[CHAPTER – PART 2 OF 2 / END] 29 FEBRUARY

29 FEBRUARI29 FEB CAST29 FEBRUARY PRESENTED BY KAK ICA

“Siapa yang melakukannya?” tanya Boyoung dengan suara bergetar dan terisak.

“Myung Soo…” jawab Jiyeon pelan. Wajahnya pias, tidak ada ekspresi lain kecuali ketakutan yang masih terpeta jelas pada matanya. “K-Kim Myung Soo…”

Boyoung menggeleng seraya menunjukkan ekspresi tidak percaya. “Mana mungkin dia yang melakukannya?”

“Kau tidak percaya padaku, Eonnie?” tanya Jiyeon memalingkan wajahnya ke arah Boyoung. “Namja itu….namja yang mempunyai kapak….dia menggunakannya pada Seo Rim!” teriak Jiyeon frustasi.

Boyoung mulai bergerak ke arah Seo Rim yang matanya masih terbuka, menatap kaku ke arah televisi dengan wajah penuh tetesan darah. Air mata Boyoung semakin deras membasahi wajahnya. “Kita harus mencabut kapak ini dari kepalanya.”

“Micheosseo?” tanya Jiyeon tidak setuju.

“Aku tidak bisa melihat keadaan Seo Rim seperti ini,” jawab Boyoung, dengan tangan bergetar mulai mencari sesuatu untuk melapisi tangannya yang hendak mencabut kapak dari kepala Seo Rim.

Jiyeon yang tidak tega melihatnya, hanya bisa membalikkan tubuh seraya memejamkan matanya yang sudah basah.

Dengan perlahan, Boyoung mulai mencabut kapak dari kepala Seo Rim, diakhiri dengan tangisan panjang sementara tubuh Seo Rim sudah berada di dalam pelukannya. Boyoung mengusap wajah Seo Rim dari darah yang mengalir dari pucuk kepalanya.

Tiba-tiba muncul Je Hoon di daun pintu, wajahnya pucat sementara darah di punggungnya sudah berhenti sejak Boyoung mengikat tubuhnya yang kini setengah telanjang dengan kain panjang. Hanya saja, sebatang panah yang berhasil si namja bertopeng luncurkan ke punggung Je Hoon masih tertancap. Je Hoon terkejut melihat keadaan Seo Rim yang sudah tidak bernyawa.

“Penjahat itu, kemana dia?” tanya Je Hoon pada Jiyeon yang masih berdiri dengan kedua mata terpejam.

Jiyeon menggeleng seraya menjawab, “Aku tidak tahu. A-aku tidak bisa berpikir apa-apa sekarang ini…”

“Je Hoon-ah, kita dalam bahaya sekarang,” ucap Boyoung seraya meletakkan jasad Seo Rim di atas sofa. “Jiyeon menduga pelakunya adalah Kim Myung Soo. Dia bersama dengan Seo Rim setelah acara makan malam selesai, sewaktu kita berdua berada di dapur.”

“Aku juga bersama dengan mereka berdua,” ucap Jiyeon menimpali. “Seo Rim masih baik-baik saja ketika aku dan Myung Soo memutuskan untuk pergi ke rumah Myung Soo. Tetapi ketika aku sudah sampai di rumahnya, Myung Soo pergi meninggalkanku entah kemana. Lalu muncul namja bertopeng menyeramkan itu. Aku yakin Myung Soo muncul kembali dengan topeng itu lalu datang ke rumah ini dan membunuh Seo Rim. Dan yang jadi pertanyaanku…kenapa kalian berdua sampai tidak dengar sesuatu sewaktu namja itu membunuh Seo Rim? Karena kalian terlalu asik berpacaran di dapur…”

“Jiyeon-ah, sungguh kami tidak mendengar suara apapun dari dapur,” sela Je Hoon memberikan penjelasan.

“Kau tidak usah mencari pembenaran,” ucap Jiyeon seraya memicingkan matanya ke arah Je Hoon. “Karena kau, dua anggota keluargaku mati.”

“Jiyeon-ah, tolong berhenti menyalahkan Je Hoon atas kematian Eomma dan Seo Rim!” teriak Boyoung. “Sekarang bukan waktu yang tepat untuk berdebat denganmu. Penjahat itu masih ada di luar dan mungkin sedang merencanakan sesuatu untuk bisa mendobrak masuk ke dalam rumah ini,” ucap Boyoung seraya mengambil ponselnya di atas meja. “Ponselku mati. Jiyeon-ah, bagaimana dengan ponselmu? Kita harus menghubungi seseorang…”

“Kau lupa? Sudah lama aku tidak menggunakan ponsel sejak kau berhasil membuat Eomma menyitanya dariku,” jawab Jiyeon ketus.

“Ponselku ada di dalam tas di meja makan,” ucap Je Hoon.

“Ayo kita ambil,” ucap Boyoung setelah mengambil kapak yang sempat terbenam di kepala sang adik. “Kita harus punya senjata untuk berjaga-jaga.”

“Kuharap aku tidak pernah melihat kau memegang kapak sialan itu, Eonnie,” ucap Jiyeon seraya lebih dulu keluar dari ruang keluarga menuju ruang makan.

Tas Je Hoon masih ada di bangku di ruang makan. Sementara Je Hoon sedang mencari ponsel di dalam tasnya, Jiyeon sedang berusaha mencari suatu benda untuk perlindungan dirinya. Pisau lipat dari rumah Myung Soo kini dia selipkan di dalam kaus kakinya, sementara dia mendapatkan sebilah pisau dapur dan palu daging besar.

“Bagaimana?” tanya Boyoung seraya menatap sang kekasih yang tak kunjung menemukan ponselnya di dalam tasnya.

“Aku ingat aku telah memasukkan ponselku ke dalam tas,” jawab Je Hoon kebingungan. “Kemana ponselku?”

Tiba-tiba terdengar suara gedoran pintu dari depan, membuat ketiganya otomatis membeku di tempat.

“Kita lawan dia,” ucap Je Hoon tiba-tiba, membuat Boyoung maupun Jiyeon terkejut. “Dia hanya sendiri. Sedangkan kita bertiga. Kita ancam dia, kita bilang saja bahwa kita telah menghubungi polisi. Jika dia berani bertindak macam-macam…”

“Jangan bodoh,” sela Jiyeon tidak setuju. “Kau lihat? Dia berani membunuh Seo Rim…”

“Kalau begitu ayo kita temui dia,” sela Boyoung, membuat dahi Jiyeon berkerut bingung, bagaimana bisa sang kakak lebih mendengarkan  usul Je Hoon daripada ucapannya. Tetapi apa daya, Boyoung dan Je Hoon sudah bergegas pergi ke pintu depan. Jiyeon pun mengekor dari belakang.

“Pegang ini,” ucap Boyoung seraya memberikan tongkat baseball milik almarhum sang ayah kepada Je Hoon yang tidak sedang memegang apa-apa.

Ketiganya kini sudah berada di depan pintu. Boyoung siap membuka, sementara Je Hoon dan Jiyeon sudah berancang-ancang hendak menyerang si namja bertopeng menyeramkan. Dan tepat ketika Boyoung sudah menarik pintunya terbuka, yang muncul justru sosok Hyungsik, adik dari Je Hoon dengan tangan berdarah.

“Hyungsik-ah?” Je Hoon langsung menarik sang adik ke dalam, sementara Boyoung kembali menutup pintu dan menguncinya.

“Ada seseorang yang sedang mengincar rumah ini,” ucap Hyungsik dengan wajah kesakitan. “Aku berhasil memukulnya dengan kayu ini…” Hyungsik menunjukkan bonggol kayu yang dipegangnya. “Tetapi dia sempat melukai tanganku…”

“Lalu kemana orang itu?” tanya Je Hoon.

“Dia sudah pergi, entah kemana,” jawab Hyungsik, sementara Boyoung sibuk membersihkan dan mengobati lukanya.

“Dia akan kembali, aku yakin,” ucap Je Hoon.

“Kenapa Myung Soo bisa melakukan hal ini kepada kita?” gumam Boyoung tidak percaya.

“Myung Soo?” Dahi Hyungsik berkerut bingung.

