[CHAPTER 2] School Rush season 2

school-rush6

fanfiction intro-_-

a/n : chap selanjutnya gak akan lama kok, janji deh.. ^^

“Dalam hitungan menit, babak kedua akan segera dimulai. Seperti yang sudah kusampaikan sebelumnya, babak ini adalah babak dimana kalian harus mengumpulkan poin sebanyak-banyaknya. Peringkat pertama pada kelima cabang olahraga yang akan dimainkan poinnya adalah 500, berkurang 50 poin pada tiap peringkatnya. Lalu poin-poin tersebut akan diakumulasikan untuk poin akhir, dimana pemilik 2 poin terendah tidak dapat mengikuti babak selanjutnya” Semua orang yang ada di sekitar arena ini mendengarkan perkataan seorang Kim Myungsoo dengan baik. Begitu seharusnya. Tapi lagi-lagi, seperti biasanya hanya G class yang tidak suka mendengarkan. Mereka sibuk untuk menenangkan Sohee yang lagi-lagi panik dan tidak juga berniat untuk mendengarkan ocehan orang lain disekitar mereka. Pertandingan pertama pada babak kedua adalah renang.

Sohee POV

Aku menatap ke arah kolam renang dihadapanku dengan pandangan kosong. Bukan karena aku pasrah atau apapun. Aku hanya merasa tidak berguna untuk teman-temanku. Jika saja aku tidak takut pada air, aku mungkin bisa ikut dalam pertandingan renang kali ini. Karena untuk pertandingan kali ini dibutuhkan 4 orang perwakilan dari tiap kelas. Karena ini adalah renang relay.

“Sohee-a, Suzy-a, kalian jangan khawatir terlalu berlebihan. Kan sudah kukatakan pada kalian, salah satu dari kami akan melakukan double, dan itu adalah aku. Jadi untuk apa kalian khawatir lagi?” ujar Jinri dangan tepukan pelan di bahuku.

“Aniyo, aku bukannya khawatir. Aku hanya merasa tidak berguna. Dan aku benci perasaan ini” aku mem-poutkan bibirku kesal karena mereka terus saja menganggap bahwa aku khawatir terhadap pertandingan ini. Tepat setelah aku selesai mengatakan kalimat tersebut, suara sang MC kembali terdengar.

“Pertandingan akan segera dimulai. Para peserta harap untuk segera berdiri di posisinya masing-masing” Aku membulatkan mataku kaget. Kali ini perasaan panik sekaligus guguplah yang kurasakan.

“Ne, arraseo. Nahh! Kajja! Kita bicarakan hal ini lagi setelah pertandingan usai” ujar Jiyeon lalu mencubit sebelah pipiku pelan. Setelah itu mereka bertiga, Jiyeon, Minseok dan Jinri berjalan memasuki area kolam renang. Sedangkan aku dan Suzy tetap berada di changing room melihat dari layar TV yang terpasang disini.

“Sohee-a, apakah mereka akan baik-baik saja? Aku memiliki perasaan yang tidak menyenangkan tentang hal ini” Suzy menggenggam tangnku erat dengan matanya yang tetap tertuju pada TV di depan kami. Aku mengalihkan pandanganku dan menatap Suzy bingung.

“Perasaan tidak menyenangkan? Apa maksudmu, Suzy-a?”

“Entahlah. Rasanya ada hal buruk yang akan terjadi pada pertandingan kali ini. Bukan kekalahan. Melainkan sesuatu yang akan terjadi pada salah satu dari kita” ujarnya dengan pandangan yang berkaca-kaca. Sesaat setelah Suzy mengatakan hal itu, aku juga merasakan perasaan yang sama. Rasa khawatir yang besar.

