[CHAPTER – PART 3] 15:40:45 – Don’t Know

myung-ji-154045-1

15:40:45

Don’t Know

written by Quinniechip

T-ara’s Jiyeon – Infinite’s L – EXO’s Sehun – SHINee’s Minho || and other minor cast || Romance Friendship School Life || Chapter

Poster here | Previous here

-oOo-

“Berikan padaku, kau sudah terlalu lama memakainya sendiri.”

“Cepat balik ke halaman selanjutnya..”

“Hei, nomer lima mengapa bisa jadi seperti ini?”

“Geser sedikit bukunya, aku tidak bisa melihatnya.”

“Soal nomer dua puluh enam tidak dijawab?”

“Ya! Kembalikan pensil milikku!”

Suasana kelas begitu ricuh pagi ini, semua murid berkumpul dan berdesakan menempatkan buku serta tangan mereka pada satu meja, dan tidak ada alasan lain selain menyalin pekerjaan rumah milik Dahee atau yang mereka beri julukan ‘si Otak Einstein’, dan keberuntungan untuk mereka karena Dahee bukanlah seseorang yang pelit dalam urusan membagi ilmu.

Sebagian besar dari mereka memang sengaja datang pagi karena tugas yang diberikan bukan hanya satu atau dua nomer saja. Kecuali lelaki yang baru datang beberapa menit yang lalu, ia tak terlihat berminat untuk ikut dan bergabung ke dalam gerombolan teman sekelasnya. Ia telihat tak bersemangat pagi ini, yang ia lakukan hanya menelungkupkan kepalanya dengan earphone yang menyumbat kedua telinganya.

“Ya! Oh Sehun, jangan hanya tidur dan bersantai disana, cepat kerjakan tugasmu sebelum bel masuk berbunyi.”

Sehun yang merasa dirinya dipanggil kemudian terbangun, melihat siapa yang tengah memanggilnya, ia kembali menelungkupkan kepalanya mencoba tak mempedulikan apapun.

“Dasar bocah gila, hei tugas yang diberikan Mr. Kim tidak bisa diselesaikan hanya dengan sekali kedip. Orang tua botak itu memberi kita sederet soal yang hanya bisa dikerjakan menggunakan otak alien.” Lanjutnya lagi masih berteriak disamping Sehun yang tertidur.

Merasa terganggu akhirnya Sehun melepas earphone yang terpasang dan menoleh pada seseorang disampingnya, “Lee Jeongmin..”

“Ada apa denganmu?” Jeongmin mengerutkan dahinya heran, “Dan jangan memanggilku seperti itu, kau tampak seperti homoseksual.”

Sehun memukul keras kepala Jeongmin, “Aku masih normal dan aku bukan dirimu.”

“Ya! Aku bukan seorang homoseksual!” Teriak Jeongmin membalas.

“Diamlah, aku sedang dalam mood yang buruk hari ini.”

Jeongmin melirik Sehun dan mendesah maklum, “Tidak lain dan tidak bukan pasti karena Jiyeon sunbae, bahkan sudah beberapa hari ini kau selalu seperti ini..”

Sehun hanya menghela nafasnya pelan. Memang sudah beberapa hari ini ia terlihat tak bersemangat, hanya diam dan duduk melamun, melayang dengan pikirannya sendiri tanpa sadar dengan keadaan sekitar. Benar seperti apa yang dikatakan Jeongmin, alasan mengapa Oh Sehun bisa menjadi seperti ini hanya satu, siapa lagi kalau bukan kekasihnya yang mendadak bersikap aneh belakangan ini.

Jujur saja, Sehun bingung dengan apa yang terjadi dengan hubungannya saat ini, yang tiba-tiba berubah tanpa alasan yang pasti. Ia tak merasa pernah melakukan kesalahan apapun, bahkan disaat terakhir ia bertemu dengan Jiyeon, ia masih menghadapinya dengan tetap bersikap sabar, karena ia juga tahu jika ada sesuatu yang terjadi pada Jiyeon, dan sialnya ia tak mengetahui apa itu.

Semakin hari tanda tanya itu tumbuh semakin besar dan terus menerus membayanginya, ia tak ingin seperti ini. Sehun hanya ingin semuanya cepat selesai dan hubungannya dengan Jiyeon bisa kembali baik seperti semula.

