Envious [TWOSHOT — 2/END]

envious2

[TWOSHOT]
Envious (Chapter 2/END)
by: Shaza (@shazapark)

Jiyeon & Myungsoo

Romance, Hurt

Credit poster : redbabyred

.

.

Shaza’s note: Karena Envious chapter 1 tiba-tiba masuk Best FanFiction alias TOP FIVE nomor satu, jadi aku mempercepat peng-update-an. Komennya udah masuk targetku, dan kuucapkan makasih banyak kepada,

kim dedeh, agatha1004, shinahrin43, djeany, park fitry, chinaline (love the way you call me like that, eonni-ya), khunniayuni, lolalmira (thanks for your compliment), dyah babydino, nizzecutteez, olv, miss rara panda, windy_pjy, Sonya, HannyLestari, Indah Wulansari, Vi viea, fafa, iineey, myungie, Fitri, Risni Abidin, Quessthy97, ifahsiwonest, nazha, chacha (i’m glad you’re still remember me), miss deer, fariskaokk, cochocobanana, Yuyun Putri Elfiyani, lkimpjy, lusi, khairu Nida, RM, yuliatka, mkdJY, tiya, iendhery CMA, riyeonka, is ice.

Buat yang nanya Yerim itu adik kandung Myungsoo apa bukan, aku jawab ya—dia itu adik kandung Myungsoo di FF ini. Dia seumuran sama Jiyeon. Sebenarnya, FF ini ada series-nya, dan hubungan Myungsoo-Yerim itu deket banget, kayak kakak-adik selazimnya kok.

Aku sebenarnya pernag bikin chapter khusus Myungsoo-Yerim, supaya ada penjelasan bahwa mereka berdua itu deket karena kakak-adik doang, tapi aku gak nge-post di sini… takutnya peminatnya dikit. Soalnya itu Myungsoo-OC.

ps: Yerim itu OC doang kok.

 .

.


 

Di detik awal, Myungsoo merasa pergerakan di kakinya tersendat. Itu hanya ilusi, semestinya ia tahu. Beberapa kilasan cepat yang terjadi di menit ke belakang seolah menamparnya telak. Ia tidak begitu yakin dengan kelakuannya barusan pada—Jiyeon.

Myungsoo merentangkan tangannya seraya menguap. Kakinya terjulur ke depan, sementara bokongnya ditopang oleh bangku bus. Bus yang ia tumpangi adalah bus yang beroperasi terakhir malam ini. Bus yang akan membawanya menuju pemberhentian di dekat rumah Jiyeon.

Bus yang ia tumpangi begitu surut penumpang, saratlah sisa bangku yang kosong tak terisi, membuatnya dapat berleluasa menguap dan bahkan tertidur. Sayangnya, pikiran mengenai telapak tangannya yang telah menoyor kepala kekasihnya setengah jam yang lalu berseliweran di benaknya.

Ia hanya merasa… sesal mendesak dadanya. Kepalanya terkadang bisa memutar arah ketika emosi tengah berkuasa di kisar tubuhnya, sebaliknya—ia dapat bertingkah lebih bodoh dari Yerim ketika pikirannya kosong, seperti saat ini.

Pemandangan gelap di luar jendela bus adalah hal terkosong yang pernah ia pandangi. Gelapnya menyetarai lingkup kamarnya ketika mati listrik, ia membuang napas, tak sadar jika maniknya telah lama memaku tajam pada autograf gelap yang tidak berarti banyak.

Myungsoo mengulas kejadian yang baru saja ia perbuat di tiga puluh menit ke belakang seraya merapatkan mantel. Mantel cokelat dengan teksturnya yang lembut membuatnya merasa nyaman, senyaman ketika dirinya berada di dekat Jiyeon. Ia nyaris tak memercayai ini, tapi—

I’ve already miss her now. Batinnya gelisah.

Kendati baru tiga puluh menitlah masa yang ia loncati tanpa Jiyeon, tetap saja ia merindukan sosoknya yang selalu sukses membuatnya tersenyum hangat. Myungsoo mengendus mantelnya. Harum parfum yang nyaris serupa dengan harum parfum adiknya menyeruak masuk melalui indra penciumannya. Ia telah lama mengetahui bahwa Jiyeon dan Yerim memakai merek parfum yang sama.