“Aku harap perasaanmu itu sedang salah Suzy-a”

~o~

Jiyeon POV

Kulangkahkan kakiku dengan setenang mungkin. Aku tidak boleh menunjukkan rasa takut yang menghampiriku. Karena hal itu akan membuat kekhawatiran Sohee dan Suzy bertambah juga membuat Jinri dan Minseok khawatir. Ketika mataku melihat kedalam air itu, perasaan itu selalu muncul ke permukaan. Tidak, aku tidak boleh seperti ini. Aku sudah berlatih untuk menghilangkan kenangan buruk tentang hal ini. Kupejamkan mataku, mencoba untuk bersikap senormal mungkin. Tapi dapat kurasakan keringat dingin mengalir disekitar pelipisku. Jantungku pun berdetak dengan tidak normal karena rasa takut yang kembali kurasakan. Dan tanpa kusadari, kami sudah sampai di posisi kami. Lane 4, lintasan tengah, yang artinya jika aku trauma itu kembali muncul, tidak ada jalan bagiku untuk menyelamatkan diri. Aku menghela napas panjang. Sampai ketika namja itu lagi-lagi membuat napasku berhenti untuk sejenak. Lintasan untuk S class adalah Lane 5. Tepat disebelah kiriku adalah namja itu. Park Chanyeol. Rasa takutku semakin menjadi. Rasa takut untuk terlihat lemah dihadapannya. Tidak! Tidak! Tidak! Aku harus bisa melakukan ini, untuk G class aku akan berusaha menghilangkan perasaan ini. Minseok sudah bersiap dengan posisinya. Dapat kulihat juga wasit yang memegang sebuah pistol mulai menarik peluknya.

DORR!

Setelah mendengar suara letusan itu perwakilan pertama setiap kelas melompat dan setelah itu aku tidak tahu lagi apa yang terjadi. Karena aku merasa pandanganku mulai mengabur. Namja itu adalah pemain pertama, itu yang kutahu. Karena aku sudah tidak merasakan keberadaannya di sisi kiriku. Detak jantungku semakin cepat ketika aku melangkahkan kakiku dan memposisikan tubuhku dalam posisi bersiap. Ya, aku adalah pemain kedua setelah Minseok. ‘Jiyeon-a, jangan mengacaukan semuanya’. Aku memjamkan mataku dan sesaat setelahnya suara maut itu terdengar di gendang telingaku.

DOR!

Aku melemparkan tubuhku kedalam air dan mulai menggerakkan kaki dan tanganku. Masih dengan mata terpejam. Aku tidak tahu apa yang ada di hadapanku. Aku tidak tahu apakah aku keluar lane atau tidak. Aku tak mendengar apapun. Dan aku lupa untuk melakukan hal lainnya kecuali bergerak. Aku lupa untuk mengisi paru-paruku dengan udara. Sehingga aku membuka mataku untuk mengambil napas di permukaan. Tetapi, rasanya tidak ada yang berubah. Pandanganku tetap gelap dan yang aku lihat sekarang bukanlah kolam renang, melainkan laut, tempat dimana tragedi itu terjadi. Dan sekarang, aku merasakan kakiku tidak dapat kugerakkan, tekanan air pada tubuhku semakin bertambah. Rentetan gambar pada tragedi itu kembali menghapiriku. Aku mencoba untuk mengabil sedikit napas di permukaan dan mencoba meminta pertolongan, tapi hanya nama itu yang kuteriakkan.

“OPPA~!” Itu adalah kata terakhir yang kuucapkan dipermukaan. Dan aku mengutuk diriku sendiri. Dia tidak akan menolongmu, kenapa kau teriakkan namanya. Park Chanyeol tidak akan menolongmu, Jiyeon. Bodohnya kau. Aku membuka sedikit mataku untuk melihat siapa yang akan menolongku. Dan wajah yang kulihat membuatku merasa bahwa sebentar lagi mungkin aku akan menyusul eomma ke surga, sehingga Tuhan memberiku kesempatan terakhir untuk melihat wajahnya. Setelah itu aku tidak tahu apa lagi yang terjadi, karena kesadaranku menghilang.

~o~

“Eomma~Oppa!!” Aku mencoba mencari pijakkan untuk kakiku. Tidak ada. Tentu saja, ini adalah laut, bukan kolam renang. Tangan kecilku menggapai air yang semakin menenggelamkan tubuhku. Aku berusaha untuk berenang ke permukaan, tapi nihil. Tubuh kecilku terlalu lemah untuk itu. Tidak ada yang bisa kulakukan sekarang selain menunggu pertolongan atau mungkin aku akan pergi bertemu dengan Tuhan diusiaku yang ke tujuh. Kesadaranku semakin lama semakin menghilang, tapi sebelum itu terjadi. Aku melihat Chanyeol oppa berenang ke arahku disertai dengan beberapa orang dewasa yang tidak kukenal. Dapat kurasakan mereka membawa tubuhku menuju permukaan. Mereka membaringkanku disebuah perahu karet, Chanyeol oppa memegang tanganku erat. Kesadaranku belum sepenuhnya hilang. Dapat kulihat raut khawati diwajahnya yang selalu tersenyum itu.

