[CHAPTER] It’s Me

its me

Title: It’s me | Genere: AU! Fluff |Rating: T | Legth: Oneshoot |
Cast: Myungsoo & Jiyeon | Aditional Cast: Sungjong |Recommended song: It’s me-Luna&Sunny|
Desc: I own Storyline

.

.

.

.

Bau Semerbak kopi yang menguar cukup membuat gadis bermata runcing itu risih, tidak memabukkan memang, namun entah mengapa bau semerbak kopi yang tidak bersalah itu berkali kali membuat gadis itu ingin cepat beranjak dari tempatnya. Sungguh, kalau bukan karena kota diterpa hujan deras, ia tidak akan memaksa kakinya menuju kedai yang memang dekat dengan toko buku paman shin.

‘’Sendirian lagi,Jiyeon-ah?’’

Suara itu? Jiyeon mendongak, matanya bertemu dengan mata pria yang menggunakan celemek putih, berpawakan lebih tinggi 5 cm darinya. Rambut Kelam dan pipi yang selalu bersemu merah—mungkin kedinginan—Sudah menjadi ciri khas lelaki ini sejak duduk kelas sekolah dasar. Wajah yang sangat manis, namun menyebalkan.

‘’hey, bisakah kau berhenti bicaara seperti itu?’’ Jiyeon meniup-niupkan poninya. ‘’kalau halte depan toko buku paman shin tidak bocor aku juga tidak akan kesini.’’

‘’heol,Eommmaaaa ada jiyeon disini,bisakah buatkan segelas Americano?’’

Lelaki berwajah manis itu menaruh segelas Americano untuk mereka berdua, dan menarik bangku untuk berhadapan dengan gadis yang sedang meniup helai demi helai surai kecoklatan miliknya, sangat menggemaskan.

Suara gemuruh hujan yang menjadi latar diantara mereka, mungkin diluar sana sangat dingin, namun disini tidak.

‘’Apa itu? kau membeli komik serial one piece lagi?Aigoo’’

‘’Volume terbaru hampir habis dan ini yang terakhir,kau tahu?’’ ekspresi jiyeon sangatlah berlebihan, pipinya yang merah akibat kedinginan itu mengembung seperti buah tomat.

Tangan bebas lelaki itu terulur hingga mencapai pipi yang kemerahan itu, lalu seperti biasa mencubitnya hingga semakin merah dan melar.

‘’Ya! Sungjong-ah! Berhenti menyiksaku!’’

‘’Biarka saja, aaaah~~ uri jiyonnie’’

‘’Ya! Bodoh sakit!’’

Tidak ada tatapan aneh dari pelayan maupun pelanggan lain, bahkan sebagian pelayan lama sempat berfikir kalau mereka merasakan De Javu. Sudah lama jiyeon tidak datang ke kedai kopi milik keluarga sungjong, 5 tahun lalu sepulang sekolah Jiyeon akan mengerjakan PR di sini bersama sahabatnya sungjong dan Myungsoo, namun Myungsoo yang memutuskan pindah ke jepang mengikuti ayahnya bekerja terpaksa meninggalkan semuanya, sekolah di seoul, rumah, sahabat, bahkan orang yang disayanginya.

Rintik-rintik air berwarna bening itu terus menusuk aspal kota, meskipun kini jumlahnya tidak sebanyak tadi,namun atmosfer di sekelilingnya masih dingin menusuk inchi kulit. Segelas Americano yang memang dibuat untuk 2 orang itu mengepulkan asap tiada hentinya.

‘’jadi, bagaimana kabarmu?’’

‘’Sperti yang kau lihat’’

‘’tidak baik?’’ Sungjong mengeluarkan smirk menjijikannya,lelaki berwajah cantik dan tampan di saat yang bersamaan itu menopang dagunya di tangan, sedangkan yang diajak bicara hanya melempar pandangannya keluar jendela dan mengangkat bahunya acuh

‘’Jiyonnie~~~ Ayolah, kau tidak bisu. Apa kau marah denganku karena aku mencubit pipimu?’’