Hanya dengan aroma manis itu, Myungsoo menyadari zat adiktif bernama kerinduan kembali menyerangnya. Ia bergerak resah di atas bangku, menanti pemberhentian sembari merapal kata maaf untuk kekasihnya di rumah.

Myungsoo adalah satu-satunya yang bersalah dalam hal ini. Membiarkan Jiyeon dalam keadaan demam berjalan pulang ke rumah sendiri, membentaknya, lantas memukul. Such an idiot boyfriend. Kakak sepupunya sering memanggilnya dengan sebutan itu.

Ia memang bodoh karena mudah dibutakan oleh emosi, menelantarkan kekasihnya hanya karena emosi yang telah terbendung dan belum menyurut. Ia menekan bibirnya cemas, bagaimana dengan keadaannya?

Ia tahu—mereka yang mudah bertengkar tak akan pernah menopang hal itu selama lebih dari sehari. Di kejap itulah, bus menarik rem di pemberhentian terakhir. Myungsoo menghela napasnya, mengumpulkan keberanian.

.

.

Jiyeon tak banyak melakukan hal lebih ketika kakinya memijak kamar. Kepalanya telah tersiram rasa pening yang seolah hendak meledakkan isi otaknya. Peluh membanjiri kening serta pelipisnya ketika ia memutuskan untuk bergelung di bawah selimut.

Hawa panas dingin masih menjeratnya ke dalam siksaan demam. Jiyeon merasakan pakaiannya beralih lembap saat ini, dibasuh oleh keringatnya. Napasnya terdengar berat, memenuhi udara di sekitar kamarnya yang senyap.

Gadis itu memejam, berusaha mengusir rasa pening yang terus menggelitik kepalanya. Di tengah pening yang mendera bagian otak, benaknya memutar sepotong kejadian yang menimpanya di dekat apotek. Kejadian menyakitkan yang lebih sakit dibandingkan gumpalan cemburu yang pernah menjamah kehidupannya.

Kepalanya menyuruk ke bantal, berusaha menyokong desakan air di matanya yang perih. Demam bukanlah faktor utama dari penyebab mata perih yang diderita Jiyeon saat ini, namun sesak di dadanya yang banyak mendorongnya untuk menangis.

Demam panas-dingin, kepala pening, hidung tersumbat karena flu, kaki kaku, serta napas berat yang dialaminya saat ini bahkan tidak dapat melebihi rasa sakit yang menyorong hatinya telak. Pelipisnya yang terdorong oleh telapak tangan Myungsoo. Myungsoo’s palm.

Telapak yang terbiasa memulas pipinya ketika dingin merajai cuaca, telapak yang lazim menyingkirkan surainya ketika helaian tersebut menutup sebagian wajahnya, telapak yang selalu memberinya kehangatan—menuntunnya untuk maju dan berbahagia.

Dan di waktu yang sama, telapak tangan besar nan kokoh itu baru saja menghancurkannya. Jiyeon tak ingin menjelaskan sakit berlebih yang bersarang di dadanya saat ini, semua pergerakannya mendenyutkan mumur, ia membenamkan wajahnya di atas bantal.

“Jiyeon?” dan pendengarannya yang menampung suara dalam dan lembut itu kian meretakkan hatinya. Angan-angannya mengilas suara tersebut agar terus mendesing tajam di ingatannya. “Yeon-ah, kau sudah tidur?” dan Jiyeon dapat merasakan bahwa suara itu bukanlah angan-angannya. Itu terdengar nyata, begitu nyata, hingga dirinya ingin segera menimbun lubang telinganya dengan alat pendengar atau earphone.

Ia tak dapat menoleh, lebih ditepati karena ia tak ingin menoleh ke arah suara dalam tersebut. Ia khawatir, jika dirinya menaruh harapan lebih, suatu masa akan mendatanginya dengan penyesalan dan kesedihan yang ikut beradu di sana.

