Pretend (Chapter 9)

 

FF Pretend new

Tittle : Pretend

Author : brownpills

Main Cast:

  • Park Jiyeon
  • Kim Myungsoo
  • Krystal Jung
  • Bae Suzy
  • Choi Minho
  • Kai

Lenght :  Chaptered

Genre : Romance, Family, Schoollife

Rating : PG-14

A/N : Pure of my mind. Also share in FFH. Don’t be a Plagiator!

All point of view of this chapter is Bae Suzy.

.

-Prev-

.

Suzy’s PoV

Saat waktunya tiba untuk pergi, kupikir aku akan mampu pergi tanpa penyesalan apapun.

-Quotes of You who Came From The Stars-

 

“—temanilah Myungsoo. Aku memohon padamu.”

 

Seolah aku memang yang terburuk.

 

Punggung mungil itu tampak bergetar untuk beberapa saat. Rambut kecoklatannya terhembus oleh angin yang menyelip di antara kami berdua. Jiyeon, aku yakin dia kian membenciku.

“Menyedihkan…”

Satu kata singkat yang terucap dari bibir Jiyeon sungguh serasa menembak ulu hati. Membuat jantung bocor dengan lumuran darah. Gadis di hadapanku berbisik pelan seperti itu tanpa membalikkan tubuhnya, karena itu aku tidak mengerti bagaimana ekspresinya sekarang.

Lantas ia mengambil langkah mantap yang terkesan berat. Semakin lama tubuhnya semakin mengecil dalam pandanganku.

Dia adalah sainganku. Namun kami tidak berbeda jauh. Hanya menunggu malaikat pencabut nyawa datang pada kami, mungkin itulah persamaan kami. Kini, apakah aku tetap bisa menyebutnya sebagai saingan?

Tak terasa air mata mengkilau di sudut pandang. Aku menggerakan kedua bola mataku ke kanan dan ke kiri barangkali dapat menahan cairan bening ini. Ketika aku melangkahkan kaki, pandanganku membulat secara perlahan.

Tidak jauh dari tempatku berdiri, sesosok gadis tengah tersentak dari balik pohon. Terlihat kikuk, gadis itu memunculkan dirinya di hadapanku. Menggaruk tengkuk kepalanya yang tidak terasa gatal.

“Aa—aa—mianhae,” ujarnya sejenak ragu.

Aku memandangnya heran, meminta penjelasan.

“Aku tidak bermaksud untuk mencuri pembicaraan kalian—“

Kemudian aku mengerti dengan apa yang gadis bernama Krystal bicarakan. Mulutku sengaja kukunci, membiarkan dia menjelaskan dengan susah payah.

“—aku hanya melintas saja. Kau tidak perlu khawatir aku bisa menjaga rahasia.”

Kekanakan. Bibirku mendesis pelan mendengar tawarannya yang semangat. Namun aku tidak menggubris seberapa banyak dia mendengar obrolanku dengan Jiyeon. Diriku hanya mengangkat bahu seraya meneruskan langkah.

Jakkaman.”

Langkahku terhenti mendengar ucapan Krystal. Krystal lebih memilih untuk menghampiriku.

Dengan tautan alis aku melihat gerak gerik Krystal yang tengah merogoh saku kemeja sekolahnya. Beberapa saat kemudian gadis itu tersenyum sumringah merasa sudah menemukan benda yang ia cari.

“Ini, untukmu,” ujarnya girang.

Masih dalam pandangan datar aku menatap tidak tertarik benda berbentuk bulat yang berada di atas telapak tangan Krystal.

“Ibuku memberikan ini padaku,” jelasnya. “Ini koin keberuntungan.”

Sepasang mataku beralih menatap manik mata Krystal. Meski aku tak kunjung menerima uluran tangannya, gadis itu tetap melukiskan senyuman di wajahnya.

Ragu aku meraih koin berwarna silver. Permukaannya yang kasar menyentuh jemariku. Koin dengan gambar burung merpati itu sudah berada di genggamanku.

“Mengapa kau memberikannya padaku?”

“Karena kau lebih membutuhkannya.”

—o0o—

Benda mungil yang terbuat dari logam berwarna putih itu berputar di atas meja. Jemari lentikku bermain bersamanya. Putarannya berhenti saat seorang pria menyedekapkan tangan di atas meja kantin yang sama denganku.

“Minho-ya?”

Senyuman hangat terpampang di wajah Minho, “Aku mencarimu.”

Aku membalasnya dengan senyuman tipis.

“Kau tidak memesan makanan?” tanya Minho menyadari meja yang kutempati kosong melompong.

“Aku tidak bernafsu.”

