(CHAPTER 2) – Dream High 3

LINTANGWOON STORY :

(CHAPTER 2 – Sesuatu yang tak pernah berubah)

Last Chapter : 1

poster-lintangwoon-dream-high-3

(poster by : kak ica)

***

Fanfiction : Dream High 3

Author : Lintangwoon

Main Cast : Park Jiyeon, Kim Myungsoo, Mark Tuan, Bambam

Additional Cast : Bang Minah, Lee Jieun, Yunho, Sungjong, Lee Minho, etc

Genre : Romance, Life, Comedy and School Life

Rating : PG – 13

Lenght : Chapter

Disclaimer : Fanfiction ini murni pemikiran Author tanpa memplagiat cerita manapun.

***

readers annyeong! apa kabar semuanya!

woah! aku balik lagi bawa chapter keduanya ya!

dan THANKS so much buat antusiasnya di last chapter ya.

semoga dichapter ini bisa mengobati kangen dan penasaran kalian!

langsung aja ya!

dan selamat lebaran semuanya!

ditunggu jejak komentar kalian yang bikin semangat!

Always back back back back back to see my updates!

LOVE READERS!

ps : kalau bisa, puter 2AM – I wonder if u hurt like Me ya!

—————————————————————————————–

’Seosangnim?’’

‘’Memangnya tak mungkin jika aku yang datang?’’ tanya Lee Minho-sam dengan senyum tenang tanpa memperdulikan wajah shock Jiyeon.

Tak hanya shock. Jiyeon benar-benar tak menyangka jika Guru-nya bisa berdiri didepan-nya saat ini. Semua ini hampir seperti mimpi bagi-nya.

Jiyeon memutar bola matanya, berusaha mengalihkan tatapan-nya, ‘’Mau apa Anda kemari?’’ tanya Jiyeon kaku. Ia sama sekali tak mau menatap Minho saat ini.

Namun, Minho tersenyum tulus mendengar ucapan Jiyeon yang kaku, sikapnya yang terasa dingin. Di acuhkan begitu saja oleh Minho. Ia kemudian mengulurkan tangan kanan-nya dan mengelus rambut Jiyeon dengan sayang. Ia begitu merindukan murid kebanggaan-nya itu.

Jiyeon terenyak. Dalam hatinya ia begitu menjerit sekarang. Ia ingin lari, saat ini juga.

***

‘’Sekarang, katakan padaku, Hyung. Apa yang kau lakukan dengan Noona, eoh?’’ tanya Bambam sambil memincingkan matanya penuh keingin tahuan.

Mark menatapnya sejenak, ‘’I didn’t do anything.’’ jawabnya singkat sambil mengunyah Coklat yang Bambam bawa. Ia memandang pintu dan mendapati jika Jiyeon belum juga kembali.

’Wae wae! Jigeum wae! Kenapa kau menatap pintu? Kau pasti menunggu Noona! Yaa! Hyung! Hajima.. Hajimaa.’’ rengek Bambam sambil memasang wajah cemberutnya.

Sebenarnya ia tak masalah jika Mark dan Jiyeon saling bercanda atau tertawa. Tapi, entah kenapa, ia merasa Jiyeon mengambil Hyung-nya. Maka dari itu, ia sangat kesal dengan mereka berdua.

‘’Kudengar kau dan Noona-mu jarang makan bersama?’’ tanya Mark tiba-tiba.

‘’Uhuk uhuk. Siapa yang mengatakan-nya? Pasti Jiyeon Noona kan? Hm. Jangan dengarkan ucapan-nya Hyung.’’ jawab Bambam kemudian. Ia kemudian meminum air putihnya sampai habis. Mencoba menetralkan tenggorokan-nya yang terasa kering.

Mark mengedikan bahu pura-pura tak perduli, ‘’Ia ingin bermanja padamu.’’

Bambam menghela nafas dengan kesal. Ia menatap Mark penuh rasa ingin tahu yang sama, namun sekarang terbagi dengan rasa aneh dalam hatinya.

‘’Koetjimal. Noona selalu berusaha berdiri sendiri. Ia tak pernah mau bermanja-manja padaku.’’ jawab Bambam dengan sedikit nada sedih didalamnya. Ia mengaduk-aduk chocolate panas yang telah Jiyeon siapkan lama, chocolate yang telah mendingin sejak tadi.

‘’Kau coba saja. Buktikan omonganku.’’ saran Mark sambil mengelus kepala Bambam.

Dengan cepat Bambam segera memeluk Mark dengan sayang. Ia tak tahan untuk tak mencurahkan isi hati-nya.

‘’Hyuuuuung! Eottoke? Jinjja Eottoke. Ia tak pernah membutuhkan-ku.’’ balas Bambam dengan sedih. Ia pun ingin sekali memanjakan Noona-nya. Namun, kadang Jiyeon terlalu dingin. Seakan ia mempunyai benteng besar yang membuat siapapun tak bisa menyentuh jauh kedalam hatinya.

‘’Ia menyayangimu. Just it.’’