“Sayang, kamu tak apa?” dan pertanyaan itu diikuti oleh guncangan ringan di bahu Jiyeon. Jiyeon membuka sepasang kelopaknya yang mengatup sejak tadi, membiarkan lelehan air matanya kembali meruah lancar, lantas menyerap ke kain bantal.

Ia merasakan sisi ranjang sebelah kirinya seperti tertimpa beban, menjadikannya berderit sesaat. Kali ini, Jiyeon yakin sepenuhnya bahwa seseorang tengah berada di kamarnya. Ia menoleh perlahan, tak mengizinkan tangannya untuk sekadar mengusap air yang membuat lajur kecil di pipinya.

Kerutan alis Myungsoo termakan pandangannya, ia sesenggukan, menahan isakan yang seperti tengah menarik paksa rongga tenggorokannya yang tersendat. Kelopaknya mengerjap, selagi hening memeluk hawa di sekitar kamar Jiyeon.

Pria berlabel Myungsoo itu merangkak mendekati Jiyeon yang tengah mengusap wajah. “Are you crying?” pertanyaannya dibarengi dengan telapak tangan besar Myungsoo yang mengayun ke arah wajahnya. Jiyeon memejamkan mata, meneguhkan diri untuk menerima tamparan lagi. Namun dalam hitungan kejap saja, ia dapat segera merasakan jemari kekasihnya merambat pada pipi, menyapu buliran air mata yang terjejak di sana.

Hening kembali melanda detik waktu yang berjalan, keheningan tersebut ditemani oleh gongongan anjing tetangga yang bersahutan—jauh di luar rumahnya. Sementara Myungsoo tak lagi mendapati air mata Jiyeon, pria itu beralih memulas pipi gadisnya. Jiyeon tersadar, bahwa telapak tangan lembut itu kembali menjamah lembut kulitnya, dan—

I’ve missed it, even if a few moments ago i’ve already felt it too. Batinnya, meresap setiap sentuhan Myungsoo. Ia berharap agar demamnya segera turun hanya dengan keberadaan Myungsoo saat ini.

“Jiyeon,” panggilan itu membuat atensi Jiyeon teralihkan. Ia mendapati aliran hangat segera merambatnya ketika menilik sirat cemas di mata Myungsoo. Pria itu kian mendekatinya, sementara Jiyeon tidak ingin bergerak, membiarkan kekasihnya melakukan hal yang ia inginkan.

“Kau tahu… aku tolol.” Pernyataan yang sukses melukis kerutan dalam di kening Jiyeon. Gadis itu membenahi posisi duduknya menjadi tegap sempurna, selagi gumpalan gelap seperti tengah melingkar di kisar tubuh Myungsoo. Jiyeon tahu, bahwa kekasihnya tengah memendam emosi yang bercampur aduk.

“Kau boleh menamparku, memukulku, bahkan… kau boleh mencari pria lain yang lebih—”

“—tunggu!” Jiyeon memenggal ocehan Myungsoo dengan suara pelan. Telinganya sedikit bereaksi lebih ketika menyadari adanya kata ‘cari pria‘ yang dimartil oleh kekasihnya. Ia berdehem, tenggorokannya kering, terlebih sisa tangisnya seolah masih menyendat ucapannya.

“Kau bicara apa, Kim?” sejak dulu, Myungsoo telah mengetahui tabiat kekasihnya yang akan memanggil dirinya dengan marga apabila terselip sesuatu yang mengganjal hatinya. Myungsoo mengangkat kepala, mengalihkan tangannya pada saku mantel, seolah sedang memberi sinyal kepada gadis itu bahwa objek yang tengah ia tuding adalah mantel cokelat kenaannya.

Jiyeon mengerling sesaat ke arah mantel Myungsoo, itu adalah mantel yang diantarnya barusan. Mengingat hal itu, membuat jantung Jiyeon menghentak cepat, khawatir menyelubungi relung hati. Myungsoo membuang napasnya, terdengar berat dan penuh sesal. Jiyeon dapat membacanya, meski dengan telinga yang terus dibayang-bayangi oleh bentakan Myungsoo setengah jam yang lalu di depan apotek.

