It Is a Curse [Chap.6]

It is a Curse

Is It a Curse?

Cast:

Kim myungsoo
Park jiyeon

Other cast:

Park chanyeol

Genre: Fantasy,Romance, Sad/ Hurt

Author : @kethychan

A/N: Ini ff murni keluar dari otak ku, mungkin jika ada sedikit kesamaan itu hanya lah kebetulan semata. Please don’t siders and don’t plagiat ok😉

Summary: Apa ini sebuah kutukan? Jika memang ini sebuah kutukan kenapa harus aku yang mengalami semua ini? Kenapa tidak orang lain saja? Aku benci berada dalam situasi seperti ini!!

Backsong : Hyun ah –Can you love [ ost her lovely heels]

Entah kenapa saat menulis ff ini, aku ngerasa nyaman dan feel nya dapat pas denger lagu ini. Tapi aku gak tahu klo kalian[up to you] hanya recommend aja kq😀

Story Begin~

Myungsoo P.O.V

Perlahan –lahan langkah kaki ini telah memasuki lebih jauh pada ruangan gudang ini. Namun, aku belum mendapati tanda –tanda keberadaan Jiyeon, aku sudah berteriak –teriak memanggil nama nya. Namun, tak ada tanda –tanda keberadaan nya sama sekali. apakah namja brengsek tadi membohongi ku?. pikiran –pikiran buruk mulai menyelimuti benak ku tentang kemungkinan –kemungkinan yang di landa oleh Jiyeon.

 

Tetapi, dengan cepat aku menepis kemungkinan –kemungkinan bodoh itu.
Semakin dalam aku memasuki gudang kosong ini, tiba –tiba saja aku mendengar suara parau seseorang. Seperti nya aku pernah mendengar suara tersebut. Apa dia memang berada di sini? Ku percepat langkah kaki ini, aku tak ingin terlambat sedetik pun, karena aku tak ingin mengulang kesalahan ku di masa lalu.

 

Flashback

 

2 tahun lalu…

Mata ku terpejam sejenak, aku sangat lelah. Lelah sekali dengan keadaan yang ku hadapi saat ini. Hubungan orang tua yang tak akur dan mungkin mereka sudah berada di ujung tanduk menuju ke perceraian. Ini semua membuat ku sangat frustasi, aku ingin lari dari semua kenyataan ini, tapi aku tak bisa. Ada sebuah alasan yang bisa membuat ku tetap bertahan di rumah yang layak nya seperti neraka ini. Kim Hana. Yeodongsaeng yang berjarak 2 tahun lebih muda dari ku, dialah yang membuat ku tetap bertahan di tempat mengerikan ini.

 

Adik kecil ku yang selalu saja berusaha bersikap tegar padahal ia sangat rapuh. Selalu berusaha tersenyum bahagia padahal hati nya selalu menangis. Selalu tertawa dengan semangat nya. Namun, di balik tawa semangat itu tersimpan segudang bahkan lebih sebuah rasa putus asa. Kenapa aku bisa mengetahui semua hal itu? Karena aku oppa nya dan hanya aku orang yang berada di dunia ini yang tak mampu ia kelabuhi. Aku selalu mencoba membuat nyaagar mau bercerita tentang keluh kesah nya. Tapi, sayang nya ia terlalu tertutup dan itu yang membuat ku sedikit kecewa.

 

Walau ia tak mau bercerita tentang masalah nya semua itu tak masalah, mungkin suatu saat nanti jika sudah mendapat kan waktu yang tepat ia akan bercerita tentang keluh kesah nya pada ku. Aku akan menunggu hal itu. Di sore yang cerah ini, aku hanya bisa diam termanggu menatap foto keluarga ku, nampak di sana kami semua sangat bahagia. Namun, aku rasa kebahagiaan itu sebentar lagi akan hilang dan semua hanya akan menjadi kenangan pahit. Sedari pagi tadi aku sudah tak mendapati Hana, kemana dia? Kenapa sudah sesore ini ia belum kembali?

 

Dan kenapa dia sama sekali ak memberi kabar?. Sekarang pikiran ku mulai terfokus kan pada Hana, di mana adik kecil ku?

 

Drrrt drrrt
Suara ponsel ku, dan itu menyadar kan ku dari kekalutan yang menyelimuti ku saat ini. Nama Hana tertera di sana, dengan gerakan cepat langsung saja tombol hijau di ponsel ku tekan.

 

“Eodiya?” tanya ku to the point pada nya.

 

“Oppa, mianhae. Jeongmal mianhae telah merepotkan mu dan selalu membuat mu khawatir. Jeongmal mianhae Soo oppa, saranghae jeongmal saranghaeyo Soo oppa” sambungan terputus dengan sepihak. Aku tahu Hana pasti akan melakukan hal bodoh nya, dengan cepat ku cari lokasi nya dengan menggunakan GPS.

