura saja. Dan bahkan ia tidak meminta maaf atas apa yang telah ia lakukan,  meskipun Sehun tahu ini bukanlah faktor kesengajaan.

Bagaimana pun ini adalah salah Jiyeon. Andai saja ia tidak berlari maka adegan ‘sentuh-menyentuh’ tidak akan pernah terjadi. Tapi itu sudah berlalu, dan Jiyeon juga sudah terlanjur menyentuh miliknya. Tidak mungkin jika Sehun meminta Jiyeon untuk melupakan kejadian tadi dengan menyentuh ulang miliknya. Itu gila namanya.

Sementara itu Jiyeon sedang berusaha untuk bersikap acuh. Ia mencoba berkonsentrasi dengan menyusun buku-buku itu ke dalam rak. Rasanya ia ingin sekali menubrukkan kepalanya pada rak dengan sekencang-kencangnya akibat ulah cerobohnya. Namun mengingat efek yang akan timbul setelah ia melakukan hal konyol itu ia mengurungkan niatnya—karena rasanya pasti akan sakit sekali. Kejadian tadi sangat jauh dari prediksinya. Meskipun harus ia akui Sehun—beserta material lain yang membentuk wujud tubuhnya itu berhasil menarik perhatiannya, tapi ia tidak sebejat itu hingga menyentuh salah satu dari anggota ‘tubuhnya’ dengan sengaja.

Jiyeon mencoba mencuri lirik ke arah Sehun yang sedang menyusun buku di bagian atas rak. Ia ingin sekali meminta maaf atas kejadian tadi, tapi ia juga bingung bagaimana memulai percakapan yang sebenarnya sangat aneh untuk dibicarakan antara manusia berlawanan jenis seperti mereka. Keningnya mengerut karena otaknya yang tidak bisa dibilang pintar berusaha menemukan bagaimana cara agar ia bisa meminta maaf kepada pemuda yang sedang berdiri tidak jauh darinya. Tentunya dengan cara yang seharusnya. Dan normal.

“Ehm.” Jiyeon berusaha menelan salivanya dengan susah payah untuk membasahi kerongkongannya yang terasa kering. Tindakannya tadi berhasil mengalihkan perhatian Sehun padanya. Meskipun hanya 2 detik.

“Hmm, Sehun…”

“Apa? Selesaikan dulu tugasmu baru bicara.” Sehun berbicara dengan suara dan wajahnya yang teramat datar dan kembali mengacuhkan Jiyeon.

Jiyeon menggigit bibirnya mendengar penuturan Sehun. Secara tidak langsung pemuda itu sudah menegaskan bahwa ia tidak ingin berbicara padanya saat ini. Jiyeon akui ia patut dilimpahi kesalahan akibat sikapnya yang ceroboh hingga merugikan orang lain. Dan orang lain itu adalah Sehun. Dan yang lebih fatal tangannya tidak sengaja menyentuh sesuatu yang ada di balik celana pemuda itu. Sebenarnya kata menyentuh terdengar berlebihan untuk Jiyeon. Karena tangannya hanya menempel sekilas. Jadi ia lebih suka jika ia secara tidak terduga telah ‘menyenggol’ kepunyaan Sehun.

“Aku hanya ingin meminta maaf atas kejadian tadi, itu benar-benar di luar kendaliku.”

Sehun sempat terdiam sejenak dari kegiatannya, gadis itu to the point sekali. Jiyeon memandangi sosok jangkung yang ada di hadapannya dengan gelisah. Ia meremas buku yang ada di tangannya karena tidak mendapatkan respon.

“Sudah kubilang selesaikan dulu tugasmu.” Sehun kembali menyusun buku itu dan mencoba untuk menghiraukan Jiyeon.

“Kenapa? Aku hanya ingin meminta maaf atas kejadian tadi.”

“Baiklah, aku memaafkanmu dan mari lupakan kejadian itu.” Sehun buru-buru memotong ucapan Jiyeon, ia berusaha sebisa mungkin untuk menghindari pembicaraan ini—karena akan berlanjut lebih panjang. Hal itu hanya membuatnya terus mengingat potongan adegan antara ia dengan Jiyeon, dan itu membuatnya sangat sangat tidak nyaman. Jadi ia memilih jalan aman untuk tidak berbicara sama sekali.

“Tanpa kau suruhpun aku akan melupakannya.”

