[ CHAPTER – PART 12 ] RAINBOW AFTER THE RAIN

art super oke banget

Tittle : Rainbow After The Rain
Author : gazasinta
Main Cast : Park Jiyeon, Bae Suzy, Choi Minho, Kim Myungsoo
Genre : Family, Friendship, Romance
Rating : PG-15
Length : Chaptered

Hi Chingudeul, aku kembali membawa ff ini, sebenarnya aku lagi ga semangat untuk menulis part 12 ini, tapi janji harus ditepati.

Setelah membuat oneshoot “ I Catch You “ yang responnya sangat memuaskan menurut aku, jadi semangat lagi deh nerusin nih FF, silahkan menikmati, jika merasakan feelnya kurang dapet, mianhae….cuma seginilah kemampuan author menulisnya dalam waktu 4 jam.

Taqabballahu minna wa minkum, Taqaballahu ya Karim

Mohon maaf lahir dan bathin

Juga, mohon dimaafkan jika dibeberapa part tidak membalas komen kalian.

Cekidot yak, typo itu wajar mumpung masih lebaran pasti dimaapin kan*maksa

Part 12

Uhuk-uhuk-uhuk

“ Eomma minumlah ini, agar kau lekas sembuh “ ucap Jiyeon menyodorkan obat dan segelas air putih kepada Taehee.
Dengan tangan sedikit gemetar Taehee meraih apa yang Jiyeon berikan dan segera meminumnya.

Jiyeon memandang Taehee cemas, persediaan obat yang Myungsoo berikan hanya cukup untuk besok pagi, sementara untuk beberapa hari kedepan eommanya sudah tidak sanggup untuk membuka kedai, Jiyeon berencana untuk menggunakan uang tabungan yang masih tersisa untuk membeli obat untuk eommanya besok.

Taehee dengan susah payah mencoba mengambil nafas dan membaringkan tubuhnya diatas kasur tipis yang biasa ia gunakan, Jiyeon dengan cekatan membantu kemudian menarik selimut untuk menghangatkan tubuh eommanya.

“ Berhentilah untuk berhubungan dengan mereka “ ucap Taehee tiba-tiba kepada Jiyeon dengan pandangan lemah.

Jiyeon terdiam, ia tidak mengerti siapa yang dimaksud eommanya “ Nugu ? “ tanyanya dengan wajah polos.

“ Keluarga Kim “ ucap Taehee singkat, ia melihat raut kesedihan diwajah Jiyeon setelah mengatakan itu.

Walau begitu Jiyeon mencoba tersenyum dan hanya mengangguk, ia tidak mau menambah keadaan eommanya semakin buruk memikirkan hal yang tidak-tidak.

“ Kita tidak bisa selalu mengandalkan mereka untuk tetap bertahan hidup, jadi berhenti menerima apapun bantuan mereka, termasuk kebaikan Kim Myungsoo“ lanjut Taehee tidak ingin menimbulkan salah paham Jiyeon.

“ Apa kau masih menemuinya hari ini? “ tanya Taehee menyelidik.

Jiyeon menatap wajah Taehee serba salah, ia memang masih menemui Myungsoo pagi tadi, namun ia pastikan menjadi pertemuan terakhir sebelum benar-benar meninggalkan tempat ini seperti yang eommanya kemarin katakan.

“ Akuuu, pagi tadi….masih menemui Myungsoo oppa “ ucap Jiyeon menunduk takut.

Taehee menghela nafasnya berat dan hanya memandang Jiyeon, ia sebenarnya juga tidak tega menghalangi anaknya untuk berhubungan dengan keluarga Kim terutama Myungsoo yang sudah sangat baik terhadapnya, namun ia tidak mau Jiyeon akan celaka karena perjanjiannya dengan orang yang telah mengancam mereka.

“ Istirahatlah, pastikan pagi tadi adalah terakhir kau menemuinya, kita akan segera pergi dari tempat ini “ ucapnya lalu segera memiringkan tubuhnya membelakangi Jiyeon.

“ Nde eomma “ ucap Jiyeon seraya beranjak dari sana.

Keadaan Taehee semakin hari semakin mengkhawatirkan, bahkan kini ia hanya berada di kasur tempat ia tidur, apapun ia lakukan disana dengan Jiyeon yang membantunya.

Pagi harinya Jiyeon sangat terkejut menemukan eommanya dalam keadaan tidak sadarkan diri, ia pun meminta bantuan tetangganya untuk mengantarkan eommanya kerumah sakit terdekat, sepanjang perjalanan Jiyeon menangis menatap eommanya, tangannya tidak lepas menggenggam tangan Taehee.

“ Eomma sebenarnya kau kenapa ? mengapa kau seperti ini, jebal eomma bangunlah jangan membuatku khawatir “ Jiyeon terus menangis memeluk tubuh Taehee.

“ Jiyeon-ssi, kau tenang saja Taehee ahjuma pasti sembuh, berdoalah untuk kesehatannya eoh” tetangganya mencoba menenangkan Jiyeon, namun tidak mudah bagi Jiyeon untuk tidak semakin khawatir dengan keadaan eommanya.

Tiba di rumah sakit Taehee segera dimasukkan keruang perawatan intensif, Jiyeon belum diijinkan untuk menemuinya, dalam keadaan seperti ini Jiyeon sangat ingin sekali meghubungi Myungsoo, namun ia tidak mau mnegingkari janji terhadap eomma dan Myungsoo sendiri.

“ Jiyeon-ah, kita bertemu setelah ujian oppa selesai, jika kau mengingkarinya lagi, kau harus menyiapkan sarapan pagi untukku setiap hari eoh ? “

“ Aku takut oppa, sungguh aku sangat takut “ ucap Jiyeon gemetar.

“ Minho-ah, masih ada satu mata pelajaran guru killer itu, apa kau gila ? kau mau kemana ? “ tanya Yoseob yang heran Minho sudah bersiap-siap memasukkan bukunya dan berkata hendak pulang.

“ Aku sedang tidak enak badan, kau mau membawaku dengan tubuh kerdilmu itu jika aku pingsan dikelas eoh ? “ ucapnya membuat Yoseob menyesal telah bertanya.

Yoseob menatap Minho tidak percaya, dengan gerak cepat ia meletakkan telapak tangannya dikening Minho “ Tidak panas, dan kau juga terlihat bugar, dimana sakitnya ? “ gumamnya tak percaya.

“ Tsk…kau bukan uisa, tidak harus ditandai dengan suhu panas dan tubuh lemas maka kau disebut sakit, hati yang tidak tenang juga bisa dikatakan sakit, sudahlah jika aku terlambat karena banyaknya pertanyaanmu, mati kau eoh ? “
Yoseob bergidik ngeri dengan ancaman Minho, iapun hanya bisa melongo menatap kepergian Minho.

“ Dia sedang tidak enak badan “ jawab Yoseob ketika Suzy bertanya perihal Minho.

“ Jeongmal ? mengapa ia tidak mengatakannya padaku ? “ tanya Suzy heran.
Yoseobpun hanya mengendikkan bahunya, tidak lama Luna datang wajahnya nampak mencari-cari seseorang dikelasnya.

“ Hai, apa kau tahu dimana Jiyeon ? “ tanya Luna kepada salah satu murid disana, namun tidak satupun menjawab pertanyaannnya.

