[ CHAPTER – PART 13 ] RAINBOW AFTER THE RAIN

art super oke banget

Tittle : Rainbow After The Rain
Author : gazasinta
Main Cast : Park Jiyeon, Bae Suzy, Choi Minho, Kim Myungsoo
Genre : Family, Friendship, Romance
Rating : PG-17
Length : Chaptered

Part 13
Jaejoong berjalan tergesa menuju ruangannya, sebelumnya ia berpesan pada sekretarisnya bahwa ia tidak mau menerima siapapun hingga makan siang.

Jaejoong meletakkan tas kerjanya, dan dengan terburu-buru ia mengambil amplop kecil berupa surat yang ditulis oleh nyonya Taehee yang pagi ini ia temukan di pagar rumahnya, Jaejoong masih belum percaya dengan apa yang ditulis disana, ia kembali membacanya untuk yang kedua kali.

Tuan Kim Jaejoong yang terhormat,

Mengenai apa yang menimpa anak-anak kita yang telah saya ceritakan semua kepada anda sebelumnya, tanpa ada satupun informasi yang saya tutupi.

Meski pada akhirnya kita telah bersama-sama bersepakat untuk menutup rapat mengenai hal ini, namun sepertinya Tuhan ingin menunjukkan kebenaran-Nya dan memberikan keadilan bagi kita semua.

Ketika itu, saya ingin sekali menemui putri anda Kim Suzy dan memohon maaf padanya, betapa sangat terkejutnya saya bertemu dengan seorang pria dengan jas coklat mahal yang ia gunakan keluar dari dalam rumah anda, pria itu adalah orang yang memaksa saya untuk menukar putri kita, dialah yang mengaku bernama Kim Jungsik, meski ia bersikeras untuk tidak mengakui, namun dengan keyakinan… saya berani berkata bahwa dialah pria itu.

Bodohnya saya, begitu banyak pertimbangan yang saya pikirkan hingga tidak langsung bertanya pada anda mengenai pria tersebut pada saat itu, hingga akhirnya kedai kami didatangi oleh sekelompok pria yang tidak dikenal yang meminta kami pergi sejauh mungkin dari sana, tentu saja kami begitu takut dan berjanji untuk segera pergi, karena keselamatanlah yang utama, meski saya tidak tahu percis siapa dibalik semua itu, namun bolehkah saya menebak jika pria yang sama adalah pelakunya karena takut saya akan membocorkan identitasnya pada anda.

Tuhan tidak tidur, Lagi-lagi tangan-Nya bekerja untuk keadilan, saya sempat mengetahui nomor plat mobil pria itu, dan sekiranya ini dapat membantu anda tuan, mobil hitam yang sangat mewah berplat no KS 37 69 PY.

Tuan Kim, saya berharap anda dapat menemukan pria itu, dan semoga ketenangan dan kebahagian akan keluarga anda dapatkan.

Kim Taehee

Jaejoong berpikir serius setelah yang kedua kali membacanya, ia benar-benar tidak menyangka jika seseorang yang merencanakan kejahatan pada keluarganya pernah berada dirumahnya “ KS 37 69 PY ? apa aku pernah mengetahui pemilik kendaraan ini ? “ gumam Jaejoong mencoba mengingat.

“ Datang kerumahku , proyek yang dibatalkan, serta data perusahaan yang hilang ? pria ini apakah memiliki hubungan pekerjaan denganku ? “ Jaejoong terus berpikir keras.

“ Aku pasti menemukannya “ geram Jaejoong.

“ Yakk Kim Myungsoo…hentikan!!!! apa kau sudah gila eoh, kau ingin membunuh dirimu ? jika kau seperti ini maka kau tidak akan pernah memiliki kesempatan untuk bertemu dengannya lagi……Myungsoo ku bilang hentikan “ teriak Chanyeol seraya terus mencoba mengimbangi kecepatan motornya dengan Myungsoo.

Myungsoo, ia sangat kecewa dengan kepergian Jiyeon, tanpa ia tahu apa alasan dongsaengnya itu meninggalkannya, melupakan banyak janji yang mereka buat, dan menghempaskan begitu saja semangatnya kedalam jurang yang paling dalam.

Chanyeol segera menemui Myungsoo ketika sahabatnya ini memberitahunya bahwa hatinya benar-benar terluka karena Jiyeon meninggalkannya, Myungsoo seperti orang yang tidak waras berteriak-teriak menyebut nama gadis itu dan menggedor pintu rumahnya dengan emosi yang tidak terkontrol, tidak sampai disitu Chanyeolpun mengikuti kemana Myungsoo pergi untuk mencari Jiyeon, namun hingga kini mereka belum juga berhasil menemukan dimana yeoja itu berada, Myungsoo seperti tidak lagi memiliki kesadaran, tidak peduli keselamatannya ia terus memacu motornya menembus gelapnya malam, apa yang Chanyeol teriakan sama sekali tidak digubris olehnya.

Tanpa disadari sebuah mobil dari arah yang berlawanan juga sedang melaju kencang, Myungsoo tidak menyadari jika nyawanya kini terancam, jarak keduanya kini semakin dekat, dan…

“ Myungsoo!!! Lihat didepanmu, Myungsoooo yya hentikkkaaannnn!!! “

Ckittttt…..

Ckittttt…..

Tint…tint….tinttt

Brummmmm….

Jegerrrrr….

“ Yyaaa Kim Myungsoooo!!!! “
….

“ Chanyeol, apa yang telah terjadi eoh ? mengapa bisa sampai seperti ini ? “ Jaejoong mengguncang tubuh Chanyeol yang hanya bisa menunduk, ia benar-benar tidak menyangka dengan kabar yang baru saja ia dapat dari Suzy putrinya, Jaejoong langsung meninggalkan meeting dengan klien barunya setelah mendengar kabar bahwa Myungsoo mengalami kecelakaan.

“ Jwesonghamnida ahjusi, aku tidak bisa menjaga Myungsoo dengan baik “ ucap Chanyeol menyesal.

Jaejoong mengurut kepalanya mencoba bersabar dengan apa yang sedang menimpa keluarganya, tanpa peduli lagi dengan Chanyeol, iapun bergegas ke ruang perawatan Myungsoo.

Disana, putranya nampak terbaring dengan mata terpejam dibalut perban dikepala serta kakinya, sementara disamping Myungsoo, Nana istrinya tidak sedikitpun mau beranjak dari sana ketika Suzy memintanya untuk beristirahat, mata Nana nampak bengkak setelah seharian ini menangisi Myungsoo, Jaejoong melangkah lebih kedalam, ia meraih pundak Suzy dan mencoba menenangkan putrinya.