“Aku mengecewakanmu, tak bisa menghargaimu, dan terlebih—aku menyakitimu.” Pria itu menunduk, menyembunyikan sirat lelah serta penyesalan yang tergambar di paras tampannya. Jiyeon menyadari, hatinya sakit ketika melihat kekasihnya bersedih, itu semua membuatnya turut bersedih.

Jiyeon mengontrol napasnya yang masih tersengal sedikit, setelahnya memutuskan untuk mendekati Myungsoo. Ia tahu bahwa sesak di dadanya masih tersisih, namun hatinya lebih sakit lagi ketika mengetahui kekasihnya yang terliput sesal seperti saat ini.

Ia mengalungi lengannya di leher Myungsoo, tak membutuhkan komando untuk melakukan hal itu. Ia menyurukkan kepalanya pada pundak Myungsoo, kembali menopang air yang mendesak matanya. “—maafkan aku, aku tahu kau tak suka jika aku keluar malam hari seperti tadi, aku tahu.” Jiyeon mengambil napas dalam-dalam, tak sadar bahwa tindakan itu justru membuat lubang hidungnya menampung harum mint di tubuh Myungsoo.

Myungsoo membeku sesaat ketika menyadari bahwa lengan Jiyeon telah mengalungi lehernya, ia ragu-ragu turut mendekap kekasihnya, menyesap aroma sampo gadisnya yang ia rindukan. Katakan ia gila, karena tiba-tiba saja merindukan semua hal yang bersangkut-paut dengan Jiyeon.

“Kamu tidak salah kok. Salahmu dari mana, Sayang?” ia mengusap punggung Jiyeon, mengikuti gerakan kekasihnya yang mengistirahatkan dagu pada bahu. Ia bersandar sepenuhnya pada bahu sempit Jiyeon, membuang napas pendek-pendek—mengubur emosi bertumpuk di dadanya.

I’m such a fool. I don’t even know how to be grateful to have you. I don’t know what the fuck is wrong with me. And, here you are—being amazing as yourself, still helped me to deliver a jacket in the middle of a cold night, and worrying myself at times when you sick like this.” Myungsoo berujar cepat, tak ingin Jiyeon menyelanya barang sedetikpun, pria itu mengeratkan pelukannya. Penyesalan yang bersemayam di sekitar tubuh Myungsoo seolah akan enyah ketika sepasang lengannya meneguh kuat pada dekapannya.

Jiyeon mencerna setiap kalimat yang dilafalkan dengan cepat oleh Myungsoo. Memahami sepenuhnya arti dari kalimat Myungsoo, ia tersenyum. Ia sudah lama mengenal Myungsoo, ia tahu—Myungsoo yang gugup akan selalu berujar cepat seperti tadi.

Ia mengusap punggung belakang Myungsoo, membiarkan kekasihnya bernapas lancar, meskipun sebenarnya ia juga merasakan napasnya terus memberat seiring dengan waktu yang terus bergulir. Ingat, ia mengidap demam saat ini.

“Tidak, Myungsoo. Kau tidak perlu mengatakan itu.” Myungsoo menggeleng dalam pelukannya ketika mendengar ucapan Jiyeon. Terpaksa, ia merenggangkan dekapan demi memandang paras kekasihnya secara langsung. Ia memerangkap bahu Jiyeon, meyakinkan mata Jiyeon untuk mengarah pada miliknya.

“Aku membuatmu menangis, padahal kau sedang sakit. Aku membentakmu, sementara kau sudah berbaik hati mengantarkan jaket padaku. Aku—memukulmu, selagi kau sama sekali tak memiliki salah. Aku lebih dari idiot, sekarang kau boleh menamparku.” Jiyeon menggeleng, menolak keinginan Myungsoo, sementara tangannya menggenggam jemari Myungsoo.

First, you’re not a fool, honey. You’re the most gentle man i’ve ever met.” Jiyeon meletakkan tangan Myungsoo pada pipinya, kebiasaan yang selalu ia lakukan setiap kali merasa jemari Myungsoo berada tepat di genggamannya. Myungsoo mendengarkan penuturan Jiyeon dengan mata yang terfokus pada wajah merah Jiyeon.

