[ Oneshoot ] I Catch you

 

req-poster-i-catch-you-gazasinta1

Tittle : I Catch You
Author : gazasinta
Main Cast : Park Jiyeon, Kim Myungsoo
Additional Cast : Find by yourself
Genre : Comedy and Little Romance
Rating : PG-15
Length : Oneshoot
Poster created by : Elmoblue art.

Otakku lagi mumet untuk melanjutkan RATR ( Rainbow After The Rain ) nya, jadi coba-coba untuk buat oneshoot semoga kalian suka.

Ide ini lahir dari otak author sendiri, ditambah pengalaman pribadi, maaf jika ada kesamaan dengan ide cerita lainnya, tapi ini murni hasil karya author.

Big thanks utk @elmoblue art, aku suka sekali posternya.

Silahkan menikmati dan tidak tanggung jika ceritanya absurd banget….hehehee.
___________________________
“ Ayah, Ibu aku berangkat!!!”

Glek…uhuk-uhuk

Kedua orangtuaku hampir saja tersedak dengan setangkap roti yang ada ditangan mereka, jika saja malaikat lupa untuk mengembalikan kesadaran mereka.

“ Ommo….yeobbo benarkah itu suara Jiyeon, apa itu benar anakmu? “

Mendengar pertanyaan ibu, ayahku yang sudah setengah tua segera meraih kacamata tebal yang lebih mirip pan**t botol itu dari meja makan dan memakainya terburu-buru, sepertinya ia ingin memastikan bahwa seseorang yang baru saja melesat itu adalah aku anaknya.

“ Jiyeon-ahhh, apa kau tidak sedang dalam keadaan tidur berjalan “ ucap ibuku yang tidak sabar karena ayah masih kesulitan mengaitkan gagang kacamata ditelinganya, ibu tergopoh-gopoh untuk menyusul dibelakangku dengan piyama yang sudah lusuh dan roll rambut yang masih melekat dikepalanya.

“ Eoh, ibu hari ini aku lupa mengerjakan pekerjaan rumah, aku ingin menyalin milik Jieun “ ucapku agar ibuku merasa tenang dan yakin tidak ada yang berubah dari anaknya.

“ Woaahh, syukurlah kau masih Park Jiyeon anak kami, baiklah hati-hati dijalan “ ucapnya berteriak dan melambaikan tangan ke arahku.

Hah, tebakanku benarkan ? ibu dan ayahku itu lebih senang melihat anaknya tetap aneh, tapi tidak apa setidaknya mereka sudah sangat memahamiku dan tidak ada keinginan untuk merubahku menjadi anak yang sempurna seperti para orangtua lainnya.

Hai, namaku Park Jiyeon, gadis berwajah biasa-biasa saja berumur 18 tahun, aku duduk di kelas 3 SMA, disekolah aku tidak memiliki prestasi akademis yang bisa dibanggakan oleh orangtuaku, bahkan aku tidak memiliki satu orangpun yang bisa aku sebut sebagai teman disana.

Tunggu!!!! baiklah aku berbohong, ada Lee Jieun yang duduk disampingku, ia selalu setia bersamaku, itupun dikarenakan kami sudah bersahabat sejak kecil, meski rumah kami tidak berdekatan.

Tuhan menciptakanku memiliki wajah yang terlihat seperti pemeran antagonis dalam sebuah drama dengan garis mata tegas yang menambah kesan galak pada diriku, mungkin itu alasan tidak ada seorangpun selain Jieun yang mau berteman denganku, tapi kurasa mereka semua salah menilaiku.

Aku anak pertama dari dua bersaudara, adikku Park Jiso berumur 8 tahun, ia duduk dikelas 2 SD, aku tidak tau alasan ayahku Park Yochun dan ibuku Kim Taehee menjadwalkan kelahiran kami dengan jarak yang sangat jauh, mungkin dulu hanya ingin memiliki satu anak saja, tapi melihatku sendiri mereka kasihan juga kepadaku.

Menyebut nama adikku otakku mendadak menjadi kram, adikku itu adalah musuh utamaku dirumah. Aku bahkan lebih memilih dikasihani orangtuaku dengan kesendirianku, dibanding memiliki adik sepertinya.

“ Tumben sekali kau sudah datang, apa jam dinding dikamarmu rusak lagi ? “ ucap Jieun yang pagi itu terbengong-bengong melihatku.

Aku hanya cuek dan menaruh sembarang tasku, mata Jieun masih belum lepas menatapku dengan pandangan aneh, ia masih berharap aku memberikan alasan.

“ Aku tidak mau terlambat di jam pertamaku “ jawabku sekenanya agar Jieun tidak lagi penasaran.

Heol~ aku yakin ia tidak percaya begitu saja, binggo!!! mulutnya bahkan sekarang menganga lebar dengan mata yang mengerjap-ngerjap layaknya baru saja mendengar berita bahwa ibuku berhasil mendapatkan cinta Lee Dongwook aktor pujaannya.

“ Jeongmal ? bukan karena jam pertama kita adalah Kim seonsangnim ? “ tanya Jieun yang sontak membuatku yang baru saja mengalirkan air dari botol ke sepanjang leherku tersedak.

Ppfftttt…..

“ Issshhh pabboya!!! Mengapa reaksimu berlebihan sekali, apa kau sudah menyikat gigimu dengan bersih, mengapa baunya tidak sedap begini “ protes Jieun yang tidak terima dan jijik ketika air dalam mulutku berhasil menyembur wajahnya, ia lalu panik mencari apapun untuk membersihkan wajahnya, hah salah sendiri mengapa tebakannya 100% tepat.

Kim seonsangnim, guru matematika baru di sekolahku telah berhasil membuatku termotivasi untuk menyukai pelajaran matematika, padahal aku lemah sekali dalam pelajaran itu, aku sangat benci dengan trigonal, dimensi ruang, rumus kecap alias ABC, ahh apapunlah mengenai matematika, tapi kehadirannya minggu lalu dikelas, membuatku pagi ini tidak ingin terlambat sedikitpun, wajahnya sangat tampan dengan kharisma yang begitu menawan, aku benar-benar jatuh cinta padanya.

PLETAK….

“ Yyaaa Lee Jieun!!! Kau ini sembarangan saja menjitakku, aku bodoh itu ya karenamu, maka kau tidak boleh sedikitpun menolak jika aku meminta jawaban soal darimu, mati kau eoh? “ ucapku tak kalah galaknya dibanding Jieun.

Jieun hanya tersenyum bodoh mendengar omelanku, ya begitulah kami sering bertengkar, tapi kami tidak pernah marah sedikitpun.

