GIFT

gift-by-shaza

GIFT
by: Shaza (@shazapark)

Myungsoo & Jiyeon

Romance, Drama
Oneshot

Credit poster: missfishyjazz

.

.

Seoul, 30 Desember 2010

Jiyeon menatap sebuah cangkir tebal berwarna pink yang sangat manis di hadapannya. Matanya tampak berkilat-kilat senang, tangan kanannya terulur untuk menyentuh permukaan bibir cangkir tersebut.

“Neomu gwiyeowo.” Gumamnya sembari menangkup cangkir tersebut di kedua tangannya yang putih. Myungsoo menatap kekasihnya itu dengan ulasan senyum yang menghiasi bibirnya. Ia senang, ternyata Jiyeon menyukai hadiahnya. Ia pikir, Jiyeon tidak akan menyukai gelas mug tak berguna seperti itu.

“Kau suka, bukan? Aku juga punya satu, warnanya biru.” Myungsoo berjalan menghampiri Jiyeon yang masih memandangi cangkir tebal itu dengan mata berbinar. Jiyeon menengadahkan kepalanya untuk memandang wajah Myungsoo. Didapatinya tangan pemuda itu sedang memegang sebuah cangkir biru dengan model yang serupa seperti miliknya yang berwarna pink.

Gadis itu mengangguk lucu, membuat Myungsoo mau tak mau semakin melebarkan senyumnya. “Kau harus berjanji untuk menjaga barang itu, mengerti?” Myungsoo mengacungkan jari kelingkingnya tepat di depan wajah Jiyeon.

Jiyeon kembali mengangguk, kemudian menautkan jari kelingkingnya di jari Myungsoo. Jiyeon yakin, ia akan menjaga barang itu, demi dirinya dan Myungsoo.

Ia tahu, meski cangkir itu hanya sekedar hadiah yang di berikan dalam rangka merayakan hari jadi mereka, tetapi—Jiyeon tahu, barang itu sangat berharga. Ia berjanji, tidak akan membiarkan barang itu rusak ataupun hilang.

.

.

.

Seoul, 18 Desember 2014

Myungsoo menggosokkan kedua telapak tangannya dengan keras. Berharap ada sedikit kehangatan yang muncul di antara gesekan kedua tangannya itu. Pemuda itu melangkah menyusuri jalanan setapak yang akan membawanya pulang ke apartemen.

Kepalanya terasa sangat pening. Mengingat bulan ini salju sudah berjatuhan, dan itu membuat kulitnya beku bahkan ia mengaku kalau pikirannya juga terasa beku selama musim dingin ini.

Myungsoo mempercepat langkah kakinya begitu melihat gedung apartemennya yang sudah dekat. Pemuda itu menaiki tiga anak tangga yang berada tepat di depan pintu utama gedung apartemen.

Myungsoo memberikan senyum ramahnya kepada Miss Kim, wanita yang selalu berjaga di belakang meja resepsionis. Miss Kim membalas senyumannya dengan tak kalah ramah. Setelah meninggalkan wanita paruh baya itu, Myungsoo segera berlari kecil ke arah pintu lift, ia menekan tombol 7, yang berarti lift itu akan membawanya menuju lantai 7.

Selama di dalam lift, hal yang ia lakukan hanyalah mengembuskan napas panjang, kemudian merapatkan syal tebal yang menutupi leher dan dagunya. Suara dentingan telah mengejutkannya, sedetik kemudian pintu lift terbuka lebar, menampilkan koridor panjang yang dipenuhi oleh deretan pintu bernomor.

Tak ingin menghabiskan waktu, akhirnya pemuda itu kembali melangkah. Ia menyusuri koridor itu, dan mencoba mencari pintu bernomor 201. Setelah menemukannya, pemuda itu segera merogoh kunci apartemen yang ia simpan di saku celana.

Namun, sebelum ia sempat menemukan kunci, pintu berbahan alumunium di hadapannya sudah terbuka. Menampilkan sosok sang kekasih yang juga tinggal di apartemen itu, sedang tersenyum lebar. Melihat wajah kekasihnya, entah mengapa membuat hati Myungsoo terasa hangat.