“Baguslah.” Jiyeon mencibir diam-diam ke arah Sehun. Untungnya pemuda itu tidak menyadari apa yang Jiyeon lakukan.

“Lagipula reaksimu itu berlebihan sekali, seperti tidak pernah disentuh saja.” Mendengar perkataan gadis itu secara refleks buku yang ada di tangan Sehun meluncur jatuh ke lantai dengan bunyi debuman yang tidak terlalu keras.

Sehun cepat-cepat mengambil buku tadi dan menghadapkan wajahnya ke arah Jiyeon yang sedang menatapnya juga. “Bagaimana bisa gadis sepertimu bicara seperti itu?!”

“Bukankah hal seperti itu biasa bagi pemuda sepertimu?” Jiyeon menelengkan kepalanya ke arah Sehun saat pemuda itu sedang tersedak air liurnya sendiri. Oh Sehun ini, berlebihan sekali reaksinya.

“Selesaikan ini dan jangan bicara lagi. Terutama mengenai hal yang kau ucapkan tadi.”

“Ya ya, aku mengerti. Kau tidak nyaman ya karena membicarakannya dengan seorang gadis?” Sehun menghembuskan napasnya kasar. Gadis ini benar-benar.

“Diam.” Ucapan itu langsung membuat Jiyeon diam. Dalam 5 menit.

“Tadinya kupikir kau tidak akan memaafkanku hingga aku bertanggung jawab atas tindakanku dengan cara menikahimu. Bodoh sekali.” Jiyeon tertawa mendengar ucapannya sendiri. Mana mungkin seorang pemuda melakukan hal itu.

Jiyeon melihat Sehun dalam keadaan mematung, dan tak lama wajahnya berubah menjadi merah—meskipun tidak terlalu kentara.

“Kau benar-benar berpikir seperti itu?!”

Sehun menutup matanya dengan erat. Gadis ini membuatnya kehilangan harga diri dalam satu hari.

 

***

 

Hari ini Jiyeon pulang lebih sore dari biasanya, karena ia harus piket terlebih dulu. Ini adalah hari penyiksaan untuknya. Setelah ia mendapat tugas dari Mrs. Kim untuk membereskan buku yang ada di perpustakaan, ia juga masih harus menjalani tugas piketnya. Sebenarnya ia hendak mangkir dari tugas mingguannya itu, namun sang ketua kelas sudah siap menunggu di dekat pintu dan memantaunya hingga ia selesai membersihkan kelas.

Bicara tentang tugas di perpustakaan, ia jadi teringat percakapannya dengan Sehun. Pemuda itu selalu bisa membuatnya tertawa meskipun tidak melakukan hal apapun. Meskipun ada kejadian tidak mengenakan di antara mereka, namun Jiyeon merasa lebih nyaman dengan Sehun. Semoga saja pemuda itu tidak berusaha menjauh darinya. Mengingat mungkin ucapan atau perilakunya membuatnya tidak nyaman—bahkan mungkin terganggu. Tapi Jiyeon ingin tetap dekat dengannya, entah karena apa.

Dipersimpangan jalan ia melihat seseorang yang tengah berdiri dengan tingkah mencurigakan. Jiyeon memicingkan matanya untuk memperjelas penglihatannya. Orang asing itu melongokan kepalanya ke sembarang arah seperti sedang mencari sesuatu. Jiyeon yang memang bukan gadis pada umumnya malah berjalan ke arah orang asing itu, bukannya lari untuk mengamankan diri. Siluet orang itu menjadi lebih jelas saati Jiyeon berjalan mendekatinya. Dan sepertinya ia seorang pemuda jika dilihat dari cara berpakaiannya dan tingginya yang menjulang.

“Apa yang kau lakukan disini?” Jiyeon menepuk pundaknya dengan cukup keras hingga membuatnya terlonjak kaget. Lalu ia membalikan tubuhnya dan langsung berhadapan dengan Jiyeon. Wajahnya tidak terlihat jelas karena tertutupi masker. Ia segera melepasnya dan tampaklah wajahnya yang bisa dibilang tampan. Jiyeon menilik penampilannya dari atas ke bawah.

“Kau tidak terlihat seperti maling, sedang apa berdiri di pinggir jalan seperti ini?” Pemuda itu tersenyum sekilas mendengar ucapan Jiyeon.

