[ONE SHOOT] Love Blossoms

Love Blossoms

Title : Love Blossoms

Author : hayamira / aegiyaa

Genre : Romance, General

Rating : PG-15

Length : Oneshoot

Cast :

Joo Ah Jung

Kim Myung Soo

Supported Cast : All you can find in the story

Summarize :

  1. Satu kata, berasal dari lima huruf. Dua vocal tiga konsonan. Memiliki banyak arti yang bahkan tidak akan pernah terpikirkan terjadi.bahkan kekonyolan pun bisa melandasi makna dan arti dari sebuah kata Cinta.

 Disclaimer :

FF ini bisa dibilamg songfic gagal /? abisnya terinspirasi sama lagu K.Will – Love Blossoms. Semua cast bukan milikku (?) tapi ide cerita murni dari otakku jadi jangan menjadi plagiat ;;_;;)b pke oke please read my fanfic and leave the comment how was it it ^^ i surely happy and give you feedback (???)

 

STORY

 

 

Kalau saja orang yang ada didepanku ini bukan Kim Myung-Soo, akan kuusir. Seenaknya saja mengganggu waktu santai di siang hari. Oh, sekarang dia menunjukkan wajah yang sangat tidak jelas. Mengaduk-ngaduk jus nanasnya, kalau saja dia terus mengaduknya maka dia akan sakit perut jika meminumnya.

 

“Kim Myung-Soo, kau kenapa?”

 

Kim Myung-Soo mengangkat dagu, menatapku lalu tersenyum seperti seorang anak kecil yang mendapat mainan seharga satu juta yen. Lupakan. Yang jelas wajahnya sangat sumringah. Aku mendengus pelan, sepertinya dia akan menceritakan lagi kegalauannya. Pasti, aku bisa menjaminnya.

 

“Ah Jung-ya, kau sibuk?” tanya Myung-Soo memandangku dengan tatapan puppy-eyesnya. Aku menghela napas, dia pikir aku akan luluh dengan tatapan sok ke-imut-an nya itu.

 

Aku menggeleng pelan.

 

“Aku ini ingin curhat denganmu,” katanya mencondongkan wajahnya. Aku melepas kacamataku, dan memandangnya serius. Aku tahu hal apa yang akan pria ini ceritakan selama kurang lebih 1 jam kedepan.

 

“Tentang gadis yang kau sukai, kan?”

 

Myung-Soo tersenyum lebar sambil mengangguk. Benar kan?

 

Aku menghela napas, sepertinya aku harus menyudahi bacaanku dan mulai fokus memerhatikan Myung-Soo. Kalau tidak, Myung-Soo akan mendiamiku selama 1 minggu, lalu selama itu pula aku merasa kesepian. Tidak mendengarkan ocehan bawelnya itu kadang membuatku merasa kesepian.

 

Oke aku tahu ini akan menimbulkan pertanyaan. Kim Myung-Soo itu sahabatku sejak aku pindah ke Seoul dari Busan. 4 tahun yang lalu. Sejak itu pulalah, Myung-Soo selalu saja menceritakan kisah cinta putih-abuabu-kelamnya. Aku? Tetap menjadi pendengar setianya.

 

Sebenarnya Kim Myung-Soo itu mahasiswa yang popular. Coba saja, di hari Valentine dan sejenisnya, dia paling banyak mendapatkan coklat. Pernyataan cinta dari gadis-gadis? Tidak terhitung lagi jumlahnya. Bahkan ahjumma-ahjumma pun tertarik padanya. Aku selalu bingung kalau mengingat yang terakhir, bingung karena harus menangis atau tertawa.

 

Tapi, dia tidak pernah menerima satupun dari semuanya. Jadi, dia terkenal dingin dan sadis, jauh bertolak belakang dengan Myung-Soo yang kukenal. Yang ceria, cerewet, menyebalkan tapi baik hati.

 

Bertanya aku suka dengan dia? Sedikit pada awal pertemuanku dengannya. Tapi, begitu tahu kalau dia suka dengan gadis lain, aku memutuskan untuk menyerah. Cinta tidak boleh dipaksakan, filsafah yang cocok. Ada gunanya juga aku membaca buku filsafat.

 

Kadang, tidak, selalu saja aku bertanya pada dirinya dan pada diriku sendiri. Siapa gadis yang bisa membuat Kim Myung-Soo ini jatuh hati pada pandangan pertama? Clueless. Myung-Soo dekat dengan banyak gadis di sekolah. Tapi, paling dekat, ya menurut orang, hanya denganku. Aku juga heran, kenapa?

 

Pada saat dia mulai menceritakan semuanya, dia selalu saja berkata ketika aku bertanya “siapa gadis itu?”

 

“Kau akan tahu suatu saat nanti.”

