[VIGNETTE] 1.4.3 Letter (MyungYeon Version)

143-letter-2

Title : 1.4.3 Letter | Author : Julia Hwang

Genre : Romance, Fluff, AU | Rating : PG-15 | Leght : Vignette

.

Main Cast :

Kim Myungsoo | Park Jiyeon

Other Cast :

Choi Minho | Park Luna | Choi Sulli

Cover by : chomichin @HSG

Disclaimer :

Story is mine! Semua cast milik kita bersama. Jika ada kesamaan dalam bentuk apapun itu hanya unsur ketidaksengajaan !

Summary :

“Bunga Agapanthus. Salah satu bunga dengan lambang Cinta. Bunga yang sering di artikan sebagai ‘Surat Cinta’ dan sudah terkenal di beberapa Belahan Dunia. Bunga yang sangat cocok untuk menyatakan cinta pada seseorang seperti Bunga Mawar.”

 

 

~1.4.3 Letter~

 

“Jiyeon.. Ada kiriman lagi untukmu.”

Gadis itu berbalik menatap Ibunya dengan ekspresi datar. “Agapanthus lagi ?” Gadis itu memiringkan kepalanya dan bertanya.

Ibunya hanya mengangguk dan tersenyum tipis. “Seperti biasa.”

Tanpa pikir panjang, Jiyeon langsung berlari menuju kamarnya saat ia baru saja sampai di rumah setelah pulang dari Universitas bersama Myungsoo, sahabatnya. Saat memasuki kamar, ia sudah mendapati sebuket bunga Agapanthus telah berada di meja belajarnya. Jiyeon mendengus, tapi sekilas senyum sempat ia perlihatkan walaupun hanya sebentar. Ia mendekati buket bunga itu dan terus menatapnya. Tak jauh dari kelopak bunga, selalu terselip sebuah surat berwarna merah muda berisikan pita yang sangat cantik. Ia mengambil lalu membacanya. Sebelumnya, ia sudah bisa menebak apa isi dari surat tersebut.

“1.4.3”

Hanya tiga angka itu yang mengisi kertas kosong yang sekarang berada dalam genggamannya. Tiga angka aneh yang Jiyeon sendiri tak tahu artinya. Tiga angka yang menurutnya misterius seperti sang pengirim yang hingga sekarang tak ia ketahui.

Sudah hampir seminggu penuh ini, Jiyeon selalu mendapat kiriman sebuket Bunga Agapanthus di rumahnya. Bunga yang tak begitu besar dengan kelopak berwarna biru. Bunga dengan arti ‘Surat Cinta’ yang lagi-lagi Jiyeon tak mengetahuinya. Jujur, sejak dulu Jiyeon tak begitu menyukai bunga. Berbeda dengan Ibunya yang sangat mencintai bermacam-macam bunga yang sekarang tertanam di halaman kecil belakang rumahnya. Jiyeon tidak menyukai jika bunga-bunga itu layu. Jiyeon tidak menyukai penampilannya saat layu. Dan karena itulah ia tak menyukai bunga.

Tapi, akhirnya ia menyerah. Ia menyerah saat bunga-bunga itu datang padanya secara misterius. Bunga dengan kelopak berwarna biru favoritenya. Bunga yang hingga sekarang menjadi misteri karena sang pengirim. Bunga yang membuat Jiyeon selalu berdebar dibuatnya.

Bunga Agapanthus. Jiyeon tahu nama bunga itu saat ia mencarinya di Internet. Ia begitu penasaran untuk apa orang misterius itu selalu mengirim bunga ini pada dirinya. Dan yang paling membuatnya penasaran adalah tiga angka dalam surat di dalam bunga itu. 1.4.3, apa maksud pesan itu yang membuatnya depresi hingga sekarang.

Jiyeon segera mengambil ponsel dan mengetikkan pesan pada seseorang. Ia sudah lelah mencari tahu semua ini sendiri. Dan sekarang, ia membutuhkan bantuan.