“Mantan hagsaengku dulu,” jawab Boyoung. “Aku tidak menyangka anak sebaik Myung Soo bisa melakukan hal setega ini kepada kita.”

“Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?” tanya Jiyeon tidak betah berdiam diri. “Menunggu di rumah pilihanmu ini sampai pagi, Eonnie? Lagi-lagi aku hanya bisa menyalahkanmu. Kau yang memilih rumah ini.”

“Mianhae, sebenarnya aku yang mengusulkan Boyoung Noona untuk membeli rumah ini,” ucap Hyungsik menginterupsi.

“Kau dan Eonnie-ku tidak ada bedanya,” ucap Jiyeon ketus.

Menyadari bahwa itu salahnya, Hyungsik pun berkata, “Kalau begitu aku akan memeriksa keluar. Aku akan minta bantuan. Kebetulan aku datang kesini menggunakan mobil kekasihku. Aku akan pergi dan datang lagi dengan polisi.”

“Tapi bagaimana jika penjahat itu sedang menunggu salah satu dari kita di luar?” tanya Je Hoon yang tidak bisa membiarkan Hyungsik mempertaruhkan nyawanya.

“Aku butuh senjata untuk melindungi diriku,” ucap Hyungsik seraya melirik pisau dapur dan palu daging yang Jiyeon pegang.

“Kau ingin membawa ini?” tanya Jiyeon saat menangkap pandangan mata Hyungsik yang menatap ke arah dirinya. “Lalu setelah kau membawa ini, bagaimana denganku? Aku butuh benda ini untuk melindungi paling tidak diriku sendiri.”

“Jiyeon-ah, cepat berikan kepada Hyungsik,” ucap Boyoung menginterupsi seraya memberikan kapak yang dipegangnya kepada Jiyeon.

“Mwo?” Jiyeon otomatis menatap sebal ke arah Boyoung. “Kau tahu aku benci dengan benda yang sedang kau pegang itu, Eonnie.”

“Kau bawa ini saja kalau begitu,” ucap Je Hoon seraya memberikan tongkat baseball yang dipegangnya kepada Hyungsik.

“Aku tidak akan membiarkan siapapun membawa benda peninggalan Appa jauh dari pandangan mataku,” ucap Jiyeon seraya merebut tongkat baseball yang Je Hoon acungkan , lalu melemparkan pisau dan palu daging ke lantai dekat dengan kaki Hyungsik.

“Baiklah, aku akan pergi sekarang,” ucap Hyungsik seraya beranjak dari sofa menuju pintu. Tiba-tiba Je Hoon menahannya. “Berhati-hatilah. Pastikan kau kembali kesini bersama dengan polisi atau bantuan lainnya.”

Hyungsik pun memeluk sang kakak sebelum pergi. Pintu telah kembali di buka dan Hyungsik menerjang gelapnya malam menuju mobil yang di parkir sangat jauh dari halaman depan rumah Boyoung dan Jiyeon.

“Sekarang kita harus bagaimana?” tanya Jiyeon. “Hanya berdiam diri menunggu kedatangan adikmu? Bagaimana jika dia tidak kembali?”

“Apa maksudmu, Jiyeon-ah?” tanya Boyoung.

“Eonnie kita tidak bisa memungkiri adanya kemungkinan Myung Soo membunuh Hyungsi…”

“Dia pasti selamat,” sela Je Hoon cepat, seakan-akan tidak mau mendengarkan sepatah kata pun yang berhubungan dengan nyawa sang adik.

“Ne, adikmu pasti akan selamat,” ucap Boyoung seraya memeluk Je Hoon. Sementara Jiyeon hanya memandang keduanya dengan tatapan tidak suka.

**

Sepuluh menit berlalu…

Je Hoon mulai mengeluh atas punggungnya yang masih tertancap panah, membuat Boyoung mau tak mau mengambil keputusan untuk menarik keluar panah dari punggung sang kekasih.

“Mungkin ini akan terasa sangat sakit,” ucap Boyoung dengan wajah tidak tega. “Tetapi rasanya akan jauh lebih baik jika panah ini sudah tidak menancap di punggungmu lagi.”

Je Hoon mengangguk kaku seraya menjawab, “Cepat singkirkan benda sialan ini dari tubuhku.”

Maka Boyoung mulai mencabut si panah dari punggung Je Hoon setelah melepaskan kain yang meliliti tubuhnya. Je Hoon mengerang sejadi-jadinya, membuat Boyoung tak kuasa melanjutkan.

“Jangan berhenti,” ucap Je Hoon yang sudah mengeluarkan keringat dan air mata begitu banyak.

Akhirnya, Boyoung memutuskan untuk menarik panah tanpa jeda dan tanpa aba-aba. Ketika panah sudah keluar seutuhnya dari punggung Je Hoon, darah mulai bermuncratan, memperlihatkan punggungnya yang kini bolong. Je Hoon terkulai lemas dengan nafas berat. Boyoung langsung melilitkan kembali tubuh Je Hoon dengan kain baru. Melihat rasa sakit yang Je Hoon rasakan, membuat Boyoung tak kuasa menahan tangis. Maka dipeluklah sang kekasih seraya mengelus kepalanya.

Melihat sang kakak dengan Je Hoon, membuat pemikiran baru buat Jiyeon, “Sebegitu cintanya kah Boyoung Eonnie kepada Je Hoon?” Bahkan Boyoung tidak memperdulikan betapa banyak penolakan yang sang ibu ataupun dia berikan kepada hubungan mereka berdua. Je Hoon memang tidak sekaya keluarga mereka, tetapi Jiyeon akui, Je Hoon memang namja baik. Dulu, disaat dirinya sedang sakit, Je Hoon-lah yang datang untuk membelikan obat sementara sang ibu sendiri sedang pergi berpesta dengan teman-temannya. Lalu mengapa sekarang Jiyeon terlihat begitu kontra terhadap hubungan sang kakak dengan Je Hoon? Karena kematian sang ibu? Demi Tuhan, bahkan Jiyeon sendiri tahu bahwa yang membunuh sang ibu bukanlah Boyoung apalagi Je Hoon. Si pembunuh meninggalkan kapak yang berhasil menyayat leher sang ibu. Kapak. Karena itulah Jiyeon begitu membenci benda tajam itu. Dan sekarang…muncul pembunuh baru dengan kapak di tangannya.

Tiba-tiba kedua mata Jiyeon terbelalak, seperti terilhami akan sesuatu yang tiba-tiba datang ke dalam pemikirannya.

“Mungkinkah yang membunuh Eomma adalah Kim Myung Soo?” gumam Jiyeon. “Lalu kenapa dia melakukan hal itu kepada keluargaku?”

“Waeyo, Jiyeon-ah?” tanya Boyoung saat melihat Jiyeon berbicara sendiri.

“Aniyo, aku hanya berpikir…mungkinkah Myung Soo yang membunuh Eomma?” jawab Jiyeon.

Boyoung terdiam, mencoba memikirkan dugaan Jiyeon.

“Jika benar, atas dasar apa dia melakukan itu kepada kita?” tanya Boyoung tidak mengerti.

“Itu yang menjadi pertanyaanku saat ini,” jawab Jiyeon. “Satu-satunya anggota keluarga kita yang mengenal Myung Soo hanya kau, Eonnie. Jadi sudah pasti kau yang paling tahu tentang siapa dan bagaimana Myung Soo itu.”

“Dia anak yang baik, hanya itu yang aku tahu,” ucap Boyoung. “Dia begitu penurut, walaupun untuk urusan pelajaran dia memang agak sedikit nakal. Tetapi dia begitu memperdulikan keluarganya. Dia selalu meminta saran kepadaku bagaimana caranya dia bisa mengunjungi Brunei untuk mencari ibunya. Benar-benar tidak pernah terpikir sedikitpun diotakku bahwa Myung Soo akan melakukan hal sejahat ini kepada keluarga kita.”

“Mungkin kau sudah tertipu dengan sikap yang selama ini dia tunjukkan,” ucap Jiyeon. “Sama sepertiku. Awalnya kupikir dia bisa menjadi teman yang baik. Ternyata…”

Tiba-tiba lampu di dalam rumah padam seluruhnya, membuat ketiganya kembali membeku dalam diam.

