[ONESHOOT] The Second Year

myungji-tsy2

The 2nd Year

written by Quinniechip

Infinite’s L – T-ara’s Jiyeon || and other minor cast || Romance Friendship School Life || Teen || Oneshoot

The best feeling in the world is being loved back by the person you loved

-oOo-

Angin semilir menerpa wajahku. Masih terasa dingin karena baru kemarin butiran salju berhenti turun, dan pagi ini pun sisa salju yang menempel di ranting pohon masih belum hilang, mungkin hanya beberapa saja yang beterbangan diterpa angin musim semi.

Aku menghela nafas panjang. Menatap bunga yang mulai tumbuh bermekaran di pekarangan depan rumahku, seketika mengingatkanku pada seorang Kim Myungsoo, lelaki biasa yang menjalani hidupnya dengan normal, bahkan bisa disebut sangat normal disaat lelaki lain melakukan hal yang luar biasa.

Tiada yang istimewa darinya. Hanya lelaki yang selalu memakai rapi seragamnya dan kacamata yang selalu bertengger di hidungnya. Tetapi entahlah, aku merasakan ada yang berbeda dari dirinya, dan mungkin hanya aku yang melihatnya seperti itu –aku harap–

Terkadang aku heran dengannya yang selalu teguh pada pendiriannya. Dia berteman ah.. bahkan bersahabat dekat dengan Jongin dan Minho. Disaat Jongin sibuk berkelahi dan Minho memulai aksinya menjadi cassanova penjuru sekolah, ia hanya duduk diam memperhatikan sambil membenahi kacamata yang terkadang turun dari hidungnya.

Entahlah apa yang membuatnya mau berteman dengan dua manusia dengan sifat yang bertolak belakang dengannya, mungkin hanya karena mereka selalu ditempatkan di kelas yang sama.

Aku mengingat ketika aku baru saja masuk kedalam sekolah ini, dan menjalani masa-masa orientasi yang menurutku cukup menyebalkan untuk dikenang. Bagaimana tidak, kelasku terpisah dari Sooah dan Jieun, dan bisa aku pastikan aku akan menjadi gadis pendiam untuk beberapa saat.

Ternyata dugaanku benar, aku hanya bisa diam saat senior pendamping menjelaskaan tentang seluk beluk sekolah ini, sebelum seorang gadis dengan tiba-tiba berdiri disampingku dan tersenyum manis.

Aku menatapnya bingung, dan secepat mungkin menarik bibir membalas senyumnya. Ia menyodorkan tangannya dan mengajakku berkenalan, dan saat itu juga aku mengetahui jika gadis itu bernama Jung Soojung.

Soojung begitu senang bicara. Ia selalu menceritakan segala hal dengan bahagia, dan aku hanya bisa menyauti dengan senyum dan tawa. Tak heran jika senior pendamping sering menegurku dan Soojung.

Aku juga tak melupakan saat aku dan Soojung ditempatkan dalam satu kelompok bersama tiga orang sahabat itu, Myungsoo, Jongin, dan Minho.

Hari itu adalah hari dimana aku mulai mengenalnya dan ia pun mengenalku.

Entah hanya kebetuan atau apa, yang terjadi sekarang aku dan Soojung bersama ketiga sahabat baru itu –Myungsoo, Jongin, dan Minho– kini berjalan berdampingan dan harus bekerja sama mendapatkan tanda tangan dari semua senior dan petugas sekolah untuk melepaskan nametag bertuliskan ‘DALAM MASA HUKUMAN’ ini.

Aku memang sadar jika aku ini salah, tetapi haruskah aku dan keempat teman sama nasib ini menjalankan hukuman disaat siswa lain mendapatkan materi dari motivator terkenal itu. Ah.. mengingatnya membuatku benar-benar iri!

“Hah, aku rasa akan sulit mendapatkan tanda tangan dari para senior dengan nametag seperti ini. Pasti mereka akan semakin mempersulit semuanya.” Keluh Soojung sambil terus memperhatikan nametag miliknya.

Aku hanya mengangguk setuju, “Pasti. Aku tak habis pikir dengan semua peraturan yang mereka buat.”

“Mereka pikir sekolah ini kecil, seenaknya saja menyuruh mencari semua senior dan petugas sekolah lalu meminta tanda tangannya. Bahkan aku tak yakin mereka sendiri bisa melakukannya.” Gerutu Minho.

“Huh, jika saja orang itu tak melawan tadi, mungkin hukumannya tak akan seberat ini.” Lirik Soojung pada seseorang disamping Minho tajam.

Lelaki disamping Minho –yang aku kenal bernama Jongin– menoleh, “Apa? Kau mau menyalahkanku?”

“Ne. Memang ini semua salahmu, bukan? Kau menolak bahkan membentak Dasom sunbae, seharusnya kau tahu jika Hyunseong sunbae tak akan tinggal diam dengan perlakuanmu.” Balas Soojung langsung.

Jongin dengan cepat maju menghadap Soojung, “Hei, gadis manja! Jangan salahkan aku dengan apa yang terjadi padamu, jika saja kau tak pernah membuat keributan dengan gadis disebelahmu it- aaww!”

“Sudah diam. Jika kau ini lelaki kau tak akan pernah membentak wanita seperti itu.” Ucap lelaki berkacamata disebelah Jongin.

