[CHAPTER 3] School Rush season 2

school-rush6

fanfiction intro-_-

A/N : cepet kan?????? wkwkkwkw mian klo banyak typo plus masih kurang panjang lagi…^^

Happy reading

“Adik dari tuan Chanyeol. Anak kedua dari keluarga Park”

Aku memejamkan mataku sejenak dan membaringkan tubuhku yang terasa remuk di kasur kesayanganku. Tapi aku sama sekali tidak bisa pergi ke alam bawah sadarku, karena aku masih memikirkan perkataan Go haraboeji tadi. Jiyeon adalah adik dari Chanyeol. Itu benar-benar membuatku tidak bisa tidur. Yang membuatku berpikir adalah, dua orang kakak-beradik berada di kelas yang berbeda dan dengan kehidupan yang berbeda pula. Oke, lupakan tentang aku dan Minseok-hyung. Setidaknya Minseok-hyung adalah kakak yang kusayangi dan menyayangiku juga tinggal dirumah utama karena mereka adalah keluarga. Tapi untuk kasus Jiyeon dan Chanyeol? Sang adik tinggal di atap ruang penyimpanan anggur yang lebih pantas disebut gudang penyimpanan anggur dari pada ruangan sedangkan sang kakak tinggal dirumah utama. Bagaimana bisa sebuah keluarga seperti itu? Bukankah itu hal yang aneh? Aku terus tenggelam dalam pikiranku dan tidak sadar akan siapa yang masuk kedalam kamarku lalu memukulku dengan bantal.

“Ya!! Kim Myungsoo!! Ireona!!” Minseok-hyung memukulku keras dengan bantal yang sekarang dipegangnya. Aku segera bengkit dari tidurku dan duduk berhadapan dengannya di atas kasur. Aku menunjukkan ekspresi kesalku karena dia telah mengganggu acara berpikirku.

“Ada apa, hyung? Kau mengganggu kegiatanku!” ujarku kesal. Hyungsku menatapku intens, seperti seorang polisi yang ingin mengintrogasi tersangka kasus. Aku hanya mengedipkan mataku tanda tidak mengerti maksud tatapan hyungku itu.

“Kau mengatarkan Jiyeon dengan selamat,kan? Apakah kedua orangtuanya marah dia pulang malam sambil mabuk? Bagaimana rumahnya? Apakah dia memiliki saudara?” Aku kembali mengedipkan mataku, kali ini karena kecepatan bertanya hyungku. Tapi aku masih bisa mengerti semua pertanyaannya.

“Ne. Aku mengatarnya dengan selamat. Dia-” Aku berpikir sejenak sebelum aku melanjutkan kalimatku. Apakah hyung perlu hal tahu tentang ini? Sepertinya harus. Bagaimanapun, Jiyeon adalah temannya bukan? Setidaknya dia harus tahu masalah apa yang dialami temannya itu.

“Hyung, apakah hyung sama sekali tidak tahu tentang keluarga Jiyeon?” aku bertanya dengan nada berhati-hati. Hyungku menjawabnya dengan gelengan singkat. Aku menghela napas berat sebelum mulai bercerita tentang apa yang kudengar dari Go haraboeji tadi.

“Huftt~ Hyung, kali ini kau harus mempercayai perkataanku. Kau tahu ketika aku berkata jujur dan ketika aku berkata bohong. Dengarkan baik-baik hyung. Park Jiyeon, sahabatmu yang tadi kuantar ke rumahnya, adalah adik dari Park Chanyeol” Mata hyungku yang bulat, semakin terlihat bulat ketika ia mendengar penuturanku. Aku tahu dari matanya bahwa ia sedang meneliti ekspresi wajah dan sorot mataku. Aku kembali melanjutkan penjelasanku.