 

HEY! Ini sudah empat tahun. Apa suatu saat untuk dia itu selama 4 tahun atau lebih? Yang jelas rasa penasaranku hanya bisa kupendam dalam-dalam. Sedalam mungkin… Mungkin akan meledak suatu saat nanti.

 

“Jadi aku harus bagaimana Ah Jung ?”

“Kau ini kenapa bertanya lagi? Sebentar lagi kan ulang tahunnya, bilang saja ‘hey, aku menyukaimu,’ atau kalimat romantis lainnya. Soal begitu mana aku tahu,” jawabku setelah mendengar ceritanya.

 

‘Gadisnya’ akan berulang tahun dalam waktu dekat. Rencananya, Myung-Soo ingin menyatakan cinta yang telah ia pendam selama 4 tahun kepada gadis itu. Cinta dipendam selama itu? Kalau cinta itu sama dengan kayu, maka kayu itu akan lapuk.

 

Aku kan, belum pernah berpacaran, jadi aku tidak tahu hal seperti itu. Sama sekali tidak bisa memberikan saran ke Myung-Soo atau menyuruhnya melakukan hal romantis. Oke, ralat. Jangan salah, aku selalu menyuruhnya romantis ke ‘gadisnya’ tapi ketika Myung-Soo meminta contoh, aku kehabisan kata-kata. Aku kan bukan tipe orang yang romantis.

 

Buku resep masakan Perancis kembali membuatku membacanya sementara Myung-Soo masih sibuk berpikir

 

Nampaknya Myung-Soo belum puas. Dia memandangku kesal “Maksudku, Ah Jung sayangku, bagaimana caranya aku ‘menyatakan’ nya? Kau ini, berhenti berkutat dengan kumpulan resep kue khas Perancismu itu dan seriuslah sedikit! Bantu aku!”

 

Aku terkekeh pelan, mendengar omelan Myung-Soo. Tanganku meletakkan buku resep yang enggan kulepas, menyeruput sedikit jus ku, lalu menatap Myung-Soo. “Tampaknya kau harus menyediakan, atau mempersiapkan hal yang dia sukai, ya kurasa seperti itu,”kataku mengambil konklusi dari cerita panjang Myung-Soo.

 

 

“Ah Jung, hal apa yang kau sukai? Sebagai Kado, mungkin?” Myung-Soo tiba-tiba bertanya hal seperti itu. Dahiku mengerut, jangan bilang kalau dia lagi-lagi menyamakan apa yang aku suka dengan gadisnya suka. Aneh.

 

“Sesuatu hal yang manis, dan konyol,” aku terkekeh pelan, “Bercanda. Apa saja, yang jelas bukan soal hantu,” sambungku. Myung-Soo menganggukkan kepalanya mengerti. “Aku jadi mengerti apa yang harus kulakukan.”

 

Aku melongo melihat Myung-Soo sekarang. Apa hanya dengan satu persepsi opini gadis dia bisa mengambil kesimpulan? Tanpa membandingkan selera gadis lain seperti apa? Siapa tahu seleraku dengan gadis itu berbeda, siapa yang bisa menyangkal?

 

Kadang-kadang, jalan pikiran pria ini memang sulit ditebak dan rumit.

 

“Aku bisa membantumu, kok kalau kau bersedia.”

Tawaranku sepertinya ditolak Myung-Soo. Sambil menggeleng ala pemimpin orchestra, dia mengayun-ayunkan jari telinjuknya. “No… No…”

 

“Kalau KAU bersedia.” Sengaja aku menekan kata KAU supaya dia sedikit sadar. Tapi, tunggu. Tiap hal yang kusukai, apapun itu, pasti gadis itu juga menyukainya. Tidak ada yang tidak mungkin memang, tapi kemungkinan sama persis seperti ini jarang sekali. 1 : 1000 mungkin. Juga setiap aktifitas yang aku lakukan, hampir nyaris bersamaan dengan yang Myung-Soo laporkan, kira kira seperti itu.

 

Misalkan, “Gadisku sakit.”

 

Myung-Soo ceritakan pada saat sehari setelah aku sakit atau bahkan bersamaan. Sebuah kebetulan yang sangat aneh menurutku.

 

Atau, “Gadisku sedang kesulitan dalam pelajaran Manajemen. AKu harus mengajarkannya, ya?” Saat itu aku, kebetulan, juga kesulitan dalam mata kuliah Manajemen. Dan, keesokannya dia mengajariku tanpa diminta.

 

“Kau tidak mengajari gadismu?”

Myung-Soo tersenyum, “Sudah, kok.”

 

Hah… Hey, Gadisnya Myung-Soo, kau ini siapa sebenarnya? Aku sangat ingin melihatmu, kau tahu?

 

“Gadisku sedih. Kue buatannya gosong.” Saat itu juga, aku sedang menangisi kueku yang gosong.

 

“Kau tahu, gadisku memotong rambutnya dan itu terlihat lucu!”