“K-kenapa dia bisa mengontrol listrik rumah ini?” tanya Jiyeon dengan tubuh gemetaran. “Bukankah hanya bisa dikontrol d-dari dalam?”

Detik selanjutnya terdengar pekikan keras dari bibir Jiyeon. Ada seseorang yang sedang menjatuhkan tubuhnya sebelum menindihinya. Cahaya bulan di luar yang memancar lewat jendela membantu penglihatan Jiyeon saat dirinya menyadari bahwa si namja bertopeng sudah berada di dalam rumah dengan kapak yang hendak bersiap membelah kepalanya. Jiyeon dengan sekuat tenaga berusaha menahan tangan si namja bertopeng seraya merintih, “T-toloooong….”

Je Hoon dengan sekuat tenaga mencoba memukul kepala si namja bertopeng, membuat si namja terjatuh ke samping tubuh Jiyeon dengan keadaan pingsan. Dengan cepat Jiyeon menghambur lalu memeluk Boyoung sambil tersedu-sedu, sementara Je Hoon kini sedang membuka penyamaran si namja bertopeng ini. Ketika topeng sudah dibuka, bukan sosok Myung Soo di baliknya. Bahkan ketiganya tidak ada yang mengenali sosok namja yang sedang tak sadarkan diri ini.

“Siapa dia?” tanya Je Hoon kebingungan.

“Aku tidak mengenalnya,” jawab Boyoung.

“Siapapun dia, kita harus mengikatnya sekarang,” ucap Je Hoon seraya meminta Boyoung untuk mengambilkan seutas tali.

Si namja bertopeng menyeramkan kini sudah terikat kencang dan masih tidak sadarkan diri di sudut ruangan. Menyadari si penjahat sudah berhasil tertangkap, Boyoung maupun Jiyeon sudah dapat bernafas lega.

“Jadi namja bertopeng ini bukan Myung Soo,” ucap Jiyeon seraya menatap wajah polos manusia yang berada di balik penyamaran namja bertopeng itu. “Lalu dimana Myung Soo?

“Kita akan cari dia setelah Hyungsik datang bersama dengan polisi,” ucap Je Hoon seraya mengusap keringat di dahinya.

“Kalau begitu aku pergi ke basement dulu untuk menyalakan listrik,” ucap Boyoung, yang tiba-tiba di tahan oleh Je Hoon.

“Biar aku temani,” ucap Je Hoon.

“Aniyo, kau temani Jiyeon saja disini,” elak Boyoung.

“Aku tidak perlu ditemani,” sahut Jiyeon dengan cepat.

Akhirnya tanpa perlu berdebat panjang lagi, Boyoung dan Je Hoon-lah yang pergi ke basement. Sementara Jiyeon kini sedang terduduk di atas sofa dengan wajah letih. Tiba-tiba dirinya teringat akan Seo Rim, maka pergilah Jiyeon ke kamarnya untuk mengambil selimut putihnya untuk menutupi jasad Seo Rim.

Sementara di basement…

“Mianhae, karena aku kau terluka,” ucap Boyoung yang masih belum menemukan kotak sekring listrik di rumah mereka.

“Sudahlah, ini semua bukan salahmu,” ucap Je Hoon. “Lagipula Hyungsik yang mengusulkanmu untuk membeli rumah ini.”

“Aku benar-benar tidak mengerti mengapa ada orang yang mau mencelakakan keluargaku,” ucap Boyoung. “Aku tidak pernah merasa memiliki musuh. Dan Kim Myung Soo. Kenapa dia menghilang tiba-tiba?”

“Kita akan cari dia setelah listrik di rumah ini menyala,” ucap Je Hoon yang kini sudah menemukan kotak sekring. Dan tepat pada saat lampu menyala, terdengar teriakan dari atas, tepatnya dari kamar Jiyeon. Je Hoon dan Boyoung lantas berlari untuk menemui Jiyeon yang kini sedang di sekap di atas bangku, terikat dan terisolasi mulutnya.

“J-Jiyeon-ah…” Boyoung dan Je Hoon hendak mendekati Jiyeon, tetapi Jiyeon dengan cepat menggeleng untuk memberi kode. Wajah pias Jiyeon yang sudah dibanjiri air mata membuat Boyoung tak kuasa menahan tangis. Belum lagi goretan indah di tangan kanan Jiyeon bertuliskan 29 Februari yang berhasil dibuat oleh sebilah pisau yang kini sedang terpampang jelas  di dekat leher indah Boyoung. Si namja bertopeng menyeramkan yang lain kini sedang berada di belakang tubuh Boyoung, membuat Je Hoon yang terkejut otomatis mundur beberapa langkah.

“Siapa kau?” tanya Je Hoon berusaha berhati-hati agar si penjahat satu ini tidak nekad melukai leher Boyoung. “Apa yang kau mau dari kami? Kau ingin uang kami? K-kami bisa berikan. Tetapi tolong jangan lukai kekasihku.”

Tiba-tiba si namja bertopeng terkekeh saat mendengar ucapan Je Hoon.

“Butuh waktu berbulan-bulan bagiku untuk merencanakan pembunuhan ini,” ucap si namja bertopeng yang suaranya sangat familiar bagi Je Hoon maupun Boyoung.

“K-kau…” Je Hoon menunjuk si namja bertopeng dengan mata terbelalak.

Selanjutnya si namja bertopeng dengan luwes membuka penyamarannya. Wajah tampan sang adik terpampang jelas di balik topeng menyeramkan itu. Hyungsik kini melempar senyum jahatnya ke arah Je Hoon.

“H-Hyungsik?” Saat itu juga Je Hoon kehabisan kata-kata. “K-kenapa kau melakukan ini semua?”

“Hyung, dengarkan aku…” ucap Hyungsik pelan. “Kau boleh bicara jika aku menyuruhmu bicara. Jika kau lancang menginterupsi, aku tidak akan segan-segan menancapkan pisau ini ke dalam matamu.”

Mendengarkan ucapan sang adik yang sangat sadis, membuat Je Hoon otomatis bungkam.

Hyungsik lalu meletakkan Boyoung di atas kursi lain di sebelah Jiyeon dengan kondisi terikat.

“Kalian semua pasti terkejut mengapa aku si namja baik hati berubah menjadi pembunuh berdarah dingin seperti ini,” ucap Hyungsik mulai berceloteh. “Sebelum aku menjelaskan panjang dan lebar, aku ingin kalian mengetahui bahwa misiku malam ini adalah untuk menghabisi kalian semua, kecuali…” Mata Hyungsik tiba-tiba teralih ke arah Boyoung. “Kecuali kau, Noona.” Perlahan Hyungsik mendekatkan wajahnya ke arah Boyoung, dengan sangat lembut, Hyungsik melanjutkan kata-katanya, “Percayalah padaku, aku tidak akan menyakitimu seujung kuku pun.”

Setelah berbisik kepada Boyoung, Hyungsik kembali bersender pada jendela kamar Jiyeon.

“Kau terlalu egois, Hyung. Membiarkan aku menerima perjodohan yang Halmoni rencanakan, sementara kau bebas memilih yeoja manapun yang kau suka. Dan yang paling aku tidak suka, karena kau memilih Boyoung, Noona satu ini yang sudah lama aku incar hatinya.”

Je Hoon terlihat sangat terkejut mendengar pengakuan Hyungsik.

“Kau terkejut, Hyung?” kekeh Hyungsik seraya menancapkan kapak tajamnya pada meja belajar Jiyeon. “Seharusnya kau tidak perlu terkejut mendengar ini. Bukankah aku sudah sering memberi kode kepadamu, bahwa aku tidak pernah menyukai hubunganmu dengan Boyoung Noona.”

#flashback#

“Ada baiknya kau sudahi hubunganmu dengan Boyoung Noona,” ucap Hyungsik saat sedang makan malam di rumahnya bersama dengan Je Hoon dan Halmoninya. “Mereka sudah menghinamu. Bertahan seperti ini hanya akan membuatmu semakin sakit hati.”

Je Hoon menggeleng seraya menjawab, “Aku tidak bisa meninggalkan Boyoung sampai kapanpun. Aku terlalu mencintainya untuk mudah menyerah hanya karena ibunya tidak merestui hubungan kami.”