“Saat aku tiba di alamat yang diberikan oleh sahabatmu Sohee, aku sadar bahwa aku berada di depan pagar kediaman keluarga Park. Rumah Chanyeol. Untuk pertama aku mengira bahwa Jiyeon adalah anak salah satu pelayan disana, jadi aku membawanya masuk kedalam lalu bertemu dengan Go haraboeji. Dia memanggil Jiyeon dengan sebutan ‘nona’, itu membuatku binggung. Lalu selanjutnya, dia membawaku ke sebuah gudang penyimpanan angggur, dan kamar Jiyeon tepat berada di bawah atap gudang tersebut. Aku bertanya pada Go haraboeji siapa sebenarnya Jiyeon dirumah itu. Dia menjawabnya dengan raut wajah yang takut sekaligus ragu. Dan dia menjawab, bahwa Jiyeon adalah adik dari Chanyeol dan merupakan anak kedua dari keluarga Park” Aku menarik napas lega ketika aku selesai menjelaskan apa saja yang terjadi saat aku mengantarkan Jiyeon. Minseok-hyung seperti mematung mendengar penjelasanku. Terdapat raut ketidakpercayaan diwajahnya.

“Ini bukan salah satu karangan buatanmu untuk memecah belah kami, kan? Kim Myungsoo, apa yang kau katakan barusan itu, apakah itu benar adanya?” Minseok-hyung bertanya dengan nada datar. Aku menganggukkan kepalaku.

“Itu benar, hyung. Aku benar-benar mengantarnya ke alamat di kertas itu, dan itu adalah alamat rumah Chanyeol” Aku mengeluarkan kertas alamat yang ditulis oleh Sohee. “Jika hyung tidak percaya padaku, kita bisa mengunjungi alamat ini sekali lagi” Aku menatap mata hyungku dengan pasti. Minseok-hyung mengambil secarik kertas tersebut dan juga mengambil tabku yang kebetulan sedang berada di atas kasurku. Dia memasukkan alamat tadi kedalam peta digital. Dan benar saja, alamat itu adalah alamat rumah Chanyeol yang sudah terdaftar di list alamat yang kusimpan. Minseok-hyung tampak sangat terpukul sekaligus kaget dengan kenyataan yang kusampaikan.

“Tidak mungkin. Bagaimana bisa?”

“Itulah yang sedari tadi sedang kupikirkan, hyung. Bagaimana bisa, 2 orang kakak beradik memiliki kehidupan yang benar-benar jauh berbeda?” Kali ini ekspresi hyungku bukan lagi ekspresi kaget ataupun terpukul, melainkan ekspresi saat dia sedang menahan amarahnya. Dapat kulihat dari tangannya yang mengepal keras.

“You bastrad, Chanyeol!”

 

Minseok POV

Aku mengepalkan tanganku untuk menekan amarahku. Akhirnya aku mengerti mengapa Jiyeon sangat membenci segala sesuatu tentang S class dan juga membenci marganya, Park. Aku mengerti mengapa Jiyeon tidak menceritakan hal ini pada kami, sahabatnya. Dia tidak ingin mengingat hal tersebut ketika dia bersama kami. Dia tidak ingin kami merasa khawatir padanya. Dia ingin menjadi dirinya sendiri dan berusaha melupakkan keluarganya. Melupakan hal yang terburuk baginya, yaitu keluarganya sendiri. Keluarganya yang memperlakukan dia bukan sebagai keluarga. Yang memperlakukan yeoja sebaik Jiyeon seperti orang asing di dalam rumahnya sendiri. Dan terlebih perlakuan Chanyeol padanya. Kakak impian yang selalu ia ceritakan pada kami, tak lebih adalah harapannya pada Chanyeol, Jiyeon sangat berharap bahwa ia memiliki kakak seperti kakak dalam bayangannya. Kakak yang selalu datang dalam mimpinya.

Flashback

“Minseok-a, Sohee-a, aku bermimpi indah tadi malam!” Jiyeon terlihat sangat cerah dan gembira hari ini. Ini tidak biasanya, mengingat betapa jarangnya Jiyeon tersenyum dalam satu hari.

“Apa? Apakah kau bermimpi datang ke dunia fantasi? Kau bertemu dengan pangeran berkuda yang tampan?” Sohee bertanya dengan sangat antusias.Sedangkan aku hanya duduk sambil siap mendengarkan cerita Jiyeon.

“Aniyo. Aku tidak suka mimpi seperti itu”

“Lalu, apa mimpimu tadi malam?”

