Pretend (Chapter 8)

 

FF Pretend new

Tittle : Pretend

Author : brownpills

Main Cast:

  • Park Jiyeon
  • Kim Myungsoo
  • Krystal Jung
  • Bae Suzy
  • Choi Minho
  • Kai

Support Cast:

  • Alice Hello Venus
  • Yoo Seungho
  • Tiffany Hwang

Lenght :  Chaptered

Genre : Romance, Family, Schoollife

Rating : PG-14

A/N : Pure of my mind. Also share in FFH. Don’t be a Plagiator!

All point of view of this chapter is Park Jiyeon

-Prev 7.5-

.

,

Jiyeon’s PoV

Sekarang aku juga tahu, ketika kita mulai mencintai seseorang, kau juga mulai merasa takut.

-Quotes of You who Came From The Stars-

 

Semuanya terjadi begitu cepat, seperti kereta api yang melesat. Kedua pria itu terlibat perkelahian sengit. Lebih tepatnya, pria dengan wajah pucatnya yang terus menghabisi temannya. Seolah dia adalah anak kecil yang sedang berebut mainan.

Tatapan miris sudah dilemparkan dari teman-teman disekitarku. Tak ada yang berani melangkah masuk mendekati mereka. Sedangkan aku menatapnya tajam, dengan sedikit geraman.

Rambut Myungsoo berantakan, dasi kemejanya sedikit lepas. Poni yang menutupi dahinya tampak basah. Kobaran api tertangkap jelas di bola matanya.

Ketika tidak sengaja sorot matanya melihat padaku, aku membalasnya dengan alis yang berkerut menahan emosi –mungkin-. Tidak berniat aku melepaskan pandanganku darinya.

Lama kami saling menatap. Mencoba menerka apa yang ada di pikiran pria itu, ia lebih dahulu membuang muka. Melangkah terseok tidak peduli dengan gubrisan teman di sekitarnya.

Teman-temanku langsung berusaha membantu Minho yang sempat tersungkur di lantai. Lalu, menitah Minho menuju ruang kesehatan.

Diriku terpaku di tempat. Pandanganku belum lepas dari Myungsoo. Pria itu sepertinya tidak berniat membalikkan badan. Yang ia lakukan hanyalah berjalan lunglai hingga punggungnya sudah tak dapat tertangkap dalam indera penglihatanku.

.

.

Bunyi langkah kakiku memantul saat melewati koridor pintu belakang sekolah. Gegara gossip tentang Kai yang mulai beredar, aku diharuskan pulang sekolah lebih lambat dan melewati pintu belakang. Kumasukkan ponsel yang sempat kugenggam ke dalam saku kemeja sekolahku.

Manager ku bernama Alice baru saja mengirim pesan singkat bahwa ia sudah siap di pintu belakang dan para wartawan sudah tidak ada.

Saat aku menarik seraya menghela nafas, pandanganku menangkap sesosok pria tengah bersandar pada pohon tua besar yang sengaja ditanam di sisi belakang sekolah. Kedua matanya ia katupkan, jakunnya terlihat karena kepalanya ditengadahkan.

Mengenali siapa pria itu, kedua kakiku terhenti sesaat. Memandanginya dari kejauhan. Wajahnya tampak putus asa.

Separuh jiwaku sedih melihatnya, namun sisanya aku benci dengan apa yang terjadi. Begitu benci hingga kesabaranku terbakar habis. Dan tidak ada waktu untuk masuk ke dalam masalahnya. Maka aku hanya diam di sini. Tidak melangkah sedikitpun.

—o0o—

MWO?! Yoo Seungho?!”

Acara tidur sejenakku terganggu. Sambil berteriak seperti itu aku membulatkan bola mataku. Seorang gadis muda masih memoles wajahku dengan kemerlap berwarna merah muda dan menebalkan alisku dengan pensilnya.