Jongin langsung menggerutu pelan dan dibalas Soojung dengan senyum kemenangannya. Minho hanya menggelengkan kepalanya melihat ‘drama’ dihadapannya. Sedangkan aku, terus memperhatikan lelaki itu, lelaki dengan kacamata dan buku yang baru saja dipakainya untuk memukul kepala Jongin.

“Hei, bukankah itu Lee ahjusshi, ayo cepat selesaikan ini!” Tunjuk Minho, “Lee ahjusshi!”

Dari atas pohon Lee ahjusshi –petugas kebersihan sekolah kami– menoleh, “Bukankah kalian siswa baru? Mengapa kalian berada disini?”

“Ini..” Soojung menunjukkan nametagnya pada Lee ahjusshi, “Menagapa Lee ahjushi berasa diatas sana?”

“Hmm setiap tahun pasti ada saja hal seperti ini.” Lee ahjusshi mengelap butiran keringat yang turun di dahinya, “ Aku harus merapikan ranting pohon yang tumbuh tak beraturan.”

“Lee ahjusshi, apa boleh jika kami minta-”

“Jiyeon awas!”

Sreett!

“Omo!”

Pikiranku masih kosong, bahkan mataku tak bisa melirik, yang aku lihat kini hanya kacamata dan dasi yang terpasang rapi, milik Kim Myungsoo.

“Ya Tuhan! Maafkan aku..”

Aku tahu itu suara Lee ahjusshi. Aku ingin menoleh, tapi entah apa yang menahanku, pandanganku terpaku padanya, tak ingin lepas.

Dan sejak saat itu aku selalu memperhatikannya. Tidak, aku bukan penguntit yang selalu mengawasi setiap gerak-geriknya. Hanya saja ia terasa berbeda dimataku, berbeda dari lelaki lain.

Aku jatuh cinta padanya? Tidak, lebih tepatnya belum. Tapi setelah saat itu, perasaan itu seketika berubah..

Bel berbunyi menandakan pelajaran olahraga hari ini selesai. Soojung sudah mengajakku untuk cepat menuju kantin, karena sedari tadi Soojung sudah mengeluh haus dan lapar. Belum aku sempat berjalan, mataku lebih dulu menangkap sosoknya yang masih sibuk bermain basket dengan Jongin.

Satu hal yang baru kuketahui tak lama ini adalah, dia sangat menyukai permainan basket, kata Soojung itu salah satu caranya untuk menaikkan tinggi badannya, dan aku hanya bisa tertawa mendengar hal itu.

Satu lagi hal yang baru aku ketahui tentangnya, ia akan terlihat lucu tanpa kacamatanya. Ya, hari ini dia datang ke sekolah tanpa kacamata, dan aku cukup kaget melihatnya, pasalnya aku sekalipun tak pernah melihatnya beraktivitas tanpa kacamata.

Kelasku mendadak ramai, semuanya langsung memberondongnya dengan banyak pertanyaan pagi itu.

“Hei Myungsoo-ya, ada apa denganmu?”

“Dimana kacamatamu?”

“Kau masih bisa melihat, kan?”

Dan aku hanya bisa tersenyum memperhatikannya.

Tepat setelah bel berbunyi Soojung langsung menarikku menuju kantin. Sampai di kantin aku baru sadar jika aku meninggalkan ponsel di bawah pohon, dengan sedikit berlari aku kembali lagi ke lapangan dan..

Bruukk..!

Aku memejamkan mataku, dan sesuatu yang cukup berat menimpa tubuhku.

“Omo!”

Seseorang tiba-tiba berteriak dan aku tahu itu pasti Minho.

“Myungsoo-ya, cepat bangun jika kau tak mau lebih lama menjadi pusat perhatian.”

Tunggu. Apa katanya tadi? Myungsoo? Oh Tuhan semoga…

“Ma.. maaf, aku tidak sengaja.”

Aku terdiam, tak menjawab. Dengan mulut yang terbuka, aku hanya bisa menatapnnya. Aku yakin aku seperti orang bodoh saat ini.

Keringat biji jagungnya yang menetes dari dahinya, juga wajahnya yang tampak berbeda, aku terus memperhatikannya. Dia tampan.

Deg!

Ya Tuhan apa ini?

Tarikan tangan Jongin pada baju miliknya membuatku sadar dan mengikutinya untuk bangun, “Ehm, maaf aku-”

“Park Jiyeon!” Teriak seseorang dari jauh, “Hei, kau baik-baik saja, kan?”

Soojung terus berteriak heboh melihat diriku, “Aku baik-baik saja.”

“Ya! Mengapa kau diam saja? Mengapa kau tak langsung berteriak atau apa agar aku datang dan menolongmu?” Tanya Soojung memberondong saat siswa lain sudah mulai bubar dan ia berbalik pergi.

“Soojung-ah..” Ucapku masih menatap punggung Myungsoo yang menajuh, “Aku rasa, aku telah jatuh cinta..”

Sejak saat itu, aku meyakinkan diriku jika aku telah benar-benar jatuh hati padanya. Ia baik, ia ramah, ia tak macam-macam, dan satu lagi yang aku kagumi darinya, ia lelaki yang sopan.

Ia bukan tipe seorang petarung seperti Jongin yang kasar. Ia juga bukan seorang cassanova seperti Minho yang bisa meluluhkan hati wanita dalam sekali kedip. Ia normal. Siswa biasa yang tidak istimewa. Tapi dia adalah orang pertama yang sukses mencuri hatiku.