“Aku sedang mencari alamat, kau bisa membantuku?” Jiyeon terdiam sesaat setelah mendengar permintaan pemuda di hadapannya. Tapi ia akhirnya menerima sebuah kertas yang ia ulurkan. Lagipula ini masih sore, tidak mungkin orang ini berbuat aneh-aneh terhadapnya. Langit masih terlalu cerah untuk mendukungnya berbuat jahat.

“Memang ini rumah siapa jika aku boleh tahu.”

“Itu rumah orang tuaku, aku baru tiba dari Amerika tanpa memberi tahu mereka. Jadi tidak ada yang menjemputku.”

“Oh. Tunggu, rumah ini persis di samping rumahku. Beruntung sekali kau bertemu denganku disini.” Pemuda itu menyernyit pada gadis yang tidak lain adalah Jiyeon karena terlalu banyak bicara.

“Bisa kita pergi sekarang? Aku ingin cepat-cepat istirahat.” Pemuda itu berkata dengan nada sedikit kesal.

“Baiklah, ikuti aku.”

***

 

Hari ini Jiyeon bangun lebih siang dari biasanya, setelah meminum air—yang entah apa namanya dari Ibunya. Tidurnya nyenyak sekali semalam, dan rasa lelah hilang begitu saja ketika ia bangun. Saat ini ia sedang dalam perjalanan menuju sekolahnya, tentu saja diantar oleh supir Han. Jadi ia tidak perlu takut terlambat, lagi.

Keadaan sekolahnya masih seperti biasa—tenang dan tidak ada tanda-tanda terjadi kerusuhan. Namun saat ia mulai memijakan kakinya ke dalam gedung, sepanjang koridor di penuhi oleh para siswi yang sedang sibuk menggosipkan sesuatu. Dan Jiyeon sama sekali tidak tertarik dengan apa yang mereka bicarakan. Karena pasti topik mereka hanya seputar pemuda tampan.

Keadaan kelasnya ternyata tidak jauh berbeda dengan koridor yang ia lewati. Para siswi di kelasnya berkumpul dalam satu meja dan terlibat obrolan yang sama. Ia melihat Hyeri sudah duduk dengan manis di kursinya.

“Hey, apa aku sudah melewatkan sesuatu yang menarik?” Jiyeon bertanya saat ia sudah duduk di kursinya.

“Satu-satunya hal menarik bagimu adalah pemuda seksi, Park Jiyeon.” Hyeri menjawabnya dengan acuh tanpa melihat ke arah Jiyeon sama sekali.

“Aku serius, Shin.”

“Aku tidak begitu yakin, tapi tadi aku mendengar mereka membicarakan akan ada murid yang pindah kesini. Dan ia seorang siswa.” Kini Hyeri berbicara sambil memandang ke arah Jiyeon dan memiringkan sedikit tubuhnya.

“Lagi? Kanapa harus seheboh ini? Kau tau kan ada murid baru di kelas sebelah—Oh Sehun, dan keadaannya tidak sampai sekacau ini.” Jiyeon memandang Hyeri bingung, apa istimewanya dengan murid baru?

“Karena yang kudengar ia sangat tampan, dan yang tak kalah hebat ternyata ia anak dari Kepala Sekolah.”

“Wow, aku tidak tahu jika Kepala Sekolah kita memiliki seorang anak.”

“Yah bukan hanya kau saja yang terkejut, ini menjadi berita paling menggemparkan di sekolah kita. Bayangkan saja, Kepala Sekolah yang selama ini kita cap sebagai pria tua tidak laku itu ternyata sudah menikah dan memiliki seorang putra. Kudengar Istri dan anaknya tinggal di Amerika.”

Dan pembicaraan mereka terpaksa berhenti karena bunyi bel yang menggema ke seluruh penjuru Sekolah. Semua murid yang ada di kelas Jiyeon kini bersiap untuk menunggu kedatangan guru. Jam pertama pada hari ini adalah olahraga, dan tak lama guru yang telah dinantipun datang denang membawa seseorang. Jiyeon dan Hyeri saling berpandangan bingung. Pasalnya orang yang datang bersama guru mereka atau yang lebih sering disebut Mr. Seo itu mengenakan pakaian biasa. Mungkinkah ia asisten Mr. Seo?

“Apa kabar semuanya?”

“Baik, Mr,” jawab mereka serempak.

“Perkenalkan, ia adalah murid baru di kelas ini. Karena baru saja pindah ke sekolah kita, jadi ia belum memiliki seragam seperti kalian. Silahkan perkenalkan dirimu.”