‘’…………’’

‘’YA! Dulu kau juga sering seperti itu padaku! Bahkan hampir setiap menit kau mencubit bagian sini, sini,dan di sini!!!’’ sungjong menujuk bagian badannya yang dulu sempat memerah akibat ulah jiyeon. ‘’apa keadaan sekarang sungguh berubah? Tuhan, kuharap aku seperti zitao exo yang dapat memutar waktu kumohon’’

‘’hey bodoh, mana bisa?’’

‘’bisa saja’’

‘’kalau gitu aku memohon agar mendapat kekuatan teleportasi sepeti kai exo’’

‘’agar apa?’’

‘’agar bisa ada di rumah sekarang’’

‘’heol’’ sungjong memutar bola matanya malas, ini bukan jiyeon. Sungguh, jiyeon bukanlah orang yang menyebalkan melainkan gadis kecil cerewet yang kalau bicara tidak bisa berhenti sampai sampai mulutnya harus di tampar agar berhenti bicara. Sungguhan, ini bukan jiyeon sahabatnya yang dulu. Sejenak ia berpikir….

‘’hey, apa menstruasimu sedang tidak lancar?’’ satu jitakkan mendarat dengan sempurna. Kau tahu? Awalnya jiyeon hanya bercanda tidak banyak omong pada sungjong, biasanya anak itu akan diam dengan sendirinya. Namun sekarang?

Dan kau tahu? Jiyeon juga sebenarnya sangat merindukan sahabatnya yang super menyebalkan ini, meskipun sekarang wajahnya sudah agak berubah dari 5 tahun lalu, bagaimanapun juga ia sudah bersahabat sejak kecil.JIYEON TIDAK INGIN CEPAT CEPAT PULANG. Namun,yang membuatnya rishi di sini hanyalah tempat yang menyimpan banyak sekali kenangan manis.dan bau kopi….. mengingatnya saja jiyeon hampir ingin menangis.

‘’jiyeon,kau tidak menghindariku bukan?’’

‘’sama sekali tidak’’

‘’lalu?’’

‘’ha?’’

‘’lupakan.mari kita bicara tentang kapan kau akan bermain video game dirumahku.’’

‘’tidak mau’’

‘’ke perpustakaan kota, woohyun sudah agak berubah kau tahu—‘’

‘’tidak mau’’

‘’Bagaimana dengan ke gangnam, masih ingat taman bermain dekat rumah nenek Myung—‘’

‘’Sungjong-ah!’’

‘’ya?’’

 

 

60 detik, 60 menit, 2 jam, 4 jam. Rupanya hujan sudah sedikit reda, dengan bermodalkan celotehan yang memanaskan telinga, mereka bercengkrama tiada habisnya.

‘’jemmie si gendut? Apa? air liurnya masih menetes? Apa dia tidak ingin punya pacar? Hahahahah’’

‘’Sungguhan kau jahat sekali jiyeon-ah, Bagaimana bisa? Setauku permen karet rasa anggur cukup menyengat lalu si jemmie gendut duduk di kursi itu? dia benar bodoh atau bodoh?’’

‘’ckckck, coba kau bersekolah di tempatku bersama si jemmie gendut, ada lagi jinho si kepala besar, kukira dia itu tumor.’’

‘’seperti apa kepalanya?’’

‘’kau tahu aku sering melihat film kartun alien? Yang urat uratnya sampai menyebul ke kening.’’

‘’HAHAHAHA’’

‘’di sekolahku ada adiknya joon yang jerawatan dan kembarannya siapa namanya? Yang dulu pernah kita kunci di gudang?’’

‘’si yoonjae dungu’’

‘’yoonjae temanmu kan?’’

‘’sial, jemmie pacarmu kan?’’

‘’pacarku Hyorin sistar’’

‘’di tempatmu tidak ada wadah untuk bisa kumuntahi?’’