Ini sudah tahun kedua sejak pertama kali aku menyukainya. Ini juga musim semi kedua semenjak hari pertama hatiku bersemi karena seorang lelaki. Ya dia Kim Myungsoo.

Ini juga sudah tahun kedua aku terus memendam perasaan ini. Walau setiap saat Soojung terus memaksaku untuk mengatakannya langsung pada Myungsoo.

Aku pernah mencoba memberitahunya, tidak secara langsung, tapi melalui surat dan coklat. Ini ide dari Soojung yang menurutnya akan berhasil, karena ia pernah melakukannya pada seniornya dulu.

Kebetulan saat itu juga adalah hari valentine, dan Soojung semakin memaksaku untuk cepat memberikannya pada Myungsoo. Tapi belum sempat aku memberikannya, nyaliku sudah ciut terlebih dahulu, aku takut aku malu. Dan akhirnya rencana yang aku dan Soojung buat gagal, aku membuang coklat dan surat itu ke tempat sampah.

Tentu saja Soojung langsung memarahiku ketika aku bercerita padanya. Ia langsung menyeretku ke tempat aku membuang coklat dan surat itu, Soojung memaksaku untuk memberikannya dengan bujukan ia akan berdiri di belakangku.

Tetapi saat aku mencarinya, surat dan coklat itu sudah hilang. Aku dan Soojung sampai mengeluarkan semua isinya, dan kami sudah terlihat bagaikan pemulung. Saat tempat sampah itu sudah kosong, aku dan Soojung hanya saling berpandangan. Mungkin memang, aku tidak ditakdirkan untuk mengungkapkan perasaanku pada Myungsoo.

Sejak saat itu aku tak mau lagi berusaha mengungkapkannya, trauma gagal pada percobaan pertama benar-benar melanda diriku. Setelah aku pikir-pikir, memberikan coklat dan surat cinta itu memalukan, seorang wanita menyatakan perasaannya pada lelaki lebih dulu.

“Kau hidup di tahun berapa Jiyeon-ah? Zaman sudah berkembang. Tak akan ada yang mempermasalahkan jika kau menyatakannya lebih dulu.”

Memang benar apa yang dikatakan Soojung, tetapi tetap saja aku tak akan melakukannya. Tidak akan!

“Bukankah itu menyakitkan jika harus terus menerus memendamnya tanpa dia pernah tahu.”

Sekali lagi aku setuju dengan apa yang dikatakan Soojung, tapi entahlah, aku masih terlalu malu untuk menyatakannya.Bahkan pada kenyataannya dia masih bersikap biasa saja padaku. Tanpa pernah menampakkan tanda-tanda apapun, tertarik padaku pun sepertinya tidak.

Walaupun begitu, aku masih bisa bernafas lega, karena Myungsoo bukanlah seseorang yang mudah dekat dengan orang lain, apalagi perempuan.

Bukannya aku mengekangnya untuk tak berteman dengan gadis lain, sama sekali bukan, lagipula apa hak ku untuk melakukan semua itu, tetapi memang Myungsoo adalah seseorang yang cenderung pemalu dengan orang baru. Mungkin teman wanita yang paling dekat dengannya hanya aku dan Soojung.

Pernah suatu kali aku mendengar bahwa Myungsoo dekat dengan gadis dari kelas sebelah, Son Naeun, dan bahkan aku sampai tak bisa tidur karena terus memikirkannya.

Predikat ‘teman perempuan terdekat’ dari Kim Myungsoo yang aku dan Soojung miliki mungkin akan segera tergantikan sebentar lagi. Bagaimana tidak, mereka kemana-mana berdua, saat istirahat pun mereka menghabiskan waktu berdua, hanya Myungsoo dan Naeun, tanpa Minho ataupun Jongin yang biasa selalu bersamanya. Bahkan seringkali Myungsoo mengantar Naeun pulang.

Setiap hari aku terus menghabiskan waktu di bawah pohon besar belakang sekolah, dan hampir setiap kali aku mengingatnya membuatku menangis.

Ini sudah hari keempat aku terus menghabiskan banyak waktu di tempat ini. Diam dan merenung, memikirkan tentangnya.

Tes..

Oh lagi-lagi aku menangis karenanya. Kim Myungsoo, lelaki itu, sukses membuat mataku bengkak setiap harinya. Beruntunglah aku memiliki teman seperti Soojung, yang selalu mau aku ajak bersedih, selalu mau mendengarkan segala keluh kesahku.

“Myungsoo dan Naeun memang benar-benar dekat sekarang, aku harap hubungan mereka tak lebih.”

Aku langsung mengangkat kepalaku dari bahunya, “Tidak. Myungsoo pasti menyukai Naeun, begitupula sebaliknya.”

“Jiyeon-ah, jangan berkata seperti itu. Lalu bagaimana denganmu?”

“Mungkin aku harus menyerah. Tak ada guna aku mempertahankannya jika ia sudah bersama Naeun.”

“Andwe!” Teriak Soojung, “Kau tak boleh menyerah begitu saja!”

“Hei hei! Apa yang kalian ributkan di tempat seperti ini, wahai dua gadis cantik?” Rayu Minho yang tiba-tiba datang.

Aku dan Soojung langsung menoleh, dan dengan cepat aku menghapus air mataku.