“Eumm~ Aku bermimpi aku memiliki seorang oppa. Kemarin ketika aku sedang demam, aku bermimpi oppaku merawatku, membacakan dongeng sebelum aku tidur dan menyanyikan lullaby untukku. Ahh~ Betapa menyenangkannya jika aku memiliki oppa yang seperti itu di kehidupan nyata”

Flashback off

“Myungsoo, where is Chanyeol now?” Aku berusaha untuk tidak berteriak karena amarahku. Myungsoo tampak sedang memikirkan sesuatu, karena ia tidak segera menjawab pertanyaanku.

“Hyung, apa kau tidak berpikir bahwa Chanyeol memiliki alasan untuk berbuat seperti ini?”

“Apalagi alasannya selain ia memang membenci Jiyeon. Ia ingin membuat Jiyeon menderita” Aku tidak ingin tahu apa alasan yang dimiliki Chanyeol. Aku tidak peduli! Yang terjelas adalah dengan sikapnya ia membuat Jiyeon menderita selama ini.

“Jika Chanyeol benar-benar membenci Jiyeon, lalu mengapa ia menyelamatkan Jiyeon yang tenggelam?” Aku merenggangkan kepalan tanganku mendengar perkataan Myungsoo. Dia benar. Jika Chanyeol membenci Jiyeon, seharusnya ia tidak menyelamatkan Jiyeon. Aku menatap Myungsoo yang sedang menggigit ibu jarinya, tanda bahwa ia sedang berpikir tentang alasan sebenarnya Chanyeol melakukan semua ini.

“Sepertinya ada hal aneh yang terjadi di dalam keluarga Park. Kita harus mencari tahu alasan dibalik keanehan ini terlebih dahulu, hyung. Karena aku yakin, seorang kakak tidak akan benar-benar membenci adiknya. Apalagi orang itu adalah Chanyeol. Dia adalah tipe orang yang membuat orang disekitarnya menjadi lebih baik dan lebih gembira. Dia bukan namja yang sejahat itu” Aku dapat melihat sorot keyakinan di mata Myungsoo. Aku, Myungsoo, Hoya dan Chanyeol sudah bersahabat bahkan sejak kami belum bisa berjalan dengan kedua kaki kami sendiri tanpa terjatuh, lalu Luhan datang saat kami berusia 6 tahun. Walaupun diantara kami semua Chanyeol adalah orang yang paling ceria dan terlihat terbuka, tapi dialah yang paling misterius. Kami tahu bahwa Chanyeol memiliki adik, tapi yang kami dengar adalah bahwa adik dan ibu Chanyeol sudah meninggal dalam suatu insiden kebakaran kapal pribadi mereka. Hanya Chanyeol yang berhasil diselamatkan.

“Apa mungkin sebenarnya, adik Chanyeol masih hidup?” Aku membulatkan mataku mendengar perkataan Myungsoo.

“Jika memang benar bahwa Park Jiyeon adalah adik Chanyeol yang masih hidup, itu berarti dugaanku benar. Ada sesuatu yang aneh dalam dalam keluarga Park. Tapi, hal aneh apa itu kita belum tahu dan kita harus menyelidiknya hyung” Aku mengangguk mendengar dugaan yang dikatakan oleh Myungsoo.

“Dan Chanyeol mengetahui semua hal aneh itu” ujarku menambahkan perkataan Myungsoo yang bingung dengan apa yang kuucapkan barusan.

“Jinjja? Bagaimana hyung bisa berkata seperti itu?”

“Entahlah, firasatku mengatakan seperti itu”