Pemuda itu perlahan berjalan ke tengah kelas, “Namaku Kim Jongin, aku baru pindah dari Amerika. Mohon bantuannya.” Ia berbicara dengan dingin, tapi sikapnya begitu sopan. Ia membungkukan badannya hingga menyerupai sudut siku-siku setelah mengenalkan dirinya. Jiyeon menyernyit saat melihat Jongin, ia merasa ini bukanlah kali pertamanya melihat pemuda itu.

“Ah, dan juga Jongin ini anak dari Kepala Sekolah kita. Jadi tolong bantu ia untuk menyesuaikan diri disini.” Para murid sontak mengangguk, jadi ini tokoh yang sejak tadi mereka bicarakan. Jiyeon mendelik tidak suka, jadi ia anak Kepala Sekolah? Pantas saja ia bertingkah sesuka hati, mana ada murid yang datang ke sekolah tidak menggunakan seragam. Sementara Jongin tengah membisikan sesuatu kepada Mr. Seo.

“Park Jiyeon…” Ia yang merasa namanya dipanggil langsung menghadapkan wajahnya pada Mr. Seo dengan raut terkejut yang tercetak jelas di wajahnya.

“… karena ini hari pertama Jongin masuk sekolah, aku ingin kau mengajaknya berkeliling untuk memberitahukan tempat apa saja yang ada disini.”

“Hah? Ah, baik aku akan mengajaknya berkeliling.” Jiyeon menjawab perintah sang guru dengan linglung. Jongin hanya tersenyum tipis melihatnya. Sementara para gadis menatap Jiyeon dengan pandangan iri. Dari sekian banyak murid kenapa harus Jiyeon yang ditugaskan untuk menemani Jongin berkeliling? Jiyeon yang merasakan ada aura aneh dari teman-temannya hanya bisa tersenyum kaku kepada mereka.

“Kita bertemu lagi.” Bisik Jongin pelan saat melewati Jiyeon. Gadis itu hanya menatap Jongin dengan pandangan heran.

***

 

Para murid mulai mengganti pakaian mereka dengan seragam olahraga. Mr. Seo hanya memberikan waktu selama 5 menit. Jiyeon dan Hyeri melepas seragam mereka secepat mungkin karena tidak ingin mengelilingi lapangan hanya karena mereka telat memasuki lapangan. Jiyeon dan Hyeri langsung melempar seragam begitu saja ke dalam loker tanpa melipatnya lebih dulu. Selamat dari hukuman lebih penting dari pada sekedar menjaga penampilan mereka agar tetap rapi.

“Cepat Shin, waktu kita hanya 2 menit untuk bisa sampai ke lapangan.”

“Tunggu, aku ingin membenarkan tali sepatuku dulu.”

“Nanti saja saat kita sudah tiba di lapangan.” Tanpa bicara lagi Jiyeon langsung menyeret Hyeri untuk berlari. Murid-murid lain juga mulai bergegas agar tidak terlambat.

“Untung kita tiba tepat waktu.” Hyeri menggiring Jiyeon untuk berkumpul bersama teman-teman mereka. Hampir semua murid sudah tiba, tinggal beberapa gadis saja yang belum berada di lapangan.

“Hey Jiyeon, lihat anak baru itu. Ia bahkan tidak mengganti pakaiannya.” Jiyeon mengikuti pandangan Hyeri yang tengah menatap Jongin. Pemuda itu membuka jaket kulitnya dan menaruhnya di kursi yang tidak jauh dari mereka. Ia mulai memasuki lapangan dengan menggunakan baju tanpa lengan dan celana panjangnya.

“Biarkan saja, tidak usah dipedulikan.”

“Tumben sekali kau bersikap seperti ini. Lihat, walaupun wajahnya menyebalkan tapi tubuhnya tegap dan kekar menurutku meskipun ototnya tidak terlalu kentara. Bukankah kau menyukai pemuda yang seperti itu?”

“Entahlah, dia memang seksi. Tapi tidak semenarik Sehun menurutku.”

“Ah, aku mengerti apa yang kau maksudkan.”

Mr. Seo menyuruh mereka untuk membuat barisan. Hal yang selalu ia lakukan sebelum memulai keinti permainan, melakukan pemanasan.