“Kau habis menangis, Jiyeon-ah?”

Pertanyaan Jongin langsung aku jawab dengan gelengan kepala, “Tidak, aku baik-baik saja.”

“Huh, tumben sekali kau perhatian pada orang lain.” Cibir Soojung pada Jongin.

Jongin hanya menatapnya tajam, “Kenapa? Ada masalah, nona manja? Kau iri atau cemburu?”

“Ciihh! Apa yang harus aku harapkan dari siswa bermasalah se-”

“Haish! Beberapa hari ini terasa cukup sepi karena Myungsoo jarang bersama kita lagi, iya kan Jongin?” Potong Minho cepat.

Jongin hanya mengangguk, “Ya sedikit, semenjak ia terus bersama Naeun.”

Mendengar ucapan Jongin, sekali lagi membuatku kembali mengingat tentang Myungsoo. Bahkan bukan hanya aku yang merasakannya, dua sahabatnya ini pun ikut merasakan.

“Sebenarnya kapan olimpiade itu akan dilaksanakan?”

“Olimpiade?” Tanya Soojung, “Olimpiade apa?”

Minho menatap kearahku dan Soojung, “Kalian tak tahu? Myungsoo akan mengikuti olimpiade, oleh sebab itu dia sekarang lebih sering menghabiskan waktu bersama Naeun, karena mereka berdua yang akan mewakili sekolah kita.”

Jadi selama ini. Oh Tuhan..

“Jadi, kau masih akan terus menyukai Myungsoo, kan, setelah mengetahui ini?” Bisik Soojung, dan aku hanya tersenyum.

-O-

Pagi ini Kang songsaenim mengisi jadwal pelajaran pertama di kelasku. Tak seperti pelajaran lain, pelajaran Kang songsaenim ini merupakan pelajaran yang paling digemari oleh hampir seluruh siswa, termasuk juga aku.

Pembawaannya yang santai dan ramah, membuat tembok kehormatan yang umumnya berada diantara guru dan murid menjadi hilang. Bukannya kami sebagai murid sudah tak menghormatinya lagi, tetapi kami lebih memandangnya sebagai teman yang lebih tua.

Pakaian yang selalu ia kenakan sehari-hari juga tak seformal guru biasanya. Celana kain, kemeja, rompi, dan dasi kupu-kupu menjadi gaya khas dari seorang Kang songsaenim.

“Selamat pagi semua..”

“Selamat pagi ssem!” Jawab kami semua serempak.

Ia lalu tersenyum, “Baiklah kalian tahu apa yang akan kita pelajari di semester ini?”

“Seni lukis?”

“Seni tari?”

Kang songsaenim hanya menggeleng, “Bukan itu, ada tebakan lain?”

“Seni musik?” Tebakku menjawab.

“Yap! Tepat sekali. Semester ini kalian akan mempelajari tentang seni musik..”

Kang songsaenim berdehem sejenak, “Apakah kalian tahu betapa indahnya sebuah musik itu?”

Aku dan yang lainnya hanya diam, menunggu penjelasan lebih lanjut darinya, “Kini aku bertanya pada kalian, sebenarnya apakah arti musik itu?”

“Sebuah lagu.” Sahut Soojung asal.

“Itu contoh Jung Soojung, ada lagi?”

Myungsoo mengangkat tangannya, “Sebuah nada?”

Kang songsaenim terlihat berpikir, “Benar, tapi bukan itu jawabannya.”

“Sudahlah ssem, jawab saja, tak usah membuat kami menebak lagi.” Ucap Jongin malas.

Dengan cepat Myungsoo mencubit lengannya, “Hush, bersikaplah lebih sopan Kim Jongin!” Bisik Myungsoo.

Aku yang duduk di belakang mereka bersama Soojung hanya bisa tertawa melihat tingkah mereka. Siswa yang sopan dan siswa berandal jika dijadikan satu seperti ini memang akan menciptakan suatu kejadian yang mengundang senyum dan tawa. Seperti Myungsoo dan Jongin saat ini.

Memang tak salah jika aku menyukai seorang Kim Myungsoo. Dia baik dan sopan. Benar-benar pria idaman wanita.

“Jadi musik adalah suara yang disusun demikian rupa sehingga mengandung irama, lagu, dan keharmonisan, terutama suara yang dihasilkan dari alat-alat yang dapat menghasilkan irama.”

“Walaupun musik merupakan suatu pengetahuan yang datang secara langsung tanpa ada asal dan usulnya, tetapi proses penciptaan dan persembahan sebuah musik merupakan suatu seni.” Lanjut Kang songsaenim.

Aku dan murid lainnya hanya mengangguk mengiyakan tanpa membantah.

“Baiklah, untuk memperdalam pengetahuan kalian tentang seni, silahkan kalian membentuk sebuah kelompok yang terdiri dari enam orang dalam satu kelompok, dan ketua kelompok silahkan mencatat dan menyerahkannya padaku.” Perintah Kang songsaenim yang mendapat teriakan ‘ya’ dari semua murid.

Aku menghadapkan badan pada Soojung, “Jadi kau akan berkelompok dengan siapa?”

“Tentu saja dengan kau dan-”

“Mudah saja, bentuk kelompok seperti biasanya.” Sahut Minho tiba-tiba yang sudah berada disamping mejaku dan Soojung.