Satu-persatu para haksaeng mulai memasuki kelas, dan duduk di bangkunya masing-masing, kelas yang tadinya ramai oleh kami berdua ( hihihi ) sekejap menjadi sepi, semua haksaeng mengeluarkan alat tulis dari dalam tas dan menaruhnya di meja, kelasku adalah salah satu dari dua kelas unggulan di sekolah, kelas unggulan berisi semua haksaeng yang memiliki keunggulan di bidang akademis, dan aku ? kalian benar ingin tahu mengapa aku bisa masuk dalam kelas unggulan ? tapi aku mohon kalian jangan menertawakanku.

Itu karena jumlah 1 kelas unggulan harus memenuhi kuota yang telah ditetapkan pihak sekolah, setiap kelas unggulan harus diisi oleh 40 orang haksaeng, satu haksaeng yang telah ditetapkan untuk masuk ke kelas unggulan pada hari akhir mengundurkan diri, ia memohon agar ditempatkan dikelas yang biasa-biasa saja, mungkin karena ia yakin otaknya tidak memenuhi kriteria dan takut akan minder nantinya, penyesalanku satu-satunya mengenai hal itu adalah aku menceritakan kepada ibuku, dan tanpa perasaan, disaat murid lainnya menyembunyikan diri agar tidak terpilih, ibuku datang dengan kepercayaan diri yang tinggi ke sekolah dan mengajukanku untuk duduk disana, ia meyakinkan para guru bahwa aku mampu ada dikelas ini, dan disinilah aku sekarang, berkat aksi heroik ibuku…hiks.

“ Selamat pagi anak-anak!!! “ seru Kim seonsangnim yang baru saja tiba dengan tidak lupa membawa kharismanya masuk serta.

Tidak seperti yang lainnya yang menjawab salam dengan lantang, aku justru hanya menatap lekat ke arahnya.

“ Baiklah, kalian sudah siap dengan kuis yang akan saya berikan ? silahkan berdoa dulu sebelum mengerjakan “ ucap Kim Saem.

Jederrrrr……

Aku benar-benar terbengong kali ini, dengan entengnya Kim saem berkata akan mengadakan kuis, apa ia tidak tahu aku belum menyiapkan apapun untuk menghadapinya, otthokae? Aku benar-benar panik dan wajahku berubah menjadi pucat.

“ Kau yang disana? Ia kau” tiba-tiba Kim saem menunjuk wajahku.

Aku masih celingak-celinguk memastikan bahwa yang ditegur Kim saem adalah aku.

“ Saya saem?” tunjukku pada diri sendiri.

“ Iya, ada apa dengan wajahmu ? apa kau sakit ? “ tanyanya padaku.

Dan sungguh gilanya otakku, aku merasa ia sangat perhatian padaku, ah aku tidak menyangka kebodohanku bisa menjadi anugerah.

“ Jika kau tidak siap mengikuti kuis, kau bisa melakukannya besok “ ucapnya lembut.

Wooaaa…aku benar-benar jatuh cinta sekali padanya, tapi jika aku tidak megikutinya sekarang, berarti aku akan melakukannya sendirian, Ommo mana mungkin aku bisa melakukannya.

“ Ahniyo saem, ak..akuu tidak ap..apa-apa” ucapku tergagap karena jantung ini dengan bodohnya berdetak lebih cepat.

“ Baiklah kita mulai sekarang “ ucap Kim saem lantang dan mulai membagikan satu-persatu bahan kuis ke setiap meja.

Sebelum memulai aku sudah terlebih dahulu menginjak kaki Jieun sebagai tanda aku meminta bantuannya LAGI.

Tik…tok…tik…tok

Kuis sudah hampir 30 menit berjalan, tetapi aku masih saja seperti terkagum dengan soal yang dibuat oleh Kim saem diatas kertas yang lembarnya lebih tebal dari kertas biasanya, membuatku berpikiran ini pasti mahal hingga timbul perasaan tidak tega untuk mengotorinya dengan tulisanku.
Aku masih berkutat memahami pertanyaan dan memilah-milah rumus apa yang akan aku pakai untuk menjawabnya.

“ Aaarrggghhkk “

Tiba-tiba semua haksaeng menatap ke arahku, mengira aku sudah menjadi gila berteriak disaat semua sedang konsentrasi untuk menjawab.

“ Akkhhh mianhae..silahkan melanjutkan, aku tidak apa-apa” ucapku menahan rasa malu.

Aku melirik lembar jawaban Jieun yang hampir terisi penuh, tapi mata Kim saem tidak lepas mengawasi murid-murid, dan tiba-tiba…

Tukk….

Aku melihat sebuah kertas yang digulung jatuh tepat dikakiku, apa dia lagi yang melemparnya ? huh aku memang sangat membencinya, setiap bantuannya aku tidak pernah menerimanya, buatku itu hanya pencitraannya saja agar aku bisa sedikit ramah terhadapnya, tapi kali ini sepertinya aku akan membuang rasa gengsiku dan menerima bantuannya, bukan karena apa, aku tidak ingin Kim saem menilaiku adalah murid yang bodoh, walaupun kenyataanya memang seperti itu.

Perlahan aku menempelkan tubuhku lebih lekat ke arah meja, agar tanganku bisa menggapai kertas penolongku, dan ketika berhasil aku sangat senang sekali, Kim saem pun sepertinya tidak melihat.

Aku mulai membuka gulungan kertas itu, sedikit demi sedikit goresan tangan seseorang terlihat, emmmm wajahku berkerut “ Mengapa isinya seperti bukan berupa tulisan berderet yang menunjukkan jawaban ya? “ pikirku

“ BELAJARLAH DAN JANGAN SELALU MENGANDALKAN ORANG LAIN UNTUK MENOLONGMU”

By : Kim Myungsoo

“ Sialllll” aku mengutuk dengan geram setelah membaca isi gulungan kertas itu, huh jadi yang dari kemarin ia lempar ketika ujianpun apa benar bukan sebuah jawaban kuis, menyebalkan kau Kim Myungsoo. Aku menolehkan kepalaku kearahnya yang ada di belakang dan bersebrangan denganku, Tch wajah menyebalkannya tersenyum tanpa dosa membuatku semakin muak melihatnya, entah mengapa mengingat apa yang dilakukannya dengan Jiso adikku membuatku menyematkan kata musuh juga kepadanya.

Aku menenteng tasku dengan langkah gontai menuju rumah, semangatku yang tadi pagi begitu membara kini musnah, hanya karena aku merasa khawatir di cap bodoh oleh Kim saem, aku merasa gagal sebelum berjuang.

“ Aku pulanggggg!!!” ucapku lemas dan melempar asal tasku ke arah kursi.

“ Nunaaaa…..apa kau lelah ? ini aku sudah menyiapkanmu segelas susu minumlah” ucap Jiso yang tiba-tiba muncul dari arah dapur dan begitu antusias menyambutku dengan segelas cairan kental ditangannya.