“ Appa, aku sudah lelah membujuk eomma untuk sedikit saja memasukkan makanan kedalam tubuhnya dan beristirahat, aku takut eomma akan sakit “ ucap Suzy.

Jaejoong mengalihkan pandangannya ke arah istrinya yang kini hanya mengusap-usap lengan Myungsoo dengan pandangan kosong.

“ Yeobbo, makanlah sedikit saja agar kau tetap bisa berada disamping Myungie, aku tidak ingin setelah ini justru kau yang terbaring disana karena tidak memiliki kekuatan “ Jaejoong mencoba membujuk istrinya, namun Nana tetap tidak sedikitpun bergerak, bahkan kini airmatanya menetes kembali, meski ia tidak menghendakinya.

“ Jaejoong-ah, mengapa ini terjadi pada kita ? Myungie…..ia terbaring disini dengan keadaan seperti ini “ ucap Nana dengan suaranya yang hampir hilang karena sejak tadi menangis.

“ Apa kau juga tahu ? Yeonnie-ah…..aku tidak tahu dimana dia sekarang, bagaimana dia melanjutkan sekolahnya, dan bagaimana dia hidup kelak, dia tidak memiliki siapapun sekarang, bagaimana kau bisa memintaku untuk makan sementara keadaan mereka seperti ini “ Nana terus saja mengatakannya dengan pelan dan sesak didadanya.

Jaejoong benar-benar tidak bisa berkata apa-apa dengan apa yang terjadi, Jiyeon meninggalkan rumah ? cobaan apalagi ini ? bahkan ia sudah memiliki rencana yang indah untuk kembali membawa Jiyeon bersama-sama dengan keluarganya dan kembali seperti kehidupan awal mereka yang bahagia.

Hiks…Hiks,

Bukan suara Nana yang terisak, melainkan Suzy…Suzy benar-benar tidak menyangka jika perkataan kasarnya pada Jiyeon kemarin berakibat begitu fatal, karena keegoisannya ia membiarkan semua anggota keluarganya bersedih. Meski Jaejoong tidak tahu alasan Suzy menangis terisak, ia mendekat kearah putrinya itu dan mencoba membesarkan hati Suzy bahwa tidak hanya Myungsoo dan Jiyeon yang membuat eommanya bersedih.

“ Berhentilah mengeluarkan airmata, meski appamu ini seorang pria, jika melihat semua wanita yang disayanginya menangis, bagaimana pria ini akan tetap bisa tegar eoh ? “ ucap Jaejoong seraya memeluk Suzy.

“ Appa mianhe….mianhatta, aku tidak akan mengulanginya lagi “ ucap Suzy pelan, Jaejoong mendengarnya, namun ia tidak mengerti apa yang dikatakan Suzy.

“ Gomawo Minho-ssi “

“ Bisakah kita terlihat lebih akrab, bukankah kita sekelas, kau tidak perlu memanggilku seformal itu….Ji-yeon-ah”

“ Eoh…emmm…itu, emmm apakah tidak apa-apa ? “

“ Geurom, kau bisa mencobanya sekarang”

“ Nne ? emm, gomawo…..Min…Ho…ah”

Minho tersenyum pilu ketika ia mengingat bagaimana pertama kali Jiyeon menerimanya menjadi sahabat, kini ia tidak tahu dimana keberadaan gadis itu, dan begitu putus asa hingga tidak menyadari bahwa dirinya sudah sangat jauh untuk menemukan Jiyeon, namun yeoja itu bagai hilang ditelan bumi.

“ Jiyeon-ah neo eodiga ? mengapa kau pergi tanpa aku tahu kemana kau akan pergi eoh ? Jiyeon-ah….Jiyeon-ah…..nan jeongmal bogoshipo“ Minho berkata lirih dengan pandangan sedihnya menatap gelapnya langit diujung kota Seoul.

“ Jiyeooonnnn-aahhhh!!!!!! “

Minho berteriak meluapkan kesedihannya, suaranya terdengar menggema karena suasana sepi ditempatnya kini berdiri, ia nampak seperti orang bodoh yang kehilangan sesuatu yang amat berharga dalam hidupnya, ia tidak pernah merasa begitu kehilangan seseorang seperti yang sekarang ini ia rasakan, senyuman Jiyeon, dan kesabaran Jiyeon begitu terukir kuat dihatinya, itu yang membuat dadanya teramat sesak mengingat yeoja cantik itu.

Meski teramat lelah namun Minho terus berjalan mengikuti kemana kakinya melangkah, sepasang namja-yeoja yang sedang memadu kasih tertangkap oleh sepasang mata besarnya, mereka saling menyuapkan es krim kedalam mulut pasangannya masing-masing, Minho hanya bisa tersenyum pilu, kembali sosok Jiyeon yang menawarkan es krim untuknya hadir.

“ Kau mau ini ? “

“ Eoh, kau tidak suka ice cream yah ? “

“ Aku tidak suka ice cream mu jadi kau simpan saja “

Minho kembali berjalan, dan kini ia menuju toko es krim yang letaknya tak jauh dari sana.

“ Silahkan tuan, ini adalah es krim strawberry yang paling nikmat, ini bisa membuat suasana hati anda menjadi lebih baik tuan, anda mau mencobanya ? “ seorang penjual menawarkan es krim pada Minho.

“ Berikan dua es krim strawberry untukku “ ucap Minho yang langsung disambut antusias si penjual.

“ Silahkan tuan, mood anda akan lebih baik setelah menikmatinya “ ucap si penjual dengan senyum lebarnya.
Minho membalas kalimat ramah penjual dengan senyum yang dipaksakan, Minho memilih tempat yang nyaman untuk menikmati es krim yang kini ada ditangannya.

“ Kau tau Jiyeon-ah ? tanpa sadar aku sering melakukan hal-hal bodoh dan tidak aku sukai sejak mengenalmu “ ucap Minho seraya membuka satu buah es krim miliknya.
Satu buah es krim yang tersisa Minho letakkan disampingnya “ Jiyeon-ah yang satu ini untukmu, nikmatilah eoh “ ucap Minho dan menikmati bagiannya dengan hati yang sedih.

Chanyeol membanting pintu rumahnya dengan kasar, ia terus melangkahkan kakinya ke lantai atas dengan perasaan berkecamuk, sampai disebuah ruangan ia mengetuk pintu tersebut dengan keras.