Saat itu, aku baru saja memotong rambutku. Dengan cuek, aku menanggapi Myung-Soo, “Aku,Ya? Aku baru memotong rambut, loh. Cute?” kataku memasang mimik ‘aegyo’ ala member grup idola Korea.

 

Myung-Soo langsung memicingkan matanya dan ‘muntah’.

 

Okay, i am so done with you, Myung-Soo.

 

Dan kebetulan lainnya yang sulit dijelaskan. Apa mungkin gadis itu adalah kembar tak sedarah? Hatiku mengumpat. Aku terlalu banyak membaca buku fantasi dan pola pikirku pun begitu. Dasar.

 

Kembali ke Myung-Soo yang cemberut.

 

“Myung-Soo, kau tidak berniat memberitahukan siapa dia padaku?”

 

Dan, seperti reaksi Myung-Soo yang seperti biasa, dengan tatapan matanya saja aku tahu. Jawaban Klise. Tanpa aku harus melihatnya, aku tahu pasti apa.

 

“Nanti saja, kukenalkan.”

 

Sudah kuduga. Selalu saja.

 

-oOo-

 

Wah, baru saja ada yang mengajakku kencan sabtu nanti di Seoul Park. Dia adalah Lee Ho-Won dari kelas sebelah. Lee Ho-Won cukup populer, walaupun tidak sepopuler Myung-Soo, tapi banyak yang menyukainya. Amy, teman bangkuku saja menyukainya sampai selalu duduk disebelahnya jika makan siang di kantin.

 

“AH-JUNG !!!!!!”

 

Benar saja, teriakan Amy terdengar dari ujung koridor. Derap langkah kakinya pun semakin mendekat.

 

Dia pasti sedang mengejarku.

 

Aku menoleh kebelakang saat Amy menepuk pundakku. Dengan napas yang terengah-engah, dia berusaha bertanya. Aku sudah tahu dia akan bertanya apa.
“Jadi… Hosh… Kau… Hosh…. menerima…. ajakan…. hosh….”

 

“Belum, ayo kita ke kantin. Kau butuh minum.”

 

Tanpa banyak protes, Amy langsung mengikutiku, sebenarnya aku menarik lengannya sih.

 

 

 

“Jelaskan padaku,” ujar Amy setelah menghabiskan satu botol air putih. Memang dia barusaja berlari sirkuit ya? Sampai satu botol habis sekejap begitu.

 

Amy memasang wajah imut nan berdosanya, seakan ingin mendapatkan pengakuan dariku. “Apa Ho-Won mengajakmu kencan?” tanyanya. Sudah kuduga. Bingo !

 

Aku mengangguk membenarkan yang seketika membuat wajah Amy cemberut. Dengan mencondongkan tubuhnya, Amy berbisik. “Dimana? Kapan?”

 

Walaupun tidak terlalu akrab, tapi dia memang salah satu teman terdekatku di sekolah. Selain Kim Myung-Soo, tentu saja. Amy tidak akan marah kepadaku karena Ho-Won, idolanya, mengajakku kencan. Karena Amy sudah tahu, tipe ku bukan lelaki seperti Ho-Won.

 

“Seoul National Park, sabtu nanti.” Aku menjawab seadanya. Sebenarnya, wajah Amy yang cemberut itu lucu. Aku mengalihkan pandanganku untuk tidak menertawai Amy.

 

“Ah-Jung… Kau mau menerimanya?”

 

“Menurutmu?”tanyaku balik.

 

“YA!!!”

 

Amy langsung berteriak tanda tidak setuju. Aku tertawa melihatnya. “Tentu saja tidak, kau tahu sendiri tipe idealku bagaimana, kenapa masih bertanya lagi?” kataku membela diri sendiri sambil menahan tawa.

 

Amy menghela napas lega dan tersenyum lebar. Dia menatapku dengan intens, tiba-tiba, membuatku heran sendiri. Apa yang dipikirkan Amy?

 

“Kau sedang berkencan dengan Myung-Soo? Sampai menolak Ho-Won?”

 

Pertanyaan Amy membuatku terdiam. Berkencan dengan Myung-Soo?

 

“HAHAHAHAHAHAHAHAHA.”

 

Tawaku meledak. Amy langsung kaget mendengar aku tertawa sekeras itu.

 

“Kau gila, ya?”

 

“Kau yang gila. Tertawa sebesar itu. Kau sadar, ini dikantin! Astaga, nanti orang mengira aku ini kenapa. Bagaimana ini?”

 

“Amy, Amy, Shin Ah-Mi,” aku tertawa sebelum melanjutkan kalimatku. “Myung-Soo sedang menyukai gadis lain sekarang. Dia selalu menceritakan gadis itu setiap hari. Bagaimana mungkin aku berkencan dengannya? Aku bahkan tidak punya niat untuk berkencan. Dengan SIAPA pun,” kataku dengan penuh percaya diri, menekan intonasi kata siapa agar jelas maksudku apa.