“Sudah pulang?” gadis itu membuka lebar pintu alumunium tersebut, seakan sedang mempersilahkan Myungsoo masuk. Pemuda bertubuh jangkung itu melangkah masuk tanpa berniat membalas pertanyaan kekasihnya.

“Kau membuatkanku makan malam?” Myungsoo bertanya setelah melepas jaket beserta syalnya. Pemuda itu melihat Jiyeon, kekasihnya, sedang menutup pintu apartemen dengan pelan.

“Ya? Aku membuatkanmu beberapa makanan. Kuharap kau sudah makan siang di kantor.” Mendengar penuturan itu, tiba-tiba saja Myungsoo mengulum senyum manis. Sebenarnya ia tidak makan siang di tempat kerjanya, ia terlalu disibukan dengan pekerjaan yang menumpuk.

Myungsoo berjalan menghampiri meja makan. Diikuti oleh Jiyeon di belakangnya.

“Kau membuat ini semua?” Myungsoo memandang takjub pada hidangan yang ada di meja makan. Ini berlebihan, padahal ia sudah terbiasa dibuatkan makan malam oleh kekasihnya, hanya saja—yah, begitulah Kim Myungsoo selalu melebih-lebihkan hal yang seharusnya biasa saja.

“Memang selalu seperti itu, bukan?” Jiyeon ikut mendaratkan tulang duduknya di atas bangku setelah melihat Myungsoo mulai makan. Gadis itu menaruh sikunya di atas meja, kemudian menopang dagunya dengan kedua telapak tangan. Di samping sisi tangannya, terdapat secangkir cokelat panas yang selalu ia buat setiap malam. Di saat-saat seperti ini, biasanya Jiyeon akan memulai obrolan kecil dengan kekasihnya itu, so

“Jadi, bagaimana pekerjaanmu?” gadis itu tersenyum ketika mengawali pembicaraan mereka.

.

.

.

Seoul, 31 Desember 2014

Myungsoo bergegas ke arah pintu apartemen, barusan ia mendengar bel apartemennya di bunyikan. Itu tandanya, seseorang akan berkunjung. Pemuda itu menarik gagang pintu apartemen dengan satu sentakan.

Seorang gadis cantik, berponi rata yang sedang melipat kedua tangan di depan dada itu tengah berdiri di depan pintunya. Son Naeun, gadis yang mengaku sebagai asisten Kim Myungsoo. Myungsoo tak menampakkan ekspresi apapun ketika melihat wajah cantik itu, ia sedang lelah saat ini. Semalam ia masih harus mengerjakan beberapa pekerjaan yang tak sempat ia selesaikan di kantor, sepertinya—itulah alasan dari kemunculan lingkar hitam tipis yang menghiasi kantung matanya.

“Pagi.” Sapa gadis itu ceria. Myungsoo membalasnya dengan senyum yang dipaksakan, kemudian ia membuka lebar-lebar pintu apartemennya, mempersilahkan gadis itu masuk. Myungsoo memang meminta Naeun untuk datang ke apartemennya, karena ia sedang membutuhkan bantuan gadis itu.

“Kau sudah sarapan?” Naeun bertanya setelah gadis itu duduk di sofa ruang duduk, di dekat tangga menuju lantai atas. “Sudah.” Myungsoo menjawab singkat. “Kau mau minum?” lanjut Myungsoo, kali ini bertanya.

“Hm, sedikit teh hangat mungkin boleh.” Setelah berkata demikian, Myungsoo segera melesat ke dapur. Myungsoo menyiapkan teh yang selalu ia buat setiap pagi. Setelah teh hangat itu siap, Myungsoo segera melangkah ke tempat dimana rak penyimpan gelas berada.

Matanya bergerak-gerak bingung. Gelas mana yang perlu ku gunakan? Setelah bepikir-pikir, akhirnya Myungsoo memilih untuk menggunakan satu gelas berwarna pink di dalam rak tersebut.