“ Appa, buka pintunya….ada yang ingin aku bicarakan padamu “ ucap Chanyeol dengan suara kesal yang tertahan.

Krieett…

Yochun muncul dengan wajah tenangnya seperti biasa, ia tahu apa yang akan anaknya bicarakan.

“ Kita harus bicara appa !! “ ucap Chanyeol.

“ Apa ada sesuatu yang penting ? “ ucap Yoochun masih mencoba bersikap santai meski raut wajah Chanyeol menunjukkan kekesalannya.

“ Tentu, ini adalah hal yang SANGAT PENTING “ ucap Chanyeol menekankan kata sangat penting.

“ Geurrom, mari kita berbicara dengan suasana yang nyaman “ ucap Yoochun dengan senyuman dan setelahnya ia melangkah ke sebuah ruangan terbuka tempat biasa ia menikmati secangkir teh hangat kesukaannya dan membaca banyak buku.

Chanyeol mengikuti langkah appanya, sungguh emosi Chanyeol sudah sampai di ujung kepalanya, dan segera ingin ia keluarkan, tiba diruangan tersebut Yoochun segera mempersilahkan Chanyeol duduk dan berbicara.

“ Apa yang hendak kau bicarakan eoh? Mengenai pendidikan, bisnis atau kau ingin membicarakan seorang wanita yang sudah berhasil merebut hatimu ? “ tanya Yoochun dengan gayanya yang dibuat seolah santai.

“ Ini mengenai keluarga Kim ahjusi “ ucap Chanyeol tanpa ingin membuang waktu.

Raut wajah Yoochun mendadak berubah tidak bersahabat setelah Chanyeol mengatakan appa yang hendak dibicarakan “ Bukankah kau tidak ingin ikut campur mengenai hal itu? lalu apa masalahmu sekarang” ucap Yoochun serius.

“ Appa, tidak peduli apa yang akan kau lakukan padaku, aku hanya ingin kau menghentikan semuanya, apa kau tahu bagaimana keluarga Kim ahjusi saat ini ? mereka benar-benar begitu menderita, tidakkah kau memiliki sedikit saja hati, bagaimanapun kau ingin mereka menderita dendammu tidak akan pernah puas untuk kau balaskan “ Chanyeol begitu berapi-api meluapkan kekesalannya, namun Yochun tak bergeming dan hanya menatap anaknya dengan pandangan merendahkan.

“ Chanyeol-ah, terkadang mempunyai hati yang begitu baik seperti mu itu tidak menyenangkan, aku sudah merelakan nyawa adikku, eomma, serta nyawa appaku, apa aku tidak baik ketika itu ? aku mengikhlaskan dan memaafkan mereka, meski mereka sangat berjasa atas keberhasilanku sekarang, namun itu tidak sebanding dengan nyawa tiga orang yang paling berharga dihidupku…. tidak Chanyeol-ah “ ucap Yochun menyeringai.

Chanyeol tidak mengerti dengan apa yang appanya baru saja katakan “ Kurasa bukan merekalah yang hendak kau balaskan dendamnya, aku sangat tahu kau sudah begitu tulus memaafkan keluarga Kim atas kejadian itu dulu, kau hanya iri karena kau tidak bisa mendapatkan Nana ahjuma, karena ia lebih memilih Kim ahjusi, kau ingin menghancurkan keluarga mereka, perusahaan mereka, dan jika itu terjadi maka kau bisa menyombongkan dirimu bahwa kaulah yang lebih hebat dari Kim ahjusi, benar apa yang kupikirkan ? “ tanya Chanyeol membuat appanya tidak dengan cepat merespon.

Cukup lama mereka saling berargument, namun Yoochun sama sekali tidak terketuk hatinya untuk mengikuti saran Chanyeol berkata jujur dan memohon maaf kepada Jaejoong tentang yang telah diperbuatnya sebelum Jaejoong membencinya.
Menyadari jika sikap menyerang appanya justru tidak akan membuahkan apa-apa Chanyeolpun menundukkan diri dan memohon pada appanya.

“ Appa, jeball kumohon hentikan, meski aku hanyalah anak angkatmu, namun aku mengetahui dengan sangat baik kau bukanlah orang jahat…..jika kau melihat bagaimana Myungsoo terbaring lemah dengan sekujur luka ditubuhnya, melihat adiknya Kim Suzy merasakan jika kedua orangtuanya tidak peduli dengan dirinya dan hanya menganggapnya sebagai anak hilang tanpa tau perasaan ketika ia terpisah, dan yang paling menyedihkan adalah Jiyeon yang kini sebatang kara tidak ada seorangpun yang mengetahui keberadaannya ….aku yakin kau tidak akan tega appa, jadi ku mohon pikirkanlah baik-baik, Kim ahjussi….seharusnya kau membantunya melindungi keluarganya appa ” air mata Chanyeol tidak berhasil untuk ia pertahankan dan kini lolos begitu saja.

Yoochun tetap dengan pendiriannya “ Walaupun engkau memohon beribu kali padaku,aku tidak akan goyah “ ucap Yochun menerawang memantapkan pendiriannya.

Ia berdiri dan kemudian meninggalkan Chanyeol yang kini menunduk begitu kecewa dengan apa yang ia dengar dari appanya.

“ Appa….mianhae jika nanti bukan hanya keluarga Kim ahjussi saja yang membencimu, akupun pasti tidak akan memaafkanmu “ ucap Chanyeol dengan kedua tangannya yang terkepal menahan kekecewaan.

Setelah sadar, Myungsoo sama sekali tidak mau membuka mulutnya untuk sekedar makan atau berbicara, ia hanya senang berdiam diri entah apa yang ia pikirkan.

Jaejoong, Nana, Suzy serta Chanyeol silih berganti mengajak berbicara dan membujuknya namun Myungsoo tetap tidak mau merespon.
Pintu ruangan terbuka dan muncul sosok Yoochun yang membawa semua kesukaan Myungsoo yang ia tahu, melihat appanya datang wajah

Chanyeol nampak terkejut, tanpa mereka berdua sadari Jaejoong melihat ada yang lain dari tatapan Chanyeol kepada appanya.

“ Eoh, kau datang ? “ sapa Jaejoong.

“ Mianhe, aku baru menjenguk anakmu, bersabarlah semua yang menimpamu akan cepat berlalu “ ucap Yoochun mencoba membesarkan hati Jaejoong.