Menjalani dua tahun hubungannya dengan Jiyeon, dan tak pernah ada masalah yang berarti, hanya sebatas pertengkaran kecil yang bisa diselesaikan dalam kurun waktu kurang dari dua puluh empat jam. Memang selama ini Sehun yang lebih banyak mengalah, ia tak pernah sekalipun membentak Jiyeon, semarah apapun Sehun.

Memiliki kekasih seperti Jiyeon memang suatu kebahagian tersendiri bagi Sehun, walaupun Jiyeon bukanlah sosok yang sebaik dan seanggun putri salju, tapi seorang Park Jiyeon sudah cukup bagi Sehun. Bahkan ia sendiri tak tahu apa alasannya menyukai Jiyeon, hanya karena Jiyeon adalah Jiyeon, itulah yang selalu ia katakan selama ini.

“Pikirkanlah kembali hubunganmu dengannya, sepertinya ini bukanlah masalah kecil..” Ucap Jeongmin memecah lamunan Sehun.

Sekali lagi Sehun menghela nafas, “Atau memang aku yang salah? Bahkan hingga detik ini aku sama sekali tak bisa mengingat apa kesalahanku.”

“Mungkin bukan kau atau dia..” Jeongmin berhenti sejenak, “Tapi keduanya, hubu-”

Tteeeeettt!! Teeeeetttt!!

Bunyi bel seketika menghentikan ucapan Jeongmin, kedua matanya membesar dan dengan cepat ia menoleh kearah Sehun, kemudian ia melirik kearah buku tugas dan pensil yang masih terpegang rapi di tangannya.

“Ya Tuhan, tugasku masih kurang setengahnya–” Teriak Jeongmin kaget, “–matilah kau Oh Sehun, kau masih belum mengerjakannya sama sekali..”

“Siapa bilang..”

“Ha?” Jeongmin bingung dengan mulutnya yang sedikit terbuka.

“Siapa bilang aku belum mengerjakannya..”

Sehun mengeluarkan sebuah buku dari dalam tasnya, “Bawa ini dan cepat selesaikan sebelum kelas conver berakhir.”

“Kau.. sudah mengerjakannya?” Jeongmin masih bingung dengan buku milik Sehun yang kini berada ditangannya, “Dasar bocah gila! Wah, teman macam apa kau ini. Ya! Oh Sehun!”

-O-

“Open page twenty four and do it now..” Perintah sang guru sambil membebahi tempat duduknya, “Siapa yang lebih dulu mengumpulkan, akan mendapat poin tambahan dariku.”

“Lihatlah apa yang ia kirim padaku..” Ucap Minah sambil memberikan ponsel miliknya pada Bomi.

Bomi hanya berdecak kecil dan menggelengkan kepalanya tak percaya, “Ini sungguhan? Kau tak mengada-ada, kan

“–aku tak percaya, lelaki seperti ini..”

“Sama halnya denganku, awalnya aku juga tak percaya jika ini dia tapi apa mau dikata ini memang benar dia, lelaki yang duduk di sampingmu itu.” Tunjuk Minah diam-diam.

“Bahkan tadi pagi ia menyapa ‘Hai Bang Minah’ dengan begitu ramahnya, aku sampai tak tahu harus bagaimana membalasnya dan akhirnya aku langsung masuk kelas tanpa mempedulikannya.”

“Aku merinding sendiri mendengarnya..” Bomi menggerakkan bahunya naik turun.

“Apakah ini memang kebiasaan seorang gadis?” Lelaki di samping Bomi berdecak seraya melirik dua gadis yang duduk berdempetan di sampingnya, “Masih pagi dan kalian sudah membuka forum gosip–“

“–lagipula kalian sadarlah jika seseorang yang sedang kalian bicarakan itu duduk tepat di sampingmu.”

Bomi dan Minah menoleh bersamaan, “Ya! Kim Myungsoo, kau mendengarnya–”

“–padahal aku sudah berbisik pelan.”

“Kau itu punya telinga setajam kelinci, ya?” Tanya Minah menyambung ucapan Bomi.

Myungsoo tertawa kecil, “Bukan aku, tapi suara kalian yang bahkan bisa menyaingi suara petir. Di kerongkongan kalian itu tersangkut sebuah speaker atau bagaimana, huh–“

“–beruntunglah Mr. Gil tak mendengarnya.”

