[ONE SHOT] Happy Birthday..

HBD

Happy Birthday

Park Jiyeon-Kim Myungsoo

Kai-Jiyeon ver <

amaliachimo

PG-15

Happy reading..

-terinspirasi dari kisah nyata-

5 Agustus 2014

Pemuda itu duduk di bawah pohon maple yang menguning, bersama gitar yang terpangku di atas duduk bersilanya. Ia bersenandung menikmati irama suaranya yang menyatu dengan petikan mahir dari tangannya. Angin di pagi hari yang sejuk seoalah membantu pemuda itu menciptakan suasana nyaman disini. Di taman belakang sekolahku yang masih sepi. Wajar saja ini terbilang terlalu pagi untuk remaja seusia kami meramaikan sekolah.

Aku tersenyum menikmati pemandangan indah yang selalu kunanti setiap akan tidur. Ya, bersiap-siap untuk bagun pagi agar tidak terlambat melihatnya.

Matahari mulai terlihat jelas menerangi kami dan murid-murid lain yang kini sudah banyak terlihat di sekitar. Menandakan permainan pemuda itu segera berakhir. Ia menghentikan kegiatannya, mulai risih dengan pandangan kagum dari beberapa murid yang mencuri pandang diam-diam sepertiku.

Pemuda itu bangkit dan siap untuk beranjak pergi. Namun, langkah kakinya membuatku kikuk. Sedikit terhenyak kaget saat ia berjalan mengarah padaku dengan pandangan santainya. Semakin dekat. Dan semakin dekat.

Tentu saja sekarang aku menunduk di atas bangku taman sekolahku yang terbuat dari kayu ini. Takut jika pandangan kami tidak sengaja bertemu. Kedua tanganku meremas pinggiran bangku berwarna coklat natural ini, dan tidak sengaja mengigit bawah bibirku menahan segala hal yang bergejolak dalam diriku.

Pemuda itu melewatiku begitu saja dari belakang. Hanya dengan angin yang diciptakan dari gerakannya sudah membuat bulu kudukku merinding. Sunggung dasyat kekuatan magic darinya yang selalu mampu membuatku tidak bisa berkutik.

Melihatnya sudah berjarak agak jauh dari tempatku duduk. Dengan sigap dan tanpa aba-aba aku berdiri, mulai mengikuti langkahnya seperti anak ayam yang bergantung pada induknya.

***

Jam pelajaran dimulai, selurunya aku lewatkan dengan sia-sia. Kerjaku di atas buku bergaris ini hanya menggambar dan menulis tidak jelas, disaat satu-satunya temanku di sekolah terus saja memperhatikan guru dengan serius. Ia adalah Lee Jieun teman sebangkuku yang mains dan baik hati.

Beberapa jam berlalu, sekarang sudah waktunya menoleh ke jendela di sampingku. Jam tangan kuningku memperlihatkan angka ‘11:00 AM’. Beruntung aku mendapat posisi bangku tepat di samping jendela. Aku bisa melihatnya berolahraga dengan leluasa.

Ia berbaris tegap di antara banyak teman-temannya yang terlihat agak malas-malasan. Tidak lama setelah pengarahan, mereka memulai pemanasan. Tentu saja senyumku selalu terukir, lagi-lagi hanya karena melihatnya.

Kini pemanasan selesai. Di lanjutkan dengan olahraga bebas. Ia yang selalu ada di mataku, memulai olahraga fudsal dengan beberapa teman. Menggiring bola ke sana kemari, melewati lawan, dan menendangnya dengan cantik. Hebat, pemuda itu selalu hebat dalam segala hal. Sangat pantas bukan jika mendapat predikat pacar idaman dari sekolah ini. Sayangnya belum ada penghargaan semacam itu.

“Park Jiyeon…Yaaa, Park Jiyeon…”suara nyaring yang teramat cempreng di telingaku itu menggema ke seluruh ruangan kelas ini.

Sepontan aku menoleh tak berdaya menghadap ke depan, memperlihatkan guru Bahasa Korea yang berdecah pinggang dan melototkan matanya tepat ke arahku.

Sekilas terdengar samar keluhan Jieun yang menyesali kelakuan bodohnya, akibat terlambat menyadarkanku.

“Aishh,”

Ani Jieun, ini kesalahanku. Batinku pasrah menerima hukuman dari guruku ini –Bu Jung.

***

Lorong kelas 11 yang sepi, hanya ada aku disini. Aku berjongkong dengan posisi hampir menyentuh tembok kelasku, sambil mengakat tinggi-tinggi tanganku yang terkepal. Keringat mengucur dari pelipisku, leherkupun hampir basah menahan kelelahan ini. Entah berapa jam sudah berlalu, waktu terasa begitu lama berjalan. Kenapa istirahat belum juga datang?