Mark kemudian berdiri dan membereskan meja makan. Ia bahkan mencuci piring dan gelas yang mereka pakai. Diam-diam ia kembali mengamati pintu. Menunggu Wanita itu datang dan melihat ekspresinya nanti.

’Hyung tadi kenapa kau lari?’’ tanya Bambam hati-hati. Sungguh, ia tak bisa mengatasi rasa ingin tahu-nya tentang kejadian di Sekolah tadi.

‘’Apa?’’ ulang Mark yang tak fokus mendengarkan Bambam.

Bambam kemudian menghela nafas, ‘’Kenapa kau tiba-tiba pergi dari Kirin? Kenapa kau membatalkan tes mu Hyung?’’ tanya Bambam lagi.

Wajah Mark yang tampan tampak mengeras dan diwajahnya tampak ekspresi terluka yang kental didalamnya. Bambam yang bisa membaca raut wajah Mark menjadi tak enak dengan pertanyaan yang ia ajukan.

‘’Jika kau tak mau menjawab tak apa. Aku mengerti Hyung.’’ ucap Bambam sambil menepuk bahu Mark.

Namja itu tersenyum meski nampak sedikit kaku. Ia membalas tepukan Bambam di Bahunya.

‘’Kau harus sekolah yang benar, eoh? Jangan kecewakan Noonamu dan aku. Aku sangat iri padamu, Arasso?’’ jawab Mark dengan senyum yang perlahan memudar.

‘Aku iri padamu. Sungguh, Bambam. Andai saja, aku bisa masuk ke Kirin juga. Andai saja aku punya seseorang seperti Jiyeon disampingku. Andai saja, keluargaku tak pernah ada didunia ini. Andai saja.’ Batin Mark sambil menutup matanya, berusaha mengenyahkan bayangan yang ia ingin hilangkan didunia ini. Keluarganya.

***

‘’Cepat katakan apa yang Sam ingin katakan kepadaku. Setelah itu, Sam bisa segera pergi.’’ ucap Jiyeon dingin.

Namun, Minho memilih tersenyum dan tetap mengelus rambut Jiyeon seperti yang ia lakukan dulu. Ia kemudian menatap mata Jiyeon yang sarat akan luka didalamnya.

‘’Apa kau bahagia?’’ tanya Minho kemudian.

Jiyeon mengadahkan wajahnya dan menatap Guru lama-nya itu dengan tatapan tak mengerti. Namun ia kemudian mengangguk kaku sebagai jawaban-nya.

‘Aku sama sekali tak bahagia. Tak bahagia..’ batin Jiyeon menangis. Namun, tak ada sedikitpun airmata didalamnya.

Minho menghela nafas, ‘’Kau jangan membohongiku.’’

‘’Aku tak membohongi siapapun, Sam. Aku memang bahagia. Itu kenyataan-nya. Meski aku tak bisa menjadi seseorang yang aku inginkan dulu.’’ Jiyeon mengambil nafas untuk melanjutkan kalimatnya, ‘’Tapi aku cukup bahagia. Aku tak perlu MENYAKITI siapapun.’’

‘’Kau tak menyakiti siapapun.’’ balas Minho dengan nada kecewa, kecewa kepada dirinya sendiri.

‘’AKU MEMANG MENYAKITI! MENYAKITI SEMUA SAM! KAPAN ANDA SADAR!’’ teriak Jiyeon dengan frustasi.

Ia lelah dengan hari ini yang begitu berat. Seakan belum cukup. Tiba-tiba, Guru lama-nya yang begitu naif dan mengajarkan-nya untuk memimpikan sesuatu yang bodoh itu malah membuat semua makin rumit.

‘’Jiyeon-ah..’’ panggil Minho lembut.

Namun, Jiyeon segera berbalik arah tanpa mau menatap Guru-nya itu lagi. Hanya saja, ketika ia hendak menutup pagar rumahnya. Jiyeon mematung dan sedikit berbalik.

‘’Sebaiknya anda pergi. Dan jangan temui saya lagi.’’

Kemudian, bayangan Murid kesayangan Minho itu menghilang dibalik tembok besar yang seakan membatasi apa yang Minho ingin lakukan. Jiyeon benar-benar membentengi dirinya dengan tembok besar yang tak bisa dijangkau oleh siapapun.

Diam diam, Lee Minho berjanji dalam hati-nya. Ia harus menghancurkan tembok itu dengan cara apapun. Murid kesayangan-nya, harus kembali ke dirinya yang semula. Ia berjanji..

***

Bambam menghabiskan sarapan-nya dengan cepat dan menatap Jiyeon yang segera pergi bekerja. Untung saja, sebelum Mark pulang. Ia sempat memasak-an bubur nabalon dengan kuah kari yang enak sekali. Membuat kedua Kakak-Beradik itu tak henti-hentinya memuji Mark. Bambam kemudian mendekati Jiyeon.

‘’Berangkat sekarang Noona?’’ tanya Bambam sedikit canggung.

Jiyeon yang menyadari sikap aneh Bambam kemudian mengangguk sambil mengancingkan blazer hitamnya.

‘’Ada apa? Kau ingin membicarakan sesuatu?’’ tanya Jiyeon.

