[CHAPTER – PART 7] The Other Side Of A Writer

parkhaera

 Author : Park Haera (Haerassi)

Main cast : Park Jiyeon, Kim Myungsoo, Cho Minho

Genre : Romance, Friendship

Rating : T

Length : Chapter

Poster : Babyhyunnie @ Poster Channel

Last Chapter :

“Jiyeo-“

“Woah!”

Myungsoo yang berbalik secara tiba-tiba membuat Jiyeon terkaget. Beruntung, Myungsoo dengan sigap menahan tubuh Jiyeon sehingga Jiyeon tidak perlu repot untuk mengeringkan bajunya setelah ini.
Bola mata mereka saling menatap, tidak ada salah satu dari mereka yang mencoba bergerak dari posisinya saat ini. Jarak antara kedua wajah mereka hanya sejengkal.Perlahan, Myungsoo mendekatkan wajahnya dengan wajah Jiyeon.

Empat senti..

Tiga senti… dua senti…

“Jiyeon-ah, saranghae..”

Jiyeon langsung memejamkan kedua matanya setelah mendengar Myungsoo mengatakan hal itu. Tak lama, ia merasakan sesuatu di bibirnya. Ia sadar, Myungsoo tengah menciumnya saat ini.

– Chapter 7 –

Krystal dan Jongin sama-sama memandangi mereka-Jiyeon dan Myungsoo- cengo. Ya, mereka mengikuti kemana Jiyeon dan Myungsoo melangkah.

 

(FLASHBACK)“Hah, mereka berdua sungguh serasi. Membuatku iri saja.”

Jogin terohok mendengar ucapan Krystal. Ia kemudian meletakkan kaleng minuman yang tadi ia pegang dan menoleh dimana Jiyeon dan Myungsoo berada.

“Kau iri pada mereka berdua?” tanya Jongin kemudian.

Krystal menoleh, “O, mereka sungguh serasi. Aku iri, wae? Mereka berdua sama-sama cute. Bahkan kau sama sekali tidak cute. Aish.”

Jongin mendesah mendengar ucapan Krystal. Hellowww… menurutnya, dirinya cukup cute bahkan terlihat manly di saat yang bersamaan. /Krystal : Bahkan dia terlihat hitam-_-/ #abaikan

Setelah terdiam selama sepuluh menit~

“O, mereka mau kemana?”

Jongin terpaksa ikut memperhatikan mereka, lalu muncul sebuah ide.

Bagaimana kalau kita ikuti saja? Yah, siapa tahu mereka mau mencari harta karun.”

Krystal meringis kecil, bagaimana ia bisa memiliki namjachingu yang kelewatan bodoh seperti ini, “Kajja.”(END OF FLASHBACK)

 

“Bahkan mereka masih sempat berciuman disini. Ditempat seindah ini. Myungsoo benar-benar romantis,” gumam Krystal pelan.

“Kau mau melakukannya denganku? Aku bisa.”

Krystal menolehkan kepalanya, “Ya!! byuntae!!”

“Ya!! byuntae!!”

Kata itu terdengar oleh Myungsoo. Ia tahu, ada orang lain disini. Perlahan, ia melepaskan tautan bibirnya dengan bibir Jiyeon.

“Kau masih betah, memejamkan matamu?” ucap Myungsoo sambil memandang Jiyeon usil.

Perlahan, Jiyeon membuka kelopak matanya. Pipinya merona ketika melihat wajah Myungsoo yang masih berjarak terlalu dekat dengan wajahnya.

“Wae?” tanya Myungsoo seraya menampakkan senyuman mautnya. Ia tahu, pipi Jiyeon merona dan mungkin akan terdengar mamalukan bagi Jiyeon sendiri.

“Bisakah kau—“

“Hm?”

“Bisakah kau.. melepaskan lingkaran tanganmu?”

Mata Myungsoo beralih pada tangannya yang masih melingkari pinggang ramping Jiyeon. Ia kemudian kembali menatap Jiyeon.

“Shireo, kau bisa jatuh ke dalam air,” jawabnya.

Jiyeon mendengus pelan, ia kemudian berusaha berdiri sendiri, namun kakinya tidak sengaja terpeleset dan…

Byur..

Myungsoo pun yang tadinya berniat untuk menarik lengan Jiyeon, bernasib sama. Mereka berdua tercebur.