.

.

.

.

 

Mereka bercengkrama sampai lupa waktu dan sampai jiyeon lupa akan kekesalannya. Sungjong yang tertawa sampai menjambak jambak rambutnya, jiyeon yang hampir pipis di celananya, namun itu semua belum lengkap tanpa satu orang lagi sahabat.

‘’Besok ke tempat paman shin lagi? Aku besok akan kesana’’

‘’beli buku?’’

‘’numpang baca’’ sejenak mereka diam mencerna kata kata sungjong tadi, lalu detik berikutnya tertawa keras.

 

 

Lonceng kedai berbunyi, menandakan ada pelanggan yang masuk. Seorang lelaki tampan dengan setelan celana jeans dan kaos putih tipis memasuki kedai kopi tersebut, kepalanya yang terpentuk pintu kedai karena memang tinggi badannya sejajar dengan tinggi pintu kedai, membuat wanita paruhbaya namun tetap terlihat cantik di usianya yang sudah berkepala 4 itu menghampirinya.

‘’kau baik baik saja anak muda?’’ lelaki yang masih mengelus elus kepalanya itu mendongak ke sumber suara, masih menampakkan wajah yang mengisyaratkan kalau kepalanya sakit.

‘’sakit sekali, untung saja aku tidak amnesia.’’ Lelaki itu seperti mengaduh, sungguh untuk apa tadi dia berlari lalu terpentuk pintu? Dan mengapa ia bisa lupa kalau sekarang tingginya sejajar dengan pintu itu?. wanita paruhbaya itu memicingkan matanya, sepertinya ia pernah melihat lelaki ini tapi dimana? Sejenak ia menelusuri wajah lelaki tampan dihadapannya lalu…

‘’Myungsoo?’’

‘’ya?’’ lelaki itu masih saja engusap kepalanya

‘’Astaga kau sudah besar! Mana bagian kepala yang sakit?’’

Well, sejak dulu myungsoo menganggap ibu sungjong adalah ibu keduanya.

‘’yeol, bisakah kau buatkan minuman untuk myungsoo? Aku akan mencarikannya tempat duduk.’’

‘’ya bi? Apa? myungsoo?’’ lelaki kurus berambut pirang yang juga menggunakan celemek itu membulatkan matanya. ‘’Myungsoo?’’

 

Disisi lain, tepatnya di suatu sudut dekat kaca jendela kedai yang sangat besar, lelaki yang sedang tertawa terbahak itu bungkam seketika, melihat siapa yang sedang di rengkuh oleh ibunya, bibirnya bergetar ingin mengatakan sesuatu namun rasanya tertahan.

 

Ekor mata lelaki beriris coklat itu melihat objek yang membuat kaki dan hasratnya menuju ke tempat ini. perlahan, senyum itu terukir di sudut bibir lelaki yang bernama Kim Myungsoo. Kaki jenjangnya terus berjalan menuju tujan, bertemu sahabat yang dirindukan.

Oh god, dia kemari!!! Dia kemari Jiyeon!!! Sebenarnya bisa saja sungjong berteriak kala itu juga,namun gadis di depannya belum berhenti bercerita sampai sampai…..

‘’Annyeong’’ Jackpot

Mulut yang sedari tadi berbicara masalah jemmie dan sekolahnya itu bungkam seketika, otaknya berusaha mencerna apa yang barusan terjadi,suara siapa itu?dan siapa lelaki jangkung ini? kalau kalau jiyeon berhasil mengingatnya, jangan salahkan kalau dia kabur tiba-tiba.

‘’Myung’’ sungguh, sungjong hanya bergumam pelan,

‘’apa kabarmu teman?’’

‘’seseorang tampar aku’’

Myungsoo melempar pandangannya pada seorang gadis di hadapan sungjong, seorang gadis yang tengah memperhatikannya,sorang gadis yang bermata runcing dan bersurai coklat,seorang gadis yang mungkin sedang barusaha mencari oksigen sebanyak-banyaknya, sampai sampai myungsoo menyadari kalau dia adalah seorang gadis yang sangat dirindukannya.