Dengan cepat Bambam menggeleng dan mengambil sweeter merahnya yang berada disisi ruang keluarga. Ia segera mendekati Noona-nya dan tersenyum.

‘’Ayo. Aku antar.’’ kata Bambam tiba-tiba.

Mendapat perlakuan yang tak biasa-nya Adik kecilnya itu lakukan. Jiyeon tertegun beberapa saat. Ia merasa hati-nya yang sempat mendingin malam tadi mulai menghangat. Perlahan, senyum tulus terukir di wajah cantik-nya.

‘’Baiklah.’’

‘’ASSA!’’ teriak Bambam senang.

Ia kemudian keluar dan menyiapkan sepeda gunung-nya sambil menyiapkan tempak duduk yang biasanya ia gunakan untuk mengantar teman perempuan-nya. Jiyeon yang datang sambil mengunci rumah tertawa dengan sikap Bambam.

‘’Hari ini, sepedaku ini khusus untuk Noona ku sayang!’’ ujar Bambam sambil bersiap naik dan mendekatkan sepeda-nya disamping Jiyeon.

Jiyeon masih tersenyum dan menenteng High heelsnya, digantikan flatshoes yang membuatnya nyaman. ‘’Aman kan?’’ tanyanya sedikit khawatir.

Bambam menjawabnya dengan anggukan bersemangat. Mereka kemudian pergi ke Kantor Jiyeon dengan perasaan yang sama-sama terasa hangat. Meski, pagi ini begitu dingin. Namun, entah mengapa mereka menyukai-nya. Jiyeon memeluk pinggang Bambam dan menyandarkan kepala-nya di punggung Bambam yang cukup lebar.

‘’Ternyata Adik manis ku memang seorang Namja.’’ gumam Jiyeon yang sampai ditelinga Bambam.

’Ey! Noona jahatnya! Memangnya aku seperti Yeoja! Heol!’’

Jiyeon tertawa renyah mendengar nada sebal Bambam. Mereka berdua kemudian mengobrol sambil tertawa satu sama lain. Hingga tanpa sadar, Jiyeon telah sampai didepan Kantornya. Ia kemudian turun dan memasang High heelsnya kembali. Kemudian memasukan flat shoesnya ke dalam kantong plastik yang ia bawa.

Ia menatap Bambam yang sibuk memutar sepeda-nya, ‘’Jaga rumah ya. Kau ada dirumah kan?’’

Bambam menimang sejenak, ‘’Molla, Noona! Sepertinya tidak. Aku akan mencari surat kesehatan dan juga.. Mark Hyung mengajak-ku untuk menemani-nya berbelanja sesuatu.’’ jawab Bambam.

Jiyeon kemudian mengangguk dan menepuk pipinya, ‘’Popo.’’

Jika biasa-nya Bambam akan malas melakukan hal kenanak-kanakan seperti itu. Ia malah bersemangat mendaratkan ciuman kepipi Noona-nya yang paling ia sayang!

’Saranghae. Saranghae Noona! Muah muah!’’ akhir Bambam dengan lucu.

Jiyeon mengecup balik pipi Bambam dengan gemas. Bambam kemudian pergi dengan melambaikan tangan-nya cepat. Jiyeon menatap langit pagi yang mulai menguning terkena sinar matahari. Diam diam ia tersenyum, berterimakasih kepada Tuhan untuk pagi yang berbeda dari biasa-nya.

***

Myungsoo menyesap Americano nya dengan tenang. Kemudian, pandangan-nya tertuju lagi kepada seseorang didepan-nya. Seorang Artis yang namanya cukup terkenal di kalangan Entertaiment Korea. Itupun Sungjong yang mengatakan-nya. Jika tidak, Myungsoo mungkin tak mau menemui Wanita ini.

‘’Jadi.. Myungsoo-ssi, berapa lama anda akan tinggal di Korea? Wah, selama 5 tahun, banyak sekali lho yang berubah dari Negara ini..’’ kata Wanita itu dengan semangat.

Dengan senyum tipisnya yang tampan, Myungsoo memiringkan wajahnya dan menatap Wanita itu. ia berpikir siapa nama Wanita didepan-nya ini. Kemudian, Myungsoo ingat jika Wanita ini bernama Hyuna.

‘’Um. Hyuna-ssi mau mengantarku?’’ goda Myungsoo setengah hati. Sejujurnya, ia ingin Wanita ini langsung menghilang dari pengelihatan-nya.

Hyuna nampak malu dan menutup wajahnya sendiri, ‘’Ah. Mian Myungsoo-ssi, namun, aku kesini ingin meminta tolong agar kau mau membuatkanku lagu. Kau benar-benar musisi berbakat, aku yakin jika lagumu akan membuatku kembali bersinar.’’ ucap Hyuna bersemangat.

Namun, sepertinya Myungsoo  lebih memilih mengangguk-angguk sambil menikmati musik di cafe siang itu. Ia bahkan sesekali bersenandung tanpa memperhatikan orang didepan-nya ini.

‘’Ah, Jogiyo..’’

‘’Aku tak mau.’’ jawab Myungsoo tiba-tiba.

