[CHAPTER – PART 1] MY PRINCESS

Suzy Miss A & L Infinite (56)

© High School Graphics by: xilvermist

Title : My Princess | Author : dindareginaa | Main Cast : Bae Sooji, Kim Myungsoo | Additional Cast : Find by yourself! | Genre : Comedy – Romance | Rating : Teen

DISCLAIMER :

Inspired by Taiwanese Drama

Angin bertiup sepoi-sepoi. Suara nyanyian burung mulai terdengar merdu. Matahari sudah berada pada puncak langit, sibuk memancarkan sinarnya. Panas sekali. Tentu saja. Jam sudah hampir menunjukkan pukul sebelas siang. Namun, hal ini tak membuat gadis cantik yang tengah tertidur lelap diranjang empuknya terbangun. Ia malah semakin menarik selimut lembutnya hingga menutupi seluruh bagian tubuhnya.

Choi Sulli menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia segera meletakkan sarapan gadis cantik itu diatas meja yang berada di samping Magnetic Floating Bed-nya. “Sooji-ah… Bae Sooji, ireona,” suara Sulli lembut seraya menggoyangkan pelan tubuh Sooji.

Gadis yang dipanggil Sooji itu akhirnya dengan berat hati membuka selimutnya. Ia tersenyum mendapati asisten pribadinya sekaligus sahabatnya sejak kecil sudah berada dihadapannya.

Good morning,” sapanya dengan mata yang masih setengah terbuka.

“Selamat pagi,” balas Sulli. “Sekarang, makanlah sarapanmu. Bukankah kau ada janji malam ini dengan lelaki itu?”

Mendengar ucapan Sulli membuat mata Sooji langsung terbuka lebar. Ia segera beranjak duduk. “Kau benar!  Kenapa aku pelupa sekali?” gerutunya pelan. “Untunglah ada kau yang selalu mengingatkan jadwalku.”

“Bukankah itu sudah menjadi tugasku? Cepat habiskan sarapanmu. Aku akan menyiapkan perlengkapanmu.”

Sooji tersenyum seraya mengangguk lalu mulai menyantap sarapannya.

Yak, Kim Myungsoo! Bibimbap untuk meja nomor 13!”

Kim Myungsoo segera menoleh. Ia langsung mengacungkan jempolnya keatas. “Siap bos!”

Dengan lihai, ia segera memasukkan seluruh bahan-bahan yang dibutuhkannya kedalam kuali kecilnya.  Menumis daging sapi hingga berwara kecoklatan. Memotong sayur-sayuran dengan cekatan. Lihatlah, ia benar-benar ahli dalam memasak makanan khas kota ginseng itu. Pantas saja dia menjadi chef terfavorit di restoran Korea ini.

Myungsoo tersenyum simpul lalu segera menyusun dengan rapi bibimbap diatas piring. “Sudah selesai,” ujarnya. Lelaki itu menekan bel yang diletakkan disinggasananya – dapur – membuat Tuang Bang, sang pemilik restoran Korea menghampirinya dan segera mengambil bibimbap ala chef Myungsoo itu.

“Kenapa lama sekali?” gerutu Tuan Bang sebelum akhirnya mulai pergi.

Myungsoo mendengus kesal. Si tua bangka itu tak pernah bersyukur dengan apa yang dikerjakannya. “Kalau kau mau aku lebih cepat lagi, naikkan gajiku. Dasar pelit!” teriaknya.

Ya! Kau bisa dipecat olehnya nanti.”

Myungsoo menoleh pada Sehun yang kini sudah berada disampingnya. Ia tersenyum meremehkan. “Memangnya dia berani memecatku? Restorannya akan bangkrut kalau dia melakukan itu,” ujarnya bangga.

Sehun mendesis. “Sombong sekali. Eoh, antarkan ini kerumah pelanggan kita. Alamatnya sudah ada didalam,” Sehun menyerahkan sebuah kantung berwarna merah marun pada Myungsoo.

“Aku lagi? Kenapa bukan  kau saja? Aku sudah memasak. Apa kerjamu kalau begini?” tanya Myungsoo tak percaya.