Ne. Lawan mainnya diubah menjadi Yoo Seungho,” jawab Alice selaku manager-ku. Gadis berambut pirang itu menatapku sedikit tak enak.

Pandanganku segera menuju ke arah stand di mana Seungho tengah di rias. Menyadarinya, Seungho menoleh padaku. Wajahnya menggambarkan smirk yang tidak mempan untukku.

“Mengapa harus dia?” runtukku menyalahkannya pada Alice. “Masih banyak actor lain yang lebih hebat.”

“Seharusnya kau bersyukur, Yeon-a,” jawab Alice dengan wajah yang tidak pernah gugup di hadapanku, “Popularitasnya sedang naik daun. Banyak sutradara yang mengambilnya sebagai pemeran utama.”

Bibirku tersenyum sinis mendengarnya. Tidak peduli dengan tata riasku yang belum selesai aku beranjak berdiri.

“Kau mau ke mana?” tanya Tiffany, stylist-ku.

“Menjauh dari kandang harimau,” ketusku meliriknya sembari mengambil langkah lebar menuju mobil pribadiku.

.

.

Kecepatan penuh aku menginjak gas mobil. Untungnya hari ini aku tidak berangkat syuting menggunakan van, tetapi dengan mobil berwarna putih milikku. Menghiraukan bunyi klakson dari mobil lain, aku melesat seperti panah.

Sesampainya di tempat tujuanku, aku membanting pintu mobilku sembari menyisir rambutku dengan jemari.

Jaebal, aku ingin masuk. Aku teman Kai.”

Dahiku berkerut heran melihat seorang gadis sedang memohon di depan gerbang sebuah rumah minimalis. Dua pria berbadan kekar dengan kemeja hitam menahan gadis yang terus memaksa diperbolehkan masuk ke dalam.

“Krystal?” ucapku disambut tolehan kepala Krystal.

Aku melangkah mendekatinya.

“Jiyeon!” ujar Krystal seperti mendapat kartu AS.

Mulutku mendesis pelan. Pandanganku segera beralih pada kedua pria yang bisa ditebak bahwa mereka bodyguard di rumah ini.

“Aku Park Jiyeon, lawan main Kai dalam sebuah film. Dia Krystal Jung, teman sekelas Kai.”

Penjelasan sederhanaku berhasil membuat kedua pria tegap itu menyingkir memberi jalan untuk kami. Santai aku melangkah masuk, sedangkan mulut Krystal menganga melihat tingkahku. Namun ia hanya mengikuti langkahku saja.

“Bagaimana kau bisa?” tanya Krystal lebih terlihat seperti kagum. “Tadi aku sulit sekali memberitahu bodyguard itu.”

“Ini bukan yang pertama kalinya aku ke sini,” jawabku enteng.

Dengan hafal aku meniti tiap anak tangga. Herannya tidak ada orang tua Kai di rumah. Pria itu sendirian, begitulah kata Bibi Jung. Mengurung diri di kamar sejak kemarin.

Tanpa mengetuk pintu kamar terlebih dahulu, aku sudah membukanya. Memperlihatkan kondisi kamar Kai yang terlihat seperti kapal pecah. Meski begitu aroma lavender masih terhirup di hidungku.

Krystal yang tadinya berada di belakangku langsung melesat mendekati Kai. Pria itu sedang duduk di atas kasur dengan buku bacaan di pangkuannya.

Ya!” bentak Krystal malah memukul tengkuk kepala Kai.

“Argh!”

“Apa kau senang?! Membuat semua orang khawatir?!”

“Kau selalu menggunakan kekerasan!”

“Jawab aku sekarang! Apa menghindar itu pilihanmu?”

Kai membisu mendengar pertanyaan Krystal.

“Mengapa kau sendiri? Di mana ayah dan ibumu?” tanya Krystal lagi.

“Sedang mengurus gossip itu.”

“Benarkah? Apa yang ada di berita, apa itu fakta?” tanya Krystal lagi dan lagi.