Tanpa Myungsoo sadari, gelas itu adalah gelas spesial milik Jiyeon, kekasihnya.

.

.

.

Jiyeon mengerjapkan mata ketika indera pendengarannya menangkap suara-suara berisik dari arah bawah kamarnya. Gadis berambut panjang itu menggeliat di atas tempat tidurnya. Sedetik kemudian, matanya segera terbuka sempurna.

Ia mengerling ke arah jam dinding yang menggantung manis di atas pintu kamar. Masih pagi, lalu kenapa ada berisik-barisik?

Rasa penasaran mulai menyelimutinya, tanpa pikir panjang lagi, gadis itu segera beranjak dari ranjang. Setelah mencuci mukanya dengan air, Jiyeon kembali melangkah menuju tangga. Ia ingin menemui sumber berisik yang telah mengusik tidurnya.

Jiyeon membelalakan matanya begitu melihat sebuah pemandangan yang aneh. Kekasihnya, Myungsoo, sedang bercengkrama dengan seorang gadis cantik berponi rata. Jiyeon berjalan mendekati dua orang yang sedang asyik mengobrol di ruang duduk itu.

“Myungie,” panggil Jiyeon. Myungsoo segera menoleh ketika mendengar suara Jiyeon.

“Ah, Jiyeon. Kau sudah bangun? Apa kau ingin …”

Penuturan Myungsoo terhenti sampai disana, perkataannya telah dipotong oleh lengkingan Jiyeon. “Hey! Kau memakai gelasku!” Jiyeon menunjuk ke arah gelas cangkir yang sedang dipegang oleh gadis berponi rata dengan nama Naeun itu.

Naeun menatap gelas cangkir yang ada di tangannya, kemudian menatap Jiyeon. “Ke–kenapa?” tanyanya dengan tergagap. Melihat sinar kekesalan di mata Jiyeon, tentu saja membuat Naeun gugup. Myungsoo memandang aneh ke arah sang kekasih, kemudian ia segera membelalak begitu melihat perbuatan yang dilakukan Jiyeon selanjutnya.

Jiyeon menarik paksa gelas cangkir berwarna pink yang ada di genggaman Naeun, cangkir itu masih terisi penuh oleh teh. Tapi Jiyeon tidak peduli, ia tidak suka jika cangkir pemberian Myungsoo itu digunakan oleh orang lain.

“Tidak boleh ada yang memakai gelas ini!” Jiyeon berujar, selagi langkah kaki membawanya menuju dapur. Ia meletakkan gelas itu di bak cuci piring. Ketika Jiyeon kembali ke ruang duduk, gadis itu dapat melihat wajah Myungsoo yang memerah, menahan marah.

“Apa yang kau lakukan, Jiyeon?” Myungsoo bertanya sembari menggertakkan gigi. Jiyeon mengerjap beberapa saat. “Me–memangnya kenapa?”

Myungsoo memejamkan mata, kemudian menghela napas dalam-dalam. “Dia ini tamuku!” Myungsoo menjerit, memecah keheningan di ruang duduk yang megah itu. Naeun yang sejak tadi bisu, hanya dapat menatap dua manusia yang sedang saling melempar tatapan tajam.

“Hentikan tingkah konyolmu, Jiyeon. Kau tahu, sikapmu itu membuatku terganggu!” Myungsoo meletakkan cangkir berisi teh itu di atas meja, kemudian menarik tangan Naeun. “Ayo kita lanjutkan bekerja di kamarku saja.”

Setelah mendengar ajakan –perintah– dari Myungsoo, Naeun segera menurutinya. Jiyeon menatap kepergian dua manusia itu dengan mata yang tak berkedip. Mendadak penglihatannya kabur, air mata menghalangi penglihatannya. Memangnya kenapa? Kenapa kalau akuingin melindungi gelas cangkir itu?

.

.

.

Jiyeon memeluk lututnya erat-erat. Matanya tertuju pada pemandangan di luar jendela kamarnya. Sudah sore, dan Jiyeon tidak mau melakukan apapun selain diam. Perkataan Myungsoo tadi pagi itu membuat Jiyeon pusing. Itu pertama kalinya Myungsoo berteriak, pertama kalinya Myungsoo membentak, pertama kalinya Myungsoo menganggapnya ‘pengganggu’.