Aku meliriknya curiga, tidak biasanya ia sangat baik terhadapku, apa dia membuat sesuatu yang merugikanku dan kini ia mencoba merayuku agar aku memaafkannya ?

“ Nuna, ambillah, aku sedang belajar membuat susu, aku ingin tau pendapat nuna? Ucapnya memohon.

“ Apa kau menaruh garam didalamnya ? “ tanyaku masih tidak percaya.

“ Ahniyo, saem menyuruh kami untuk belajar membuat susu sendiri dirumah, besok kami harus mempraktekkannya disekolah, ibu dan ayah tidak dirumah, jadi hanya nuna yang bisa aku mintai pendapat “ ucap Jiso menggeleng menampik kecurigaanku.

Aku meraih gelas yang ada ditangannya,sebelum meminum aku menaruh hidungku dibibir gelas “ Mengapa tidak ada aroma susu didalamnya “ ucapku kembali curiga dan menatap Jiso.

“ Berarti aku gagal ya? “ ucap Jiso menundukkan kepala seolah putus asa.

Melihatnya aku menjadi merasa bersalah, bagaimanapun ia sudah mencobanya, biarpun dia adalah adik yang menyebalkan tapi tidak ada dia mungkin hidupku terasa membosankan. Perlahan aku menempelkan bibirku dan mulai sedikit meneguk isinya “ mengapa seperti ini? Mengapa rasanya benar-benar tidak seperti susu “ ucapku dalam hati masih meneguk sedikit demi sedikit isi dalam gelas itu.

“ Nunaaaaa….kau akan tumbuh menjadi sehat dan otakmu tidak pabbo lagi, itu air cucian beras yang sangat berkhasiat “

“ Mwo ? “ seketika aku menghentikan aliran yang kukira susu itu dari tenggorokanku, dan segera berlari ke arah wastafel dapur untuk memuntahkan yang masih tersisa didalam mulutku.

“ Jisooooooo……naega !!! tch awas kau jangan lari, mengapa kau selalu mengerjaiku ? “ teriakku marah seraya berlari untuk mengejarnya yang sudah hilang entah kemana.

Ting tong

Suara bel dari arah luar membuatku menghentikan untuk mengejar Jiso yang begitu bahagia karena lagi-lagi berhasil mengerjaiku. Sumpah demi apapun aku semakin membenci adikku, dia selalu berhasil mengerjaiku, dan lagi-lagi aku berhasil dibodohi olehnya.

“ Jiyeon-ah kau sudah sampai dirumah? dimana telepon genggammu? ibu sudah berkali-kali menghubungimu agar kau segera menjemput dan membawakan belanjaan ibu, kau ini mengapa….bla..bla..bla” ibuku masuk dengan belanjaaan di kanan kiri tangannya, sementara mulutnya tidak berhenti menggerutu memarahiku.

“ Baiklah, aku akan membawakan sisanya yang masih diluar” ucapku menghentikan omelan ibu.

“ Tidak perlu, kau buatkan saja Myungsoo minuman “ ucap ibu setengah berteriak dari arah dapur.

“ Myungsoo ? “ tanyaku heran
Dan benar saja, tiba-tiba sosok Kim Myungsoo yang baru saja ibu sebut muncul dengan kantong belanjaan penuh di kedua tangannya.

Aku mendelik malas “ huh namja ini selalu saja berpura-pura baik padahal dikelas tadi ia mengerjaiku “ kesalku dalam hati.

Myungsoo sudah hampir 3 tahun tinggal disebelah rumahku, keluarga kami memang sangat akrab, orangtua kami sering berlibur bersama, bahkan Jiso lebih cocok disebut sebagai adik Myungsoo ketimbang adikku, mungkin benar apa yang teman-teman sekelasku berpikir tentangku, aku ini orang yang aneh, hanya aku yang tidak bisa menerima kehadiran Myungsoo dirumah ini.

“ Ini minumlah” ucapku sedikit ketus dan meletakkan begitu saja gelas dihadapannya.

“ Gomawo “ ucap Myungsoo tersenyum tipis.

Aku memutar bola mataku malas, baru saja kakiku akan beranjak meninggalkan Myungsoo, Jiso berlari dan segera menghambur ke arah Myungsoo.

“ Eoh Jiso-ah oreinmaniya “ ucap Myungsoo seraya membentangkan tangannya dan menangkap tubuh Jiso dalam pelukannya seolah-olah kedua makhluk “ namdongsaeng – hyung “ itu sudah sangat lama tidak bertemu.

“ Tch mengapa ada dua makhluk yang sangat identik dari segi apapun, tetapi ternyata hanya tetangga saja “ tanyaku dalam hati.

Aku bergeas meninggalkan mereka yang saling melepas rindu, dan bisa kupastikan Jiso pasti menceritakan apa yang baru saja ia lakukan padaku kepada Myungsoo, lihat saja aku masih bisa mendengar keduanya tertawa begitu puas, apalagi jika tidak menertawakan kebodohanku, akh aku tidak peduli, aku tidak pernah merasa malu dihadapan Myungsoo.

Ini belum seberapa, Jiso sering memperlihatkan hasil jepretan tangannya yang berhasil mengambil gambar wajahku disaat aku masih tertidur, ia juga pernah menceritakan bahwa aku pernah begitu sembarangan membuang angin dalam perutku disaat appa sedang menerima tamu kantornya, walaupun itu tidak sengaja, entah imajinasi darimana iblis kecil itu pintar sekali mendramatisir ceritanya agar lebih menarik dan semakin mengolok-olok kebodohanku.

Karena kedekatan merekalah, aku juga jadi membenci Myungsoo, aku pikir Myungsoo bisa menasehati Jiso agar bersikap lebih hormat kepadaku, bukan malah bersama-sama tertawa dengan segala cerita ajaib Jiso.
“ Huh menyebalkan “

Pagi ini kembali aku datang lebih awal, ibu dan ayah tidak lagi bertanya, namun ibu memintaku untuk meminum susu coklat yang telah ia siapkan, untuk tidak mengecewakannya aku meminum hingga habis.

Sampai disekolah, ternyata tidak seperti kemarin, hari ini semua haksaeng sepertinya bersemangat ke sekolah, aku berjalan di sepanjang lorong kelas, semua haksaeng yeoja berbisik-bisik dan menunjuk seseorang dibelakangku, karena penasaran dengan siapa yang mereka bicarakan, akupun menolehkan pandanganku.

“ Kim Myungsoo “ ucapku malas.
Apa dia mengikutiku, mengapa ia berada tepat dibelakangku ? tidak biasanya ia berangkat sepagi ini, tidak mungkinkan ia juga menaruh hati pada Kim saem ?

“ Aiissshhhh ada apa dengan otakku ? “ ucapku seraya mengetukkan tangan kekepalaku tidak percaya apa yang ada dipkiranku.