Mendengar sahutan lesuku, senyum Minho perlahan memudar. Pandangannya mengikuti arah pandanganku yang menatap kosong pada sebuah koin.

“Apa itu?” tanyanya asing dengan benda murahan itu.

“Koin keberutungan.”

Tidak ada komentar yang keluar dari bibir Minho. Yang pria itu lakukan hanya membisu, membiarknku bergulat dalm pikiranku sendiri.

“Ini…” perlahan aku mulai berkata, “… hari terakhirku di sekolah.”

Memang benar, kemungkinan besar. Besok adalah tanggal merah.

Meski aku tidak melihat ekspresi apa yang digambarkan di wajah Minho, tetapi aku yakin kini ia tengah melihat diriku dengan sepasang mata redupnya. Aku bercerita, dia diam mendengarkan. Aku menenggalamkan wajah, dia diam sibuk menatapku. Sudah terbiasa aku dan dia bertingkah seperti itu.

—o0o—

Rasa lezat menguasai kerongkonganku. Tangan kananku menggenggam sumpit, menarik spaghetti buatan ibuku. Memang tidak selezat spaghetti di Restoran Italia, karena ibuku tidak pandai memasak.

Eotthe? Apa kurang asin?” tanya ibuku yang duduk di seberangku.

Mulutku yang masih mengunyah, hanya mengangguk pelan.

“Aish, sudah eomma bilang kan, lebih baik beli saja,” gerutu ibuku.

Eomma yang memaksa untuk membuatnya sendiri,” sela Jeno –adik mungilku- yang duduk di sebelah Jaehyun. Sedangkan Jaehyun yang berada di hadapanku sibuk meneguk segelas susu putih kesukaannya.

Sudah lama, kami tidak pernah makan malam bersama di satu meja keluarga. Kali ini kami melakukannya tanpa satu orang— appa.

Ibuku perlahan mencicipi sup ayam buatannya. Mulutnya berdecak ringan sembari kepalanya manggut-manggut pelan.

“Oh ya, Sooji-ya.”

Kepalaku terangkat yang tadinya sibuk menikmati spaghetti sekarang menatap ibuku yang merubah ekspresinya sejenak.

“Apa kau ingin bertemu dengan ayah?”

Gumpalan mie pedas yang kulumat di bibir, susah payah kutelan dan masuk melalui kerongkongan.

“Jika kau mau, eomma bisa menghubungi ayahmu untuk kembali. Eomma akan—“

Gwenchana,” potongku sambil menyodorkan piring yang sudah kosong dan menggantinya dengan semangkuk sup.

Dalam ekor mataku, aku dapat melihat Jaehyun dan Jeno melirikku sekilas. Jaehyun berdehem sejenak, sedangkan Jeno pura-pura tidak mendengarkan.

“Seperti ini saja sudah cukup,” jelasku lebih lanjut.

Suasana sedikit berubah, ibuku kembali merunduk menatap makanannya. Dia hanya diam, tidak menggenggam sendoknya kembali.

Suara nyaring bel rumah memecah keheningan di antara kami. Membuat Jaehyun beranjak berdiri sambil berkata, “Biar aku yang membuka pintunya.”

Tidak lama kemudian adikku yang sudah beranjak remaja itu kembali dengan membawa sekotak besar di tangannya. Yang membuatku sedikit tersedak, di belakang Jaehyun telah berdiri Myungsoo dengan beberapa botol soda dan cemilan kecil.

“Myungsoo-ya!” pekik ibuku sambil mendekati Myungsoo dan mengambil alih barang bawaan Myungsoo, “Sudah lama tidak bertemu.”

Ne, ahjumma,” ucap Myungsoo lebih sopan.

“Sekarang kau lebih tinggi,” ujar ibuku jelas basa-basi, “Ah, kajja! Ahjumma dan lainnya sedang menikmati makan malam. Lebih baik kau bergabung sekarang.”

Dengan semangat ibuku mendorong tubuh Myungsoo. Memaksa pria itu untuk duduk di depan Jeno, lebih tepatnya di sampingku. Sedangkan Jaehyun sudah dari tadi kembali di tempatnya dengan meletakkan sekotak besar di meja.

Kedua mataku mengerjap beberapa kali. Heran dengan kedatangan Myungsoo yang tiba-tiba.

“Apa itu?” tanya Jeno mengarahkan pandangannya ke arah sekotak besar yang kutebak berasal dari Myungsoo.

Ddaebokki. Di perjalanan, aku sempat membelinya,” jawab Myungsoo.

“Wah wah, jadi Myungsoo kita ini masih menyukai ddaebokki ya?” kata ibu sambil membuka tutup kotak besar. Aroma mantap langsung tercium di batang hidungku. “Uri Sooji juga masih menyukainya.”