Yoochun mendekat ke arah Myungsoo dan mencoba memberikan dorongan untuk sembuh, tidak lupa ia tersenyum kepada Nana sahabatnya, namun seolah tidak menyadari keberadaan Yoochun disampingnya Nana tetap tidak beranjak dari sana, seperti yang biasa ia lakukan ketika Yoochun berada didekatnya.

“ Kau tenanglah disini, mengenai perusahaan, biar aku yang mengurusnya “ ucap Yochun kepada Jaejoong.

Mendengar hal itu Chanyeol reflek menatap appanya, Chanyeol masih mengingat betapa kerasnya hati appa angkatnya ini mempertahankan keinginannya untuk membalas dendam, tentu jika Jaejoong hanya fokus dengan keadaan Myungsoo disini, maka appanya akan bebas melaksanakan misinya, degan cepat ….

“ Ahjussi, kau tidak perlu khawatir, mengenai Myungsoo masih ada ahjuma, Suzy dan aku yang akan menjaganya, kau tetaplah melakukan apa yang harus kau lakukan, aku tidak mau jika terjadi apa-apa dengan perusahaanmu “ ucap Chanyeol seolah tidak sadar dengan apa yang diucapkan.

Yoochun hanya menatap Chanyeol dengan senyum tipisnya, sementara Jaejoong masih mencerna apa maksud perkataan Chanyeol, menyadari situasi yang menjadi tidak enak “ Baiklah, kurasa cukup kunjunganku hari ini “ ucap Yoochun.

“ Aku akan mengantarmu, siang nanti aku akan kekantor” ucap Jaejoong.

Sebelum pergi Yoochun kembali menatap Nana yang nampak begitu lemah, dan hanya terfokus pada sosok Myungsoo.

Jaejoong mengantar Yoochun hingga basement, ia hendak memutar tubuhnya dan kembali melangkah meninggalkan basement, namun tubuhnya terdiam sejenak, ia baru menyadari ada sesuatu yang ia tangkap ketika Yoochun pergi.

“ KS 37 69 PY ? MWO ? tidak mungkin ? Yoochun ? tidak mungkin jika ia yang melakukan “ wajah Jaejoong begitu terkejut dan nampak pucat kini.

Tidak sabar untuk mengetahui apa yang terjadi Jaejoong meraih telepon genggamnya dan menghubungi Chanyeol “ Chanyeol-ah, apa kau menyembunyikan sesuatu ? “ ucap Jaejoong yang tanpa basa-basi membuat Chanyeol hanya tergugup disana.

Wajah Chanyeol nampak pucat ketika semakin lama suara langkah kaki terdengar dan semakin mendekat menuju tempatnya berada, sosok Jaejoong muncul dari balik pintu yang terbuka, seiring langkah kaki Jaejoong yang semakin dekat ke arahnya, Chanyeol semakin tidak bisa menyembunyikan kegugupan dan tidak dapat mengontrol tubuhnya kini yang bergetar menahan rasa takut.

“ Chanyeol, bisa kita bicara sekarang ? “ ucap Jaejoong.

Chanyeol hanya menganggukkan kepala, sementara Nana dan Suzy menatap keduanya dengan pandangan bertanya-tanya.

Jaejoong keluar ruangan diikuti langkah Chanyeol dibelakangnya, keduanya mencari tempat yang aman untuk membicarakan sesuatu.
Setelahnya,

Jaejoong menatap Chanyeol yang justru anak ini tidak sama sekali berani membuka mulutnya, hingga akhirnya Jaejoong terus membujuknya.

“ Siallll….AAARRRGGGHHKKK !!! “ Yoochun berteriak meluapkan emosinya.

Kemudian dengan cepat ia merapikan segala sesuatu yang bisa ia bawa dari rumahnya, ia nampak terburu-buru, sejak kembali dari rumah sakit menjenguk Myungsoo, ia merasakan ada yang ganjil dari sikap Jaejoong, terlebih Chanyeol seolah menampakkan gerak-gerik yang mencurigakan oleh sebab itu ia memutar arah untuk kembali kerumahnya.

Tidak lama setelah sampai dirumahnya ia menerima telepon dari Chanyeol yang berkata bahwa Jaejoong telah mengetahui semuanya.

“ Appa, pergilah ke tempat yang terjauh agar Kim ahjusi tidak dapat menemukanmu, jika tidak mungkin kau akan terbunuh oleh tangan sahabatmu sendiri “ suara Chanyeol beberapa saat yang lalu masih teringang dikepala Yoochun.

Yoochun segera melajukan mobilnya cepat ke arah yang ia sendiri tidak tahu akan kemana, nampaknya ia sudah tidak peduli dengan rencanananya, ia tidak menyangka anaknya akan serius dengan ancamannya semalam, meski ia marah dan kesal, namun Chanyeol adalah satu-satunya orang yang menemaninya disaat tidak ada siapa-siapa lagi yang bisa membuat hidupnya sedikit berwarna.

“ Minsuk, bagaimana apa semua virus itu bisa kau kendalikan ? benarkah ? ini kabar bagus, lalu kau bisa mengetahui siapa pelakunya ? baiklah tidak apa, eoh Minsuk-yah, aku tidak bisa menghubungi Yoochun, beri kabar aku jika dia berada disana dan pastikan ia tetap berada diruangannya eoh ? aku tunggu kabarmu “ Jaejoong semakin cepat melajukan mobilnya.

“ Michiesseo, Yoochun-ah apa yang kau lakukan, jinjja karena kau keluargaku seperti ini “ ucap Jaejoong geram.

Tring

Layar ponselnya menyala, dan nama Minsuk tertera disana “ Sial, kemana pria keparat itu ? “ ucap Jaejoong, dengan cepat ia segera memutar balik mobilnya, ia mencoba menghubungi Chanyeol untuk mengetahui keberadaan Chanyeol, namun Chanyeolpun kini tidak dapat dihubungi.

“ Eoh, Suzy-ah apa Chanyeol masih berada disana ? apa sudah lama ? gwencana, pastikan eommamu dan Myungsoo baik-baik saja eoh ? appa akan cepat kembali “ ucap Jaejoong nampak terburu-buru menutup sambungan telepon.

“ Mereka tidak mungkin berada dirumah ? Incheon, nde benar “ Jaejoong kembali memutar arah mobil menuju bandara.