#flashback end#

“Aku tidak perduli seberapa sakit hatimu mendapat hinaan dari keluarga Boyoung Noona,” ucap Hyungsik. “Berkali-kali aku menyarankanmu untuk memutuskan Boyoung Noona karena aku tidak suka melihat hubungan kalian berdua. Aku yang lebih dulu mengenal Boyoung Noona, maka aku yang berhak mendapatkannya.”

Lagi-lagi Hyungsik menunjukkan senyum jahatnya, sementara Je Hoon hanya bisa terdiam seraya menelan semua fakta pahit yang baru dia ketahui malam ini. Boyoung dan Jiyeon masih di tempatnya masing-masing, terlihat terkejut setiap kali Hyungsik melontarkan pengakuannya.

“Lalu kau mau apa?” tanya Je Hoon tiba-tiba. “Kau ingin membunuh Hyung-mu ini hanya karena seorang yeoja?”

“Kenapa tidak?” tanya Hyungsik balik seraya mengahampiri Je Hoon. “Kau tidak berguna banyak bagiku, Hyung. Selain Halmoni yang selalu memuji prestasi pendidikanmu, almarhum kedua orang tua kita…rasanya aku masih ingat saat Appa selalu membanding-bandingkan kita berdua. Jelas kau dan aku berbeda, Hyung. Kau bisa dengan mudah mendapatkan apa saja, salah satunya yeoja secantik Boyoung. Dan semua itu karena kau adalah seorang Hyung. Aku tidak mau menjadi nomor dua lagi. Paling tidak, untuk urusan yeoja, aku harus jauh melangkahimu ke depan.”

Tiba-tiba Hyungsik menghampiri Boyoung dan Jiyeon. Di ikatnya kedua tangan bersaudara ini  secara berantai, sebelum akhirnya membawa mereka bertiga ke ruang tamu. Pintu depan sudah terbuka lebar, sementara namja bertopeng palsu yang berhasil Je Hoon pukul kepalanya dengan tongkat baseball masih tak sadarkan diri di sudut ruangan.

“Manusia tidak berguna,” gumam Hyungsik saat menatap orang suruhannya itu. “Kalian bertiga duduk disini,” ucap Hyungsik memerintahkan. “Sementara diujung sana…” Hyungsik menunjuk sosok seorang namja yang sedang berdiri cukup jauh dari halaman rumah mereka. “….si namja malang yang tidak tahu apa-apa.”

“K-Kim Myung Soo?” Mata Boyoung terbelalak lebar saat melihat mantan hagsaengnya sedang berdiri di tengah jalanan dengan kondisi terikat.

Tak lama kemudian muncul namja lain, memakai topeng yang sama dengan Hyungsik, hanya saja tubuhnya dua kali lipat lebih besar, dengan kapak yang besar pula di tangan kanannya.

“Kita akan buat keadaan ini menjadi sedikit menarik,” ucap Hyungsik dengan ekspresi psyco miliknya.

“Kau mau apakan Kim Myung Soo?” tanya Boyoung seraya menatap benci ke arah Hyungsik.

“Kau bisa mengetahuinya sebentar lagi, Noona,” jawab Hyungsik seraya mengelus singkat wajah Boyoung. “Hyung, aku perlu bantuanmu. Kau cukup jawab pertanyaan dariku.”

“M-mwo?” tanya Je Hoon tidak mengerti.

“Bukankah kau sangat menyukai permainan Truth or Dare?” tanya Hyungsik mengingatkan bagaimana asiknya mereka dulu melakukan permainan macam itu. “Hanya saja, ada sedikit perbedaan pada permainan ini. Kau hanya perlu menjawab semua pertanyaanku dengan jujur, sementara rekanku di ujung sana mencoba sedikit membantu…”

“M-membantu apa maksudmu?” tanya Je Hoon semakin tidak mengerti.

“Aku tahu disaat kau menjawab dengan jujur atau dengan kebohongan,” jawab Hyungsik. “Aku hanya ingin kau melakukan beberapa pengakuan di depan kekasihmu ini. Jika kau jujur, aku akan melepaskan Jiyeon. Jika jawaban atas pertanyaan kedua juga di jawab dengan jujur, aku akan melepaskanmu, Hyung. Dan jika kau masih menjawabnya dengan jujur pada pertanyaan terakhir, aku akan pergi tanpa mengambil satu nyawa lain setelah adik kecil Noona-ku ini.”

“Bagaimana jika aku berbohong?” tanya Je Hoon.

“Rekanku akan segera memenggal kepala namja tampan diujung sana itu,” jawab Hyungsik.

Jiyeon spontan menggeleng sementara air matanya mengalir membasahi pipinya.

“Bagaimana kalau kita mulai sekarang?” Hyungsik langsung mengambil tempat duduk disalah satu sofa yang paling besar.

Alunan lagu tahun 70-an mulai terdengar dari radio yang dinyalakannya. Sambil berlagak seperti seorang raja, Hyungsik mulai melemparkan pertanyaan pertama.

“Hyung…” Suara Hyungsik yang terdengar dingin, membuat suasana semakin mencekam. Sementara si namja bertopeng lain di luar sana sedang sibuk menajamkan kapaknya di atas aspal jalanan. “Pastikan kau menjawabnya dengan jujur, jika tidak…mungkin namja kesayangan Jiyeon akan berakhir tragis,” ucap Hyungsik setelah melihat betapa histerisnya Jiyeon melihat Myung Soo dalam keadaan bahaya di luar sana. ” ‘Aku tidak bisa meninggalkan Boyoung sampai kapanpun. Aku terlalu mencintainya untuk mudah menyerah hanya karena ibunya tidak merestui hubungan kami’, itu yang pernah kau katakan padaku, Hyung. Dan kau tahu, Hyung? Aku tidak pernah percaya dengan ucapanmu itu. Cintamu palsu. Benarkah yang aku ucapkan itu? Park Boyoung bukan satu-satunya yeoja yang kau cintai di dunia ini. Benarkah ucapanku itu, Hyung?”

Je Hoon terdiam sementara tangannya terkepal rapat disisi tubuhnya.

“Ingat, Hyung…kau harus menjawabnya dengan jujur,” ucap Hyungsik. “Aku tahu jawaban yang sebenarnya. Dan kau juga pasti tahu apa yang akan terjadi jika kau berani mengeluarkan kata-kata kebohongan.”

Je Hoon masih belum menjawab. Sementara di luar, Myung Soo merintih dalam diam. Wajahnya penuh luka, terlihat sangat mengenaskan.

“Jangan berpikir terlalu lama,” ucap Hyungsik. “Kau yang paling tahu soal jawabanmu.”

“Aniyo,” jawab Je Hoon tiba-tiba, membuat Boyoung maupun Jiyeon menatap bingung atas jawaban Je Hoon. “Aku tidak memiliki yeoja lain yang aku cintai di dunia ini. Setelah Eomma meninggal, satu-satunya yeoja yang berhasil membuatku nyaman berada dekat dengannya hanyalah Park Boyoung.”

Hyungsik pun terkekeh mendengar jawaban Je Hoon yang terlihat sangat meyakinkan.

“Kenapa kau bodoh sekali?” tanya Hyungsik. “Bukan itu jawaban yang ingin aku dengar.”

“Bohong atau tidak, aku tahu kau akan tetap membunuh Myung Soo!” bentak Je Hoon. “Untuk apa kau melakukan ini semua? Kau bukan Hyungsik yang aku kenal…”

“Jangan ucapkan kata-kata klise seperti itu, Hyung,” sela Hyungsik seraya mengibaskan tangannya, enggan mendengar ucapan Je Hoon lebih jauh lagi. “Aku hanya ingin menunjukkan bahwa aku bukan adik yang lemah, yang selalu menerima di nomor-duakan, yang tidak mendapatkan hak untuk memilih yeojanya sendiri, yang hanya bisa menjadi pendengar atas semua keluhanmu pasal keluarga Park yang tidak henti-hentinya menghinamu dan keluarga kita!”

Je Hoon terdiam, begitu juga dengan Boyoung dan Jiyeon. Ketiganya terkejut atas amarah Hyungsik yang mendadak meledak.