“Drama apalagi ini?” gumam Krystal kesal setelah menyaksikan adegan Jiyeon dan Myungsoo yang tercebur. Kepalanya ia tolehkan ke samping, “Hya, bisakah kau bersikap manis seperti Myungsoo? Bahkan kau lebih terlihat menyebalkan.”

“Kau terlihat manis jika sedang marah.”

“Mworago? Naneun—“

“Kajja!” Jongin menyela. Ia berjalan mendahului Krystal.

“Apa yang dia katakan? Membuatku gugup saja.”

“Aish! Gara-gara dia aku jadi basak kuyub begini. Apa yang harus aku katakan pada oppa?!” Jiyeon menggerutu sambil berenang ke tepian. Setelah tubuhnya benar-benar telah sampai di tepian, ia langsung berdiri dan berjalan mendekat ke arah Jongin  dan Krystal.

“Jiyeon-ah, Myungsoo!!”

Jiyeon mengerutkan kening, “Myungsoo wae? Biarkan. Dia bisa berenang sendiri,” jawab Jiyeon kesal dan melanjutkan langkahnya.

“Aish! Myungsoo, dia tidak bisa berenang.”

“Jinjja?? Sebaiknya kau yang menolongnya, Kai-ah!” bisik Krystal pelan.

“Biarkan Jiyeon yang menolongnya,” jawab Jongin tak kalah pelan.

Seketika kaki Jiyeon berhenti melangkah. Sontak, ia langsung menoleh ke belakang dan menemukan Myungsoo sedang berjuang mati-matian untuk menyelamatkan diri. Tanpa ba-bi-bu, ia langsung berlari untuk menyelamatkan Myungsoo.

“Real couple,” ucap Jongin dan Krystal bersamaan.

“Myungsoo-a?”

Setelah sampai di darat, Jiyeon beberapa kali menepuk-nepuk pipi Myungsoo. Tapi, nihil, Myungsoo tidak kunjung bangun.

“Hya!! Eottokhae?” gumam Jiyeon frustasi.

“Eum, dulu aku pernah ikut PMR dan menurutku, dia mungkin akan bangun dengan cara memberinya nafas buatan.”
Jiyeon menegang mendengar usul dari mulut Krystal. Kepalanya kemudian menatap Krystal yang terduduk di depannya.

“Maukah kau—“

“YA!! SHIREO!!! Aku tidak mau merelakan kesucian bibirku untuk namja ini,” ucap Krystal menyela seraya memandang ngeri Myungsoo yang masih terkapar.

Jiyeon sebenarnya tahu betul bagaimana cara memberikan nafas buatan, akan tetapi, jika ia melakukannya, ia akan ingat kejadian saat di mana Myungsoo menciumnya tadi dan artinya, hari ini ia berciuman dua kali.

“Jiyeon-ah, cepat lakukan,” desak Jongin.

Tatapan mata Jiyeon teralih pada Jongin, “Kau saja yang melakukannya, Jonginie.”

Mata Jongin seketika melotot, “Ewh, sorry bro, aku tidak mau image ku hancur gara-gara mencium sesama namja.”

Jiyeon mendengus pasrah. Dengan agak ragu, tangannya perlahan terangkat dan tak lama jari-jarinya sukses menutup hidung Myungsoo. Lalu ia mulai mendekatkan wajahnya perlahan-lahan.

Jongin dan Krystal yang melihatnya memasang eskpresi tertahan sampai-sampai Krystal tidak tahu jika ada nyamuk yang memasuki mulutnya.

Jiyeon mengambil nafas sebanyak-banyaknya dan meniupkannya ke mulut Myungsoo. Ia melakukannya berkali-kali sampai Myungsoo akhirnya tersadar.

“Uhuk.. uhuk,” Myungsoo dan Krystal secara serentak terbatuk-batuk.

“Gwenchana?” Kini, Jongin dan Jiyeon yang secara bersamaan mengucapkan kalimat itu.

“Myungsoo-a gwenchana? Aigoo, kenapa kau tidak bilang jika kau tidak bisa berenang? Aish.”

Myungsoo terduduk dan menatap lembut Jiyeon, “Kau… menghawatirkanku?”

“O, tentu saja tidak,” ucap Jiyeon sambil bangkit. “Kajja, kita kembali,” lanjutnya dengan tingkah sedikit gugup.