“ Jiyeon tidak masuk, apa kau tahu kemana dia?” teriak Yoseob tiba-tiba membuat Luna menatapnya.

Mendengar jawaban Yoseob tentang Jiyeon membuat dahi Suzy berkerut menarik kesimpulan..

“ Jiyeon tidak masuk, dan Minho tiba-tiba tidak enak badan, apa ada hubungannya?” gumam Suzy dalam hati.

“ Justru kau yang teman sekelasnya, mengapa kau bertanya padaku, memangnya ia tidak mengirim surat atau memberi kabar kenapa ia tidak masuk? “ tanya Luna heran dan menuntut ke arah Yoseob.

“ Walau aku teman sekelas, tapi kau kan teman dekatnya, seharusnya kau yang lebih tahu “ ujar Yoseob yang tidak mau kalah.

“ Tsk, kau pria kerdil yang menyebalkan, kalau tidak tahu tidak usah menuntut orang harus tahu, aisssshh menyebalkan “ gerutu Luna.

“ Yyyaaa, kau in….” belum selesai Yoseob membalas.

“ Aku pergi, gomawo Yoseob-ssi aku akan mengunjungi Minho dirumahnya “ ucap Suzy dan meninggalkan kedua makhluk yang masih berperang pandangan dengan terburu-buru.

“ Minho, juga tidak masuk ? “ tanya Luna ketika Suzy mengatakan itu.

“ Dia pulang lebih cepat, kurasa ia ingin menemui Jiyeon “ ucap Yoseob asal dan berhasil membuat Luna terkejut.

“ Sejak kapan Minho peduli pada Jiyeon “ pikir Luna

Jaejoong tampak terkejut melihat beberapa data kantor yang tersimpan di komputernya terserang virus, padahal kemarin masih tampak baik-baik saja, setelah ia berhasil mengetahui alasan mengapa tuan Lee membatalkan proyeknya, Jaejoong mulai menghubungkan semua keganjilan yang ia temui dengan kegagalan proyek itu, Jaejoong pun berpikir bahwa ada orang dalam yang terlibat didalamnya, tangannya bergerak cepat untuk menekan tombol panggil untuk menghubungi Yochun, namun entah mengapa tiba-tiba ia mengurungkan niatnya.

“ Tolong kau datang ketempatku “ ucap Jaejoong kepada sekretarisnya.
Tidak lama sekretarisnya datang dan Jaejoongpun bertanya beberapa hal kepadanya.

“ Apa ada seseorang yang datang keruanganku ketika aku pergi? “ tanyanya.
Sekretarisnya mencoba mengingat, namun seketika wajahnya nampak gugup, kemarin setelah membersihkan ruangan Jaejoong, ia lupa untuk mengunci kembali ruangan itu, namun seingatnya hanya Yochun yang menanyakan keberadaan Jaejoong, mengingat hubungan bosnya ini dengan Yochunpun membuat sekretaris tidak ragu untuk berkata jujur.

“ Nde tuan, kira-kira pukul 7 pagi tuan Yochun datang keruangan dan mencari anda, tapi ketika saya beritahu bahwa tuan langsung menemui klien, ia langsung bergegas keruangannya “ ucap sekretarisnya.

“ Yochun ? tumben sekali sepagi itu ia sudah datang dan menanyakanku “ dahi Jaejoong berkerut seraya menempelkan pena dikeningnya.

“ Baiklah, terimakasih..silahkan kembali bekerja “ ucap Jaejoong akhirnya.

“ Eoh chamkaman, panggil Minsuk untuk keruanganku “ ucap Jaejoong memerintahkan memanggil orang kepercayaan lainnya untuk datang dan menyelidiki kerusakan data dikomputernya.

Minho segera bergegas kerumah sakit ketika ia tidak menemukan Jiyeon dirumahnya, ia mendapatkan informasi bahwa eomma Jiyeon pagi tadi segera dilarikan kerumah sakit setelah tidak sadarkan diri, Minho sudah cukup lama tidak bertemu dengan Nyonya Taehee, dan entah mengapa mendengar apa yang menimpa Nyonya Taehee, membuat bayangan kegelisahan Jiyeon hadir dipikirannya.

Sesampainya dirumah sakit ia melihat Jiyeon yang sedang terduduk lemas dengan airmata yang tidak berhenti mengalir, melihatnya seperti itu kekhawatiran Minho semakin menguat, ia kemudian menghampiri Jiyeon.

“ Jiyeon-ah, wae irrae ? “ tanya Minho

Sontak kehadiran Minho dihadapannya membuat Jiyeon terkejut dan tidak bisa berkata apa-apa, namun ia dengan reflek memeluk Minho, ia tidak peduli jika yang dipeluknya adalah Minho, namja yang baru beberapa hari ini dekat dengannya, Jiyeon menangis disana dan tidak bisa menyembunyikan kesedihannya, Minho menggerakkan tangannya perlahan dan membalas pelukan Jiyeon.

“ Minho-ah, eomma…eommaku….uisa bilang ia tidak dapat bertahan lebih lama lagi karena kanker paru-paru stadium akhir yang dideritanya, uisa itu pasti berbohong bukan ? apa kau mempercayai apa yang dikatakannya ? hik..hiks” Jiyeon menatap wajah Minho mencari dukungan atas prasangkanya disana.

Namun Minho hanya tertegun, ia tidak menyangka inilah jawaban kegelisahan hatinya sejak pagi tadi, sungguh malang nasib yang menimpa chingunya ini, belum hilang rasa sakit mengetahui kenyataan bahwa ia bukan anak kandung keluarga Kim, kini gadis cantik ini harus menerima kenyataan pahit tentang keadaan eommanya, jika Minho yakin Jiyeon bisa melalui kenyataan yang mengatakan ia hanya anak orang miskin, tapi tidak dengan berita ini, ia tidak yakin Jiyeon bisa melalui kenyataan tentang eommanya dengan mudah.

“ Eoh, hidup ini sudah direncakan oleh Tuhan, kau boleh tidak mempercayai apa yang uisa katakan, berpikirlah saja jika eommamu pasti akan sembuh “ ucap Minho.
Jiyeon semakin menangis tersedu didada Minho, ia benar-benar ingin mempercayai apa yang Minho katakan ketimbang uisa disana, namun ia tidak bisa memungkiri jika rasa takutnya sekarang mengalahkan rasionalnya.

Myungsoo merasakan suhu kamarnya terlalu panas sehingga ia tidak merasa nyaman disana, ia pun kemudian menutup bukunya dan menuju ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya agar tetap kembali segar, ia memandang wajahnya dicermin, dan melihat kalung yang masih menggantung dilehernya.

“ Jiyeon-ah, apa kabarmu hari ini? Aku harap kau baik-baik saja disana ?” Myungsoo berbicara sendiri didepan cermin.

Namun ia nampak terkejut ketika berbalik eommanya sudah berada tepat dibelakangnya, Nana tersenyum melihat Myungsoo yang nampak kikuk dan mengusap leher belakangnya.

“ Apa kau sangat merindukkannya ? “ Ucap Nana menatap Myungsoo.

Myungsoo tidak tahu harus mengatakan apa, ia juga tidak tahu mengapa ia begitu takut untuk mengatakan ia sangat merindukan Jiyeon, bukankah itu hal yang lumrah dikatakan seorang oppa terhadap dongsaengnya?