Wajahku melampiaskan senyum kikuk, malas mengakui ucapan ibu.

Kehangatan kembali menyelimuti kami dengan kehadiran Myungsoo. Meski yang lain menikmati santapan malam mereka, tetapi hatiku sedikit tidak enak. Sesekali aku melirik Myungsoo. Pria itu santai menyuapkan makanannya. Jauh di lubuk hatiku, aku merasakan sisi kemarahan Myungsoo.

.

.

Selesai makan malam, aku lebih memilih untuk masuk ke kamarku. Sementara Jaehyun menyantap habis soda dan cemilan yang Myungsoo bawakan. Adikku yang satu ini memang penggemar soda. Jeno sendiri cemberut karena tidak kebagian cemilan kecil itu.

Ketukan pintu kamarku terdengar membuat lamunanku terbuyar.

“Masuk!” ucapku disambut suara berderit pintu.

Muncul sosok jangkung yang tentunya adalah Myungsoo. Sedikit enggan, ia melangkah masuk. Mendekatiku yang sedang duduk di lantai kamar.

“Kau belum tidur?” tanyanya.

Aku menggeleng pelan. Kain beludru berwarna merah menjadi alas kami agar tidak bersentuhan langsung dengan lantai. Di atas kain lembut itu, terdapat beberapa buku berserakan. Sebuah buku terbuka dengan tulisan tanganku, sisanya koleksi novel milikku.

Sejenak kecanggungan berada di antara kami. Apakah tidak bertemu selama satu bulan memberi efek begitu besar pada persahabatanku dengan Myungsoo?

Omo!” sentak Myungsoo memecah keheningan, “Kau masih menyimpannya?”

Dahiku yang membentuk beberapa garis menoleh mengamati Myungsoo yang menyilangkan kedua kakinya. Pandangan pria itu mengarah pada pulpen berwarna mejikuhibiniu.

Pikiranku kembali memutar masa lalu, di mana kecerian masih ada di dalam tubuhku. Saat itu, tengah diadakan Ujian Kenaikan Kelas di sekolah dasar. Aku panik karena lupa membawa alat tulis. Tanpa mempedulikan dirinya sendiri, Myungsoo lebih memilih menyerahkan bolpoinnya padaku. Alhasil, Myungsoo melakukan remidi, sedangkan aku lolos dengan nilai sempurna.

Sekilas senyuman terbingkai di wajahku mengenangnya.

“Wow, kau merawatnya dengan baik,” ujarnya sudah meraih pena itu yang tadinya berada di sebelah koin bergambar burung merpati.

“Kau tau, saat itu kau benar-benar bodoh,” ucapku. Syukurlah, lidahku terasa lancar mengatakannya. “Dan aku merasa bersalah karenamu.”

“Aku rasa kini keadaan berbalik.”

Ucapan Myungsoo membekukan es dalam hatiku. Kedinginan terselip di antara untaian kalimatnya.

Ketika aku menoleh, ia membalas pandanganku dengan mata elangnya yang tajam.

“Sekarang ini aku yang merasa bersalah padamu.”

Untuk sesaat aku seperti terhipnotis oleh setiap kata yang ia lontarkan.

“Mengapa kau tidak memberitahukannya padaku?”

Segera aku membuang muka. Tidak berani menatap wajah keras milik Myungsoo.

“Apa kau tidak percaya padaku?”

“Myungsoo,” selaku cepat sebelum Myungsoo kembali melontarkan pertanyaan yang mampu menimbulkan luka di hati.

Aku menarik nafas pelan. Berpikir untu mengeluarkan kalimat yang tepat, “Apapun yang terjadi nanti. Jangan salahkan dirimu.”

Myungsoo segera mengalihkan kepalanya. Kedua tangannya asyik bermain dengan pena berwarna pelangi itu dengan sorot matanya yang kosong.

Terasa sesak di dada saat melihatnya. Ingin aku berkata maaf, namun lidah serasa kaku. Tak mampu berucap, hanya memekik pelan. Bahkan aku takut jika tanpa kusadari aku meneteskan air mata di hadapannya.

Maka tanpa mempedulikan respon terkejutnya, aku menyandarkan kepalaku pada paha kakinya yang ia silangkan. Nyaman.

Dapat kurasakan Myungsoo sejenak menegang, namun ketika aku memiringkan kepalaku, dia sedikit melunak.

“Tetap seperti ini. Untuk beberapa saat,” lirihku.

Lagi dan lagi, kepalaku terngiang membawa ke masa lalu. Saat Myungsoo tengah bersedih, dia akan selalu menyandarkan kepalanya pada kedua kakiku. Lantas tidak salah bukan jika aku melakukan hal yang sama untuk saat ini.