“Kau mempercayainya?” ujar Kai membolak balikan pertanyaan. “Menurutmu saja bagaimana.”

Kepala Kai menoleh, melihatku yang masih berdiri di ambang pintu.

“Kau juga kemari,” ujarnya. “Apa untuk menanyakan hal yang sama seperti Krystal?”

Aniy,” sahutku tanpa beban.

Kedua alis Kai terangkat.

“Aku ingin mengadu karena dirimu.”

Kai masih terdiam, membiarkanku melanjutkan kalimatku.

“Aku tidak suka dengan pengganti pemeran utama pria. Menyebalkan. Bagaimana bisa aku beradu acting dengan orang yang sudah menyebarkan rumor palsu mengenai diriku.”

“Yoo Seungho?” Entahlah, tebakan Kai selalu tepat.

“Mm,” anggukku. “Karena itu ini semua adalah kesalahanmu, Kai.”

“Lalu apa yang harus kulakukan untuk menebus kesalahanku?”

“Kembalilah,” kata itu meluncur begitu saja dari mulutku. “Kembalilah tidak peduli apapun yang terjadi.”

Kai dan Krystal tidak bisa mengucapkan sepatah kata mendengar permintaanku. Mungkin terdengar kuno, biarlah.

Krystal mengerjapkan matanya sembari berkata, “Jiyeon benar. Kembalilah, Kai. Kembalilah karena kau memang tidak bersalah.”

Aku dan Krystal sama-sama menyunggingkan senyuman. Sebisa mungkin membentuknya menjadi suatu ketulusan. Begitu dengan Kai, yang mulai menarik kedua sudut bibirnya.

—o0o—

Lima hari sejak gossip itu beredar. Suasana lokasi syuting begitu rumit karena diriku yang tidak bisa menghayati peran bersama Seungho. Sebenarnya aku sengaja melakukannya dengan kesan ogah-ogahan. Namun hari ini berita yang tak kalah besarnya sudah menyebar pula.

Kim Sungryoung dinyatakan tidak bersalah. Tuduhan itu palsu agar menjatuhkan reputasi keluarga Kim. Dan Kai kembali masuk ke dalam dunia hiburan.

Kebenaran itu tidak semudah yang dikira. Kai tetap tidak bisa mendapatkan peran utamanya kembali denganku. Otomatis aku mau tidak mau harus membagi scenario dengan Yoo Seungho. Demi rating drama, akan kulakukan.

Di lain sisi ada hal yang tidak kalah mengguncangkan. Pertengkaran antara Minho dan Myungsoo menghebohkan seisi sekolah, berhubung mereka dikenal sebagai dua sejoli yang tidak bisa lepas. Ada yang mengatakan mereka mencintai gadis yang sama. Ada pula yang mengambil kesimpulan bahwa mereka bertarung harta kekayaan, atau lainnya yang tidak penting.

Aku sendiri tidak mengerti apa yang terjadi di antara dua sohib yang berubah menjadi rival itu. Namun ada satu hal yang membuatku sedikit tidak percaya. Alasan dibalik pertengkaran mereka adalah Bae Suzy.

“Myungsoo…”

Langkahku menyusut saat bersebrangan dengannya di halaman belakang sekolah. Tidak kuduga lelaki itu mendengar ucapanku yang sebatas lirihan. Diriku menghadap punggung Myungsoo yang terlihat lebar dan tinggi.

Hati-hati aku berkata, “Apa Suzy sangat berarti bagimu?”

Rasanya kelu ketika dilisankan. Aneh untuk didengar. Namun itulah pertanyaanku yang terlontar.

Myungsoo tidak bergerak sedikitpun. Hening melintas di antara angin yang menyelubungiku dan dirinya. Pohon besar bergoyang membuat rantingnya mendayu lembut. Helaian rambut cokelatku melambai terkena terpaan angin.