Myungsoo tersenyum melihat Jiyeon yang berjalan menjauh, ia kemudian menoleh ke arah Jongin dan Krystal. Namun setelah melihat keadaan Krystal, keningnya berkerut.

“Apa dia juga tenggelam seperti aku?” tanya Myungsoo dengan ekspresi cengo.

Jongin menatap Myungsoo, “Apa dia terlihat seperti orang tenggelam, huh? Bajunya saja tidak basah.”

Mata Myungsoo melihat penampilan Krystal, “Iya sih. Lalu?”

“Bisakah kau ambilkan air atau apalah.”

Myungsoo sedikit berpikir, ia kemudian menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Setelah menemukan sesuatu yang ia cari,  ia segera bangkit dan berjalan ke arah di mana benda itu berada.

 

Tak lama…

 

“Igeo.”  Myugsoo menyodorkan air dengan daun sebagai wadahnya.

Jongin langsung menyambar air itu dan ia berikan pada Krystal. Keadaan Krystal membaik setelah meminum air itu.

“Gomawo.” Myungsoo mengangguk mendengar ucapan terima kasih dari Krystal.

“Kau tidak megucapkan terima kasih untukku?” tanya Jongin kesal.

“Memangnya kau yang mencarikan air untukku? (menolehkan kepala) Eo, Myungsoo-a, kau mendapatkan air itu dari mana?” tanya Krystal pada Myungsoo.

“Danau,” jawabnya dengan wajah innocent.

“MWO?! Aku meminum air danau?” sahut Krystal dengan memandang daun yang tadi sempat berisi air yang ia minum.

“Ya.. mau bagaimana lagi, daripada kau mati. Setahuku disini tidak ada air matang.”

Jiyeon melangkah dengan menghentak-hentakkan kakinya kesal, “Aish! Ini semua berawal dari Myungsoo.”
Setelah sampai di  area camping, ia sesegera mungkin berjalan menuju tendanya. Akan tetapi..

“Kau dari mana?”

Jiyeon menghentikan langkahnya ketika mendengar seseorang mengucapkan kalimat tersebut dengan nada yang terengar dingin. Jiyeon berbalik.

“Habis kecebur.”

Setelah mengatakan kalimat itu, sesegera mungkin Jiyeon berjalan dengan muka tertekuk.

“Hya! Aku Oppamu! Kau darimana? Jika kau sakit, appa akan bertanya padaku dan menyuruhku untuk bertanggung jawab.”

Jiyeon kembali berbalik dan mendekat ke arah oppanya.

“Aku akan mengatakan bahwa ini murni perbuatanku. Apa yang Oppa permasalahkan?” ucapnya setelah langkahnya terhenti.

Jungsoo mendengus mendengar ucapan dongsaengnya, “Neo paboya? Walaupun kau berkata seperti itu, appa tidak akan percaya padaku. Kau seha—“

“Sunbae.”

Myungsoo yang tiba-tiba datang langsung menyela. Ia kemudian berdiri di samping Jiyeon.

“Sunbae, ini semua salahku. Aku yang membuatnya basah kuyub seperti ini. Jika Jiyeon sampai jatuh sakit, saya akan bertanggung jawab dan akan menjelaskan semuanya pada Tuan Park.”

Jungsoo memperhatikan penampilan Myungsoo yang sama basahnya dengan Jiyeon dari atas sampai bawah, “Memangnya kalian dari mana?”

“Eum.. kami dari danau,” jawab Myungsoo sedikit ragu.

“Kau akan kena marah,” bisik Jiyeon pelan karena melihat ekspresi serius yang Myungsoo keluarkan.

“Jinjja?? Lalu, bagaimana?”

“Aish!! Kau bodoh. Harusn—“

“WHOA? JINJJA?? DISINI ADA DANAU? Aigoo!!!  Kenapa kalian tidak mengajakku?” celoteh Jungsoo histeris.
Myungsoo dan Jiyeon sama-sama melempar tatapan cengo.

Minri berjalan mendekat pada seorang yeoja yang masih asyik bersantai di bawah pohon.

“Suzy-a!”

Yeoja itu- Suzy- sontak menoleh setelah mendengar ada suara seseorang yang memanggil namanya.

“Apa kau melihat Krystal?”