 

Amy mengangguk mengerti, atau mungkin pura-pura mengerti karena selanjutnya dia kaget. Kaget. Sampai matanya membesar, mungkin saja bola matanya bisa keluar kalau begitu.

 

“Siapa? Siapa gadis yang…. Aigo, gadis itu beruntung sekali.”

 

Aku mengangkat bahu tanda tidak tahu. “Entahlah. Gadis itu menjadi top secret seorang Kim Myung-Soo dari beberapa tahun yang lalu.” Aku berusaha mengingat dan memang sudah empat tahun. “Kau tahu siapa gadis yang dekat dengan Myung-Soo sekarang?” tanyaku ke Amy, mungkin saja dia tahu. Amy seorang gadis yang populer.

 

Amy nampak tertarik dengan topik pembicaraan ini. “Katakan, katakan ciri-cirinya. Namanya, kelas, mungkin saja wajahnya.”

 

“Aku tidak tahu nama, kelas, bahkan wajahnya pun tidak.”

 

Amy memandangiku heran. “Kau serius?”

“Aku tidak sedang bercanda.”

 

“Apa Myung-Soo tidak pernah memberitahumu?”tanyanya lagi, heran dengan apa yang dia dengar barusan.

 

Well, semua orang jika ada di posisi Amy, bahkan diriku, pasti juga heran.

 

Aku membetulkan posisi duduk dengan mencondongkan badanku ke depan. Amy pun ikut mencondongkan badannya. “Dia hanya memanggil gadis itu ‘gadisku’ tanpa memberitahu namanya siapa. Bahkan, ketika aku meminta Myung-Soo melihatkan wajah gadis itu, dengan entengnya dia menjawab tidak !!! Aku bisa gila dengannya!!!”

 

“Benarkah? Benar Myung-Soo seperti itu?” Amy bertanya dengan mimik yang penasaran.

 

Aku mengangguk membenarkan. “Menurutmu, siapa siswi di sekolah ini yang paling dekat dengan Myung-Soo?”

 

“Um….. Banyak. Myung-Soo orangnya baik, sih.”

 

“Yang sering membaca buku masakan?”

 

“Hah? Masa aku memperhatikan sampai sedetail itu,” desis Amy. Aku memandanginya dengan tatapan memelas. Amy lalu kembali berpikir.

 

“Hanya kau, Yoon-Seul dari kelas 3B dan Baek Mi-Ra dari kelas 2A. Kalian kan satu klub tata boga!! Masa kau lupa, sih?”

 

“Oh iya… Kau tahu sendiri, kan, aku ini seperti apa,” kataku membela diri. Amy mendengus geli mendengarnya.

 

Aku berpikir-pikir lagi, mengingat ciri-ciri yang pernah Myung-Soo ceritakan.

 

“Tinggi, wajahnya katanya manis, senyumnya manis, rambutnya panjang, dan pintar. Itu saja ciri-ciri yang aku tahu.”

 

“Manis… Tinggi…. Ah Jung, itu kan, kau.”

 

Eh?

 

Aku tertawa. “Tidak mungkin. Bagaimana caranya Myung-Soo menyukaiku? Aku tidak manis, anyway. Karena aku bukan gula ataupun fruktosa.”

 

“Bisa saja, kau yang paling terdekat dengan Myung-Soo diantara ketiga gadis yang kusebut tadi,” kata Amy mempertahankan opininya. “Dan, siapa bilang kau glukosa atau fruto fruto itu, hah?” tambahnya.

 

“Ah…. aku tidak tahu,” desahku mengacak rambutku frustasi. Amy juga ikut stres dengan memasang ekspresi sebal.

 

 

Kami pun sibuk dengan pikiran masing-masing, menerka siapakah sosok gadis yang disukai Myung-Soo itu. Siapa yang bisa membuat Myung-Soo jatuh hati kepadanya?

 

“Ah-Jung! Ah-Jung!” Amy membuyarkan lamunanku. Dia menunjuk kearah belakangku, aku pun menoleh kebelakangku dan melihat Myung-Soo sedang mengobrol dengan seseorang.

 

“Itu.. Yoon-Seul, kan? Yoon-Seul dari kelas 3B, kan?”

 

Oh, jadi Yoon-Seul, ya? Kenapa Myung-Soo tidak berusaha jujur saja kepadaku? Kenapa harus dia menyembunyikannya? Lagipula, mereka terlihat serasi.

 

“Jadi, itu ya?” gumamku pelan.

 

Hwang Yoon-Seul, dari kelas 3B. Dialah gadis yang disukai Myung-Soo selama 4 tahun. Ini sudah diklasifikasi, lihat saja cara mereka mengobrol. Cukup akrab dan mereka saling melempar senyuman satu sama lain.