“Kau!” Tiba-tiba Hyungsik menunjuk Jiyeon. “Aku hanya bisa berharap kau akan baik-baik saja setelah ini. Karena kau adalah orang kedua yang ingin aku musnahkan dari dunia ini setelah Hyung-ku.” Hyungsik pun membuka isolasi tebal yang menutupi bibir Jiyeon sedaritadi. “Bicaralah. Aku izinkan kau mencari pembenaran atas sikapmu yang sebenarnya tidak pernah aku sukai.”

“Jangan bunuh Kim Myung Soo,” pinta Jiyeon dengan nada memohon, membuat Hyungsik otomatis tertawa.

“Micheosseo?” tanya Hyungsik seraya menatap Jiyeon dengan tatapan tidak percaya. “Bahkan kau lebih mengkhawatirkan kondisi namja di luar sana itu daripada kakakmu atau Hyung-ku ini?”

Jiyeon tidak menjawab, kepalanya justru tertunduk takut.

“Araseo, aku mengerti apa yang harus aku lakukan,” ucap Hyungsik seraya memanggil si namja bertopeng diluar sana. “Bawa yeoja ini ke sebelah korban kita.”

Si namja bertopeng langsung melakukan apa yang Hyungsik perintahkan kepadanya sementara Boyoung kini meraung-raung keras.

“Jangan sakiti adikku!” teriak Boyoung. “Aku tidak akan membiarkanmu menyakiti Jiyeon, setelah kau mengambil Seo Rim dariku!”

Dengan santai, Hyungsik berkata,”Sebenarnya aku tidak hanya mengambil nyawa adik kecilmu itu. Kau masih ingat wajah ibumu yang menyebalkan itu?”

Air mata berhasil membanjiri wajah Boyoung tanpa henti.

“Saekki!” teriak Boyoung pada Hyungsik yang kini hanya tertawa bebas.

“Sudah tidak ada waktu lagi,” ucap Hyungsik seraya kembali berdiri dekat Je Hoon. “Mianhae, Hyung…jawabanmu salah. Kau tidak menjawab dengan jujur. Dan kini waktunya eksekusi.” Hyungsik lalu berteriak kepada rekannya di luar sana untuk melakukan eksekusi.

“Lakukan dengan cepat,” ucap si namja bertopeng seraya menyerahkan kapak yang baru diasahnya ke tangan Jiyeon.. “Putuskan kepalanya dalam sekali kibas.”

“A-aku tidak bisa m-melakukannya,” erang Jiyeon seraya menatap miris keadaan Myung Soo.

Merasa eksekusi tak kunjung dilakukan, dengan gemas Hyungsik mencoba mengikat Je Hoon ke kursi bekas tempat Jiyeon sebelum dirinya pergi keluar, menghampiri mereka semua.

“Kau tidak mau melakukannya?” tanya Hyungsik pada Jiyeon yang masih sesenggukan.

Jiyeon menggeleng kaku.

“Kalau begitu namja ini yang akan melakukannya kepadamu.” ucap Hyungsik membuat Jiyeon maupun Myung Soo terkejut. “Dan jika kau juga tidak mau melakukannya….” Hyungsik menjambak rambut Myung Soo dengan keras. “…kalian akan mati bersama dalam sekali kibas.”

Tiba-tiba Jiyeon menggeleng seraya berkata, “T-tolong jangan lakukan itu.”

“Aku tidak sedang menerima permohonan. Lagipula jika kau menyukai namja ini, seharusnya kau mau menggantikan posisinya,” ucap Hyungsik seraya kembali ke dalam rumah. “Lakukan eksekusinya sekarang!” teriak Hyungsik dari dalam rumah.

“Kau jahat, kejam, tidak berperasaan…” ucap Boyoung tiba-tiba, membuat Hyungsik menoleh ke arahnya. “Sampai kapanpun tidak akan ada yeoja yang mau menerima cintamu!”

Belum sempat Hyungsik membalas ucapan Boyoung, terdengar suara teriakan dari luar sana. Jiyeon telah berhasil memutuskan kepala Myung Soo sampai kepala itu menggelinding ke semak-semak.

Boyoung dan Je Hoon terdiam dengan ekspresi terkejut. Sementara Jiyeon terjatuh duduk dengan tubuh lemas dan kapak yang terjatuh dari tangannya. Hyungsik pun tertawa puas.

“Sudah kubilang, hanya aku yang memiliki cinta tulus,” ucap Hyungsik seraya menatap keluar sana. “Jelas Jiyeon tidak akan mau menggantikan posisi namja malang itu. Lagipula…sebentar lagi gilirannya…”

“Andwae!” teriak Boyoung tiba-tiba. “Jangan dia. Jebal. Biar aku saja.”

Hyungsik pun menggeleng seraya berkata, “Aku akan menyisakanmu bersama denganku, Noona. Kita akan hidup bahagia setelah ini.”

Jiyeon sudah berada di posisi Myung Soo saat ini. Kedua tangannya terikat, sementara kapak di tangan namja bertopeng sudah dekat dengan lehernya.

“Kita akan buat semuanya berjalan dengan cepat,” ucap Hyungsik bersiap-siap melontarkan pertanyaan kedua. “Jika aku, adikmu ini, berada ditempat yang sama dengan kekasihmu ini, Boyoung Noona, disebuah tepi jurang. Dan kau diberikan kesempatan untuk menyelamatkan satu dari kami, mana yang akan kau selamatkan?”

Lagi-lagi Je Hoon tidak langsung menjawab.

“Kau membuatku kesal, Hyung,” desah Hyungsik seraya menatap sang kakak dengan tatapan menyebalkan. “Kau hanya perlu menjawab dengan cepat.”

“Kau,” jawab Je Hoon tiba-tiba. “Aku akan menyelamatkanmu.”

Lagi-lagi Hyungsik berhasil dibuat tertawa keras malam ini.

“Waeyo?” tanya Hyungsik. “Kenapa kau memilihku?”

“Karena aku sudah berjanji pada Eomma untuk menjagamu sebelum kematian mereka,” jawab Je Hoon.

“Bahkan setelah aku bertindak ganas seperti malam ini, kau tetap ingin menyelamatkanku?” tanya Hyungsik dengan nada mengetes.

“Sampai akhir,” jawab Je Hoon.

“Bahkan kau tidak perduli jika kekasihmu ini jatuh ke jurang, tertusuk sesuatu yang tajam di bawah sana dan mati?” Pertanyaan Hyungsik semakin menjadi, membuat Je Hoon tiba-tiba terdiam lagi. “Ha!” teriak Hyungsik seraya tersenyum puas. “Lagi-lagi kau berbohong, Hyung. Kau tidak sepenuhnya perduli padaku. Dan jika saja Eomma tidak pernah menyuruhmu berjanji, aku yakin kau akan memilih Boyoung Noona untuk kau selamatkan. Mianhae, aku tidak mau mati. Jauh lebih baik jika kau yang mati!” Tiba-tiba saja, dalam gerakan cepat, sebuah peluru meluncur cepat keluar dari revolver yang dia sembunyikan di balik celana di punggungnya, menembus tepat di dada Je Hoon. Boyoung terdiam, terlalu shyok melihat kejadian didepannya saat ini. Beberapa detik kemudian terdengar teriakan dari bibir Boyoung. Sedangkan Hyungsik justru memperbesar volume suara radionya.

“Hyung-ku yang malang, sayonara,” ucap Hyungsik tanpa wajah berdosa sedikitpun.

Tiba-tiba di luar sana terdengar suara teriakan. Jiyeon berhasil menendang si namja bertopeng sebelum dirinya kabur menuju hutan kecil di belakang rumah Myung Soo.

“Pabbo,” geram Hyungsik saat melihat rekannya gagal menjaga Jiyeon. Dengan kekesalan tingkat tinggi, Hyungsik menghampiri rekannya, membiarkan Boyoung sendiri di dalam rumah. “Kau cari dia sampai dapat sementara aku mengurus kakaknya,” ucap Boyoung memerintahkan sebelum dia kembali ke dalam rumah. Tetapi apa yang dia dapat? Boyoung juga tidak ada dikursinya. Dia berhasil melepaskan diri selama permaina Truth or Dare tadi berlangsung. “Kau berani bermain-main denganku, Noona,” geram Hyungsik seraya menutup pintu rumah. Hyungsik yakin Boyoung hanya kabur di dalam rumah ini dan dia akan segera menemukannya.