‘’Jiyeon’’

Detik demi detik berlalu dengan keheningan, tidak ada yang berani berbicara, tatapan sendu itu terpancar jelas di mata seorang kim myungsoo. Sungjong sendiri merasa aneh dengan situasi sekarang,ini bukan yang ku inginkan,ini bukan mereka yang dulu, mana jiyeon yang cerewet dan myungsoo yang ingusan?sebenarnya ini mereka apa bukan?

‘’hey hey minuman datang~~~’’ seorang lelaki berambut pirang dan menggunakan celemek yang sama seperti sungjong, membawa nampan berisi Caramel Machiato,lalu menaruhnya di meja.

‘’ya! Minuman datang! Myungsoo, duduk!’’ ia mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya, ‘’sunyi sekali jong,mereka kenapa?Jiyeon,lanjutkan tertawamu.’’

‘’hey berisik sekali, sudah sana pergi dasar pacar jemmie.’’ Usir sungjong

‘’ha?’’

‘’sana, ibuku memanggilmu’’

‘’Ayolah, aku ikut berbincang bincang dengan teman lama.’’

‘’tidak boleh’’ lee sunggyeol, sepupu dar lee sungjong itu memutar bola matanya malas,kenapa sepupunya ini sangat kekanak-kanakkan?

‘’heol’’ sunggyeol membalikkan badannya dan beranjak menuju dapur.

.

.

.

‘’jadi, myungsoo bagaimana kabarmu?’’ baiklah, disini memang harusnya sungjong yang memulainya.

‘’Aku semakin tampan’’ jawabnya sambil menatap lurus ke arah jalan raya tempat mobil berlalu lalang.

‘’aku menanyakan kabarmu idiot’’ sungjong meneguk Americano yang sudah dingin itu, tidak dapat ia pungkiri, Myungsoo sudah sangat berubah,tidak ada lagi myugsoo yang ingusan,myungsoo yang pendek,myungsoo yang cadel, semuanya berubah.

Lelaki tampan itu terkekeh mendengar celotehan sahabat sedari kecilnya itu. sungjong hanya sedikit berubah,sungjong masih manja,menyebalkan,jahil,pipinya masih bersemu merah,dan wajahnya juga masih cantik—walaupun ia sudah agak tinggi dan rahangnya agak mengeras—bahkan dulu myungsoo sempat berfikir untuk menjadi kekasihnya.

‘’main video game di rumahku?’’

‘’boleh saja.kapan kau punya waktu luang?’’ Myungsoo tampak bersemangat dengan yang satu ini.

Sungjong tampak berfikir sejenak,sekilas ia melihat wajah jiyeon yang susah di artikan—mungkin gadis itu bosan—sambil menimbang-nembang kapan waktu luangnya,sungjong rupanya juga memikirkan bagaimana cara ia menciptakan suasana hangat sepeti dulu lagi, ia rindu bersepeda bersama,bermain,memandangi bintang bersama saat malam, semuanya.

Belum selesai lelaki itu berpikir, suara lantang seseorang memanggilnya.

‘’Sungjong-ah!!!’’

‘’Y..yaa, bibi?’’

‘’ibumu membutuhkanmu di dapur, sekarang.’’

‘’Ya… biarkan aku bersama teman temanku sebentar saja’’ sungjong memelas dengan muka tertekuk. Apakah ibu tidak mengerti aku merindukan mereka?

‘’Tidak untuk kali ini. pelanggan sedang banyak.’’

‘’tidak mau’’

‘’jong-ah….’’ Sungjong membuang nafasnya berat,sejenak ia edarkan pandangannya ke arah kasir. Seorang lelaki menjulurkan lidahnya dengan muka konyol,merasa menang kali ini.