Tap.Tap.Tap. Suara hentakan sepatu tedengar mendekati telingaku. Tanpa pikiran apapun aku menghiraukan suara itu, terlalu lelah untuk mencari tau. Aku hanya sibuk menyeka keringat yang mulai semakin membasahi beberapa bagin tubuhku.

Kini suara hentakan sepatu itu seperti tepat melewati hadapanku, namun aku tetap fokus pada kegiatan menyeka keringat ini. Dengan kepala tertunduk dan punggung tangan kanan yang masih terkepal menyeka keringat di dahiku. Mata sebelahku terpejam, dan sebelahnya lagi menyipit. Sampai, suara ‘Dumm’. Suara itu tidak terlalu nyaring, hanya saja sedikit mengusik kegiatanku. Sepertinya sesuatu telah terjatuh tepat di hadapanku. Aku lebarkan mata ini perlahan, benar saja sebuah botol air mineral yang masih terisi penuh telah terjatuh, dan kini menggelinding ke arahku. Botol air mineral itu sukses mengenai ujung sepatu  biruku. Aku hanya diam tercengang melihat botol air mineral itu, tidak ada gerakan reflek sedikit pun. Sensor otaku memang tidak secekatan itu untuk merespon segala hal.

Sebuah tangan kekar berkulit putih mulus meraih botol air mineral itu. Kemudian, tangan itu bergerak ke atas. Bola mata bulatku mengikuti gerakannya. Kini kepalaku sukses mendongak. Betapa terkejutnya aku melihat seseorang yang berdiri tepat di hadapanku. Ya, lelaki itu –lelaki yang ku kagumi.

Ia membuka tutup botol air mineral itu dengan tangan kirinya–memutar-mutar tutupnya. Tutup botol itu pun terlepas. Tangan kanannya yang mengengam botol mineral bergerak ke atas–mengarahkan bibir botol itu pada bibirnya. Setelah tepat mengenai bibir merahnya, ia mendongak ke atas hingga air mineral itu mengalir mulus ke dalam rongga mulutnya.

Sejenak aku kembali terhipnotis. Lehernya yang panjang, jakunya yang bergerak naik turun, dan keringatnya yang masih deras mengucur. Terlihat dengan jelas di mataku. Tampan, batinku.

Waktu seakan menghentikan segala aktifitas, terkecuali kami berdua. Aku sangat menyukainya. Segala hal tentang dia, itu indah.

“Pali, ganti bajumu beberapa menit lagi bell istirahat berbunyi.”

Seorang sahabat akrabnya yang aku tau bernama Baekhyun menepuk bahunya. Merusak waktu yang seolah sedang berpihak padaku. Akibatnya pemuda yang diam-diam ku kagumi ini pun tersedak.

“Uhuk..Uhuk…”lalu menoleh pada Baekhun yang berada di sebelahnya,”Yaaa, Byun Baekhyun aku tersedak, kau duluan saja!”

“Hmm, mian.”

Baekhyun tersenyum tanpa rasa bersalah sedikit pun, lalu berlalu mendahului pemuda yang masih betah berdiri di hadapanku ini. Ia tertawa tanpa rasa kesal sedikit pun menghadapi tingkah jahil sahabatnya itu.

Lagi-lagi aku hanyut karenanya, tegelam ke dasar laut menikmati tawanya yang tulus. Seperti sudah terjebak di dalam sana begitu lama, mirip dengan kapal yang telah menjadi batu karang. Aku benar-benar tidak bisa mengendalikan diriku sendiri.

***

Siang menjelang sore, pemuda itu berdiri di halte bus bersama para murid lainnya yang juga menunggu bus. Termasuk diriku. Tidak lama bus yang ia tunggu pun datang. Ia beranjak naik, diikuti dengan aku dan beberapa murid lainnya yg satu tujuan.

Suasana Bus tidak terlalu ramai, aku duduk di bangku ke tiga dari pintu. Di sebelahku duduk seorang ibu muda dengan sekantung belanjaan dan dompet di tangannya. Aku terus melihat ke arah samping kanan, di sana terlihat lelaki itu. Dengan headset yang terpasang di kedua telinganya, ia menyandarkan punggungnya pada bangku ke dua dari sampingku. Melihat pemandangan yang di lewati dari balik jendela–tepat di samping kepalanya. Beberapa menit berlalu, ia pun tertidur.

Tidak lama, bus ini pun berhenti di halte tempat lelaki itu setiap harinya turun. Ia selalu terbangun tepat waktu saat Bus berhenti di tempat tujuannya yang sama. Pernah aku berpikir untuk membangunkannya, jika sewaktu-waktu ia tidak menyadarinya. Namun nyatanya itu tidak sekali pun terlaksana, mungkin karena terlalu sering hingga ia dengan reflek akan selalu terbangun. Tapi ada sedikit rasa bersukur juga di benakku, kalau saja ia tidak terbangun, pasti akan sulit bagiku mencari seribu cara agar berani membangunkannya.

