Envious [TWOSHOT — 1]

envious

Cemburu. Hal pasif yang sering kali terjadi dan singgah di benak Jiyeon ketika melihat Myungsoo, kekasihnya, berada di dekat seseorang selain dirinya. Ia berpendapat, cemburu adalah hal wajar yang semestinya selalu ada di daftar sikap seorang gadis.

Katakanlah ia bukan gadis yang senang meninjau hatinya untuk selalu terbebani. Terkadang, seluruh indranya masih senang menangkap cepat seluruh detik yang terlompat dalam kilas hidupnya, matanya juga acap menarik kesimpulan dengan sendirinya, tanpa persetujuan serta bukti yang jelas.

Itulah yang ia alami selama masa-masa kebersamaannya dengan Myungsoo. Begitu cepat waktu bergerak, begitu singkat pula tempuh kalanya untuk mendeteksi keraguan hatinya ketika melihat Myungsoo berdekatan dengan Yerim.

Berulang kali ia mencoba untuk sedikit menyadari, bahwa—Myungsoo dan Yerim hanyalah sepasang kakak beradik. Nyatanya, angin musim gugur menerbangkan seluruh benang bernama usaha yang Jiyeon rajut menjadi kesadaran.

Terkadang ia membenci hatinya yang cepat tersinggung.

.

.

[TWOSHOT]
Envious (Chapter 1)

by : Shaza (@shazapark)

Jiyeon & Myungsoo

Romance & Hurt

.

.

Demam bukanlah penyakit berat yang memerlukan biaya berlebih untuk berobat dan perawatan, Jiyeon mengetahui hal itu sejak dulu. Ia pun juga kerap terserang penyakit kecil yang cukup menyiksa ini.

Gadis itu merapatkan selimut, merasakan desau angin sore mulai merambat masuk melalui celah jendela kamarnya. Sepasang tungkainya telah berada di posisi yang begitu nyaman, membuatnya enggan untuk menarik anjak ke arah jendela—lantas menutup tirai.

Jiyeon menggerutu kecil, memaki suhu tubuhnya yang naik drastis semenjak hadirnya musim gugur yang kini akan menjejak di pergantian musim dingin. Kendati tubuhnya merangkap kalor yang tinggi, namun tetap saja singgungan kecil yang menyentuh kulitnya akan terasa dingin.

Dan, inilah hal yang begitu ia benci dari penyakit demam. Tubuhnya mudah lemas. Namun, sesaat setelahnya ia tersenyum aneh, tidak ada penyakit yang tak membuat tubuhmu lemas. Pikirnya sembari memejamkan mata, beberapa menit yang lalu ia mengabari Myungsoo untuk berkunjung ke rumahnya. Ia tidak suka menyendiri di rumah. Dan bagian terpentingnya, ia tidak bisa berada jauh dari Myungsoo jika demam menyarangnya seperti saat ini.

Sementara sore mulai merangkak menajauhi tempat, dan digantikan oleh langit gelap malam yang ditabur bintang, pintu kamar Jiyeon terbuka. Jiyeon yang kala itu telah berlabuh di alam mimpi, sama sekali tak merasa bahwa pergerakan pintu kamarnya mengusik.

Selagi pintu kamarnya kian terbuka lebar, sosok jangkung di balik benda berbakal kayu itu menyembul, menampilkan sosoknya yang bersurai kelam. Myungsoo. Pria itu menilik jauh ke dalam kamar Jiyeon, sebelum akhirnya memutuskan untuk masuk setelah melihat kekasihnya yang tengah terlelap nyaman di ranjang.

Menggenggam ponsel di tangan kiri, tangan kanan Myungsoo tergerak untuk mengusap matanya—mengusir kantuk yang sering kali singgah menghadang penglihatannya ketika mendapati Jiyeon tertidur. Ia hanya merasa, sosok Jiyeon yang terlelap seolah memiliki zat adiktif yang menular, membuat kepalanya ringan dan ingin segera menjemput mimpi.

Myungsoo terduduk di bangku terdekat dengan ranjang kekasihnya, lantas bersandar pada badan bangku. Ia menancap pandangan pada layar ponsel, mengernyit samar ketika menyadari bahwa tujuannya ke rumah Jiyeon adalah atas permintaan gadis itu sendiri.

“Jiyeon?” suaranya mengoyak keheningan malam di kamar Jiyeon. Pria itu mendesak tubuhnya mendekati wajah kekasihnya. Matanya memicing tajam, ia mendapati corak kemerahan yang terbubuh rata di kisar wajah Jiyeon. Entahlah, jemari Myungsoo tergerak lancar untuk mendarat di atas kulit Jiyeon.