“ Myungie-ah, Yeonnie tetap akan menjadi dongsaengmu, jadi kau tidak perlu khawatir jika kau begitu merindukannya “ ucap Nana yang seolah tahu apa yang Myungsoo rasakan.

“ Apa dia dalam keadaan baik ketika terakhir kau melihatnya ? “ tanya Nana.

“ Eoh, dia sangat baik eomma, dia juga berkata sangat merindukan kita semua ? “ ucap Myungsoo dan berhasil membuat mata Nana nampak berkaca-kaca.

“ Kau masih sangat beruntung Myungie-ah, kau bisa bertemu dengannya tanpa ada beban yang mengganjal dihatimu, tidak dengan eomma…..eomma tidak bisa menemuinya karena jika sekali saja eomma menemuinya, eomma benar-benar tidak ingin ia membagi rasa sayangnya kepada eommanya yang lain “ ucap Nana tersenyum pilu.

Myungsoo hanya terdiam, ia bisa merasakan eommanya begitu sangat ingin dongsaengnya hadir kembali dirumah ini.

“ Eomma…suatu hari kelak aku akan membawa Yeonnie kembali kesini dan kita akan bisa bersama-sama lagi “ ucap Myungsoo mencoba menghibur hati eommanya.

Myungsoo kemudian memeluk tubuh eommanya, mencoba membuat Nana merasa tenang dan melunturkan kesedihannya.

Setibanya dirumah Suzy langsung menutup rapat pintu kamarnya, ia kemudian duduk ditepi tempat tidurnya tampak syok mendengar apa yang dikatakan Jiyeon kepada Minho. Lagi-lagi ia selalu berada tepat ketika ia tidak ingin mengetahui tentang apapun yang menyakiti hatinya.
Ia memang sangat bersedih melihat Minho memeluk Jiyeon didepan matanya, namun tidak lebih mengejutkan ketika ia mendengar apa yang dikatakan Jiyeon tentang eommanya Taehee.

“ Tidak mungkin, eomma tidak mungkin mengidap penyakit itu, walau dulu kami hidup serba kekurangan tapi kami hidup dalam keadaan sehat, tidak..tidak mungkin uisa pasti berbohong ? “ ucap Suzy tampak putus asa.

“ Eomma, kau harus tetap hidup, kau harus bertahan….kau tidak boleh pergi begitu saja, kau belum berjuang untuk mendapatkan maafku…eomma….mianhae….maafkan aku eomma “ tubuh Suzy jatuh luruh, ia benar-benar tidak bisa menerima kabar itu.

Tangisan Suzy rupanya terdengar oleh Myungsoo yang berada disana setelah mengambil sekaleng minuman dibawah untuk menambah semangat belajarnya “ Suzy-ah…apa yang terjadi ? ada apa denganmu ? buka pintunya, bolehkah oppa masuk ? “ suara Myungsoo terdengar khawatir dari arah luar. Suzy ragu untuk membuka pintu kamarnya, namun Myungsoo terus saja menggedornya dan memanggil namanya, tidak ingin membuat Myungsoo khawatir..

“ Oppaaa….” Suzy akhirnya membuka pintunya dan langsung memeluk tubuh Myungsoo.

“ Apa yang terjadi padamu eoh ? “ tanya Myungsoo berusaha untuk menenangkan Suzy.

Myungsoo meneguk soda yang ada digenggamannya, dan dengan santai ia melempar kaleng kosong itu sejauh-jauhnya.

“ Oppa, kau mengotori taman yang sudah eomma bersihkan “ ucap Suzy mengingatkan.

“ Kau bisa membantu eomma membersihkannya seperti Jiyeon juga melakukannya “ ucap Myungsoo tidak sadar mengucap nama itu lagi, seketika ia merasa tidak enak ketika menyadari senyum raut wajah Suzy berubah.

Myungsoo menghirup udara dalam-dalam “ Chaa….cepat ceritakan ada apa denganmu ? “ ucap Myungsoo teringat ia dan Suzy berada ditaman.

Suzy masih bungkam, ia tahu oppanya sedang menjalani ujian, ia tidak ingin Myungsoo merasa terganggu dengan ceritanya, apalagi ini mengenai Jiyeon, tentu Suzy akan tahu bagaimana reaksi oppanya.
“ Oppa, bagaimana kabar Jiyeon hari ini ? “ alih-alih bercerita Suzy justru mengajukan pertanyaan yang membuat Myungsoo menatap Suzy heran.

Tidak biasanya Suzy ingin tahu apa yang terjadi dengan Jiyeon, bukankah Suzy tidak menyukai Jiyeon karena Minho.

“ Kami berjanji untuk tidak saling bertemu hingga ujian oppa selesai, ia tidak ingin menggangguku ” ucap Myungsoo dengan pandangan menerawang.

“ Wae ? seperti janji dua orang kekasih ? “ ucap Suzy asal, dan membuat Myungsoo terdiam.

“ Apa seperti itu ? “ ucap Myungsoo pelan.

“ Oppa, hanya kepada seorang kekasih kita banyak berjanji, jangan kalian sering mengumbar janji, jika itu tidak terwujud, rasa sayangmu akan merubahmu menjadi kecewa dan lambat laun akan membencinya…kajjaa, aku sudah tidak berniat menceritakan apapun padamu, aku sungguh tidak apa-apa “ ucap Suzy akhirnya berdiri dan memilih tidak menceritakan apapun mengenai yang terjadi pada Jiyeon ketika mendengar mereka sedang dalam kesepakatan untuk tidak bertemu.

Myungsoo tersenyum seraya menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Suzy, ia pun hanya menatap punggung Suzy yang meninggalkannya.
Kembali Myungsoo merasakan tidak nyaman dengan hatinya “ Huh masih ada 4 hari aku harus bersabar “ ucap Myungsoo mengingat Jiyeon.

“ Ini tagihan rumah sakit untuk beberapa hari ini nona, silahkan anda memeriksanya terlebih dahulu, jika ada yang tidak cocok, anda bisa kembali kesini “

“ Ahh nne, kamsahamnida”

Jiyeon menggigit bibir bawahnya, ia begitu lemas begitu melihat total tagihan untuk perawatan eommanya, bahkan tabungannya tidak cukup untuk membayar perawatan eommanya selama satu hari, Jiyeonpun berjalan gontai menuju ruang rawat eommanya, disana ia melihat Minho yang sedang membantu eommanya menyuap makanan kedalam mulutnya, eommanya sudah sadar dari pingsannya pagi tadi, namun kondisinya tidak jauh berbeda dari pertama kali ia membawanya ke rumah sakit.

Jiyeon langsung menunjukkan senyumnya untuk menutupi kegelisahannya, ia kemudian mengambil duduk disamping Minho. Taehee nampak sedih melihat putrinya terlihat begitu kurus dan letih.

“ Mianhae, maafkan eomma selalu membuat kau susah “ ucap Taehee meraih wajah Jiyeon.
Jiyeon pun kembali menunjukkan senyumnya “ Eomma apa yang kau bicarakan ? aku sama sekali tidak merasa terbebani, eomma jangan banyak berpikir hal yang tidak-tidak istirahat saja agar eomma cepat sembuh dan kembali ke rumah eoh “ ucap Jiyeon mencoba menghibur dirinya sendiri.

