Eating [DRABBLE COLLECTION]

eating

Eating [DRABBLE COLLECTION]
by: Shaza (@shazapark)

Myungsoo & Jiyeon

Romance, Fluff
Teenager

.

.

Breakfast


Memandangi seorang Jiyeon yang kesulitan menyalakan kompor, menggoreng telur, menanak nasi, dan membuat segelas kopi merupakan suatu hal yang menyenangkan bagiku pribadi.

Hawa pagi yang hangat menyapa kesibukan awalku hari ini. Kedua bola mata bundarku telah memaku pada sosok wanita berapron yang tengah mengikat untaian rambutnya menjadi satu secara acak-acakan.

Wanita itu melongok ke depan konter dapur dan bertanya, “Kau ingin sarapan apa, Sayang?” aku tahu pertanyaan itu ia tujukan padaku, maka aku terpaksa mengerjap sejenak. Aku paham, wanita itu hanya ingin menjadikan sarapan pagi ini terasa lebih menyenangkan, jadi ia bertanya seperti tadi.

“Apapun, honey! Sebisamu saja.” Aku mengulum senyum menawan ketika melemparkan kalimat tersebut. Wanita berparas manis itu terkekeh, kemudian kembali menegakkan tubuhnya demi melaksanakan rutintas pagi harinya, membuat sarapan.

Mengalihkan pandangan pada sosoknya, tanganku terulur untuk meraih koran pagi, mataku kini mulai menelusur setiap kalimat yang tertera pada kertas kusam itu sebelum suara pekikan yang mengalihkan perhatianku.

Aku melongok ke arah dapur, dan mendapati kesunyian melanda di sekitar sana. Aku mengernyit sebelum bangkit dari posisi terdudukku. Ayunan tungkai membawaku menuju dapur yang entah mengapa tiba-tiba saja sunyi.

“Aw~” ringisan kecil. Aku mendapatinya meringis lagi, kali ini bukan karena jarinya teriris pisau, namun karena sikunya yang menyentuh permukaan panci yang panas. Oh, aku tahu itu kulitnya mudah melepuh.

Aku berlari kecil menghampirinya. “Jiyeon-ah, sudah kubilang sebisamu saja.” Aku berceloteh kala tanganku berusaha mengusap siku Jiyeon yang melepuh. Wanita itu hanya membalas celotehanku dengan tawa hambar. Aku menyadarinya, wajah murung Jiyeon kembali tercetak sempurna di parasnya.

Aku menghentikan kegiatanku dalam mengusap sikunya, seketika mandangnya prihatin. Ia balas memandangku dengan kedua belah bibir yang mengerucut, membuatku gemas ingin mencubitnya.

“Jadi menurutmu, aku tak bisa membuat sarapan?” ia bertanya setelah berlama-lama memandangku sebal. Aku berusaha menahan tawaku ketika melihat wajah manis yang sedang merajuk itu. Tak tahan, akhirnya kedua tanganku terangkat demi menangkup pipinya yang bulat.

“Kau bisa, Sayang. Hanya perlu banyak latihan,” balasanku membuat senyum wanita itu terkembang seketika. Ia berjinjit demi mengecup wajahku, namun karena aku tidak membungkuk, maka ia hanya dapat mengecup rahangku sekilas. Aku terkekeh geli atas perlakuannya.

“Terima kasih, Myungie. Aku janji akan membuatkanmu sarapan yang baik.” Ia bersumpah seraya mengacungkan jari telunjuk dan jari tengah. Aku yang melihatnya lantas tertawa, kali ini sangat keras. Perasaan bahagia karena memiliki seorang istri yang polos dan menyenangkan terlalu meluap-luap di benakku, membuat senyumku tak berhenti terkembang.

.

.

Lunch


Bola mata pria itu bergulir ke arah jam kecil yang ia letakkan di atas meja kerja kantornya. Mendapati jarum pendek telah menuding angka dua. Pria itu menyandarkan punggung tegapnya pada sandaran bangku kerja. Ringisan kecil meluncur dari kedua belah bibirnya kala lubang hidung pria itu menangkap harum makanan di sekitarnya.

Ditiupnya perlahan untaian poni hitam legam yang telah menutup sebagian matanya dengan keras, selagi perutnya merengek minta diisi setidaknya satu gigit roti untuk makan siang.

“Myungsoo-sshi. Anda tidak makan siang?” teguran yang membuat pria bertubuh jangkung itu tersentak, spontan menegakkan tubuhnya bersamaan dengan kedua kelopak mata yang terbelalak. Ia mendapati seorang wanita dengan pakaian formal tengah memandangnya, diikuti senyum ramah dari bibir ranum wanita tersebut.