‘’yeol…..’’ sungjong menggeram pelan memandangi sepupunya yang memang menyebalkan menurutnya. Ia berdiri dan berjalan gontai menuju dapur setelah sebelumnya membalik badan dan berkata..

‘’ingat,aku akan kembali. jadi, kalian jangan kabur.’’

‘’hm’’

 

Myungsoo menatap kosong apapun yang ada di hadapannya,semenjak kepergian sungjong ke dapur, tidak ada satupun dari mereka yang membuka pembicaraan. Jiyeon bungkan seribu bahasa, sementara myungsoo, lidahnya terasa kelu, apalagi sepertinya jiyeon biasa biasa saja melihatnya kembali. atau mungkin jiyeon memang tidak merindukannya?

‘’hai’’ ya, dimulai dari sekedar sapaan. Bagus, awal yang cukup bodoh kim myungsoo.

‘’ya’’ Jiyeon membalasnya, gadis itu mendongakkan sedikit kepalanya. Dan mata mereka kembali bertemu, dengan tatapan yang masih sama seperti dulu, tatapan sarat akan kerinduan itu menguar di udara, bercampur dengan atmosfer yang dingin akibat berhentinya hujan.

‘’hm, bagaimana kabarmu?’’

‘’biasa saja’’ entah mengapa, senyum getir itu terukir jelas di bibir jiyeon.

‘’mungkin ini sedikit canggung, tapi….kau tidak menanyakan kabarku? Uhm maksudku agak sedikit berbasa basi?’’ myungsoo agak memajukan badannya, dan menopang dagu dengan tangannya.

‘’kau terlihat lebih baik, lebih tinggi, dan sehat. Lalu apa yang harus kutanyakan?’’

‘’setidaknya kau bertanya padaku apakah di jepang menyediakan mainan patung anime yang besar dan luar biasa, atau apakah aku hidup dengan baik? Mempunyai teman baru? Atau pacar? Paling tidak seperti itu.’’

‘’baik. Kim Myungsoo, apa kau punya teman baru di jepang? ya sebagai pengganti kami tentunya’’

‘’waah, apakah ini kalimat terpanjang yang kudapatkan dari mu hari ini?’’

‘’Myung—‘’

‘’oke,oke. Aku punya, mungkin beberapa orang teman sekolahku. Mereka baik.Ya..’’ Ya,baik tapi tidak sebaik kalian dan se tulus kalian

‘’lalu kim myungsoo, apa kau hidup dengan baik disana?’’

‘’menurutku,pertanyaan darimu sedikit terpaksa—‘’ jiyeon melempar pandangan cukup serius

‘’baik, ya.. cukup baik walaupun setiap hari Moonsoo mengganggu ku.’’

‘’the last,apa kau punya pacar?’’

‘’teman les ku yang bernama aiko cukup manis. Tapi tetap saja dia tidak ada apa apanya denganmu,percayalah.’’ Ya, jawaban myungsoo memang terdengar standar, tapi apa maksudnya itu?

‘’selesai, aku pulang’’ jiyeon beranjak dari kursinya, dan tidak lupa membawa papper bag berisi komik yang baru ia beli.

‘’Jiyeon, tunggu!’’

 

Ya, mungkin jiyeon tahu seseorang mengikutinya dari belakang. Kaki yang di balut sepatu boot berbulu itu terus berjalan melewati blok demi blok. Jalanan aspal yang masih basah akibat terguyur hujan menjadi objek yang di pandangnya sejak meninggalkan kedai kopi sahabatnya, lebih tepatnya, sejak meninggalkan memori memori lama yang sejak tadi terus berputar. Jangan salahkan jiyeon kalau ia tidak mau bernostalgia dengan sahabatnya, namun rasanya hari ini belum cukup untuk mengulangnya kembali.