Tidak ada lagi kata sahabat yang bisa meredakan emosinya, tidak pula ada kata bahwa Yoochun telah banyak berjasa dengan kemajuan perusahaan yang bisa memberikanya sedikit saja belas kasih, mengingat bagaimana istri serta anak-anaknya yang menderita membuat emosi Jaejoong memuncak, ia bertekad akan menyeret Yoochun ke penjara dengan apa yang telah dilakukannya, beruntung sebelum perusahaannya mengalami masalah besar Tuhan sudah memberikan petunjuk untuk keluarganya.

Sesampainya dibandara, Jaejoong segera mengecek keberadaan Yoochun benarkah pria brengsek itu melarikan diri.

“ Maaf tuan, dalam waktu 3 menit pesawat menuju ke Canada akan berangkat “

“ Tapi benarkah disana ada penumpang atas nama Park Yoochun ? “ tanya Jaejoong memburu.

“ Nne benar tuan, tuan Park Yoochun membeli dua lembar tiket pesawat menuju Canada “ ucap yeoja bagian tiket pesawat ramah.

“ Park Chanyeol ? aishh mereka bersama ? “ ucap Jaejoong tidak percaya.

Jaejoongpun hanya pasrah dan tidak bisa berbuat apa-apa, ia kembali menuju mobil dengan langkah lemas, meski ia tidak berhasil menyeret Yoochun, setidaknya kini ia bersyukur bahwa ia telah menemukan pelaku sesungguhnya dan nyonya Taeheepun pasti tersenyum melihatnya.
Mengingat Taehee, semakin Jaejoong merasa bersalah dengan kepergian Jiyeon, ia tidak menyangka Yoochun akan tega berbuat hal itu kepada Jiyeon yang harusnya Yoochun anggap sebagai keponakannya sendiri.

“ Yeonnie-ah, kembalilah, kau sudah aman sekarang eoh, jeball appa mohon kembalilah “ lirih Jaejoong.

Mobil Jaejoong bertolak dari bandara menuju kembali kerumah sakit, sementara tepat diatas sana sebuah pesawat menuju Canada membawa Yoochun dan Chanyeol didalamnya meninggalkan Korea untuk waktu yang mungkin tidak akan pernah lagi kaki mereka menginjak negeri itu.

Suzy tersenyum kearah Minho yang berjalan ke arahnya, meski sikap Minho tak sehangat seperti dulu tidak menyurutkan semangat Suzy untuk tetap menjaga hubungan baik dengan namja tinggi itu.

“ Bisa kita berjalan bersama ? “ tanya Suzy kepada Minho yang kemudian mengangguk.

Keduanya kini melangkahkan kaki mereka menuju aula sekolah untuk menghadiri perpisahan sunbaenim nya ditingkat 3, meski hanya sepihak yang merasakan letupan dihati dan tersenyum, namun Suzy tidak keberatan jika kini harus ia yang berjuang mendapatkan kembali cinta Minho.

Sejak Jiyeon pergi, tidak hanya oppanya yang kembali menjadi pribadi yang pendiam, tidak pula Minho yang kini menjadi sosok yang berbeda dari yang Suzy kenal, namun juga berdampak pada gairahnya untuk bersaing disekolah, tidak ada lagi yang membuat Suzy selalu khawatir ketika gelar siswa terbaik di tingkat 2 dibacakan setelah ujian kelas usai, tidak ada lagi rasa kecewa dan berpura-pura mengucapkan kata selamat ketika ia hanya menduduki posisi ke dua, rival nya itu sudah pergi, menyisakan penyesalan dihati Suzy.

Aula kelas sudah gegap gempita dipenuhi para haksaeng baik dari tingkat 1 sampai dengan tingkat 3 serta orang tua haksaeng yang menjadi undangan.

Disalah satu kursi undangan nampak Jaejoong dan Nana tersenyum bangga dengan apa yang diraih Myungsoo, suasana langsung menjadi tenang ketika kepala sekolah mulai naik ke atas podium dan menyampaikan kalimat pembuka, setelah semua nasehat dan pandangan disampaikan…

“ Baiklah, untuk selanjutnya siswa dengan nilai tertinggi mewakilkan kalimat perpisahan dan memberikan sedikit motivasi untuk para hoobae agar bisa mengikuti kesuksesannya, untuk itu kami panggilkan Kim Myungsoo, silahkan maju ke atas podium “

“ Kim Myungsoo…Kim Myungsoo…Kim Myungsoo!!!” Sorak sorai para haksaeng meneriakkan nama Kim Myungsoo.

Myungsoo berdiri dan kemudian melangkah menggunakan tongkatnya menuju podium, berbeda dengan haksaeng lain yang begitu bahagia menyambut kelulusan, wajah Myungsoo tampak datar dan masih tampak diliputi kesedihan, namun senyum kedua orangtuanya mengiringi langkah Myungsoo menuju podium.

Tiba disana, Myungsoo meletakkan tongkat yang membantunya berjalan, tangannya hendak meraih selembar kertas yang terselip disaku seragamnya, namun…

“ Bagaimana jika kita tidak saling bertemu dulu, jika kau sudah bisa mengatakan bahwa kau telah menjadi yang terbaik aku akan memberikan kejutan untukmu ?”

“ Tch, MYUNGSOO-SSI ia tidak lagi berada disini, kau ini sebenarnya siapa hingga kau tidak tahu jika Jiyeon tidak lagi berada disini eoh ? “

Myungsoo masih berdiri mematung, tiba-tiba perasaan kecewa itu datang lagi, semua yang hadir nampak tidak sabar menunggu apa yang akan Myungsoo sampaikan, raut wajah Nana serta Suzy paling terlihat khawatir diantara semuanya.

“ Annyeong nae chingudeul, naneun Kim Myungsoo imnida “ ucap Myungsoo memulai, setelahnya ia terdiam kembali dan menarik nafasnya sejenak.

“ Kesuksesan hanya dapat kita raih jika kita percaya pada diri sendiri bahwa kita mampu, dorongan orang lain hanya kekuatan kecil yang tidak boleh kalian abaikan namun juga jangan jadikan candu untuk kalian meraih kesuksesan” pandangan matanya tampak nanar.

“ Jika candu kalian pergi dan tidak lagi menguatkan, maka kata kecewa lah yang akan datang “ bayangan Jiyeon yang meninggalkannya kemudian tampak jelas dalam pandangannya.

“ Untuk appa, eomma, serta adikku yang berada di sana…saranghae kalian alasan aku dapat berdiri disini…..kamsahamnida “ tiba-tiba ia merasa air matanya akan jatuh.

“ Sampai bertemu kembali dengan kesuksesan yang kita raih, selamat tinggal “ ucapnya menutup kalimat, khawatir ia tidak bisa mempertahankan airmatanya.