Myungsoo berdehem sebelum menjawab dengan tak kalah ramah, “Ah. Saya sedang menunggu makan siang saya.” Ujaran yang dibalas anggukan ringan dari wanita itu. Myungsoo menilik gerakan mata wanita yang menjabat sebagai teman kerja di kantornya itu, bola matanya tengah mengerling ke arah jam dinding kantor, lantas mengerjap.

“Tapi—sekarang sudah pukul dua. Apa Anda tidak—”

Suara dering rendah yang berasal dari benda elektronik milik Myungsoo memutus ucapan wanita ramah itu. Myungsoo menatap layar ponsel yang ia letakkan di atas meja, senyum manis segera tercetak di paras tampannya.

Pria itu mendongak, menatap wajah ramah dari seorang wanita di hadapannya. “Maaf. Saya harus segera pergi.” Pamit Myungsoo seraya membungkuk singkat, disambut pula dengan bungkukkan dalam wanita tersebut.

Myungsoo kemudian mengayunkan tungkainya menuju pintu utama ruang kerjanya, lantas berlari kecil menyusuri lorong kantor.

Senyum Myungsoo terkembang ketika sepasang manik cokelatnya menangkap siluet seorang wanita jangkung yang tengah berdiri di depan lobi. Pria itu kembali mempercepat langkah, selagi perasaan bahagia kian menggerogoti sebagian benaknya.

“Jiyeon-ah!” Myungsoo memekikkan nama wanita itu. Wanita bersurai hitam itu menyentakkan kepalanya ke arah sumber suara. Senyuman manis terpatri di sudut bibir wanita bernama Jiyeon tersebut. Ia mengangkat tangan demi melambaik singkat ke arah Myungsoo.

Pria jangkung itu balas melambai, sedetik kemudian ia merentangkan tangannya lebar-lebar seolah sedang mempersilakan wanita itu untuk masuk ke dalam rengkuhannya. Jiyeon mengulas senyum manis, tungkainya mengayun ke arah Myungsoo dengan kedua tangan yang turut terentang lebar. Tangan kanan wanita itu menggenggam sebuah kotak bekal berwarna putih.

Myungsoo memejamkan matanya begitu merasakan tubuh Jiyeon telah terperangkap sepenuhnya ke dalam pelukannya. Indera penciuman Myungsoo menangkap harum cologne manis dari tubuh istrinya, Jiyeon.

Miss you, Jiyi.” Myungsoo hendak menyembunyikan wajahnya pada ceruk leher Jiyeon, meluncurkan kekehan kecil dari celah bibir wanita itu.

“Kita bertemu setiap hari, Sayang.” Balas Jiyeon seraya merangkul leher Myungsoo. Pria itu tak menggubris perkataan Jiyeon, ia melonggarkan dekapannya—tak berniat untuk mengenyahkan sepasang lengan yang melingkar di pinggang istrinya, begitu juga dengan Jiyeon yang masih setia mengalungkan lengan di leher suaminya, Myungsoo. Sedetik kemudian, dua dahi milik Myungsoo dan Jiyeon berbenturan.

“Kenapa datang terlambat?” Myungsoo bertanya tanpa menjauhkan wajahnya. Bibirnya mengerucut, menjadikan bibir penuh pria itu tampak imut di mata Jiyeon.

Jemari ramping Jiyeon menyusur ke sekitar rambut belakang Myungsoo, ia mengusapnya seraya membalas pertanyaan Myungsoo. “Maaf. Tadi aku ada urusan sedikit.”

Bukannya tersenyum atau memaafkan, pria bermarga Park di hadapannya justru menggembungkan pipinya. Membuat Jiyeon habis-habisan menahan rasa gemas. Ayolah, siapa yang mengira Myungsoo yang terlihat gagah di mata teman-teman kantornya kini malah bersikap manja pada seorang wanita?

Jiyeon menepuk kedua pipi Myungsoo yang menggembung. “What’s wrong with my Myungie, hm?” wanita cantik itu menjauhkan wajah serta tubuhnya dari Myungsoo. Membuat pria jangkung itu mendesah kecewa.

“Aku lapar~” ugh, baiklah. Myungsoo sudah merengek seperti anak kecil, menarik perhatian orang yang sedang berlalu-lalang di sekitar mereka. Gelagapan, Jiyeon berusaha menenangkan suaminya yang lucu itu.

“I–iya, Myungie. Kita makan siang sekarang, ya. Aku sudah bawa makanan.” Jiyeon menunjukkan kotak bekalnya sebelum menarik lengan pria tersayangnya menuju meja makan di kantin indoor kantor. Myungsoo tersenyum, diam-diam merasa bangga memiliki seorang istri yang pengertian.