“YA! SUARAKU TAK SEP-”

“Yoon Bomi!” Teriak Mr. Gil kencang, “Ada apa ini, untuk apa kau berteriak di tengah pelajaran sekarang?”

Bomi yang seketika sadar langsung duduk diam dan menunduk, “Ma.. maafkan aku, sir.”

“Sudah cepat selesaikan tugasmu–“ Perintah Mr. Gil, “–di mana bukumu Yoon Bomi, kau tak membawanya?”

Bomi yang baru saja ditegur baru sadar jika buku yang tadinya ada dimeja miliknya kini telah menghilang dan berpindah tempat.

“Aku membawanya, sir, ini-”

“Apa-apaan kau, ini milikku–” Myungsoo menarik buku yang baru saja diambil oleh Bomi dari tempatnya, “–jangan membela diri dan menjerumuskan teman sendiri.”

“Kau bercanda, buku ini milikku.” Bomi menarik kembali buku miliknya, tapi tak berhasil karena memang kekuatannya tak sebesar Myungsoo.

“Tapi, sir, aku-”

“Yoon Bomi, poin tambahanmu aku kurangi karena kau tak membawa buku dan karena kau telah membuat keributan di kelasku.” Potong Mr. Gil cepat.

Bomi hanya mendengus kasar dan menatap marah pada Myungsoo yang hanya tertawa tanpa rasa bersalah.

“Bomi-ya, bantulah temanmu ini sekali saja.” Ucap Myungsoo memohon, “Kau tahu aku hanya memiliki sedikit poin tambahan, jika dikurangi lagi hanya karena hal ini, aku tak akan memiliki poin lagi, bahkan minus.”

Bomi hanya melirik Myungsoo, “Itu deritamu yang sama sekali tak ada hubungannya denganku.”

“Jangan pelit, sebagai sesama manusia kita harus hidup tolong menolong.” Balas Myungsoo sambil mengacak pelan rambut Bomi.

Dengan cepat Bomi menyingkirkan tangan Myungsoo dari kepalanya, “Tidak usah banyak alasan dan jangan sentuh rambutku!”

Lagi-lagi Myungsoo hanya tertawa dan dengan cepat Bomi meraih bolpoin miliknya lalu mencoretkannya pada lengan seragam Myungsoo.

“Rasakan itu!”

-O-

“Dasar Kim Myungsoo sialan!” Teriak Bomi yang baru saja masuk kelas dan membanting diri di atas tempat duduknya.

Seisi kelas hanya terdiam dan menatap heran Bomi yang datang dengan berteriak dan kini sibuk menggerutu dengan wajah kesalnya.

“Yoon Bomi, maafkan aku..!”

Kini seisi kelas berbalik meolehkan kepalanya kearah jendela setelah mendengar suara seseorang yang sedikit berteriak. Jimin yang baru datang hanya bisa tertawa tanpa henti sambil memegangi perutnya.

“Sebenarnya ada apa?” Tanya Jiyeon bingung.

Bomi masih diam dengan tatapan kesalnya dan Jimin masih terus tertawa tanpa bisa menjawab pertanyaan Jiyeon dan menjelaskan apa yang terjadi.

“Kenapa bisa ada manusia seperti dia–” Gerutu Bomi, “–tidak punya sopan santun, seenaknya sendiri, haish dasar si tukang paksa sialan!”

Sebagian siswa yang berada di dalam kelas kini sudah duduk melingkar disekitar Bomi, penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi pada gadis dengan kuncir kuda ini.

“Myungsoo mengambil bukunya dan menyebabkan ia harus menerima omelan dari Mr. Gil.”

“Hah?” Semuanya hanya menatap Jimin dengan wajah bingung tak mengerti.

Jimin menarik nafas panjang berusaha meredakan tawanya, “Ia disangka tak membawa buku oleh Mr. Gil karena Myungsoo mengambilnya dan mengaku jika buku itu adalah miliknya.”

Yang lain hanya membulatkan bibir mereka sambil mengangguk mengerti.

“Benarkan apa yang aku bilang, lebih enak berada dalam satu kelas denganku.” Ucap Kyung, “Setidaknya kau tidak menanggung omelannya sendiri.”

“Sudahlah, hal kecil seperti itu saja kau permasalahkan. Lagipula ia sudah minta maaf padamu, kan..” Balas Chanyeol melanjutkan.