Terlalu rapuh, seolah rayap menggerogoti habis hatiku. Lemah, letih, lesu. Menggerutu? Tidak ada gunanya. Karena tidak peduli seberapa besar penderitaanku, takdir tidak dapat diubah.

Seperti ada magnet yang menarik kelopak mataku, sedikit demi sedikit aku terpejam, dalam pangkuan di kakinya.

—o0o—

Cahaya mentari menembus kaca jendela. Memantulkan berkas sinarnya. Menusuk sepasang mata milikku. Memaksaku untuk bangun dari mimpi. Dengan rasa pegal di leher, aku membangunkan diriku yang sudah berada di tempat tidur.

Kepalaku menoleh, melihat sekeliling. Aku berada di kamar.

Dengan malas aku menyeret kedua kakiku. Perutku sedari tadi meraung kelaparan. Rambutku sedikit kusut. Melihat buku dan koleksi novelku masih berserakan di atas kain beludru, keningku berkerut.

Aku berjongkok untuk memungut satu per satu buku milikku. Merapikannya dalam satu tumpukan. Gerakan tanganku terhenti di buku diary yang berjudul Rencana Hidup. Memandangnya sejenak seraya menutupnya.

Lagi, tanganku terhenti menatap sehelai kertas tersemat di antara buku yang masih berserakan. Perlahan aku meraihnya. Ekor mataku mulai membaca satu per satu tulisan tangan yang tertera.

 

Mianhae, aku tidak bisa melindungimu sampai akhir.

Kim Myungsoo.              

 

Sekujur tubuhku lemas selesai membacanya. Begitu singkat dan menghujam. Tetesan air mata mulai membanjiri pipi marunku.

—o0o—

Langit berlukiskan awan jingga. Bukit tanpa rumput itu terlihat seolah tak berpenghuni. Tersisa beberapa pohon yang sudah tidak memiliki dedaunan.

Ketika aku mengulurkan tangan, sebutir salju meleleh di telapak tanganku. Memberikan sensasi dingin, menandakan bahwa musim gugur telah berganti menjadi musim dingin. Sekilas senyumku mengembang.

Kedua tanganku beralih pada tanah yang kududuki. Jemariku bermain di atasnya. Tidak sedetikpun senyumku memudar.

“Kita pulang saja. Kau terlihat pucat.”

Ah, aku ingat. Tidak seorang diri aku berada di hamparan bukit yang menjulang tinggi, namun ada sesosok pria yang menemaniku sedari tadi. Ia, Choi Minho.

Gwenchana,” sahutku meski sebenarnya rasa nyeri mulai merambat di bagian lambungku. Bahkan keringat mengucur melewati pelipisku. Mungkin salju tidak dapat mengeringkan keringatku.

Sejenak Minho menatap tak yakin. Sehabis itu, ia melepaskan mantelnya seraya menelungkupkannya di tubuhku.

Aroma parfumnya yang maskulin tercium melalui mantel ini. Kehangatan dapat kurasakan.

Lantas aku menggeser posisi dudukku, lebih mendekati Minho. Dalam lirikanku, pria itu tengah melepaskan pandangannya jauh ke depan sana.

Semakin berusaha aku meraihnya, semakin rasa sakit menyerang perutku. Diriku meringis, begitu pelan hingga Minho tidak menyadarinya. Lagi-lagi kesakitan ini membelenggu seolah ada yang ingin merenggut organ dalam lambungku.

Pandanganku kabur seperti ada kabut. Wajah Minho tidak dapat terlihat dengan jelas. Namun pria itu masih sama, melamun dengan ekspresi datar yang sulit kumengerti.

Nafasku mulai berhembus secara perlahan. Kepalaku terasa sangat berat. Dalam sisa detak jantungku yang melambat, aku bersandar pada bahunya yang lebar. Merasakan lembutnya kaos putih yang ia kenakan.

Setelah itu, semua terasa begitu damai.

 

to be continued~~~

Berhubung selang waktu Hara post ff ini sekitar 7hari, mungkin kalian agak lupa sama cerita sebelumnya. Karena itu mulai sekarang tiap chapter hara kasih link ‘Previous’ nya *coba lihat di atas quotes*. Dan are you see? What happen with SUzy :”. Maap bgt klu ada yg kecewaaa T,T. Kasih komennya yaa, keluarin unek unek kalian, sepuasnya. Hara bakal nerima kok, malah bagus bgt buat yg ngasih saran. Tapi jgn pake kata kata kasar ne🙂

71 responses to “Pretend (Chapter 9)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s