~o~

Jiyeon POV

Aku membuka mataku untuk pertama kalinya untuk hari ini. Tempat tidurku yang tepat berada dibawah jendela mendapatkan sinar matahari pagi yang paling banyak sekaligus paling menganggu. Sudah beberapa hari ini aku lupa untuk menutup gordennya. Tapi ada sesuatu yang aneh pada diriku pagi ini, entahlah aku merasa kepalaku sedikit berputar dan pakaianku dari tadi malam belum kuganti dengan piyamaku. Ahh! Aku meminum sekaleng bir tadi malam! Aisshh, aku lupa bahwa aku tidak kuat dengan hal seperti itu, aku bukanlah seorang peminum yang baik. Aku menepuk keningku pelan dan mencoba untuk mengingat apa yang terjadi setelah aku mabuk. Hal terakhir yang kuingat adalah aku sedang menggoda L, lalu setelelah itu aku tidak ingat lagi apa yang terjadi. Pusing di kepalaku masih belum menghilang. Aku beranjak dari tempat tidurku lalu menuruni tangga untuk sampai ke lantai dasar, yaitu gudang penyimpanan anggur. Aku menyukai kamarku yang sekarang, karena setidaknya aku tidak perlu terus melihat ‘keluarga’ yang berada di ‘rumah’ itu. Akan lebih baik lagi jika mereka segera mengusirku. Sesampainya di lantai dasar, aroma anggur yang kuat langsung tercium di indra pembauku, karena itu aku langsung mempercepat langkahku untuk segera menghirup udara segar. Sesaat setelah aku membuka pintu gudang tersebut, aku langsung menghirup udara sebanyak-banyaknya dan berlari kecil menuju taman dimana Go haraboeji biasa bekerja. Benar saja, harabeoji yang sudah kuanggap sebagai appaku itu sedang memotong rumput yang mulai memanjang. Baru saja aku akan menghapirinya, saat kulihat seorang yeoja yang memakai pakaian serba merah itu datang menghapiri Go haraboeji dan tampak menyerahkan sebuah amplop yang cukup tebal. Aku berjalan pelan untuk lebih dekat sehingga dapat mendengar apa yang sedang mereka bicarakan. Tapi terlambat, yeoja berambut merah yang adalah ‘nenek sihir’ di tempat ini sudah selesai bicara dengan Go haraboeji dan berjalan masuk ke dalam rumah kembali. Aku tidak dapat melihat raut wajah Go haraboeji karena dia berdiri membelakangiku. Mungkin ‘nenek sihir’ itu hanya memberinya gaji bulanan seperti biasa. Sesaat kemudian, aku melihat namja itu keluar dari ‘rumah’ utama dengan menggunakkan hoddie dan topinya dengan headset yang terpasang ditelinganya. Aku menghampirinya dan berdiri tepat dihadapannya, aku tahu bahwa namja itu akan melewatiku begitu saja. Jadi kupikir kata-kata yang ingin kuucapkan padanya tidak akan pernah terdengar olehnya. Saat dia tepat lewat disamping kananku, aku merasa waktu berjalan lebih lambat dari biasanya.

“Gomawo, Chanchan oppa” Aku tahu dia tidak mendengar ucapanku barusan, karena dia tetap berjalan lurus dengan kecepatan yang sama, seperti tidak ada seorangpun yang dilewatinya. Seperti udara yang tenang dan tidak berhembus, seperti itulah perkataanku barusan baginya, tidak terdengar dan tidak terasa.

~o~

No One POV

“Hyung, apa kau yakin akan melakukan ini?”

“Hmm. Apa kau pernah melihatku tidak yakin akan keputusanku?”

“Apa kau tidak akan menyesal, hyung?”

“Apa kau pernah melihatku menyesal akan keputusanku sendiri?”

“Keundae, hyung…”

“Aku tidak ingin terus hidup dalam kebohonganku sendiri. Semua yang kulakukan saat ini dimulai dengan kebohongan, tapi aku tidak ingin mengakhirinya juga dengan kebohongan”

~o~

Suzy POV

Suara musik mengalun lembut di club tempatku bekerja ini. Bisa dibilang club ini adalah club yang cukup aneh. Lagu-lagu yang diputar disini berganti-ganti berdasarkan perubahan waktu dalam sehari dan itupun berbeda setiap harinya. Bukan hanya lagu-lagu yang bisa membuat orang menari dengan gila, tapi ada juga lagu-lagu romantis indah yang di nyanyikan oleh perfomer dari club ini. Dan itulah alasan mengapa aku sangat menyukai pekerjaanku sebagai waitress disini. Setidaknya tidak setiap hari aku merasakan sakit ditelingaku kerena suara musik yang keras, tapi ada juga hari dimana aku memanjakan telingaku dengan musik indah yang mengalun, seperti saat ini. Beberapa kali aku bernyanyi dengan suara yang tidak mungkin terdengar oleh orang lain kecuali diriku sendiri.