Sementara itu dengan Jiyeon…

Jiyeon kini mencoba membuka ikatan tangannya dengan perkakas di belakang rumah Myung Soo. Walaupun sempat melukai sedikit tangannya, tetapi dia akhirnya bisa melepaskan diri. Pintu dapur rumah Myung Soo masih terbuka, maka masuklah Jiyeon ke dalam untuk bersembunyi.

Si namja bertopeng rekan Hyungsik terlihat sedang berdiri di depan rumah Myung Soo, mengawasi sudut-sudut gelap memungkinkan adanya Jiyeon sedang bersembunyi. Sementara Jiyeon di dalam rumah Myung Soo, wajahnya pias dan penuh dengan keringat. Tubuhnya kembali bergetar ketika mengingat bagaimana sadisnya dia memenggal kepala Myung Soo.

“Mianhae, Kim Myung Soo,” isak Jiyeon pelan.

Tiba-tiba terdengar suara hentakan kaki pada lantai. Jiyeon yang kini sedang bersembunyi di bawah meja makan rumah Myung Soo menatap dengan tubuh bergetar sosok namja bertopeng dengan kapaknya. Namja itu terlihat berkeliling rumah sebelum kembali ke dapur Myung Soo. Si namja tak kunjung bergerak dari tempatnya berdiri, membuat degup jantung Jiyeon semakin berdetak tidak wajar. Dan tiba-tiba saja, wajah si topeng menyeramkan itu melongok ke bawah meja makan tempat Jiyeon bersembunyi. Jiyeon berusaha keluar dari sisi sebelah meja, tetapi si namja menahannya sangat kuat.

“Lepaskan aku!” teriak Jiyeon seraya menendangi si namja. Karena kesal, akhirnya si namja melukai kaki Jiyeon, membuat Jiyeon semakin bertambah histeris. Darahnya berceceran mengotori lantai rumah Myung Soo. Dengan sisa kekuatan yang Jiyeon miliki, dia berusaha menendangi wajah si namja sekuat tenaga, membuat si namja kewalahan dan sempat melepaskan pegangan tangannya pada kaki Jiyeon. Kaki Jiyeon kini bebas dan dia dengan cepat merangkak keluar dari bawah meja, berlari menuju ruang tamu yang pintunya masih terkunci rapat. Ada sebilah samurai tertempel di dinding rumah Myung Soo dan Jiyeon baru menyadarinya. Samurai bergagang ukiran indah hasil kerja tangan ayah Myung Soo kini sudah berada di tangan Jiyeon, tepat bersamaan dengan muncul si namja bertopeng.

“Sudah tidak ada jalan bagimu,” ucap si namja dengan suara besarnya.

“Lepas topeng konyolmu itu,” ucap Jiyeon memberanikan diri. Samurai panjang sudah berada di tangannya dan dia yakin samurai ini cukup mampu membalas kematian Myung Soo.

“Beraninya kau!” geram si namja bertopeng seraya melepaskan topengnya. Bukan main terkejutnya Jiyeon menyadari wajah asli di balik topengnya jauh lebih menyeramkan. Luka bakar menghiasi hampir setengah wajahnya. Matanya terlihat hitam seperti terkena penyakit kulit yang susah disembuhkan.

“Oh Tuhan,” gumam Jiyeon seraya menutup mulutnya.

“Jangan banyak bicara,” ucap si namja dengan perlahan menghampiri Jiyeon. “Setelah membunuhmu, pekerjaanku selesai dan aku akan mendapatkan bayaran.”

“Aku tidak mengenalmu, begitupun denganmu,” ucap Jiyeon seraya mundur perlahan. “Lalu untuk apa kau melakukan semua ini? Demi membantu Hyungsik menyalurkan niat jahatnya? Percuma saja, kau tidak akan mendapatkan bayaran yang pantas. Dia namja miskin. Dia hanya sedang memperalatmu…”

“Berhenti bicara!” teriak si namja seraya melayangkan kapaknya, hanya saja meleset sehingga mengenai meja. “Jika Hyungsik tidak membayarku, aku juga akan memenggal kepalanya. Tetapi sebelum itu, biarkan aku memenggal kepalamu lebih dulu!”

Dan selanjutnya yang terjadi Jiyeon berlari ke lantai dua rumah Myung Soo, mencoba bersembunyi pada salah satu kamar yang gelap.

Sementara itu dengan Boyoung…

“Uri Noonaaaa…” Hyungsik bersenandung pelan sementara dirinya masih sibuk mencari dimana keberadaan Boyoung. “Dimana kauuuu?”

Tak ada jawaban. Tak ada suara yang terdengar kecuali bunyi derit kayu yang beradu dengan kapak yang sedang di pegang Hyungsik.

“Noona-ah…kau tidak perlu takut padaku,” ucap Hyungsik dikeraskan. “Aku tidak akan pernah menyakitimu. Sekarang keluarlah dan kita akan pulang ke rumahku. Aku akan perkenalkan dirimu sebagai kekasihku yang baru.”

Boyoung yang sedang bersembunyi di balik salah satu pintu kamar, hanya bisa menahan isak sekuat dia bisa.

“Soal kejadian malam ini, aku minta maaf padamu, Noona,” sambung Hyungsik seraya menempelkan kepalanya pada pintu tempat Boyoung bersembunyi. “Kematian ibumu dan Seo Rim memang salahku. Tetapi aku berjanji akan menebusnya. Aku akan menjadi kekasih yang baik untukmu. Jadi, keluarlah sekarang.”

Boyoung tak kunjung keluar.

“Noona-ah, jangan uji kesabaranku seperti ini,” ucap Hyungsik mulai tidak sabar. “Aku juga manusia yang punya batas kesabaran. Jika kau tidak mau keluar, biar aku yang membuatmu keluar…” Hyungsik pun membuka pintu tempat Boyoung bersembunyi tepat bersamaan dengan hancurnya vas bunga yang Boyoung pukulkan tepat ke kepala Hyungsik. Darah mengucur keluar dari pelipisnya sementara Boyoung kini mendorong dirinya sampai terjerembab ke lantai. Boyoung mencoba sekuat tenaga berlari keluar rumah, hanya saja Hyungsik berhasil mengejarnya dan menindihinya.

“L-lepaskan aku…” erang Boyoung mencoba memberontak.

“N-Noona…kau menyakitiku begitu banyak,” desah Hyungsik seraya memegang kepalanya yang berdenyut sementara sebelah tangannya mencoba mengontrol tangan Boyoung yang terus memberontak.

“Aku tidak mau menjadi kekasihmu,” ucap Boyoung tersengal-sengal. “Sampai kapanpun aku hanya mencintai Lee Je Hoon!”

Mendengar ucapan Boyoung, kemarahan Hyungsik berhasil tersulut kembali. Kapak yang tergeletak di sebelah tubuh mereka kini sudah terangkat di atas kepala Boyoung.

“Jika aku tidak bisa memilikimu, maka kau harus mati,” ucap Hyungsik sebelum meluncurkan kapaknya ke arah kepala Boyoung. Dan pada saat itu juga sesuatu berhasil menghalangi Hyungsik, sebuah benda tajam dan panjang berhasil menembus jantung Hyungsik dari arah belakang. Park Jiyeon, dengan wajah penuh darah mencoba menggulingkan Hyungsik ke samping tubuh Boyoung.

“Jiyeon-ah!” pekik Boyoung seraya bangun untuk memeluk Jiyeon. “Kau selamat…kau selamat!”

Hyungsik menatap Boyoung dan Jiyeon sembari memegang dadanya yang tertancap samurai.

“N-Noona…” gumam Hyungsik, membuat Boyoung menoleh ke arahnya. “S-saranghae…”

**

Satu tahun kemudian…

“Aku tidak menyangka, selama ini ibu Myung Soo bukan pergi meninggalkan keluarganya ke Brunei, tetapi dia dibunuh oleh namja yang nyaris menghabisimu di rumah Myung Soo waktu itu,” ucap Boyoung di sebuah cafe.