“Hari ini kita akan bermain baseball, aku akan membagi kalian ke dalam 2 kelompok. Satu kelompok terdiri atas 15 orang, pada permainan ini aku akan menilai kerjasama antar anggota. Kerjasama yang baik akan menciptakan tim yang hebat, untuk itu aku akan memberi nilai lebih pada kelompok yang menang.”

Jiyeon berada di dalam kelompok yang berbeda dengan Hyeri. Ia merasa kurang beruntung karena yang ia tahu teman yang ada di kelompoknya tidak begitu pandai dalam olahraga. Tapi setidaknya ia tidak sekelompok dengan Jongin, itu membuatnya sedikit lega. Entah mengapa ia merasa tidak begitu nyaman saat berada di sekitar Jongin. Pemuda itu memancarkan aura aneh menurutnya.

Permainan dimulai dengan kelompok Jiyeon yang berjaga, sementara kelompok lainnya menjadi pemukul. Babak ini dipipimpin oleh kelompok lawan karena gagalnya teman-teman Jiyeon dalam menangkap bola. Terlihat sekali jika mereka sangatlah tidak kompak. Skor mereka tertinggal cukup jauh. Dan yang tak kalah hebat kini mereka kalah telak.

Babak kedua kini giliran kelompok Jiyeon yang menjadi pemukul, diawali dengan si aneh Chanyeol yang memukul bola. Dan ajaibnya ia mencetak homerun, membuat teman sekelompoknya senang bukan main.

“Jika Chanyeol bisa, aku juga pasti bisa melakukannya,” ujar salah satu teman Jiyeon. Membuat yang lain menjadi bersemangat, setidaknya mereka masih bisa berusaha untuk mengejar ketertinggalan.

Pemukul kedua sukses, namun tidak untuk pemukul ketiga hingga kelima. Dan sekarang adalah bagian Jiyeon untuk memukul. Ia memegang tongkat itu dengan erat, ia juga memanjatkan doa-doa agar ia tidak gagal dan mengecewakan temannya. Setiap pemukul masing-masing diberi 3 kali kesempatan untuk memukul.

Jiyeon berusaha untuk memanfaatkan kesempatan itu dengan sebaik-baiknya. Ia bersiap memukul bola pertamanya yang akan dilempar oleh Jongin. Saat bola mulai mendekat ke arahnya ia mulai mengayunkan tongkatnya. Dan bola itu berhasil ia lewati alias gagal. Membuat semangatnya perlahan mulai turun.

“Tenanglah, tidak usah tegang kau pasti bisa melakukannya.” Itu suara Chanyeol. Sesuai ucapan pemuda itu, ia berusaha mengendurkan otot-ototnya agar tidak terlalu kaku. Kesempatan kedua ia kembali gagal memukul bolanya. Membuat kedua bahunya semakin merosot karena ia yakin kesempatan terakhirnya pun akan berakhir dengan kegagalan.

“Yak, ada apa dengan wajahmu? Lakukan saja dengan benar.” Suara ketua kelasnya terdengar sangat jelas.

“Jangan harap aku akan memberimu contekan saat kau tidak mengerjakan tugas, Jiyeon.”

“Kalau kau gagal kau harus jadi pelayanku.”

“Aku ingin kau menggantikan tugas piketku hingga kenaikan kelas.”

Jiyeon tertawa mendengar perkataan teman-temannya. Benar, yang penting saat ini bukanlah menang atau kalah. Tetapi kebersamaan dengan mereka, membuat mereka menjadi lebih akrab satu sama lain. Tidak masalah jika mereka tidak mendapat nilai tambahan dari Mr. Seo. Yang Jiyeon lihat, justru teman-temannya hanya ingin menikmati permainan ini tanpa memikirkan apapun.

Baiklah, ia hanya perlu berusaha tanpa perlu memikirkan hasilnya. Jiyeon menghela napasnya perlahan. Bersiap untuk memukul bola yang akan dilayangkan Jongin padanya. Bola sudah dilemparkan, dalam penglihatan Jiyeon bola itu bergerak dengan lambat hingga ia bisa melihat dengan jelas kemana arahnya. Jiyeon mulai mengayunkan tongkat yang ia pegang saat bolanya semakin mendekat. Dan, tanpa diduga ia berhasil memukulnya dengan cukup keras.