Myungsoo adalah namja tampan dan ramah kepada siapapun, dia juga murid paling pandai disekolah ini, semua saem dan murid-murid lainnya menyukainya, berbanding terbalik denganku bukan?
Haksaeng yeoja masih saja tersenyum genit ke arahnya membuat perutku tiba-tiba menjadi mual melihatnya, ommo bicara soal mual, kenapa tiba-tiba perutku menjadi mual ? akh tidak bahkan sekarang ini seperti diremas-remas, mulas sekali …..aku orang yang tidak biasa buang hajat disekolah, tapi sungguh sekarang ini aku sangat mulas sekali.

“ Akkhh…” aku memegang perutku yang sangat sakit.

Tiba-tiba Myungsoo dari arah belakang memegang bahuku “ Apa yang terjadi padamu ? “ tanyanya tampak khawatir.

“ Perutku…” ucapku meringis menahan rasa sakit diperutku.

“ Ayo pegang tanganku, aku akan menolongmu” ucapnya semakin panik dan meraih tubuhku untuk ia bopong.

Aku menolaknya, perutku sakit sekali, aku seperti ingin buang air besar, tapi apa ini? Myungsoo semakin memaksa meraih tubuhku, apa ia ingin mengantarku ke toilet ?

“ Tidak perlu aku bisa sendiri “ ucapku masih meringis.

“ Kau jangan keras kepala, kau boleh menolak semua bantuanku, tapi jika sampai keadaanya seperti ini kau tidak bisa mengabaikan orang yang ingin menolongmu? “ ucapnya serius.

Aku mengernyitkan dahiku terbengong, apa seperti ini reaksi namja ini melihat temannya ingin buang air besar ?

“ Myungsoo-Myungsoo, lepaskan kau ini benar-benar aneh, aku sudah bilang aku bisa sendiri, jebal lepaskan tanganku, aku sungguh sudah tidak kuat menahannya “ mohonku.

“ Jika begitu kau jangan lagi keras kepala, ikut saja aku “ ucapnya semakin membentakku.

Oh Tuhan aku sungguh tidak tau harus berkata apa untuk meyakinkan namja aneh ini, keringat dingin sudah mengucur di kedua pelipisku, bahkan aku merasa celana dalam yang aku pakai sudah sedikit basah, namun namja ini masih bersikeras untuk membawaku entah kemana.

Aku sudah benar-benar tidak bisa menahannya, sebelah tanganku yang masih bebas aku gunakan untuk menahan sesuatu yang akan keluar dari bokongku, perutkupun semakin mulas saja, aku tidak pernah seperti ini sebelumnya, dan lagi pula aku hanya meminum susu coklat pagi ini.

Myungsoo terus menggiringku ke arah mana aku tidak tau, sementara bukan keringat saja yang mengalir dari pelipisku, airmatapun hampir keluar dari kedua mataku, semakin aku meronta maka hasrat ingin mengeluarkan sisa olahan organ perutku semakin tak terbendung, aku harus melakukan sesuatu sebelum bencana datang membuatku semakin menderita berada disekolah ini.

“ CUKUP, MENGAPA KAU MENARIKKU BEGITU SEMANGAT, APA KAU AKAN MENGHALANGIKU UNTUK PERGI KE TOILET, AKU INGIN BUANG AIR BESAR APA KAU TAHU??” teriakku akhirnya seraya melepaskan cengkeraman Myungsoo, dan kini semua mata menatapku terbengong, termasuk Myungsoo.

Ahhh…Aku berhasil mempermalukan lagi diriku, bahkan ini masih sangat pagi untuk membuat kegaduhan.

“ Benarkah? Benarkah hanya itu? “ ucap Myungsoo masih kaget dan menatapku dengan perasaan bersalah.

Aku tidak peduli lagi padanya, aku segera menghambur ke arah toilet dengan langkah yang aku pastikan sangat memalukan, buktinya semua kini tertawa terpingkal-pingkal melihatku yang berlari dengan kedua tangan yang menempel dibokongku.

Di toilet

“ Huh, leganyaaaa” ucapku dengan perasaan lega seraya tanganku berputar-putar mengelus perutku.

“ Ommo ….aaaiishh bagaimana ini kenapa ini menjadi berbekas ? “ ucapku yang bingung karena aku melihat sesuatu yang berwarna sedikit kuning tercetak di rok belakang tepat di bokongku.

“ Tch baunya sungguh tidak enak “ aku menjulurkan lidahku dan mengibaskan tangan didepan hidungku karena effect mencium sesuatu yang busuk dari belakang rokku.

Aku masih terpaku disana resah memikirkan cara bagaima bisa keluar dari toilet dengan tanpa menimbulkan kegaduhan lagi dikelas.

“ Isshhh hari ini Jieun memberitahuku ia tidak masuk, otthokae ? “ ucapku benar-benar tidak bisa berpikir.

Dengan terpaksa aku menekan nomor seseorang yang ada disalah satu daftar kontakku.

“ Yeobboseo ? “ ucapnya kini terdengar ditelinga.

Aku ragu untuk mengeluarkan suara tapi ini adalah keadaan yang sangat mendesak, aku tidak mungkin mempertahankan gengsi, lagipula namja ini sudah sering melihatku mempermalukan diri sendiri.

“ Myungsoo-ssi, apa kau bisa mencarikan rok atau celana olahraga untukku, rokku…”

“ Pakai saja celana olahragaku “ ucapnya cepat sebelum aku menjelaskan tentang keadaan rokku.

“ Eoh, apa kau membawanya ? “ tanyaku hanya ingin memastikan.

“ Tentu, aku sudah menunggumu diluar “ ucap Myungsoo.

Ya ampun, namja ini benar-benar aneh, ke toilet saja ia terus membuntutiku.

“ Ini pakailah “ ucapnya dengan menyodorkan celana olahraganya.
Aku langsung menerimanya dan tanpa mengucapkan apapun aku kembali masuk dan memakainya.

Di kelas semua mata terus menatapku, bahkan setiap seonsangnim yang hendak mengisi kelas selalu memintaku melepas celana yang aku pakai, mereka bilang aku terlalu sering melakukan hal aneh sehingga banyak orang yang enggan berteman denganku, aku sangat marah mendengarnya tapi karena aku sudah lelah menjelaskan, akhirnya aku hanya bisa diam menahan emosi dan membiarkan mereka semua puas menertawakanku.

Myungsoo melemparkan kertas ke arahku, sebelum aku membukanya aku melihat ia tersenyum, apa ia juga menertawakan gurauan seonsangnim mengenai diriku ? akh aku benar-benar tidak peduli.

“ Tch “ ucapku sebal.
Aku tidak membuka kertas yang ia lempar padaku, aku hanya mendorongnya agar tersimpan lebih dalam dilaci mejaku, aku ingin segera pulang dan mengunci diriku dikamar.