“Aku, kau, Soojung, Jongin, Myungsoo dan..” Minho mengedarkan pandangannya keseluruh kelas.

Aku juga ikut melihat kearah seluruh kelas, terlihat semuanya sudah berkumpul dengan kelompoknya masing masing, kecuali..

“Shin Dongho!” Panggilku pada Dongho yang sedari tadi hanya diam sambil melirik kearah kanan dan kirinya.

“Ya!” Bisik Jongin, “Kau akan mengajak siswa aneh itu untuk bergabung dengan kita?”

Soojung langsung menjitak kepala Jongin, “Ya! Siswa bermasalah, tak usah kau membeda-bedakan seseorang. Jika saja tak ada kami, kau juga tak akan mendapatkan kelompok!”

“Benar apa yang dikatakan Soojung, tak baik membeda-bedakan seseorang seperti itu.” Ucap Myungsoo menasehati dan hanya dibalas dengan sebuah anggukan malas.

Satu lagi poin tambahan baginya, ia tak membeda-bedakan seseorang, apapun bentuknya ia tetap menganggapnya sebagai seorang teman.

“Dongho-ya, kau belum memiliki kelompok bukan?” Tanya Minho pada Dongho.

Dongho hanya menjawabnya dengan sebuag anggukan, “Bergabunglah dengan kami, masih kurang seorang lagi.”

Dongho langsung tersenyum dan menganggukkan kepalanya setuju.

“Baiklah kelompok sudah terbentuk, Myungsoo-ya kau catat nama kelompok kita dan serahkan pada Kang ssem.”

Myungsoo terlihat bingung, “Aku yang jadi ketua kelompok?”

Aku baru tahu jika ia bingung wajahnya akan selucu ini, apakah hal ini harus aku masukkan dalam daftar poin tambahannya?

“Tentu saja.” Balas Jongin, “Kau kira siswa manja ini yang akan menjadi ketuanya, mau jadi apa kelompok kita nanti.”

Soojung yang disindir langsung menjawabnya dengan nada suara yang cukup tinggi, “Kau kira mau jadi apa kelompok kita jika kau yang menjadi ketua kelompok, huh!”

“Sudah..” Leraiku jengah, “Kalian ini selalu saja, berhentilah mencari gara-gara satu sama lain.”

“Jangan salahkan siapa-siapa jika suatu saat nanti kalian akan jatuh cinta.” Sahutan Minho hanya dibalas dengan sebuah pukulan.

“Ah iya anak-anak, dengarkan aku!” Teriak Kang songsaenim cukup kencang, “Untuk tugas akhir kalian, bentuklah kelompok masing-masing dua orang.”

“Tugas akhir kami tentang apa, ssem?” Tanya seseorang dari arah belakang.

“Aransemen musik.” Jawab Kang ssem pendek, “Dan kalian bisa mulai mempersiapkannya setelah tugas kelompok ini selesai.”

“Dan satu lagi, tugas akhir ini akan ditampilkan secara umum, jadi kemungkinan akan banyak siswa lain yang melihat. Jangan mempermalukan diri kalian sendiri, arraso?”

Soojung mengangkat tangannya bertanya, “Ssem, kelompok tugas akhir, kami boleh memilih sendiri atau ditentukan?”

“Haruskah aku yang menentukan?” Kang songsaenim terlihat berpikir, “Baiklah aku akan menentukannya, aku yakin jika kalian menentukan sendiri, pembagiannya pasti tidak merata.”

Kang songsaenim mengambil daftar nama kelas kami. Dalam hati aku berdoa agar aku ditempatkan satu kelompok dengan Soojung, karena dia memiliki suara yang bagus sangat bagus.

Sebenarnya suaraku tidak jelek, tapi aku tak yakin akan bisa bekerja sama dengan baik seperti aku bekerja sama dengan Soojung.

“Yoo Youngjae dan Jung Soojung..”

Bahuku melorot sejadi-jadinya, jika Soojung ditempatkan bersama Youngjae, tidak mungkin aku akan bersama Soojung.

“Ah tidak, Yoo Youngjae kau bersama Han Sunhwa.”

Aku tersenyum seketika. Masih ada kesempatan aku dan Soojung ditempatkan dalam satu kelompok. Soojung juga terlihat tersenyum kearahku, “Aku harap aku bisa satu kelompok denganmu.”

“Choi Minho dengan Bae Suzy.”

“Jung Soojung dan Kim Jongin.”

Aku mengerucutkan bibir kembali, harapanku untuk satu kelompok dengan Soojung hilang sudah. Aku menolehkan kepala kearah Soojung, dan hanya raut wajah kaget yang aku lihat darinya.

“Ssem, mengapa aku harus bersama dengan gadis manja itu? Lebih baik aku satu kelompok dengan Dongho daripada bersamanya.” Protes Jongin langsung.

Soojung hanya menatapnya tajam, “Kau kira aku mau satu kelompok dengan siswa bermasalah sepertimu. Sudah, Dongho-ya kau bersamaku saja.”

“Sudah terima saja..” Minho terlihat senyum menahan tawanya, “Kalian terlihat cocok bersama.”

Soojung dan Jongin saling berpandangan dan memberikan tatapan –aku-ingin-muntah– satu sama lain.

“Selanjutnya..” Kang songsaenim terlihat kembali meneliti daftar nama di depannya, “Park Jiyeon dan..”