 

Rupanya, Myung-Soo merasa ada yang sedang memerhatikannya, dan pandangannya menuju kearahku dan Amy. Aku tidak mendengarkan Amy lagi karena yang kuperhatikan, Myung-Soo langsung berjalan kearahku begitu pandangan kami bertemu.

 

Tatapannya…. terlihat marah. Dia marah ke siapa?

 

“Bisa kita bicara berdua?” tanyanya langsung menarik lenganku. Aku memandanginya heran. Apa maksudnya ini?

 

“Apa maksud…”

 

“Ikut saja denganku,” pintanya langsung menarikku pergi dari kantin.

 

ASTAGA !!! seenaknya saja anak ini.

 

“Mau kemana?” tanyaku berusaha menyeimbangkan langkah kaki Myung-Soo yang lebar. Myung-Soo tidak menjawab, dia terus menarikku sampai di suatu tempat.

 

Lapangan tenis. Dia pun melepaskan genggamannya dan duduk di kursi penonton. Aku pun ikut duduk disampingnya.

 

Myung-Soo menghela napas berat. Dia lalu menatapku, dengan tatapan yang sangat aneh, seperti marah dan jengkel. Tapi, apa salahku?

 

“Kau…”

 

Belum sempat aku menyelesaikan pertanyaanku, Myung-Soo langsung bertanya. “Kau menerimanya?”

 

“Apa?” tanyaku balik.

 

Myung-Soo semakin terlihat gusar. “Kencan, Kencan dengan Ho-Won. Kau menerimanya?” tanyanya lagi.

 

“Belum, sih…. Karena aku ada jadwal sabtu nanti. Mungkin hari minggu, tidak ada salahnya, kan?”

 

“Tidak ada salahnya, katamu?” Myung-Soo seakan tidak percaya. Aku mengangguk. Dan, anggukanku itu seakan jawaban yang sangat salah bagi Myung-Soo sampai dia menghela napasnya berat.

 

“Memangnya kenapa?” tanyaku. Myung-Soo bertingkah aneh sekarang.

 

Myung-Soo memalingkan pandangannya, menatap lurus ke lapangan. “Memangnya kenapa? Ah-Jung, kumohon, jangan menerima ajakannya.”

 

Aku tidak mengerti. Ada apa dengan Myung-Soo? Bukannya dirinya dan Ho-Won akrab? Lalu kenapa dia melarangku? Apa salah Ho-Won?

 

“Tunggu dulu…” aku berusaha mencairkan suasana, “Memangnya kenapa dengan Ho-Won? Bukannya kalian akrab?”

 

“Jangan menerimanya, pokoknya!” seru Myung-Soo.

 

“Kenapa kau menyuruhku seperti itu? Aku bukan boneka mu…. itu terserah denganku, mau berkencan dengan siapa. Memangnya kau kenapa? Apa kita punya janji minggu nanti?” balasku sengit. Myung-Soo semakin sebal mendengarnya.

 

“Ya, kita punya janji hari minggu nanti. Kau sudah janji untuk menemaniku membelikan kado untuk…”

 

“Gadis yang kau sukai?” Aku menyela perkataan Myung-Soo. Myung-Soo terdiam, lalu mengangguk pelan.

 

“Kau tahu, aku sudah lelah dengan gadismu itu. Kenapa kau tidak memberitahukan siapa dia? Apa dia begitu sempurna? Atau kau malu memperkenalkanku dengannya, begitu?”

 

Emosiku memuncak. Myung-Soo nampak menyesal karena sudah melarangku.
“Ah-Jung…. Hari minggu nanti aku akan memberitahukannya kepadamu, siapa gadis itu.”

 

“Tidak usah, aku sudah tahu,” kataku yakin. Myung-Soo nampak tidak percaya, dia langsung tersenyum lebar mendengarnya.

 

“Benarkah? Kau sudah tahu? Kalau begitu aku tidak perlu mengataka….”

 

“Apa itu Yoon-Seul? Gadismu itu Yoon-Seul, begitu?”

 

Myung-Soo mengerutkan dahinya. “Yoon-Seul?”

 

“Bukannya kalian sangat akrab? Dia juga termasuk dalam ciri-ciri gadis yang kau katakan itu. Memang dia, kan? Kenapa kau harus menyembunyikannya? Kenapa tidak mengatakannya secara langsung kepadaku? Aku tidak cemburu, kok.”

 

Sedetik kemudian, raut wajah Myung-Soo berubah. Dia seperti kecewa dengan perkataanku. Apa yang salah, memang?

 

“Apa semua ini kurang jelas?” gumam Myung-Soo.

 

Myung-Soo mengalihkan pandangannya kearahku, menatapku dengan tatapan yang sedih. gumamnya lalu beranjak berdiri dan meninggalkanku sendirian.

 

“Gadis itu bukan Yoon-Seul, Ah-Jung,” katanya sebelum pergi.

 

Aku menghela napas. Kini, aku dan Myung-Soo saling berselisih.