Bomi hanya mendengus kasar, “Yang aku permasalahkan bukan itu, tapi caranya yang sungguh tak sopan, mengambil buku milikku seenaknya dan mengaku jika itu miliknya.”

“Sudahlah lupakan saja.” Ucap Jiyeon menengahi, “Meributkannya terus seperti ini juga tak ada gunanya, tak akan membuat semua masalahnya selesai.”

“Wah mengapa kau tiba-tiba jadi berubah bijak seperti ini?” Sahut Jimin,”Apa karena masalahmu dengan kekasihmu, si adik kelas itu?”

Chanyeol mengetukkan jari pada dagunya, “Hmm, sepertinya masalah memang akan membuat seseorang menjadi berpikir lebih dewasa, iya kan Jiyeon?”

“Kalian ini, sekarang Jiyeon sedang berada dalam masalah yang rumit, bantulah sedikit jangan semakin mengganggunya dengan candaan kalian itu..” Tegur Soojung.

Kyung mendecak pelan, “Sepertinya manusia dalam tingkat kebimbangan tinggi di kelas ini bertambah menjadi dua–”

“–tenang saja Jin-ah, kini kau tak sendiri lagi, ada Jiyeon yang bernasib sama denganmu.”

Dengan cepat Jiyeon meraih buku didepannya dan memukulkan pada kepala Kyung, “Kau ini teman macam apa sebenarnya? Masalah teman sendiri kau jadikan bahan candaan, dasar jelek!”

“Ah, jadi bagaimana dengan Sehun? Kau sudah menemukan jawabannya?” Tanya Hayoung.

Jiyeon menatap Hayoung cepat. Ia diam dan matanya melirik kearah semua orang yang duduk didepannya, menunggu jawaban yang akan Jiyeon lontarkan. Sekelompok orang yang duduk melingkar itu hanya bisa menghela nafasnya panjang ketika Jiyeon kembali menggelengkan kepalanya.

“Ya! Apa yang sebenarnya kau pikirkan, kau yang memulainya dan kau tak tahu bagaimana cara untuk mengakhirinya, bahkan inti masalahnya saja kau tahu. Ternyata kau lebih parah dariku..” Ucap Jin sambil menggelengkan kepalanya heran.

Jimin berdehem sebelum bicara, “Kau tahu tidak, bukan hanya wanita saja yang ingin dimengerti tapi seorang lelaki itu juga ingin untuk dimengerti oleh pasangannya.”

“Seharusnya kau harus tahu bagaimana perasaan pasanganmu ketika diperlakukan seperti itu oleh kekasihnya–” Jimin diam sejenak, “–coba kau posisikan dirimu sebagai dirinya dan bayangkan apa yang akan kau rasakan–”

“–sakitnya itu.. disini.” Jimin mengakhiri ucapannnya dengan jari yang menunjuk dadanya.

Disaat yang lain menganggap bahwa ucapan panjang Jimin hanya sekedar candaan belaka, Jiyeon terdiam dengan tatapan kosong. Segala yang diucapkan Jimin barusan begitu menohok hatinya. Semua itu memang benar, Jiyeon tahu apa yang dilakukannya selama ini pada Sehun adalah salah, dan seharusnya ia mengerti dengan apa yang dirasakan oleh Sehun, bukan hanya sibuk dengan dirinya sendiri.

Jiyeon baru menyadari jika selama ini Sehun sudah terlalu banyak menanggung semuanya, menerima kesalahan yang bahkan tidak pernah ia lakukan. Selalu Sehun yang mengalah dan ia tak pernah mempermasalahkannya sama sekali, dan membuat Jiyeon merasa semakin besar kepala, merasa bagaikan seorang putri yang selalu dikelilingi dengan kebenaran apapun yang ia lakukan.

Jiyeon juga baru menyadari jika Sehun rela melakukan itu semua demi dirinya, apapun itu, bahkan hal yang membuat dirinya sendiri tersakiti. Jiyeon benar-benar merasa istimewa, Sehun begitu menjaga perasaannya selama ini, ia benar-benar tak ingin Jiyeon bersedih.