Ya Tuhan namaku disebut! Aku terus memanjatkan doa, semoga aku ditempatkan bersama siswa yang mudah aku ajak bekerja sama, memiliki suara yang bagus seperti Daehyun atau pintar bermain musik seperti Jonghyun atau-

“Kim Myungsoo.”

Hah?

“Park Jiyeon dan Kim Myungsoo.”

Ya Tuhan! Apa ini? Apakah aku salah dengar? Aku.. aku dengan Myungsoo? Kim Myungsoo?

“Jiyeon-ah! Kau dengar, kau satu kelompok dengan Myungsoo! Ini sebuah kesempatan agar kau bisa lebih dekat dengannya!” Bisik Soojung pelan tepat ditelingaku.

Aku terbangun dari kekagetanku dan menarik nafas sebelum mataku melirik kearah Myungsoo yang berada di depanku.

Saat kuarahkan pandanganku pada Myungsoo, aku melihat Jongin sedang tersenyum dengan menaikkan alis pada Myungsoo, dan Myungsoo hanya membalasnya dengan senyuman tipis.

Kemudian Myungsoo menoleh kearahku, melihatku ia langsung tersenyum seakan mengatakan –kita-pasti-bisa– dan aku langsung membalasnya dengan senyum dan anggukan. Ya! Aku pasti bisa!

-O-

Ini sudah kali ketiga aku dan Myungsoo latihan untuk tugas akhir yang diberikan Kang songsaenim. Saat aku berada di perpustakaan, ia tiba-tiba datang dan menawarkan untuk latihan lagi. Akupun setuju dan ia mengatakan jika pulang sekolah nanti ia menungguku di bawah pohon besar belakang sekolah.

Dan sekarang disinilah aku, di bawah pohon besar belakang sekolah bersama Myungsoo dengan gitar yang rencananya akan ia gunakan pada penampilan kami nanti.

Belum ada perkembangan yang cukup drastis dari latihanku dan Myungsoo. Kami berdua lebih banyak diam dan tak bicara satu sama lain, aku tahu bahwa kunci kesuksesan dari sebuah kerja sama adalah komunikasi. Tetapi aku terlalu malu untuk memulainya.

Dua pertemuan latihan kemarin kami habiskan untuk mencari lagu apa yang ingin kami bawakan dan mencari sumber inspirasi dari internet. Aku dan dia sudah menentukan jika lagu Officially Missing You-lah yang akan kami bawakan dan kemungkinan hari ini aku dan Myungsoo akan mulai mencoba aransemen yang sudah ia buat sedikit di bagian awal.

Aku dan Myungsoo tak hanya latihan berdua saja disini, kami selalu latihan bersama Soojung, Jongin, Minho, dan Suzy, tetapi kami berpencar dan memberi jarak agar tidak saling mengganggu jika terlalu berdekatan.

Jangan tanyakan jika tentang Soojung dan Jongin, jika aku lihat sepertinya mereka belum ada kemajuan sama sekali. Jongin memang terlalu malas untuk melakukan semua ini, dan emosi Soojung akan semakin naik setiap Jongin menolak tawaran baiknya untuk latihan bersama. Dua kali latihan sebelumnya, hanya mereka habiskan dengan bertengkar dan adu mulut. Untung saja Soojung masih ada sedikit kesadaran untuk mencari beberapa lagu untuk dibawakannya.

Dari tiga kelompok ini, mungkin hanya Minho dan Suzy yang sudah menunjukkan kemajuan pesat, lagu Ring Ding Dong yang akan mereka bawakan sudah berhasil mereka aransemen sebagian.

“Jadi bagaimana, kau suka?” Tanyanya setelah ia selesai memainkan aransemen yang telah ia buat.

Aku hanya mengangguk, “Aku suka, itu keren! Jadi kita akan membawakannya secara akustik?”

“Ya, itu cara paling mudah dalam mengaransemen lagu..” Tawanya. Manis.

Aku ikut tertawa bersamanya, “Aku rasa itu benar, tapi semudah-mudahnya ini akan tetap sulit.”

Ia hanya mengangguk, “Tapi dengan waktu lima minggu sebelum tugas akhir ini ditampilkan, aku rasa kita bisa menampilkannya dengan sangat baik.”

“Semoga..”

Latihan hari ini terasa begitu cepat dan menyenangkan. Hubunganku dan Myungsoo mengalami kemajuan, kami jadi lebih banyak bicara satu sama lain sekarang. Ia orang yang menyenangkan, ia juga lucu. Aku baru tahu jika dia sangat suka bermain musik karena ayahnya dulu adalah seorang pemain musik yang handal, ya itu yang ia katakan tentang ayahnya karena ia sangat mengangumi sosok ayahnya.

“Soojung dan Jongin..” Ia memulai percakapan lagi, “Bukankah mereka berdua terlihat lucu.”

Aku menoleh padanya, “Ya, mereka selalu bertengkar setiap bertemu, bahkan sampai sekarang aku tak mengetahui apa yang menyebabkan mereka selalu bertengkar.”

“Aku pernah membaca jika cinta bisa datang dari rasa benci, dan aku tak sanggup membayangkan bagaimana jadinya jika seorang berandal seperti Jongin jika berpacaran dengan gadis manja seperti Soojung.” Balas Myungsoo dan aku hanya mengangguk.

“Lalu bagaimana denganmu?” Tanyanya.