Kalor di tubuh Jiyeon turut merambat di permukaan tangan Myungsoo, melukis kerutan di dahi pria itu. Myungsoo mendesah panjang, sembari memundurkan badan, kembali bersandar pada badan bangku. “Demam ‘kan? Sekarang kenapa lagi, coba?” Myungsoo menggumam seraya bangkit dari posisi terduduknya, beranjak mendekati tirai jendela yang terbuka lebar di dekat lemari pakaian.

Sesaat setelah jemarinya melajur menutup tirai kamar Jiyeon. Gumaman kecil menyeruak masuk melalui indra pendengarannya, menjeda pergerakkan tangan Myungsoo. Tulang lehernya terpaksa menoleh ke arah sumber gumaman yang tertampung di telinganya.

“Myungsoo?” gumaman itulah yang terdengar pertama kali di indra pendengaran Myungsoo. Pria itu sigap menoleh, mendapati sosok Jiyeon yang tengah mengusap matanya dengan gerakan imut, Myungsoo membersihkan tenggorokannya, merasa gugup dengan pendapat yang hilir di kepalanya barusan.

Ia melompat spontan menuju ranjang Jiyeon, membiarkan kakinya menekuk demi menopang berat badan di samping tubuh kekasihnya. “Jiyeon, kau kenapa?” pria itu bertanya setelah menilik adanya peluh yang membasahi kening Jiyeon.

Ia kontan menyeka peluh Jiyeon sembari menunggu respons dari bibir gadis itu. “Hm, kapan kau sampai?” gadis itu mengalihkan pembicaraan, terduduk dengan kemampuannya. Myungsoo membuang napas, “Aku bertanya, kenapa malah balik tanya?” tidak terselip nada marah di kalimat Myungsoo, itu justru sedikit menarik perhatian Jiyeon akibat nadanya yang terdengar seperti keluhan.

Jiyeon menarik ujung bibirnya, mengulum senyum tipis. “Aku demam.” Sahutnya seraya terbatuk kecil, merasakan adanya sedikit kendala di pernapasannya. Myungsoo tak membutuhkan komando untuk segera mengusap punggung Jiyeon. Ceruk otaknya mengirim perintah untuk segera bangkit dan menjauh dari ranjang Jiyeon.

“Aku beli makan dulu, bagaimana? Di rumahmu pasti tidak ada obat juga ‘kan?” Myungsoo mengatakan izin itu selagi tangannya mencari ponsel yang diletakkannya di atas permukaan bangku. Ia kembali menoleh ke arah Jiyeon, mengukir senyum ketika mendapati gadisnya tengah mengerjap heran.

“Aku pergi. Jangan—” setidaknya Myungsoo akan menuai nasihat panjangnya jika bukan karena jemari Jiyeon yang dengan sendirinya terulur ke arah jemari lainnya, milik Myungsoo.

“Tidak perlu pergi. Temani aku saja.” Gadis itu berujar dengan suara kecil, nyaris terbawa angin malam dan tak masuk pendengaran Myungsoo. Pria itu mengedip sekali, sebelum akhirnya menggurat senyum lebar. Ia kembali terduduk di sisi ranjang, mendekati kekasihnya.

“Bajumu lembap, pasti panas-dingin ‘kan? Maka dari itu, lebih baik ganti baju dulu. Aku keluar ya, beneran kok—tidak akan lama.” Janji Myungsoo, mengangkat jari kelingkingnya. Jiyeon tersenyum tipis, mengaitkan jari kelingkingnya pada milik Myungsoo. “Iya~” suaranya beralih parau, angin malam menjadikan kondisi Jiyeon kian menurun dan menjauh dari kata baik.

Myungsoo membuang napasnya, sebelum mengubah posisi untuk bangkit. “Aku tinggal ya. Sebentar saja, tidak lama.” Sesaat, manik Jiyeon menangkap gestur Myungsoo yang kembali meletakkan ponsel di nakas Jiyeon. Gadis itu menggumam, membalas ujaran Myungsoo seadanya.

Sementara pintu kamarnya menutup perlahan, di detik itu pula ponsel Myungsoo berkedip—menotifikasikan adanya pesan masuk. Jiyeon melirik sesaat, nama adik Myungsoo tertera di sana.

My sista Yerim-aaaaaah.

Bahkan Jiyeon tak dapat menghitung berapa banyak jumlah huruf A yang berada di ujung nama Yerim. Ia hanya dapat mengira ketika Myungsoo menyebut nama itu akan terdengar lucu, hal itu membuat Jiyeon terkikik di antara pening yang merasuk kepala.