Jiyeon memang bodoh saat ia baru saja menyadari semuanya sekarang, menyadari betapa besar pengorbanan yang Sehun lakukan untuknya, dan apa yang bisa Jiyeon lakukan untuknya, hanya rasa sakit dan tidak ada yang bisa Jiyeon lakukan untuk mengobatinya. Sudah terlalu terlambat sekarang.

Jika Jiyeon bersikeras untuk mempertahankan segalanya, yang ada ia justru akan membuat situasinya semakin buruk, dan ia tak menginginkan hal itu. Ia harus menyelesaikan semua masalahnya, secepatnya.

-O-

Bel tanda istirahat pertama sedikit banyak membuat Myungsoo dan yang lainnya bernafas lega, karena artinya pelajaran Miss Nam yang membosankan sudah berakhir. Biasanya Myungsoo sudah tertidur saat pelajaran Miss Nam baru berjalan lima belas menit dan ia akan kembali terbangun karena bunyi bel istirahat sudah berdering atau karena omelan Miss Nam yang benar-benar memekakkan telinga setiap kali berteriak karena mengetahui jika salah satu siswanya tertidur saat jam pelajarannya berlangsung.

Tapi tidak untuk kali ini, karena Myungsoo tahu jika sekali lagi ia ketahuan tertidur saat Miss Nam mengajar, sebagus apapun nilainya dalam mata pelajaran sejarah, angka tujuh puluh lima akan tetap tercetak dirapotnya nanti. Bahkan pagi ini Myungsoo sudah berantisipasi dengan minum kopi tiga gelas untuk mencegahnya, dan bisa dikatakan cukup berhasil walaupun matanya hampir terpejam beberapa kali.

Belum sempat Myungsoo beranjak dari duduknya, ia teringat dengan selembar kertas yang beberapa hari lalu diberikan Miss Noh agar diisi dan secepatnya diserahkan pada Jiyeon.

“Kertas apa itu?” Tanya Sungyeol tiba-tiba.

Myungsoo menoleh, “Data yang harus kuisi untuk klub musik, dan aku harus cepat menyerahkannya pada..”

Sungyeol masih menunggu lanjutan ucapan Myungsoo, “Pada Miss Noh?”

“Bukan, aku lupa siapa namanya..” Myungsoo berusaha mengingat, “Park Jihye, ya Park Jihye.”

Sungyeol terlihat bingung, “Park Jihye? Anggota klub musik?”

Myungsoo hanya mengangguk.

“Mungkin maksudmu Park Jiyeon, dan asal kau tahu saja, di sekolah kita tidak siswa yang bernama Park Jihye..” Ucap Sungyeol membalas.

“Ah maksudku Park Jiyeon.” Balas Myungsoo membenarkan, “Kau tahu dia?”

Sungyeol mengangguk cepat, “Semua orang di sekolah ini mengenalnya, kecuali kau, Kim Myungsoo. Dia anak yang cukup populer di sekolah kita dan-”

“Dan aku tidak peduli dengan semua itu.” Potong Myungsoo, “Sudah beritahukan saja di mana kelasnya.”

“Tepat disamping kelas kita, dia berada di kelas yang sama dengan Jimin.”

Tanpa membalas lagi Myungsoo langsung berbalik pergi mencari Jimin. Belum sampai ia di depan kelas yang ia tuju, Jimin sudah berlari melintas di depannya.

“Ya! Park Jimin, mau kemana kau?”

Seketika Jimin berhenti dan berbalik menoleh pada Myungsoo, jari tangannya hanya menujuk ke arah kamar mandi dengan tangan satunya sibuk memegangi perutnya dan bibir yang terkatup rapat menahan sesuatu.

“Bisakah kau serahkan ini pada-”

Ucapan Myungsoo terpotong saat Jimin begitu saja lari ke dalam kamar mandi tanpa mendengarkannya terlebih dahulu. Suara keras pintu yang terbanting terdengar keras, membuat beberapa orang yang melintas di depannya sempat menoleh bahkan ada yang sampai mengintip ke dalam kamar mandi.

“Minta tolonglah pada orang lain, aku ada urusan yang lebih penting sekarang..” Suara Jimin terdengar bergema karena ia berteriak kencang dari dalam kamar mandi.

Myungsoo hanya menggelengkan kepalanya, “Selali seperti itu, kebiasaan lama yang belum hilang.”