Aku menatapnya bingung, “Apa?”

“Apakah kau sudah memiliki pacar?” Ia bertanya lagi.

Aku hanya terdiam kaget sambil mencerna kata-katanya, apakah kau sudah memiliki pacar, aku tak menyangka ia akan menanyakan hal semacam ini.

Setelah cukup lama terdiam dengan ekspresi yang kuyakini sangat aneh aku langsung tertawa –gugup– “Hah, apa yang kau katakan, apakah kau pernah melihatku dekat dengan lelaki lain selain kau, Minho, dan Jongin?”

Ia hanya menggendikkan bahunya, “Entahlah, mana aku tahu.”

“Tidak, tidak. Aku masih sendiri.” Jawabku cepat, “Bahkan aku belum pernah berpacaran.”

“Benarkah?”

Aku hanya mengangguk yakin, dan ia hanya tersenyum sambill mengangguk mengiyakan.

-O-

Sudah lima minggu berlalu sejak latihan ketigaku dan Myungsoo, dan selama lima minggu itu pula aku menghabiskan banyak waktuku untuk latihan bersamanya. Tak jarang hari minggu pun kami gunakan untuk latihan bersama.

Mengingat tentang lima minggu bersamanya membuatku sekali lagi ingin tersenyum, bukankah ini sebuah kemajuan pesat dibandingkan dengan saat sebelum project tugas akhir ini? Ya aku senang dan rasanya aku sangat berterimakasih pada Kang songsaenim yang telah mengelompokkanku dengan Myungsoo.

Hari ini adalah hari dimana aku dan Myungsoo juga siswa lain dari kelasku akan tampil menunjukkan aksi hasil aransemen kami. Kemarin aku dan Myungsoo sudah menghabiskan lima jam kami untuk terus berlatih agar hasilnya menjadi lebih maksimal lagi. Aku dan Myungsoo juga sudah berjanji tak akan menyesal ataupun marah satu sama lain saat ada yang melakukan kesalahan pada saat tampil nanti.

Di ruang tunggu aku terus menggerakkan kakiku tak nyaman, aku benar-benar gugup saat itu. Aku mencoba menarik nafas dalam dan membuangnya berkali-kali, tetapi tetap saja rasa gugup ini tak hilang.

“Jangan gugup.” Ucap Myungsoo yang tiba-tiba datang dan menggenggam tanganku, “Kau harus tenang ya..”

Deg! Deg!

Ya Tuhan, aku bukan semakin tenang, aku malah semakin gugup dibuatnya!

“Ah Minho dan Suzy sudah naik panggung, ayo lihat..” Ajak Myungsoo yang melepas genggamannya dariku.

Penampilan Suzy dan Minho begitu menakjubkan, Ring Ding Dong versi mereka benar-benar bagus, bahkan lebih baik dari penyanyi aslinya.

Penampilan Soojung dan Jongin yang sudah tampil lebih dulu diurutan pertama juga cukup bagus sebagai pembuka, perpaduan antara suara Soojung yang lembut dan rap dari Jongin sangat unik jika disatukan dalam lagu One of a Kind.

Penampil urutan 7 baru saja menyelesaikan lagunya, dan kini saatnya bagiku dan Myungsoo untuk tampil. Sekali lagi aku menarik nafas dalam dan menghembuskannya panjang. Aku meliihat kearah Myungsoo melakukan hal yang sama denganku, dan ia menatap kearahku.

“Kita pasti bisa!”

Aku hanya mengangguk yakin, “Kita pasti bisa!”

Tepukan tangan dari siswa-siswi yang sudah berkumpul sejak tadi untuk menyaksikan teman-adik-kakak kelas yang akan tampil sudah terdengar riuh sejak aku naik dan menampakkan diri pada mereka.

Myungsoo lalu duduk di kursi yang telah disediakan, karena dia juga memainkan gitar, jadi tak mungkin melakukannya dengan berdiri. Sedangkan aku tetap berdiri. Sekali lagi aku menatap Myungsoo yang tengah bersiap dengan gitarnya, berharap agar aku mendapat kekuatan lebih dengan melihatnya.

Petikan pertama gitarnya terdengar.. petikan keduanya.. dan..

hanadul nae gyeot-eul tteonaganeun amado daleun salam-eulo mannal
oh please tell me why’d you have to go cause this pain I feel it won’t go away
hanado seulpeujineun anh-ass-eul jul hangadeug nam-aissneun heunjeogdeul
gat-i usgo un gieog-e today I’m officially missing you
Ooh can’t nobody do it like you
Say every little thing you do
hey baby Say it stays on my mind And I-I’m officially missing you
I’m officially missing you
jina on chueog, yeoleum-eseobuteo chuwojin oneulkkajido hamkke kkum kkun hanaui sowon
ganeun gil-i gat-a seolo deo gip-eojineun mam il-i jal an pullyeodo bal ppeodgo gippeo janeun bam
bang-eul chaeudeon ongileul mol-anaen oeloun gong-gi ong-gijong-gi moyeo buleudeon nolaeui hyang-gi
yeah I’m officially missing them I’m officially missing you
Well I thought I could just get over you ajig but-eoissneun neoui ileumpyo
But I see that’s something I just can’t do yeonseubjang-e ppaegoghi geulin eumpyo
jigeum-eun aswiumman ango tteonassjiman eonjenga han kkum-e dasi oleugil
All I hear is raindrops falling on the rooftop Oh baby tell me why’d you have to go
‘Cause this pain I feel it won’t go away And today
Ooh can’t nobody do it like you Say every little thing you do
hey, baby Say it stays on my mind And I’m officially missing you
hanadul nae gyeot-eul tteonaganeun amado daleun salam-eulo mannal

Diam. Sunyi. Semuanya tampak hening.