To : Myungie~

Datang ke rumahku sekarang! Aku membutuhkan bantuanmu. Kutunggu 15 menit lagi. Pyeong~!

Ia tersenyum saat pesan itu telah terkirim dan langsung bergegas memasuki kamar mandi dan melakukan ritualnya. Dan sebentar lagi, seseorang yang menerima pesan itu akan datang kurang dari 15 menit seperti isi pesan itu.

.

.

.

“Bunga Agapanthus. Salah satu bunga dengan lambang Cinta. Bunga yang sering di artikan sebagai ‘Surat Cinta’ dan sudah terkenal di beberapa Belahan Dunia. Bunga yang sangat cocok untuk menyatakan cinta pada seseorang seperti Bunga Mawar.”

“Itu saja ?”

Myungsoo hanya mengangguk sambil merebahkan dirinya di ranjang kamar Jiyeon. Pria yang sudah mengenal Jiyeon sejak mereka berumur 7 tahun. Bersahabat dan selalu bersama hingga sekarang.

“Jika kau ingin tahu lebih banyak lagi, carilah sendiri! Aku lelah dan ingin tidur.”

“Ya! Kim Myungsoo! Bangunlah dan bantu aku.” Rengek Jiyeon dengan memperlihatkan aegyonya pada Myungsoo yang sekarang tak menghiraukannya. Myungsoo menutup matanya dengan senyum saat mendengar rengekan Jiyeon padanya. Ia sangat suka menggoda sahabatnya ini sampai ia benar-benar puas.

Setelah beberapa menit ia tak mendapat respon dari Myungsoo, Jiyeon akhirnya menyerah dan membiarkan laptopnya tetap menyala di sisi ranjang dan merebahkan kepalanya di atas dada Myungsoo sambil menatap langit-langit kamar.

Yang terdengar sekarang hanyalah hembusan nafas Myungsoo yang teratur. Sangat sepi dan sunyi yang membuat mata Jiyeon sebentar lagi akan tertutup. Mereka berdua sudah biasa tidur bersama. Walaupun orang tua mereka berada di rumah, tapi kebiasaan itu tetap saja terjadi. Orang tua mereka percaya jika Jiyeon dan Myungsoo tak akan mungkin melakukan hal-hal buruk sekalipun di saat mereka berada di dalam kamar bersama. Mereka telah mengenal satu sama lain sejak kecil dan Myungsoo tak akan berani menyentuh Jiyeon sekalipun. Banyak yang menganggap mereka seperti kakak beradik di bandingkan dua sahabat yang sudah mengenal sejak kecil. Orang tua mereka sudah berteman sejak muda dulu dan akhirnya menurun juga pada Jiyeon dan Myungsoo. Ibu dan Ayah Jiyeon begitu menyayangi Myungsoo begitu juga sebaliknya. Jadi, mereka tak akan pernah mempermasalahkan jika ada seorang lelaki berada di dalam kamar anak gadis mereka.

“Myungsoo.. Kau sudah tidur ?” Jiyeon bertanya setelah sekian menit hidup dalam keheningan. Myungsoo hanya diam tak menjawab. Tapi Jiyeon tahu jika Myungsoo belum tidur.

“Hmm..”

“Kenapa aku berpikir jika pengirim bunga ini adalah Minho ?! Dan apa kau tahu apa arti dari tiga angka itu ?”

Myungsoo membuka matanya saat mendengar pertanyaan Jiyeon padanya. “Mungkin.” Jawabnya pendek dan kembali menutup mata.

“Kau belum menjawab apa arti tiga angka itu.”

“Aku tidak tahu. Kau bisa tanyakan itu pada Luna. Bukankah ia sangat pintar ? Ia pasti tahu apa arti angka-angka misterius itu.”

Jiyeon membulatkan bibirnya membentuk huruf ‘O’ saat mendengar jawaban Mungsoo dan tersenyum tipis. “Kau benar.”