“Lalu bagaimana dengan kematian ayahnya?” tanya Jiyeon yang duduk didepannya.

“Dia mati karena berusaha menyelamatkan Myung Soo,” jawab Boyoung.

“Menyelamatkan Myung Soo dari apa?” tanya Jiyeon.

“Namja yang nyaris membunuhmu waktu itu bernama Hong Baek Sam…” ucap Boyoung mulai menjelaskan. “Dan dia memang memiliki dendam pribadi dengan keluarga Myung Soo. Sejak kematian sang ibu, Myung Soo dan ayahnya memutuskan untuk pindah ke tempat yang sekarang. Merasa bahwa Baek Sam tidak akan menemukan mereka lagi, mereka memutuskan untuk menetap di rumah daerah itu. Kau ingat ada satu rumah yang aku katakan sudah ditinggal oleh penghuninya? Sebenarnya itu rumah Baek Sam…”

“Mwo? Bagaimana bisa?” tanya Jiyeon tidak mengerti.

“Baek Sam pembunuh kelas kakap,” jawab Boyoung. “Dia sengaja mengikuti keluarga Myung Soo, sampai waktu kepindahan mereka ke tempat yang baru.”

“Lalu bagaimana bisa Hyungsik mengenal Baek Sam?” tanya Jiyeon penasaran.

“Entahlah,” jawab Boyoung. “Pertemuan mereka kapan dan dimana aku tidak tahu. Yang pasti Hyungsik sudah menjalin kerja sama dengan Baek Sam sejak enam bulan yang lalu. Dia setuju untuk membantu Hyungsik membantai keluarga kita.”

“Jadi…dugaanku selama ini kepada Myung Soo salah besar,” gumam Jiyeon merasa bersalah.

“Dugaan pasal apa?” tanya Boyoung.

“Aku menemukan kertas catatan kriminal atas nama Myung Soo,” jawab Jiyeon. “Awalnya aku mengira penjahat bertopeng itu Myung Soo, bahkan kematian sang ayah kupikir Myung Soo-lah yang melakukannya. Bayangkan saja, Eonnie…samurai yang aku gunakan untuk menusuk punggung Hyungsik itu aku temukan di dalam rumah Myung Soo. Dan di lantai dua, aku menemukan banyak benda tajam lainnya.”

“Mungkin mereka mengoleksi benda mengerikan itu untuk digunakan sebagai perlindungan jika sewaktu-waktu Baek Sam menemukan keberadaan mereka,” ucap Boyoung mencoba menuturkan tebakannya.

“Aku benar-benar tidak habis pikir kejadian macam ini terjadi pada keluarga kita,” ucap Jiyeon. “Dan pasal Je Hoon, aku minta maaf, Eonnie. Aku turut berduka cita atas kematiannya. Aku turut membuat kesalahan atas kejadian ini.”

“Aniyo,” ucap Boyoung seraya mengelus kepala Jiyeon. “Aku tidak mau menyalahkan siapa-siapa atas keadaan ini.”

Jiyeon pun memeluk sang kakak seraya berkata, “Siapapun yang salah, aku tetap meminta maaf.”

“Lalu bagaimana caranya kau bisa melawan Baek Sam malam itu?” tanya Jiyeon penasaran.

“Aku bersembunyi dan Baek Sam melewatiku tanpa mengetahui aku sudah ada di belakangnya,” jawab Jiyeon. “Aku hanya memikirkan keselamatanmu saat itu, Eonnie. Jadi aku beranikan diri untuk menebaskan kepalanya.”

“Jinjiha?” tanya Boyoung terkejut.

“Rasanya sejak kejadian itu, aku jadi mahir dalam hal menebas sesuatu,” ucap Jiyeon dengan wajah murung.

Boyoung tahu saat ini Jiyeon sedang memikirkan Myung Soo.

“Tidak seharusnya aku membunuh Myung Soo,” ucap Jiyeon dengan mata berkaca-kaca. “Aku hanya….takut….takut sekali…”

Boyoung pun kembali memeluk sang adik seraya berkata, “Keadaan yang memaksamu untuk melakukan hal itu. Dan itu sudah terjadi. Jangan disesali. Ambil sisi positifnya, Myung Soo bisa bertemu dengan kedua orang tuanya disana. Dan aku, aku masih bisa melihatmu sekarang. Jika kau yang berada diposisi Myung Soo saat itu, mungkin saat ini aku juga sudah mati. Eomma, Seo Rim sudah meninggalkan kita, hanya kau kini yang aku punya.”

“Aku berjanji tidak akan pernah meninggalkanmu, Eonnie,” ucap Jiyeon seraya membalas pelukan Boyoung.

“Begitupun denganku,” ucap Boyoung seraya mengelus kepala Jiyeon.

**

#flashback#

“Apa kau bertengkar lagi dengan Boyoung Eonnie?” tanya Seo Rim tiba-tiba kepada Jiyeon yang perhatiannya sedang teralih pada sosok namja yang sedang berdiri tidak jauh dari mobil mereka. Namja tersebut menggunakan tudung hoodienya beserta masker untuk menutupi kepala dan sebagian wajahnya. “Eonnie!” panggil Seo Rim setengah berteriak, membuat Jiyeon memalingkan wajah ke arah sang adik. “Kau sedang lihat apa sih?”

“A-aniyo,” jawab Jiyeon seraya memandang kaca spion luar mobilnya lagi. Si namja tadi sudah tidak ada.

“Eonnie, kau aneh sekali,” ucap Seo Rim seraya memandang aneh ke arah Jiyeon.

Tak lama kemudian muncul Boyoung yang langsung masuk ke dalam mobil. Sebelum menjalankan mobil.

Si namja tadi bersembunyi di balik pohon rimbun. Hyungsik sedang membuka hoodie dan maskernya sebelum menghubungi Hong Baek Sam.

“Ne? Kau akan membawa anak buahmu?” tanya Hyungsik berbicara pada ponselnya. “Kalau begitu pastikan dia juga menggunakan topeng. Dan kita perlu perubahan rencana karena mereka akan mengundang Hyung-ku. Paling tidak aku bisa menghabisi mereka sekaligus, bersama dengan Hyung-ku.”

**

“Boyoung-ah?” panggil Je Hoon lewat ponselnya. “Boyoung-ah, kau masih ada disana?”

“N-ne?”Boyoung mengerjapkan matanya yang baru saja melamun. “N-ne…aku masih ada disini. Um..sepertinya aku harus segera menyiapkan makan malam. Usahakan jangan datang terlambat.”

“Aku mengerti,” ucap Je Hoon. “Kalau begitu sampai nanti.”

Sambungan pun terputus.

“Yakin kau tidak mau ikut ke rumah baru Jiyeon nanti malam?” tanya Je Hoon.

“Ne,” jawab Hyungsik seraya memasukkan ponsel Je Hoon diam-diam ke dalam tasnya sendiri. “Paling tidak titipkan salamku buat Boyoung Noona.”

“Araseo,” ucap Je Hoon. “Kalau begitu aku pergi dulu. Aku perlu mengejar waktu untuk mengurusi perpanjangan beasiswaku. Aku tidak mau terlambat datang ke rumah Boyoung.”

“Hati-hati, Hyung,” ucap Hyungsik seraya memandang punggung Je Hoon yang sudah menghilang di balik pintu rumah mereka.

**

“Haruskah aku menciummu sekarang?” bisik Je Hoon di telinga Boyoung, membuat yeoja satu ini otomatis mengangguk malu.

Tanpa banyak bicara lagi, Je Hoon pun mendaratkan bibirnya pada bibir Boyoung. Mereka begitu menikmatinya, sampai-sampai tidak sadar bahwa ada seseorang yang sedang memperhatikan mereka. Kim Myung Soo yang sedang berjalan menuju dapur otomatis menghentikan langkahnya. Wajahnya tiba-tiba berubah tidak suka. Myung Soo terlalu fokus memperhatikan sosok namja bertopeng yang sedang berdiri di luar jendela dapur rumah Boyoung. “Mungkinkah itu Hong Baek Sam?” gumam Myung Soo dalam hati menyadari bahwa postur tubuh namja di luar sana itu persis milik Baek Sam. Jika benar itu Baek Sam, artinya dia telah menemukan dirinya.