 

Gadisnya Myung-Soo, aku mulai membencimu, kau tahu?

 

 

 

-oOo-

( Ah Jung Birthday )

 

Malam ulang tahunku biasa saja. Hanya menghabiskan waktu bersama Ayah dan Ibu di rumah. Ibu membuat kue kesukaanku, Devil’s Food cake sementara ayah membuatkanku banyak tempura.

 

Kami bercengkrama seperti halnya keluarga biasa, tetapi bedanya hari ini Ayah lebih banyak tertawa dibanding sebelumnya. Ayahku memang terkenal dingin dan tegas, tapi kalau dirumah dia menjadi sosok yang menyenangkan dan hangat.

 

Ting ! Ting!

 

“Ah-Jung, coba buka pintunya,” pinta Ayah langsung disambut oleh anggukanku. Aku beranjak berdiri dan berjalan ke pintu. Saat membukanya, Myung-Soo dengan pakaian serba hitam menatapku dengan tatapan cold-city-boy yang digilai penggemarnya.

 

“Apa?”

Aku masih marah dengannya. Sebenarnya, bukan dengan dia tapi dengan gadisnya itu. Gara-gara dia, hubunganku dengan Myung-Soo menjadi renggang.

 

“Tidak bisa lebih ketus daripada itu?” gumam Myung-Soo menaikkan alisnya. Aku tidak menyuruhnya masuk dan dia berkacak pinggang dihadapanku semakin membuatku tidak ingin menyuruhnya masuk. Biar saja.

 

Mataku menatap mata Myung-Soo dingin. “Bisa, kalau kau mau,” kataku.

 

Myung-Soo menghela napasnya. “Sudahlah, Ahjung. Aku kesini bukan untuk bertengkar denganmu.” Myung-Soo menarik lenganku tiba-tiba keluar rumah. Aku berusaha melepaskan semampuku, setelah Myung-Soo berhenti aku langsung melepaskan genggamannya.

 

“Kau ini kenapa,” kataku memandangi tanganku yang memerah. Myung-Soo langsung mengambil tanganku dan melihat bekas tangannya. “Maafkan aku,” katanya menatap mataku.

 

Tatapannya yang hangat itu….

 

Aku menoleh cepat sebelum terjebak dalam pesona Kim Myung-Soo. Oh, oke, ingatkan aku kalau dia sedang menyukai seseorang sekarang.

 

“Duduklah,” ucapnya menarik tanganku dan memaksaku duduk. Aku, dengan tidak suka rela, duduk disampingnya. Dia menghela napas dan membuka mulutnya lalu berkata, “Besok ke taman bermain dekat sekolah. Jam 10 pagi. Awas kalau tidak datang.”

 

“Maksudmu mengancamku ini apa?” tanyaku dengan nada yang sedikit tinggi.

 

Oke, mungkin ini aneh, tapi apakah Myung-Soo melupakan hari ini adalah hari ulang tahunku dan dia bersikap menyebalkan kepadaku? Bukannya meminta maaf atau memberikan selamat ulang tahun?

 

Myung-Soo tidak berkata apa-apa, justru menoleh dan menatapku tajam. “Aku besok ingin menyatakan perasaanku ke gadisku. Kau harus datang, karena kau yang tahu semua perjalanan kami.”

 

Seakan tahu aku masih tidak rela, dia mengambil tanganku dan menggenggamnya lalu bermohon, “Aku mohon kepadamu…. Apa tidak bisa datang?”

 

“Kenapa aku harus datang?”

 

“Karena kau harus datang,” jawabnya tenang.

 

Perasaanku hancur saat Myung-Soo mengatakannya. Apa dia tidak punya perasaan? Atau tidak punya kepekaan?

 

Bagaimana mungkin dia menyuruhku melihatnya menyatakan perasaan ke gadis lain? Sementara… perasaan yang kukubur dalam-dalam masih muncul ke permukaan?
Apa Myung-Soo tidak sadar kalau aku dulu, dan mungkin masih sampai sekarang, menyukainya?

 

“Apa hadiahnya kalau aku datang?” tanyaku berusaha tenang, tidak termakan emosi. Mataku sudah sangat panas dan siap meneteskan air mata.

 

“Traktiran di Ramen Shin, bagaimana?” Myung-Soo menawarkan dengan yakin dan bodohnya, aku mengangguk. Setelah itu, dia langsung meninggalkanku sendirian di taman tanpa mengucapkan sepatah kata.

 

Aku menatap punggung Myung-Soo yang semakin menjauh. “Apa kau punya perasaan atau tidak?

 

-oOo-

 

Keesokan Harinya

 

 

Alarmku berdenting keras dipagi hari. Aku terbangun dengan mata yang terasa sangat berat. Ya, semalam aku menangis. Jangan tanyakan aku alasannya, karena aku juga bingung kenapa. Aku hanya menangis melihat Myung-Soo yang terkesan keji kepadaku.