Setelah itu suasana kembali hening saat angin dingin memasuki kamar Jiyeon dari arah jendela. Ia bangkit dan berjalan ke arah jendela lalu menutupnya. Ia membereskan sisa-sisa makanan yang tadi mereka nikmati dan mematikan laptop yang sejak tadi menyala.

Jiyeon menoleh ke arah Myungsoo yang sudah kembali tidur. Setelah semua beres, ia merebahkan diri tepat di samping Myungsoo dan menutup tubuh mereka menggunakan selimut tebal miliknya. Jiyeon tersenyum menatap mata Myungsoo yang tertutup dan merapikan rambut-rambut kecil yang menutupi wajah tampannya.

“Myungie..”

“Hmm..”

“Apa Minho benar-benar menyukaiku ?”

“Kau bisa tanyakan padanya.”

“Hmm.. Jika benar ia yang mengirim semua bunga ini setiap hari, aku akan mempertimbangkan menerimanya.”

“Itu bagus.”

Jiyeon mendekatkan tubuhnya dan kini wajah mereka bertemu. Sangat dekat sampai hidung mereka hampir bersentuhan. Myungsoo masih tetap bertahan dengan matanya yang tertutup dan berbeda dengan Jiyeon yang tersenyum seperti menahan tawa. Jari-jari Jiyeon menyusuri hidung Myungsoo yang membuat pria itu merinding seketika. Kecupan lembut dari Jiyeon mendarat di kening Myungsoo. Gadis itu lalu tertawa dan memeluk Myungsoo dalam posisi tidur. Ia kemudian berbisik tepat di telinga pria itu yang tanpa sadar membuat seulas senyum tersungging di sudut bibir Myungsoo.

“Terima kasih karena kau mau mendengar semua keluhanku dan membantuku hari ini, Kim Myungie! Aku menyayangimu~”

 

~1.4.3 Letter~

 

“Ayolah, Luna! Bantu aku menemukan arti dari ketiga angka ini!”

“Aku tidak tahu, Jiyeon. Kenapa kau bertanya padaku ?”

“Myungsoo bilang kau pasti tahu artinya karena kau sangat pintar. Ayolah.. Sekali ini saja!”

“Huft! Apa saja angkanya ?”

“1.4.3!”

Mata Luna membulat seketika menatap Jiyeon yang kini tersenyum ke arahnya. Tanpa sadar, ia tertawa dengan keras membuat ekspresi Jiyeon berubah cepat. Ia bingung dan menatap Luna aneh.

“Kenapa kau tertawa ?” Tanyanya membuat Luna semakin memperkeras tawanya sambil memegang perut.

“Apa kau benar-benar tidak mengetahui apa arti ketiga angka ini ?” Jiyeon hanya menggeleng seperti anak kecil di hadapan Luna.

Luna menghentikan tawanya dan tersenyum lembut. “I Love You.”

“Apa ?”

“Aku mencintaimu. I Love You. Itulah arti dari ketiga angka itu.”

Senyum merekah menghiasi bibir Jiyeon saat mengetahui arti dari angka-angka misterius yang membuatnya depresi itu. Ternyata ketiga angka itu adalah isyarat dari seseorang yang ternyata menyukainya dan menyatakan cintanya setiap saat lewat bunga dan surat itu. Ia mengutuk dirinya sendiri karena tidak peka dan baru mengetahuinya seminggu kemudian. Ia sudah menebak siapa orang misterius yang selalu mengirimkan bunga dan surat itu padanya. Seseorang yang sejak dulu berkata bahwa ia menyukai dirinya hingga sekarang. Seorang pria tampan yang berada dalam kelas yang sama dengannya.

“Luna, Terima kasih kau telah membantuku dan kau memang pintar! Aku akan mentraktirmu saat istirahat nanti di Cafetaria. Sampai bertemu nanti.” Baru saja Jiyeon ingin berbalik pergi, Luna dengan cepat menahan tangannya.

“Memang siapa pengirim angka-angka itu padamu ?” Jiyeon tersenyum simpul membuat Luna semakin penasaran di buatnya.