 

Setelah mendapatkan posisi pasti Hana, dengan cepat saja ku raih kunci motor ku dan menuju tempat tersebut.

“Hana –ya jebal jangan tinggalkan oppa. Jebal kajima” parau ku yang semakin mencepatkan kecepatan motor ku. Di fikiran ku hanya ada Hana seorang, aku tak ingin kehilangan nya. Bagi ku hanya Hana lah semangat hidup ku.

Sesampai nya di gedung tua pinggiran kota. Dengan langkah cepat aku memasuki ruangan tersebut. Langkah cepat ku seketika melambat mana kala aku mendapati seorang yeoja yang sangat ku sayangi tengah tersenyum getir kearah ku dengan perut yang berlumuran darah dengan tangan yang masih memegang pisau yang menancap dengan indah nya di perut yeoja tersebut.

“Hana –ya, apa yang kau lakukan?” ucap ku terbata dan perlahan –lahan berjalan mendekat kearah nya.

“Aku hanya ingin melakukan cara praktis agar segera meninggalkan dunia menyeramkan ini, oppa”Hana, suara nya mulai memarau dan darah segar kini mulai keluar dari mulut nya.

“Neo paboya! Apa kau kira hanya kau saja yang frustasi saat ini? Aku juga Hana –ya, tapi tetap berusaha bertahan dan itu semua karena mu. Tetapi kenapa kau malah meninggalkan ku sendirian? Apa kau tak memikirkan perasaan ku juga?! Kau egois!” ku robek kaos ku, dengan perlahan –lahan aku menarik pisau tersebut. Aku tak mau membuat nya terluka lebih dalam lagi. Ku lilitkan kaos yang ku robek tadi ke perut nya yang terluka setidak nya aku bisa menghentikan pendarahan nya. Ku gendong ia menuju motor ku, ku lepaskan syal yang bertengger di leher ku. Ku lilit kan syal itu di tubuhku dan Hana agar ia tak terjatuh saat aku mengendarai motor. Dengan kecepatan tinggi aku membawa nya ke rumah sakit, aku tak mau terlambat. Aku tak mau kehilangan orang ku sayangi lagi.

 

“Oppa mianhae, saranghae yeongwonhi…”

 

Kalimat terakhir yang ku dengar dari mulut nya dan selama nya aku tak akan pernah bisa mendengar kalimat itu lagi. Saat itu juga dunia ku menjadi hampa dan tak berarti lagi. Semua terasa seperti mimpi buruk, aku ingin segera di bangun kan dari mimpi buruk ini. Siapa saja tolong aku.
Hana –ya jebal kajima…

 

Flashback off

 

Yeoja dingin itu menatap sayu kearah ku. Di sudut bibir nya kini telah keluar darah segar. Melihat hal tersebut tangan ku mengepal, mata ku menatap tajam ketiga namja yang menglilingi Jiyeon. Berani –berani nya mereka melukai seorang yeoja. Dengan cekatan aku menendang tubuh namja yang berambut blonde itu. Namja itu jatuh tersunggur, akhir nya mereka menyadari kedatangan ku, namja yang tubuh sedikit subur itu membantu namja berambut blonde itu bangkit. Namja itu menatap ku tajam dan penuh amarah.

 

“Kukuku~ ternyata bocah tengik ini sudah bisa melewati Daehyung rupa nya, daebbak” decak namja itu sambil mengeras kan geraham nya.

 

Buk

1 pukulan keras mendarat begitu saja tanpa aba –aba sedikit pun dari ku ke namja berambut blonde itu. Rasakan itu karena telah berani –berani nya meremehkan ku.

 

“Lepaskan yeoja itu, jangan ganggu dia” teriak ku dengan lantang nya.

 

“Hahaha,,, seperti nya ada yang mau menjadi sok pahlawan!” decak namja bertubuh tambun itu meremehkan ku.

 

“Kau sendiri sedangkan kami bertiga. Kau sudah kalah mutlak bocah tengik, lebih baik kau pulang cuci tangan, cuci kaki lalu minum susu dan tidur.”decak remeh namja berkacamata itu. Ku kepalkan tangan ini dengan kuat.

 

Buk… buk … buk
Ku pukul namja berkacamata itu membabi buta, sekilas ku lihat kearah Jiyeon. Ia hanya menatap kea rah ku kosong. Seolah –olah ia seperi sedang memikirkan sesuatu. Kembali kepertengkaran ku dengan namja –namja pengecut ini,. Aku terus memukul ketiga nya dengan membabi buta dan aku tak memberikan mereka sedikit pun celah untuk memberi kan perlawanan. Tapi, perlahan –lahan aku mulai kewalahan menghadapi ketiga namja ini, namja yang bertumbuh tambun itu meraih tubuh ku dari belakang dan itu membuat ku tak bisa bergerak sedikit pun. Sialan.