“Oppa, eomma eodiya?” Aku membangkitkan tubuhku dan melihat kesekelilingku. Kapal yang terbakar dan ada banyak perahu karet yang serupa dengan yang kunaiki terapung dengan membawa korban-korban dari kapal tersebut. Aku mulai merasakan perasaan itu, perasaan yang kubenci, perasaan takut dan khawatir bercampur menjadi satu.

“Oppa, eomma eodiya?” tanyaku sekali lagi pada Chanyeol oppa. Chanyeol oppa menatapku dengan tatapan sedih. Kepalanya menggeleng pelan. Dapat kudengar isakkan kecilnya yang semakin terdengar. Aku mulai menitikkan airmataku. Melihatnya menangis seperti ini, membuat firasat burukku semakin kuat. Dan aku tidak ingin membayangkannya dalam hidupku.

“Oppa, EOMMA EODIYA???!! EOMMA!!! URI EOMMA??EODIYA???EODIYA?? EOMMA~!!”Aku mulai berteriak mencari eomma. Tidak, eomma pasti akan baik-baik saja, kan?

“Jiyi, uri eomma~ uri eomma~” Chanyeol oppa berusaha menahan airmatanya, tangannya menunjuk ke arah kapal yang terbakar itu. “Uri eomma~ masih berada disana~ hikss”Aku menatap kapal itu dengan pandangan kosong selama bebarapa saat. Dan saat itu aku mengingat kejadian beberapa jam yang lalu di kapal tersebut. Saat dimana eomma berusaha menyelamatkanku. Saat dimana eomma tertimpa balok kayu yang terbakar. Saat dimana eomma mendorongku jatuh kelaut. Saat terakhir dimana aku melihat eomma tersenyum dengan wajahnya yang menghitam karena abu, dengan api dan kapal yang terbakar. Saat terakhir aku melihatnya. Air mata yang menggenang di pelupuk mataku keluar tanpa tahu kapan akan berhenti.

“EOMMA!!!” Aku mulai meneriakkan kembali namanya. Eomma! Saat ini yang ada di benakku hanyalah eomma. Chanyeol oppa memeluk tubuhku yang bergetar dan membiarkanku untuk berteriak dan menangis. Tapi aku masih bisa mendengar apa yang dikatakannya, dan hal itu membuatku tenang.

“Oppa ada disini, Jiyi. Oppa tidak akan meninggalkanmu. Oppa akan melindungimu”

~o~

Suzy POV

“Jiyeon-a, gwenchana?” Untuk yang kesekian kalinya aku bertanya pada yeoja yang duduk disampingku ini. Berulang kali juga aku memintanya untuk tetap tinggal di dalam kelas untuk beristirahat. Tapi berulang kali juga ia menjawab dengan hal yang sama.

“Gwenchana, Suzy-a. Aku sangat bosan berada di kelas sendirian” Selalu seperti itu jawabannya. Aku masih menatapnya penuh ke khawatiran.

“Jiyeon-a, apa kau mengenal orang yang menyelamatkanmu tadi?” Aku bertanya tanpa berpikir terlebih dahulu. Kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutku. Dapat kulihat ekspresi bertanya sekaligus bingung di wajah Jiyeon. Ahh, aku baru ingat bahwa ia bahkan tidak tahu siapa yang menolongnya saat tenggelam tadi.

“Nugu? Bukankah yang menolongku adalah Minseok? Atau, bukan? Lalu memangnya siapa yang menolongku?” ujarnya polos.

“Park Chanyeol” Lagi-lagi aku tidak bisa menjaga mulutku. Selalu seperti ini saat aku merasa penasaran akan sesuatu. Sesaat setelah kuucapkan nama ‘Park Chanyeol’ perubahan ekspresi wajah Jiyeon sangat sulit untuk ditebak. Entahlah, itu antara maraha sekaligus kaget atau yang lainnya, yang jelas ia tampak tidak terlalu senang dengan apa yang baru saja kukatakan.