“Let it go, let it go~ deo isang chamji anha, Let it go, let it go~ naneun ije ddeonallae~~”

“Hmm~ Suaramu memang merdu” Aku terperanjat ketika mendengar suara itu tepat dibelakangku dan dengan refleks aku membalikkan tubuhku untuk melihat namja itu. Tepat dugaanku, itu adalah Park Chanyeol. Ku kedipkan mataku berulang kali, mencoba untuk memperjelas pengelihatanku yang kukira hanyalah khayalan. Namja itu tersenyum melihat wajahku yang kutebak terlihat seperti orang bodoh. Ya Tuhan, senyum namja itu sangat manis. Lagi-lagi jantungku berdetak dengan tidak normal.

“A-an-anda ingin pesan apa, tuan?” ujarku berusaha untuk terlihat senormal mungkin. Tapi aku menyadari bahwa hal itu gagal, karena aku tergagap ketika mengucapkannya. Chanyeol masih memperhatikanku dan hal itu membuat pipiku memanas karena malu. Entah malu karena apa.

“Eumm~ Aku ingin pesan waktumu” Mendengar perkataanya membuatku mendongakan kepalaku yang sebelumnya menunduk. Lagi-lagi aku yakin aku terlihat seperti gadis bodoh ketika aku membulatkan mataku dengan mulutku yang sedikit terbuka karena perkataannya yang membuatku kaget.

“Aku ingin kau bernyanyi denganku. Bisakah aku meminta waktumu untuk itu? Dan tidak ada penolakkan! Aku tidak suka ditolak” Chanyeol masuk kedalam counter dan menarikku tanganku keluar dari sana. Dia menarikku keatas panggung yang memang khusus untuknya ketika tampil di club ini. Panggung itu hanya dia yang boleh memakainya dan beberapa artis terkenal lainnya yang mungkin datang untuk bersenang-senang. Aku yang masih belum mengarti apa yang terjadi menyadari tatapan semua orang sekarang tertuju kepada kami yang sudah berada diatas panggung. Aku menatap Chanyeol dengan pandangan bingung. Dia berjalan ke arah grand piano disisi kanan panggung dan membiarkanku berdiri sendirian ditengah panggung. Dia memberikanku sebuah microfone tapi tidak memberi tahuku lagu apa yang harus kunyanyikan, sampai ia mulai menekan tuts pianonya. Aku tahu lagu ini. Tapi aku masih ragu untuk mulai bernyanyi, karena aku masih tidak percaya dengan apa yang sedang terjadi pada diriku. Aku sedang berada di atas panggung dengan mata semua orang tertuju kepadaku dan Chanyeol. Aku menggelengkan kepalaku untuk menghapus segala hal yang kupikirkan dan mulai mengikuti alunan musik yang dibuat oleh Chanyeol.

kkumeul kkuneun nae moseup gieogi nalkkayo

byeoreul chatneun ai gatda malhaetjyo

namdeulgwa dareun nae moseup ihaehaejwoseo

gomapdan maldo motaenneunde.
eodi innayo

bogo sipeun nae maeumgwa gateungayo

byeori doengeojyo

nae mamsoge yeongwonhi sumswigo itjyo
yejeoncheoreom nae gyeoteseo bol su eobseodo

himdeureo hal ttaen nado al su isseo

geureol ttae nae moseubeul tteoollineun geojyo

sinbihan himeul jeonhalgeyo
eodi innayo

bogosipeun nae maeumgwa gateungayo

byeori doengeojyo

nae mamsoge neon sarainneun kkumijyo
hamkke georeotdeon

geori jugobatdeon yaegi

seoseonggeorige doemyeon

beokcha ollayo naneun

neomuna himdeuljiman
sigani jinado

deo meon gose itda hayeo

doneol barabogo isseo
eodi innayobogosipeun nae maeumgwa gateungayo

byeori doengeojyo

nae mamsoge neon sarainneun kkumijyo

sarainneun kkumijyo

Ketika melodi yang dimainkan Chanyeol sudah tidak terdengar, aku membuka mataku yang sebelumnya tertutup ketika lagu akan berakhir. Setiap aku tenggelam dalam musik, aku selalu merasa benar-benar hidup, dan ketika musik yang kunyanyikan itu berakhir, aku merasa seperti nyawaku berhenti hidup untuk sejenak. Aku menatap Chanyeol yang menatapku dengan pandangan itu, pandangan yang dapat membuat jantungku kembali berdetak dengan gilanya. Dapat kudengar tepukkan tangan dari orang-orang di dalam club yang saat aku menyanyi tadi aku tidak dapat mendengar satupun suara dari orang-orang itu.