“Kerjaku adalah melayani pelanggan dengan wajah tampanku,” ujar Sehun lalu segera pergi meninggalkan Myungsoo yang kini telah melemparkan sumpah serapahnya pada dua lelaki yang membuatnya mood-nya rusak total hari ini – Tuan Bang dan Oh Sehun.

Sooji tak henti-hentinya bersenandung. Sesekali ia membolak-balikkan halaman majalah fashion yang tadi pagi diberikan oleh asisten pribadinya. Ia menoleh pada sang supir yang kini duduk dikursi pengemudi mobil mercedes benz miliknya.

Ahjussi, setelah ini kita belok kiri. Ada yang ingin kubeli,” serunya.

Sang supir melirik Sooji melalui kaca lalu mengangguk mengerti. Baru saja supir Sooji ingin berbelok ketika sebuah sepeda dengan cepat melintas dari arah belokan tersebut. Hal ini tentu saja membuat sang supir menginjak rem secara mendadak membuat tubuh Sooji terdorong kedepan. Untung saja ia memiliki keseimbangan tubuh yang baik sehingga hal ini tak sampai melukainya.

Ya! Ahjussi! Apa yang kau lakukan?” tanya Sooji kesal.

Jjeosonghamnida, Sooji-ssi. Kita menabrak seorang pengendara sepeda.”

Mwo?” Sooji mendengus. Ia segera turun dari mobilnya. Gadis cantik terbelalak kaget begitu mendapati bemper mobil mahalnya kini telah penyok. Dengan marah, Sooji segera menghampiri sang pengendara sepeda.

Myungsoo sibuk mengayuh sepedanya. Sesekali ia melirik kearah kertas yang kini ada ditangannya. Nomor 73? “Ah, belok kanan,” gumam Myungsoo. Ia segera memutar stang sepeda usangnya. Namun matanya membulat begitu mendapati sebuah mobil mercedes benz berbelok dari arah berlawanan. Dengan cepat Myungsoo segera mengatur keseimbangan sepedanya yang mulai goyah. Hingga akhirya sepeda Myungsoo menabrak sebuah pohon besar diseberang jalan.

Myungsoo meringis kesakitan begitu bokongnya mendarat mulus di aspal. Ia terkejut mendapati sepedanya kini sudah penyok. Makanan yang akan diantarnya kerumah pelanggan bahkan sudah berserakan. Myungsoo baru beranjak berdiri ketika seorang gadis cantik dengan wajah kesalnya menghampiri dirinya. Myungsoo tertegun. Seorang gadis berambut hitam panjang dan bergelombang kini sudah berada dihadapannya. Bibir plumnya yang berwarna merah muda karena diolesi oleh lipgloss. Matanya yang besar tanpa eyeliner. Siapa gadis ini? Putrikah? Tapi, dari kerajaan mana?

Yak! Ahjussi! Kalau kau tidak pandai mengendarai sepeda, tidak usah naik sepeda! Lebih baik kau jalan kaki saja!”

Myungsoo tersentak kaget begitu mendengar suara nyaring dari gadis cantik itu. Tak mau tertangkap basah karena baru saja mengagumi kecantikan gadis ini, ia segera berdeham. “Ya! Mwo? Ahjussi? Kau tak lihat wajahku ini sudah mirip dengan visual boygroup Infinite? Kenapa kau memanggilku ahjussi?”

Gadis itu – Bae Sooji – segera melipat kedua tangannya didepan dada. Ia menghembuskan nafasnya yang beraroma mint, meniup poni selamat datangnya itu. “Aku tidak peduli kau mirip dengan member Infinite atau EXO sekalipun! Yang aku pedulikan sekarang adalah kondisi mobilku!” Sooji segera menunjuk bemper mobilnya yang kini sudah penyok.

Mata elang Myungsoo sontak membesar. Walaupun ia tidak kaya, tapi ia tahu jelas bahwa mobil milik gadis ini bukanlah mobil biasa. Gajinya selama 10 tahun saja mungkin belum tentu bisa membeli mobil ini. Matilah ia! Apa yang harus ia lakukan sekarang? “Ya! Nona! Kau tak lihat bahwa kondisi sepedaku juga tak lebih baik dari mobilmu?”