Myungsoo membungkukkan tubuhnya mengucapkan terimakasih, sekilas bayangan Jiyeon yang nampak sedih memenuhi aula, namun hatinya terlanjur kecewa hingga tidak menyebut nama dongsaeng yang menjadi kekuatan Myungsoo yang sebenarnya.

Selesai acara perpisahan, Myungsoo menerima banyak ucapan selamat dan permintaan foto bersama, ia tidak menolak meskipun ia tidak memperlihatkan senyuman ketika menerimanya.

Pandangannya tertuju kembali pada sebuah kertas disakunya, kertas yang harusnya tadi ia bacakan ketika memberi pidato perpisahan, ia meraihnya dan kemudian membukanya, tidak berapa lama ia tersenyum sinis dan merobek kertas tersebut serta membuangnya begitu saja.

Myungsoo dan Minho keduanya duduk dihamparan rumput luas yang terletak dibelakang sekolah, tidak ada pembicaraan namun keduanya merasa nyaman seperti itu, sesekali mereka saling melirik satu sama lain, dan tersenyum ketika akhirnya pandangan mereka tak sengaja bertemu.

“ Chukae, akhirnya kau bisa sedikit terlepas dari bayangan yeoja itu “ ucap Minho membuka pembicaraan keduanya.

Myungsoo masih tidak bergeming dengan tatapan kosongnya, akar rumput yang sejak tadi ia mainkan untuk mengusir rasa sepi masih berada ditangannya, ketika mendengar kalimat Minho “ Wae ? “ tanyanya singkat dan tampak datar.

“ Kau tidak lagi berada disekolah ini yang di setiap sudutnya yeoja itu selalu ada, benar bukan ? “ ucap Minho yang juga tetap menatap kedepan, kalimat yang terucap dari keduanya begitu pelan masih menyiratkan kesedihan yang mendalam.

“ Huh, aku tidak lagi ingin memikirkan hal itu, aku sudah mengikhlaskannya memilih jalan hidupnya sendiri “ ucap Myungsoo mencoba menutupi kekecewaannya yang besar.

Minho menatapnya dengan senyuman yang mengejek, ia tahu pasti bahwa Myungsoo berbohong, bagaimana mungkin namja ini bisa dengan cepat melupakan Jiyeon, bahkan kenangan diantara keduanya lebih dalam ketimbang dirinya.

“ Apa kau mau bertaruh ? “ ucap Minho memancing, tidak mau menunggu lama dengan respon Myungsoo “ Jika aku orang pertama yang menemukannya, kau harus mengikhlaskan aku memilikinya, dan sebaliknya akupun akan merelakan kau memiliki dia jika kau yang menemukannya terlebih dahulu ? bagaimana apa kau setuju ? “ ucap Minho.

Myungsoo tetap tidak bergeming dengan ide spontan Minho, namun jujur tiba-tiba perasaannya begitu takut dengan ucapan namja tinggi disampingnya, Myungsoopun bangkit meninggalkan Minho yang menatapnya dengan senyuman yang merendahkan.

“ Myungsoo-ssi, apa kau takut eoh ? kau tenang saja jodoh tidak pernah tertukar, dia akan kembali kepada pemiliknya, bagaimana apa kau berani bertaruh ? baiklah diam berarti kau setuju, aku harap kau mematuhinya “ Minho berteriak, karena tubuh Myungsoo semakin menjauh.

Bukan hanya Myungsoo, Minhopun merasa tidak yakin mudah menaklukkan tantangannya sendiri, Kini takdir merekalah yang akan menjawab dan keluar sebagai pemenang.

“ Keluargaku akan menetap di Amerika “ ucap Suzy dan berhasil membuat Minho menatapnya.

“ Wae ? “ meski terkejut Minho hanya merespon pendek ucapan Suzy.

“ Appa ingin kami sekolah disana dan melupakan sementara hal-hal yang tidak baik yang menimpa keluarga kami, tapi kau tidak perlu khawatir kami pasti kembali “ ucap Suzy tersenyum manis.

Suzy nampak menghela nafasnya perlahan, meninggalkan Minho mungkin lebih berat ia rasakan dibanding ia meninggalkan Seoul, namun tentu saja ia juga ingin menenangkan hatinya, berharap dengan begitu Minho menunjukkan rasa kehilangan akan dirinya.

“ Apa kau akan menungguku ? “ ucap Suzy kemudian.

Minho hanya tersenyum “ Geurom, tentu saja aku akan menunggu sahabatku “ ucapnya singkat.

Melihat raut wajah Suzy yang kecewa “ Kau benar akan kembali kan ? kuharap ketika kau kembali, kau sudah menemukan pria yang benar-benar mencintaimu dengan tulus “ ucap Minho seraya menyentuh lembut kepala Suzy.

“ Hahaha…aku berharap begitu “ ucap Suzy mencoba menyembunyikan kekecewaan doa Minho untuknya.

Semburat langit sore begitu cantik menemani keduanya, ini adalah hari terakhir pertemuan keduanya sebelum besok pagi keluarga Kim pergi ke Amerika.

“ Ada apa ? apa ada yang mengganjal dihatimu ? “ tanya Nana yang melihat Suzy nampak gelisah.

“ Gwencana eomma “ ucap Suzy menunduk sedih, namu tentu saja Nana menyadari kesedihan putrinya.

“ Sudahlah, mungkin Minho tidak sanggup melepas kepergianmu, yang terpenting doanya mengiringimu eoh, kajja bersiap-siap, kita harus segera berangkat “ ucap Nana menghibur Suzy, Nanapun menggenggam tangan Suzy dan kemudian keduanya berjalan menuju pesawat.

Myungsoo menatap pemandangan terakhir kota Seoul dari balik jendela pesawat, meski berat untuk meninggalkan semua kenangannya dan harus merelakan Minho yang mendapatkan Jiyeon, namun inilah awal baru untuknya melangkah menuju kehidupannya yang lebih cerah.
Membayangkan wajah Jiyeon sungguh ia ingin menangis, karena kalimat yang tidak sempat ia ucapkan.

“ Yeonnia-ah aku mungkin hanya bisa menyimpan perasaanku dan membawanya pergi bersama, aku masih berharap dapat menemukanmu, Yeonnie-ah saranghaeyo..jeongmal saranghae “

Suzy segera mengaktifkan kembali telepon genggamnya, ketika nama seseorang muncul mengirimkan sebuah pesan.