Hyuna tampak kecewa dengan penolakan Myungsoo yang tiba-tiba, ‘’Aku akan membayar anda dengan bayaran mahal. Sungguh. Bantu aku, Myungsoo-ssi.’’ujar Hyuna lagi dengan tatapan memohon.

Namun yang Myungsoo berikan hanya senyum tipisnya yang memikat.

‘’Aku akan memberikan..’’ Hyuna tampak mendekat ketelinga Myungsoo. Membuat Myungsoo bisa melihat dadanya yang justru membuat Myungsoo bergidik jijik.

‘’Sesuatu yang semua Pria akan suka..’’

Hyuna kemudian kembali duduk dengan posisi yang benar. Myungsoo menyandarkan tubuhnya ke Sofa cafe yang nyaman. Kemudian mengigit bibir bawahnya.

Myungsoo memandang Hyuna dari atas ke bawah, ‘’Kau punya tubuh yang indah. Wajah seksimu itu juga kudengar sangat menjual. Tapi..’’

Ia tersenyum, ‘’Laguku itu tak murah Nona. Aku membuat satu lagu dalam jangka waktu 1 bulan dengan setiap lirik yang kuselipkan, merupakan pemikiran ditempat yang berbeda. Aku tak mau orang sepertimu membuat hasil karyaku terlihat murah.’’

‘’Hah!’’ Hyuna menatap tak percaya kepada Myungsoo. Ia menggertakan giginya dengan marah.

Namun Myungsoo hanya menatapnya dengan senyum yang sama.

‘’Kau ini, sombong sekali! Kau tahu! Kau hanya anak kecil. 24 tahun saja. Bersikap seolah-olah kaulah bintangnya. Menjijikan! Aku sangat jijik padamu! Bertingkah seperti kau sudah berpengalaman saja!’’ hardik Hyuna dengan mata menyala-nyala menahan amarah.

‘’Kau bilang apa? Asal kau tahu. Aku bersekolah di SMA Kirin selama 3 tahun? Kau tahu? Aku harus mengikuti banyak ujian dan setelah lulus, baru seseorang menemukanku dan membantuku seperti ini. Aku harus melepaskan semua yang aku punya disini. Kau pikir itu adalah hal menjijikan? Justin Benver, Ariana Dreen, Kate Florry? Kau pikir siapa yang menciptakan lagu untuk mereka?’’ tanya Myungsoo sambil memasang wajah merendahkan.

Seperti ditusuk pisau yang sangat tajam, Hyuna diam dan menatap takut kepada Myungsoo.

Namja itu kemudian berdiri, ‘’Yaa. Hyuna-ssi, jangan kau kira aku suka dengan tubuh sepertimu. Aku sudah sering merasakan tubuh palsu seperti itu.. Jadi..’’ Ia memandang tepat dipupil Hyuna, ‘’Enyahlah.’’

Tanpa sepatah kata. Myungsoo memasukan tangan-nya dikedua kantong celana-nya dan memutar tubuhnya dan berjalan menjauhi Hyuna sambil bersenandung menikmati Musik yang nyaman ditelinganya. Dilain pihak, Hyuna yang benar-benar tak menyangka dengan sikap Myungsoo. Ia bersumpah tak akan menemui Lelaki itu lagi.

***

Bambam mengamati wajah Mark yang tampak lelah. Ia kemudian menghentikan langkahnya. Sepertinya ada yang aneh.

’Hyung, apa kau tak tidur lagi setelah pulang dari Rumahku?’’ tanya Bambam yang merasa heran dengan tingkah Mark sedari tadi.

Mark hanya mengusap-usap wajahnya dan kembali menguap, ‘’Ani. Aku tak pulang kerumah.’’ jawabnya singkat sambil meneruskan langkahnya, trolli yang ia dorong hampir penuh dan terasa berat sekali.

Tetapi Bambam tetap diam ditempatnya, tak percaya apa yang Mark katakan baru saja. Akhirnya, Mark kembali menghampirinya. Ia tersenyum menenangkan.

‘’Tak apa. Aku hanya malas berada dirumah. Itu saja.’’ ucap Mark lagi yang disambut tatapan sedih Bambam.

Mark mencoba menyembunyikan apa yang sebenarnya terjadi dan tersenyum lama. Namun, tak juga membuat Bambam puas dengan jawaban-nya.

Ia menghela nafas, ‘’Lalu, Hyung kemana? Hyung tidur dihotelkan?’’ tanya Bambam lagi, khawatir. Ia kemudian melangkahkan kakinya mengikuti Mark yang memilih beberapa potong daging asap yang begitu lezat.

‘’Disauna.’’

’YAA! Kau kan punya Kartu Kredit Hyung! Buat apa kau menginap disauna? Jangan membuatku cemas. Bagaimanapun juga kau ini temanku. Mana bisa aku melihat orang sepertimu tidur disauna!’’ sembur Bambam yang kesal dengan keputusan Mark.

Namun Mark memilih tetap diam dan mendorong trolli belanja-nya ke arah sayuran yang tampak segar. Ia menimang-nimang apa yang harus dibelinya. Semua pandangan Wanita disana menatap Mark takjub, anak muda yang tampan sepertinya sedang serius memilih sayuran. Namun, tatapan mereka hanya dibalas Mark dengan tatapan tak peduli.