Jiyeon meletakan dagu di atas lututnya yang tertekuk, kemudian kembali mengembuskan napas berat. Cahaya sore itu tampak indah, bahkan warna jingga-nya menembus masuk ke dalam jendela kamar Jiyeon. Tidak, semua keindahan itu tidak dapat membuat Jiyeon menghentikan pikiran buruknya tentang Myungsoo. Bagaimana kalau Jiyeon benar-benar dianggap ‘pengganggu’ oleh Myungsoo, kekasihnya?

  1. .. Tidak mungkin, ‘kan? Batinnya resah. Gadis itu menenggelamkan wajahnya pada telapak tangan. Apakah tamu itu lebih penting daripada dirinya? Kenapa semuanya terasa memang Jiyeon-lah yang bersalah?

“Ya. Aku yang salah..” bibirnya tak dapat berhenti menuturkan kalimat serupa. Dengan ini, ia berjanji tidak akan menjadi pengganggu Myungsoo lagi.

.

.

.

“…besok kau masih harus menjumpai… YA! KIM MYUNGSOO, KAU DENGAR TIDAK?” Naeun menjerit dengan suara tingginya. Myungsoo yang kala itu sedang melamun akhirnya tersentak. “Apa?” sahutnya menoleh, dengan wajah bingung.

“Kau melamun lagi?” Naeun mengerutkan keningnya tak suka. Naeun sudah menjelaskan jadwal milik Myungsoo –berkali-kali– namun yang didapati Naeun bukanlah seorang Myungsoo yang mengangguk paham, melainkan Kim Myungsoo yang tampak linglung. Seperti tak mengerti dengan apa yang dibicarakan asistennya itu. Naeun mengembuskan napas lelah.

“Apa yang ada dipikiranmu, Tuan Kim?” Naeun yang menjatuhkan kertas-kertas yang ia pegang ke meja kerja Myungsoo, seolah menyerah.

Myungsoo mengerjap beberapa kali. Sedangkan Naeun mengangkat alisnya tinggi-tinggi, menuntut jawaban dari bibir pemuda itu. Myungsoo membuka mulutnya, hendak membalas perkataan dari asistennya, tapi ia kembali menutup mulut.

“Sudahlah. Aku tahu kau tidak fokus sejak tadi pagi. Ah, tepatnya sejak kau membentak gadis itu, well, kekasihmu.” Naeun mengedikan bahunya acuh tak acuh. Gadis itu mendudukan tulang duduknya di atas sofa ruang kerja milik Myungsoo. Myungsoo menundukkan kepala sedangkan tangannya terlipat di depan dada.

“Aku juga tidak tahu. Menurutmu, apa aku terlalu berlebihan tadi? Membentak kekasih sendiri hanya karena gelas cangkir?” tanya Myungsoo, secara tidak sadar ia telah –sedikit– mencurahkan isi hatinya pada Naeun. Naeun memandang ke arah langit-langit ruang kerja Myungsoo.

“Hm, aku pikir—kekasihmu juga berlebihan. Untuk apa sih, gelas cangkir dipermasalahkan?” Naeunkembali bertanya, setumpuk pekerjaan Myungsoo mendadak diabaikan. Myungsoo menyandarkan kepalanya di atas lengan sofa, sembari berpikir. “Apa motivasi kekasihmu sampai melarangku memakai gelas itu? Apa mungkin di dalam gelas itu ada racunnya? Atau ada sesuatu hal yang spesial? Haha.” Naeun tertawa sendiri sembari menerka-nerka apa motivasi Jiyeon melarangnya menggunakan gelas itu.

Dalam hitungan detik, Myungsoo segera menyentakkan kepalanya. Hal itu spontan membuat Naeun terkejut. “Hey, kau kenapa?” Naeun nyaris berteriak begitu melihat Myungsoo meloncat dari sofa. Myungsoo memandang ke arah Naeun, sinar di matanya menunjukkan kekhawatiran yang mendalam.