Pagi ini sudah kembali seperti pagi-pagi yang biasanya, aku malas beranjak dari tempat tidurku untuk segera pergi ke sekolah, namun suara berisik ibu yang menggedor kamar Jiso membuatku mau tak mau melepaskan diri dari jeratan selimut dan segera masuk ke kamar mandi.

“ Jiso-ah, kau ini sampai kapan seperti ini terus eoh ? “ teriakan ibu selalu sama setiap ia membangunkan bocah kecil menyebalkan itu.

Setelahnya, ibu pasti sedang menenteng tubuh Jiso kekamar mandi dan mengguyurnya dengan air inapan semalam yang tentu saja rasanya sangat dingin.
Ya, Jiso tidak akan bisa bangun sebelum ada yang menggotongnya ke kamar mandi dan menyiramnya dengan air,  ia akan berteriak-teriak seperti orang gila karena kedinginan, ini terjadi setiap pagi dihari sekolah.

Seandainya aku bisa membuat perjanjian kembali dengan Tuhan, aku ingin agar dilahirkan di keluarga lain yang tidak seaneh keluargaku.

Diruang makan, ibu sibuk menyuapi makanan kedalam mulut Jiso yang matanya masih terpejam dengan tubuh yang menempel di kursi makan, adikku ini seperti orang yang tidak memiliki tulang selain tulang rahang yang ia gerakkan untuk meraih suapan dari sendok yang ibu sodorkan, keanehan Jiso yang kesekian.

“ Ayah, ibu….aku berangkat “ ucapku akhirnya meninggalkan ruang makan.

Di halaman aku bertemu dengan Myungsoo, ia tersenyum menatapku “ Pagi, bisakah kita berangkat bersama? “ tawarnya.

Aku tidak terbiasa bersikap manis dengan namja ini, akupun hanya melenggang begitu saja berjalan mendahuluinya.

“ Jiyeon-ah, apa kau sudah memeriksa rokmu sebelum pergi ? “ teriaknya ke arahku.

Aku berhenti sejenak, dan menoleh ke arah rokku, melihat itu Myungsoo tertawa dan berkata.

“ Aku hanya bercanda, mengapa kau terlalu serius “ ucapnya enteng

Aku menatap tajam ke arahnya “ Jika kau ingin mencari perhatianku, kau tidak perlu seaneh itu “ ucapku dan berlalu begitu saja.

Myungsoo tidak menyahut kata-kataku, bahkan aku sempat melihat senyumnya langsung hilang seketika mendengar kalimat pedasku.

Aku menaiki bus sekolah yang sama dengan Myungsoo, kami berdiri berjauhan, namun aku bisa merasakan bahwa Myungsoo selalu memperhatikanku, namja ini apa dia menyukaiku ? mengapa ia selalu memperhatikanku ? ah apa peduliku.

Hari ini pelajaran yang paling menyebalkan untukku selain matematika, ah apa aku harus memberitahukan kepada kalian, bawa bukan dalam hal akademis saja aku lemah, dalam hal inipun aku lemah, namun aku bisa apa ? jika pada kelas satu dan dua aku bisa menggantikannya dengan membayar guruku dengan uang untuk penilain, kali ini tidak bisa, semua murid wajib melakukannya, kami sudah di tingkat akhir dan pengambilan nilai harus dilaksanakan.

“ Jiyeon-ah, apa kau bisa melakukannya ? “ tanya Jieun kepadaku.

“ Entahlah, aku tidak yakin, tapi bagaimana aku harus melakukannya bukan ? “ ucapku pasrah.

“ Ayo semuanya bersiap, pakailah baju renang kalian, kita mulai untuk mengambil nilai “ ucap Lee saem yang berwajah lembut namun mempunyai hati yang sangat keras dan susah untuk dirayu.

Hampir semua murid sudah melakukannya, termasuk Myungsoo yang kini sedang menghampiriku dan berkata “ Hwaiting, meski ku tau kau tidak pandai dalam pelajaran, tapi aku yakin kau bisa melakukan ini “ ucapnya yang justru membuatku semakin sebal.

Myungsoo bahkan sudah 3 tahun sekelas denganku, dan aku yakin ia tahu jika aku tidak bisa melakukan olahraga air ini, tapi barusan apa ? tch dia pasti mengejekku.

“ Bersiaplah “ ucap Lee saem memberi aba-aba.
Aku hanya pasrah dan berusaha tidak gugup.

“ Hana …Dul… Set “

Byurrr…..

Semua murid sudah menceburkan dirinya kedalam kolam dan meluncur kedepan agar segera sampai di garis finish, tentu saja aku berbeda, aku masih belum jauh meninggalkan garis start, bahkan gerakkan kakiku bukan menambah tubuhku maju kedepan, malah berputar putar tidak beranjak dari awal tempatku berada, semua murid menertawakanku, dan kali ini entah mengapa aku benar-benar malu, meski tidak ada seorangpun disana yang aku sukai, aku merasa diriku sangat bodoh.

Tiba-tiba aku merasakan kakiku sakit luar biasa, aku mencoba untuk naik ke permukaan namun hanya tanganku yang melambai, sementara tubuhku terus merosot kebawah dan dadaku terasa sesak karena persediaan oksigen yang menipis, aku terus bergerak agar ada yang menyadari jika aku dalam bahaya, lama aku berjuang untuk menyelamatkan diri hingga akhirnya aku melihat seseorang terjun dari atas sana dan meluncur kearahku untuk menolong, setelahnya aku tidak tahu apa yang terjadi karena aku tidak sadarkan diri.

Uhuk….uhuk….uhuk

Aku terbangun karena tiba-tiba merasakan banya oksigen yang masuk melalui mulutku, dan apa ini? Aku merasakan dadaku ditekan oleh seseorang dan bibirkupun seperti ada yang menempel, perlahan aku membuka mataku dan mengumpulkan kesadaranku.

Betapa terkejutnya aku, ketika mengetahui bibir siapa yang menempel dibibirku.

“ Ommo….Kim Myungsoo? “ ucapku terkejut

“ Kau sudah sadar, kau tidak apa-apa? Syukurlah “ tanyanya lagi-lagi aku melihatnya begitu khawatir.

PLAK…..

Myungsoo terkejut dan memegang pipinya yang baru saja ku tampar, entah mengapa tanganku melayang begitu saja, dia memang hanya memberi nafas buatan, tapi entah mengapa aku menganggapnya ini adalah first kiss ku, aku tidak berharap ia yang mendapatkannya, bukan Kim Myungsoo orang yang aku benci.

“ Mengapa kau sembarangan menyentuh bibirku, disini apa tidak ada orang lain selain dirimu eoh? Kau pasti sedang mencuri kesempatan, dan setelahnya kau akan memamerkan pada orang-orang bahwa kau namja hebat dan mengolok-ngolokku, benar bukan ? “ tanyaku penih emosi.