Sooji melirik sekilas kearah sepeda Myungsoo yang kini sudah tak berbentuk lagi. “Sepeda butut begitu kenapa masih dipakai lagi?” gerutu Sooji. “Aku mengerti,” ujarnya kemudian. “Orang miskin ternyata,” serunya sakratis lalu menghembuskan nafasnya perlahan. “Baiklah. Aku tidak akan memperpanjang masalah ini. Karena aku yakin kau tak akan mampu mengganti mobil milikku. Dan ini,” Sooji merogoh tas tangannya, mengambil dompet branded miliknya dan mengeluarkan beberapa lembar uang dari dalamnya. Ia segera meraih tangan Myungsoo dan meletakkan uang tersebut ditangannya. “Ini. Kau bisa mengganti sepedamu dengan yang lebih bagus lagi,” Sooji tersenyum meremehkan.

Mwo? Ya! Walaupun aku miskin aku tetap punya harga diri! Dan aku tidak butuh uangmu, Nona!” Myungsoo segera menyerahkan uang tersebut pada Sooji. Ia lalu mendorong sepedanya yang sebenarnya sudah ta layak pakai lagi.

Sooji menggeram kesal. Bisa-bisanya lelaki itu menolak bantuannya. Sombong sekali. “Ahjussi, ayo kita pergi sekarang,” ujar Sooji lalu kembali masuk kedalam mobilnya.

Ya! Kenapa kau tak mengantar pesanannya? Tuan Jang sudah marah-marah tadi!” omel Tuan Bang pada Myungsoo yang baru saja tiba di restorannya dengan jalan yang pincang.

Myungsoo mendengus. “Kau tidak lihat aku sedang terluka? Aku baru saja kecelakaan karena gadis cantik itu! Kenapa kau tidak mengasuransikan pegawaimu?” gerutu Myungsoo. “Hari ini aku sedang tidak ingin memasak!” Myungsoo lalu berjalan kelantai atas. Restoran Korea milik Tuan Bang memang memiliki dua lantai. Lantai 1 untuk restorannya sedang lantai dua untuk kamar pegawai dan juga dirinya.

Ya! Kalau kau tidak masak, aku bisa rugi!” teriak Tuan Bang lalu menyusul Myungsoo.

Sulli tak henti-hentinya tertawa mendengar ocehan Sooji. Tangannya kini asik menggulung rambut Sooji dengan pengeriting rambut. “Aku mengerti kenapa lelaki itu marah. Tentu saja. Kau merendahkannya, Sooji-ah.”

Mendengar perkataan Sulli membuat Sooji melipat kedua tangannya didepan dada. “Ya! Harusnya kau membelaku! Teman siapa sebenarnya kau ini?” Gadis cantik itu mempoutkan bibirnya membuat Sulli terkikik pelan.

“Aku berbicara benar. Omong-omong, bagaimana rupa lelaki itu? Apa dia tampan?” goda Sulli.

Sooji terdiam sejenak. Otaknya kembali memutar bayangan ketika ia bertemu dengan lelaki yang menurutnya menyebalkan itu. “Wajahnya putih bersih. Tatapan matanya tajam. Bibirnya yang tipis dan juga…” Sooji tertegun. “Apa yang baru saja kukatakan?!” gerutunya. “Pokoknya aku membenci lelaki itu!”

“Sooji-ssi.”

Sooji dan Sulli sontak menoleh pada pelayan rumah Sooji yang kini berada diujung pintu kamar.

“Tuan Choi sudah datang.”

Sooji tersenyum simpul begitu mendengar ucapan pelayannya itu. Ia segera merapikan bajunya, yang sebenarnya sudah cukup rapi. Ia tak ingin kencannya dengan pangeran tampannya rusak karena penampilannya yang mengecewakan. “Kalau begitu aku pergi dulu, Sulli-ah. Annyeong!” Sooji melambaikan tangannya lalu berlari kecil membuat Sulli menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Seorang putri memang harus bersatu dengan pangeran berkuda putih,” lirihnya.