Kemudian, muncul ide di kepala Bambam, ia segera mendekati Mark.

’Hyung. Tinggalah bersamaku.’’ saran-nya dengan cepat.

Mark yang bingung hanya memandang heran kepada Bambam,

Bambam tersenyum, ‘’Tinggalah bersamaku dan Noona sementara. Aku yakin Noona tak akan keberatan jika ia mendapat satu Adik yang tampan seperti Hyung. Ote?’’ tanya Bambam bersemangat.

‘’Tak bisa. Kau akan repot. Dan aku yakin, Noona-mu pasti tak akan setuju. Sudahlah, aku hanya pergi seminggu. Jangan khawatir.’’ ujar Mark tak enak.

Namun, bukan Bambam jika ia tak bisa memaksa Mark. Ia kemudian memasang puppy eyes nya dan memandang Mark dengan tatapan memohon. Hingga semua orang yang melihat mereka pasti akan mengira jika Mark menyakiti atau bahkan membully Bambam.

’Araso. Baiklah, tapi kau yang bilang pada Jiyeon.’’ kata Mark akhirnya.

’ASSA!’’ teriak Bambam senang sambil mendorong trolli yang Mark pegang.

Mark hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah lucu Bambam yang membuat perasaan-nya akan membaik dengan cepat.

***

Myungsoo mengitari halaman Sekolahnya sambil mendengarkan lagu yang terpasang di Ipodnya. Pandangan-nya menjelajahi seluruh lingkungan sekolah. Menatap murid-murid yang tertawa dengan senang membuat suasana hatinya berubah. Ia merindukan setiap masa-masa yang ia lalui dulu. Bersama teman-teman nya. Tertawa bersama, berlatih bersama, rasanya baru kemarin.

Ia kemudian merasakan seseorang menepuk pundaknya dengan keras. Ia berbalik kesal,

’AISH!’’ teriaknya kepada seseorang yang.. ‘’Ah! Songsangnim.. mianhae.’’ ucap Myungsoo dengan cepat, ia kemudian menunduk menyesal.

Minho tertawa melihat ulah mantan muridnya itu, kemudian ia memeluk Myungsoo hangat. Myungsoo yang tinggi-nya hampir sama dengan-nya. Muridnya yang bernasib begitu baik sedang berdiri didepan-nya sekarang.

’Uri manya, Myungsoo-ah. Kukira kau tak akan mau berkunjung kemari.’’ canda Minho.

Myungsoo menggaruk rambutnya yang tak gatal sama sekali. Ia tersenyum canggung, memperlihatkan giginya yang rapi.

‘’Aku kebetulan kembali kemari, Sam. Makanya aku menyempatkan waktu mengunjungi Kirin. Dan.. Sam masih saja tampan, tak ada yang berubah.’’ puji Myungsoo tulus.

Minho hanya menjawab pujian Myungsoo dengan senyuman, ‘’Tak terasa sudah 5 tahun berlalu ya?’’ ujarnya sambil memandang jauh kearah Murid-murid yang sedang menulis sesuatu dipartitur mereka.

Myungsoo hanya mengangguk singkat dan menikmati suasana musim Panas yang mengingatkan-nya waktu-waktu yang ia lalui dulu. Masih teringat jelas setiap memori yang sebenarnya ingin sekali ia pendam sendiri. Minho seakan menyadari sikap Myungsoo yang larut akan kisah SMA nya. Ia tersenyum dan menatap muridnya itu.

‘’Kau mau kan membantuku?’’ tanya Minho dengan senyum yang masih tercetak jelas.

Sedikit bingung, Myungsoo menatap balik Minho, ‘’Membantu? Apa Sam?’’ tanyanya tak begitu paham.

‘’Kau akan tahu.. sebentar lagi. Akan ku katakan padamu.’’ jawab Minho singkat.

Ia kemudian berlalu dengan langkah nya yang panjang. Meninggalkan Myungsoo yang termenung dengan ucapan Minho. Ia kemudian berbalik dan lagi-lagi hanyut dalam kenangan-nya, menerawang jauh ke sudut hati-nya.

***

Jiyeon mengamati perubahan wajah Sungjong yang kentara ketika melihat Jiyeon yang datang menyapa-nya dimeja Cafe yang ia pesan. Kebetulan mereka bertemu ketika Jiyeon, Hyeri dan Minhyuk berniat merayakan kenaikan pangkat Minhyuk, salah satu teman kantor Jiyeon.

‘’Ah.. Jiyeon-ah. Lama tak bertemu, bagaimana kabarmu?’’ tanya Sungjong seakan menutupi sesuatu.

Tahu jika Sungjong tampak tak nyaman dengan sikapnya, Jiyeon memilih segera menghindar.

’Ne, baik. Aku kesana ya. Annyeong.’’ kata Jiyeon cepat. Ia kemudian berlari kebeberapa meja didepan Sungjong tanpa berusaha berlama-lama menghadapi teman lama-nya itu.