 

Chanyeol POV

Tepukkan tangan para pengunjung club ini mengembalikkan kesadaranku. Dugaanku terhadap gadis ini benar. Gadis ini memiliki suara yang sangat merdu sama seperti Jieun. Memang suaranya tidak seindah Jieun. Suara Jieun membuat orang yang mendengarnya tersentuh dan terpukau, tapi suara gadis ini membuat semua orang terhipnotis dan terpaku. Bahkan mereka tidak menyadari ketika aku menghentikan alunan pianoku di tengah lagu dan gadis itu tetap bernyanyi dengan tanpa kehilangan ritme ataupun nada. Aku pun sama halnya dengan mereka yang tenggelam dalam suara milik gadis itu. Tadi adalah lagu Jieun yang kuciptakan untuknya, dan gadis ini adalah orang kedua selain Jieun yang mampu menyampaikan perasaan yang terdapat dalam lagu tersebut. Aku bangkit dari posisi dudukku dan berjalan mendekatinya.

“Mulai sekarang, kau akan bernyanyi untukku. Aku ingin kau menjadi seorang penyanyi yang akan menyanyikan lagu-laguku seperti Jieun” Dia menatapku dengan pandangan tidak percaya, sedangkan aku hanya membalasnya dengan sebuah senyuman tipis.

~o~

Jinri POV

10 kaleng bir kuletakkan di sisi kananku. Saat ini berada di tempat ini adalah yang terbaik untukku, duduk ditepi sungai Han pada dini hari. Aku tidak peduli pada handphoneku yang sedari tadi bergetar karena panggilan dari Minho oppa. Terlebih lagi keadaan yang kualami saat ini sudah sangat biasa kualami; kabur dari pesta kolega-kolega appa. Dress selutut yang kukenakan kotor di beberapa bagian, tapi aku tidak peduli dan terus meneguk sekaleng bir yang ada ditanganku. Aku peminum yang baik tidak seperti Jiyeon, bahkan aku tidak akan mabuk walaupun meminum bir sebanyak ini, hanya soju dan arak yang bisa membuatku mabuk. Begitupun dengan angin malam yang juga tidak dapat mengangguku. Tidak ada sesuatu apapun yang dapat mengangguku saat ini, karena aku menganggap semuanya itu tidak ada.

“Disini kau rupanya, mermaid” Ya! Dan akhirnya sebuah suara yang kubenci dapat mengangguku. Aku menatap si pemilik suara itu tajam. Lagi-lagi namja ini yang mengangguku.

“Kenapa kau bisa berada disini?” ujarku kesal. Aku membuka kembali kaleng birku yang ke-5. Namja itu mendudukkan dirinya di sisi kiriku dan mengambil bir ditanganku yang baru saja kubuka dan meneguknya.

“Ahh~ Apa aku harus menjawab pertanyaanmu? Suangai Han adalah milik warga Korea dan aku adalah warga Korea. Jadi, apa aku tidak berhak berada disini sehingga kau harus bertanya mengapa aku disini?” Namja menyebalkan itu kembali meneguk minumanku yang dicurinya. Aku berusaha tidak memperdulikan namja itu lebih lama lagi dan kembali membuka kaleng lainnya. Namja itu kembali lagi mengambilnya.

“YA!! Apa kau tidak bisa membelinya sendiri? Kenapa kau selalu mengangguku? Ini bukan satu-satunya tempat di sungai Han untuk kau duduk bukan? Kenapa kau tidak duduk di tempat lain?” Aku mulai merasa sangat terganggu dengan kehadirannya. Dia membalas teriakkanku dengan menatapku aneh. Namja menyebalkan itu mendekatkan tubuhnya padaku, menipiskan jarak diantara kami.