Kepala Myungsoo sedikit menoleh ke samping sambil berucap, “Eo. Sangat berarti.”

Kalimat itu bagaikan pedang yang mengiris ulu hati. Urat nadi yang menjalar seperti terbakar hangus. Cairan bening di mata tertahan tidak dapat keluar.

Lelaki itu lantas melangkah menjauh. Seolah aku hanya angin lalu, ia melengos begitu saja. Meninggalkan diriku yang tiba-tiba merasa rapuh.

Kepalan tanganku di sisi rok bergetar. Rahangku gemeretak dengan pandangan tersulut amarah. Namun dibalik keganasanku, entah mengapa ada sesuatu yang lunak. Membuat hatiku terasa terinjak dan jantungku hancur berkeping-keping.

—o0o—

Pena digenggamanku asyik bergerak di atas sebuah buku tebal. Tinta biru ini menggarisi beberapa kalimat yang memiliki makna indah. Salah satu tanganku digunakan untuk bertopang dagu. Sesekali ekor mataku melirik ke arah samping, tempat duduk Myungsoo.

Pria itu tengah tertidur pulas di atas meja. Dengan kepala yang ia sandarkan pada tangan kanan. Sementara Minho yang duduk di depan Myungsoo, sedang menyilangkan kedua tangan di depan dada sembari menyandarkan punggung pada kursi, pria itu jelas tengah berpikir sesuatu.

Nafasku berhembus berat. Suasana di kelas 3-7 sedikit berbeda. Myungsoo dan Minho tak kunjung berdamai, bertukar sapa saja tidak mereka lakukan. Ternyata perkelahian mereka memberi efek buruk juga dalam pandanganku.

Perhatian teman sekelas langsung memusat pada gadis yang melangkah masuk ke dalam kelas. Gadis yang merupakan akar muasal dari pertenngkaran Myungsoo dan Minho itu tampak tenang seperti biasa.

Ia mengaitkan tasnya di kursi. Tidak peduli dengan tatapan heran yang dilemparkan oleh orang lain.

Segera aku beranjak berdiri. Melangkah angkuh mendekati gadis itu. Ia mendongak menyadari kehadiranku yang sudah ada di depan kursinya.

“Kita bicara sebentar. Di luar,” singkatku seraya mengambil langkah menuju keluar kelas.

Dengan enggan ia mengikuti langkahku di belakang. Aku membalikkan tubuh. Menyadari bahwa gadis itu memiliki badan jauh lebih kurus. Rambut hitamnya tidak setebal yang dulu lagi.

“Bae Suzy,” ucapku terkesan hina, “Kau masih berani datang ke sekolah?”

Wae?” gaya datar itu masih tertera di wajahnya.

“Satu bulan kau tidak hadir di kelas. Membawa keributan dan membuat persahabatan menjadi hancur. Kau masih berani menginjakan kaki di sekolah ini?!”

Terlihat jelas aku seperti tokoh jahat di sini. Tersulut emosi, terbakar habis kesabaran.

“Mengapa kau hanya diam?” geramku sedikit heran dengan sikap santai Suzy.

Justru gadis itu menelengkan kepala, “Aku datang karena aku merindukan sekolah ini.”

Tertawa sinis mendengar pernyataan bodoh itu. Pandanganku menusuk pada manik mata yang tidak menggoreskan ketakutan itu.

Mulutku baru saja terbuka untuk mengeluarkan sumpah serapah, namun Suzy lebih dahulu menyelanya.

“Aku sudah mendengarnya. Tentang pertengkaran antara Myungsoo dan Minho. Tidak kusangka kau marah karena hal ini—“

Tidak bisa membenarkan ataupun menyalahkannya.

“—tapi aku tidak akan minta maaf padamu. Karena seharusnya aku meminta maaf pada Myungsoo.”

Terasa pedas di mata. Mulutku sudah gemetar karena menahan gejolak emosi.