Aku dan Myungsoo telah menyelesaikan lagunya, lalu bagaimana?

Satu tepukan tangan terdengar jarang, dan aku tersenyum ketika semua orang di aula yang melihat berdiri dan bertepuk tangan dengan sangat meriah.

Aku melihat kearah Myungsoo yang juga memandang kearahku –kita-berhasil– sekali lagi aku tersenyum.

“Jiyeon-ah, terimakasih..” Ucapnya setelah kami turun dari panggung.

Aku menatapnya bingung, “Untuk?”

“Terimakasih karena telah berusaha agar penampilan tadi menjadi luar biasa.” Aku hanya bisa tersenyum menjawabnya.

“Bukan hanya karena aku tapi-”

GREB! Ia memelukku..

Aku diam. Diapun diam.

Deg! Deg! Deg!

“Dan terimakasih karena selama ini kau telah mencintaku dengan begitu tulus..”

A.. apa? Di.. dia? Ya Tuhan!

Aku mundur melepas pelukannya, “Ka..kau?”

Ia hanya mengangguk, “Ya, aku mengetahuinya. Maaf jika ungkapan ini begitu mendadak bagimu, tapi aahh..! Aku tak tahu lagi harus berkata apa.”

Masih dengan rasa kaget yang mendominasi. Aku mencoba tersenyum, lucu melihatnya terlihat gugup yang sibuk menggaruk kepalanya yang tak gatal.

Aku menariknya dan menyandarkan kepalaku di dadanya, “Terimakasih, karena kau sudah membalas cintaku.”

“Tapi tunggu..” Aku kembali melepas pelukannya, “Darimana kau tahu semua ini?”

“Ehhmm.. Bagaimana mengatakannya. Coklat dan surat di hari valentine itu-”

Aku kembali terkaget, coklat dan surat di hari valentine? Bukankah aku..

“Bukankah aku sudah membuangnya, bagaimana bisa-?” Tanyaku menatapnya.

Myungsoo menarik nafasnya sejenak, “Jongin memungutnya dari tempat sampah dan memberikannya padaku.”

Belum sempat aku menjawab, ia sudah menyela lagi, “Kau. Mengingat hal itu membuat aku sedikit sakit hati, aku jadi merasa kau juga ikut membuangku.”

“Maaf..” Balasku menyesal, “Aku malu saat itu, aku tak berani mengungkapkannya. Tapi percayalah saat itu aku benar-benar menyesal, sebenarnya aku ingin mengambilnya lagi dan memberikan padamu, tetapi coklat dan surat itu sudah hilang dan-”

“Sudahlah tak tak apa..” Potong Myungsoo lembut, “Yang terpenting sekarang aku dan kau sudah sama-sama mengetahuinya.”

“Kau tahu, sejak aku membaca surat darimu, setiap hari aku selalu memperhatikanmu, semua tingkah lakumu dan semua yang kau lakukan. Kau tahu betapa senangnya aku saat kau berkata padaku jika kau tak pernah memiliki pacar, aku merasa sangat istimewa karena menjadi cinta pertamamu.”

“Siapa bilang kau cinta pertamaku, aku hanya berkata jika aku tak pernah memiliki pacar.” Ucapku sambil tersenyum jahil.

Ia mengerucutkan bibirnya, “Ya! Kau benar-benar menghancurkan harapanku..”

Aku hanya tertawa melihat ekspresi lucunya.

“Sudahlah aku tak peduli soal cinta pertama, dan berarti sekarang aku-”

Chu~

“Saranghae!”

Ia terdiam. Aku langsung berlari sambil tertawa kencang.

“Ya! Park Jiyeon!”

Rasa terbaik yang ada di dunia adalah ketika orang yang kau cintai membalas cintanya, aku yakin itu benar karena aku sudah membuktikannya sendiri. Ah aku benar-benar bahagia sekarang. Terimakasih Tuhan, akhirnya aku bisa merasakan kebahagiaan sebesar ini, bersamanya..

-END-

Note :

Oh~ haloooooo semua!

Aku kembali bukan membawa 15:40:45 tapi malah bawa oneshoot yang apalah ini

Eh aku juga mau ngucapin selamat hari raya idul fitri, maafin ya kalo aku selama ini punya salah yang disengaja atau tidak, mungkin ada dari kata-kata aku yang menyinggung kalian, sekali lagi maaf..

Comment please yes! Sarannya juga boleh kok~

85 responses to “[ONESHOOT] The Second Year

  1. Kyaaa manis banget. Aku juga suka pas adegan Kai ngasih kode ke myungsoo pas myungyeon sekelompok. Tapi awalnya aku kira Kai ngeledekin myungsoo karena myungsoo yang duluan suka jiyeon, ternyata oh ternyata… Kai yang mungut cokelatnya.

  2. Jdi mrk berdua sama sama suka…
    Hdp myungyeon… tpi kisah kaistal Ъќ ad lnjtannya y… mrka jadian ato gmna??

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s