Minho pun hanya tersenyum mendengar apa yang dikatakan Jiyeon, ia tidak sama sekali ingin masuk dalam pembicaraan kedua ibu dan anak ini, Minho begitu terharu dengan apa yang dilakukan Jiyeon, dulu ia sering menjadi penengah jika Suzy dan eommanya sedang bertengkar, melihat Jiyeon yang begitu lembut, ia sama sekali tidak khawatir dengan keadaan Taehee bersama Jiyeon.

Minho terus memperhatikan Jiyeon yang dengan sabar menemani dan bercerita hal-hal yang menyenangkan eommanya, melihat yeoja ini seperti ia sedang berada disyurga bersama dengan para malaikat didalamnya.

“ Ini untukmu, pakailah uang ini untuk membayar biaya rumah sakit, ini memang tidak banyak, tapi aku rasa cukup untuk menutup biaya selama beberapa hari perawatan eommamu “ ucap Minho seraya menyerahkan amplop berisi uang kepada Jiyeon.

Jiyeon hanya terdiam dan ragu untuk menerimanya, ia ingin menolak namun ia sadar ia tidak mampu melakukan apapun saat ini selain harus menerima bantuan orang lain.

“ Minho-ah, gomawo aku tidak tahu bagaimana caranya membalas kebaikanmu, kuharap kau tidak menyesal berteman denganku “ ucap Jiyeon merasa tidak enak.

Minho menepuk bahu Jiyeon dan berkata “ itulah gunanya chingu, selain merawat eommamu hingga sembuh, kau tidak perlu memikirkan yang lainnya, yakso eoh ? “ ucap Minho dan diangguki oleh Jiyeon.

“ Apa aku perlu memberitahu Myungsoo tentang hal ini ? “ tanya Minho yang sebenarnya hanya berbasa-basi saja.

“ Ahniya, aku tidak mau membuat ia menjadi khawatir “ jawab Jiyeon, entah mengapa mendengar nama Myungsoo, ia kembali sangat merindukan oppanya.

“ Eoh baiklah “ ucap Minho terasa lega mendengar jawaban Jiyeon.

Keduanya pun saling tersenyum, selama beberapa jam Minho menemani Jiyeon, kini gadis itu nampak tertidur di sofa ruang tunggu pasien, wajahnya begitu lelah dengan kantung mata yang sedikit menebal, Minho kemudian meraih selimut dan menutup tubuh Jiyeon agar gadis itu tidak merasa kedinginan.

“ Istirahatlah, aku akan selalu ada untukmu “ ucap Minho seraya memegang lembut puncak kepala Jiyeon.

Setelahnya iapun beranjak pergi, Minho segera melajukan motornya ke arah sebuah cafe yang cukup ramai di pinggir jalan kota Seoul, disana ia menghibur para pengunjung dengan lantunan gitar dan alunan suaranya, Minho telah melanggar janji kepada appanya untuk tidak bermain musik di cafe, dan gilanya ia melanggarnya hanya karena seorang Bae Jiyeon.
Uang hasil kerja kerasnya ia gunakan untuk membantu membiayai perawatan Taehee eomma, tidak ada sedikitpun penyesalan dalam diri Minho, melihat Jiyeon tersenyum membuatnya merasa lega.

Myungsoo terus menatap kalender dihadapannya, ia semakin tidak sabar agar ujiannya segera selesai, meski hari berjalan normal seperti biasa namun ia merasa ini begitu lambat, merasa telah mengusai semua materi yang telah ia pelajari, Myungsoo menutup buku pelajarannya dan merobek satu lembar kertas, tangannya nampak semangat menuliskan sesuatu disana.

Sejenak ia berhenti dan memejamkan matanya memikirkan kalimat apa lagi yang hendak ia tuangkan dalam kertas tersebut, hampir setengah jam berlalu, kini bibir Myungsoo mengurai senyum, ia kemudian melipat dan menyelipkannya di sela-sela bukunya.

“ Yeonnie-ah, aku harap kejutanmu hal yang sangat indah dihari kelulusanku “ ucap Myungsoo dan setelahnya Myungsoo beranjak ke tempat tidur dan meregangkan otot-ototnya yang lelah seharian belajar.

Siang hari yang terik dan cuaca panas tidak menyurutkan niat Suzy untuk berdesak-desakkan di dalam sebuah bus, ia menolak untuk dijemput oleh supir Kang atau meminta Minho untuk mengantarnya, baginya berdesakkan didalam bis adalah hal biasa ia lakukan dulu.

Kini ia sudah berada di sebuah ruangan yang sangat sepi, tentu saja jam besuk belum dibuka, namun ia memohon kepada suster penjaga bahwa ia tidak memiliki waktu banyak karena harus kembali kesekolah.

“ Maaf aggasi, ini sudah peraturan yang tidak bisa dirubah, tapi anda bisa melihatnya dari balik kaca ruangan “ ucap suster jaga memperbolehkan.

“ Baiklah, kamsahamnida “ ucap Suzy menundukkan kepala tidak berniat memaksa kembali.

Suzy kemudian berjalan menuju ruang rawat Taehee, tiba disana ia hanya bisa melihat keadaan Taehee dari balik jendela ruang rawatnya yang terbuka, eommanya nampak tertidur disana, Suzy menatap haru, baru kali ini ia melihat eommanya begitu lemah terkulai disana dengan selang yang menempel dihidung serta jarum suntik yang menembus tangannya.

“ Eomma, aku datang….aku membawakan buah kesukaanmu eomma, lihatlah aku membawanya semua untukmu “ ucap Suzy seraya mengusap air matanya yang menetes.

“ Aku tidak pernah sedikitpun membencimu, aku tahu kau sangat menyayangiku, aku memaafkanmu eomma, cepatlah sembuh….aku ingin memelukmu “

Hiks..hiks

Didalam sana,
“ Eomma….aku kembali “
“ Suzy-ah…benarkah itu kau ? “
“ Nne eomma, apa kau senang ? “
“ Eoh tentu saja tidak ada yang lebih membahagiakan selain bisa melihat kau kembali nak? “
“ Suzy-ah maafkan kesalahan eomma, eomma sungguh menyesal, kau boleh marah pada eomma, tapi eomma mohon, kau jangan mejauhi eomma eoh “
“ Eomma, apa yang kau katakan ? aku tidak pernah marah kepadamu, aku menyayangimu melebihi apapun yang ada didunia ini, hanya kau yang tulus menyayangiku “
“ Peluk aku eomma…..aku menyayangimu “
“ Suzy-ah…Suzy-ah “
Taehee nampak terkejut, ia tidak bisa merasakan tubuh Suzy yang memeluknya

Dan seketika itu, ia merasakan jantungnya tidak berdetak…..

Tuuuttttttt…………

Dari balik kaca Suzy nampak terkejut, mesin detak jantung eommanya menunjukkan garis lurus, sementara mata eommanya terpejam dengan tubuh yang tiba-tiba bergetar.

Suzy panik, tanpa peduli dengan peraturan rumah sakit yang mengharuskan semua pengunjung harus tenang, ia berteriak-teriak memanggil-manggil suster penjaga.