“Apa kau mengenal Chanyeol-ssi?” Aku kembali bertanya sesuatu yang bahkan belum melintas diotakku, tapi sudah kukatakan dimulutku. Saat aku melihat ekspresi Jiyeon, rasanya aku ingin mumukulkan kepalaku sendiri ke tembok di kamarku.

“Mianhae, Jiyeon-a. Kau tidak usah menjawabnya jika kau tidak mau. Aku hanya penasaran saja. Karena Chanyeol-ssi menyelematkanmu sedetik setelah kau berteriak ‘Oppa’” Ekspresi wajah Jiyeon semakin menggelap. Aigoo, Bae Suzy! Pabbo!!. “Mianhae, Jiyeon-a. Ahh! Aku akan pergi untuk membeli minuman. Chamkkamanyo” Aku segera berdiri dari posisi dudukku dan pergi untuk mencari vending machine. Dan untungnya itu tidak terlalu jauh dari posisi kami duduk. Saat ini aku dan Jiyeon sedang berada di taman sekolah. Karena yang lain sedang berada di arena pertandingan dan saat Jiyeon masih tidak sadarkan diri, aku yang menemaninya di dalam kelas. Dan ketika aku pergi keluar untuk mencari minuman, Jiyeon pergi menyusulku dan aku pada akhirnya mengurungkan niatku untuk mencari minuman lalu menemani Jiyeon duduk di bangku taman. Aku memasukkan 3 keping koin khusus untuk vending mechine dan menekan tombol minuman ‘Pepsi’. Tentu saja 2 kaleng Pepsi. Satu untukku, dan satu untuk Jiyeon. Setelah minuman yang kuinginkan keluar aku segera mengambilnya dan hendak untuk kembali ke bangku kami, sebelum aku melihat seseorang sedang memperhatikan Jiyeon tidak jauh dari vending machine ini. Park Chanyeol. Aku berjalan mendekati namja itu.

“Chanyeol-ssi?” panggilku pada namja yang tampak mematung itu.

“Ne? Kau . . . miss.Voice?” Chanyeol membelalakan matanya kaget ketika melihatku. Sedangkan aku hanya mengangguk pelan sekaligus bingung dengan nama sebutannya untukku.

“Miss Voice?” tanyaku penasaran

“Ahh, mianhae. Hanya saja aku tidak tahu namamu, jadi aku memanggilmu miss voice. Karena suaramu itu sangat indah” Aku merasa pipiku memanas karena malu mengingat saat itu dan karena pujiannya padaku. Kuulurkan tanganku padanya.

“Bae Suzy imnida” ujarku memperkenalkan diri. Dia menyambut uluran tanganku sambil menampilkan senyumannya yang membuat jantungku berdetak tidak normal.

“You already know my name, right?” Aku melepaskan genggaman tanganku dan mengingat sesuatu yang harus kukatakan padanya.

“Ahh, Chanyeol-ssi! Kamsahamnida” Aku membungkukkan tubuhku lalu kembali menegakkannya. Wajahnya terlihat kebingungan dengan tindakkanku.

“Kau telah menolong Jiyeon di kolam renang tadi. Dia adalah sahabatku, jadi aku mewakilinya untuk berterima kasih” ujarku tulus.

“Untuk apa berterima kasih padanya?” Itu suara Jiyeon. Aku membalikkan tubuhku dan mendapati Jiyeon sedang menatap Chanyeol dengan pandangan yang lagi-lagi tidak aku mengerti.

“Kajja!” Jiyeon menarik tanganku menjauh dari Chanyeol yang masih menatap kepergian Jiyeon. Dan itu membuatku semakin penasaran tentang hubungan kedua orang ini. Sebenarnya, siapa Chanyeol untuk Jiyeon? Dan siapa Jiyeon untuk Chanyeol?

~o~

“KANPEII!!!”

Saat ini kami semua sedang berada di BWCW untuk merayakan keberhasilan kami di Sport Festival. Percaya atau tidak, kami berada di peringkat 3. Dengan ketertinggalan yang kami alami dalam pertandingan renang, Jinri dan aku berhasil mengejar ketertinggal. Dan dengan bakat anggarku, kami mendapatkan peringkat ketiga dibawah S class dan A class. Tapi bukan itu yang membuat mereka sangat gembira.