 

“Kesempatan mu hyung!” ujar namja itu. Tanpa menunggu waktu yang lam. Namja berambut blonde itu telah memukuli wajah dan tubuh ku dengan rasa penuh amarah nya. aku tak bisa member perlawanan sedikit pun karena namja bertubuh tambun itu dengan kuat nya menahan tubuh ku agar tidak bisa bergerak sedikit pun.

 

“Jika pun aku harus mati di sini, aku akan rela. Karena aku telah berusaha untuk melindungi sosok misterius ini” batin ku pasrah.

 

Myungsoo P.O.V end

 

Author P.O.V

 

Namja –namja itu memukuli Myungsoo dengan membabi buta, mereka tak memberikan Myungsoo bergerak sedikit pun. Myungsoo hanya bisa mengerang kesakitan saat mendapatkan pukulan tersebut. Sedangkan Jiyeon hanya bisa menatap kosong kearah Myungsoo. Tanpa ia sadari air mata nya tengah mengenang di pelupuk mata nya, ia tak mengerti dengan diri nya sendiri. Kenapa ia menangisi namja itu? Kenapa ia merasa sesak saat melihat namja itu di perlakukan seperti itu pada ketiga namja pengecut itu?.

 

“Ada apa dengan diriku ini?” parau Jiyeon yang masih tetap bertahan untuk menatap kosong Myungsoo yang kini sudah babak belur.

 

“Aku rasa sudah cukup memberi pelajaran untuk bocah tengik ini. Kajja kita pergi!” perintah namja berambut blonde itu yang berjalan meninggalkan Jiyeon dan Myungsoo. Namun, namja berkacamata itu menghentikan langkah nya dan menatap Jiyeon tajam.

 

“Urusan kita belum selesai, secepatnya aku akan menemui lagi, yeoja monster” decak namja itu yang kini menyusul kedua teman nya. Myungsoo berusaha mendekatkan tubuh nya kearah tempat Jiyeon, Tangan nya berusaha menarik tali yang mengikat tubuh Jiyeon. Tak butuh waktu yang lama Myungsoo telah melepaskan tali pengikat tersebut, Myungsoo menatap sendu kearah Jiyeon.

 

“Neo gwenchanayo? Mani appayo?” tanya Myungsoo yang meraih dagu Jiyeon untuk melihat lebih dekat luka di sudut bibir Jiyeon.

 

“Neo paboya!” decak Jiyeon yang menyingkirkan kasar tangan Myungsoo dari wajah nya. Jiyeon langsung saja menarik tangan Myungsoo untuk memapah tubuh namja tersebut. Di sepanjang perjalanan, Jiyeon sama sekali tak mendapati sebuah taxi yang lewat dan itu membuat nya akan terus memapah tubuh namja itu sampai kerumah nya. Myungsoo memandangi wajah Jiyeon dari samping, seulas senyuman terkembang di wajah nya mana kala ia baru kali ini melihat ekspresi khawatir Jiyeon.

 

“Jiyeon –ah, lebih baik kau tinggalkan saja aku disini. Aku bisa pulang sendirian,” ucap Myungsoo parau.

 

“Aku tak sejahat itu, mana mungkin aku bisa meninggalkan namja yang hampir sekarat di pinggir jalan yang sepi ini,kau gila eoh” decak Jiyeon yang terus berjalan tanpa memadang sedikit pun kearah Myungsoo.

 

“Apa kau mengkhawatirkan ku karena kau menyukai ku atau kau khawatir karena kau merasa berhutang budi?” Myungsoo mengatakan kata –kata itu dengan menatap Jiyeon penuh arti. Sosok yang di tatap, kini balik menatap namja tersebut dengan mata yang nyaris hampir keluar dari tempat nya.

 

“Y –ya! Bu –busun Su –suriya?!”

TBC

PS: Mwah! Aku seneng banget chapter kemarin respon nya cukup memuaskan, dan rata2 pada minta lebih di panjangin. Mianhae soon nya lama banget soal nya Kethy kemarin2 sibuk sma urusan sekolah dan kebetulan juga plsa modem nya habis, tpi next chap di usahakan akan secepat nya di share kq… Gomawo untuk yang udah ngikutin terus kelanjutan ff ini😀 Eottoekhae? Masih kurang panjang kah? Mianhae, tapi segitu lah kemampuan Author, mianhae#bow Gajekah ?
Mianhae #Bow
Penasaran gak sana kisah selanjut nya?
Apa kah hubungan Jiyeon dan Myungsoo akan merambah lebih dekat lagi? Dan apakah Jiyeon bisa mengubah sedikit sikap dingin nya itu pada Myungsoo?
Kita tunggu ajh, ok di next chapter
And thanks for READER’S AND SIDER’S😀
Annyeong ~

45 responses to “It Is a Curse [Chap.6]

  1. Wah makin seru ajj,, moga aj jiyeon bisa ngerubah sedikit sifat dinginnya ke myungsoo jadi sedikit hangat,, dan hubungan mereka brrdua makin baik,,
    Lanjut baca nee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s