***

Berjalan menyusuri jalanan komplek yang tidak begitu ramai. Aku berjalan di belakang lelaki itu, sekarang tidak ada headset yang menutupi kedua telinganya. Bayangan kami terpantul beriringan akibat matahari yang mulai meredup. Pemandangan jalan ini entah kenapa selalu indah, padahal aku sudah sering melewatinya. Tapi tetap saja tida terbersit rasa bosan sedikit pun, sama seperti ia yang selalu aku ikuti.

Sebentar lagi aku akan sampai di rumah, inilah saatnya perpisahan kami. Namun, aku tau hari ini. Seperti beberapa tahun sebelumnya, ia akan memilih jalan lain. Berbelok ke kiri, tentu saja aku akan mengikutinya.

Mendaki bukit dekat kompleks rumah kami, terus mendaki sampai di puncak. Sekarang kami sudah sampai di sana, ia memandang susana kota dari atas sini yang sudah mulai gelap. Lampu-lampu mulai menyala.

“Tepat pada hari ini usiaku bertambah satu tahun, aku akan terus berusaha berada di tingkat yang lebih tinggi dari sebelumnya, hingga saatnya aku sampai di puncak. Aku akan membanggakan dunia dan terus menjadi yang terbaik. Sukses Kim Myungsoo!”teriaknya dengan semangat yang membara sambil tangan terkepal dan tiga kali menghentak ke atas.

Tidak ada rasa malu baginya melakukan hal yang sama setiap tahunnya di tanggal dan bulan yang sama, sudah bisa di pastikan kalimatnya juga hampir sama. Aku sampai hapal.

Ia tidak pernah menyadari ada aku yang selalu mengikutinya. Tersenyum hanya pada dirinya, dengan hati yang selalu mengharapkannya.

Aku berada di jarak kira-kira tiga meter dari belakangnya–tepat bersembunyi di balik batang pohon. Dengan perlahan sambil mengumpulkan rasa percaya diriku, aku maju mendekatinya. Berbeda dari tahun sebelumnya, kali ini aku mau mencoba.

Kini ia berada lima langkah di hadapanku, lelaki itu tertawa dengan nafas terengah-engah karena habis-habisan berteriak. Aku mengeluarkan kertas yang terlipat di dalam saku baju seragam sekolahku. Lipatan kertas berbentuk persegi itu aku buka lebar. Kemudian mengarahkan kertas itu menghadap punggungnya.

Terlihat gambar manga kartun yang menggambarkan karakternya dan diriku, posisinya persis seperti sekarang ini. Ia di depan dan aku di belakangnya. Ada tulisan besar yang terhias di gambar polos bernuansa spidol itu. Di sana tertulis.

‘Biru itu berbeda, seperti birunya langit dan lautan, cobalah mengerti keduanya layaknya angin’

Kita punya rasa yang berbeda, sewaktu-waktu kau menyadarinya, aku harap kau bisa seperti angin yang tahu kemana harus bergerak di antara biarunya langit dan lautan. Aku harap kalian juga bisa mengerti kenapa aku tetap berada di posisi ini meski sebenarnya aku bisa saja melangkah maju. Aku percaya akan takdir Tuhan, kalau suatu saat nanti akan membuatku berani berada benar-benar di hadapannya. Membalas senyuman tulusnya. Dan kami saling menatap. Saat ini aku sedang berusaha selangkah demi selangkah.

“Happy Birthday Kim Myungsoo.”kataku amat lirih, berharap setidaknya ia akan berbalik sambil mebalas ucapanku dengan kalimat ini ‘Happy birthday too Park Jiyeon’ lalu tersenyum hanya padaku.

Ternyata setelah menit-menit berlalu ia tidak juga berbalik. Aku tersenyum masam menatap punggung tegapnya. Lain kali aku akan berlatih untuk berbicara lebih keras lagi. Bersabarlah. Aku akan terus berusaha untuk siap berada di hadapanmu dan pada saat itu gadis di belakangmu ini sudah pantas mendampingimu. Apapun tantangannya aku harus melewatinya. Namun, jika setelah itu kita tetap tidak bisa menjadi pasangan yang sesungguhnya seperti adam dan hawa. Aku tetap akan berusaha. Setidaknya aku bisa menjadi seseorang yang berarti buat hidupmu. Aku senang berada di sekitarmu Kim Myungsoo.

END

Mian klu ada typo, smg semua suka. Buat FF High School of Love udah kelar nanti malem atau hari senin bru di upload hehe.. smg aja ada yg nunggu wk

64 responses to “[ONE SHOT] Happy Birthday..

  1. Pingback: [ONESHOT - Sequel 'Happy Birthday'] OUR DESTINY | High School Fanfiction·

  2. Wah terinspirasi dari kisah siapa nih thor? Hehe.
    Baca ff ini jadi inget masa-masa naksir orang. Aku suka gaya penulisan kamu, manis banget. Biasanya sih inti-inti cerita yg kaya begini kalau berchapter aku pantengin hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s