Myungsoo terdiam dengan wajah menunduk “ Mengapa kau begitu membenciku, apa aku begitu menyebalkan dimatamu ? “ tanyanya tanpa menatapku.

“ Geure, aku membenci semua kesempurnaanmu, karena itu kau bisa menertawakanku, kau bahkan juga bekerjasama dengan adikku hingga ia sangat senang mengerjaiku dan menganggaku nuna nya yang bodoh, dan sekarang kau dengan mudahnya menyentuh bibirku, kau tau aku tidak berharap kau merenggut first kiss ku, bukan kau” aku begitu emosi menumpahkan kekesalanku padanya.

“ Mianhae “ ucapnya menyesal
Ia kemudian bangkit dan meninggalkanku, sementara teman-teman sekelilingkupun masih membelanya dan memojokkanku.

“ Dasar yeoja tidak tau diuntung, memang dia siapa ? wajahnya saja tidak pantas untuk dikenal orang setampan Myungsoo, ditolong bukanya berterimakasih, sok jual mahal “

“ Dia kan memang aneh, hanya dia satu-satunya yang aneh disini “

“ Iya ya benar sekali”

Bisik-bisik mereka yang menyudutkan ku terdengar, namun aku tidak peduli, Jieun menghampiriku dan memegang erat tanganku.

“ Jiyeon-ah, tidak seharusnya kau berkata sekejam itu kepada Myungsoo, jika tidak ada Myungsoo mungkin kau tidak tertolong “ ucap Jieun takut-takut.

Aku hanya terdiam, huh…kurasa Tuhanlah yang menyelamatkanku bukan dia, walau dia beribu-ribu kali menikmati bibirku, jika Tuhan tidak menghendaki aku pasti tidak tertolong bukan?

“ Aku tidak mau mendengar pembelaanmu untuknya “ aku bangkit dan meninggalkan Jieun yang mematung disana.

Sejak kejadian itu, Myungsoo jarang lagi datang kerumahku dan bermain dengan Jiso, bahkan dikelaspun ia tidak lagi menggangguku atau berusaha menyapaku, ia lebih senang berkumpul dengan teman-temannya dan tertawa disana.
Tanpa aku sadari, aku sering memperhatikannya kini, aku merasa sedih ketika mendengar bahwa ia sedang menyukai seorang yeoja, teman-temannya sering mengoloknya mengatakan bahwa jika jatuh cinta memang suka bertindak yang aneh-aneh dan lain dari biasanya, jujur aku sangat penasaran dengan yeoja yang berhasil membuat Myungsoo jatuh cinta.

Dulu memang ada segelintir kabar burung mengatakan bahwa Myungsoo menyukaiku, namun aku hanya menganggapnya angin lalu, seperti kalian tahu Myungsoo sangat sempurna untuk yeoja yang biasa-biasa saja sepertiku, lagipula jika jatuh cinta kepadaku ia tidak mungkin sering menertawakan kebodohanku bersama Jiso hingga membuatku kesal, namun mengingat kembali gosip itu aku menjadi tersenyum sendiri.

“ Nuna, kau tahu mengapa Myungsoo hyung tidak pernah datang lagi dan bermain bersamaku ? “ tanya Jiso kepadaku.

“ Molla, memangnya kau melihat aku akrab dengannya hingga kau menanyakannya padaku eoh? Bukankah kau adiknya? “

“ Huh, sikapmu yang seperti ini yang membuat Myungsoo hyung takut mengatakan perasaannya kepadamu, kau tidak seperti seorang yeoja pada umumnya, apa kau yeoja jadi-jadian?” ucap Jiso dengan mata melotot seolah begitu takut mengimajinasikan diriku sebagai yeoja jadi-jadian.

Aku tentu saja terkejut dengan perkataannya, bukan mengenai jika aku ini yeoja jadi-jadian, tapi bahwa Myungsoo takut mengatakan perasaannya padaku.
Entah mengapa aku sungguh penasaran dengan maksudnya, tapi tentu saja dongsaeng bodoh ini tidak akan mengatakan dengan jujur yang aku tanyakan.

“ Jiso-ah, perasaan apa maksudmu ? “ ucap ku penasaran.

Dan benar saja, Jiso tidak mau menjawabnya, ia malah meninggalkanku yang masih penasaran dengan perkataan spontan kurang ajarnya itu, sungguh kini aku benar-benar penasaran dibuatnya.

“ Jiyeon-ah antarkan kue ini kerumah Nyonya Kim, bilang padanya ibu belum sempat kesana “ perintah ibuku seraya menyodorkan sekardus kue tart yang baru saja ia buat.

Mendengar keluarga Kim, tidak biasanya aku merasa khawatir, jika dulu aku dengan santai saja mengantarkan apapun kerumahnya, kini aku merasa ada yang mengganggu, kemungkinan besar aku bertemu Myungsoo, ah bagaimana ini ? aku belum siap jika harus bertemu dengannya.

“ Yya….mengapa kau hanya terdiam?” aku tersadar ketika ibu menegurku

“ Eoh…emm, ibu aku….”

“ Mwo ? “ mata ibu mendelik tajam padahal aku belum sempat beralasan.

“ Baiklah, akan aku antarkan “ ucapku pasrah

Akupun berjalan dengan perasaan sedikit was-was, aku berharap Myungsoo sedang tidak ada dirumah, ketika sampai di halaman rumahnya lagi-lagi aku semakin ragu, tch aku benci dengan perasaan mengganjal ini.

Ting Tong

Tidak berapa lama muncul sesosok yang ingin sekali aku hindari “ Kau ? “ tanyanya kaget

“ Iya ak-akuu, ini untukmu dari ibuku, mohon kau terima “ ucapku entah mengapa menjadi gugup hanya karena berdiri dihadapan Myungsoo.

Setelahnya aku segera berlari seperti orang yang memiliki banyak dosa, dan malu berdiri dihadapannya.

“ Gomawoooo….sampaikan pada ibumu “ aku mendengar Myungsoo berteriak kearahku.

Jiyeon pabbo, ada apa denganmu? Mengapa kau merasa sangat gugup berada didekatnya, ah ini pasti karena perasaan bersalah waktu itu, eh- wajah Myungsoo sangat tampan hari ini, dan apa ini ? aku menyentuh sesuatu yang berdetak didalam dadaku, akh apakah aku menyukai Myungsoo ?

“ Anhi, ahni ini hanya perasaan bersalah” ucapku meyakinkan seraya menggelengkan kepala menolak perkataanku.