“ Suster…suster, eommaku….tolong lihatlah eommaku suster “ teriaknya seraya memegang dengan gemetar tangan suster.

“ Agassi, mohon anda tenang, kami akan segera memanggil uisa yang menangani Nyonya Taehee “ ucap suster tersebut, ia kemudian menekan tombol darurat dan menelepon uisa.

“ Tolong selamatkan eommaku suster….tolong selamatkan ia “ ucap Suzy dengan air mata berlinang.

Seorang uisa ditemani dua orang suster kemudian bergegas menuju ruang rawat Taehee, Suzy masih melihat tubuh eommanya yang dipaksa untuk tersadar dengan alat pacu jantung, dalam kekalutan iapun mencoba menghubungi Minho.

“ Minho-ah cepatlah kau kemari, eomma….” Suzy tidak bisa meneruskan kalimatnya, pikirannya tidak fokus sekarang.

“ Ada apa ? katakan ada apa dengan eommamu ? “

“ Minho-ah Jiyeon eomma…..cepat kemari Minho-ah, aku sangat takut “ air mata Suzy semakin deras dengan suara yang semakin bergetar.
….

“ Minho-ah, ada apa ? siapa yang meneleponmu ? “ tanya Jiyeon yang saat itu sedang bersama Minho menuju rumah sakit, ia nampak penasaran ketika Minho nampak panik menerima telepon seseorang.

“ Gwencana, pegang erat pinggangku “ ucap Minho menutupi kepanikannya, ia langsung bisa menangkap kemana ia harus pergi ketika Suzy mengatakan Jiyeon eomma.

Jiyeon mengkerutkan dahinya, dengan ragu tangannya memegang erat seragam Minho menuruti apa yang Minho katakan.

Setibanya mereka dirumah sakit “ Minho-ah ada apa ? aku tidak bisa berlari “ ucap Jiyeon yang nampak lelah tidak bisa menyaingi langkah Minho.

Namun tidak ada jawaban dari Minho, ia terus menarik lengan Jiyeon dan membawanya segera ke ruangan eommanya dirawat. Jiyeon menjadi sangat khawatir apa yang Minho lakukan padanya, namja ini nampak sangat panik, apa ada hubungannya dengan telepon yang barusan ia terima dan eommanya ?

Semua pertanyaan Jiyeon terjawab ketika ia hampir tiba di ruang rawat eommanya, ia melihat sosok yang sangat ia kenal, gadis berambut panjang yang sedang menangis disana, Suzy ia sedang menangis tersedu-sedu disana, Jiyeon semakin mendekatkan langkahnya ke arah sana.

Tubuhnya menegang ketika melihat diruang sana tubuh seseorang yang telah ditutupi kain putih, suster nampak sedang membereskan segala peralatan kedokterannya.

“ Jiyeon agassi, apakah itu anda “ panggil uisa ketika melihat Jiyeon.
Jiyeon masih berdiri disana, sungguh pikirannya benar-benar kosong saat ini, tak ada bayangan apapun yang hinggap dipikirannya.

“ Nne, itu saya uisa “ ucapnya lemah

Suzy tidak sanggup menahan kesedihannya, sedang Minho ia sudah dapat menebak apa yang terjadi, ia mendekat kearah Jiyeon untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, namun Suzy sudah memeluk Minho dan menangis disana.

Jiyeon tersenyum tidak percaya dengan apa yang uisa katakan seraya menggelengkan kepala ia pun berkata “ Uisa, sungguh ini waktu yang tidak tepat untuk membohongiku, kau hanya bercanda bukan ? “ ucap Jiyeon datar.

“ Jwesonghamnida agassi, sakit Nyonya Taehee memang sudah sangat parah, kami sudah berusaha semaksimal yang kami bisa, namun kehendak Tuhan berkata lain “

Jiyeon menunduk, sungguh lagi-lagi ia berharap ini adalah mimpi, namun apa yang ada dihadapannya ini tidak mungkin ia abaikan, perlahan ia mendekat ke arah dimana eommanya berada. Ia membuka perlahan kain yang menutupi eommanya, wajah eommanya nampak pucat disana, namun dibibirnya terulas senyum.

“ Eomma….bangunlah, aku membawakan makanan kesukaanmu, apa kau akan memakannya sekarang ? “ tidak ada jawaban dari bibir Taehee, namun Jiyeon tidak berputus asa untuk tetap berbicara, Jiyeonpun membuka bungkusan yang ia bawa dan meraih sendok dari atas nakas yang tersedia disana.

“ Eomma, aku mohon jangan mengecewakanku, makanlah eoh, ini sangat enak aku bahkan meminta penjualnya untuk memberikan daging yang banyak untukmu “ ucap Jiyeon tidak surut semangatnya.

“ Eomma, aku mohon jebal bangunlah…..”

Jaejoong, Nana dan Myungsoo nampak berjalan begitu tergesa-gesa, kabar yang diterima dari Suzy sungguh mengejutkan mereka. Terlebih Myungsoo, ia bahkan langsung meninggalkan kelas setelah menyelesaikan ujian di hari terakhirnya, pikirannya hanya tertuju pada Jiyeon, selama ini ia tidak mendengarkan kabar apapun mengenai kesehatan eomma Jiyeon, dan betapa kecewanya setelah mengetahui Jiyeon lebih memilih menepati janji bodohnya untuk tidak bertemu ketimbang memikirkan kesehatan eommanya.

“ Suzy-ah, dimana Jiyeon ? “ Myungsoo nampak sangat emosi ketika baru saja tiba, terlebih sudah ada Minho disana.

Tidak berapa lama Jaejoong dan Nana mengekor dibelakang Myungsoo, Myungsoo segera melangkahkan kakinya keruang rawat Taehee, ia melihat Jiyeon yang hanya terdiam dengan sendok yang berada digenggamannya, hati Myungsoo benar-benar sakit melihat apa yang terjadi.

“ Eomma, kau belum mengatakan kepada semua orang jika aku ini putrimu, kau juga belum pernah sekalipun berkata bahwa kau menyayangiku eoh, bagaimana mungkin kau meningalkanku dengan cara seperti ini eomma, walau sekali saja…..aku ingin merasakan kau memelukku “

Myungsoo membuang pandangannya sakit, seminggu tidak bertemu Jiyeon banyak hal yang berubah, tubuh dongsaengnya nampak begitu kurus, dengan mata yang begitu sayu, Myungsoo semakin mendekat kearah Jiyeon.

“ Oppa, apa itu kau ? apa itu kau yang berada disampingku ? “ Myungsoo terhenyak, ia tidak mengetahui bahwa Jiyeon menyadari keberadaannya.

Grebbb……

Jiyeon mengarahkan tubuhnya dan memeluk erat tubuh Myungsoo, barulah ia menangis begitu kencang dibahu oppanya, airmata yang ditahannya sedari tadi kini sudah tidak terbendung, Myungsoo benar-benar merasakan sesak melihat keadaan dongsaengnya ini.

“ Eomma…eommaku satu-satunya pergi meninggalkanku oppa, bahkan aku belum melakukan apapun untuk kebahagiannya hik..hiks “ Jiyeon semakin mengeratkan pelukannya, dan Myungsoo pun memegang dengan lembut kepala Jiyeon.