“Jawab aku,” ucapku mengatur nada suaraku, “Apa kau mengidab penyakit?”

Tersambar halilintar mungkin. Dapat tertangkap tubuh Suzy sedikit menegang. Namun tidak lama kemudian bahunya menurun, memperlihatkan bahwa ia berusaha mengatasi pertanyaan telakku.

“Kau ingin mendengar jawaban jujur atau bohong?” tawarnya.

Tanpa rasa bingung dan takut aku mantap menjawab, “Jawaban jujur.”

Sejenak ia menyimpulkan senyuman, “Ne. Aku mempunyai satu penyakit.”

Padahal aku hanya mematung di tempat, namun rasanya aku sudah melangkah begitu jauh. Menguras tenaga, mengucurkan keringat. Lagi, lagi, dan lagi, aku lelah.

“Penyakit apa?” suaraku lebih rendah. Sulit mengatakan karena tenggorokanku tercekat.

“Jangan pasang wajah seperti itu sekarang,” ujarnya mengalihkan pembicaraan, “Kau terlihat lebih menakutkan.”

Mataku mengerjap seolah berusaha sadar dari dunia fana. Kutegapkan tubuhku dan kembali menyorot bola mata Suzy dengan kesinisan.

“Tadi aku hanya basa-basi,” cetusku asal. “Kurom. Aku akan mengatakannya sekarang.”

Suzy masih mengunci mulutnya rapat dengan pandangan yang tidak sedingin dulu. Lebih damai.

“Jangan muncul di hadapanku lagi.”

Kalimat itu meluncur dengan lancar. Tanpa pikir panjang, hanya bercampur kekesalan. Cemburu? Entahlah, aku sendiri tidak paham. Dan aku tidak akan memaksa otakku untuk mencari arti kata dari cemburu. Dialah yang membuatku terlihat jahat.

Tanpa menantikan responnya, aku membalikkan tubuh. Mulai melangkahkan kaki yang terasa berat. Mengangkut sejuta beban dengan setitik rasa sesal.

“Jiyeon—“

Bahkan suara singkatnya bisa membuat langkahku berhenti.

“—Myungsoo membutuhkan seseorang untuk berada di dekatnya. Mungkin kau seseorang itu—“

Meski aku tidak berniat menghadap Suzy. Namun suara Suzy terkesan lemah. Dan alisku berkerut heran mendengar ucapannya yang sulit dicerna.

 

“—temanilah Myungsoo. Aku memohon padamu.”

 

Seolah ia sedang mengucapkan kata perpisahan.

 

to be continued~~~

Lohhaa! Eh, Holla maksudnyaa, hehe. Lagi lagi ketemu brownpills alias Hara. Btw, tentang masalah Kai– eerrr sebenarnya itu rada gaje, cuma lewat gitu aja. Habisnya menurut Hara ini FF complicated problem banget. Jadi Hara mutusin buat kurangin problemnya si Kai. Takutnya nanti alur cerita malah berantakan trus ujung-ujung readers kurang ngeh sama FF Hara. Well, daripada banyak cincong mending Hara lanjutin next chap dulu yaw *berlih ke Ms.Word*. Paipai🙂 Don’t forget to leave your comment😉

 

73 responses to “Pretend (Chapter 8)

  1. kayaknya suzy udah ngerasa kalo waktunya udah gak lama lagi..
    sebenernya mereka berdua itu cuma butuh berbaikan tapi yaa.. gengsi

  2. Hhmmmm trnyata jiyeon juga mlai suka sma myungsoo tp dya ga sadar sma perasaan’y sendiri,,
    suzy kaya gth bagaikan mw pergi jauh ajj deh,, sedih bggt baca’y,,

  3. Myungsoo berhasil buat jiyeon cemburu ya walaupun itu tidak disengajakan..
    Kesian lihat suzy..penyakitnya semakin parah,ya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s