“ Hati-hati dinegeri orang, aku melihat punggungmu tadi, aku menunggu janji sahabatku untuk kembali, selamat jalan semoga sukses ^-^”

Suzy tersenyum mengetahui Minho yang mengirimkan pesan untuknya, Minho datang? ya Minho datang untuk mengantar kepergiannya, meski tidak berhasil bertemu namun Suzy merasa lega dan melihat secercah harapan “ Aku pasti kembali, Minho-ah meski hatimu digenggam Jiyeon, namun kau pasti kembali lagi kepadaku, sampai bertemu saranghae Minho-ah “

Minho melambaikan tangan ketika tepat diatas kepalanya melesat sebuah pesawat, meski ia tidak tahu apakah itu pesawat yang membawa keluarga Kim atau bukan, ia pun memasukkan kedua tangannya dan berbalik melangkah, hatinya meresa sepi kini, semua orang yang akhir-akhir ini mempunyai banyak kisah untuknya tidak lagi berada di Seoul, mungkin hanya Jiyeon yang masih ia yakini untuk segera bertemu.

“ Nae Chingu, dan nae yeoja…aku yakin kita akan kembali bersama, sampai jumpa.. berjuanglah untuk kehidupan yang lebih baik, annyeong” ucapnya dan setelahnya Minho semakin jauh melangkah.

7 Tahun berlalu

“ Jiyeon-ah, kamar no 135 menunggu untuk kau layani, apa kau sudah melaundry semua pakaiannya? “ ucap Jieun-ah dengan wajah serius seraya memasukkan begitu banyak pakaian kotor kedalam mesin pencuci.

Jiyeon menghentikkan aktifitas mengikat rambutnya “ Semua keperluannya sudah aku siapkan, apa ada yang tertinggal ? “ pikir Jiyeon.
“ Eoh baiklah aku akan kesana, gomawo Jieun-ah “ ucap Jiyeon kemudian segera meninggalkan Jieun.

Tok..tok…tok

“ Permisi, saya Bae Jiyeon yang bertanggung jawab dengan kebersihan kamar ini, apa ada yang bisa saya bantu ? “ ucap Jiyeon sopan.

Seorang wanita muda dengan tubuh tinggi yang begitu ramping, serta kulit putih mulus muncul dari ruangan lain, wanita itu sangat cantik dan nampak anggun dengan balutan dress selutut senada kulit.

“ Kau yang bertanggung jawab dengan kamar ini ? “ ucap wanita cantik itu lembut.

“ Nne, saya nona, apa ada sesuatu yang bisa saya bantu ? “ ucap Jiyeon dengan senyum cantiknya.

“ Kekasihku hari ini akan tiba, tapi aku belum menyiapkan kado spesial untuknya, apa kau bisa membantuku untuk mencarinya, maaf merepotkanmu tapi aku belum menyiapkan apapun “ ucap wanita cantik itu merasa tidak enak.

Jiyeon berpikir sejenak, apa iya wanita secantik dan seanggun dia akan percaya dengan seleraku, dia ingin menyuruh apa ya ? gumam Jiyeon dalam hati.

“ Apa kau keberatan” ucap wanita itu melihat Jiyeon hanya terdiam disana.

“ Eoh..emm baiklah nona, saya akan coba mencarikan, eoh barang apa yang kau ingin berikan padanya ? “ tanya Jiyeon kemudian.

Wanita cantik itu berfikir sejenak “ Bagaimana jika jam tangan ? apa kau bisa memilihkan jam tangan untuknya, masalah model aku percayakan padamu, dia orang yang sederhana, jadi aku yakin ia pasti menyukai apapun pemberianku “ ucapnya dengan senyum elegan yang menawan.

“ Baiklah nona, sebenarnya aku tidak percaya diri, namun aku akan mencobanya “ ucap Jiyeon dan hendak pergi dari sana.

“ Hei tunggu, namaku Choi Sulli, kau bisa membuatkan kartu ucapan dan mencantumkan namaku disana, gomawo kau sudah membantu “ ucap wanita cantik bernama Choi Sulli.

“ Bagaimana tuan? Apa anda akan mengambil yang ini ? “ ahjussi penjaga toko kembali bertanya setelah hampir semua jam tangan bermerk dan mahal dicoba satu persatu, karena si pembeli ini adalah langganannya, maka tentu ahjussi harus tetap ramah.

“ Baiklah aku akan mengambil satu buah jam yang ini “ ucap si pembeli akhirnya.

“ Nne, kami akan membungkusnya untuk anda tuan , anda pasti tidak akan kecewa “ ucap ahjussi lega dan bergerak cepat untuk membungkus.

“ Ahjussi, dimana letak toilet ? “ tanya si pembeli kemudian.

“ Eoh, disana tuan , silahkan anda menggunakannya “ tunjuk ahjusi memberitahu letak toilet.
Tidak berapa lama seorang wanita muda dengan rambut panjang yang tergulung serta seragam hotel yang melekat ditubuhnya masuk dan menghampiri ahjussi.

“ Hai nona, ada yang bisa saya bantu untuk anda ? “ ahjussi menawarkan bantuan dengan ramah.

“ Ah ahjussi, saya ingin membeli sebuah jam tangan untuk hadiah seorang pria “ ucap Jiyeon.

“ Eumm, bagaimana sifat priamu nona ? “ ucap ahjussi yang tentu saja membuat Jiyeon tidak enak.

“ Ah ahniyo, ini adalah kekasih teman saya, emm…. menurut temanku ia pria yang sederhana dan pendiam ” ucap Jiyeon mencoba mengulang karakter si pria yang tadi nona Choi Sulli gambarkan.

Si ahjusi akhirnya berfikir dan mulai melihat-lihat model sesuai dengan yang Jiyeon gambarkan, namun sekilas matanya menangkap pembelinya yang baru keluar dari toilet “ Eoh tuan hati-hati dijalan dan semoga anda puas “ ucap ahjussi dan hanya dibalas senyuman oleh pembeli itu, setelahnya pria itupun keluar dari toko jam tangan si ahjussi.

“ Ahjussi, bagaimana dengan yang ini ? “ ucap jiyeon.

“ Daebakk, kurasa ini cocok untuk kekasih temanmu, hemm jika ia menyukai apa yang kau pilih, kau lah yang pantas sebagai yeojachingunya nona …hahhaha “ ahjussi mencoba berkelakar, namun Jiyeon hanya tersenyum tidak menanggapi gurauan ahjussi.

“ Kamsahamnida ahjussi atas bantuannya, permisi “ ucap Jiyeon pamit untuk pergi.