Jemarinya terulur untuk menerima ponsel yang ditinggal oleh Myungsoo. Ia membuka pesannya dalam diam, sementara maniknya bergulir membaca rentetan kalimat di dalam sana, hatinya seperti tersiram oleh air mendidih. Panas tubuhnya seolah turut membasuh hatinya.

Oppa, di mana? Kenapa tidak ada di rumah?

Jiyeon mendecih spontan. “Apakah Myungsoo wajib mengabarkan Yerim tentang keberadaannya setiap saat?” ia tak merasa bahwa kalimatnya terdengar seperti dengusan, namun ia kembali meletakkan ponsel Myungsoo di atas nakasnya. Sejenak ketika hening merapat mendekati hawa di sekitar kamar Jiyeon, derikan jendela membuatnya tersentak.

Ia menoleh, meskipun kelopak matanya seperti telah tertarik oleh kantuk, namun bunyi derik itu lebih banyak menyeret atensinya. Ia memicingkan mata, berusaha fokus pada satu titik yang ia lihat di balik lensa kacamata.

Angin malamlah yang menyinggung permukaan kaca, menjadikan tirai kamarnya terbuai mengombak sesaat. Ia mengernyit, menyadari bahwa malam musim gugur adalah malam terdingin kedua setelah malam di musim dingin. Gadis itu menikmati suasana hening di kamarnya, kembali mengabaikan desau angin malam yang menggila.

Myungsoo tadi pakai jaket tidak ya?” batinnya menerka, merapatkan selimut hingga sebatas dagu. Demam membuatnya mudah menggigil, namun berkeringat di waktu yang sama. Sedikit-banyak menyiksanya, dan Jiyeon sama sekali tak meluluskan permintaan Myungsoo untuk berganti pakaian.

Dinginnya malam seolah mengenai kepalanya. Ia mengingat pakaian Myungsoo ketika pria itu beranjak pergi dari rumahnya menuju apotek. Detik berlalu menjadi menit ketika kepala Jiyeon dipenuhi oleh terkaan-terkaan tak terjawab, entah di detik ke berapa, ketika angin malam terasa menerobos masuk ke area kamarnya adalah saat di mana Jiyeon terduduk dengan mata membulat.

“Myungsoo tidak mengenakan jaket!” dan kali ini ia tak membatin, tidak juga menerka, namun menyatakan hal berlabel fakta.

.

.

Langkah kakinya beradu dengan kesibukan malam di susur jalan kota. Langit telah menuang warna gelap, diterangi oleh rembulan penuh, namun kesibukan kota tak akan pernah berujung jika waktu belum menunjukkan pukul sepuluh malam.

Jiyeon menyeka peluh selagi angin malam berembus ke kisar udara kota. Demam menjadikan tubuhnya tak bereaksi lebih pada hal-hal yang menyentuh kulitnya, seperti angin malam. Tangannya mengeratkan genggaman pada mantel tebal.

Toko grosir adalah satu-satunya tujuan gadis itu saat ini. Sementara, langkah kakinya terdengar kontras dengan tapak sibuk yang lain, Jiyeon terbatuk. Kondisinya memburuk, ditimbun oleh cuaca yang menyorong segala hal negatif tumbuh pada demamnya.

Kini ia merasa akan segera flu. Setidaknya, tungkainya menjeda ayunan ketika sepasang maniknya mendapati toko dua puluh empat jam dengan kaca sebagai dinding dan menghantarkan sinar lampu dari dalamnya. Jiyeon membuang napas lelah, perjalanannya menuju tempat itu membutuhkan waktu sekitar dua puluh menit, tapi itu cukup melelahkan bagi seseorang yang tengah terjangkit demam.

Sinar lampu dari dalam toko menyiram sebagian jalanan kota, termasuk aspal yang tengah Jiyeon jejak. Baru saja jemarinya terulur untuk menarik gagang pintu berbakal alumunium, seseorang dari dalam telah membukanya. Jiyeon kontan mendongak, mendapati sosok jangkung kekasihnya dengan mata mengerjap bingung.

“Jiyi? Kenapa kau di sini?” Jiyeon tak berkutik, diam di tempatnya seperti kakinya telah tertancap tajam di sana. Myungsoo membiarkan lajur buka pintu tokok terhadang oleh tubuhnya, ia menanti jawaban kekasihnya. Perlahan-lahan, kerjapan bingung itu sirna dari mata Myungsoo, terganti oleh sorot penuh tuntut.