“Minho Oppa!

Choi Minho – lelaki berkulit coklat yang tengah menyesap tehnya – tersenyum pada Sooji begitu gadis itu berlari kecil kearahnya.

“Sudah lama menunggu?” tanyanya begitu ia sudah berada dihadapan lelaki mais tersebut.

“Tidak juga. Kajja,” Minho menarik lengan gadis itu lembut.

Sooji tak henti-hentinya memuji pemandangan yang kini ada dihadapannya. Malam yang penuh bintang, makan malam di kapal pesiar yang Sooji tahu bukanlah kapal pesiar biasa dan hanya berdua dengan pangeran berkuda putihnya – Choi Minho. Hidup memang terlalu sempurna untuk seorang Bae Sooji.

“Kau menyukainya?” tanya Minho pada Sooji yang sedari tadi masih terkagum-kagum.

Sooji tersenyum. “Tentu saja, Oppa. Aku tak pernah tidak menyukai kejutan yang kau berikan.”

Makan malam romantis Sooji dan Minho ditemani dengan alunan biola yang sangat lembut. Mereka makan sembari bernostalgia dengan kenangan-kenangan indah mereka berdua. Dari awal perkenalan mereka hingga bagaimana mereka memutuskan untuk menjadi sepasang kekasih. Usai makan, Minho memberi sebuah kode pada sang pemain biola untuk menghentikan aktivitasnya. Ia punya sesuatu yang penting untuk dikatakan paa gadis cantik dihadapannya ini.

“Sooji-ah,” panggil Minho. Tangannya kini menggenggam lembut tangan Sooji.

Sooji yang sedari tadi sibuk melihat pemandangan disekelilingnya sontak menoleh pada Minho. “Wae, Oppa?

“Sebenarnya aku mengajakmu kesini karena ada yang ingin kukatakan padamu,” ujarnya. Sooji masih menatapnya bingung. Baru kali ini Choi Minho bersikap seperti ini. “Kita sudah berhubungan selama lebih dari lima tahun, kurasa sudah saatnya bagi kita untuk melanjutkan hubungan kita ke tingkat yang lebih serius lagi.” Minho menghembuskan nafasnya perlahan. Lelaki itu lalu merogoh saku celananya mengeluarkan kotak beludru berwarna putih. Minho kemudian membuka kotak tersebut tepat dihadapan Sooji.

Sooji membuka mulutnya begitu melihat isi dari kotak tersebut. Sebuah cincin dengan bongkahan berlian sebagai hiasannya. “Oppa…”

“Maukah kau menjadi pendampingku disisa umurku?”

Sooji menatap Minho dengan tak percaya. Ia cukup terkejut dengan lamaran lelaki ini. Tapi, ia juga bahagia. Sangat bahagia. Menjadi pendamping hidup Minho adalah salah satu harapan terbesarnya. Sooji sontak mengangguk membuat Minho tersenyum. Ia segera menyematkan cincin tersebut dijari manis Sooji.

Gomawo, Nyonya Choi,” Minho mencium lembut punggung tangan Sooji.

“Minho akan memperkenalkanmu pada orangtuanya?” tanya Sulli sedikit terkejut.

Sooji mengangguk kecil. “Begitulah. Walaupun kami sudah berkencan selama lebih dari lima tahun, tapi Minho Oppa belum pernah memperkenalkanku secara resmi pada kedua orangtuanya. Kau tahu, Keluarga Choi orang yang sangat sibuk,” jelasnya. “Bagaimana penampilanku?” tanya Sooji. Ia berputar dihadapan Sulli agar sahabat baiknya itu bisa melihat apa yang salah dari penampilannya.

“Sempurna seperti biasa, Bae Sooji. Aku yakin orangtua Choi Minho akan langsung menyukaimu.”

“Benarkah?” Sooji memegang pipi bulatnya yang ia yakini sudah berubah warna. Kenapa ia jadi gugup begini?

“Pergilah. Lelaki itu pasti sudah menunggumu.”

Sooji mengangguk. Ia lalu memeluk erat Sulli. “Doakan aku,” ujarnya sebelum akhirnya pergi meninggalkan Sulli.