Flashback

“Pemenangnya adalah G class!!” Sang wasit mengangkat tanganku untuk kemenanganku melawan A class dalam pertandingan kali ini. Semua yang berada di stadium pertandingan tercengang tidak percaya ketika aku membuat floret* lawanku terjatuh dari tangannya. Tentu saja aku sudah berusaha sekuat tenaga untuk tidak mengalahkannya secepat biasanya. Jangn pernah remehkan kemampuanku dalam bermain fencing. Aku sudah memainkannya sejak usia 5 tahun. Berulang kali aku menolak untuk ikut dalam pertandingan resmi, karena bagiku kemampuan fencingku adalah untuk keindahan, bukan untuk mengalahkan lawan.

“Tunggu! Bisakah aku meminta pertandingan tambahan?” Kim Myungsoo! Lagi-lagi kau ingin menyudutkanku? Adikku itu berjalan ke arah wasit dengan pakaian anggarnya, lengkap dengan floret-nya. Sepertinya ini akan sulit. Dan benar saja, wasit mengijinkannya melakukan pertandingan denganku. Aishh, Jinjja! Aku menatap Myungsoo tajam, tapi tentu saja tidak terlihat karena pelindung yang masih kupakai.

Dia mulai menyerangku tanpa henti dan berulangkali aku menghindarinya. Sungguh ini akan sulit untuk mengulur waktu. Selama hampir 15 menit lamanya aku tidak mencoba untuk menyerang, hanya bertahan. Dan setelah 15 menit aku mulai menyerang dengan payah (aku harus berusaha untuk terlihat kewalahan), tapi tetap saja sepayah-payahnya aku menyerang, itu masih tidak bisa disebut dengan payah. Dan seperti yang seharusnya, aku kembali menang. Aku hanya berdoa agar G class tidak terlalu curiga terhadap kemenanganku.

Flashback off.

Aku menatap Myungsoo alias L yang saat ini sedang bersama dengan kami, ikut merayakan keberhasilan kami. Myungsoo yang menyadari pandanganku balik menatapku.

“Minseok-hyung? Kenapa kau terus menatapku seperti itu?” tanyanya dengan nada polos.

“Aniyo. Aku hanya senang kau berada disini” balasku dengan nada senang yang dibuat-buat. Aku merasa agak tidak nyaman jika ditempat ini ada 2 anggota keluargaku yang mengaku menjadi orang lain. Ya, eomma juga berada disini, tentu saja dia adalah songsaenim jadi-jadian untuk kelas kami.

“Chukkae, Kim Minseok!! Kau berhasil mengalahkan si bossy Kim Myungsoo itu!! Hahahahha. Kau tahu L, hyungmu itu DAEBAK!!” Jiyeon yang saat ini sedang agak mabuk karena meminum sekaleng bir, merangkul pundak Myungsoo yang berada di sebelahnya. Aku yang melihat hal itu berusaha untuk tidak tertawa melihat ekspresi yang ditunjukkan oleh Myungsoo.

“Ya! Yeoja mabuk sadarlah! OI!!” L menepuk kedua pipi Jiyeon pelan, berusaha menyadarkannya. Tapi Jiyeon malah berbalik menangkup kedua pipinya.

“Ummm~ Wajahmu sangat mirip dengan Kim Myungsoo! Tapi setidaknya, wajahmu tidak semeyebalkan wajahnya. Kau sedikit manis. Tapi tingkahmu lebih menyebalkan darinya! Tapi tidak apa-apa, aku tidak membencimu~~~ ughhh~~~ Kyeoppta” ujarnya dengan nada manja. Dia sudah benar-benar mabuk. Tidak lama kemudian, Jiyeon ambruk di dada L. Gumamannya masih belum berhenti.

“L, sepertinya dia benar-benar mabuk. Bisa kau bantu antar dia pulang ke rumahnya?” ujar Sohee. “Bukan berarti kami tidak mau mengantarnya, hanya saja, Jiyeon tidak memperbolehkan salah satu diantara kami pergi kerumahnya. Tapi aku tahu dimana dia tinggal” Sohee mengeluarkan secarik kertas dan mulai menuliskan alamat rumah Jiyeon lalu menyerahkannya pada Myungsoo. Sebanarnya aku juga ingin mengantar Jiyeon kerumahnya, tapi aku sudah berjanji pada Jiyeon untuk tidak pernah mengunjungi rumahnya. Dapat kulihat ekspresi pasrah Myungsoo. Dan aku kembali menahan tawaku, begitupun dengan eomma.