“ Masih ada oppa, eomma, appa dan Suzy keluargamu disini eoh, gwencana kau tidak usah terlalu bersedih eoh “ ucap Myungsoo lembut.

Nana menangis dibahu Jaejoong yang menggenggam jemarinya erat, sementara Minho mencoba menahan rasa sakit didadanya, namun ia berusaha menahan diri, keadaan ini tidak bisa dikaitkan dengan masalah hati.

Seusai pemakaman, Jiyeon masih nampak murung, Nana dan Jaejoong masih berusaha membesarkan hati Jiyeon, namun mereka enggan membicarakan tentang bagaimana Jiyeon setelah ini, ia tidak ingin memaksa Jiyeon untuk tinggal dirumahnya kembali.

Sementara Suzy, Myungsoo dan Minho kini sedang duduk bersama meminum secangkir teh hangat di depan rumah Jiyeon.

“ Gomawo, kau sudah menemani Jiyeon selama ini, seharusnya kami yang berada disana “ ucap Myungsoo kepada Minho.

Minho meletakkan cangkir tehnya dan hanya tersenyum tipis “ Akupun berhak untuk melindunginya “ ucapnya singkat namun berhasil membuat Myungsoo dan Suzy menatapnya bersamaan.

“ Eoh, siapapun yang mengenal Jiyeon pasti akan berusaha untuk melindunginya “ Myungsoo mencoba menetralkan keadaan dan menjaga perasaan adiknya.

Malam semakin larut, Jaejoong meminta Myungsoo dan Suzy menemani Jiyeon yang masih dalam keadaan bersedih dirumahnya, itu ia lakukan karena Jiyeon bersikeras untuk tetap tinggal disana.

“ Temani aku, agar rumah ini tetap ramai dan Jiyeon tidak merasa kesepian “ ucap Myungsoo kepada Minho walau sebenarnya tanpa Myungsoo mintapun Minho juga akan tetap disini menemani Jiyeon.

“ Eoh, baiklah “ ucap Minho singkat.

Dikamar Suzy hanya menatap Jiyeon yang terduduk dengan menopang dagu dengan kedua lututnya, tidak dipungkiri Jiyeon adalah orang yang paling sedih dengan kematian eommanya, namun untuk menghiburnya tentu saja tidak mudah untuk ia lakukan.

“ Sampai kapan kau akan terus meratapi kematian eommamu? “ ucap Suzy akhirnya.

“ Jika aku jadi dirimu, aku pasti merelakan kepergiannya, aku tidak mungkin membiarkannya merasakan sakit lebih lama lagi “ lanjut Suzy namun Jiyeon nampak tidak memperdulikan apa yang Suzy katakan.

Sebenarnya Suzy tidak tega mengatakan hal demikian disaat Jiyeon masih bersedih, namun berdua saja dengan Jiyeon tanpa membicarakan apapun terasa sangat aneh, sementara Jiyeon terus menatap kebawah ia benar-benar tidak memiliki semangat setelah kematian eommanya, bayang-bayang eommanya masih hadir dipelupuk matanya.

“ Berhentilah bersikap seperti itu, hidupmu harus terus berjalan eoh “ Suzy kemudian menarik selimut bersiap untuk tidur, baru saja ia akan mematikan lampu…

“ Aku mohon biarkan ruangan ini tetap terang “ ucap Jiyeon bersuara kali ini.
Suzypun mengurungkan niatnya dan mulai memejamkan matanya.

Jiyeon membuka laci lemari eommanya dengan perlahan, banyak foto eommanya tersebar disana dan tidak terangkum dalam sebuah album, airmatanya yang sudah kering kini jatuh kembali.

“ Eomma, bagaimana bisa kau meninggalkanku begitu cepat ? “ ucapnya lirih.

Tiba-tiba ia menemukan sepucuk surat dari dalam laci eommanya, Jiyeon membuka surat tersebut dan mulai membacanya.

Jiyeon-ah,
Putri cantikku yang amat eomma sayangi,
Maafkan eomma telah membuatmu begitu sulit menjalani hidup,
Tetaplah semangat setelah eomma sudah tidak lagi bersamamu eoh,
Eomma akan ada dan melindungimu dari syurga
Jiyeon-ah,
Ambillah hal baik dari kepergian eomma,
Kau tidak perlu lagi mengambil air dipagi-pagi buta hanya untuk eomma,
Kau tidak perlu lelah mencoba membuat apapun untuk dijual dikedai kita,
Kini hidupmu akan sedikit lebih tenang karena tidak akan pernah lagi mendengar suara eommamu yang cerewet yang melarang banyak hal untuk kau lakukan,
Hiduplah dengan baik eoh,
Kau tahu ? eomma pernah sangat erat memelukmu ketika kau sedang tertidur setelah eomma memarahimu,
Eomma sangat takut kau terbangun ketika itu, meski eomma tau kau pun akan sangat terharu jika merasakannya,
Eomma sangat beruntung engkaulah yang Tuhan kirim untuk terlahir dari rahimku,
Dari wanita miskin yang kasar dan penuh dengan kebencian, Tuhan mengirimkan sesosok malaikat yang siapapun sangat senang jika kau berada disampingnya,
Kau adalah anugerah yang terindah yang pernah ada dalam hidup eomma,
Jiyeon-ah
Pergilah ketempat yang paling aman dimana kau bisa bersembunyi,
Eomma tidak ingin orang-orang jahat mengintaimu,
Keluarga Kim bukan pilihan terbaik untuk kau tetap bertahan hidup,
Eomma ingin melihat kau berhasil tanpa menggantungkan diri pada orang lain,
Ambillah uang yang eomma simpan dalam amplop coklat
Gunakan itu dan pergi dari sana sebelum orang-orang jahat menemukanmu,
Eomma mohon, ini untuk kebaikanmu, eomma akan tersenyum jika kau menuruti apa yang eomma katakan.
Jiyeon-ah
EOMMA SANGAT MENCINTAIMU …SARANGHAE BAE JIYEON ….

Jiyeon menutup rapat bibirnya agar tangisannya tidak terdengar oleh siapapun, ia kembali mengingat kebersamaannya dengan eomma yang begitu singkat.
“ Eomma aku pasti akan sangat merindukanmu “ ucapnya terisak.

“ Mwo ? eommanya Jiyeon meninggal tiga hari yang lalu ? wae apakah ia sakit atau ? “ ucap Chanyeol tiba-tiba menggantungkan pertanyaan.

“ Nne, dia mengidap penyakit kanker paru-paru stadium akhir “ ucap Myungsoo membuat perasaan Chanyeol sedikit lega.

“ Syukurlah bukan karena appa, apa aku berkata jujur saja tentang ini kepada Myungsoo ? ah anhiya, aku belum siap jika ia memusuhiku, tapi..” Chanyeol terus berkutat dengan pikirannya

“ Chayeol-ah, kau masih disana ? apa ada lagi yang ingin kau tanyakan ? aku harus segera pergi ke sekolah eoh ? “ ucap Myungsoo

“ Nne, tidak ada…woaaahh daebak, kini kau semangat sekali pergi ke sekolah “ ucap Chanyeol mengejek.

“ Tch, aku memang rajin tidak seperti kau eoh, sudah ya annyeong “ Myungsoo kemudian menutup sambungan telepon dan bergegas meninggalkan rumah.