Annyeonghaseyo, Tuan dan Nyonya Choi,” Sooji – diikuti oleh Minho – sontak berdiri begitu ayah dan ibu Minho memasuki ruang tengah Keluarga Choi.

Ayah dan ibu Minho tersenyum lalu segera duduk disofa. “Jangan terlalu formal begitu, Sooji-ssi. Bagaimanapun juga kau akan segera menjadi bagian dari Keluarga Choi,” ujar Nyonya Choi.

Sooji mengangguk mengerti. “Ne, eommonim.”

“Bagaimana kabar orangtuamu? Apa bisnis mereka berjalan lancar?”

“Kabar mereka baik. Keluarga kami berencana ingin membuka cabang perusahaan di Jepang.”

“Bagus sekali,” Tuan Choi mulai bersuara. “Siapa tahu saja kami bisa bergabung.”

“Tentu saja, ahbonim.”

“Omong-omong, apa kau suka memasak?”

Sooji tersentak kaget mendengar pertanyaan Nyonya Choi. “Ne? Memasak?”

Nyonya Choi mengangguk. “Bukankah semua wanita harus bisa memasak?”

Sooji tersenyum kikuk. Ya, semua wanita kecuali dirinya. Sooji lebih memilih mempelajari 10 bahasa asing daripada harus memasak. Ayolah, ia bukan wanita yang bercita-cita menjadi seorang ibu rumah tangga. Jika ia sudah menjadi istri Minho nanti, ia ingin menjadi wainta karir. “Tentu saja,” ujar Sooji yakin. “Memasak adalah salah satu hobiku.”

“Benarkah?” tanya Minho tak percaya. setahunya, wanita ini sangat benci dengan hal yang berbau dapur, tapi kenapa sekarang Sooji mengatakan bahwa hobinya adalah memasak?

Ne, oppa,” Sooji mengangguk pasti.

“Bagus sekali,” Nyonya Choi bertepuk tangan kecil. “Kebetulan kami akan mengadakan pesta perusahaan hari sabtu ini. Kau tidak keberatan bukan kalau kau memasak makanan penutup untuk acara ini?”

Sooji membelalak kaget mendengar ucapan Nyonya Choi. Ia kini merutuki kebodohannya karena telah berbohong pada orangtua Minho. Sooji menghembuskan nafasnya perlahan. “Tentu saja. Aku akan memasak untuk acara itu,” ujarnya. Nadanya terdengar tidak selantang sebelumnya.

Sulli menghembuskan naasnye perlahan mendengar ocehan Sooji. “Kau akan memasak?” tanyanya masih tak percaya. Apa yang sedang dipikirkan gadis cantik ini sebenarnya? Bagaimana ia bisa berbohong seperti ini?

Sooji mengangguk lesu. Ia lalu menutup wajahnya dengan selimutnya.

“Kenapa kau tidak jujur saja pada mereka bahwa kau tidak bisa memasak? Memasak itu tidak semudah membalikkan telapak tangan Sooji-ah,” ujar Sulli.

Sooji lalu membuka selimutnya. “Aku tidak mungkin jujur! Apa kata mereka kalau tahu calon menantu mereka tidak bisa memasak?”

“Tapi, bagaimana caranya kau memasak untuk mereka?”

Sooji tertegun. Bagaimana caranya? Ia kemudian tersenyum begitu otaknya menemukan sebuah ide yang menurutnya cukup brilliant. “Aku tahu!”

“Kami diundang ke pesta Keluarga Choi?”

Sooji mengangguk lalu kembali menyantap sarapannya. “Ne, eomma, appa. Dan aku juga akan memasak disana.”

“Me… memasak?” tanya Nyonya Bae sedikit terkejut. “Sejak kapan kau bisa memasak, Sooji-ah?”

“Aku bisa, eomma. Hanya saja aku tidak terlalu menunjukkan keahlianku dalam bidang memasak,” bohongnya – entah untuk yang kesekian kalinya. “Aku sudah selesai,” Sooji membersihkan mulutnya dengan serbet lalu mulai beranjak berdiri.