“Minho!”

 

-***-

 

Senyum merekah tak pernah lepas dari wajah cantiknya. Jiyeon mempercepat langkahnya menuju gedung olahraga untuk menemui pria yang membuatnya berdebar setiap saat karena kiriman Bunga Agapanthus dan surat cinta dengan tiga angka romantis sebagai isinya. Minho, pria yang sejak dulu menyukai Jiyeon dan sudah pernah menyatakan cinta padanya. Tapi, entah kenapa hati Jiyeon selalu menolak untuk menerimanya. Hati kecilnya tidak pernah sejalan dengan pikirannya dan karena itu juga ia selalu membuat harapan Minho pupus.

Kaki rampingnya berhenti kala ia telah sampai dan menatap pria tinggi dengan rambut hitam itu sedang bermain basket bersama rekan-rekan satu timnya. Jantungnya seketika berdebar dengan kencang saat tatapan Minho menatap ke arahnya. Ia menyadari kehadiran Jiyeon di tengah-tengah permainan mereka.

“Jiyeon!” Panggil Minho sambil berlari menuju ke arahnya. Surat yang sedari tadi di genggamnya ia sembunyikan di balik punggung saat Minho telah berada di hadapannya.

“Apa yang kau lakukan disini ? Kau mencari Myungsoo ?”

Jiyeon menggeleng pelan tanpa menghilangkan senyum manis dari bibirnya. “Aku kesini untuk mencarimu.” Katanya membuat Minho menggaruk tengkuknya dan terkekeh.

“Benarkah ? Oh ya, aku ingin mengatakan sesuatu padamu.” Kini pembicaraan Minho mulai serius membuat jantung Jiyeon semakin berdetak dengan kencang. Ia berpikir bahwa sekarang apakah Minho akan menyatakan cinta langsung padanya.

“Hmm.. aku sudah—“

“Chagiya!!!” Suara teriakan seseorang menghentikan kalimat Minho membuat kedua orang itu menoleh ke arah pintu utama dan mendapati seorang gadis cantik sedang berlari ke arah mereka.

Jiyeon mengerutkan keningnya saat gadis itu memeluk Minho dan bersikap dengan manja pada pria itu. Tapi tunggu! Ia tahu siapa gadis ini. Dia adalah Sulli. Choi Sulli, gadis cantik impian seluruh pria di Universitasnya. Gadis cantik pindahan dari Rusia dan sudah banyak mendapatkan cinta dari banyak orang. Gadis cantik yang sekarang memenuhi pikirannya. Sekarang di pikirannya hanya satu, apa hubungan Minho dengan Sulli ?

“Sulli.. Perkenalkan dia adalah Jiyeon. Dia salah satu temanku sejak dulu di Universitas ini. Aku ingin kalian berteman baik mulai sekarang.” Sulli dengan cepat mengulurkan tangannya dan tersenyum dengan manis saat Minho memperkenalkannya pada Jiyeon.

“Hai.. Aku Sulli. Aku adalah kekasih Minho. Senang bertemu denganmu.”

DEG!

Tiba-tiba jantung Jiyeon berhenti berdetak saat itu juga. Ia membulatkan matanya dengan lebar saat mendengar kalimat yang di ucapkan Sulli beberapa detik yang lalu. Otaknya masih mencerna satu persatu kenyatan yang baru saja terjadi di hadapannya. Kenyataan bahwa Minho dan Sulli adalah sepasang kekasih.

Jiyeon masih terdiam di tempatnya. Surat yang sedari tadi di genggamnya tanpa terasa terlepas begitu saja dan tertiup angin pergi dari tempat itu. Ia masih saja menatap uluran tangan Sulli yang di peruntukkan untuknya. Apa ini lelucon ? Apa ini semua hanya untuk mempermainkannya ?

“Jiyeon.” Jawabnya singkat. “Senang juga bertemu denganmu.” Dengan cepat dan dengan ekspresi yang sulit dibaca, Jiyeon akhirnya memperkenalkan dirinya singkat dan menatap Minho tajam membutuhkan penjelasan.