Second, you don’t have to be grateful to have me, bacause i’m just a regular treasure. That should be me… to be grateful to have an understanding boyfriend like you.” Jiyeon menjeda kalimatnya ketika menyadari bahwa napasnya mulai terasa berat untuk ditarik, Myungsoo mengangkat alis setelahnya memutuskan untuk membaringkan Jiyeon. “Myungsoo, kau harus tahu—kau itu sempurna.” Dan motivasi itu selalu dilontarkan Jiyeon, kalimat yang selalu menjadi faktor penyesalan Myungsoo ketika kejadian seperti ini akan terulang suatu saat nanti.

Bagaimana caranya aku bisa sempurna jika telah memperlakukanmu seperti itu?

Myungsoo membiarkan Jiyeon kembali melanjutkan kalimatnya dengan tenang, ia turut berbaring di sebelah Jiyeon—tanpa gulungan selimut yang menutup tubuh keduanya. Myungsoo menyisi tubuhnya pada Jiyeon, begitupun sebaliknya. Menciptakan jarak kecil di antara keduanya.

And, once again—this isn’t your falut.” Kali ini, Myungsoo menyela ujaran Jiyeon. “Kenapa ini bukan salahku, Jiyi? Jelas, ini salahku. Maafkan aku, ya.” Jiyeon mengukir senyumnya seraya memeluk lengan Myungsoo, ia butuh istirahat, namun kepalanya terlalu pening hingga dirinya sangat membutuhkan sandaran, lengan Myungsoo selalu berhasil membuatnya nyaman.

“Aku selalu memaafkanmu, bahkan sebelum kau meminta maaf,” Myungsoo tersenyum menanggapi ujaran Jiyeon, mengusap kepala gadisnya—seolah dirinya sedang mengusir pening gadis itu. Terkadang Jiyeon merasa—apalah arti obat jika obat sesungguhnya telah bersedia menemaninya di sini.

“Myungsoo,” Jiyeon memanggil di tengah hening. Myungsoo menggumam.

“—maaf, karena sudah bicara yang macam-macam soal Yerim. Aku… aku tak suka jika kau begitu perhatian pada adikmu. Bahkan hingga membelanya.” Myungsoo dapat melihat bahwa kekasihnya tengah menggembungkan pipinya, Myungsoo tak memerlukan waktu beranjak menjadi lebih lama untuk mencium pipi Jiyeon. Menyentak pergerakan Jiyeon, ia yang bahkan sedang demam merasa bahwa tensi darahnya menggunung naik dalam hitungan detik.

Ia menoleh ke arah Myungsoo yang tengah terkekeh geli, “Kau itu lucu sekali, sih! Kekasih siapa? Beruntung sekali pria itu telah memiliki gadis secantik dan lucu ini.” Myungsoo menekan-nekan pipi gadisnya yang memerah padam—ronanya menyebar hingga ke telinga bahkan. Myungsoo terkikik lagi, tak peduli bahwa jantung yang bersembunyi di balik tulang rusuk Jiyeon sedang berdentum keras.

“A—apaan sih?” ia memukul lengan Myungsoo, bermaksud untuk bercanda. Dan, pria itu tak pernah mengambil serius pukulan ringan di lengannya tersebut. Ia beralih memeluk Jiyeon, sepertinya ia akan menginap di rumah kekasihnya untuk malam ini.

“Myungsoo,” Jiyeon memanggil lagi, mengoyak keheningan yang sempat singgah setengah menit. Myungsoo berdecak sembari tersenyum, “Apa lagi, sekarang?” tanyanya tanpa menutup senyum lebarnya.

Kepala Jiyeon yang terbenam di sela bahunya menyuruk lebih dalam, “I only ever wondered why we often quarrel?” pertanyaan itu memusnahkan senyum di wajah Myungsoo, terganti oleh raut berpikir keras yang serupa dengan kala maniknya mendapati soal-soal rumit di kampus.