Jiyeon menyadari manik Myungsoo beralih warna menjadi kelam. Pertanda kecil bahwa kekasihnya akan marah. Di tengah kesulitannya berbicara lantang, Jiyeon menyahut, “Kau tidak membawa jaket, Myungsoo. Aku membawakanmu—” Jiyeon tak bermaksud untuk memenggal kalimatnya, namun tarikan tangan Myungsoo memotong ucapannya spontan.

Di balik wajah merahnya—karena lelah—itu Jiyeon menurut helaan tangan Myungsoo yang membawanya menuju susur jalan kota yang sedikit panjang jarak dari kata ramai. Myungsoo membiarkan kekasihnya terdiam ketika tubuh keduanya telah saling menyisi dalam kenaan hadap.

Jiyeon mengambil napas, menemani tenangnya malam yang ditebas oleh keramaian jalanan kota. Ia mengulurkan tangan, menyerahkan mantel cokelat tebal Myungsoo yang selalu ada di rumah Jiyeon. “Pakailah. Di sini dingin. Kau tidak kedinginan?” Myungsoo bergeming, memandangi paras Jiyeon yang kian memerah, seiring dengan embusan angin yang menerpa keduanya.

Myungsoo membuang napas lelah, tangan kanannya menggenggam plastik. “Jiyeon-ah,” ia memanggil lembut, seperti biasa ketika ia sedang mengubur emosinya. Tangan Myungsoo tak kunjung menerima mantel yang disodorkan oleh Jiyeon, melainkan memerangkap bahu kekasihnya.

“Kau tahu ‘kan, kau-lah yang sedang sakit, bukan aku.” Myungsoo menelengkan kepala, membiarkan wajah Jiyeon mematut ke arahnya. Manik kekasihnya terhadang kerjapan sesaat, hingga uap tipis menyembul dari celah bibirnya, Myungsoo tahu Jiyeon lelah.

“Kau juga manusia, Myungsoo. Kau juga bisa sakit.” Jiyeon menyahut, tanpa memahami maksud ucapan Myungsoo barusan. Myungsoo mengerutkan dahi, tidak turut andil dalam membujuk Jiyeon agar gadis itu memahami maksud ucapannya, namun—perasaan cemas kini telah mengikatnya, membuatnya ingin meluapkannya dengan amarah.

Melihat Jiyeon yang berkondisi tak sehat kini berada di luar lingkup rumah yang dingin adalah hal yang membuatnya jatuh terperosok dalam jurang tak berlabel. Ia gagal dalam menjaga Jiyeon. Gagal total. Ia mencatatnya dalam hati.

Memejam sejenak, Myungsoo menarik napas. “Jiyeon, bukan itu maksudku, Sayang.” Myungsoo maju selangkah, membiarkan tiga puluh sentimeter menjaraki tubuh keduanya. “Kau sakit ‘kan? Kau tahu itu. Sekarang bukan waktumu untuk keluar rumah. Kau yang akan kedinginan, bukan aku.” Jelas Myungsoo, menaruh harapan agar kekasihnya ini segera paham, lantas meminta maaf. Jemari Myungsoo terulur, menyingkirkan helaian rambut Jiyeon yang menutup sebagian wajah.

“Jangankan sakit, Yeon-ah. Kalau kau sedang dalam keadaan baik pun, aku tak akan mengizinkanmu keluar rumah. This is night, Jiyi. Seorang gadis tidak boleh keluar malam-malam.” Myungsoo mengikis jarak di antara kedua wajahnya, membuat Jiyeon menahan napas selagi dahi Myungsoo menyentuh keningnya. Jiyeon kini paham dengan maksud pembicaraan Myungsoo, ia mengangkat tangan—menautkan telapak tangannya dengan jemari Myungsoo.

“Aku tahu. Maaf. Tapi, bagaimana jika kau sakit juga, Myungsoo? Memang ada yang akan mengurusmu?” pertanyaan yang dihaturkan dengan sepasang kening mereka yang beradu itu membuat Myungsoo terkikik. Jiyeon mengamati kerutan di ujung mata Myungsoo, lantas mengedip sekali.

“Aku punya Yerim yang bisa mengurusku. Memang tidak setiap saat dia mengurusku, Jiyeon. Tapi, dia lebih dari cukup untuk menegurku soal hal yang negatif.” Myungsoo masih terkekeh di tengah wajah suram Jiyeon yang tiba-tiba muncul kala mendengar nama Yerim yang terlempar dari bibir Myungsoo.