“Krystal? Aku tidak melihatnya. Mungkin ia bersama Kai. Anak itu, sepertinya sekarang lebih dekat dengan kelompok si cupu Jiyeon itu,” gerutu Suzy kesal. Namun, ekspresinya berubah ketika teringat akan sesuatu.

“Minri-a, kita lakukan malam ini.” Suzy tersenyum miring.

“Oppa tidak marah?” tanya Jiyeon pada Jungsoo yang masih tersenyum-senyum sendiri tidak jelas. Senyuman Jungsoo memudar ketika mendengar ucapan Jiyeon. Ia kemudian menatap tajam Jiyeon.

“Aku tentu marah. Bahkan masih marah. Ah, tapi aku merasa kasihan pada wajah tampanku ini jika ternodai oleh ekspresi marah.”

“Cih, bahkan kau masih sempat narsis. Kenapa kau menjadi oppaku? Sudah jelek, narsis, hidup lagi,” gerutu Jiyeon kesal.

Myungsoo pun memasang ekspresi datar, “Sunbae, semua orang tahu jika aku lebih tampan darimu, lebih kaya darimu dan lebih tinggi darimu,” ucapnya kemudian.

Ekspresi Jungsoo yang tadinya terlihat sumringah menjadi datar, bahkan kepulan asap telah keluar dari lubang hidung dan kedua teliganya.

“Eoh, sepertinya kita akan mendapat masalah besar,” bisik Myungsoo pada Jiyeon di sebelahnya.

“Tenang saja aku memiliki rencana.”

Myungsoo bingung, “Kita tidak memerlukan rencana, yang kita perlukan hanya—“

“LARIIII!!!!”

Myungsoo memperhatikan Jiyeon yang berlari mendahuluinya, “YA!! aku baru akan mengatakannya!”

“Kau tidak lari?”

Myungsoo menoleh mendengar ucapan Jungsoo, “Huh, baiklah.” Kemudian ia berbalik dan melangkah santai.

Jungsoo memandang mereka cengo.

Tak terasa sang mentari mulai meredupkan sinarnya dan sang bulan pun mulai bersiap untuk menampakkan diri. Keadaan di area camping itu yang tadinya sepi mulai ramai oeh para siswa yang bersenda gurau ataupun yang menunjukkan bakatnya dengan bernyanyi dan memainkan alat musik. Para panitia pun begitu, mereka masih sibuk menyusun kayu untuk dijadikan api ungguk dengan dibantu oleh beberapa siswa.

Lain lagi dengan dua sijoli yang masih sibuk duduk berdua sambil bercerita. Suasana hangat menyelimuti mereka.

“Apa aku boleh tahu, apa yang menyebabkanmu tidak bisa berenang, atau.. kau memang tidak bisa berenang?” Jiyeon terdiam sejenak, kemudian ia malah tertawa, “Ah, kalimat apa tadi yang aku katakan? Terkesan berantakan.”

Myungsoo tersenyum tipis mendengar ucapan Jiyeon, ia kemudian menarik nafas, “Dulu, aku, appa, dan eomma adalah keluarga  bahagia. Aku masih ingat saat kami bertiga berjalan-jalan di taman. Aku dan eomma bermain ayunan dengan appa yang mendorongnya. Kami tertawa cerah, bahkan kesedihanpun malas untuk menyapa keluarga kami saat itu.”

Pandangan Myungsoo lurus ke depan, “Semuanya berubah ketika aku sering melihat appa pulang bersama seorang perempuan. Awalnya hanya aku yang mengetahuinya, karena appa akan melakukan hal itu jika eomma sedang tidak di rumah. Tetapi suatu hari, eomma pulang secara mendadak dan pada saat yang bersamaan, appa sedang bercumbu dengan wanita itu. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan eomma saat itu.”

Ucapan Myungsoo terpotong, tatapan matanya teralih pada gelas yang berisi minuman yang ia pegang, ia menarik nafas panjang, “Dulu, saat aku berumur delapan tahun, aku pernah mendapatkan medali ketika mengikuti olimpiade renang. Aku juga bingung kenapa sekarang aku menjadi phobia dengan air danau, laut, ataupun sungai yang dalam. Bodoh.”