Eoh, mau kemana? Kenapa terburu-buru sekali?”

 “Aku harus pergi ke suatu tempat dengan Sulli. Sampai jumpa nanti,” Sooji melambaikan tangannya lau segera pergi.

Mobil hitam milik Sooji terus melaju disebuah jalan sepi ditengah kota. Sedari tadi mobil tersebut terus melaju tanpa tujuan pasti.

“Sebenarnya kita mau kemana?” tanya Sulli akhirnya setelah terdiam cukup lama.

Sooji hanya diam. Tak berniat menjawab. Mata indahnya sedari tadi terus menatap keluar jendela seolah mencari sesuatu. Hingga pandangannya terhenti pada sebuah restoran Korea yang cukup ramai.

Ahjussi, berhenti!” serunya. “Kajja, Sulli-ah,” Sooji lalu menarik lengan Sulli agar gadis itu berjalan mengikutinya.

“Apa yang kita lakukan disini, Sooji-ah?” tanya Sulli tak mengerti begitu ia dan Sooji sudah berada didalam restoran Korea tersebut.

“Makan,” jawabnya enteng.

Makan? Seorang Bae Sooji akan makan ditempat yang belum tentu higienis ini? Yang benar saja! Namun, belum sempat Sulli bertanya lagi, Sooji sudah lebih dulu duduk disebuah kursi yang kosong. Mau tak mau, Sulli hanya mengikuti sikap sahabatnya itu.

Ahjussi!

Seorang lelaki paruh baya sontak menghampiri Sooji dan Sulli begitu gadis cantik itu memanggilnya.

“Ada yang bisa saya bantu, Nona?” tanyanya ramah.

“Sediakan semua makanan penutup yang paling enak direstoran ini,” suruhnya.

Lelaki paruh baya itu mengangguk mengerti lalu bergegas mengambil pesanan Sooji.

“Apa yang sebenarnya kita lakukan disini, Sooji-ah?”

Sooji tersenyum simpul. “Aku memutuskan untuk belajar memasak. Kenapa aku memilih tempat ini? Karena tempat ini tidak mungkin dikunjungi oleh Keluarga Choi. Sudah mengerti, Choi Sulli?”

Sulli hanya mengangguk sekali. Tak lama, pesanan mereka datang. Sooji dan Sulli  menatap tajam makanan yang kini berada dihadapan mereka. Ada hotteok, sejenis pancake yang mirip seperti Dorayaki dari Jepang yang didalamnya terdapat gula merah, madu, kacang tumbuk dan juga kayu manis. Ada juga  yul-lan, manisan Korea yang dibuat dari kacang dan buah-buahan. Hwajeon, kue beras yang diatasnya diberi taburan bunga. Baesuk, minuman buah yang terbuat dari pir, jahe, dan madu. Sooji dan Sulli lalu meraih sumpit mereka dan segera menyantap makanan penutup khas Korea tersebut. Sesekali mereka berbincang untuk merundingkan tentang rasa masakan tersebut.

“Menurutmu, yang mana yang paling enak?” tanya Sooji begitu mereka selesai mencicipi makanan penutup tersebut.

“Aku lebih suka ini,” ujar Sulli menunjuk hotteok.

Sooji mengangguk. “Aku setuju,” ujarnya. “Ahjussi!” Sooji kembali memanggil pemilik restoran tersebut.

“Ada yang bisa saya bantu lagi, Nona?”

“Bisakah kau memanggil chef-mu? Aku ingin bertemu dengannya,” pinta Sooji.

Cukup lama lelaki paruh baya itu terdiam hingga akhirnya ia mengangguk mengerti lalu pergi untuk memanggil chef restorannya. Tak lama, lelaki itu kembali tapi tak sendiri. Ia kini bersama seorang lelaki tinggi dan tampan yang wajahnya sudah tak asing lagi bagi Sooji.

“Apa yang bisa saya bantu, Nona?”

Lelaki tampan tersebut menoleh pada Sooji. Matanya membulat.

“KAU?!” seru mereka hampir serempak.

TO BE CONTINUED

130 responses to “[CHAPTER – PART 1] MY PRINCESS

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s