“ Jisoooooo…..hapus semua foto itu dari kamera bodohmu, aku akan sangat marah jika sampai kau menyebarkannya “

Lagi-lagi rumah dihebohkan dengan aksi aku dan Jiso, aku berlari mengejar Jiso hendak meraih kamera digital dari tangannya, aku begitu panik ketika adikku yang tingkat kenakalannya diluar batas kemanusiaan itu menjepret aku yang sedang tertidur pulas dengan gaya seperti kecoa yang pasrah tidak bisa membalikkan tubuhnya, bahkan mulutku tebuka cukup lebar dengan air liur yang sudah membasahi hampir separuh pipiku, oh Tuhan dia pasti akan menunjukkannya pada Myungsoo, aku sangat yakin itu.

“ Nuna, ini kan hal biasa, mengapa kini kau sangat panik? lagipula Myungsoo hyung juga tidak berkomentar apa-apa, ia juga tidak tertawa “

Jlebbb…

Lemas sudah mendengar pengakuan Jiso, jadi Myungsoo sudah melihatnya, lalu benarkah ia tidak tertawa ? Ah itu pasti karena dia merasa ilfeel padaku, bagaimana ini? Aku sangat malu, aku benar-benar geram dengan kelakuan Jiso, dia lagi-lagi membuat nilaiku anjlok dimata seorang pria, apalagi dia Myungsoo.

“ Arrrrggghhhhh….kemari kauuuuuu, dasar bocah gilaaaa, aku benci memiliki adik sepertimu “

Hari-hari kulalui dengan perasaan kesal dan malu, aku begitu memikirkan reaksi Myungsoo ketika foto memalukanku itu ia lihat, melihat sikap nya yang masih dingin terhadapku mengapa aku berpikiran jika ia benar-benar sudah tidak peduli mengenai apapun tentangku, aku selalu mencuri waktu untuk menatapnya, namun ia nampak tidak menyadarinya.

Disetiap kuispun aku tidak lagi mendapatkan lemparan kertas darinya, aku merindukannya, sungguh aku sangat merindukannya, aku ingin Myungsoo melakukannya lagi padaku…hiks.

Perlahan aku meraih kertas yang dulu aku abaikan dan masih berada dilaci mejaku, aku membukanya dan airmatakupun menetes begitu saja begitu membaca kalimat yang ada disana.

“ Kau tidak perlu menganggap serius para seonsangnim itu, mereka hanya iri karena tidak bisa melakukan hal-hal ajaib seperti yang kau lakukan, aku menyukai apapun mengenai dirimu “

Ternyata itu isi surat yang waktu itu ia lempar kearahku, disaat para seonsangnim menyuruhku melepas celana olahraga Myungsoo.

“ Jiyeon-ah kau kenapa ? “ Jieun heran melihatku tiba-tiba menangis.

“ Aku merindukannya Jieun-ah” kalimat itu meluncur begitu saja dari mulutku.

Jieun memandang heran “ Nugu ? siapa yang kau rindukan ? “ tanyanya seraya memegang tanganku untuk mengalirkan energi tenang(?) kepadaku.

Kerinduanku akan perhatiaan Myungsoo yang hilang merubahku seperti orang lain, aku menjadi begitu pendiam, walaupun memang biasanya aku diam, ibu bertanya padaku apa aku memiliki masalah disekolah, aku hanya menggeleng, tidak seru sekali bercerita tentang perasaanku pada ibu, pasti ia akan tertawa melihat anaknya ini sudah peduli dengan perasaan pria.

Alhasil aku hanya mengurung diri dikamar, dan mendengarkan lagu-lagu yang aku sukai dari radio kecil yang ada dikamarku, beberapa hari ini pun aku tidak merasakan kenakalan adikku lagi, mungkin dia tau jika aku sedang bersedih, itu bagus, jika tidak aku mungkin akan bertambah menjadi sangat buas, dan akan memakannya hidup-hidup.

“ Ini untukmu” Jieun menyodorkan sebuah amplop berwarna pink kepadaku.

“ Apa ini?” ucapku heran dan menerima pemberian Jieun.

“ Kau buka saja “ ucapnya
Aku kemudian membuka amplop dan membaca kalimat yang tertera di dalam sana, mataku terbelalak ketika tau apa isi dalam surat berwarna pink itu.

“ Benarkah ini? Tapi ba-bagaimana mungkin” ucapku tak percaya/

“ Ia meminta kau segera membalasnya” ucap Jieun tiba-tiba.

Tunggu, mengapa Jieun berkata seperti itu? memangnya dia tahu apa isi dalam surat ini ?
“ Wae ? apa kau heran mengapa aku tau ? aku sudah tahu jika Myungsoo menyukaimu, hanya saja aku tidak berani mengatakannya padamu karena kau membencinya, tapi melihatmu kemarin menangis tentu saja aku merasa tidak tega jika lebih lama menyembunyikannya, apa kau senang? “

Aku mengangguk terharu, aku tidak menyangka Myungsoo benar-benar menyukaiku, tapi dimana makhluk itu? Ia belum datang.

Tidak berapa lama makhluk yang baru saja kusebut namanya datang, tapi sikapnya biasa saja, tidak seperti seseorang yang sedang jatuh cinta, ia juga tidak sedikitpun melirik ke arahku, entahlah mungkin dia malu menunjukkannya di depan teman-teman.

“ Mianhae, aku baru sempat membalasnya, aku harap kau tidak marah “ ucapku membungkuk menyerahkan sebuah amplop, setelah berhari-hari aku menyimpannya, aku memberanikan diri untuk menyerahkan balasan perasaanku sendiri, dan aku tidak mau itu disekolah, aku tidak siap jika ada hal-hal diluar harapanku nanti.

Kening Myungsoo berkerut seraya menerima pemberianku, karena begitu takut akan reaksinya.

“ Chankaman, kau bisa membukanya jika aku sudah pergi “ ucapku mencegahnya.

Myungsoo tampak menggaruk kepalanya yang tidak gatal, aku benar-benar menjadi malu, namun ketika aku ingin berbalik, ia menangkap tanganku “ Ahniya, kau disini saja “ ucapnya yang sontak membuatku menjadi bertambah malu dan menenggelamkan pandanganku kebawah.

Tidak berapa lama, aku mendengar Myungsoo tertawa terbahak-bahak, bahkan ia memegang perutnya saking gelinya, aku kemudian mendongakkan wajahku heran menatapnya. Mengapa ia tertawa, apa ada kalimat lucu didalamnya ? itukan hanya balasan surat cinta, dan aku bukan orang yang pandai melucu, apa karena aneh maka ia tertawa.

Myungsoo menyadari raut wajahku lalu ia menepuk bahuku “ Mengapa isi surat ini seperti balasan surat cinta, kau ingin menyatakan cinta padaku tapi kenapa seolah-olah aku telah mengirim surat ? “ tanyanya.