Sekali lagi Myungsoo menatap selembar kertas yang sedari tadi ia pegang dan ia berjalan kembali ke arah kelas Jimin, mungkin disana ada yang bisa ia mintai tolong. Lagi-lagi belum sampai ia menuju kelas yang dituju, seseorang terlihat berjalan ke arahnya.

“Ah untung ada kau Yoon Bomi..” Panggil Myungsoo tersenyum, “Kau berada kelas yang sama dengan Jimin, kan? Berarti kau juga mengenal-”

Bomi mengangkat tangannya dan menempatkan telapak tangannya tepat beberapa senti di depan wajah Myungsoo, “Talk to my hand!”

Dan Myungsoo hanya bisa terdiam heran melihat kepergian Bomi yang bahkan sudah menginterupsinya sebelum ia selesai bicara, sepertinya ia masih marah dengan insiden tadi pagi dan Myungsoo sama sekali tak peduli.

“Lalu, jika tak ada seorangpun yang bisa aku mintai tolong, aku bisa tahu Park Jiyeon itu darimana?” Myungsoo menggerutu pelan pada dirinya sendiri, “Huh, merepotkan sekali!”

Myungsoo berdiri di tengah pintu kelas Jimin dan matanya sibuk mencari seseorang untuk dimintai tolong.

“Permisi, apa kau tahu jika seharusnya kau tak berdiri disini, karena ini adalah jalan keluar satu-satunya di kelas ini..”

Myungsoo baru sadar jika ada seseorang yang sedari tadi berdiri di hadapannya dan menunggunya untuk minggir, karena memang benar Myungsoo berdiri di tengah dan menghalangi jalan.

Dengan cepat Myungsoo mengangkat kertas yang ia pegang dan menghadapankan pada gadis di depannya, “Bisakah kau serahkan ini pada Jiyeon?”

Gadis itu hanya diam dan mengerutkan dahinya heran. Ia menatap Myungsoo dan kertas di tangannya. Lelaki ini mencari dirinya dan ia tak menyadari jika seseorang yang ia cari berdiri tepat di depannya sekarang.

“Mengapa kau tidak menyerahkan langsung padanya?” Jiyeon bertanya balik.

Myungsoo menhelaa nafasnya pelan, “Karena aku tidak tahu siapa itu Park Jiyeon, dan aku menemukanmu disini yang kemungkinan besar tahu juga mengenal Park Jiyeon, sehingga aku tak perlu repot mencarinya lagi.”

“Di sekolah ini bukan hanya aku yang bisa kau mintai tolong, masih banyak-”

“Cerewet sekali kau.” Potong Myungsoo kesal, “Aku hanya meminta tolong sekali saja, dan aku harus bicara sepanjang lebar ini denganmu.”

Belum sempat Jiyeon membuka mulutnya, Myungsoo sudah menyela terlebih dahulu, “Katakan saja jika kau tak mau membantu, dasar pelit!”

Myungsoo menghentakkan kakinya keras dan berbalik meninggalkan Jiyeon yang masih terdiam dengan tatapan yang tidak kalah kesalnya dari Myungsoo.

“Ah iya..” Myungsoo berhenti dan kembali menuju tempatnya berdiri, “Serahkan ini pada Park Jiyeon. Aku tak peduli kau bersedia atau tidak, yang penting kau serahkan ini padanya.”

Jiyeon hanya bisa menggeretakkaan giginya dan meremas kencang ujung lembaran kertas yang baru saja Myungsoo lemparkan padanya.

Kini ia tahu mengapa tadi pagi Bomi begitu marah dan kesalnya pada seseorang bernama Kim Myungsoo, karena lelaki itu memang begitu menyebalkan, bahkan disaat interaksi pertama mereka.

“Benar-benar lelaki menyebalkan yang tidak punya sopan santun! Si tukang paksa!” Gerutu Jiyeon, “Aku harap, aku tak pernah lagi berurusan dengannya.”

-To be Continued-

Note  :

Haloooooh~

Sebenernya aku udah mau post dari hari minggu kemarin, cuma emang lagi sibuk banget ini, jadi ada aja kerjaannya, sibuk inilah sibuk itulah

Gimana-gimana, ini lebih panjang kan dari part sebelumnya? Iya emang sih yang kemarin pendek..

Comment please yes! Sarannya juga boleh kok~

115 responses to “[CHAPTER – PART 3] 15:40:45 – Don’t Know

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s