“Ne, baiklah. Aku akan mengantarnya pulang dengan selamat” Aku tahu Myungsoo sedang tidak membawa mobil hari ini. Aku mengeluarkan Hpku dan mulai mengetikkan sesuatu.

To : Kim Myungsoo;

Ini salahmu sendiri karena datang kemari. Dan juga hukuman untukmu karena kau menyudutkanku sebanyak 2 kali hari ini😛

~o~

“Aigoo~ Kenapa kau berat sekali, huh? Aishh” Myungsoo kembali membenarkan posisi Jiyeon di punggungnya. Ia terpaksa membawa Jiyeon di punggungnya, karena bahkan yeoja ini tidak mampu untuk berjalan dengan benar tanpa terjatuh. Dan ini sudah cukup jauh ia mengendongnya. Ia tidak membawa mobilnya hari ini, taksi pun tidak kunjung menampakkan dirinya di waktu ini. Myungsoo melihat jam tangan di tangan kirinya, pukul 11.29.

“Ahh! Bagaimana reaksi orangtuanya nanti?” Myungsoo sangat khawatir terhadap reaksi dari orangtua Jiyeon, karena anaknya pulang tengah malam dalam keadaan mabuk dan bersama seorang namja tidak dikenal.

“Dasar yeoja aneh, baru meminum sekeleng bir saja sudah mabuk? Aku bahkan tidak mabuk ketika meminum 5 gelas vodka” Selama perjalan, yang Myungsoo lakukan adalah mengeluh pada orang yang mabuk. Ia merasa sangat bodoh, tapi apalagi yang harus dilakukannya? Ia merasa bosan jika tidak menggoda yeoja yang digendongnya saat ini.

“Eomma~ “ Untuk yang kesekian kalinya, Myungsoo mendengar yeoja ini memanggil eommanya. Sepertinya ia sangat menyayangi eommanya, begitu pikir Myungsoo. Ia tidak mengajukkan protes apapun pada yeoja itu ketika yeoja itu menenggelamkan wajahnya ke pundak Myungsoo dan mendengar sedikit isakkan tangis yang berasal dari yeoja ini. Myungsoo berusaha untuk tidak terlalu memperdulikan Jiyeon. Ia kembali melihat alamat di kertas yang diberikan Sohee. Entah mengapa, rasanya ia tidak asing dengan alamat rumah yang sedang ditujunya. Dan ketika ia sampai di alamat yang tertera di kertas tersebut, ia tidak dapat menahan mulutnya untuk terbuka lebar.

“Bukankah ini rumah Chanyeol?” Ia menatap bangunan besar yang terdapat dihadapannya. Halaman yang tidak lebih luas dari halaman rumahnya, pagar berwarna hitam yang juga tidak jauh lebih mewah dari pagar rumahnya, Ia sagat familiar dengan rumah ini. Tidak salah lagi, ini adalah kediaman keluarga Park. Ia menatap yeoja yang digendongnya ini dari sudat matanya dan mengerupkan keningnya.

“Kenapa yeoja ini tinggal di kediaman keluarga Park? Apa mungkin ia anak dari salah satu ahjumma yang bekerja disini yang mengaku bahwa ia tiggal di rumah ini?” Ia kembali mengerutkan keningnya. Tapi jika yeoja ini ingin mengaku bahwa ia tiggal disini, seharusnya ia mempersilakkan teman-temannya untuk berkunjung kemari. Myungsoo menggelengkan kepalanya pelan.

“Apa mungkin Sohee salah memberikan alamat? Keundae, rumah ini adalah satu-satunya rumah yang berada disekitar sini. Ahh! Mungkin benar yeoja ini adalah anak dari salah satu pelayan dirumah ini” Myungsoo mengambil keputusaan yang dibuatnya berdasarkan feeling. Ia tidak tahu feelingnya benar atua tidak. Ia kembali menatap rumah dihadapanya. Gelap. Dan tampaknya Go harabeoji sedang tidak berada di posnya. Rumah ini sepertinya sedang kosong. Tampak tidak ada kehidupan didalamnya. Myungsoo yang sudah tidak tahan untuk segera menurunkan Jiyeon mendekati alat pengunci gerbang tersebut. Kebetulan ia tahu password pagar Chanyeol, entahlah jika pemiliknya sudah mengganti kodenya.