Jiyeon langsung melempar tongkatnya dan mulai berlari.  Ia berhasil melalui base 1 dengan sukses, begitupun dengan base 2.  Namun saat Jiyeon mulai melangkahkan kakinya menuju base 3, bola itu berhasil ditangkap. Jiyeon berbalik dan berniat untuk kembali ke base 2, namun sebuah suara menginterupsi tindakannya.

“Park Jiyeon, kau tidak boleh kembali ke base yang sudah dilewati. Jika kau melakukannya, maka poin kelompokmu akan berkurang banyak.” Mr. Seo mengucapkannya dengan cukup keras.

“Lalu apa yang harus aku lakukan? Aku tidak yakin bisa mencapai base 3.” Jiyeon malah berdiri mematung di tempatnya, tidak tahu apa yang harus ia lakukan.

“Ya! Cepat lari bodoh!” Suara teman-temannya berhasil menyadarkannya dan ia mulai berlari dengan langkah yang tidak beraturan. Hingga tanpa sengaja ia menabrak murid yang akan menangkap bola hingga membuatnya terjatuh. Kesempatan ini ia gunakan untuk berlari sekencang-kencangnya. Jiyeon berhasil sampai di base 3 dan tidak lama bola juga berhasil ditangkap oleh murid yang berjaga di base itu.

Tidak hanya Jiyeon, temannya pun ikut menghela napas lega. Jika melihat cara berlari Jiyeon tadi mereka sudah sangat pesimis jika akan menang. Namun siapa sangka, sifat ceroboh Jiyeon malah sangat berguna disaat seperti ini. Untung tadi ia menabrak murid yang akan menangkap bola. Jika tidak, sudah pasti mereka akan kalah.

Kejadian itu disaksikan oleh Sehun dari dalam kelasnya. Saat sedang menatap keluar tanpa sengaja ia mendapati sosok Jiyeon yang sedang memukul bola. Sehun hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Jiyeon.

“Gadis pecicilan, kurasa menabrak orang adalah keahliannya.”

Jiyeon hanya tersenyum aneh saat ia sudah melewati seluruh base yang ada. Temannya hanya bisa menggeleng, perbuatan Jiyeon tadi sungguh menegangkan. Ketua kelas mereka bahkan berencana akan mencekik Jiyeon jika ia gagal menuju base 3. Jiyeon menyelonjorkan kakinya dan berusaha meregangkan ototnya. Ia mengalihkan pandangannya pada Jongin. Entah mengapa saat kesempatan terakhirnya ia merasa Jongin sengaja memberikan bola itu agar ia bisa memukulnya. Tapi Jiyeon memilih untuk tidak terlalu memikirkannya. Mungkin hanya perasaannya saja.

 

***

 

Ini hari sabtu, dan sekolah tidak memiliki kegiatan yang mengharuskan muridnya untuk datang. Belakangan ini Jiyeon merasa tenaganya dikuras habis karena berbagai aktivitas di sekolahnya. Terutama saat olahraga, setidaknya tenaganya tidak terbuang percuma karena kelompoknyalah yang berhasil memenangkan pertandingan itu.

Jiyeon memutuskan untuk merilekskan pikirannya dengan pergi ke toko buku. Ia jadi jarang membaca komik kesukaannya karena terlalu lelah untuk melakukan kegiatan lain pada hari biasa. Jiyeon berencana membeli banyak komik untuk persediaannya. Jadi ia tidak perlu repot untuk membelinya setiap ia ingin membaca.

Jiyeon memutuskan pergi menggunakan bus. Ia ingin menikmati perjalanannya setelah ia membeli secangkir kopi lebih dulu. Terkadang Jiyeon membutuhkan waktu untuk menyenangkan dirinya. Jiyeon menghabiskan waktu selama 45 menit untuk tiba di toko buku. Ia mulai berjalan ke jajaran komik. Jiyeon memilih komik yang isinya sedikit menantang—komik dengan rating dewasa.

Jiyeon seperti mengenal sosok yang saat ini sedang berdiri membelakanginya. Sosok itu sedang berada di bagian majalah. Jiyeon perlahan berjalan ke arahnya untuk mengejutkan sosok yang tak lain adalah Sehun.

“Wah tidak kusangka pemuda polos sepertimu suka membaca majalah seperti ini.” Sehun terlonjak kaget saat Jiyeon menyenderkan kepalanya tepat di bahu dan berbisik di telingannya. Sehun segera menutup majalah yang sebelumnya ia baca dan menyembunyikannya di balik tubuh. Jiyeon tertawa jahil melihat Sehun yang gelagapan karena tertangkap tengah melihat majalah dewasa.