“ Oppa, kau tidak perlu memaksakan dirimu untuk menjemputku? Aku tidak pernah melihatmu naik kendaraan umum, apa kau akan baik-baik saja ? “ tanya Jiyeon yang kini sedang bersama Myungsoo menunggu bus yang akan mengangkut mereka ke sekolah.

Jiyeon kini sudah mau berbicara meski tidak ada senyum dari bibirnya, setidaknya Myungsoo cukup merasa tenang.

“ Aku senang melakukannya “ ucap Myungsoo

“ Yeonnie-ah, besok pengumuman kelulusan, eummhh…..apa kejutanmu masih berlaku ? “ tanya Myungsoo ragu.

Jiyeon hanya menunduk terdiam, bus sekolah datang menyelamatkannya dari pertanyaan Myungsoo “ Kajja oppa, bus sudah datang “ ucapnya seraya mengajak Myungsoo segera naik, Myungsoo nampak kecewa dengan pertanyaannya yang diabaikan.

Suasana bus pagi ini begitu penuh sesak, mereka tidak mendapatkan tempat duduk, untuk melindungi Jiyeon agar tidak berdesak-desakan Myungsoo menarik Jiyeon dan memilih berdiri di dekat pintu yang memang tidak dibuka untuk naik turun, Jiyeon dapat melihat wajah Myungsoo yang melindungi tubuhnya, ia cukup merasa aman karena kedua tangan Myungsoo yang membatasinya dari desakan orang lain.

“ Oppa, kuharap kau memaafkan janjiku setelah hari kelulusanmu “ ucapnya seraya memandang wajah Myungsoo yang hanya terlihat dari balik jendela.

Darah Myungsoo berdesir ketika mencium aroma rambut Jiyeon yang menusuk penciumannya, desakan orang-orang dibelakang membuat tubuh Myungsoo tidak berjarak dengan Jiyeon kini, meski tangan Myungsoo berusaha untuk menahannya.

Myungsoo hanya tersenyum disana, sementara Jiyeon hanya menunduk sedih.

Suzy hanya bisa menatap Minho yang sedang bermain basket dari kejauhan, dulu hanya dirinya seorang yang dekat dengan Minho sebelum Jiyeon mengambil alih posisinya, kini jangankan untuk sering bertemu, menghubungi Minhopun sangat sulit Suzy lakukan.

Suzy beranjak dari tempatnya berdiri dan kemudian berjalan lemah menuju kelasnya, di kejauhan ia melihat Jiyeon dan Luna yang sedang membawa banyak buku ditangannya.

“ Jiyeon-ah, mari ku bantu kau membawanya “ tawar Suzy seraya mengambil alih buku-buku dari tangan Jiyeon, Luna yang berada disamping Jiyeon hanya terbengong menatap tidak percaya dengan tawaran bantuan Suzy, namun ia kemudian berpikir mungkin kematian eomma Jiyeon telah merubah sikap Suzy kepada sahabatnya.

“ Gomawo Suzy-ah “ ucap Jiyeon tersenyum tipis.

“ Cheonmanayo, eoh Luna-ah bisakah kau meninggalkan kami berdua saja ? “ ucap Suzy meminta izin pada Luna.

Jiyeonpun mengganggukan wajahnya ketika Luna menatapnya, setelahnya Luna menyerahkan semua buku ditangannya kepada Suzy, Suzy sempat kesal karena seharusnya Luna memberikannya kepada Jiyeon yang kini tidak membawa apa-apa bukan menambah buku yang ada ditangannya, namun Suzy tetap berpura-pura tersenyum.

“ Biar ku bawa separuhnya “ ucap Jiyeon seraya mengambil separuh buku yang ada pada Suzy.
Suasana hening, Suzy memastikan Luna sudah jauh dari mereka sebelum Suzy mengatakan sesuatu.

“ Bisakah kau merelakan Minho hanya untukku ? “ ucap Suzy.

Jiyeon mengalihkan pandangannya kini pada Suzy, sebenarnya Jiyeon sudah bisa menebak kalau lambat laun Suzy akan memintanya melakukan ini, Suzypun menatap Jiyeon dengan pandangan yang lekat.

“ Harusnya kau berkata ini padanya, bukan padaku, karena ia yang memaksaku menerima bantuannya “ ucap Jiyeon

Mendengar kalimat Jiyeon, hati Suzy semakin panas dibuatnya “ Mengapa kau begitu serakah eoh? Appa, eomma, Myungsoo oppa, kau juga tidak sepenuhnya melepaskan mereka, aku hanya meminta Minho untuk kau lepaskan, apa begitu sulit ? “

Suara Suzy meninggi, dan Jiyeon tidak tahu harus menjawab apa “ Suzy-ah, aku tidak berniat sedikitpun untuk merebut orang-orang yang seharusnya menyayangimu, hanya saja mereka…”

“ Myungsoo oppa mencintaimu, apa kau tega menyakiti perasaannya ?”

Deg….

Wajah Jiyeon menegang, ia terkejut dengan kata-kata Suzy, Myungsoo mencintainya ? ini gila, ia yakin itu hanyalah akal-akalan Suzy untuk merelakan dirinya melepaskan Minho.

“ Suzy-ah…. k-kau bi ca ra apa ? “ ucap Jiyeon masih tidak mempercayai apa yang Suzy katakan.

Suzy kemudian menaruh semua buku yang ia pegang ke tangan Jiyeon “ Geure,Myungsoo oppa tidak hanya menganggapmu sebagai dongsaengnya, ia MENCINTAIMU, perasaan yang ia miliki adalah perasaan NAMJA kepada YEOJA bukan OPPA kepada DONGSAENGNYA, apakah kau begitu bodoh tidak dapat merasakannya ? “ ucap Suzy penuh penekanan pada setiap kalimat yang menyatakan perasaan Myungsoo kepada Jiyeon.

“ Keumanhe, kau sudah dibutakan cinta maka kau mengatakan hal yang tidak mungkin “ ucap Jiyeon mencoba menampik perkataan Suzy.

“ Baiklah, mulai sekarang kau bisa membuktikan perkataanku “ ucap Suzy seraya pergi meninggalkan Jiyeon yang masih terlihat syok dengan ucapan Suzy.

Sudah hampir 30 menit Myungsoo menunggu Jiyeon di depan gerbang sekolah, namun yang ditunggu tidak sama sekali menunjukkan batang hidungnya, Myungsoo berdiri resah, padahal Jiyeon sudah berjanji akan menunggunya di sini.

Dikelas Minho pun sama resahnya menunggu Jiyeon, yang ijin padanya hanya untuk sekedar pergi ke toilet, namun hingga kini sosok yeoja itu tidak juga muncul dihadapannya.

“ Eoh sebenarnya kemana dia ? “

Ucap Myungsoo dan Minhoo bersamaan.

Jiyeon menutup rapat semua pintu dan jendela rumahnya, kini semakin mantap keinginannya untuk pergi meninggalkan tempat ini, perkataan Suzy siang tadi benar-benar diluar dugaannya, meski ia belum memastikan apa yang Suzy ucapkan adalah benar.

“ Berhentilah untuk berhubungan dengan mereka “

“ Nugu ? “.