Myungsoo tersenyum kecut, “Semuanya mengingatkanku pada kejadian malam itu… malam di mana kami sekeluarga pergi menggunakan kapal pribadi, appa ingin memperbaiki semuanya, aku terlau bahagia saat itu. Awalnya, aku dan eomma masih bercanda sambil melihat sunset. Namun, appa datang tanpa kami tahu dan.. appa mendorong eommaku ke lautan. Saat itu aku berteriak dan terjun dari kapal menuju ke lautan, berkali-kali appa meneriaki namaku untuk segera kembali ke kapal.”

“…Tapi aku tidak menanggapinya, orang tua itu begitu kelewatan. Aku mencari-cari eommaku, tapi tidak ada. Aku berenang sejauh yang aku bisa untuk mencari eommaku. Aku memutuskan kembali ke kapal ketika saat aku menyelam, akumelihat sebuah hiu yang menuju ke arahku. Beruntung, saat itu posisiku tidak terlalu jauh dari kapal sehingga ku bisa selamat. Yah, seperti itu lah. Bagaimana denganmu? Apa kau memliki ceri-”

Myungsoo menoleh, ia melihat air mata Jiyeon meluncur indah dari matanya.

“Hya! Kenapa kau malah menangis? Apa sebegitu tragisnya kisah hidupku?” tanya Myungsoo sambil tersenyum.

Jiyeon langsung mengusa kedua pipinya dengan tangannya, “Aku hanya terbawa suasana. Aku mengerti apa yang kau rasakan. Sejujurnya, aku juga kecewa dengan eomma kandungku. Ia meninggalkan appa begitu saja setelah memberikan surat yang aku ketahui dari oppaku bahwa itu adalah surat cerai.”

“Aish, sudahlah. Kita lupakan masa lalu itu. Eum, bagaimana kalau kita ke—“

“Ke mana?” ucap Jiyeon penasaran dengan ucapan Myungsoo yang terkesan menggantung.

Myungsoo tersenyum jahil, “Sebegitu penasarannya kau, Nyonya Kim.”

“Percaya diri sekali kau jika aku akan menjadi Nyonya Kim,” sahut Jiyeon ketus.

Myungsoo sedikit berpikir, “Euntahlah, aku hanya memiliki keyakinan jika kau akan menjadi Nyonya Kim.”

“Hai!”

Seseorang tiba-tiba datang dan mengganggu dua sijoli yang masih berbincang.

“Sepertinya aku mendengar suara. Tapi dimana?” ucap Myungsoo sambil mencari-cari di kolong meja.

“Eo, nado.” Giliran Jiyeon yang mencari cari asal suara itu di rerumputan.

“YA!!”

“Tuh kan, suara itu ada lagi,” gerutu Myungsoo sambil memasang ekspresi kesal.

“Aish, aku hanya menemukan jangkrik disini.” Kemudian Jiyeon meletakkan jangkrik itu di tangannya, “Ya! apa kau tadi yang berbicara pada kami? Katakan,” ucapnya pada jangkrik itu. Minho –orang yang datang itu- memandang ngeri ke arah Jiyeon.

Myungsoo mengangkat kepalanya dan menatap ke arah jengkrik itu, “Jiyeon-a, bukankah wajah jangkrik ini seperti Minho?”

“Kenapa aku baru sadar jika mereka mirip,” ucap Jiyeon meng-iyakan.

“Dasar gila,” Minho duduk di depan mereka.

Serentak, Myungsoo dan Jiyeon menatap Minho dengan tatapan deathglare.

“A… se-sebaiknya ak-aku pergi. An-nyong~”

Myungsoo : “Masa kita dibilang gila.”

Jiyeon : “Yang gila itu siapa?”

Myungsoo : “Tapi, kenapa kita ngomong sama jangkrik.”

Jiyeon : “Iya juga, sih.”

Author : “Sip, abaikan couple gaje ini.”

 

-Malam harinya –

“Sip, selamat malam guys!!!!” Jungsoo mengucapkan salam pada para siswa yang duduk melingkar.

“Malam!!!” jawab para siswa serentak. Jungsoo tersenyum melihat ke antusiasan hoobaenya ini.

“Uhm, sebentar lagi, akan ada acara bakar-bakar sambil menyalakan api unggun. Satu lagi, nanti, saat jam tidur, namja se-tenda dengan namja dan yeoja se-tenda dengan yeoja. Arraseo? Satu tenda maksimal lima orang.”

“Arraseo!”

“Sunbae, jika satu orang setenda bagaimana?”

Jungsoo menoleh, “Siapa namamu?”