“Gelas itu… memang sangat spesial, Naeun-ya.”

.

.

.

Myungsoo menutup pintu apartemennya setelah memastikan Naeun sudah pergi. Naeun memutuskan untuk pulang dan membiarkan Myungsoo menyelesaikan masalahnya sendiri. Setelah menutup pintu, pemuda itu segera berbalik badan, hendak melangkah menuju dapur.

Ia mengembuskan napas panjang begitu melihat cangkir tebal berwarna pink itu masih berada di bak cuci piring. Jemari rampingnya terulur untuk meraih gagang gelas itu. Myungsoo tersenyum kecut ketika seberkas memori masa silamnya berputar di otak.

“Kau harus berjanji untuk menjaga barang itu, mengerti?”
“Aku mengerti!”

“Hey! Kau memakai gelasku!”
“Tidak boleh ada yang memakai gelas ini!”

“Apa yang kau lakukan, Jiyeon?”
“Dia itu tamuku!”
“Hentikan tingkah konyolmu, Jiyeon. Kau tahu, sikapmu itu membuatku terganggu!”

Myungsoo memjamkan matanya cukup lama. Apa yang sedang Jiyeon lakukan saat ini? Bagimana perasaannya setelah Myungsoo membentak gadis itu?

Tidak. Myungsoo tahu, Jiyeon adalah gadis yang kuat. Ia yakin Jiyeon tidak akan merasa sakit hati meski Myungsoo sudah membentaknya tadi pagi. Dalam masalah ini, Myungsoo harus sadar… Ternyata, memang dia yang salah.

Jiyeon sama sekali tidak bersalah. Apa yang dilakukan gadis itu memang benar.

Bodohnya Myungsoo yang telah menyia-nyiakan kesempatan untuk memiliki Jiyeon, bodohnya Myungsoo yang terlalu gegabah dengan pemikirannya, bodohnya Myungsoo yang telah menyakiti hati selembut kapas milik Jiyeon.

Dengan tangan gemetar, pemuda itu mulai mencuci gelas berwarna pink milik Jiyeon dengan hati-hati. Setelah mencucinya hingga bersih, Myungsoo segera berlari kecil menuju ke rak penyimpan gelas. Tangannya terulur untuk meraih satu gelas berwarna biru miliknya. Matanya membulat ketika mendapati permukaan gelas yang telah berdebu itu.

Ia tersenyum, ternyata gelas itu sudah lama tidak ia pakai. Myungsoo kemudian mencuci gelas itu. Kini yang ia lihat di atas meja adalah, dua gelas polos berwarna pink dan biru. Dua benda itu terlihat sangat cocok jika ditaruh berdekatan seperti itu. Myungsoo tersenyum lebar ketika melihatnya.

.

.

.

Myungsoo mencondongkan tubuhnya. Kepalanya menyembul di antara kusen pintu kamar Jiyeon. Ia ingin melihat, apa yang sedang dilakukan gadis itu sekarang? Didapatinya sosok Jiyeon yang sedang tertidur, gadis itu tertidur dalam posisi miring. Wajah damainya mau tak mau membuat Myungsoo juga merasa tenang.

Myungsoo melangkah masuk ke dalam kamar Jiyeon. Kedua tangannya memegang dua cangkir berwarna biru dan pink yang sudah terisi dengan cairan cokelat panas. Myungsoo berjalan mendekati ranjang Jiyeon setelah meletakan dua gelasnya di meja nakas.

Myungsoo memandangi wajah tenang Jiyeon, mata gadis itu tidak bengkak. Sepertinya ia tidak menangis. Yah, seperti yang dikatakan Myungsoo, Jiyeon memang gadis yang kuat. Dia buka tipe gadis yang mudah menangis.

Myungsoo mengusap surai panjang berwarna kecokelatan milik Jiyeon. Seketika gadis itu menggeliat dalam tidurnya. Myungsoo menjauhkan tangannya dari surai Jiyeon, pemuda itu menunggu gadisnya membuka mata, dan…

“Myungsooie.” Panggilnya dengan suara serak, matanya masih mengerjap, tangan gadis itu terangkat untuk mengusap matanya yang terasa perih. Myungsoo menahan tangan mungil milik Jiyeon.