PIPP!

Gerbang itupun terbuka. Rupanya Chanyeol belum mengganti password pagarnya. Myungsoo segera melangkahkan kakinya memasukki wilayah kediaman keluarga Park itu. Ia mengetuk pintu rumah itu dan menunggu jawaban dari dalam. Nihil. Ia bahkan tidak melihat lampu yang dinyalakan ataupun jabawan panggilan dari intercom. Ia lagi-lagi harus masuk dengan paksa. Ketika ia baru akan menekan tobmbol password di alat itu, ia dapat merasakan hawa kehadiran seseorang dibelakangnya.

“Chogi, nuguseyo?” Itu suara Go haraboeji. Myungsoo membalikkan tubuhnya dan dapat melihat raut kaget dari wajah namja tua dihadapannya. Go harabeoji segera menundukkan kepalanya hormat pada Myungsoo sedangkan Myungsoo hanya membalasnya dengan senyum singkat. Go harabeoji yang melihat siapa yeoja yang digendong Myungsoo menahan napasnya karena kaget.

“Jiyeon! Ada apa dengannya?” suara Go haraboeji terdengar panik.

“Bukakan pintunya dan tunjukkan dimana kamar yeoja ini” Mendengar perintah dari Myungsoo, Go harabeoji berjalan menjauhi pintu masuk, bukan membukanya.

“Ya! Aku bilang bukakan pintunya dan tunjukkan kamar yeoja ini!” Myungsoo yang sudah tidak kuat lagi menggendong Jiyeon mengeluarkan sedikit keluhannya.

“Kamar yang biasa ditempatinya sudah bukan di dalam lagi, tuan. Itu ada di bawah atap ruang penyimpanan anggur” ujar Go haraboeji sopan. Tanpa bertanya kembali, Myungsoo mengikuti kemana haraboeji itu membawanya. Benar saja, Go haraboeji membawanya masuk kedalam ruang penyimpanan anggur yang ukurannya tidak lebih besar dari yang dimilikinya dirumah, juga tidak lebih besar dari ukuran kamarnya. Go haraboeji menaikki sebuah tangga menuju ke atap ruangan itu. Dari bawah Myungsoo dapat melihat properti kamar Jiyeon. Dengan hati-hati Myungsoo menaiki tangga tersebut dan tiba di kamar yeoja yang digendongnya ini. Tidak terlalu besar juga tidak terlalu ditata rapi. Tapi juga tidak seberantakkan kamar Hoya. Dan ada sebuah kamar mandi kecil di ruangan bawah atap ini. Dan dapat terlihat kepribadian dari si pemiliknya, simple dan hangat. Entahlah, Myungsoo hanya merasa kamar yeoja ini sangat nyaman. Myungsoo berjalan kearah kasur yeoja itu dan meletakkan tubuh yeoja itu secara perlahan. Setelah tubuh yeoja itu terlepas darinya, ia menatap Go haraboeji dengan mata yang penuh dengan rasa penasaran.

“Eum, sebenarnya siapa yeoja ini bagi keluarga Park? Setahuku, tidak ada sepupu ataupun saudara jauh Chanyeol yang bernama Jiyeon. Dan setahuku kau tidak memiliki istri, jadi dia juga tidak mungkin anakmu. Lalu, kau juga tadi memanggilnya ‘nona’, jadi tidak mungkin juga ia adalah anak dari salah satu pelayan disini. Kau harus menjawabnya dengan jujur, siapa yeoja ini?” Myungsoo mengeluarkan semua kecurigaannya terhadap identitas Jiyeon. Ia penasaran dengan yeoja ini. Yeoja ini terlalu dingin dan keras kepala, juga ditambah sikapnya yang tidak terbuka, bahkan dengan teman-temannya sendiri. Myungsoo dapat melihat ekspresi ragu sekaligus sedikit rasa takut yang terpancar dari wajah namja tua dihadapannya.

“No- No-na Jiyeon~ Nona Jiyeon adalah—”

“Adalah?” Aku semakin penasaran akan jawaban dari Go harabeoji yang sedari tadi seperti seseorang yang tiba-tiba kehilangan suaranya.

“Adik dari tuan Chanyeol. Anak kedua dari keluarga Park”

~o~

 

 

 

 

 

58 responses to “[CHAPTER 2] School Rush season 2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s