“Apa kau ingin aku menciummu lagi seperti waktu itu? Aku tidak suka kau berteriak kepadaku” Mendengar ancamannya, aku langsung menutup mulutku rapat-rapat dan mengalihkan pandanganku ke arah sungai Han. Jantungku mulai berdegup kencang dengan aneh. Namja itu akhirnya sedikit menjauhkan jarak diantara kami, tapi aku masih dapat bersentuhan dengan kakinya.

“Kau juga membenci pesta, huh. Padahal kau adalah yeoja yang feminim untuk ukuran seorang atlet wanita. Apa kau merasa bosan berada disana atau tidak memang tidak pernah berniat pergi?”

“Tidak berniat pergi. Tapi Minho oppa terus-menerus memaksaku, jadi pada akhirnya aku terpaksa pergi. Dan pada saat ada kesempatan untuk kabur, tentu saja aku akan kabur seperti saat ini” ujarku tidak peduli.

“Apa kau selalu meminum bir saat kabur? Kebiasaan mabukmu tidak baik bagi kesehatanmu”Aku menatap namja itu heran.

“Untuk apa kau peduli? Kesehatanku bukan urusanmu!” Aku berdiri dan berjalan menjauhi namja itu.

“ Kau adalah satu-satunya rivalku. Tentu saja aku peduli”

~o~

-SNSCHAT-

Ji_jiyeon – minseok90

  • Jiyeon-ah~

 

  • Wae?

 

  • Jiyeon-ah, mianhae. Aku tidak bisa berpartisipasi di Art festival

 

  • NE?? Waeyo?

 

  • Sesuatu yang buruk terjadi di Guri.
  • Aku dan L harus segera berangkat kesana besok dan mungkin tidak akan pulang selama 2 hari

 

  • Apa yang terjadi disana?

 

 

  • . . . uri eomma. Eomma kami di panti asuhan meninggal dunia hari ini

 

 

  • A~ nde, kau pergilah. Kami akan baik-baik saja tanpamu, tapi tidak dengan adik-adikmu disana. Aku akan memberitahu yang lain
  • Gomawo T.T

~o~

Author POV

Pagi yang cerah kembali datang di Seoul. Suhu pagi ini agak lebih hangat daripada kemarin. Seluruh murid OIHS berkumpul di aula yang biasa mereka gunakan untuk pertandingan olahraga dan pertemuan bersama. Dan seperti biasa, G class duduk di barisan paling belakang dan tidak memperhatikan keadaan sekelilingnya dan hanya asik berbicara dan bercanda.

“Eumm~ Minseok eodiya?” Jinri tampak mencari satu-satunya namja diantara mereka yang tidak nampak batang hidungnya sejak pagi.

“Jika kau mencari Minseok, kau tidak akan bisa menemukannya hari ini. Dia dan L sedang berada di Guri saat ini” Jiyeon kembali memandang ke arah panggung besar yang terletak agak jauh dari posisi mereka saat ini, dimana tempat duduk S class berada.

“Mwo? Dia pulang ke Guri di saat seperti ini?” Sohee menahan suaranya agar tidak berteriak kerena kaget. Jiyeon menggelengkan kepalanya pelan.

“Aniyo, dia pulang kerena eommanya di panti asuhan meninggal dunia. Aku menyuruhnya untuk tidak memperdulikan kita, karena adik-adiknya jauh lebih membutuhkannya saat ini” ujar Jiyeon dengan nada yang penuh dengan pegertian.

“Ah~ Tentu saja dia harus pulang!” Suzy menunjukkan senyumannya yang manis pada ketiga temannya itu. Pada saat itu, 5 orang namja dan 1 orang yeoja masuk kedalam aula dan duduk di kursi yang terletak diatas panggung. S class. Dan kehadiran mereka seperti biasa mengundang perhatian dari semua orang di aula tersebut, dan kali ini G class pun ikut memberikan perhatian pada mereka, terlebih pada seorang namja berambut spike light brown yang sekarang berdiri di belakang podium. Wajah namja itu yang membuat mereka memberikan perhatian lebih.

“Kim Xiumin imnida! Mulai hari ini aku adalah ketua OSIS kalian menggantikan adikku Myungsoo yang akan menjadi wakilku”

 

TBC……

 

 

 

 

53 responses to “[CHAPTER 3] School Rush season 2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s