Sungjong tampak tak enak hati. Diam-diam ia begitu sedih, kenapa bisa Ia dan Jiyeon menjadi sangat canggung? Padahal mereka adalah teman dekat sebelumnya. Membuat Sungjong benar-benar sedih sekali.

‘’Kau sudah lama menunggu?’’ tanya Myungsoo yang telah duduk disamping Sungjong sambil melepaskan coat hitamnya.

Inilah yang membuat Sungjong bingung sekarang. Ia ada janji dengan Myungsoo di Cafe kesukaan mereka semua. Dan yang membuat Sungjong tak percaya ialah Jiyeon masih datang ditempat kesukaan mereka.

‘’Ah. Ye hyung. Kau mau pesan apa?’’ ucap Sungjong gugup.

Tapi, pandangan Myungsoo beralih ke stage yang cukup jauh didepan-nya. Disana, ada 2AM yang bersiap menghibur pelanggan Cafe hari itu. Sejenak, Myungsoo tertegun dan merasa sesuatu kembali memenuhi hati-nya. Dalam hati Myungsoo berharap jika bukan lagu itu yang mereka nyanyikan, bukan lagu itu..

Namun, tampaknya, Tuhan tak mau mendengarkan doa singkatnya karena..

‘’Kenapa kau menyukai 2AM? Kenapa tak yang lain saja?’’ tanyaku ketika Jiyeon sibuk memutar playlist di handphone-nya.

Jiyeon tersenyum dan menyerahkan salah satu earphone-nya padaku. Namun dengan cepat kutolak permintaan-nya.

‘’Shireo! Aku tak suka lagu sedih!’’ ucapku sambil mengembalikan earphone itu.

Namun, Jiyeon tetap saja memaksa, ‘’Jebal, dengarkan dulu baru berkomentar, eoh?’’ bujuknya terus. Aku akhirnya menyerah dan mengambilnya.

‘’Mana? Aku tak mendengar apapun?’’ kataku lagi yang membuatnya sebal.

Aku kemudian tersenyum meminta maaf. Hihi. Menggoda-nya adalah hal yang aku suka, karena wajah cemberutnya benar-benar menggemaskan sekali. Perlahan, aku mendengar alunan musik dari dentingan piano yang membuatku berhenti berbicara. Musik yang begitu indah dipadukan dengan setiap liriknya yang bermakna begitu dalam. Aku bahkan tak percaya ada seseorang yang bisa membuat lirik sedalam dan se-menyakitkan ini. Aku menatap Jiyeon yang menutup matanya sambil menikmati lagu tersebut, perlahan aku ikut menutup mataku dan mendengarkan setiap melodi yang ada didalamnya. Hanyut mengikuti alunan nada yang begitu menyedihkan.

‘’Bagaimana?’’ tanya Jiyeon setelah lagu itu usai.

Aku menyerit, ‘’Entahlah, keunde, kenapa kau mendengarkan lagu seperti ini? Yaa. Ini lagu yang terlalu sedih.’’ kataku menasehatinya.

Tapi bukan Jiyeon jika ia tak bisa menjawab semua perkataanku,

‘’Kau ini, siapapun pasti akan mengalami kejadian seperti dilagu ini. Mungkin nanti kau ataupun aku.’’ katanya sambil mereplay lagu itu sekali lagi, ia melanjutkan, ‘’Rasa ingin tahu seseorang ketika mereka telah berpisah, apakah mereka sama-sama terluka atau tidak. Saling rindu atau tidak. Itu adalah lirik yang wajar.’’ terangnya panjang lebar.

‘’Jika kau kehilangan aku. Apakah kau akan mendengarkan lagu itu?’’ tanyaku tiba-tiba. Aku sendiri tak tahu dari mana aku bisa bertanya seperti itu. Aigoo! Jinjja! Kim Myungsoo kau memang memalukan!

Ia tampak canggung namun akhirnya menjawab, ‘’Molla, Myungsoo-ah. Geunyang, jika aku kehilanganmu, aku pasti akan sedih sekali jika mendengar lagu ini nanti.’’

‘’Kau tak akan kehilanganku.’’ ucapku yakin.

Ia kemudian tersenyum dan menyerahkan Ipodnya. Aku membaca setiap judulnya dengan bingung. Aku tak terlalu paham bahasa Inggris. Jujur saja.

‘’Aku ingin tahu, apa kau terluka sepertiku.’’ kata Jiyeon seakan bisa membaca airmukaku, ‘’Belajarlah bahasa Inggris mulai sekarang.’’ katanya sambil mengacak rambutku. Membuatku tersenyum senang dengan perhatian-nya.

Jiyeon menghela nafas ketika Judul lagu itu disebut oleh Jinwoon. Ia seperti ingin pergi sekarang, ia tak mau mendengar lagu itu.

Haru jongil ni saenggakman hada ga..

(Sepanjang hari aku hanya memikirkanmu)


Han ga dak nunmuri, meotdaero jureureuk heureunda.

(Setetes air mata mengalir dengan sendirinya)


Georeum georeum ni moseubi bal byeoseo..