 

Jangan tanyakan kenapa.

 

Dan sekarang, aku sudah berganti baju dengan rapi lalu melangkahkan kakiku menuju taman bermain disamping sekolah. Entahlah, apa nanti aku menangis disana saat melihat Myung-Soo dan gadis kesukaannya atau hanya akan melihat mereka dari kejauhan. Keduanya sama, aku harus melihat mereka bersama.

 

Dan aku tidak menyukai gagasan itu.

 

Dari kejauhan, nampak biang lala yang menjadi khas dari taman bermain itu. Aku, dengan cueknya, membayar tiket masuk lalu masuk. Jam menunjukkan pukul 10 pas. Aku tidak terlambat, kataku dalam hati mencari sosok Myung-Soo.

 

Aneh, kenapa taman bermain ini sepi?

 

Memang iya, taman bermain ini kecil dan tidak terlalu besar. Biasanya, jam 10 sudah mulai dipadati pengunjung. Hari ini sepi sekali, batinku melihat sekeliling sambil tetap berjalan.

 

Saat didepan biang lala, langkahku terhenti. Myung-Soo, dengan gitarnya, menatapku dan tersenyum. “Kau datang juga,” katanya.

 

“Tidak terlambat, kan? Sekarang tunjukkan dimana dia,” kataku sedikit tidak sabar. Aku sangat ingin melihat gadis itu.

 

Myung-Soo menghampiriku, lalu mengenggam tanganku. “Sabar sedikit. Dia tidak akan lari, kok.” Lalu dia mengajakku masuk kedalam area biang lala itu.

 

Myung-Soo duduk disebuah kursi yang ada disana. Aku tidak diajaknya duduk. Dia pun mengambil gitar disampingnya, “Ini lagu untuk dia,” gumamnya.

 

“Oh, jadi kau pamer?” kataku lagi. Dia menggeleng.

 

“Siapa bilang? Kau sudah lihat siapa dia?”

 

“Tidak. Tidak ada orang disekitar sini dan kau tidak buta, bukan?”

 

Myung-Soo tersenyum. Ia pun mulai memetik gitarnya. Sebelum menyanyi, dia mengucapkan sesuatu. “Dia ada disini.”

 

Aku tidak memperhatikan maksud Myung-Soo, pikiranku terhanyut oleh caranya memainkann gitar dengan piawai dan menyanyikan lagu yang sangat kusukai.

 

K.Will. Love Blossoms.

 

The sweet morning breeze in my mouth

With the sun shining over the white blanket

Comes a ring that makes my heart flutter, could that be you?

With the sound of a spoon of sugar, hello, hello

 

Spring comes, into this street

Spring comes, into my heart

Don’t know why I am so excited, oh

 

Oh… Hatiku mencelos. Suaranya sangat indah. Aku terpaku berdiri ditempatku.

 

 

Petals like popcorn fly high

If you tell me that you love me, I really melt

When the wind blows like today

I go crazy all day

Because I constantly think of you

 

The sweet smelling spring wind streams

The feeling of the sunshine on my cheeks is perfect

Watching the white petals dance

Walking with you

 

Tiba-tiba, biang lala yang tadinya mati, menyala dengan sendirinya. Kelopak bunga pun berjatuhan dari langit, atau mungkin seseorang yang melakukannya. Mana mungkin ada hujan kelopak bunga.

 

Suara Myung-Soo masih mengalun. Kali ini, dia menatapku lalu tersenyum.

 

Aku tidak membalas senyumnya karena hanyut oleh permainan gitarnya. Segalanya.

 

Spring comes, into this street

Spring comes, between us

Our flustered hearts rises, oh

 

Petals like popcorn fly high

If you tell me that you love me, I really melt

When the wind blows like today

I go crazy all day

Because I constantly think of you

 

Is this the street that I saw in my dream?

Everywhere I walk with you is beautiful

Every time I see you, I am surprised

You couldn’t be any more beautiful

 

Love melts to the warm spring light

Love blows in the rustling wind

When the wind blows like today

When the wind blows like today

the first thing that comes in my mind

 

Tiba-tiba, Myung-Soo menghentikan permainannya. Aku yang sedari tadi menutup mata, mengerjapkan mataku dan menatap Myung-Soo. “Kenapa berhenti?”

 

Myung-Soo menghela napas. “Apa kau sadar siapa dia?”

 

Ah, Dia !!!

 

Saking terpesonanya aku dengan permainan gitar Myung-Soo, sampai lupa tujuan utama hari ini.

 

“Memang dia dimana,” gumamku memandangi sekelilingku. Kosong, tidak ada orang. Hanya ada aku dan Myung-Soo.

 

“Dia ada disini,” kata Myung-Soo dengan sangat yakin. Aku mengerutkan dahi.

 

“Kau bercanda? Hanya ada aku dan kau….”

 

Myung-Soo tertawa. “Sampai sini kau belum mengerti juga?”