Dengan berjalan santai,myungsoo memasukkan kedua tangannya ke dalam saku, matanya terus memandangi dengan fokus gadis di depannya. Pikirannya bergulat hebat, ada apa dengan jiyeon? Apakah gadis itu tidak tahu kalau myungsoo kembali hanya untuk menemuinya? Mungkin lain kali saja

Myungsoo memutar arah dengan pikiran berkecamuk. Ia sudah memutuskan untuk bertemu jiyeon kalau gadis itu memang sudah siap. Yah, ini memang salah myungsoo tidak memberitahu jiyeon kalau ia akan pergi jauh darinya. Kau tahu? Sampai saat ini pun myungsoo tidak berani membiarkan jiyeon menangis hanya karenanya. Menurutnya, keputusannya pergi ke jepang tanpa memberi tahu jiyeon adalah hal yang terbaik untuk mereka.

Berbelok 1 blok, jiyeon mulai menyapu arah pandangnya ke balakang. Nihil. Tidak ada siapapun di sana, myungsoo, bahkan orang orang yang tadi sudah keluar dari tempat mereka berlindung dari hujan. Angin nakal terus berhembus tiada hentinya, rasanya sangat dingin hingga menusuk sampai pori pori kulit. Sepi, hanya itu yang dapat di gambarkan sekarang, jiyeon tidak tahu kalau hujan yang berhenti tadi hanya sesaat. Awan awan semakin gelap dan terdengar suara petir yang bersahutan. Jiyeon bergidik ngeri, dimanalagi ia harus berteduh? Apa hari ini aka nada badai? Ia kan tidak bawa payung. Kenapa di hari minggu toko di kawasan ini tutup semua?

Sejenak jiyeon merasa pernah seringkali berpijak di tempat ini, disamping toko property bercat coklat, disampingnya ada toko ice cream. Deretan semua toko yang sekarang sudah agak kusam, dengan penerangan mendung dari awan, jiyeon memandangi keadaan sekitarnya yang sunyi. Tiba tiba, ia melihat sepasang anak kecil dengan wajah sangat gembira, bayangan kedua anak kecil itu berwarna hitam putih, mereka berjalan bergandengan sambil sesekali bercanda ria. Sangat manis. Mereka menuju toko ice cream yang tadi sempat jiyeon lihat. Anehnya, toko ice cream dan semua toko di sekelilingnya buka, namun tetap saja bayangan semua itu hitam putih.

Kedua anak kecil itu duduk di kursi trotoar dengan genggaman ice cream di genggamannya,mereka tidak menghiraukan apapun. Alis jiyeon berkerut dalam, ia mengenali siapa anak kecil itu. itu mirip dirinya di masa lalu, dan anak lelaki di sampingnya, sangat mirip myungsoo sewaktu kecil. Mereka tertawa berbagi cerita bersama, sejurus kemudian, seorang wanita paruhbaya keluar dari toko property, memanggil mereka berdua

‘’Jiyeon, Myungsoo! Kemari’’ dengan suara lembut, wanita itu memanggilnya. Jiyeon semakin bingung.aku?

‘’Bibi Jung!’’ sapa anak lelaki

‘’kalian baru pulang sekolah? Ini untuk kalian’’ wanita itu memberikan sepasang dagangannya kepada mereka.

‘’wah! Gantungan kunci berbentuk penangkap mimpi?’’ ucap anak perempuan

‘’daganganku hampir habis hari ini. hanya tersisa ini, buat kalian saja ya.’’ Wanita paruh baya itu tersenyum sangat tulus. Jiyeon sadar, ini adalah gambaran dirinya di masa lalu. Ia ingat dengan bibi jung yang sangat perhatian padanya juga myungsoo. Sungjong? Ia hanya bertemu bibi jung sekali.

Semua toko disini yang tadinya sangat berwarna dan ramai, dirinya dan myungsoo yang pulang sekolah selalu lewat jalan ini, bibi jung, semuanya. Jiyeon tersenyum getir mengingatnya lagi, semua terasa indah, bisakah aku mengulangnya lagi?

Jiyeon bungkam di tempatnya, tak terasa rintik rintik air itu sudah membasahi kepalanya. Gadis itu memutuskan berteduh di toko property itu. sudah agak kusam,pikirnya.