(Langkah demi langkah, aku menapaki bayanganmu)
Ireul hada gado, nado moreuge tto heureunda.

(Bahkan ketika aku bekerja, air mata jatuh tanpa aku sadari)        

 

Tanpa bisa dicegah, raut wajah Jiyeon menggelap begitu saja. Hyeri dan Minhyuk yang melihatnya terpaku heran dengan sikap Jiyeon yang sama sekali tak biasa.

 

’Kau tak akan kehilanganku’

 

Kalimat itu seakan mengingatkan Jiyeon kembali. Ia tanpa sadar memegang dadanya yang terasa nyeri.

Ditempat yang sama, Myungsoo tak berkedip menatap 2AM yang sedang menyanyikan lagu itu. Gejolak dihatinya seakan kembali datang,

 

Neodo, na cheoreom ireohke apeunji?

(Apakah kau juga merasakan sakit ini seperti diriku?)
Neodo, na cheoreom nunmul na neunji?

(Apakah kau juga menangis seperti diriku?)


Neodo, haru jongil ireohke?

(Apakah sepanjang hari?)
Chueoke saneunji, oh kkok na cheoreom?

(Kau juga hidup dalam kenangan sepertiku?)

 

Dan.. saat itulah pandangan mereka bertemu. Jiyeon yang sebenarnya hanya ingin mengalihkan pandangan-nya malah tanpa saja bertemu dengan satu titik yang tak terbayangkan. Ia seakan tak percaya akan apa yang dilihatnya..

 

Mae ireul useu nikka..

(Karena aku tersenyum setiap hari..)
Utneun moseub man boyeo ju nikka naega, haengbok han julman ana bwa.

(Karena aku menunjukkan senyum ku, mereka berpikir jika aku bahagia.)

 

Tatapan Myungsoo terkunci didalam bola mata Jiyeon yang sama sekali tak berubah. Ia tersenyum pedih menatap Jiyeon yang juga sedang mengamatinya. Mereka diam tanpa berkata apapun. Dijarak yang cukup jauh, mereka bahkan seakan bisa saling mengerti perasaan satu sama lain. Perasaan Rindu yang benar-benar terlihat.

 

Eotteohke useo naega, eotteohke useo, niga eobt neunde?

(Namun bagaimana aku bisa tersenyum, bagaimana aku bisa tersenyum tanpamu?)

Useo do useo do, nunmuri tto heulleo!

(Meskipun tersenyum, meskipun tersenyum, air mata terus mengalir!)

 

Perlahan, mereka berdua sama-sama mengalihkan tatapan-nya dari satu sama lain. Dan.. kemudian, Jiyeon dengan perlahan bangkit tanpa mengatakan apapun. Ia memilih pergi, ia berpikir jika ia mungkin akan menyesal. Namun, ia harus segera pergi. Ia tak mau.. kenangan itu kembali.

 

Dan.. Myungsoo sendiri menahan kakinya agar tak mengikuti Jiyeon, meraih tangan-nya dan memeluknya. Ia memilih diam tanpa berniat mencegah Jiyeon pergi. Ia lebih memilih seperti ini. Tetap diam tanpa melakukan apapun. Membiarkan kenangan itu lewat begitu saja, sudah begitu mencengkeram hatinya.

 

Neodo, haru jongil ireohke?

(Apakah sepanjang hari?)
Chueoke saneunji, oh kkok na cheoreom

(Kau juga hidup dalam kenangan sepertiku?)

***

 

Mark hampir saja menabrak Jiyeon jika saja ia tak segera menyingkir dari hadapan Yeoja itu. Ia memandang bingung wajah Jiyeon yang tampak pucat dan berantakan. Ia mencengkeram tangan kanan Jiyeon cepat,

 

‘’Ada apa? Kau kenapa Jiyeon?’’ tanya Mark heran.

Namun Jiyeon hanya diam tanpa mengatakan apapun, Mark makin khawatir dengan sikap Jiyeon yang benar-benar tak ia kenal. Dengan langkah cepat, Mark hendak memanggil Bambam di Kamarnya.

‘’Aku lapar.’’ kata Jiyeon seakan tahu apa yang Mark akan lakukan.

Tetapi, Mark sangat tahu, jika Jiyeon sedang membohonginya dan dirinya sendiri, akan tetapi, ia kemudian mengenggam tangan Jiyeon tanpa sadar. Membimbingnya menuju meja makan. Ia bahkan membantu Jiyeon untuk duduk dan mengambilkan nasi dan lauk yang telah ia masak sejak tadi. Kemudian menyerahkan-nya kehadapan Jiyeon. Namun, Jiyeon tetap saja diam tanpa menyentuh makanan-nya.

Mark menghela nafas, ‘’Apa perlu aku suapi? Kau ini kan lebih tua dariku. Apa kau tak malu?’’ ucap Mark kesal dengan sikap Jiyeon.

Mendengar itu, Jiyeon akhirnya bereaksi dan mulai memakan sedikit demi sedikit makanan-nya. Ia tersenyum kepada Mark.

‘’Ini enak sekali.’’ pujinya.