“Bae Suzy.”

“Pantas.” Jungsoo kembali menatap para siswa, “Untuk sekedar catatan, kalian akan kami anggap egois jika hanya memperdulikan diri kalian sendiri.”

“Apa-apaan orang ini? Menganggapku sebagai orang egois, huh?” gerutu Suzy, namun masih terdengar oleh Minri dan Krystal yang duduk di sebelahnya, namun, Minri hanya bisa diam.

“Kau memang egois,” jawab Krystal ketus.

“Mwo?”

“Aku tidak akan mengikuti aliranmu lagi.”

Suzy tersenyum miring dan memandang kepergian Krystal.

“Hai!”

Jiyeon mendongak dan tersenyum pada seseorang yang tiba-tiba duduk di sebelahnya.

“Minho-a, perasaanku tidak enak.” Minho menoleh mendengar ucapan Jiyeon.

“Aku bisa menjadi pelindungmu jika kau mau,” jawab Minho menenangkan, ia kemudian memandangi langit.

“Jiyeon-a, kau melihat bintang itu?”

Jiyeon menoleh dan mengikuti kemana arah jari Minho menunjuk, “Tiga bintang?” tanyanya bingung.

Minho menggeleng, tangannya turun.

“Itu empat bintang, namun, satu bintang berada jauh pada bintang utama. Dan kau melihat dua bintang yang berada berdekatan?” Jiyeon mengangguk. Sebenarnya ia bingung kemana arah pembicaraan Minho.

“Memangnya ada apa dengan bintang-bintang itu?” tanya Jiyeon penasaran.

“Apa kau bisa menyimpulkan sebuah arti berdasarkan letak bintang-bintang itu?” tanya Minho sambil tersenyum lembut.

Jiyeon sedikit berpikir, ia mencoba mengembangkan imajinasinya, “Eum, menurutku, dua bintang yang berdekatan itu saling mencintai, namun, cinta mereka tidak selamanya mulus. Berbagai rintangan menghadang mereka termasuk sebuah bintang yang letaknya hampir berdekatan dengan mereka. Tapi, aku masih bingung dengan satu bintang lagi yang letaknya sangat jauh, apa dia juga kejam seperti bintang yang satunya?”

Minho tersenyum, “Bintang itu bukan sebagai penghalang ataupun bersikap kejam seperti bintang itu. Bintang itu hanya diam dan mencoba membuat semuanya dalam keadaan baik, walaupun bintang itu sering merasakan apa yang namanya patah hati. Sebisa mungkin, ia merelakan bintang yang ia cintai bahagia dengan bintang lain walaupun itu artinya bahwa dirinya sendiri tidak merasakan apa yang namanya bahagia.”

Jiyeon termenung mendengar ucapan Minho, sekilas, ia berpikir jika dua bintang itu dirinya dan Myungsoo lalu bintang yang satu itu adalah Suzy. Ia kemudian menoleh dan menatap Minho seakan meninta penjelasan.

“Bintang itu siapa?”

Minho menatap sendu Jiyeon, haruskah ia mengatakannya? Namun, jika ia tidak mengatakannya, mungkin ia akan menyesal seumur hidup karena tidak membiarkan Jiyeon tahu bahwa ia mencintainya. Minho baru tersadar bahwa ia sebenarnya juga menyukai  Jiyeon seperti halnya Myungsoo. Namun, nasib mereka berbeda. Sangaat berbeda.

Minho menarik nafas, Haruskah aku mengatakannya?

“Bintang itu adalah…”

.

.

.

.

.

TBC

Sebelumnya minal aidzin walfaizin~ Selamat Hari Raya Idul Fitri ya~ maaf kalau ngucapinnya telat, hehe😀

Aduh ini telah banget updetnya~ sorryyyy~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ sorry juga kalau ceritanya aneh bin berantakan. Typonya juga bertebaran :3

THANKS FOR READ AND DON’T FORGET TO GIVE ME YOUR FEEDBACK😀

aku makasih banget buat para readers yang udah setia baca cerita aneh ini~ thank you😀

67 responses to “[CHAPTER – PART 7] The Other Side Of A Writer

  1. Ommo! Skrg minho juga suka sama jiyeon? Drama. Dan apa aja rancangan suzy? Harap2 tidak mengapa-apakn Jiyeon. Tunggu update nya.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s