Suara Guntur yang saling bersahutan serta atmosfer dinginlah yang menjadi latar kali ini. jiyeon melamun, pandangannya lurus kedepan, entah apa yang dipikirkannya. Tiba-tiba, pintu toko propery itu terbuka lebar, menampakkan seseorang yang menggunakan mantel rajutan tebal berwarna hijau, terdapat beberapa kerutan di wajahnya dan beberapa helai rambutnya berwarna keputihan.

Seorang wanita paruhbaya itu cukup bingung melihat seorang gading yang berteduh di depan tokonya, sudah lama sekali pikirnya anak remaja yang mampir ke blok sini. Apa ia terjebak hujan deras?

‘’permisi, anak muda’’ wanita paruh baya itu menepuk bahu Jiyeon dari belakang, jiyeon yang merasa hanya dirinya itulah satu satunya orang yang di sekitar sini pun membalikkan badannya.

Kontan keadaan hening terjadi selama beberapa detik, wanita paruh baya itu menyipitkan matanya, hatinya tersentak kaget. Sepertinya aku pernah melihatnya? Kapan ya? Wajahnya mirip dengan —-

‘’Jiyeon?’’

‘’Bibi seo?!’’

‘’Astaga benarkah ini Jiyeonnie?’’ Jiyeon memeluk wanita di depannya secara tiba-tiba. rasanya sudah lama sekali ia tidak bertemu bibi seo. Beberapa menit lalu pikirannya masih melayang laying tentang kejadian di masa lalunya, lalu sekarang ia benar benar bertemu bibi seo, orang yang ia anggap ibunya sendiri sejak kecil. Tak terasa, jiyeon menitikkan air mata berbarengan dengan rintikkan air hujan yang semakin deras. Entah kenapa, disini rasanya sangat hangat.

‘’kau kemana saja sayang?’’ bibi seo menatap lekat mata runcing jiyeon yang tidak pernah berubah dari dulu.

‘’umm…. Aku tidak kemana-mana bibi’’

‘’benarkah? Kau bertambah tinggi dan cantik. Dan kau terlihat dewasa,’’

‘’ah, bibi bisa saja. Apa toko akan tutup?’’

‘’ya, aku menutup toko lebih cepat, rasanya semenjak kau dan temanmu tidak mampir kesini lagi, tempat ini menjadi sepi. Oh Jiyeonnie, ayo masuk ke dalam.’’ Bibi seo mulai menyalakan lampu toko

Jiyeon bungkam. Entah apa yang membuatnya seketika diam.

‘’lihatlah, dalamnya belum berubah semenjak terakhir kau dan myungsoo kesini……. Oh ya, dimana myungsoo?’’

‘’bibi, boleh aku pinjam payung?’’

.

.

.

 

Jiyeon tak tahu kakinya membawanya kemana, yang terlintas di pikirannya hanyalah Myungsoo sendirian,ini hujan, dan tidak memakai mantel. Oh please Myungsoo sudah besar dan dia bisa berteduh. Tapi kali ini tidak, jiyeon yakin bahwa anak itu kehujanan di tengah derasnya kota seoul.

1 blok, 2 blok, blok ketiga, sebelum blok tempat kedai kopi keluarga sungjong berada, mata runcing gadis itu menangkap siluet seorang lelaki berambut legam berbalut kaos putih tipis berjalan agak gontai. Jiyeon menajamkan pengelihattannya, setelah mengenali siapa lelaki berpostur tinggi itu, Jiyeon mulai berlari kearahnya, dan jangan lupakan papper bag yang masih setia di genggamannya.

Tuk

Tuk

Tuk

Langkah kaki berbalut boot itu berlari, tidak perduli dengan genangan air yang menyiprat ke aspal di sekitarnya. Setelah siluet lelaki itu berbelok kea rah blok lain, Jiyeon mempercepat kakinya. Jiyeon, kenapa kau harus perduli lagi dengannya huh?