Quarrel, pertengkaran. Apa ya? Kenapa Jiyeon dan aku sering bertengkar seperti tadi, ya? Ia bergelut dengan batinnya, membiarkan Jiyeon mengatupkan matanya di dalam dekapan Myungsoo. “—Naeun dan Sehun tidak pernah bertengkar. Jessica dan Kris tak pernah bertengkar hingga lebih dari satu jam, itu pun sebenarnya hanya permainan. Soojung dan Jongin? Keduanya terlalu sayang satu sama lain.” Jiyeon mendongak, memandang manik kelam Myungsoo yang tengah menrajut cabang untuk berpikir.

“Kenapa kita selalu bertengkar?” Jiyeon mengguncang lengan Myungsoo, menuntut jawaban dari kekasihnya. Jiyeon mendapati bulu kuduknya meremang ketika menilik senyum lebar Myungsoo yang nyaris menyentuh telinganya, ia mengerutkan kening ketika Myungsoo memandangnya spontan, menunduk begitu dekat dengan wajahnya.

Because… sometimes, the quarrels among relations is one thing that can make it close.” Tanpa menyingkirkan senyum menawannya, ia menyatukan keningnya dengan kening Jiyeon. Membiarkan kalor di tubuh Jiyeon tertular pada tubuhnya.

“Sadar, tidak? Jika kita tidak bertengkar, hubungan kita akan datar-datar saja? Tidak ada yang meminta maaf, tak ada yang berterima kasih, tak ada yang menawarkan pelukan, tidak ada yang—”

Okay, cheesy boy. I understand.” Jiyeon mengapit hidung Myungsoo dengan jemarinya, menyaksikan ringisan kecil kekasihnya yang diikuti tawa manis. Jiyeon semestinya telah mengetahui bahwa kekasihnya itu adalah pria pandai merayu seperti tadi.

Okay, cheesy girl. Let us sleep together tonight,” Dan, Myungsoo sigap menyibak selimut tebal milik Jiyeon demi melindungi tubuh keduanya ke dalam gumpalan kain yang sama. Jiyeon ingin menjerit, namun tenggorokannya masih sakit.

“Minum obatnya besok ya~” Myungsoo merajuk lucu sebelum tangannya menyembul dari dalam selimut untuk mematikan lampu nakas. Sementara, Jiyeon berdecak di tengah kegelapan kamarnya.

“Terserah, aku mengantuk.”

.

.

“Jiyi,”
“Ck, apa lagi?”

“Aku sayaaaaang~”
“Iya, aku tahu! Sudah, tidur!”

.

.

“Myungsoo,”
“Hm?”
“Aku juga sayaaaaang~”
“Iya, aku tau! Sudah, tidur!”

.

.

/fin./

.

.

Aku tahu ini mengecewakan banget. Ada yang gak dapet feel di Yerim gak? Pasti ada ya.. sebenarnya, Myungsoo-Yerim deket banget. Seperti yang udah kubilang tadi, aku bikin chapter khusus mereka, cuman aku gak mau nge-post di sini. Sorry.

Aku tahu, ini gak sesuai keinginan kalian T^T tapi maaf, aku juga masih bocah. Aku belum bisa bikin yang bener-bener WOW dan, aku gak bisa muasin kalian seperti Author lainnya.

Ambil positifnya aja, Jiyeon di sini pencemburu berat, tapi inget—cemburu itu tanda sayang. Cih, Shaza gaya banget masih bocah nih, LOL. Dan, positif lainnya.. ini happy ending bukan? Well, sekali lagi… maaf kalau mengecewakan.

Aku gak membutuhkan komen bash. Kalau kalian merasa kecewa dengan FF ini, kalian lebih baik gak usah komen ya.. please, aku lagi depresi mikirin sesuatu, gak mau ditumpuk dengan kalimat hinaan😦 aku menghargai siders daripada basher, okey?

60 responses to “Envious [TWOSHOT — 2/END]

  1. waww ini bagus bgt deh bisa bikin senyum sendiri baca nya , dua2nya bener2 keras kepala dan gmpang bgt buat emosi tp gampang jg buat nyadar dr salah nya .. kereeenn deh thor
    aku suka bgt happy ending

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s