Gadis itu melonggarkan genggaman tangannya, sigap menjauhkan wajah. “Yerim? Apa gadis seperti dia mampu mengurus kakaknya?” kelopak mata Myungsoo memberikan bingkai yang lebih besar untuk penglihatannya ketika mendengar pertanyaan konyol dari Jiyeon.

Ia mendapati kekasihnya tengah mendecih seraya melempar mantel ke arah Myungsoo. Myungsoo menangkapnya cepat. Jiyeon tidak tahu bahwa perasaan dongkol kembali menyergapnya ketika Myungsoo menyebut nama Yerim dalam pembicaraan. Bayangan mengenai pesan singkat yang singgah di ponsel Myungsoo sekitar setengah jam lalu membuat perasaan Jiyeon kian menjauh dari kata baik.

“Jiyeon, kau bicara apa, sih? Mulai sekarang, jaga bicaramu, ya.” Myungsoo memeringati Jiyeon, gumpalan emosi kembali mengepung Myungsoo, nyaris membutakan jalan lurusnya yang benar. Jiyeon di hadapannya mendecih tanpa penyebab yang diketahui oleh Myungsoo.

“Adikmu setiap hari berbicara frontal begitu, untuk apa aku—” sekali lagi, sepertinya Jiyeon tidak menampung niatan untuk menghentikan kalimatnya di tengah-tengah seperti itu, namun jemari Myungsoo yang memukul pelipisnya mengalihkan fokus gadis itu dalam berbicara.

Ia mengerjap, sesaat setelah menyadari bahwa—baru saja—sedetik yang lalu, Myungsoo memukulnya. Menampik pelipisnya seperti toyoran, tidak keras—namun cukup menimbun pening di kepalanya. Jiyeon spontan menyentuh dahinya ketika rabun mulai menghalang penglihatannya, kepalanya pening.

“Kau tidak paham atau bagimana? Jaga omonganmu, Jiyeon!” Ujaran dingin itu dimartil oleh Myungsoo, menengahi kesibukan malam serta dinginnya angin yang menerbangkan dedaunan kering di permukaan tanah. Jiyeon menoleh ke arah Myungsoo, dengan telapak tangan yang kerap menyentuh dahi.

Di bawah pandangannya yang mengabur, ia masih dapat menilik ekspresi tak terbaca dari Myungsoo. Jiyeon tak dapat berlaku lebih selain memaksa tangan Myungsoo untuk menerima mantel di genggamannya. “Apapun itu, aku tidak peduli.” Gadis itu memalingkan tubuh—berusaha menarik keseimbangan di antara pandangannya yang kabur.

Keduanya tak sadar, bahwa emosi yang menyelubungi mereka akan sedikit-banyak memperoleh pertengkaran kecil. Jiyeon melangkah menjauhi tempatnya berpijak di susur jalan kota, kembali melanjutkan perjalanannya dengan taksi ke rumah, ia tidak peduli.

Myungsoo being mad at me. Dan itulah hal yang melintas di titik kepala peningnya. Setidaknya, ia tahu—bahwa kesalahannya dalam berbicara mengenai adik Myungsoo tadi adalah hal fatal. Siapa yang tidak akan marah jika saudaranya dihina dengan kata-kataku seperti tadi? Ia bahkan bertanya pada batinnya.

.

.

“TO BE CONTINUED—”

.

.

Ada yang inget sama Shaza? Author bocah yang kemaren nulis GIFT sama Eating (drabble collection) Myungyeon shipper pasti gak lupa dong, hehe. Akhirnya aku nge-post FF yang bukan aku buat pas SD. Ini FF aku bikin kira-kira waktu aku masih kelas satu SMP, sekarang aku kelas dua. Jadi, kalau banyak kesalahan itu maaf ya.

Kemaren, ada yang nyuruh aku bikin FF chapter, sayangnya—aku belum bisa bikin itu, jadi sementara twoshot dulu aja yaah. Aku tunggu respons kalian, thanks.

Dan, buat spoiler aja.. aku gak suka bikin FF yang sad-ending, jadi ini tetep happy ending kok, hehe.

64 responses to “Envious [TWOSHOT — 1]

  1. Wah kok myungsoo biarin jiyeon pulang sndiri.
    Kan kasian dia msh skit.
    Nant kalo kenapa napa gmana cba.
    Nant kira” myungso nyusulin jiyeon trus baikan apa pulang krumah ya.
    Next ya thor

  2. waw .. keadaan nya nyesek jg ya .
    jiyeon yg sakit dan mudah cemburu pdhal sama adik myungsoo sendiri ckck
    aku lgsung next yaa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s