“Kenapa kau bisa ada disini?” Sehun memberanikan diri untuk bertanya saat ia berhasil mengendalikan rasa terkejutnya yang terlihat berlebihan di mata Jiyeon.

“Aku biasa datang kesini untuk membeli komik. Kau kesini untuk membeli majalah itu?” Jiyeon mencoba melihat majalah yang berusaha disembunyikan oleh Sehun. Pemuda itu bergerak kesana kemari agar Jiyeon tidak mengambilnya.

“Kenapa disembunyikan? Aku kan hanya ingin melihatnya, aku berjanji tidak akan mengambilnya.” Jiyeon benar-benar hanya ingin sekedar melihatnya tanpa bermaksud lain. Sebenarnya tadi ia tidak begitu jelas melihat majalah yang sedang berada di tangan Sehun.

“Tidak boleh, cari saja majalah lain.” Sehun menggeser tubuhnya untuk menjauh namun Jiyeon selalu mengikuti kemanapun ia bergerak.

Jiyeon semakin berjalan mendekat ke arah Sehun, “Kalau begitu aku hanya akan melihat sampulnya saja, bagaimana?”

Sehun menatap Jiyeon dengan kesal. Ada apa dengan gadis ini? Kenapa keras kepala sekali ingin melihatnya? Sehun hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. Namun Jiyeon yang terlanjur penasaran tetap mendekati Sehun.

“Sudah kubilang jangan!” Sehun mencoba mendorong Jiyeon untuk menjauh darinya. Tetapi sepertinya tangannya mendarat di tempat yang salah. Benar saja, tadinya ia berniat untuk mendorong bahu gadis itu namun kenyataannya ia merasakan telapak tangannya berada pada sesuatu yang sangat menonjol. Sehun merasa telapak tangannya menjadi hangat. Secara tidak sadar ia mulai menekan tangannya dan ia merasa benda itu sangat kenyal saat Sehun melakukan hal tadi.

Jiyeon yang terlalu terkejut mendengar teriakan Sehun tidak sadar apa yang tengah pemuda itu lakukan padanya. Terjadi jeda yang cukup lama hingga ia sadar jika tangan Sehun berada pada salah satu titik sensitif tubuhnya.

“Se-Sehun, bisa singkirkan tanganmu?” Sehun tersadar saat mendengar Jiyeon memanggil namanya. Sehun berteriak saat tahu dimana tangannya mendarat.

“Ma-maafkan aku, itu tidak sengaja.” Sehun membungkukan tubuhnya berkali-kali ke arah Jiyeon hingga menarik perhatian pengunjung lain yang ada disana.

“Jangan seperti itu, aku tidak apa-apa.” Sehun memandang Jiyeon yang sedang menatapnya dengan arti yang sulit dijelaskan. Gadis itu segera berjalan menjauh tanpa berbicara lagi. Sehun memandangi kepergian Jiyeon dengan perasaan bersalah. Sungguh, kejadian tadi bukan termasuk balas dendam karena perbuatan Jiyeon tempo hari. Bahkan tadi hampir saja Sehun meremasnya jika Jiyeon tidak segera menyadarkannya. Menurut Sehun tingkah Jiyeon tidak wajar, bagaimana bisa seorang gadis langsung pergi begitu saja setelah insiden tadi pikirnya.

“Apa dia tidak ingin menamparku?”

.

.

—cut.

Oke, sebelumnya aku mau minta maaf atas keterlambatan post FF ini.

Berhubung masih dalam suasana lebaran, jadi tolong dimaafkan ya🙂 Minal Aidin Walfaidzin semuanya, maaf  kalau aku punya salah sama kalian. Semoga kalian engga kecewa ya dengan part ini. Aku tunggu kritik dan sarannya🙂

76 responses to “Pervert Jiyeon —{2nd Scene}

  1. Hahahhaa, tuh kan betul.. Ji megank itu nya sehun.. Tapii aneh yaa, ji tampank” nda bersalahh kkk yaa jadi sehun, tlonk d maklumi yahh ji nyaXD wah, ada kkamjong gue>< kyaaaa! Sepertinya kai tertarik deh sama ji.. Omo, sehun ngapain luuu! Ji kenapaa dia nda marah yah nd malahh langsunkk kabur gitu–' next partnya d tunggu, palliiwaa! Fightingg nn

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s