Jiyeon berhasil, ia berhasil mempercepat langkahnya hingga kali ini tubuh lelaki itu tepat di depannya. Punggungnya yang hanya berbalut kaos putih tipis yang kini benar terlihat lepek, menampakkan lekukan tubuhnya. Punggung itu, jiyeon menatap sendu objek di depannya

 

It’s me who only knows you, the person who will only love you is me

 

It’s because meeting you was like a miracle to me

 

It’s me who only wants you,the person who will only protect you is me

 

It’s me who is only looking at you by your side, a fool

 

 

Bayangan putih hitam itu kembali muncul di hadapan Jiyeon,termasuk toko toko di sekelilingnya,hujan seakan semakin deras dan kali ini gambaran kedua anak kecil tadi yang berlarian sambil menggendong tas punggungnya.

‘’uh, Myungsoo dimana kita berteduh?’’ gadis kecil dengan rambut ikat kuda menampakkan wajah kelelahannya.

‘’Aku nggak bawa payung, gimana nih?’’ kali ini lelaki yang tingginya sejajar dengan anak di sampingnya menampakkan wajah cemasnya.

‘’uhh, aku lelah myung’’

‘’ayo lari lagi, hujannya semakin banyak’’ nafas gadis kecil itu tersenggal, ia memang lelah berlari sedari tadi.

‘’tidak mau’’ senyum Jiyeon tertarik, ini dirinya di masa lalu lagi. Dan myungso.

Myungsoo kecil menatap datar lawan bicaranya, selagi rintik rintik hujan yang semakin banyak itu membasahi kepalanya, juga seragam sekolahnya. Ia memindahkan tas punggung hitamnya ke bagian depan tubuhnya, lalu berjongkok.

‘’Ayo naik’’

‘’tidak’’

‘’Cepat sedikit’’

Myungsoo kecil menggendong tubuh Jiyeon yang mungil. Berjalan agak gontai agar mendapatkan tempat berteduh, tanpa mengetahui punggunya yang encok sesampainya di rumah.

Bayangan hitam putih itu hilang secara tiba-tiba, jiyeon mengerjapkan matanya berulang kali. Lalu melihat ke sekelilingnya, lelaki itu sudah berjarak agak jauh dari sebelumnya. Jiyeon melangkah, kali ini secara perlahan. Lelaki yang kedua tangannya ia masukkan ke dalam kantung celananya tertegun sebentar. Hujannya berhenti?

‘’masih saja ceroboh’’

Myungsoo mendongak, terdapat payung hitam yang melindunginya. Ia berdeham, lalu dengan senyum yang masih sama dari dulu, menatap objek di sebelahnya.

 

It’s me who only knows you, the person who will only love you is me

 

 

 

-TBC-

a/n: hai oke, ini fanfic debut Myungyeon yang sebenernya, sebelumnya aku emang udah post yang Baby good night versi Myungyeon itu, tapikan itu aku juga nge copas dari fanficku yang di ehs itu karena fanfic yang ini nggak selesai selesai, ya jujur kemaren aku sibuk ukk dan gaada inspirasi sama sekali. niatnya juga fanfic yang ini mau di buat oneshoot, tapi gagal lagi.jadi ini twoshoot/? oke Annyeong

46 responses to “[CHAPTER] It’s Me

  1. Myungsoo dan jiyeon adalah sahabat..dan Jiyeon diamkan Myungsoo mgkn canggung dan msh kesal krna myungsoo pergi tnpa mmberitahu apapun…well..next part akan dtggu ya^^

  2. huft…. aku juga ingin blik ke masa lalu.. ff nya bikin aku dejavu.. ;-(
    di tunggu next partnya thor..

  3. suka sma bersahabatan mreka bertiga kayanya tuluis bnget mskipun itu dlu🙂
    bkal ada benih2 cinta antara myungyeon nihh,,
    di tunggu part slanjutnya🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s