“ Yya bagaimana bisa ini menjadi kotor eoh ? aku tidak mau tahu, dia harus mengganti, kau tahu gaun istriku ini sangat mahal, bagaimana pelayan hotel tidak seprofesional ini “ ucap pria gendut setengah baya itu nampak geram.

“ Jwesonghamnida tuan, baiklah tunggu sebentar kami sudah memintanya untuk datang dan memberikan penjelasan kepada anda “ ucap Jieun nampak takut dan berharap cemas Jiyeon segera datang.

Tidak berapa lama pintu kamar hotel diketuk “ Masuklah” ucap pria gendut itu menahan emosi.

“ Permisi tuan saya Bae Jiyeon, apa anda memanggil saya ? “ ucap Jiyeon mencoba tetap tersenyum, sementara wajah Jieun semakin tegang karena tuan ini begitu sulit dikendalikan.

“ Eoh jadi kau yang membuatnya seperti ini, kau lihat apa yang telah kau lakukan ? “ ucap pria gendut seraya memperlihatkan gaun yang nampak robek dibanyak bagian.

Mata Jiyeon terbelalak melihat gaun yang baru saja ia laundry itu sudah nampak kacau, tentu saja ia tidak mengerti…. gaun itu masih baik-baik saja ketika ia menaruhnya di lemari siang tadi.

“ Jwesonghamnida tuan, tapi …itu…gaun milik istri anda baik-baik saja ketika tadi saya letakkan dilemari “ ucap Jiyeon mencoba memberi penjelasan.

“ Kau “ tunjuk pria itu kepada Jieun.

“ I-iya tuan “ Jieun nampak takut-takut.

“ Tinggalkan temanmu ini disini, aku akan meminta pertanggungjawabannya jika tidak mau ia dipecat dari hotel ini “ ucap pria gendut mengancam.

Jieun nampak ragu, dari raut wajah tuan ini nampak terlihat seperti seorang lelaki hidung belang, namun tidak mau membuat tuan ini semakin marah Jieun pun akhirnya pergi meninggalkan Jiyeon.

Setelah hanya mereka berdua, pria gendut ini mendekat ke arah Jiyeon dengan pandangan yang membuat Jiyeon sedikit ketakutan “ Apa kau pikir istriku tidak akan marah nona, jadi apa pertanggungjawaban mu ? “ tanya pria itu menyentuh dagu jiyeon dan menyeringai.

“ Apa kau sudah tiba ? kenapa kau berbohong ? kau bilang kau baru akan tiba 2 jam lagi, baiklah segera ke lantai 13 kamar no 135, aku menunggumu disini eoh “ ucap Sulli menutup pembicaraan.

Sulli kemudian memoles sedikit wajahnya yang sudah nampak cantik agar tampak lebih bersinar, ia sudah 3 tahun menjalin hubungan dengan pria ini, dan rencananya bulan depan acara pertunangan mereka akan digelar.

Sulli tersenyum melihat penampilannya malam ini, ia kemudian mengambil kado yang Jiyeon pilih dan bersiap untuk menyambut kekasihnya.

Seorang pria berjalan menuju kamar no 135 yang terletak dipaling ujung, suasana hotel nampak sepi, namun kakinya tiba-tiba terhenti ketika ia mendengar suara seorang wanita yang berteriak dan terdengar seperti menangis.

“ Eoh bukankah ini hotel ? tentu saja suara seperti ini biasa terdengar “ ucap pria itu dalam hati dan terus melangkah.

Namun kembali ia menghentikan langkahnya ketika dari dalam sana terdengar wanita itu berteriak minta tolong.

“ Tuan ku mohon jangan, eoh tolong…tolong aku..siapapun tolong akuuu “ Jiyeon nampak pasrah ketika tubuh gendut pria tua itu berada tepat diatasnya, rok panjangnya tersingkap memperlihatkan paha mulusnya, sementara kancing atas seragamnya terbuka sehingga leher jenjangnya terlihat jelas yang membuat birahi si pria gendut dihadapannya semakin naik, rambut Jiyeon nampak berantakan dengan ikatan rambut yang hampir terlepas, ia terus berusaha menjauhkan tubuh tuan ini dengan kekuatannya, namun tenaga tuan ini tentu saja lebih kuat dibandingkan Jiyeon.

“ Eoh, wajahmu sangat cantik sekali nona, kulitmu pun begitu mulus, ayolah sebentar saja, aku akan membayar berapapun kau mau “ ucap tuan itu dengan seriangainya.

Jiyeon menangis air matanya mengalir dari kedua sudut matanya, ia sudah lelah dan tidak lagi memiliki kekuatan untuk melepaskan dirinya dari jeratan pria mesum diatas tubuhnya, dan ketika ia benar-benar hanya berpasrah..

Brakkkk…

“ Lepaskan wanita itu bajingan!!! “

Pria gendut nampak kaget karena dobrakan pintu dan suara gertakan pria dari arah belakangnya, sementara Jiyeon menangis semakin kencang dan menarik selimut untuk menutup tubuhnya.

“ Siapa kau, mengapa lancang sekali masuk kedalam kamar orang eoh ? “

“ Apa perlu ijin jika untuk menolong wanita yang akan kau perlakukan seperti itu eoh ? “ ucap pria itu semakin geram.

 

TBC

 

Lagi-lagi bernafas lega, meski penyelesaian masalah Yoochun begitu sederhana, tapi ya karena dari awal author sebenarnya ga kepikiran untuk nambahin case itu, tapi biar ada bumbu tegangnya author paksa deh, eh hasilnya sama sekali ga keren yah.

Chingudeul mungkin ff ini tidak sampai 5 part lagi akan segera berakhir, author seneng banget dengan respon WOW kalian dengan ff chapter dan juga ff oneshoot author, meski masih ada siders…hohoho, mumpung masih lebaran dan ga di PW ayo..ayo kita bertobat  ( ini tidak hanya utk ff author seorang, tp utk semua ff author lainnya di HSF loh )

Oiya, author ud punya project selanjutnya, mungkin part 1 nya akan keluar sebelum ff RATR ini berakhir, masih nunggu posternya…mohon tetap setia dengan ff di HSF yah…gomawo.

308 responses to “[ CHAPTER – PART 13 ] RAINBOW AFTER THE RAIN

  1. ya ampun pasti tunangan sulli ittu myungsoo da … iihh n. jgan attu .. ksian jiyeon.a . pasti yg nolong jiyeon myungsoo da .. hehhehe . nagrepp .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s