Mwo ? apa maksud kata-katanya, bukankah ia yang menyatakan cinta padaku terlebih dahulu dan aku hanya membalasnya ? aku melongo parah, tapi sekejap aku sadar bahwa ada yang tidak beres dengan hal ini, pantas aku tidak melihat ada yang berubah dari diri Myungsoo ketika pertama kali surat ini aku terima.

“ Jieunnnnnnn, kau sudah mengerjaiku “ ucapku mengepalkan kedua tanganku dan berlalu dari sana dengan tangis yang tidak bisa aku bendung, aku sangat malu dihadaan Myungsoo, ahhh harga diriku benar-benar sudah tidak ada, aku benci….aku benci dengan semua orang disekelilingku.

Sudah 2 hari aku tidak masuk sekolah, selain karena malu aku merasa tubuhku kurang sehat, dalam waktu 2 hari itu pula Jieun dan Myungsoo mencoba menemuiku, namun aku menolak mereka, aku benar-benar tidak mau bertemu dengan mereka sampai dengan batas waktu yang tidak ditentukan.

Dihari yang ke 3, Jiso datang menemuiku ia bilang aku tidak boleh membenci mereka, karena ini adalah ulahnya, aku tidak mengerti apa maksud Jiso.

“ Myungsoo hyung sudah jatuh cinta padamu sejak pertama ia pindah kesini nuna, hanya saja sikap judesmu itu yang membuat ia takut untuk mengatakannya, dan benar saja bahkan kau mengatakan bahwa kau membencinya ketika hyung mencoba menyelamatkanmu di kolam renang, sejak saat itu hyung ingin mencoba melepaskanmu, namun ternyata ia sangat tersiksa “ ucap Jiso memulai cerita.

“ Begitu banyak perhatian yang ia berikan namun nuna tidak menyadarinya, nuna tau ketika perutmu sakit, itu adalah kenakalanku menaruh sedikit obat pencahar disusu coklatmu, mianhae….aku langsung menelepon hyung untuk mengawasimu, aku bilang maag nuna sedang kambuh, jika sudah begitu nuna akan tidak sadarkan diri dan harus segera dibawa kerumah sakit “ lanjut Jiso merasa berdosa

Jiso terus saja menceritakan padaku mengenai Myungsoo, mengenai surat yang ia buat dan meminta Jieun memberikannya padaku, ia juga menceritakan bahwa Myungsoo selalu menasehatinya untuk tidak bersikap usil padaku, jikapun mereka berdua tertawa itu karena Myungsoo selalu menceritakan hal lucu padanya, bukan seperti pikiranku selama ini.

Airmataku menetes begitu saja mendengar ceritanya, selama ini aku begitu bodoh mengabaikan orang yang begitu tulus mencintaiku, aku selalu menyakiti hatinya tapi Myungsoo tidak pernah membalasnya, sekarang hanya karena ketidak tahuan Myungsoo dengan apa yang terjadi aku sangat marah.

“ Nuna lihatlah dibawah sana ada Myungsoo hyung, teriak Jiso”
Tanpa peduli jika penampilanku begitu menyedihkan aku berlari ke balkon kamar dan melihat Myungsoo sedang membawa setangkai bunga disana.

“ Apa kau mau menemuiku disini? “ ucapnya dengan lembut namun sangat berharap.

Mataku nampak berkaca-kaca, namun tidak ingin Myungsoo menungguku lama, aku segera bergegas turun kebawah tidak peduli bagaimana penampilanku.

“ Mianhae, cukup lama aku menyembunyikan perasaanku, aku begitu tersiksa tiap kali kau menatap Kim Jaejoong saem seperti itu “ ucap Myungsoo memulai percakapan denganku, ia lalu meraih tanganku dan meletakkan didadanya.

“ Kau bisa merasakan apa yang aku rasakan dengan tangan kecilmu ini, Saranghae…maukah kau menjadi yeojachingu ku ? “ ucap Myungsoo seraya memberikan setangkai bunga mawar dengan gaya memohon dihadapanku.

Aku tentu saja hanya bisa terdiam, jujur saja akupun sudah menyukainya sejak pertama kami bertemu, namun karena bayang-bayang Jiso aku malah jadi membencinya, jadi sebenarnya Jiso lah yang bersalah dalam cerita asmara kami.

“ Nado, saranghae Kim Myungsoo “ ucapku tidak mau menunda lagi.

“ Jeongmal, sejak kapan ? ah aku tidak peduli yang terpenting kini aku mendapatkanmu “

Hening, kami berdua hanya saling terdiam, ini sungguh canggung, perlahan aku melihat Myungsoo memajukan wajahnya ke arahku, semakin lama wajah tampannya semakin tidak jelas terlihat karena jarak yang terlalu dekat, seperti di drama-drama korea yang aku tonton jika namja sudah melakukan ini maka adegan selanjutnya adalah….

Akupun memejamkan mataku dan malu sendiri membayangkannya, namun belum sempat hal yang aku pikirkan terjadi …

Byurrrrr

“ Siapa yang menaruh air sisa pel ini disini, membuat banyak nyamuk bersarang saja “
Aku mendengar suara ibu diatas sana, dan mwo ? air pel, jadi air yang membasahi kami adalah air pel ?

“ Andweeeee……”
END
Akhirnya absurd banget, tapi Cuma segitulah kemampuan author..hehehe sampai jumpa di RATR part selanjutnya* melambaikantangan

152 responses to “[ Oneshoot ] I Catch you

  1. sumpah ngakak pas baca part di mana si IBU jy dg pd nya ngajuin jiyi k kelas unggulan haha
    Lucu banget sh keluarga jiyeon, Dan si jiso yg nakal

  2. wkwkwkwk jiyeon eomma ngeganggu aja,padahalkan myungyeon bakalan kisseu.
    ah,akhirnya jiyeon sadar juga sama perasaannya.
    wih myung baik bgt saat jiyeon ehem dan dia ngasih celana olahraganya

  3. Demi apa dong gw baca ff nie malem” gini , ngakak sendiri , hahahaha
    keluarga jiyi aneh” , hahahaha
    keren yeh begitu selesai baca ff yang mengharu biru trus baca ff yang kocak gini , jd kehibur , suka suka ff nya (y)
    sering” aja ya bikin ff begini , kkkkkk

  4. kyaaa eon akhrnya aku baca juga ni,hahahahahahahahaha xD suer g bisa brnti ngakak dari awal smpe akhr. bnr2 komedi yg dasyat wkwkwk,walopun ada sdkit bgian yg rada sdih. ya ampun smua ksalah pahaman antra myungyeon tuh trjdi krna adiknya s jiyi sndiri? O.o hahaha dsar s kecil curut ya jisoo xD dan akhrnya yg pntg myungyeon bersatu deh😀 dan bwt COT aku tgu bgt eon suka bgt ama genre komedi yg bkin ngakak,lbh suka si ada genre marriage life nya gtu xD wkwk,hwaiting eon😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s