 

Aku tidak mengerti maksud Myung-Soo. Dia pun kembali memetik gitar dan menyanyi.

 

Only you, only you, only you

Petals like popcorn fly high

If you tell me that you love me, I really melt

When the wind blows like today

I go crazy all day

Because I constantly think of you

 

You’re my spring

 

Myung-Soo menatapku intens.

 

Ah Jung, you’re my spring.

 

Deg!!

 

“Apa katamu….”

 

Myung-Soo meletakkan gitarnya di kursi. Dia lalu berdiri dan berjalan mendekatiku. Aku kehilangan kata-kataku. Entah, ekspresiku saat ini seperti apa.

 

“Ini bukan april mop, kan?” tanyaku kepada Myung-Soo. Myung-Soo menggelengkan kepalanya. “Ini bukan bulan April.”

 

“Ini kado ulang tahunku? Kau… Ah aku mengerti sekarang… Ka….”

 

 

“Aku menyukaimu.”

 

“Aku tidak sedang bercanda,” kataku.

 

“Memang aku sedang bercanda saat ini?” dia malah membalasku.

 

“Mungkin, atau ini adalah sebuah lelucon.”

 

“Lelucon? Lelucon… dengarkan aku, tidak, sebaiknya kita duduk dulu,” katanya mengajakku duduk dan aku menurut.

 

Myung-Soo lalu menatapku. “Kau adalah gadisku. Orang yang selama empat tahun belakangan ini aku sukai,” katanya memulai pembicaraan dengan statement yang mengejutkan.

 

Tolong tampar aku sekarang.

 

 

“Semua hal yang pernah kuceritakan kepadamu itu hal tentangmu. Kupikir, kau akan cepat sadar dan memberitahuku jadi aku menunggu selama ini demi mendengarku berkata ‘Myung-Soo-ya, ini bukan lelucon, gadis itu aku kan,’ begitu.”

 

“Tapi sayangnya kau tidak peka sama sekali. Dan, sekarang aku berusaha menyatakan perasaanku kepadamu.”

 

“Myung-Soo…”

 

“Jangan menyela karena aku belum selesai.” Dia kembali melanjutkan, “Saat kau menerima ajakan kencan dengan Jiyong aku rasa benar benar ingin memberitahumu, tapi aku tidak mau. Saat kau mengatakan aku dengan Yoonseul… astaga otakmu kau gunakan atau tidak? Aku sudah memberikan tanda sangat jelas dan kau masih saja.”

 

Aku tidak bisa mengatakan apa-apa. Semuanya diluar kendaliku.

 

“Ah Jung, aku menyukaimu.”

 

Rasanya oksigen disekitarku habis. Aku menatap Myung-Soo lama, berusaha melindungi apakah ini lelucon atau tidak. Tidak. Matanya memancarkan kesungguhan dan itu sangat jelas.

 

“Kurang ajar kau, Kim Myung-Soo,” gumamku setelah menemukan kata-kataku. Dia tertawa mendengarnya, seakan puas mengerjaiku. “SIAL KAU !!!!!” Aku memukul Myung-Soo keras dan dia hanya tertawa.

 

“Jadi aku membenci diriku sendiri, begitu?”

 

“Kau membenci dirimu sendiri? Konyol.”

 

Sebuah pukulan mendarat dikepala Myung-Soo. Myung-Soo hanya bisa mengaduh sambil tertawa.

 

“Aku membencimu, sangat, Kim Myung-Soo,” teriakku sebal.

 

“Tapi aku menyukaimu, sangat. Bagaimana?” katanya dengan polos membuatku ingin melemparnya ke Sungai Han karena perbuatannya selama ini. “Jadi kau mau jadi…. pacarku?”

 

Aku tidak menjawab. Aku menatap Myung-Soo. “Apa status sahabat tidak mengganggumu?”

 

“Aku mendekatimu dan menjadi sahabatmu karena aku menyukaimu,” sahutnya dengan polos. Oh Tuhan…. Biarkan aku melempar orang ini!!

 

“jadi sekarang kau adalah pacarku.”

 

Myung-Soo langsung membawaku naik ke biang lala sementara hujan kelopak bunga masih terjadi. Aku serasa tidak percaya dengan semua ini.

 

“Selamat ulang tahun,” bisik Myung-Soo saat kami sudah ada diatas.

 

Apa ini semua konyol? Mungkin iya. Tapi, jujur saja, aku menyukai semuanya. Bahkan part disaat aku membenci diriku sendiri. Cinta yang konyol dari Kim Myung-Soo. Oh well, konyol tapi menyenangkan.

 

Dan, yang terpenting, aku menyukainya.

 

 

 

 

One response to “[ONE SHOOT] Love Blossoms

  1. so sweet… ahhh myungsoo romantisnya…suka suka…dan bodohnya si ah jung malah ngak peka heheheh.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s