“Kalau lapar, seharusnya kau makan saja di kantin. Tidak ada salahnya kan makan siang dengan—”

“Aku hanya mau makan siang bersamamu, dan menyantap masakanmu.” Sela Myungsoo membuat kedua pipi istrinya bersemu.

.

.

Dinner


Menyentuhkan dahi pada permukaan kaca dalam bus, Jiyeon mengembuskan napasnya. Menjadikan permukaan kaca itu berembun selagi uap tipis meluncur lembut dari celah bibir ranum wanita itu. Manik besarnya menelaah hamparan langit malam yang dihiasi titik cahaya bintang.

Malam di kota Seoul memang selalu indah seperti biasa. Gedung-gedung pencakar langit membiaskan cahaya rembulan yang temaram, sedangkan lampu jalanan akan tetap bersinar meski lalu lintas telah senyap.

Jiyeon mengangkat tangan kiri, melirik jarum pendek di arlojinya yang telah menunjuk angka sebelas. Wanita itu lantas merogoh ponsel yang ia simpan di dalam tas tangannya, memeriksa notifikasi dan mendapati satu pesan baru.

Jiyi, kapan kau pulang? Apa kau sudah makan malam?

Jiyeon menarik kedua sudut bibirnya ketika membaca sederet kalimat yang tertera di sana. Ia dengan senang hati menggerakkan jemari rampingnya di atas layar ponsel demi membalas satu pesan singkat tersebut.

Aku dalam perjalanan. Dan aku belum makan malam, nanti aku akan makan malam di apartemen. Oh, kau bisa tidur duluan.

Setelah memastikan bahwa pesannya telah terkirim, Jiyeon segera memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas tangan, selagi matanya menelusur ke arah luar jendela kaca bus. Punggungnya kembali bersandar pada sandaran jok bus ketika menyadari bahwa perjalanan menuju apartemennya masih sedikit panjang.

Jiyeon tidak pernah merasa segembira ini ketika tungkainya melangkah perlahan mengeluari bus malam yang akan terus beroperasi sampai dini hari. Wanita itu melemparkan senyum ramah pada seorang pengemudi bus andalannya, lantas memandangi kepergian sebuah kendaraan berwarna merah itu hingga tertelan tikungan.

Senyumnya terkembang ketika menyadari bahwa gedung apartemen tempatnya tinggal telah berada tepat dibelakangnya. Wanita itu memutar tumit untuk melihat gedung tinggi tersebut, senyumnya kian melebar ketika indera perabanya merasakan semilir angin malam di sekitar.

Tanpa lebih banyak berlama-lama lagi, Jiyeon memutuskan untuk segera melangkah menuju gedung apartemen bertingkat tersebut.

Jiyeon kembali melemparkan senyum ramah pada seorang wanita paruh baya yang berjaga di balik meja resepsionis. Ia mempercepat langkahnya menuju lift ketika telah memastikan bahwa wanita paruh baya tadi telah membalas senyumnya.

Jiyeon memasuki lift dengan pintu yang telah terbuka. Wanita itu menekan tombol enam ketika mengetahui tak ada satu orangpun di dalam lift. Selagi lift membawanya menuju lantai enam, Jiyeon menyandarkan tubuhnya pada dinding alumunium.

Ia menyelipkan anak rambutnya ke belakang telinga sementara tangannya yang lain berusaha merogoh ponsel dalam tas tangan. Setelah menemukan benda elektronik yang ia cari, wanita itu seketika memeriksa notifikasi. Kembali ia mendapati satu pesan baru.

Baiklah, Jiyi. Aku telah menyiapkan makan malam untukku dan kau. Cepat pulang, ok? Berhati-hatilah, Sayang.

Jiyeon melebarkan sepasang kelopak matanya ketika membaca satu pesan baru yang telah sampai sejak dua puluh enam menit yang lalu. Celaka.

Jiyeon hendak meluncurkan gerutuan tak berguna ketika bunyi dentingan yang dibarengi dengan terbukanya pintu alumunium lift menginterupsinya. Tanpa berlama-lama lagi, wanita itu segera melangkah—mengeluari lift kosong tersebut.Wanita itu berjalan menyusuri lorong apartemen yang setiap sisinya dipenuhi oleh pintu-pintu bernomor.

Langkah kakinya terhenti mendadak ketika bola matanya menangkap sebuah plat bernomor seratus tiga puluh empat yang merekat manis di sebuah pintu alumunium. Apartemennya. Jiyeon melangkah lagi—mendekati pintu berwarna perak tersebut secara perlahan.