“ Keluarga Kim “

“ Apa kau masih menemuinya hari ini? “

Kalimat eommanya selalu berputar-putar dikepala Jiyeon, meski yang Jiyeon tahu itu eommanya lakukan karena ancaman ketiga orang yang tidak dikenal, namun Jiyeon menghubungkannya dengan apa yang Suzy katakan, selama ini ia merasa Myungsoo hanya menganggapnya dongsaeng, jika benar apa yang dikatakan Suzy, sungguh Jiyeon tidak tahu apa yang akan Nana eomma dan Jaejoong appa lakukan padanya.

Diluar sana Ia mendengar suara Minho memanggilnya, namun Jiyeon tidak sedikitpun beranjak untuk menemui namja baik itu, ia harus menjaga perasaan Suzy meski hatinya tidak ingin melakukan itu.

“ Minho-ah, gomawo, aku harap kita bisa bertemu lagi dengan keadaan yang berbeda “ ucapnya dengan air mata yang menetes.

Setelah hampir satu jam berlalu, suara Myungsoo yang terdengar ditelinga Jiyeon, kali ini Jiyeon benar-benar tidak bisa menahan tangisannya, wajah Myungsoo dan kata-kata Suzy silih berganti memenuhi pikirannya, dan itu sangat bertolak belakang. Wajah Myungsoo yang begitu melindunginya, namun kemudian dihancurkan oleh kalimat Suzy yang mengatakan jika Myungsoo mencintainya, Jiyeon hanya bisa meratap.

“ Myungsoo oppa, berhentilah melakukan apapun untukku, jika terus seperti ini aku akan sangat tersiksa “ ucapnya lirih.

Jiyeon berdiri menatap rumah mewah keluarga Kim, suasana sudah sangat sepi bahkan lampu kamar Myungsoo yang berada dibagian depan sudah redup, Jiyeon terus memandangi namun tidak berharap Myungsoo melihatnya disini.

“ Anyyeong appa, eomma, oppa…..kali ini mungkin kita tidak akan pernah lagi bertemu, aku akan sangat berada jauh dari kalian, namun kalian jangan khawatir, aku akan terus berusaha hidup dengan baik, jika Tuhan mentakdirkan kita bersama, kita akan kembali bertemu “ ucap Jiyeon dengan senyuman.

Ia meletakkan sebuah amplop untuk kemudian ia selipkan kepagar rumah keluarga Kim, itu adalah surat yang dititipkan eommanya untuk keluarga Kim.

Jiyeon menarik koper dan mengaitkan lebih erat tas kedalam lengannya, ia pergi menembus malam yang pekat dengan sejuta kenangan yang terukir dalam ingatannya, tentang masa-masa kecilnya, kebersamaan dengan appa dan eommanya,bahkan suara lembut Nana terdengar lembut memanggil namanya.

Myungsoo berlari menuju papan pengumuman, tidak sabar untuk mengetahui hasilnya, tiba disana ia segera membelah kerumunan para murid yang ada disana, belum sempat ia melihat dimana posisinya berada semua murid disana memberikan ucpan selamat satu-persatu.

“ Myungsoo-ssi, selamat yah, kau sangat hebat, namamu ada diurutan teratas…woaahh jeongmal daebakk “ ucap teman-temannya.

Tidak biasanya jika wajah sangar dan dingin yang terpasang, kali ini senyum Myungsoo begitu lebar menghias wajahnya. Ia pun kemudian kembali menatap papan pengumuman untuk memastikan bahwa namanya berada diurutan teratas, setelah menemukannya “ Yeonnie-ah, aku berhasil, aku berhasil…..yaaaaa aku berhasillll “ teriaknya begitu emosional.

Myungsoo kembali berlari, kali ini langkahnya menuju ke kelas Jiyeon, hal yang pertama ingin ia lakukan adalah memberikan kancing teratasnya untuk Jiyeon, Myungsoo tidak menduga setelah bertahun-tahun keinginannya baru pada saat ini akan terwujud, ia semakin cepat berlari, tidak peduli para murid lainnya mengucapkan selamat atas kelulusannya.

Sesampainya dikelas yang dituju “ Minho-ah, Jiyeon eodiga ? “ ucapnya seraya mengembalikan nafasnya teratur.

Minho hanya terdiam mengernyitkn dahinya “ Apa kau bercanda ? “ ucapnya yang membuat perlahan senyum Myungsoo menghilang.

“ Jiyeon eodiga ? “ tanya Myungsoo mengulang.

Kali ini Minho benar-benar hilang kesabaran “ Tch, MYUNGSOO-SSI ia tidak lagi berada disini, kau ini sebenarnya siapa hingga kau tidak tahu jika Jiyeon tidak lagi berada disini eoh ? “ ucap Minho begitu kesal pada Myungsoo.

“ Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan ? AKU MOHON BICARALAH YANG JELAS!!!!” kalimat Minho sudah sangat jelas, namun Myungsoo ingin mendengarnya sekali lagi.

Minho menyerahkan surat tulisan tangan Jiyeon yang ia temukan dirumahnya pagi tadi, disana tertulis bahwa Jiyeon meminta ijin untuk pergi meninggalkan semuanya yang ada di seoul, ia juga berkata banyak berterimakasih atas bantuan Minho.

Mata Myungsoo nampak memerah dan tangannya bergetar hebat melihat apa yang tertulis dalam surat yang Jiyeon tujukan kepada Minho, Jiyeon pergi….pergi meninggalkan banyak janji yang mereka berdua ucapkan tanpa satupun yang belum terwujud, dan kini sebuah kancing seragam yang ada digenggamannya pun tidak lagi bisa ia berikan kepada Jiyeon.

“ Aaarrrgggkkkkkk” Myungsoo meremas rambutnya dan berteriak kesal membuat semua mata yang menatapnya begitu takut.

“ Apa ini ? “

Jaejoong meraih sebuah amplop yang berada tak jauh dari kakinya, dengan nampak terheran kemudian ia membukanya perlahan, tulisan tangan yang cukup rapi.

Namun kemudian wajahnya berubah menjadi serius ketika ia mengetahui siapa pengirim surat itu.
“ Nyonya Taehee “ ucap Jaejoong terkejut.

 

TBC

259 responses to “[ CHAPTER – PART 12 ] RAINBOW AFTER THE RAIN

  1. ahh jiyi bakal hidup sendiri😥😥😥
    tapi setidak nya jiyi uda pernah hidup sama eomma kandung nya kan , trus eomma nya jiyi juga uda bilang sayang sama jiyi , semoga jiyi baik” aja:/:/
    nah nah surat dr eomma jiyi itu pasti ngasih tau tentang cii yoochun itu ya -_-

  2. Kyaaa jiyeon’y pergii, knp harus pergi sih eoniie,, kasian tu myung oppaa’y,, dya kan udh dpet peringkat tertinggi,, tp knp eoniie malah pergii ninggalin oppa,,, huaaaa hiks hiks hiks
    Kira” surat aph yya yg di tulis sma taehee ahjumma,,??

  3. Kya..kangen banget sama FF Daebak ini..
    JiYeon jangan pergi, kasian MyungSoo yang mulai menyukaimu.. Banyak banget rintangannya MyungYeon.. Semoga MyungYeon bahagia..
    Izin baca part selanjutnya ya kak.. Hehehe😀
    Annyeong❤

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s