Tapi, Mark sama sekali tak mengatakan apapun. Ia kemudian berdiri dan mendekat kearah Jiyeon. Ia berdiri tepat disampingnya. Ia memeluk tubuh Jiyeon dan menyandarkan kepala Jiyeon ke perutnya. Merengkuhnya dengan hangat. Ia menepuk bahu Jiyeon dengan lembut.

’It’s okay.. it’s okay..’’

Mendengar ucapan Mark yang justru makin memperkeruh hatinya membuat Jiyeon tak tahan dan akhirnya menangis dipelukan-nya. Airmata yang sudah sangat lama ia sembunyikan malah tumpah didepan Anak Kecil yang sering menggoda-nya. Membuatnya merasa makin tak menentu.

”Ini tak baik, sama sekali tak baik..” bisik Jiyeon sambil mencengkeram lengan Mark yang memeluknya erat.

tanpa bicara lagi, Mark tetap diam.

‘’Hah, me.. memalukan. A.. aku memang memalukan. Hah. ‘’ ucapnya disela-sela tangisan-nya.

Mark hanya diam sambil tetap menepuk halus pundak Jiyeon. Ia menghela nafas,

‘Perempuan dimanapun memang sama saja. Mudah menangis dan terluka..’ batin-nya sambil memandang langit yang begitu kelam dari jendela. Ia penasaran. Apa yang Jiyeon baru saja alami.

Bambam mengamati kejadian itu dari balik pintu. Entah mengapa, airmatanya juga ikut turun melihat Kakaknya terluka seperti itu. Ia ingin memeluk Jiyeon, tapi, ia takut jika pelukan eratnya justru akan makin melukainya. Mark yang melihat Bambam yang sudah sesenggukan, menggelengkan kepala dengan bingung.

‘Aish! Aku juga masih harus memeluk Adiknya. Ya ampun, mereka benar-benar sama.’ gerutu Mark dalam hati.

***

Jiyeon mengetuk pintu Bambam dengan pelan. Kemudian, tak lama, Bambam membuka-kan pintu kamarnya dan melihat Jiyeon yang telah mandi dan mengganti pakaian-nya. Ia tersenyum melihat Noona-nya.

‘’Ada apa Noona?’’ tanya Bambam.

Namun, Jiyeon tampak ragu, ia sebenarnya.. ‘’Ani. Hanya ingin mengucapkan selamat tidur saja. Jalja.’’ ujar Jiyeon lagi.

‘’Ayo tidur di kamarku, Noona!’’ ucap Bambam cepat.

Jiyeon mengangguk bersemangat dan masuk ke kamar Bambam yang.. astaga.

’Yaa! Kenapa kamarmu bahkan lebih rapi dari kamarku? Yaa! Ige Boa Ige? Kenapa ada boneka panda berwarna pink disini?’’ ucap Jiyeon tak tahan untuk berkomentar.

Bambam memilih diam dan tidur menempel didekat tembok, dan memberikan tempat di ujung untuk Jiyeon. Jiyeon dan Bambam dulu sering sekali tidur bersama seperti ini. Namun, lagi-lagi, sejak 5 tahun lalu, kebiasaan itu tak lagi ada.

Dengan perlahan, Bambam membantu memasangkan selimut ke tubuh Jiyeon yang dingin. Ia kemudian mengamati wajah Jiyeon yang tampak lelah.

’Noona, tidurlah. Puk puk.’’ kata Bambam sambil memeluk Jiyeon dan menyandarkan kepalanya dipundak Jiyeon.

Jiyeon tersenyum mendengar ucapan yang dulu sering sekali ia ucapkan ke Bambam.

Baginya, Bambam seperti penghangat hati-nya. Satu-satu keluarga yang ia miliki benar-benar mampu merubah perasaan-nya. Meski tak sepenuhnya, itu cukup membantu-nya. Karena rasa kantuk yang luar biasa, akhirnya Jiyeon terlelap disamping Bambam yang masih terjaga.

Meski, ia telah memasuki alam sadarnya, ia masih bisa mendengar bisikan manis yang membantunya makin terlelap dengan cepat.

‘’Noona joahae. Noona uljima. Aku akan sedih jika Noona sedih. Noona harus tersenyum, eoh? Aku disini selalu menjaga Noona. Selamanya, selamanya menjadi Bambam milik Jiyeon Noona. Jaljayo, Noona-ya…’’

Perlahan, Bambam mengambil Surat yang terletak disamping tempat tidurnya. Ia tak yakin ini waktu yang tepat. Tapi.. bagaimanapun, ia harus menyerahkan surat ini. Ia harus membawa Jiyeon ke Kirin. Ia harus..

-to be continued-

 

 

110 responses to “(CHAPTER 2) – Dream High 3

  1. ‘Aish! Aku juga masih harus memeluk Adiknya. Ya ampun, mereka benar-benar sama.’ –> ini dialog bener-bener kocak😀
    Bambam cengeng banget di sini.
    Aku makin kepo sama apa yang terjadi di masa lalu. Pliss dilanjut yaaa. Udah kepalang baca, jadi penasaran hebat.
    Sama lanjutin juga Crown-nya. Itu paling paling ditunggu banget

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s