Wanita itu menghela napas dalam-dalam sebelum jemarinya menekan beberapa digit angka ke dalam sebuah papan bernomor. Lagi-lagi sebuah bunyi dentingan singkat—yang menandakan bahwa pintu telah tak terkunci—membuat wanita itu tersentak.

Ia memandang cemas ke arah pintu apartemennya sesaat, sebelum akhirnya memutuskan untuk mendorong pintu itu secara perlahan agar tak menimbulkan suara apapun.

Kepala wanita itu menyembul ke dalam celah pintu, lantas mendapati suasana hening seperti biasa, hal yang membuat senyumnya terkembang. Namun ada satu hal yang membedakan malam ini dengan malam-malam sebelumnya—malam ini lampu masih menyinari cahayanya pada sekitar ruang makan. Jiyeon segera melunturkan senyumnya.

Wanita itu melangkah masuk ke dalam apartemen, setelahnya ia menutup pintu—lagi-lagi secara perlahan. Menaruh tas tangan di atas sofa, Jiyeon mulai melepas syal cokelat yang mengitari lehernya. Ia menghela napas selagi jemari rampingnya mulai beralih melepas kancing blazer.

Manik besarnya menangkap sebuah punggung lebar yang tengah membelakanginya. Jiyeon tersenyum menyadari bahwa punggung tegap itu adalah milik Myungsoo, suaminya. Wanita itu berjalan mendekat ke arah Myungsoo sebelum dirinya memutuskan untuk melingkari tangannya di sekitar leher suaminya.

Myungsoo—yang pada kala itu sedang tertidur dalam posisi duduk—segera menyentakkan kepala. Mengetahui adanya sepasang lengan yang melingkar di sekitar lehernya, Myungsoo menoleh sedikit, yang ia dapati hanyalah kepala istrinya.

“Hai, Sayang. Sejak kapan kau pulang?” pria itu mengusap kepala Jiyeon seraya menahan diri untuk tidak kembali mengatupkan kedua kelopak matanya yang lelah—ingin segera terlelap. Myungsoo merasakan adanya pergerakan kecil dari istrinya.

“Hm,” wanita itu menggosokkan hidungnya pada ceruk leher Myungsoo sebelum menjawab. “—kenpa tidak tidur di kamar?” ia mengangkat kepala sebelum menaruh dagu runcingnya pada bahu tegap Myungsoo. Membuat jarak wajah di antara mereka semakin terhimpit.

Myungsoo mengecup pipi istrinya sebelum menjawab. “Aku menunggumu untuk makan malam.” Seketika itu juga manik besar Jiyeon menelusur area di sekitar meja makan, dan mendapati beberapa makanan yang masih tersaji di atasnya.

Ia menegakkan tubuh seraya memandang takjub ke arah Myungsoo. “Myungie, kau tak perlu menungguku kalau ingin makan malam.” Jiyeon memandangi paras Myungsoo dengan sinar cemas yang memancar dari mata besarnya. Dan respons Myungsoo? Selalu sama, terkekeh.

Jiyeon terdiam sejenak sembari bibirnya tak berhenti mengulum senyum manis. “Tidak apa, Sayang. Kalau begitu, ayo kita makan malam.” Ujar Myungsoo seolah tak mempedulikan lagi jarum pendek telah menunjuk angka dua belas malam.

.

.

/fin./

.

.

Waduh. Maaf deh cuma ada tiga drabble. Ini kan judulnya Makan. Jadi aku cuman bisa masukin tiga jam makan. Maaf ya, lagi-lagi aku nge-post FF lamaku waktu SD. Btw, aku ini SMP, jadi jangan ada yang heran kalau SD masih kecil banget—soalnya, sekarang aku juga masih kecil /?

Haha, intinya.. sampai ketemu di FF-ku yang berikutnya, okay?

58 responses to “Eating [DRABBLE COLLECTION]

  1. Sumpaaaah, kamu jauh lebih muda dari aku tapi bagus banget kata-katanya. Aku suka sama ff ini dari mulai jalan cerita sampai penulisannya.
    Kamu ada bakat-bakat penulis nih hehe.

  2. Wuah bner bkinnya saat sd??? Wuah daebakk.. !!!! Aku ajh yg udh SMA masih pusing mikirin kata” buat nulis… Semangat terus ya…..

  3. Salut deh ff ini jaman km SD tp kata2 nya udh bagus, bukan kyk bahasa anak SD hehehe. Aku yg udh SMA salut bgt. Semangat buat kamu ya! Km emang udah ada bakat soal nulis2 kyk gini;)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s