“Sedang apa kau disini?” tanya Jiyeon seraya membelakangi Je Hoon dan Boyoung yang kini sudah melepaskan ciuman mereka.

**

“Mumpung sudah ada disini, apa kau mau minum sesuatu?” tanya Myung Soo menawarkan.

Jiyeon pun mengangguk seraya menjawab, “Boleh.”

“Kalau begitu kau tunggu sebentar disini,” ucap Myung Soo seraya beranjak pergi ke dapurnya yang terletak di belakang rumahnya. Bukan main terkejutnya Myung Soo saat sosok Baek Sam sudah menunggunya di pintu belakang rumahnya. Dengan sadis, Baek Sam menutup hidung Myung Soo sebelum digeretnya keluar rumah.

**

Seo Rim belum sempat berteriak saat kapak tajam itu sudah menghantam kepalanya. Darah pun mengucur menetes melewati pelipisnya. Untuk yang terakhir kalinya, Seo Rim berkata, “Eonnie…”

Si namja bertopeng lain meloncat keluar jendela setelah berhasil membunuh Seo Rim, sementara Hyungsik sedang menunggu di luar.

“Bagaimana?” tanya Hyungsik.

“Clear,” jawab si namja bertopeng.

“Kalau begitu cepat susul Baek Sam, bantu dia menyiksa Kim Myung Soo,” ucap Hyungsik memerintah. “Sekarang giliranku…” Busur panah dan kapan di tangannya sudah siap sementara dia berjalan menuju jendela dapur rumah Boyoung.

Dengan berani, Jiyeon mencoba berlari sekencang mungkin, masuk lewat pintu belakang rumahnya menuju dapur. Boyoung dan Je Hoon masih ada di dalam dapur, sedang mengobrol tanpa menunjukkan kekhawatiran sedikitpun.

“Jiyeon-ah?” Je Hoon terkejut melihat wajah tegang Jiyeon. “W-wae irae?”

“D-dimana namja itu?” tanya Jiyeon dengan suara bergetar. “N-namja bertopeng…menyeramkan, d-dengan kapak. Dimana?”

“Jiyeon-ah, wae irae?” tanya Boyoung tidak mengerti. “Kenapa wajahmu terlihat sangat menakutkan?”

“Kim M-Myung Soo? D-dimana dia? Dimana?” tanya Jiyeon masih dengan suara bergetar.

“Tenanglah, Jiyeon-ah,” ucap Boyoung seraya memegang kedua bahu Jiyeon. “Bukankah Myung Soo bersama denganmu dan Seo Rim?”

“Ani…ani…” jawab Jiyeon seraya menggeleng. “T-tadi…aku dan Myung Soo pergi ke rumahnya, untuk mematikan perapian. Tetapi ketika sampai disana, dia pergi…Myung Soo pergi entah kemana. Dan aku…aku melihat orang aneh, n-namja dengan topeng m-menyeramkan…memegang k-kapak di tangannya. Namja itu berjalan ke arah rumah ini!” jelas Jiyeon dengan wajah sangat panik.

Kepanikan pun menjalari tubuh Boyoung dan Je Hoon bersamaan dengan sebuah panah yang menembus kaca jendela dapur dengan sangat cepat, tepat menuju punggung Je Hoon. Darah pun mengucur dari punggungnya sementara Boyoung menjerit keras. Sedangkan Jiyeon terdiam dengan ekspresi terkejut.

“Mianhae, Hyung,” ucap Hyungsik di balik topengnya. “Ini belum seberapa…”

**

“Mereka semua bersenjata sekarang,” ucap Baek Sam yang sedang mengintai rumah Boyoung bersama dengan anak buahnya dan Hyungsik.

“Aku akan datang kesana,” ucap Hyungsik tiba-tiba. “Aku akan mengambil senjata paling tidak salah satu dari mereka.”

“Kalau begitu bawa ini,” ucap Baek Sam seraya memberikan bonggol kayu kepada Hyungsik. “Beraktinglah semampumu.”

“Tenang saja, itu salah satu keahlian…selain menghabisi nyawa mereka,” ucap Hyungsik terkekeh pelan. “Hyung, tolong lukai tanganku, agar lebih meyakinkan.”

“Melukai seseorang memang keahlianku,” ucap Baek Sam ikut terkekeh.

Ketiganya kini sudah berada di depan pintu. Boyoung siap membuka, sementara Je Hoon dan Jiyeon sudah berancang-ancang hendak menyerang si namja bertopeng menyeramkan. Dan tepat ketika Boyoung sudah menarik pintunya terbuka, yang muncul justru sosok Hyungsik, adik dari Je Hoon dengan tangan berdarah.

“Hyungsik-ah?” Je Hoon langsung menarik sang adik ke dalam, sementara Boyoung kembali menutup pintu dan menguncinya.

“Ada seseorang yang sedang mengincar rumah ini,” ucap Hyungsik dengan wajah kesakitan. “Aku berhasil memukulnya dengan kayu ini…” Hyungsik menunjukkan bonggol kayu yang dipegangnya. “Tetapi dia sempat melukai tanganku…”

“Lalu kemana orang itu?” tanya Je Hoon.

“Dia sudah pergi, entah kemana,” jawab Hyungsik, sementara Boyoung sibuk membersihkan dan mengobati lukanya.

“Dia akan kembali, aku yakin,” ucap Je Hoon.

**

Baek Sam baru saja mematikan sekring listrik rumah Boyoung sementara anak buahnya bergegas masuk ke dalam untuk menyerang Jiyeon. Sedangkan Hyungsik yang kini sedang menemui Myung Soo.

“Mau apa kau?” tanya Myung Soo yang wajahnya sudah dipenuhi luka.

“Ikuti saja permainanku tanpa perlu banyak bertanya,” ucap Hyungsik seraya membawa Myung Soo pergi ke depan rumah Boyoung. Baek Sam pun sudah standbye dengan kapaknya.

“Hari ini adalah akhir dari hidupmu,” ucap Baek Sam pada Myung Soo. “Kau akan segera bertemu dengan ibu dan ayahmu. Maka dendamku padamu pun akan segera berakhir.”

“Kalian….sementara aku masuk ke dalam untuk menemui adik Boyoung Noona yang nyaris membuatku mati kesal, kalian tunggu disini sampai waktu permainan dimulai,” ucap Hyungsik seraya memakai topeng menyeramkannya.

**

Sebelum kematian ibu Boyoung, Nyonya Han…

“29 Februari,” gumam Hyungsik seraya menancapkan pisau ke dalam foto Nyonya Han yang ditempel di dinding. “Tanggal lahirnya sama dengan tanggal meninggalnya ayah dan ibuku yang mati dibunuh depkolektor, anak buah Ahjumma ini.” Dengan wajah penuh dendam, Hyungsik menghancurkan foto Nyonya Han menjadi potongan kecil. Dia ingat bagaimana tragisnya kedua orangtuanya disiksa sebelum di bunuh oleh depkolektor itu. Bahkan sebelum sang ibu mati, dia sempat berpesan agar Hyungsik ataupun Nyonya Han tidak memberitahukan Je Hoon ataupun Boyoung pasal masalah hutang yang membelit keluarga mereka. Maka dari itu sampai saat ini Je Hoon tidak pernah tahu penyebab sebenarnya kematian kedua orang tuanya. “Nyawa di balas nyawa,” geram Hyungsik. “29 Februari, hari yang paling bersejarah untukku mulai saat ini.”

#flashback end#

END

Note : Akhirnya selesai. Maaf buat keterlambatan postnya soalnya dashboard wp-ku mendadak kemarin malam bermasalah. Semoga kesalnya kalian tidak berkepanjangan. Selamat menikmati fanfiction absurd ini🙂 RCL-nya please🙂

Fanfiction ini terinspirasi dari film Hollywood berjudul You’re Next, cerita tentang pembunuhan berantai yang berhasil bikin aku mules waktu nonton 🙂 Ceritanya sukses aku melencengin jauh dari cerita aslinya. Kalau kalian mau lihat perbandingannya, bisa nonton disini.

53 responses to “[CHAPTER – PART 2 OF 2 / END] 29 FEBRUARY

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s