Minho hanya tersenyum menatap Jiyeon dan Sulli secara bergantian. “Ini yang aku ingin katakan padamu, Jiyeon. Aku dan Sulli resmi berpacaran kemarin dan ingin mentraktirmu dan Myungsoo di  Cafe dekat Gangnam besok. Jadi, aku harap kau dan Myungsoo datang.”

Jiyeon masih saja terdiam. Ia ingin sekali pergi dari tempat itu enggan melihat dan mendengar semua kenyataan yang satu persatu terjadi di hadapannya. Entah kenapa matanya terasa panas. Ia takut mungkin sebentar lagi ia akan menangis.

“Hmm.. Aku akan datang bersama Myungsoo besok.”

.

.

.

“Berhenti menangis. Kau terlihat sangat jelek tahu!”

Jiyeon semakin memperkeras tangisannya saat mendengar kalimat sindiran dari Myungsoo. “Minho mempermainkanku! Wajah bodohnya tidak merasa bersalah sama sekali!”

“Cih! Kau terlalu mengambil kesimpulan dengan cepat. Percaya diri sekali!”

“Aku kira itu Minho! Dia mengatakan bahwa dia menyukaiku.” Ucap Jiyeon masih sesenggukan.

“Dan buktinya, dia sudah berpacaran dengan Sulli.”

“Berhenti menyebut nama mereka!”

“Ya! Berhenti menangis dan berteriak ke arahku!”

Tangisan Jiyeon berhenti dan berubah menjadi pertengkaran kecil antara Myungsoo dan dirinya. Ia menghapus sisa-sisa air mata dan merebahkan kepalanya di atas meja dan menutup mata. Ia malu dan kecewa. Ternyata dugaannya selama ini salah besar.

“Aku pulang lebih awal hari ini. Ibu mengajakku menjemput saudara kami yang sedang berlibur ke Korea dan menemani mereka hingga besok. Kau tak apa sendiri ?”

Jiyeon mengangguk pertanda ia akan baik-baik saja. “Pulanglah dan hati-hati. Aku tunggu kau besok di sini.” Ujarnya dengan senyum tipis membuat Myungsoo lega meninggalkan sahabat tercintanya sendiri.

.

.

Jiyeon memasuki gerbang rumahnya dengan wajah tertekuk. Ia pulang sendiri tadi tanpa di temani Myungsoo yang telah pergi 2 jam yang lalu. Matanya sembab sehabis menangis dan saat akan memasuki pintu utama, sesuatu yang tak ingin ia lihat ada di hadapannya menghadang pintu. Ia segera mengambil ponsel dan menelepon Myungsoo.

“Myungie kau dimana ?” Katanya memulai pembicaraan dengan Myungsoo.

“Aku sedang di Incheon sekarang.”

“Bunga dan surat bodoh ini masih terkirim dan sekarang berada di rumahku. Bagaimana ini ?”

“Kau bawa saja masuk ke dalam kamar. Mungkin orang itu masih setia menunggumu sadar akan kehadirannya.”

“Tapi siapa ? Aku tak bisa berpikir lagi semenjak Minho membuatku malu. Pulanglah dengan cepat, aku merindukanmu.”

Baru saja Jiyeon membuka daun pintu kamarnya dengan membawa buket Bunga Agapanthus dan surat cinta itu, ia terkejut saat melihat seseorang telah berdiri di dalam kamarnya. Ponselnya terlepas saat itu juga dari genggamannya.

“Myungie.. Sejak kapan kau disitu ?”

Myungsoo hanya tersenyum sambil melepas ponsel yang menempel di telingannya. “Bacalah surat itu.”

Jiyeon melihat surat itu dan Myungsoo bergantian. Ia masih bingung apa yang di lakukan sahabat prianya saat ini. Tanpa pikir panjang, ia membuka dan membaca surat itu.