“Mataku perih, Myungie!” rengek Jiyeon, namun sedetik kemudian Jiyeon bungkam. Begitu ia merasakan ibu jari milik Myungsoo mengusap lembut kelopak matanya, ah, Jiyeon mengantuk lagi.

“Jangan tidur lagi, Sayang.” Myungsoo terkekeh kecil begitu melihat Jiyeon yang diam tak bergerak. Jiyeon membuka kelopak matanya. Wajah tampan Myungsoo terpampang jelas di matanya saat ini. Jiyeon sontak merubah posisi berbaringnya menjadi duduk.

“A–ada apa?” Jiyeon bertanya dengan terbata. Myungsoo meraih gelas berisi cokelat panas yang ia letakan di meja nakas, kemudian menyodorkan gelas itu ke arah Jiyeon.

“Kau lupa kalau kita selalu minum ini sebelum tidur?” Myungsoo merajuk sembari mengerucutkan bibirnya. Jiyeon mengerjapkan matanya heran. Ada apa ini? Bukankah tadi pagi Myungsoo membentaknya?

Dengan ragu, Jiyeon menerima gelas yang disodorkan oleh Myungsoo. Setelah menerimanya, Jiyeon segera menempelkan bibirnya di permukaan cangkir pink kesayangannya itu. Ia menyesap cokelat panasnya dengan perlahan, rasanya masih sama, pahit dan manis bercampur menjadi satu.

Jiyeon melihat Myungsoo ikut menyesap cokelatnya. “Kau tahu, aku minta maaf karena sudah membentakmu tadi pagi.” Gumamnya, membuat Jiyeon mengangkat wajah.

“A–apa?”

Myungsoo membuang napasnya panjang. “Maafkan aku.” ulangnya dengan penekanan.

Jiyeon mengerjapkan matanya begitu menedengar kalimat sederhana dari Myungsoo. Jiyeon tersenyum manis. Meski ia sempat merasa takut jika dianggap ‘pengganggu’ oleh Myungsoo, setidaknya pemuda itu sudah meminta maaf. Itu berarti, Myungsoo tidak benar-benar serius membentaknya tadi pagi.

Yah, sejak tadi ia sudah yakin bahwa kekasihnya itu hanya kelelahan, yang dibutuhkan Myungsoo saat ini hanyalah istirahat. Jiyeon meletakan gelasnya di atas meja nakas. Tangannya beralih mengusap pipi Myungsoo. “It’s not your fault, Myungie.”

Dan dengan itu, Myungsoo segera mengembangkan senyumannya. Ia tahu, Jiyeon memang gadis yang sangat pengertian. Meski sudah dibentak, gadis itu tetap menampilkan senyumnya yang manis.

“Aku… benar-benar menyayangimu.” Tutur Myungsoo, membuat kedua pipi Jiyeon bersemu merah. “Aku juga.”

“Iya, ini sudah larut. Sebaiknya kita tidur. Kajja. Kita tidur di kamarku.” Myungsoo mengulurkan tangannya, yang disambut dengan baik oleh Jiyeon. Ketika kedua tangan itu bersentuhan, Jiyeon merasa segala beban pikirannya menguap entah kemana, begitu juga dengan Myungsoo.

Meski Myungsoo tidak pernah menganggap Jiyeon sebagai ‘pengganggu’, namun gadis itu tetap membuat ketentuan itu. Aku tidak akan mengganggumu. Jiyeon tersenyum ketika benaknya melafalkan janji itu.

/fin./

.

.

Hai, selamat datang di FF Myungyeon-ku yang lain. Seperti biasa, aku nge-post FF lama. Ini aku buat pas SD—lagi—yaampun, jadi maaf kalau aneh. Dan, ending-nya gaje gitu .-.

Thanks.
[3 Agustus 2014]

47 responses to “GIFT

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s