 

“1.4.3”

Aku bingung aku harus mengatakan apa selain tiga angka itu padamu. Aku memang seorang pengecut yang hanya bersembunyi di balik surat bodoh dan Bunga Agapanthus yang sedang kau pegang. Aku malu menyatakan hal ini, tapi aku menyayangimu lebih dari itu.

“1.4.3”

Kau boleh membenciku saat ini atau tak akan mau menjadi sahabatku lagi saat kata-kata ini aku keluarkan. Aku menghormati persahabatan kita dan perasaanmu padaku. Kau pasti tak percaya akulah orang misterius di balik semua ini. Tapi aku malu untuk mengungkapkannya.

“1.4.3”

Aku mencintaimu Park Jiyeon. Sejak lama aku memendam perasaan ini padamu. Saat kau berada di dekatku atau menyentuhku, itu terasa berbeda. Aku menyukaimu lebih dari seorang sahabat ataupun saudara. Aku mencintaimu.

“1.4.3”

-Kim Myungsoo- 

 

Setelah membaca kalimat demi kalimat yang ada di dalam surat itu, Jiyeon menangis. Ia menatap Myungsoo dan surat itu bergantian. Ia tak akan percaya ternyata selama ini Myungsoo lah orangnya. Myungsoo yang mencintainya. Ia berlari ke arah Myungsoo dan memeluknya. Memeluknya dengan sangat erat dan terus menangis.

“Maafkan aku. Aku tidak tahu jika itu adalah kau. Maafkan aku saat aku bilang ini semua dari Minho. Maafkan aku Myungie..”

Myungsoo hanya mengangguk dan mengelus pundak Jiyeon lembut. “Aku yang salah. Seharusnya aku tak membuatmu bingung seperti ini. Aku hanya—“

“Aku juga mencintaimu.”

Seketika hening menyelimuti mereka. Hanya terdengar suara isakan dari Jiyeon yang semakin mempererat pelukannya.

“Aku juga mencintaimu, Kim Myungsoo. Jujur saja, hatiku nyaman saat bersamamu. Aku juga tak bisa membohongi diri sendiri jika aku juga menyukaimu.”

Myungsoo melepaskan pelukannya dan menatap Jiyeon dengan wajah yang bahagia dan mata yang berbinar. “Jadi..”

CHU~

Ciuman hangat mendarat tepat di bibir Myungsoo. Ciuman kasih sayang dari Jiyeon hanya untuknya. Ciuman bibir pertama mereka selama bertahun-tahun. Ciuman kebahagiaan jika mereka resmi menjadi sepasang kekasih hari ini.

Jiyeon melepas ciuman mereka dan memukul lengan Myungsoo dengan keras. “Kau harus bertanggung jawab untuk semua ini!”

“Aku harus melakukan apa ?” Tanya Myungsoo pasrah.

Jiyeon tersenyum jahil membuat Myungsoo semakin bingung. Ia semakin mendekatkan jarak antara mereka.

“Cium aku!”

.

.

.

-END-

Maaf kalau endingnya agak gak nyambung dan ngerasa keburu -_- Hehe masih inget saya ? Author dari ‘Raining Love’ yg masih nyicil chapter 4😀 Maaf lama banget ngepost nya, lagi ngestuck banget buat ff itu dan banyak tugas menerpa saya /maafkan saya/ /.\

Tapi, untuk selingan aku buat ff ini untuk kalian ^^ Sebenarnya ini ff contest dengan cast yg berbeda, tp aku pengen buat versi MyungYeon soalnya kayanya cocok aja gitu buat di jadiin cast :p  

Masalah contest ff, blm ada konfirmasi menang atau kalah :’D soalnya kayanya ini gagal banget😥 hoho

Jangan lupa untuk semangat, R.C.L kalian sangat berarti untuk saya :* Hargai saya sebagai author disini dengan ninggalin jejak kalian yaa😉

Thanks for your support my lovely readers {} Saranghae~

58 responses to “[VIGNETTE] 1.4.3 Letter (MyungYeon Version)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s